Disclaimer : Saya Tidak Mengakui Kepemilikan atas Setiap Tokoh Karakter dari Fanfic Ini.

Author : Hillsen

Genre : Adventure & Family

Rating : T

Pair : ?

Warning : OOC, OC, Thypo, etc

Chapter 8

Seorang gadis yang memiliki rambut berwarna kuning pucat panjang sedang duduk di suatu ruangan yang penuh dengan corak lingkaran berwarna merah. Di dalam ruangan yang termasuk luas itu hanya terdapat satu meja berbentuk setengah lingkaran dengan sebuah kursi di belakang meja itu, sebuah kursi yang lumayan besar di sudut ruangan dan empat buah lemari yang terkesan mengelilingi ruangan itu. Selain benda-benda itu juga terdapat lima bingkai foto yang tergantung di dinding ruangan itu. Bila dilihat dengan jelas di kelima bingkai foto itu, maka dapat dilihat bahwa hanya satu foto saja yang menandakan bahwa salah satu orang yang terdapat di foto itu adalah wanita yang sekarang ini sedang duduk di belakang meja menghadap ke arah pintu yang sepertinya tempat untuk memasuki ruangan itu. Sedangkan keempat orang lain yang terdapat di foto itu menunjukkan bahwa mereka berjenis kelamin laki-laki.

Wanita itu menggerakkan sedikit tubuhnya yang terkesan kaku dari tadi karena mendengar penuturan dari seorang pria yang ada di depannya. Dia melipat ke dua tangannya di atas meja dan menghembuskan nafas berat yang seakan dari tadi di tahan dari kedua hidungnya.

Pria berambut hitam di depannya yang sedari tadi menceritakan sesuatu yang terkesan sangat lama dan sangat sangat ingin diketahuinya, namun sang wanita yang berada di depannya seakan tidak letih dan bosan untuk mendengarkan penuturan sang pria.

*Tok, tok, tok ...

Suara ketukan pintu membuat pria yang daritadi hendak melanjutkan ceritanya menjadi menghentikannya untuk sementara agar dapat melihat siapa orang yang saat ini datang. Pria itu mengalihkan pandangannya dari wanita itu ke arah suara ketukan yang berasal dari ketukan.

"Masuk." Kata singkat yang dikeluarkan wanita berambut kuning itu mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu tersebut.

Tak beberapa lama kemudian seorang pria berambut hitam jabrik dan acak-acakan memasuki ruangan dengan dua orang lainnya.

"Ternyata kamu sudah sampai Menma-kun?, apa misinya sukses?" tanya sang wanita yang berada di belakang meja tersebut.

Pria berambut hitam jabrik itu tidak langsung menjawab pertanyaan si penanya, namun mengalihkan pandangannya dari si wanita ke arah kursi di sudut ruangan dan seolah memberikan tatapan bertanya 'sedang apa kau disini'. Pria yang dari tadi ada di sudut itu hanya menyungingkan sebuah senyuman sambil menutup kedua matanya.

"Haa, misi kami berjalan dengan baik Uzukage-sama." Ucap pria jabrik yang bernama Menma itu setelah tidak menerima balasan dari pria yang duduk itu.

"Sudah berapa kali harus ku bilang jangan panggil aku dengan sebuatan 'Uzukage-sama'." Balas si wanita berambut kuning.

"Baiklah Shion-sama." Ucap Menma lagi.

"Terserahlah, aku sudah capai mengatakan cukup nama ku saja."

"Tidak bisa, Anda seorang Uzukage jadi sudah seharusnya saya memanggil Anda dengan gelar Anda."

Shion hanya mendengus pasrah melihat kedegilan orang di depannya. Dia mengalihkan pandangannya dari pria itu ke arah ke satu gadis yang berdiri di sebelah Menma.

"Kau terlihat sangat lelah, dan dimana satu orang lain dari kelompok kalian?" tanya Shion penasaran karena seharusnya mereka terdiri dari tiga orang.

"Dia sudah pergi duluan karena katanya tadi dia sudah lapar dan ingin makan secepatnya." Balas Menma.

"Dia itu memang terus begitu, mohon maafkan mereka Uzukage-sama." Ucap gadis di sebelah Menma.

"Hm." Menma di sebelahnya mengiyakan pernyataan gadis itu.

"Baiklah Uzukage-sama, aku permisi dulu." Ucap pria yang dari tadi duduk di sudut ruangan itu yang tanpa diketahui sudah berdiri di depan pintu ruangan itu.

"Kau mau kemana Sai?, cerita yang tadi belum selesai." Ucap Shion.

"Lain kali masih bisa kan?, lagipula saya sudah capai dari tadi terus bercerita tanpa henti. Saya permisi dulu.. Shion-sama,Menma, dan Shizuka." Ucap Sai lalu keluar ruangan.

Shion yang mendengar melihat Sai hanya pergi begitu saja hanya bisa pasrah melihat Jounin itu melangkahkan kakinya menuju keuar pintu.

"Ah, iya. Aku juga permisi, masih ada yang harus ku kerjakan." Ucap Menma meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu persetujuan dari sang Uzukage.

"Saya juga permisi dulu Uzukage-sama." Ucap Shizuka juga sambil mengikuti Menma.

"Menma, kenapa kau tampak terburu-buru sekali?" tanya Shizuka yang berhasil menyusul Menma setelah keluar dari gedung Uzukage.

"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mencari Sai."

"Oh, ku sangka ada sesuatu yang penting."

"Sesuatu yang penting?, kenapa kau bisa menyimpulkan begitu ?" tanya Menma dengan pandangan sedikit aneh.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Shizuka balik bertanya karena melihat Menma memberikanya dengan tatapan aneh.

"Ah, tidak apa-apa. Aku pergi dulu." Ucap Menma dan langsung pergi meninggalkan Shizuka tanpa memperdulikan gadis berambut hitam itu yang memberikan tatapan kesal.

"Haa, selalu seperti itu."

Sementara Menma ternyata sudah berdiri di sebuah menara yang berada di tengah-tengah desa Uzushiogakure. Menara ini merupakan menara yang paling tinggi dan berada di pusat dari daerah desa Uzugakure. Tingginya mungkin mencapai lima puluh meter dengan diameter hampir mencapai seratus meter. Desa Uzu memiliki daerah yang lumayan luas, hampir mencapai seratus kilometer persegi ditambah lagi beberapa tempat lain yang akan diperluas. Besar desa ini tidak menunjukkan bahwa desa ini merupakan desa yang kuat, karena Uzushiogakure merupakan desa ninja yang berada di bawah kendali salah satu desa terbesar dari ke lima negara elemental yang ditakuti, yaitu Kumogakure.

Populasi penduduk di Desa Uzu sendiri hanya mencapai seribu orang sudah termsuk penduduk biasa dan ninja. Kumogakure yang memegang kendali, walaupun di Uzugakure terdapat seorang Uzukage menetapkan bahwa ninja uzugakure hanya bisa mencapai enam ratus orang. Setiap tahunnya Uzugakure juga harus memberikan upeti kepada desa Kumo, sehingga membuat desa ini tidak memiliki banyak anggaran untuk meningkatkan pertahanannya. Selain itu desa Kumo juga menempatkan sepuluh Jouninnya dan ANBUdi Uzugakure sebagai pengawas yang setiap bulannya memberikan laporan mengenai berbagai hal kepada Raikage di Kumogakure.

Penduduk desa Uzu sendiri merupakan penduduk campuran dari berbagai desa yang ada di sekitarnya. Perbandingan antara penduduk asli Uzu dan pendatang adalah 6 : 4. Hal ini dikarenakan banyaknya warga desa Uzu yang tewas pada saat peperangan melawan tiga desa negara elemental.

Uzugakure merupakan desa tanpa berada di naugan negara manapun, tidak seperti desa lainnya. Desa ini mengandalkan produksi alat ninja dan pertanian untuk menunjang perekonomiannya. Sebenarnya desa Uzu memilii pelabuhan yang isa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomiannya, namun pelabuhan itu sudah didominasi oleh pedangang-pedangan dari Kumogakure.

Menma mengetahui bahwa Kumogakure merasa terancam akan keberadaan dari Uzushiogakure, sehingga membuat aturan-aturan yang menghambat desa ini untuk berkembang. Posisinya yang berada di antara Konoha dan Kumo sendiri membuat Kumo mau tidak mau harus membuat hal itu agar mencegah Uzushiogakure tidak besekutu dengan Konoha. Kumo sendiri sudah mengetahui bahwa terapat hubungan kerabat jauh antar Uzu dan Konoha.

"Setiap desa saling mencurigai satu dengan yang lainnya." Gumam Menma yang berdiri di atas menara itu sambil melihat dua orang Jounin Kumogakure memasuki gedung kantor Uzukage.

Pemuda berusia pertengahan tujuh belas itu merupakan ninja yang sangat penting bagi Uzugakure untuk menjaga kestabilan desa itu. Bisa dikatakan bahwa dia merupakan salah satu dari beberapa ninja yang terkuat di Uzushiogakure. Sai temannya yang tadi berada di gedung kantor Uzukage biasanya jarang terlihat karena banyaknya misi yang diembannya sebagai ketua Anbu Uzugakure. Maka dari itu melihat Sai pada beberapa saat yang lalu merupakan sesuatu yang langka.

"Kemana sebenarnya perginya anak itu?" Menma mulai tampak mulai kesal karena tidak bisa menemukan Sai.

Dia sangat mengetahu bahwa temannya itu merupakan ninja yang sangat mahir untuk menyembunyikan cakra dan dirinya, bahkan dari ninja sensor kaliber sekalipun.

"Padahal ada yang ingin kubicarakan dengannya, mengingat bahwa sebentar lagi akan diakan Ujian Jounin antar desa."

"Shizuka kau darimana saja, daritadi aku mencarimu tahu." Gadis berambut merah dengan kacamata yang mengantung di depan kedua matanya tiba-tiba muncul di depan Shizuka.

"Aku juga sedang mencarimu tahu."

"Mencariku?, memangnya ada apa?" tanya gadis berambut merah itu.

"Ini mengenai Misi yang telah kita selesaikan sebelumnya, Karin." Kata Shizuka dengan menatap Karin serius.

"Sebaiknya tidak kita bicarakan disini, ayo ikut aku. Tadi sebenarnya aku juga mau membicarakan hal itu.

"Jadi bagaimana keadaan tempur ninja desa kita, Sasame?" Tanya Shion pada gadis berambut oren yang menjadi sekretarisnya itu.

"Desa kita memiliki kekuatan tempur sebanyak 50 orang Jounin, 250 chunin, 200 ANBU, dan 100 genin elit Shion-Sama. Semuanya sudah siap sedia seperti yang Anda katakan. Dan juga peralatan ninja yang kita miliki juga sudah terbilang sangat cukup untuk bertempur. Menurut kabar yang saya terima dari pasukan ANBU masih belum ada tanda-tanda yang diperlihatkan desa lain untuk melakukan agresi, termasuk Kumo sendiri yang sudah mulai curiga akan gerakan desa kita."

"Bagitu ya. Kalau situasi yang terjadi berada di luar perkiraan, maka kita harus siap sedia." Shion memutar tubuhnya sehingga sekarang menghadap ke arah rumah penduduk desa.

"Dan satu lagi Shion-sama, menurut laporan terbaru beberapa ANBU yang berhasil meyusup ke dalam desa yang kita curigai sebelumnya Otogakure, menunjukkan bahwa mereka ingin melakukan penyerangan untuk memperluas daerah mereka yang berbatasan dengan kita, ditambah pempmpin mereka yang sangat tertarik dengan kemampuan desa kita mengenai Fuinjutsu." Sasame memberikan informasi yang ada di tangannya sambil membolak-balik kertas yang digenggamnya.

"Ini buruk, desa itu memang terkenal akan kegilaannya yang suka sekali menyerang desa lain untuk mendapatkan Jutsu sama seperti Kumo. Desa itu juga pernah sekali menyerang desa Konoha. Tampaknya kita memang harus siap untuk segala sesuatunya."

Suasana yang tegang di ruangan itu dipecah oleh suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar.

"Uzukage-sama, saya melaporkan mengenai permintaan kita pada Konoha untuk membantu desa kita tidak bisa mereka penuhi." Ucap ninja yang baru saja masuk itu.

"Apa kau bilang?, kenapa?, kenapa mereka tidak mau memberikan bantuan?, bukankah mereka juga saudara kita dan yang menjadi hokage mereka juga merupakan darah uzumaki, dan lagi kita memiliki hubungan aliansi dengan mereka." Geram Shion setelah mendengar laporan dari ninja tersebut.

"Mereka mengatakan bahwa wilayah desa Uzu berada di bawah kendali desa Kumo, dengan kata lain kalau mereka memberikan bantuan itu sama saja dengan mencampuri urusan internal desa Kumo sendiri."

BRAKKK

"Dasar Konoha brengsek." Shion mengebrak meja karena emosinya setelah mendengar alasan Konoha tidak mau memberikan bantuan yang menurutnya itu terlalu konyol.

"Aku akan pergi ke Konoha dua hari lagi. Persiapkan segala yang diperlukan...SEKARANG" shion melanjutkan kata-katanya dengan geram seolah tidak mau dibantah sedikitpun.

Dalam situsi bagaimanapun dilihat bahwa tindakan Shion bisa memicu ketidaksenangan pihak Kumo, karena tidak menghormati kekuasaan Kumo atas Uzugakure. Namun hal itu juga tidak bisa menjadi salah Uzugakure karena siapapun mengetahui bahwa desa Otogakure merupakan desa yang saat ini menjadi desa yang sedang berkembang dengan pesatnya. Menurut data terakhir yang didapat ANBU Uzugakure, desa Oto memiliki hampir tiga ribu ninja dan mereka sekarang pada tahap terus menghasilkan ninja-ninja yang berbahaya.

Kumogakure tidak mau memenuhi permintaan Uzugakure untuk menepatkan pasukan Ninjanya di perbatasan antara oto dan uzu karena menurutnya itu bisa memicu perang antara Kumo dan Oto. Walau Uzugakure sudah menunjukkan bukti-bukti yang kuat bahwa Otogakure memiliki niat untuk menyerag Uzugakure, namun tetap saja Kumo masih tidak mau memberikan tanggapan serius akan berita itu.

"Panggil mereka berdua sekarang kesini." Ucapnya pada sekretarisnya itu.

"Ha'i." Balas orang bertopeng yang tiba-tiba muncul di depannya lalu menghilang kembali.

"Kunai yang ku gunakan saat misi tadi sudah rusak dan seperti tidak layak untuk digunakan." Menma melemparkan dua kunai yang ada di kaki kiri dan kaki kanannya ke sebuah kotak kayu yang lumayan besar di rumah miliknya.

Bila dilihat dengan seksama rumah dimana Menam tinggal hanya terdapat tujuh ruangan yang terdiri dari satu ruangan depan, satu dapur, dua kamar tidur, dua kamar mandi, dan satu ruang tidak terpakai.

Pemuda berambut hitam ini sudah hendak menanggalkan baju dalamnya yang dikenakannya kalau saja tidak merasakan kehadiran seseorang.

Tak perlu menunggu lama dia sudah mendengar ketukan pintu yang diketuk seseorang.

"Ada apa?" tanya Menma saat setelah dia sampai di depan pintu rumahnya dan membuka pintu itu lalu melihat Anbu yang mengenakan topeng di wajahnya.

"Maaf menganggu, Tapi Anda dipanggil oleh Uzukage-sama saat ini juga.. fuuttzz." Anbu itu segera menghilang setelah menyampakan pesan yang harus disamaikannya.

"Ada apa sebenarnya." Menma berbalik kembali ke kamarnya lalu mengambil jaket yang biasa dipakainya lalu segera menuju kantor Uzukage.

"Ada apa Anda memanggil saya Shion-sama?" seorang gadis berambut merah dan mengenakan kacamata yang baru masuk ke kadalam ruangan kage tersebut langsung bertanya tanpa memperdulikan ada orang lain yang ada di sekitarnya.

"Kau ini tidak tau sopan santun sekali ya. Baru saja datang sudah langsung mengajukan pertanyaan tanpa melihat keadaan, Karin..."

"Cih. Diam, aku tidak perlu nasihatmu Shizuka." Jawab Gadis yang bernama Karin itu kesal.

"Yang di katakan oleh Shizuka itu benar Karin. Kalau kau tidak bisa menahan mulutmu yang seperti mulut Anjing itu. Maka aku akan merobeknya dengan tangan ku, kau tahu kan?" pemuda pucat yang juga ada di situ memberi komentar kasar sambil tersenyum seolah ucapannya merupakan suatu pujian.

Karin yang mendengar itu hendak membalas hinaan dari pemuda pucat itu, namun di batalkannya karena merasa ngeri melihat senyum topeng si pemuda.

"Kalian ku kumpukan disini untuk membahas mengenai hal penting. Sai, Karin, Shizuka, Sasame, dan Haku..."

Tok, tok, tok ...

Belum lagi Shion menyelesaikan perkataannya pintu masuk ruangan itu sudah terlebih dahulu diketuk dari luar.

Menma masuk dan memandang heran karena menemui banyak orang di ruangan itu.

"Kenapa kalian semua ada disini?" tanyanya bingung melihat orang-orang yang dikenalnya berkerumun tidak biasanya di dalam ruangan itu.

"Mereka disini karena ada yang hendak kita bicarakan." Shion menjawab pertanyaan Menma yang sebenarnya tidak ditujukan padanya.

"Nah karena semuanya sudah ada disini, maka akan langsung ku beritahu apa yang hendak ku bicarakan pada kalian." Lanjut Shion

"Tunggu, melihat mereka yang ada disini berarti yang hendak dibicarakan pasti sangat penting. Jadi dimana dua orang itu?, apa mereka tidak diundang?" tanya Menma memutus perkataan Shion.

"Mereka lagi menjalankan misi. Dan lagi jangan kebiasaan memotong saat orang lagi berbicara, Menma. Baiklah langsung saja aku ingin kalian mendengar bahwa mengingat situasi yang sudah kita ketahui Aku sendiri dengan ditemani dua orang yang ada disini akan pergi menuju Konoha."

Semua yang ada di situ menunggu kelanjutan dari perkataan sang Uzukage karena mereka tahu bahwa pemimpin mereka itu belum selesai berbicara.

"Menma dan Karin, kalian akan pergi menemaniku pergi ke Konoha."

Pemuda yang bernama Menma itu melebarkan matanya setelah mendengar bahwa dia akan menemani sang kage ke Konoha. Sai yang bisa melihat Menma terkejut dan menegang hanya bisa menghela nafas karena tahu keadaan dan kondisi sahabatnya itu, sekalipun ditutupi oleh wajah datarnya. Setiap hal atau Misi yang berhubungan dengan Konoha pasti pemuda berambut hitam itu akan menolak untuk menjalankannya.

Berbalikan dengan Menma, Karin yang mendengar hal itu sangat senang karena dia sudah lama tidak pergi ke Konoha, salah satu desa terkuat di kelima negara elemental katanya.

"Kita akan berangkat besok menuju Konoha."

"Tunggu Uzukage-sama, kenapa harus Karin yang pergi menemani Anda?" protes Shizuka karena tidak terima atas keputusan Kage tersebut.

"Aku memilihnya karena kemampuannya, dia memiliki sensor terbaik di desa kita. Jadi kau pasti mengerti mengapa aku memilihnya, kan?" ucap Shion yang tidak bisa dijawab Shizuka kembali.

Dua hari kemudian Menma, Karin, dan Shion pergi meninggalkan desa Uzhiogakure menuju ke Konoha untuk merundingkan permintaan mereka yang ditolak kembali. Sudah sekitar tiga hari mereka meninggalkan desa menuju Konoha. Dalam perjalanan yang terkesan sunyi dan terburu-buru itu, mereka sudah hampir memasuki wilayah negara Api tinggal menempuh jarak sekitar dua ratus kilometer lagi.

"Sebaiknya kita beristirahat disini saja, mengingat ini sudah menjelang malam." Ucap Shion diikuti oleh Karin yang menurunkan barang bawaannya.

"aku akan memeriksa keadaan sekitar." Ucap Menma lalu pergi untuk memantau lingkungan yang menjadi tempat istirahat mereka. Menma pergi menelusuri tempat itu sampai jarak aman, yaitu radius seratus meter dengan titik pusat tempat mereka. Selain memastikan keadaan, maka tampak juga ninja itu membuat tanda di beberapa pohon yang ada di sekitar tempat itu dan juga bebrapa jebakan.

Sedangkan ditempat peristirahatan Karin berkonsentrasi untuk memusatkan dalam sensor dan Shion yang sedang duduk di batu yang cukup besar di tengah hutan itu. Saat sedang berkonsentrasi penuh, tiba-tiba Karin merasakan adanya chakra asing yang mendekat ke arah mereka.

"Tampaknya ada tikus yang mendekati kandang singa." Ucap Menma pelan lalu menghilang dalam sekejap dan sampai di tempat penyusup. Walaupun tingkat sensornya kecil, namun Menma masih bisa merasakan chakra asing dalam radius tiga tiga ratus meter.

"Ternyata sepuluh ekor tikus ninja Otogakure yang berani melakukan keributan, dan aku mengingat salah satu dari antara kalian." Ujar Menma memperhatikan sepuluh ninja asing yang berdiri di depannya saat ini.

"HAHAHA, kau sangka apa yang bisa kau perbuat. Kau Cuma seo..."

Zraassshhh, zraasshhhh, zrasshhh ...

Trankkk

Dalam sekejap saja kesembilan ninja yang tadi berdiri di hadapannya sudah jatuh ke tanah tanpa mereka sempat mengedipkan matanya sekali.

"Tak kusangka, aku akan bertemu kembali denganmu bocah. Taktik serangan, bunshin dan yang terpenting kecepatan itu masih sama seperti yang dulu, tidak- tampaknya kau semakin kuat. Tapi, jangan kau pikir hanya kau saja yang bertambah kuat karena selama ini aku juga sudah betambah kuat." Ucap sang Ninja Oto yang berhasil menahan serangan Menma tadi.

"Aku juga merasa senang karena bertemu kembali mangsa yang sebelumnya sempat lolos dari cakar ini." Menma menatap datar ke arah Ninja oto itu sambil mengusap darah yang ada di kunai miliknya.

"Kalian, kembalilah ke tempat sebelumnya. Yang disini biar aku yang urus." Perintah Menma pada dua bunshin miliknya.

"Nah, sekarang tinggal kita berdua. Bagaimana kalau kita melanjutkan pertarungan kita Kimimaroo."

T.B.C

N/A:

Entah kenapa saya merasa harus menulis lagi fanfic ini. Padahal niatnya saya mau berhenti dalam waktu lama atau berhenti sama sekali, tapi yasudahlah. Mungkin karena Saya ingin menghilangkan strees karena ''dihajar" habis-habisan menghadapi UTS dan kegiatan lainnya.

Oh, iya, Saya mau mengucapkan selamat atas selesainya ANIME NARUTO pada Kishimoto Sensei melalui Fanfic ini. Saya suka endingnya yang dimana akhirnya Naruto menjadi Hokage dan kondisi dimana Naruto dkk sudah dewasa. Pokoke MANTAP dan saya suka, walau endingnya terkesan seperti terlalu dipaksa.

Terakhir saya berterima kasih atas teman-teman yang sudah membaca Fanfic ini, terkhusus dan teristimewa bagi yang mau meninggalkan jejak melalui review.

R

E

V

I

E

W