Chapter 13
.
.
.
.
Lokasi : Persembunyian Orochimaru
Di tempat duduknya Orochimaru memandang datar para bawahannya yang saat ini ada di depannya. Kegagalan penculikan Uzukage membuat Orochimaru sedikit gusar mengingat bahwa sudah semakin dekat waktu bagi dia melakukan perpindahan tubuh.
Berdiri di depan sang Sennin ular saat ini, Kabuto, Suigetsu, Jugo, Ukon, Tayuya, dan Kidomaru. Bawahan Orochimaru ini berkumpul karena pemimpin mereka itu memanggil mereka untuk memilih siapa yang akan menjalankan misi yang sebelumnya gagal.
Menangkap Uzukage.
Menurut kabar dari mata-mata Orochimaru yang ada di Konoha mengatakan bahwa satu hari ke depan merupakan dimana hari sang kage dari desa pusaran air untuk berangkat pulang ke desanya.
Maka dari itu Orochimaru kembali menyusun rencana untuk menangkap sang Uzukage. Setelah memutuskan siapa saja di antara mereka yang akan pergi melaksanakan misi itu Orochimaru juga menambahkan dua puluh shinobi dari Otogakure desa yang ada di bawah naungannya.
Satu peleton shinobi dengan level chunin, dimana di pimpinan Ukon, Tayuya dan Kidomaru yang akan menyergap sang kage saat perjalanan pulang ke desa pusaran air.
Tujuan dari penangkapan ini juga untuk melemahkan desa pusaran air itu sebelum Orochimaru melakukan penyerangan ke desa tersebut untuk merampas sejumlah jutsu tersembunyi yang diyakini Orochimaru dapat membantunya meningkatkan bukan hanya dirinya melainkan pasukan Otogakure.
"Tayuya, Ukon, Kidomaru kalian pergilah dahulu ke sebelah timur dari tempat persembunyian kita. Karena disana sudah ada satu peleton shinobi Otogakure yang sudah menunggu kalian." Ucap Orochimaru setelah memberikan beberapa rincian mengenai apa yang harus dilakukan anak buahnya itu.
"Baik Orochimaru-sama!" Balas mereka serentak lalu meninggalkan tempat perembunyian itu.
"Apa anda yakin mengirim mereka, Orochimaru-sama?" Tanya Suigetsu setelah melihat bahwa dia tidak diikutsertakan dalam misi kali ini.
"…"
"Kau tidak perlu memikirkan tentang misi ini karena, aku juga memiliki sesuatu yang harus kau kerjaakan bersama dengan Jugo." Jawab Orochimaru membuat pemuda dari desa kirigakure itu sedikit bergidik ngeri kalau setiap melakukan misi dengan Jugo.
Beberapa saat kemudian Orochimaru dan Kabuto pergi mengunjungi ruang dimana Kimimaroo dirawat. Untuk memastikan bahwa kondisi dari klan Kaguya dan merupakan salah satu bawahan terjuatnya itu baik-baik saja.
Lokasi : Tim Kakashi dan Suna
Dalam pengejarannya terhadapa anggota Akatsuki yang membawa Gaara, Temari menceritakan sebagian kisah kehidupan Gaara di saat kecil kepada anggota Tim lainnya.
Dimana Gaara dilahirkan sebagai anak yang paling muda, dari dua saudaranya yang lain yakni mereka Kankuro dan Temari. Sebelum kelahirannya Ayahnya yang sebagai Kazekage menyuruh nenek Chiyo agar menyegel Shukaku kedalam diri adik mereka itu dengan harapan bahwa Gaara akan menjadi senjata pamungkas untuk Sunagakure karena ia adalah satu-satunya dari tiga anak Kazekage yang kompatibel dengan monster itu.
Gaara yang terlahir prematur yang menjadi luar biasa kecil dan lemah. Sebelum ibu mereka Karura meninggal, mengatakan bahwa ibunya itu sangat bangga dengan anaknya tersebut dan bersumpah ingin selalu melindunginya.
Dalam perkembangan dan pertambahan usia ayah mereka yang menjabat sebagai Kazekage mengajarkan ninjutsu dan kemudian pelatihan diteruskan oleh Yashmaru paman mereka yang sangat menyayangi Gaara.
Sebagai seorang anak, Gaara melakukan banyak upaya untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Sunagakure, namun hal bukannya mendapat sambutan hangat dari penduduk desa melainkan semuanya takut padanya karena hubungannya dengan kehendak pasir, Shukaku.
Semua penduduk di desa mereka melihat Gaara hanya sebagai monster, dan hanya Yashamaru adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli sama sekali tentang Gaara.
Di masa kecilnya, dimana Gaara masih belum bisa mengendalikan kekuatannya, Gaara sering tidak sengaja menyakiti orang lain karena kemampuan alam bawah sadar yang diberikan kepadanya oleh monster itu, dimana hanya Yashamaru sendiri mengerti bahwa Gaara tidak dimaksudkan untuk menyakiti siapa pun.
Namun, Dewan Sunagakure, bagaimanapun, menganggap bahaya yang ditimbulkan Gaara yang tidak dapat mengendalikan kekuatannya dianggap sebagai ancaman.
Kecewa karena Gaara yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya dan menimbulkan banyak peristiwa buruk, ayah mereka memutuskan untuk menguji adik mereka itu dengan menyuruh Yashamaru menyerang Gaara baik secara fisik dan psikologis dalam upaya untuk melihat apakah Gaara bisa mendapatkan kontrol atas Shukaku.
Yashamaru mengungkapkan kepada Gaara bahwa ibunya tidak pernah mencintainya, dan mencoba untuk membunuhnya, yang membuat dia terluka parah oleh Gaara sebelum akhirnya Gara menyadari siapa yang telah menyerangnya.
Meskipun Gaara awalnya mencoba untuk mempertimbangkan serangan Yashamaru yang diperintahkan oleh ayahnya, Yashamaru berbohong kepadanya dan mengatakan ia telah rela menerima misi untuk membunuh Gaara. Dia juga mengungkapkan bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintai Gaara, dan mengatakan bahwa membunuh dia akan membalas kematian saudaranya, yang menamainya Gaara dengan frase "pembunuh pecinta diri sendiri" sebagai tanda intensnya kebencian untuk Suna daripada cintanya Gaara.
Dalam upaya terakhir untuk membunuh Gaara, Yashamaru meledakkan sejumlah kertas peledak menutupi tubuhnya, meminta keponakannya untuk "mati". Menggunakan pasirnya, Gaara berhasil bertahan dari ledakan itu, namun ia kehilangan satu-satunya orang yang telah dia pikir merawatnya, tidak mengetahui kebenaran di balik tindakan Yashamaru. Gaara kemudian menggunakan pasir untuk menuliskan kanji untuk cinta ke sisi kiri dahinya.
Kewalahan, Gaara kehilangan kendali dan berubah menjadi Shukaku, dan mengamuk di sekitar desa sebelum ayah mereka berhasil menghentikannya menggunakan Pasir Emasnya.
Setelah pengalaman traumatis kehilangan pamannya dan diberitahu tidak ada yang pernah mencintainya, Gaara menjadi orang penyendiri dan kejam yang obsesif membunuh orang dalam upaya untuk membuktikan keberadaan sendiri, dan untuk mendapatkan pengakuan dari desa.
Dia menyerah terhadap keinginan untuk persahabatan. Melihat bahwa Gaara tidak mampu mengatasi hilangnya kasih sayang ibunya, Kazekage menganggap dia gagal dan mengatur beberapa upaya pembunuhan pada anaknya, yang hanya membuat Gaara membenci ayahnya juga.
Dalam beberapa waktu kemudian, ideologi baru Gaara memungkinkan kontrol yang lebih baik atas Shukaku. Melihat hal itu, ayah mereka membatalkan semua perintah pembunuhan, dan menghidupkan kembali gagasan suatu hari nanti menggunakan Gaara sebagai senjata pamungkas untuk desa.
Temari juga menjelaskan bahwa Gaara pernah menjadi anak baik, yang meskipun orang mereka takut kepadanya, berusaha keras untuk bersikap ramah terhadap orang lain. Namun, tindakan pamannya memutar balik kepribadiannya.
Disesatkan untuk percaya tidak ada yang merawatnya, Gaara menggunakan pasir untuk membuat kanji di dahinya dengan "cinta", sebagai simbol resolusi untuk menjadi "iblis pecinta diri sendiri", dan untuk hidup sebagai nama pemberian ibunya.
Gaara menjadi emosional dan anehnya diam, karena ia dimakan kebencian terhadap orang kecuali dirinya sendiri dan "Ibu", yang pafahal suara Shukaku di kepalanya. Dia belajar untuk mendapatkan kesenangan dan alasan untuk hidup dengan pemusnahan banyak pembunuh yang dikirim untuk membunuhnya - dan dengan lebih luas, siapa pun yang menjadi ancaman bagi keberadaannya.
Hal ini diperparah dengan permintaan sesekali Shukaku terhadap darah untuk memenuhi haus darah sang iblis, sehingga Gaara menjadi kejam dan sosiopat. Selain itu, Gaara menderita susah tidur sebagai akibat dari Shukaku dalam tubuhnya.
Gangguan tersebut membuat takut pada Gaara; jika ia tertidur, iblis dalam dirinya akan menggerogoti jiwanya. Ketidakstabilan dan keinginan untuk membunuh Gaara akan meningkat sebagai hasilnya.
Kebencian Gaara terhadap ayah mereka, Kazekage karena upaya pembunuhan sang ayah, tetapi sifat anti orang itu bahkan meluas ke mereka saudara-saudaranya, yang ia tidak pernah melihat mereka terkait dengan dia, meskipun mereka tidak pernah menyakiti hatinya secara langsung.
Dia sepenuhnya bersedia untuk membunuh mereka jika ia memandang bahwa situasi memungkinkan untuk itu. Selain itu, karena pasir pelindung aktif setiap saat Gaara tidak pernah mengalami luka cedera, ia tidak pernah melihat darahnya sendiri sampai Sasuke Uchiha menusuk perisai pasir dan melukainya menggunakan chidori pada saat ujian chunin. Gaara memiliki gangguan mental yang berat sebagai hasilnya.
Masa kecil Gaara bisa dikatakan sangat buruk daripada yang dapat dibayangkan. Semua yang mendengarkan hal tiu bisa merasakan bagaimana menderitanya Gaara di waktu kecil. Bahkan Sakura bisa mengatakan kehidupan Gaara lebih buruk dari Mito sendiri sebagai Jinchuriki ekor Sembilan.
Dimana Mito masih memiliki Naruto dan bisa membuka dirinya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya serta menerima perlakukan tidak suka penduduk desa dengan sikap positif, namun tidak seperti Gaara yang sampai pada menyimpulan bahwa ia bisa mempertahankan dan mengkonfirmasi keberadaan sendiri dengan membunuh setiap orang dan semua yang menantang itu, mengamankan bentuk ekstrim dari eksistensialisme sebagai sifat kuncinya.
Dengan tidak adanya pengakuan dari luar, Gaara bisa mengimbangi dengan menilai hanya dirinya sendiri dengan mengesampingkan setiap orang lain. Selain itu, sementara Mito masih memiliki saudaranya Namikaze Naruto dan Tim Kakashi untuk menghiburnya, Gaara tidak pernah repot-repot untuk membuat ikatan emosional, bahkan dengan ayah atau saudara-saudaranya, karena mereka juga benci dan takut Shukaku.
Orang yang tumbuh paling dekat dengan mengakui dirinya adalah Yashamaru, tapi ketika Yashamaru diperintahkan untuk menyerahkan dia, dan Gaara berubah menjadi sosiopat yang kesepian. Dengan demikian, Gaara tidak mengerti berjuang untuk apa pun kecuali dirinya sendiri sampai konfrontasi dengan Mito dan Naruto selama Ujian Chūnin.
Setelah kekalahannya di tangan Mito dan Naruto, Gaara terkejut menemukan bahwa Mito sangat memahami rasa sakit yang telah dia alami sepanjang hidupnya. Dia bahkan lebih terkejut mengetahui bahwa Mito tidak pernah kehilangan ambisinya untuk diakui sebagai pribadi, dan telah akhirnya menemukan sahabat yang benar-benar peduli padanya.
Menyaksikan resolusi Mito untuk melindungi teman-temannya menyebabkan Gaara untuk akhirnya mempertanyakan jalan yang ia tentukan untuk dirinya sebagai anak muda.
Menyadari bahwa ia telah menyerah terlalu mudah, Gaara memutuskan untuk mengikuti jalur Mito dilihat sebagai manusia, dan bukan monster berekor dalam dirinya. Selama beberapa tahun ke depan, tekad Gaara untuk menemukan kebahagiaan menyebabkan dia mengandalkan kekuatan sendiri dan bukan dari sang biju ekor satu Shukaku.
Gaara akhirnya membentuk persahabatan dekat dengan Mito, melihat ninja Konoha itu sebagai teman sejati pertama, dan menjadi sangat setia kepada keputusannya, dan melindungi sebagai pendamping.
Gaara juga datang untuk melihat pertemuan Mito dan Naruto sebagai peristiwa terbesar dalam hidupnya dan percaya terhadap harga apapun, bahkan kehidupan menyakitkan jinchūriki itu adalah pengalaman. Gaara bahkan memaafkan Shukaku untuk masa menyedihkan, mengklaim bahwa itu hanya karena hidup sehingga ia bisa bertemu Namikaze bersaudara.
Namun, di saat semuanya menjadi lebih baik. Di saat Gaara sudah membuka dirinya dan menjadi Kazekage yang melindungi desa dan penduduk – Akatsuki muncul dan menculik saudara mereka itu dengan maksud untuk mengambil Biju yang ada di dalam tubuh sang kage.
Sakura yang memiliki kenangan bertarung melawan Gaara mengubah pandangannya setelah menengar cerita dari Temari dan berjanji untuk menolong Gaara.
Lokasi : Konohagakure
Di sebelah timur konoha yaitu tepatnya tempat kediaman Klan Hyuga, sedang berlangsung pertemuan antara Pemimpin Klan Hyuga Lama yang berada di luar Konoha– Hyuga Toneri dan Klan Hyuga Konoha .
Segerombolan Klan Hyuga lama yang berasal dari luar desa Konoha sedang mengadakan kunjungan terhadap Klan Hyuga yang ada di Konoha karena suatu alasan.
"Tak kusangka kau akan mengadakan kunjungan secepat ini setelah Toneri-san." Ucap Hiashi yang duduk bersebrangan dengan Toneri.
"Prosesi pernikahannya akan dilaksanakan tiga bulan lagi, jadi aku memutuskan untuk melakukan kunjungan terhadap calon istriku. Karena untuk dua bulan kedepan mungkin aku tidak akan sempat melakukan kunjungan."
"Anda tidak perlu khawatir. Semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan." Jawab Hiashi berusaha menjelaskan situasi.
Di dalam ruangan itu ada beberapa orang yang mewakili Klan Hyuga yang berasal dari luar Konoha dan dari Konoha sendiri.
"Jadi, dimana calon istriku sekarang? Kenapa dia tidak ada disini?" Tanya Toneri sesudah melihat bahwa pada saat dari sampainya dia di Konoha dia sama sekali tidak ada melihat keberadaan dari calon istrinya tersebut.
"Dia sedang ada urusan dengan Hokage yang memanggilnya pagi tadi."
"…"
Sudah sekitar setahun yang lalu hal itu terjadi, pertunangan antara putri sulung sang pemimpin klan Hyuga Konoha dengan Toneri sang pewaris tunggal pengguna Byakugan dari luar Konoha.
Hiashi sendiri tidak mengetahui bagaimana awalnya sampai pertunangan itu bisa terjadi, namun satu hal yang di ingatnya pada saat itu tetua klan Hyuga Konoha bersama dengan dia menerima undangan dari Klan Hyuga luar.
Entah mengapa pada saat itu terdapat suatu dekrit yang dipercayai oleh klan Hyuga yang mengatakan bahwa harus dibangunnya suatu keluarga antara sesame Klan Hyuga yang berdiri di bawah kepemimpinan yang berbeda.
Hal ini juga sudah diturunkan secara turun temurun, namun karena klan Hyuga yang berada di luar konoha sekarang sudah hampir punah dan hanya meninggalkan beberapa orang saja dan juga karena dekrit itulah pertunangan itu didesak untuk terjalin.
Hinata adalah putri sulung dari Hiashi, dan Hiashi sebagai pemimpin dari Klan Hyuga yang ada di Konoha terpaksa untuk menjalankan dekrit itu. Hiashi sendiri tidak setuju akan hal itu, tapi tetua dari klan Hyuga Konoha mendesaknya untuk melaksanakan dekrit yang dipercaya sebagai yang berasal dari nenek moyang mereka.
Hiashi sendiri mengetahui bahwa sosok Hinata yang selama ini sangat dilindunginya itu harus terikat akan aturan dari nenek moyang mereka dan tekanan dari para tetua klan. Dia juga tahu putri sulungnya itu sudah terlebih dahulu menyukai salah satu shinobi Konoha dan pasti menolak apabila mendengarnya.
Saat mendengar hal itu, Hiashi masih sangat ingat akan respon pertama Hinata, yaitu menunjukkan ekspresi wajah kakunya yang selama ini tidak lagi dilihat oleh Hiashi. Lalu beberapa hari kemudian yang dipercaya oleh Hiashi bahwa Hinata menolak pertunangan itu dengan tidak langsung, yaitu dengan melakukan pertarungan.
Apabila pihak dari Klan Hyuga yang melamarnya harus melakukan pertarungan melawannya. Aabila dia bisa mengalahkan Hinata maka barulah pertunangan itu bisa terjalin. Hiashi tahu betul bahwa Hinata percaya akan kekuatan yang dimilikinya dan menganggap dia bisa memenangi pertarungan itu.
Sebagai sang ayah Hiashi juga mendukung usulan dari Hinata dan menyampaikan hal itu di hadapan para tetua Hyuga dengan mengatakan dia tidak mau menerima calon suami yang lebih lemah darinya. Dan tentu saja awalnya hal itu ditolak oleh para tetua, namun Hiashi yang sangat bersikeras berhasil memaksa para tetua itu untuk menurutinya.
Saat itu Hiashi sangat percaya bahwa Hinata bisa menghadapi Toneri, karena kemampuan dari Hinata sendiri sudah sangat terbukti selama bertugas di kesatuan Anbu saat usianya tiga belas tahun. Bahkan Hiashi sendiri ragu apakah Neji lebih kuat dari putrinya itu.
Di hari yang ditentukan Hinata menghadapi Toneri di tempat terbuka di sekitar lingkungan klan Hyuga yang berada di luar desa. Pertarungan itu terjadi seharian penuh dan menghancurkan sebagian dari tempat itu, dan yang keluar sebagai pemenangnya adalah Toneri.
Dan hari ini adalah kedua kalinya Toneri mengunjungi Konoha setelah kunjungan yang pertama saat bertarung dengan Hinata. Kunjungannya yang ketiga bisa jadi merupakan kunjugan dimana dia akan menikah dengan putri sulungnya itu.
x!x
Shion tersentak dari aktivitasnya membuat beberapa kertas segel yang sudah dilakukannya sudah beberapa jam di penginapannya dan dia berada di Konoha dimana dia dan Karin menginap.
"Ini…"
Batin Shion sesudah melihat bagaimana segel yang ada di tangan kanannya memudar secara berlahan-lahan, yang diketahuinya sebagai tanda yang tidak baik.
Segel itu merupakan suatu symbol dari keberadaan bawahannya yang saat ini melakukan misi bersama dengan ninja Konoha untuk menyelamatkan Kazekage.
Segel yang bersimbol pusaran air desa Uzushiogakure itu ditanamkan oleh 'Naruto' untuk menandai Uzukage yang meninngkatkan kewaspadaan dalam melakukan pengawalan.
Sudah beberapa jam hari semenjak keikutsertaan 'Naruto' menjalankan misi bersama shinobi Konoha dan selama itu juga Shion dan Karin di Konoha. Namun karena ada suatu kabar dari desa Uzu yang menyebabkan sang Kage harus segera kembali ke desa.
Tim pendukung untuk mengawal kepulangan sang Kage sudah berada di Konoha pada saat ini.
Dua Shinobi sebagai tim bantuan yang akan mengawal Shion untuk kembali ke Uzushiogakure bersama dengan Karin.
Shion dan para bahwahannya sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk keberangkatan mereka.
Dikarenakan 'Naruto' yang menjadi yang biasanya mengawal Shion sedang tidak ada, maka Tim ini pun mempersiapkan keberangkatan mereka dengan antisipasi tinggi apabila dalam perjalanan mereka nanti akan mendapatkan masalah.
Berita mengenai kepulangan mendadak Shion dan para shinobi Uzukage yang mengawalnya juga sudah diberitahukan kepada Hokage Kelima, yang pada saat mendengar itu menawarkan beberapa pengawal untuk mengawal sang kage kembali.
Tsunade tentu sudah mengetahui mengenai kabar penyerangan ninja bawahan Orochimaru yang mengincar Shion beberapa hari yang lalu saat menuju Konoha. Sehingga dia menawarkan beberapa shinobi Konoha untuk mengawal sang kage desa pusaran air. Namun, hal itu ditolak oleh Shion dan mengatakan bahwa beberapa shinobi uzushiogakure sudah datang mengawalnya.
Kage dari desa pusaran air itu berpendapat bahwa dia tidak ingin berhutang apapun dengan Konoha dan merasa bahwa dua pengawalnya yang sudah tiba untuk mengawalnya sudah lebih dari cukup.
"Naruto … apa yang terjadi?" gumam Sang Godaime Uzukage entah pada siapa sambil memasukkan menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir.
x!x
"Ne, Naori … Apa kau sudah dengar, Kazekage diculik oleh Akatsuki?" Tanya Yakumo pada Uchiha Naori yang berjalan di sebelahnya sesudah melaporkan misinya ke kantor Hokage.
"Tak kusangka mereka sampai menyerang desa Shinobi hanya dengan dua anggota saja. Aku penasaran seberapa besar kekuatan tempur mereka, melihat hanya dengan dua orang saja mereka bisa menerobos masuk dan mengalahkan Kazekage."
Mereka berdua memasuki kedai langganan yang selama ini mereka kunjungi sesudah berjalan beberapa saat dari kantor Hokage, Kedai dango. Mereka menemui beberapa orang yang dikenal betul oleh keduanya yang kebetulan juga sudah ada disana terlebih dahulu, mantan sensei Yakumo- Kurenai dengan Anko bersama dengan Asuma disana bersama dengan beberapa shinobi lainnya.
Setelah memberikan salam antara satu dengan yang lain, mereka memesan makanan dan minuman lalu duduk untuk mengistirahatkan diri, satu meja dengan Asuma dan yang lainnya.
"Apa kalian sudah dengar mengenai Kazekage yang ditangkap oleh Akatsuki?" Tanya Asuma memecah keheningan di antara mereka yang ada di satu meja itu.
"Ya, kami sudah mendengarnya." Jawab Naori singkat.
"Mereka sampai bertindak sejauh itu, menunjukkan bahwa mereka bukan Komplotan kriminal biasa." Ucap Kurenai memperpanjang alur cerita.
"Mereka sebelumnya juga sudah pernah memasuki Konoha." Ucap Yakumo setelah mengingat bagaimana Akatsuki juga berhasil memasuki Konoha tanpa terdeteksi.
"Sampai saat ini kita masih belum bisa mengetahui seberapa besar kekuatan mereka. Kuharap Tim Kakashi dan Suna berhasil menyelamatkan Kazekage." Ucap salah satu Shinobi yang ada disana yang tidak diketahui oleh Yakumo siapa namanya.
"Mereka adalah ninja buruonal dengan level S, tidak akan mudah bila berurusan dengan mereka."
"Ku harap Kazekage berhasil diselamatkan, karena hal itu akan baik untu hubungan antara Konoha dengan Suna."
Sampai dua puluh menit lamanya mereka membahas mengenai Akatsuki dan masalah penculikan yang dilakukan oleh Akatsuki terhadap Kazekage. Mengutarakan pendapatnya mengenai seberapa besar kekuatan tempur dari Akatsuki dan tujuannya menangkap para Jinchuriki.
"Apa kalian juga sudah dengar penyerangan yang dilakukan anak buah Orochimaru terhadap Uzukage yang menuju kemari?" Tanya Anko mengubah bahan pembicaraan sesudah melihat bahwa tidak ada lagi yang memulai pembicaraan.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari penyerangan itu." Ucap Seorang Shinobi menanggapi.
"Menurut kabar dia, mengirim bawahannya yang berasal dari Klan Kaguya yang pernah membantu Orochimaru membunuh Yondaime Kazekage. Namun, rencana penyerangan itu berhasil dihentikan oleh pengawal dari Uzukage." Ucap Anko berusaha menerangakan apa yang di dengarnya dari Anbu Konoha.
"Kabarnya salah satu pengawal Uzukage juga ikut membantu Tim Kakashi menjalankan misi penyelamatan Godaime Kazekage."
Lama mereka membahas satu persatu kabar yang beredar dari peristiwa yang terjadi di sepanjang beberapa hari belakangan ini.
Lokasi : Hidan vs 'Naruto'
Hidan berlari dengan kecepatan penuh mengejar sosok bertopeng kanji lima yang saat ini membawa Fuu- Jinchuriki ekor tujuh yang saat ini ada di pundaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Jarak mereka semakin lama-semakin dekat, Hidan tersenyum bengis begitu melihat jaraknya dengan sang musuh sudah berada di jangkauan lempar sabit bermata tiga miliknya.
"Cih...mau sampai kapan dia membuntutiku." Gumam sosok bertopeng lima "Aku tidak bisa membawanya sampai ke tempat persembunyian."
Kunchiyose : Bakudan Shuriken.
Setelah melakukan beberapa segel tangan, satu demi satu shuriken bermunculan dari ketiadaan dan berputar cepat ke arah Hidan.
Blar
Blar
Blar.
Ledakan beruntun itu berhasil dihindari oleh Hidan dengan sempurna dan terus melakukan pengejaran memperkecil jaraknya dengan mereka.
"Tak akan ku biarkan kalian lolos."
"Cih, keras kepala sekali." Gerutu sosok bertopeng itu melihat bagaimana Hidan masih saja mengejarnya.
Kunchiyose : Bakudan Shuriken
Kali ini jumlah shuriken yang bermunculan lebih banyak dari jumlah sebelumnya, sehingga membuat Hidan mau tidak mau harus bergerak lebih cepat dan menepis beberapa shuriken dengan melemparkan sabit bermata tiga miliknya.
Melihat serangannya masih saja bisa dihadapi oleh lawannya sosok bertopeng tersebut mempercepat gerakkannya untuk memperjauh jaraknya dengan anggota Akatsuki tersebut.
Setelah berhasil keluar dari kepulan asap akibat beberapa ledakan dari shuriken lawannya, Hidan melihat bagaimana mangasnya itu mempercepat gerakkan untuk menjauhakn diri. Tak mau membiarkan targetnya lolos begitu saja, Hidan mempercepat lompatannya di antara dahan-dahan pohon mempersempit jarak.
Clank
Bunyi antara dua metal beradu satu dengan lainnya. Hidan melemparkan sabitnya ke arah sosok bertopeng di depannya sesudah melihat musuhnya sudah berada di jarak lemparan sabit miliknya, namun serangan itu masih bisa ditepis.
"Sial." Umpat sosok bertopeng tersebut setelah berlahan topeng yang dipakainya terbelah menandakan bahwa dia tidak melakukan blok yang sempurna terhadap serangan Hidan, sehingga mengekspos wajahnya sebagai Namikaze Naruto "Maaf .. Fuu." Gumamnya.
Berlahan dia meletakkan tubuh sang Jinchuriki ekor tujuh di sisi bawah pohon karena melihat bagaimana dia tidak bisa membawa Fu ke tempat persembunyiannya sebelum dia menghabisi salah satu anggota Akatsuki yang ada di depannya.
"Aku akan mengurusnya terlebih dahulu." Bisik Naruto seakan menganggap Fuu mendengarnya.
'Naruto' memberi jarak antara mereka dan Fu untuk menghadapi Hidan. Pemuda pirang itu mengeluarkan Kunai dari kantung ninja yang ada di pinggangnya.
"Ternyata memang benar itu kau Namikaze!, Kau akan menjadi persembahan yang sempurna untuk dewa jashin." Teriak Hidan dengan mode psikopatnya .
"Apa sebenarnya tujuan kalian? Kenapa kalian menyerang kami, dasar sampah." Ucap 'Naruto' geram yang ditangapi dengan seringaian sadis oleh Hidan.
"Hahaha … Baiklah, kerena kau akan segera mati. Aku akan memberitahumu sedikit dari tujuan kami
Kami menargetkan para Jinchuriki untuk mengoleksi biju yang ada di dalam tubuh mereka untuk dijadikan senjata yang nantinya akan menghancurkan dunia yang sudah korup ini. Membawa banyak persembahan kepada jashin-sama." Jelas Hidan.
"Dan kebetulan sekali kami menemukanmu disini. Kami sudah menargetkanmu sejak lama dan hari ini kami menemukanmu disini di tempat yang sangat tidak terduga." Lanjut Shinobi berambut perak itu.
"Kau terlalu berlebihan kalau mengatakan bahwa kalian bisa mengumpulkan semua biju yang ada." Balas 'Naruto' datar.
"Khukhukhu, kau mengangap remeh kami bocah. Sampai saat ini kami sudah berhasil mengumpulkan Lima Biju." Terang Hidan sambil melangkahkan kakinya memperpendek jarak dengan 'Naruto'.
"Lagipula kami sudah tahu, kalau kau juga mengumpulkan beberapa chakra biju. Bukankah benar begitu Namikaze Naruto?"
'Naruto' yang mendengar itu berusahan tidak mengeluarkan reaksi apapun, namun sayangnya Hidan berhasil menangkap ekspresi sekilas dimana Naruto melebarkan matanya sedikit.
"Jadi memang benar kau juga mengoleksi chakra biju. Tapi, itu pasti hanya sebagian kecil saja, mengingat semua biju yang sudah berhasil kami tangkap menujukkan tidak adanya penyusutan jumlah chakra.
Dan lagi informasi yang ada pada kami mengatakan bahwa Kyuubi, Hachibi, Nibi dan satu lagi Nanabi yang ada disana masih Hidup." Ucap Hidan yang di akhir katanya mengarahkan sabitnya menunjuk ke arah Fuu.
"Tampaknya kalian sudah tahu lebih banyak dari yang kuduga. Aku tak bisa membiarkanmu keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup." Ucap 'Naruto'.
"HAH? Kau berkata begitu seakan kau bisa membunuhku, Kuso Gaki!" Geram Hidan yang langsung melaju ke arah 'Naruto'.
Trank trank
Trank
Trank
Naruto berhasil menahan beberapa serangan sabit Hidan dengan kunai miliknya dengan sempurna. Namun karena Hidan yang terus mendesaknya dan ketidakuntungan dari senjata yang dimilikinya, 'Naruto' memutuskan untuk mundur dengan capat untuk mengambil nafas.
"Heh, hanya sampai disini saja kemampuanmu, Kuso Gaki." Hina Hidan setelah melihat 'Naruto' mundur karena tidak sanggup menahan serangan membabibutanya.
Kunchiyose : Bakudan Shuriken
Puluhan shuriken dengan daya ledak kembali bermunculan dari ketiadaan dan mengarah dengan sangat cepat menuju Hidan. Serangan satu demi satu itu memaksa Hidan untuk mundur menjauhi 'Naruto'.
"Cih."
BLAR
BLAR
BLAR
Ledakan demi ledakan itu menimbulkan asap dan debu yang menutupi daerah itu secara keseluruhan. Menghalangi mata untuk memandang sekeliling. Melihat Hidan yang berhasil dibuatnya mundur dan daerah itu yang dipenuhi oleh asap dan debu yang menghalangi pandangan, 'Naruto' segra menyusun strategi.
"…"
"…"
"Yon sudah dikalahkan." Gumamnya setelah merasakan reaksi. " Apa boleh buat aku harus memanggil Ich dan San kesini, agar aku bisa membawa Fu. Aku yakin jarak kami sudah jauh, dan akan membutuhkan waktu untuk anggota akatsuki yang satunya apabila mau menyusul."
Kunchiyose no Jutsu
Boft Boft
Saat itu juga muncul sosok Ichi dan San di depan 'Naruto' dengan kondisi yang bisa dikatagorikan buruk. Keduanya sudah kehilangan topeng mereka dan mengalami luka di sekujur tubuh.
"Cih, untung saja kau memanggilku. Hampir saja shinobi jantung itu menghancurkanku seperti Yon." Ucap San entah merasa lega atau kesal.
"Kalian sebaiknya menghadapi si bodoh itu dan aku akan membawa Fu. San, kau menyamar menjadi Fu dan Ichi yang menghadapinya. Dia tidak akan sadar kalau kami sudah digantikan oleh kalian. Saat dia sibuk menghadapi Ichi, San kau harus keluar menyerang dengan dadakan." Jelas 'Naruto' yang satunya membuat strategi lalu mengangkat Fu meninggalkan tempat itu di saat Hidan masih saja menghindari serangannya.
!
Lokasi : Sasori vs Shinobi Konoha
"Cih, keadaan ini sangat tidak menguntungkanku. Aku harus menghadapi pengguna Mokuton dan Mangenkyo Sharingan dan bocah jinchuriki pengguna rantai chakra itu." Batin Sasori mengamati satu demi satu lawan yang ada di depannya.
Mito mengalami mengalami beberapa luka goresan dan lebam yang walupun sudah dengan sendirinya pulih karena kemampuan penyembuhannya, tapi masih meninggalkan bekas dan tidak pulih dengan sempurna akibat dari racun Sasori.
Selanjutnya Naruto yang berada di sebelah Mito dan yang terlihat sangat kelelahan karena dahsyatnya serangan yang diterimanya dari Sasori. Mito bergerak ke sisi Nii sannya itu berniat menyembuhkannya dari luka-luka, namun Nii-sannya itu mencegahnya melihat bagaimana kondisi Mito sendiri dalah keadaan buruk.
Sasuke dalam keadaan kondisi yang paling baik dari antara mereka bertiga karena selain tidak menghadapi Sasori dari awal dan juga pertahanan dari susano'o yang melindunginya dari serangan lawannya.
Di tempat itu tampak ratusan boneka bergeletakan dalam keadaan rusak dan tidak dapat lagi digunakan oleh anggota Akatsuki yang dijuluki Sasori si pasir merah.
"Aku berada dalam keadaan bahaya."
Semua koleksi boneka miliknya sudah dihancurkan oleh ketiga shinobi Konoha yang menjadi lawannya itu. Ditambah lagi chakra yang dimilikinya saat menghadapi mereka sudah berkurang banyak.
Setelah menimbang mengenai langkah yang akan diambil selanjutnya, akhirnya dia memutuskan untuk membuka gulungan yang menyimpan chakra biju yang dimiliki setiap anggota Akatsuki. Chakra yang sudah disesuaikan oleh pemimpin mereka agar sesuai dengan chakra mereka masing-masing.
Masing-masing anggota Akatsuki memiliki kekuatan biju, tergatung seberapa besar setiap anggota dapat menahannya dalam penggunaan.
"Ku harap kalian mempersiapkan diri kalian." Ucap Sasori singkat sebelum mengeluarkan gulungan chakra dari kantung ninja miliknya. Tak lagi mau member lawannya kesempatan, Sasori segera membuka gulungan itu, menggunakan sedikit darah yang ada di tepi mulutnya , lalu membentuk beberapa segel tangan yang langsung dihempaskan ke gulungan itu. Setelah semuanya selesai dia lalu memasukkan gulungan itu ke jantung buatan di dadanya.
Sasuke, Mito dan Naruto hanya bisa menatap dalam diam melihat bagaimana cepatnya Sasori melakukan prosesi.
"Aku merasakan sesuatu yang buruk akan datang." Batin Sasuke.
Membentuk beberapa segel yang segera menarik Boneka Kazekage Ketiga yang sudah hancur akibat hantaman tinju Susano'o Sasuke. Dengan cepat Boneka itu bersatu kembali dan dan dilapisi di beberapa tempat sehingga tampak lebih kuat.
Kondisi boneka yang tadinya sudah rusak parah itu pulih dengan sendirinya. Berbagai retakan, sayatan, dan kerusakan lainnya tertutupi dengan sendirinya dengan chakra yang menutupinya dengan lapisan seperti kulit.
Hal yang terjadi selanjutnya terjadi membuat Mito, Naruto dan Sasuke terkejut dimana saat jantung buatan Sasori melompat keluar dari tubuh bonekanya dan memasuki daerah jantung Kazekage Ketiga.
"Aku tidak akan membiarkannya begitu saja."
Sasuke yang melihat dengan matanya peneningkatan chakra secara drastis di dalam tubuh boneka kazekage ketiga yang dimasuki Sasori segera mengaktifkan Susano'o miliknya dan menembakkan tiga panah astral susano'o.
BLAARR
Merasa yakin pada serangannya mengenai sasaran karena melihat bagaimana Sasori tidak sempat menghindar maupun membentuk segel. Sasuke berjalan mendekati Sasori yang masih ada di balik debu yang menutupi tempat itu akibat dampak serangannya. Mengeluarkan katana dan berniat menghabisi Sasori dengan menghancurkan jantung sang pengguna boneka secara langsung karena sudah mengetahui bahwa pengguna kugutsu itu tidak akan kalah bila tidak menghancurkan jantungnya.
Satetsu Shigure
Saat itu Sasuke dan yang lainnya dikejutkan akan hujan pasir besi yang tadi juga sudah dikeluarkan Sasori saat boneka Kazekage Ketiga masih utuh muncul kembali, namun dengan dengan kecepatan dan jumlah yang lebih banyak.
Dengan seketika gumpalan pasir besi yang hampir menutupi daerah itu berubah menjadi duri-duri besi yang tiba-tiba muncul dan meyerang pemuda uchiha itu yang tidak sempat mengaktifkan susano'o miliknya dan hanya bisa melakukan blok dengan katananya, namun tidak terblok dengan sempurna sehingga mengores di sisi perut bagian kiri.
Sedangkan Mito dan Naruto yang bersusah payah keluar dari ombak pasir besi yang menerjangnya tidak sempat melindungi dirinya sendiri dari duri besi raksasa karena sibuk berusahan keluar dari ombak pasir besi tersebut.
Sasuke melebarkan matanya melihat bagaimana duri raksasa yang terbuat dari pasir besi itu menerjang dengan cepat ke arah gadis bersurai merah yang tanpa pertahanan itu.
"Mito!" Teriak Sasuke berusaha memberitahu teman setimnya itu akan pasir besi duri yang menerjang ke arahnya dari arah atas.
Zrashh ….
Darah bertumpahan dimana-mana memperlihatkan seperti baru terjadinya pembantaian terhadap makhluk hidup.
Gadis merah itu sadar benar akan teriakan Sasuke yang seakan member peringatan bahaya dan melihat bagaimana duri-duri besi itu menerjangnya yang masih berada dalam gulungan ombak pasir besi. Walaupun berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dirinya, namun dia tidak bisa membuat segel dank arena tubuhnya yang tiba-tiba terasa melemah karena suatu alasan.
Gelap yang tadi menghantuinya seakan masih belum berakhir sampai gadis merah itu menyadari akan tangan dingin yang menyentuh tanganya yang saat itu juga menyadari bahwa dirinya terangkat ke udara, terbang ke atas bebatuan yang tidak dilingkupi oleh pasir besi milik Sasori.
Bruk
Mito mendarat dengan buruk di atas batu itu sesaat setelah berada di udara. Seketika itu juga dia membuka matanya dan melihat tempat dimana dia tadi berada. Satu hal yang dilihatnya dan hal yang paling ditakutinya terjadi di hidupnya.
Sang kakak laki-lakinya tertembus oleh duri-duri raksasa dari berbagai arah, sehingga membuat tubuh sang kakak yang tak lain adalah Naruto bersimbah darah. Wajah pemuda kuning itu hanya tertunduk seakan menahan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
Tak sanggup mengatakan apapun, tubuh yang kaku dan seakan tidak mampu melakukan apapun. Mito melihat bagaimana Naruto kembali diterjang ombak pasir besi dan ditutupi sehingga tidak dapat dilihat lagi keberadaannya. Tubuh Naruto tenggelam oleh pasir besi yang seketika itu menghancurkan segala sesuatu yang ada di dalamnya menjadi serpihan-serpihan daging.
TIDAAAAAKKKK!
NIII-CHAAAN!
Tanpa perintah dari otak dan walau seakan system sarafnya lumpuh, Mito entah mengapa berhasil mengeluarkan suaranya berteriak sekuat tenaga memanggil nama Nii-channya itu.
Di sisi lain Sasuke yang melihat hal itu seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya di depan matanya. Melihat bagaimana Naruto dihujam oleh banyaknya duri-duri besi lalu ditenggelamkan seketika di dalamnya. Dia tahu benar bahwa tekanan yang disebabkan oleh pasir besi itu dapat meremukkan besi sekalipun.
Pemuda pengguna sharingan itu tidak sempat melakukan gerakan untuk mencegah hal yang telah terjadi di depannya karena tubuhnya yang terkena duri besi beracun tersebut. Pasir besi itu mengandung racun yang kuat, maka itu Sasuke merobek perutnya yang terkena untuk mengeluarkan racun dan hal itu mengalami luka yang lebih parah.
"Tindakan yang cepat, dia mengeluarkan racun dari bagian tubuhnya yang terluka. Kalau dia tidak melakukan hal itu dengan segera, maka detik dimana dia terkena duri itu maka dia akan langsung menemui ajalnya." Batin Sasori melihat bagaimana Sasuke mengeluarkan racun miliknya" Namun, tetap saja kau akan mati."
Sasori yang masih belum puas juga kembali membentuk puluhan duri besi raksasa dan mengarahkannya ke arah Mito yang masih shock melihat kakak laki-lakinya yang terbunuh di depan matanya.
Sasuke melihat bagaimana tubuh gadis merag itu bergetar hebat dan peluh yang bermunculan di wajahnya, wajahnya terlihat sangat ketakutan dan wajahnya yang putih terlihat menjadi sangat pucat. Tatapan matanya yang kosong tidak memancarkan adanya suatu kehidupan sama sekali.
Seakan tersadar dari pikirannya, Sasuke melihat bagaimana puluhan duri besi itu kembali menerjang Mito, memaksa dirinya mengaktifkan Susano'o miliknya lalu dengan gerakan cepat berhasil menyelamatkan gadis merah itu dari bahaya.
BLAARR
BLAARRR
BLLAARRR
"Aku tidak bisa menahan serangan ini lebih lama. Aku sudah kehabisan darah dan kesadaranku sudah mulai hilang." Batin Sasuke.
Berkali-kali Susano'o Sasuke diterjang oleh duri besi raksasa tersebut. Pemuda Uchiha itu tanpa pikir panjang membawa Mito yang masih berlutut kaku keluar dari tempat itu.
"Kalian tak akan bisa kabur. Jinchuriki tak akan kulepaskan dan mayat uchiha pasti akan terbukti sangat bernilai." Ucap Sasori mengejar Sasuke yang membawa Mito melarikan diri dari tempat itu dengan Shunsin.
Tak mau kehilangan mangsanya begitu saja, Sasori mengikuti pergerakan chakra dari Mito dan Sasuke yang bergerak cepat menjauhi tempat dimana mereka bertarung sebelumnya.
Sasuke yang membawa Mito dapat merasakan bahwa tubuh gadis merah itu bergetar hebat dan hawa dingin yang entah mengapa memancarkan hawa kematian dan keputuasaan. Sasuke berusaha keras untuk mempertahankan kesadarannya karena kondisinya yang sudah kehilangan banyak darah dan juga karena racun Sasori.
Walau berusaha keras untuk menjaga kesadarannya, namun akhirnya Sasuke tak lagi mampu sehingga dia dan Mito terhempas ke tanah.
Berlahan-lahan Sasuke mulai kehilangan kesadarannya, namun dia masih sempat mendengar suara-suara yang memanggil namanya seakan memintanya untuk bertahan.
"Sasuke-kun!" teriak Sakura khawatir melihat bagaimana kondisi pemuda uchiha itu yang tubuhnya terlihat memucat karena kehabisan darah.
Tim Kakashi dan Suna yang menemukan kedua shinobi itu tidak sadarkan diri. Sakura langsung bergerak dan menyembuhkan luka Sasuke dan menyuplai darah pemuda Uchiha itu dari cadangan darah yang dibawanya, juga penawar racun untuk mengobati pemuda itu.
Sedangkan Mito dirawat oleh nenek Chiyo yang juga merupakan ninja medis. Ninja medis dari Suna itu segera menyadari adanya tanda-tanda traumatis dan ketegangan setelah melakukan pemeriksaan singkat terhadap Mito.
"Chiyo-san apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Sasuke yang mengejutkan semua orang akan kesadarannya. Nenek Chiyo hanya bisa mengangguk mengiyakan pemuda uchiha itu karena masih memfokuskan dirinya untuk merawat Mito.
"Ada seseorang yang datang!" Peringat Pakun pada semua shinobi yang ada di sana setelah mencium akan adanya bau seseorang yang mendekat.
Tap Tap
Sasori muncul di depang shinobi sunagakure dan konohagakure dan melihat ternyata mangsa yang diburunya sudah mendapatkan bantuan.
Lokasi : Kakuzu dan Hidan
"Tak kusangka aku akan mati seperti ini." Ucap Kakuzu melihat bagaimana semua monster jantungnya sudah dihancurkan dan dia saat ini sedang dalam keadaan tidak bisa bergerak sedikitpun.
Kondisi tubunya yang saat ini bergeletak di tanah dengan batang-batang kayu seperti tongkat tertancap di sekujur tubuhnya. Juga kedua tangannya yang terjulur ke depan dengan kedua telapaknya yang ditembus oleh batang kayu yang menyerupai tongkat itu.
Daerah di sekitar Kakuzu terlihat seakan musnah akibat suatu bencana terjadi disana, walau sebenarnya hanya terjadi pertarungan antara dua shinobi.
"Aku tak menyangka akan kalah oleh seorang bocah." Ucap Kakuzu lagi bagaimana dia sudah mengetahui bahwa dia tidak akan bisa lolos dari situasi seperti yang dihadapinya sekarang. Dimana tubuhnya tidak dapat bergerak karena tongkat-tongkat kayu yang tertancap di tubuhnya menghisap chakra miliknya dan membatasi semua usahanya untuk bergerak.
"Sudah sampai sejauh ini bisa memasuki daerah persembunyianku, kalian memang tidak bisa dianggap remeh." Ucap seorang pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Namikaze Naruto.
"Heh, setidaknya aku dibunuh olehmu secara langsung dan bukan tubuh palsumu." Ucap Kakuzu.
Naruto menatap kosong anggota Akatsuki yang berada di depannya, lalu menundukkan tubuhnya meraih kepala Kakuzu dan menarik dengan tangan kirinya seakan tanpa hambatan sehingga seketika itu juga membunuh zombie dari Akatsuki itu.
Tidak berhenti sampai disana, Naruto juga menyegel tubuh Kakuzu ke dalam pedang Sakegari miliknya seperti yang telah dilakukannya terlebih dahulu terhadap Hidan.
"Tak kusangka mereka memilki chakra biju dalam tubuh mereka." Batin Naruto setelah berhasil menguras semua chakra itu.
Bukan hanya menerima informasi dari'Naruto' yang lain, namun juga dia melihat sendiri setelah bertarung dengan Kakuzu dan Hidan. Dan nyaris saja dia mengalami bahaya saat menghadapi Hidan karena ketidaktahuan, namun berkat tiruannya yang terlebih dahulu berhasil dibunuh Hidan membuat Naruto segera sadar akan kemampuan berbahaya zombie pengguna sabit bermata tiga itu.
Dengan ini ketujuh tubuh atau Kagebunshin Khusus miliknya yang dialiri oleh pancaran chakra biju sudah dimusnahkan, sesaat ketepatan akan kebangkitannya.
Naruto mendekati tempat dimana Fuu terbaring lalu menaikkannya di pundaknya lalu segera menghilang dari tempat itu.
Unknown Place : Naruto Hideout
Setelah meletakkan Fuu ke tempat pembaringan, Naruto berjalan menuju patung raksasa yang berada beberapa meter dari sana. Membuat beberapa segel lalu menempelkan tangannya ke patung itu untuk mengirimkan chakra dua biju yang tersisa yang belum bisa di dapat, namun berkat Sasori, Deidara, Hidan, dan Kakuzu sehingga sekarang bagian kecil dari kesembilan chakra biju berhasil di dapatnya.
naruto melangkahkan kakinya meningalkan ruang dimana patung raksasa itu berada dan menuju ke ruangan lain, yaitu ruang perlengkapan senjata ninja miliknya.
"dengan ini semua perlengkapan akan lengkap menghadapi pemilik sebelas Mangenkyou Sharingan dan Mokuton. Berikutnya, aku akan menuju Konoha." Ucap pemuda pirang itu entah pada siapa.
"Dengan ini semua persiapan selesai."
жЖж
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.
a.n
Hmm,
Entah lah saya tidak mengetahui darimana saya memiliki niat atau semangat saat menulis cerita ini lagi. Walau saya sendiri bingung karena saat ini saya berada di tengah-tengah pengerjaan skripsi, namun masih sempat-sempatnya memikirkan hal lain. (Mungkin ini cara saya menghilangkan tekanan).
Atau mungkin, saya ingin memberikan hadiah Natal dan tahun baru bagi para reader?
Yup, akhirnya saya melanjutkan fanfic ini, walau sedikit agak meragukan apakah jalan ceritanya masih menarik atau tidak. Tapi, saya sudah berusaha … :v
Dari sini saya mengucapkan selamat Natal 25-26 Desember dan Tahun Baru 2016. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi
