Naruto © Masashi Kishimoto
Author : ( Rimbow )
Genre : Adventure & Family
Rating : T
Summary :
Naruto yang mimiliki nama klan Tou-sannya dan tidak menggunakan nama klan ibunya dan memiliki seorang Imouto bernama Namikaze Mito yang tidak disukai sebagian besar penduduk Konoha. Seiring berjalannya waktu apakah Naruto akan membawa perdamaian atau kehancuran dunia.
Pair : ?
Warning : Mungkin OOC, agak Gaje, mungkin Typo, alur cerita suka-suka, etc
Chapter 7
Hari yang diliputi kegelapan karena hujan yang turun dengan derasnya disertai dengan kilatan-kilatan diikuti oleh suara petir yang mengelegar di siang hari itu. Di dalam suatu tempat yang gelap terdapat beberapa sosok yang sedang tampak membicarakan mengenai sesuatu. Dilihat dari jumlah mereka yang ada di sana sekitar sepuluh orang dengan sosok yang samar-samar. Mereka terdengar sedang membicarakan sesuatu di dalam pertemuan yang berlangsung dalam tempat yang gelap itu. Hujan yang turun sepertinya tidak menganggu kegiatan yang saat ini mereka lakukan sama sekali.
"Jadi, kalian tidak berhasil menangkap Jinchuriki Kyuubi?" Ucap satu bayangan.
"Kami hampir berhasil menangkapnya, namun sesaat sebelum kami membawanya, dia dibantu oleh ninja Konoha yang lainnya."
"Itu karena dari awal kau seperti bermain-main dalam menghadapinya, Kisame ..."
"Kan tidak apa-apa sedikt bermain-main, apalagi lawannya hanya bocah, kenapa aku harus serius menghadapinya?, huh ..." jawab sosok dengan nama Kisame.
"Sudahlah, karena kegagalan ini mungkin Konoha sudah memperkuat penjagaanya terhadap Kyuubi. Aku sudah melakukan sesuatu terhadap rekan kita yang potensial yang sudah mati, sekarang kita hanya perlu segera membunuh Orochimaru. Sampai disini saja... Bubar"
Sosok di tempat itu satu per satu menghilang dari tempatnya sampai tidak ada satu orangpun yang tersisa di sana, kecuali dua orang yang bernama Kisame dengan pria bertubuh kecil berambut abu-abu yang mengenakan topeng di wajahnya.
.
.
.
Naruto dan Jiraya setelah hampir mencapai tiga minggu akhirnya berhasil membawa Tsunade untuk datang ke Konoha. Setelah menghadapi beberapa halangan yang timbul akibat kehadiran Orochimaru yang menghadang mereka sehingga menyebabkan terjadinya pertarungan. Namun, pada akhirnya Orochimaru dan para anak buahnya berhasil dipukul mundur. Tsunade telah berhasil memulihkan keadaan tubuh Naruto menjadi normal dan disinilah mereka sekarang sedang melakukan perjalanan yang mungkin memakan waktu satu hari atau lebih menuju ke Konoha.
"Kau kenapa Naruto?, tidak biasanya kau hanya diam saja." ucap Jiraya karena melihat Naruto selama perjalanan mereka hanya diam saja.
"Aku tidak apa-apa."
"Kau hampir saja terbunuh saat pertarungan sebelumnya, seharusnya kau lebih berhati-hati kalau kau sayang akan nyawamu." Tambah Jiraya.
"Ya, aku tahu itu."
Tsunade dan Shizune memandang Naruto sedikit heran walaupun mereka sudah mendengar semua ceritanya dari Jiraya. Mereka heran karena melihat Naruto yang seperti memikirkan sesuatu dengan sangat keras dan juga merasakan suatu perasaan yang tidak enak pada anak itu. Itu membuat orang yang sedang berjalan bersamanya dipenuhi tanda tanya di benak mereka. Tsunade yang pada saat pertama kali bertemu dengan Naruto langsung merasakan ada sesuatu yang menekan mental dari anak itu. Sebagai ninja medis nomer satu dari Konoha tentu saja dia bisa mengetahui keadaan anak itu, baik keadaan fisiknya maupun mentalnya. Karena sebagai seorang ninja medis dia dituntut untuk bisa memahami baik keadaan fisik dan juga mental dari pasiennya.
Keadaan mental dari anak yang baru dikenal Tsunade itu lebih buruk daripada keadaan fisiknya saat ini. Walaupun dalam pertarungan dengan Orochimaru dan anak buahnya sebelumnya telah membuat fisik dari anak itu babak belur. Bukan karena pertarungan itu yang membuat dia seperti tertekan dan sepertinya pun pertarungan itu tidak memberi tekanan mental apapun terhadap anak itu, melainkan ada sesuatu yang lebih besar yang menekannya.
Dalam pertarungan itu Naruto sudah beberapa kali melakukan kesalahan yang bisa membahayakan nyawanya saat melawan dua anak buah Orochimaru yang bisa dikatakan berada di level yang tidak seharunya dihadapinya untuk saat itu. Kecerobohan dalam melakukan serangan dan juga setiap gerakannya yang tidak bisa dikatakan akurat diikuti oleh berbagai kesalahan lainnya. Untung saja Shizune melakukan suatu tindakan untuk menolong Naruto, kalau tidak maka tidak bisa diperkirakan apa yang akan terjadi pada bocah berambut kuning itu.
"Apa sebenarnya yang sedang dipikirkannya?" batin Tsunade.
"Dia tampak seperti sangat tertekan." Bisik Shizune pada Tsunade yang berdiri di sebelahnya. Tsunade hanya mengangguk menyetujui perkataan murid sekaligus pelayannya itu.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di suatu kota yang lumayan besar. Jiraya segera memesan beberapa kamar untuk mereka. Penginapan yang tidak begitu besar yang terletak sedikit di tengah kota itu. Tapi saat Jiraya selesai memesan kamar tiba-tiba Naruto berbicara di saat mereka sudah berada di dalam tempat peristirahatan.
"Aku akan segera kembali ke Konoha."
"Apa maksudmu Naruto, kenapa kau terburu-buru begitu?"
"Tidak, aku hanya ingin kembali lebih cepat saja."
"Baiklah kalau begitu, kau duluan saja."
Akhirnya Naruto segera meninggalkan penginapan itu untuk segera kembali ke Konoha di tengah derasanya Hujan. Sedangkan Jiraya yang melihat hal itu hanya menghela nafas sebagai tanda herannya pada sikap Naruto. Melihat Naruto yang sudah menjadi muridnya saat perjalanan beberapa minggu ini.
"Ada apa dengan Naruto?" tiba-tiba Tsunade sudah berdiri di sebelah Jiraya di depan penginapan itu setelah melihat Naruto yang langsung kembali ke Konoha dengan terburu-buru.
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia terlalu khawatir terhadap Imoutonya. Saat sebelum kami pergi mencarimu dia sudah bersikap seperti itu." Tsunade hanya menghembuskan sambil beranjak menuju ke dalam penginapan yang mereka sewa itu setelah mendengar jawaban dari Jiraya.
"Mungkin, rasa pedulinya yang terlalu besar terhadap Imoutonya itu yang membuatnya seperti itu. Atau mungkin ada yang lain yang membuatnya seperti itu?, entahlah ... " Batin Tsunade.
.
.
.
"Ada apa denganku?, kenapa aku sangat gelisah?" batin Naruto sambil terus berlari menuju ke Konoha dengan kecepatan penuh. Dia tidak memperdulikan derasnya hujan yang turun membasahi tubuhnya. Hujan yang deras itu sesekali diselingi oleh sambaran petir dan juga tiupan dari angin yang cukup kuat.
Naruto POV
"Kamu harus menemukan siapa dirimu sebenarnya apakah kamu memiliki Semangat Api di dalam hatimu yang berkobar dan menyala walaupun dia berada di dalam kegelapan atau apapun .. dia tetaplah Api yang menyala . Kegelapan itu tak akan mempengaruhi keadaannya dan tidak akan bisa merasukinya apalagi menghilangkan cahayanya ... atau kamu hanya sebuah benda yang tidak bisa menghasilkan cahaya dari dirinya sendiri ataupun sebuah kayu dan jerami yang akan hilang jika tanah dan api ... tapi , Aku yakin kamu memiliki semangat Api itu itu sendiri .. dan kegelapan dari dunia ini tidak akan membuatmu menjadi kehilangan cahaya Hatimu, hatimulah yang akan menentukan akan menjadi apa kelak dirimu ... Jadilah Api yang selalu bersinar ... yaa ... Kaa san menyayangi kalian tebane ...Naruto-Mito ... "
...
"Jadilah kuat dan lindungilah orang-orang yang kau sayangi . Orang akan menjadi kuat dan berkembang jika dia memiliki seseorang yang ingin dilindunginya . Orang yang tidak memiliki sesuatu untuk dilindungi akan berjalan tanpa arah dan akan masuk ke dalam kegelapan . Bertindaklah secara bijaksana , tentukan lah pilihan yang baik bagimu Naruto ... teruslah berjalan di dalam terang itu karena jika kau berjalan dalam kegelapan maka kamu tidak akan menemukan apapun di sana dan kamu tidak mendapatkan sesuatu ynag pasti di sana . Dalam terang kamu bisa melihat tapi damlam gelap kamu tidak akan dapat melihat apapun ... dan pikiranmu hanya akan hampa karena berada di dalam kegelapan . Berjalanlah dalam terang Naruto ... Tou san titipkan Mito dan desa ini padamu ... dan juga Tou san ingin kamu menjaga ITU yaa ... Ore wa omae wo Shinjiteruyo."
Apa aku bisa bertahan dalam menghadapi hal ini? sebenarnya apa yang telah ku lakukan sampai-sampai ini semua terjadi pada kami .. Kaa-san.. Tou-san. Kenapa orang-orang itu tampak sangat membenci kita, apa kita telah melakukan sesuatu yang salah pada mereka.
Mereka ingin merebut semua hal yang kumiliki dan meninggalkanku dalam kehampaan dan aku tidak cukup kuat untuk melakukan perlawanan terhadap mereka yang memiliki kekuatan yang tidak bisa ku kejar. Mereka membunuh kedua orang tua ku .. Kaa-san ... Tou-san ... dan terakhir kalinya berusaha mengambil nyawa adikku dan berniat untuk menghancurkan desaku ...
Ore wa omae wo Shinjiteruyo
Tou-san apa aku mampu untuk melakukan apa yang kau percayakan kepadaku? Apa aku mampu untuk melakukan seperti yang telah kau ajarkan selama ini. aku benar-benar tidak tahu apa aku sanggup untuk melakukannya.
Ore wa omae wo Shinjiteruyo
...
Naruto POV End
.
.
.
Naruto terus berlari menelusuri hutan itu dengan melompati dari satu pohon ke pohon yang lain dengan gerakan yang cepat. Dalam gerakan seperti ini dia sudah setengan jalan menuju ke Konoha setelah beberapa kali menambahkan gerakan Hiraishinnya untuk berpindah tempat. Perjalanan yang seharusnya ditempuh satu hari menjadi lebih singkat.
Saat bergerak dari satu tempat menuju ke tempat yang lain, Naruto merasakan adanya kehadiran beberapa orang yang sepertinya bersembunyi walau kecil karena adanya hujan dan suara guruh yang menganggu, namun karena terburu-buru membuat Naruto tidak memperdulikan keadaan itu dan terus saja berlari dengan kecepatan yang bisa dikatakan cepat.
Kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan kelompok yang menamakan dirinya Akatsuki, dan sekarang kelompok itu kembali berusaha merengut nyawa satu-satunya keluarga yang dimilikinya yaitu adiknya yang sangat di sayanginya. Kelompok yang tidak memiliki belas kasihan sedikitpun itu ingin merengut semua yang dimilikinya, dan hal itu hampir saja terjadi lagi karena dirinya yang tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi orang-orang yang berharga di matanya. Sekarang dia diliputi oleh berbagai macam perasaan yang sepert berputar-putar mengelilinginya dan menghancurkan konsentrasinya.
Naruto terus saja memikirkan hal itu dalam perjalanannya sampai pada saat dia tidak menyadari adanya kertas peledak di dalam tanah di daerah dimana dia sekarang berpijak.
*BOOOOOOOOOOOM
Ledakan besar terjadi karena kertas peledak yang secara bersamaan meledak membuat suatu guncangan di daerah itu disertai dengan asap yang menghalangi pandangan mata walau sekalipun Hujan yang turun dan angin yang bertiup kencang namun tetap tidak bisa menghilangkan gumpalan asap itu.
*Futon-Dai Reppuso
Naruto mengeluarkan tekanan angin keras ke segala arah untuk menghilangkan asap yang meliputi daerah itu.
"Penyerangan yang tidak setengah-setengah ya? Menggunakan bom kertas dengan disertai asap pelumpuh. Ini pasti bukan perbuatan ninja biasa."
Naruto berhasil menghindar menggunakan shunsinnya sepersekian detik saat menyadari adanya bunyi kertas peledak yang akan meledak sebelumnya. Instingnya sebagai ANBU yang telah dilatih dan juga segala pelajaran yang selama ini diterimanya membuatnya dapat merespons apa yang terjadi dengan cepat walau pikirannya yang saat ini sedang kalut.
Setelah asap pelumpuh yang tadi meliputi daerah itu menghilang, Naruto mengedarkan pandangannya ke segala arah berusaha menemukan sosok dari orang yang melakukan penyerangan padanya saat ini. walau sulit karena pandangannya yang masih dikaburkan oleh air hujan yang turun dengan derasnya di tempat itu namun Beberapa saat kemudian dia melihat tiga orang ninja yang menggunakan Armor yang sangat dikenalnya- ROOT.
"Apa yang kalian inginkan dari ku? Kenapa kalian melakukan penyerangan terhadapku, Hah ..!" Tanya Naruto dengan penuh amarah. Suara Naruto disamarkan oleh derasnya suara Hujan dan guruh namun para ANBU ROOT itu masih bisa mendengarnya karena sudah sangat terlatih. Pikiran yang meresahkannya dan perasaan yang terus menganggunya membuatnya tidak lagi bisa mengendalikan dirinya layaknya seorang ANBU. Karena banyaknya pikiran yang membuatnya tertekan selama ini mengacaukan segala kebiasaan sedikit yang diterimanya di dalam kesatuaan Anbu- Tidak membawa emosi dan tidak terbawa emosi dalam pertarungan.
Naruto berusaha menajamkan matanya melihat keempat ANBU ROOT yang saat ini berdiri dengan jarak kira-kira tujuh meter mengelilinginya dari empat arah. Saat mengetahui sosok dari ANBU ROOT tersebut yang masih diam membuat Naruto terkejut karena yang berdiri di depannya saat ini merupakan ANBU yang sangat dikenalnya, ANBU yang sangat diketahui oleh banyak orang di seantero negeri yaitu Keempat Pilar.
ANBU Root khusus yang dijuluki keempat pilar yang banyak melakukan misi khusus dari balik bayangan. Sosok ANBU yang sangat ditakuti oleh negara elemental lainnya. Keempat pilar melakukan banyak pembunuhan dan misi khusus lainnya yang sangat berbahaya. Misi-misi yang dijalankan oleh Keempat Pilar merupakan Misi-misi dengan Rank S. Namun Keempat Pilar ini hanya berada di bawah komando sosok yang sangat dikenal oleh Naruto, yaitu Danzou. Bahkan Hokage sekalipun tidak memiliki wewenang terhadap keempat pilar ini. Yang bisa menggerakkan Keempat Pilar ini hanya Danzou saja.
ANBU ROOT ini merupakan ANBU yang berada di dalam dunia kegelapan yang takdirnya ditentukan hanya untuk membunuh. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan ..tidak ada keluarga. Tidak memiliki emosi sedikitpun, tidak memiliki kehendak yang ada hanya mematuhi perintah UNTUK MEMBUNUH.
Disinilah sekarang Naruto sudah terkepung oleh keempat pilar kematian itu di tengah hujan dan sambaran petir yang sangat kuat. Naruto mengetahui bahwa bila Keempat Pilar ini bergerak berarti ada sesuatu yang sangat mengerikan telah terjadi. Dan dari serangan barusan Naruto bisa menyimpulkan bahwa target mereka adalah dirinya sendiri yang sedang menuju konoha. Berbagai macam pikiran yang mengerikan muncul di dalam pikiran Naruto mengingat semua yang barusan terjadi.
Pergerakan Keempat Pilar ANBU ROOT sama dengan pergerakan suatu kehancuran ...
.
.
.T.B.C
A/N :
Sebelumnya saya minta maaf karena untuk fic ini mengalami penundaan yang cukup panjang. Sebenarnya saya sudah mulai sedikit malas dalam mengetik dan ditambah adanya kegiatan lain dan mungkin saya mulai merambah pembuatan cerpen untuk surat kabar. Saya sendiri juga tidak tahu apakah saya masih memiliki minat untuk menulis fanfic.
Dan satu lagi saya minta maaf karena tidak bisa membalas review teman-temin sekalian.
Dan soal chapter kali ini yang terlalu pendek mungkin karena dampak dari hal yang telah saya katakan sebelumnya.
Saya ucapkan banyak terimakasih pada yang sudah mau membaca cerita ini, terkhusus bagi yang mau meninggalkan jejaknya dalam Review.
...
..
.
Sampai Jumpa.
