Under The Sky [Ch. 3]
AU, Adventure, Family,
Rated T
Warn : Typos, OOC, No Pair
Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.
Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona
Just for Fun!
.
.
Gempa dan Ochobot menatap datar pemuda tambun dalam jeratan jaring itu. Pemuda tambun berkulit gelap itu balas menatap mereka dengan mata memohon.
"Ochobot, kita salah jalan. Ayo kembali." Ucap Gempa.
"Ayo." Sahut Ochobot.
"Hey! Tunggu! Minimal tolongin aku dulu kek!" seru pemuda itu tidak terima.
Gempa dan Ochobot menoleh, "Tsk."
"Apa-apaan?" tanya pemuda itu.
"Hah, siapa kau?" tanya Gempa.
"Turunin dulu aku! Baru aku kasih tau!" serunya.
"Tidak ah, aku juga tidak butuh namamu," Gempa lalu berbalik, "Aku harus cepat agar sampai ke kota." Lanjutnya.
"Kota? Kau bilang desa begitu kota? Apa kau ini pengembara? Aku bisa menunjukkan jalan tercepat pada mu!" seru pemuda itu setelah mendengar ucapannya, membuat Gempa berbalik.
"Benarkah?" tanya Gempa.
"Yaa… kalau kau menurunkan aku dari sini." Jawab pemuda tambun itu.
"Kau gendut, aneh sekali jaring itu bisa menahanmu." Cela Ochobot dan langsung mendapat teriakan tidak terima.
Gempa melompat dan naik keatas pohon, ia berdiri di dahan yang cukup besar lalu mengambil pedang pendeknya dan segera menebas ikatan jaring itu.
Suara debaman keras disusul teriakan kesakitan terdengar kemudian, dan Gempa mendarat dengan mulus dari atas pohon.
"Aduuhh… sakit." Ucap pemuda itu.
"Kau tidak apa?" tanya Gempa.
"Kau tidak melihat apa? Kalau mau memotong jaringnya itu bilang bilang dulu!" seru pemuda itu.
"Siapa namamu?" tanya Ochobot.
"Oh, kenalkan," jawab pemuda itu sambil memasang pose sok keren, "namaku….. Gopal." Lanjutnya.
Gempa dan Ochobot menatapnya dengan tatapan datar, "Ochobot ayo jalan lagi." ucap Gempa.
"Ayo." Sahut Ochobot.
"Hoi tungguu akuu…!"
.
.
"Oh jadi namamu Gempa, salam kenal." Ucap Gopal.
"Salam kenal juga." Balas Gempa.
"Untuk apa kau pergi ke desa?" tanya Gopal.
"Mencari seseorang?" tanya Gopal.
Gempa mengangguk, mereka terus berjalan.
"Oh, ya. Aku pikir saat melihat wajahmu dari dekat, rasanya familiar. Pernah ketemu dimana ya?"
Gempa menghentikan langkahnya, "Benarkah?" tanyanya.
"Entahlah, aku lupa." Ucap Gopal.
Ochobot menatap mereka dalam diam, tak berniat untuk masuk dalam percakapan keduanya. Hingga seseorang mendekapnya dari belakang dan mengukungnya dengan lengan orang itu.
Ochobot melirik kebelakangnya, terkejut saat mendapati banyaknya para bandit disekitar mereka.
"GEMP—HMMPH!" mulut Ochobot di bekap oleh orang di belakangnya.
Gempa menoleh, "Ochobot!" teriaknya.
Ochobot menatapnya, Gempa terkesiap saat melihat banyaknya bandit-bandit di sekitar mereka. Gopal segera bersembunyi karena takut.
"Hahaha!" salah satu bandit yang menyandera Ochobot tertawa.
"Lepaskan dia!" seru Gempa.
"Tidak bisa, sebelum kalian menyerahkan seluruh harta benda kalian." Ucap bandit itu.
Gempa diam, ia lalu melepaskan tasnya dan melempar tasnya di hadapan bandit itu.
Ochobot berhasil membuka bekapan di mulutnya, "Gempa! Apa yang kau—"
"Hah? memangnya kenapa? Tas ku juga tidak ada barang yang penting, aku juga tidak punya uang—" balas Gempa.
"Nak, lepaskan pisau yang kau pegang itu!" seru bandit saat melihat Gempa menggenggam sebuah pisau dari balik punggungnya.
Ochobot dan Gempa saling menatap, ada suatu percakapan diantara mereka.
"Wah, hebat. Paman bisa melihatnya," ucap Gempa, "baiklah, akan aku lepaskan—" lanjutnya dan melempar pisau dalam genggamannya.
Pisau itu terbang dan melewati sisi kanan kepala bandit itu dan memotong sedikit rambutnya dan menggores telinganya.
"Apa yang kau lakukan, hah?!"
"Kau menyuruhku untuk melepaskannya." jawab Gempa kalem.
"Sialan! Kalian cepat bunuh anak itu!"serunya pada teman-temannya.
Para bandit itu segera berlari kearah Gempa sambil membawa alat-alat tajam di tangan mereka. Bandit yang menyandera Ochobot tertawa keras, saat melihat Gempa terdiam di tempatnya.
"Gempa!" seru Gopal cemas.
Tawa keras si bandit berhenti saat melihat teman-temannya ambruk satu persatu. Ia menatap bingung, dan mendapati Gempa tersenyum lebar padanya, di tangannya ia memegang pedang pendeknya yang sedikit berlumuran darah.
"Tenang saja, aku tidak membunuh mereka kok." Ucap Gempa.
"A—Apa yang kau lakukan? Jangan mendekat! Atau aku akan membunuh anak ini!" serunya panik, ia mengeluarkan pisau dan menaruhnya di dekat leher Ochobot.
Gempa melangkah beberapa kali dan terdiam. Ia tak mau sesuatu terjadi pada Ochobot. Bandit itu terkekeh, kali ini ia merasa menemukan kemenangan.
Ochobot mencoba menghindari pisau di hadapan lehernya, ia memegang tangan bandit itu dan berusaha menjauhkan tangan itu darinya.
"Jangan memberontak!" teriak si bandit padanya.
Ochobot menatapnya kesal, setelah sedikit menjauhkan pisau dari lehernya, ia menjedukkan kepalanya pada kepala bandit itu, suara keras terdengar, dan si bandit memekik kesakitan. Kesempatan itu Ochobot gunakan untuk melepaskan pisau yang ada di genggaman bandit itu dan melemparkannya.
Si bandit yang tidak terima dan mulai melancarkan tinju padanya, namun Ochobot dengan cepat menhindar, lalu menangkap salah satu tangan bandit itu dan menjegal salah satu kakinya, dan membanting bandit itu.
"Whuu!" Gempa bersiul, si bandit tak sadarkan diri.
Gopal keluar dari persembunyiannya dan bertepuk tangan.
"Ochobooot! Terbaik!" seru Gempa.
Ochobot tersenyum malu, "Uhm… thanks."
Lalu Gempa mengambil tasnya, "Ayo jalan lagi."
Ochobot mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Gempa.
"Hei kalian mau kemana?" tanya Gopal, membuat keduanya menoleh.
"Apa?"
"Lewat sini lah," ucap Gopal pada keduanya.
"Oh, ya. Aku lupa kalau kau ada." Ucap Gempa.
"Jahat amat."
Ketiganya berjalan, "Mau kemana nih?" tanya Gempa.
"Pergi menuju kendaraan ku." Jawab Gopal.
"Kendaraan?" tanya Ochobot.
"Ya, sebelumnya aku membawa gerobak aku harus memetik buah di suruh ayahku—" jawab Gopal.
"Apa kau menarik gerobak itu?" tanya Gempa, matanya berbinar.
"—aah! Aku lupa memetiknya!" seru Gopal, "tidak. Aku tidak menariknya! Kau berpikir untuk naik gerobak sedang aku menariknya, begitu kan?" tanya Gopal.
"Kau membaca pikiranku!" seru Gempa, dengan senyum manis di wajahnya, berbarengan dengan Ochobot yang tertawa senang.
"Cih, tapi aku harus memetik buah dulu, tunggu sebentar ya." Ucap Gopal.
Keduanya mengangguk, "Tapi ini sudah mau malam lho, gimana kalau istirahat dulu?" tanya Ochobot.
Gempa mengangguk, "Ya, sekalian kita menunggu Gopal memetik buah, kita istirahat." Ucapnya.
"Gak sekalian saja besok kita berangkat?" tanya Ochobot.
Gempa mengerjap, "Apakah masih jauh?" tanya Gempa balik.
"Ntahlah."
"Hey. Gopal, dari sini sampai kota berapa jam?" tanya Gempa.
"Semalam sampai kok!"
Mereka sampai di depan sebuah gerobak, dengan sebuah kuda didepannya.
"Uwooooo…." Koar Gempa dan Ochobot, "aku pikir, kasihan sekali kudanya, jika kau penunggangnya." Lanjut Gempa.
"Heh! Aku gak nunggangi dia, aku duduk disini!" seru Gopal sambil menunjukkan sebuah tempat di depan gerobak dan belakang kuda.
"Oh, oke. Oke. Sori." Ucap Gempa.
Gopal lalu mengeluarkan beberapa karung dari gerobak, "Sudah ya, aku metik buah dulu!" ucap Gopal dan pergi.
"Daaahhh~"
Sepergian Gopal, keduanya duduk diatas rerumputan, "Kita berangkatnya besok saja." Ucap Gempa.
Ochobot mengangguk, "Lalu… makan apa kita malam ini?" tanya Ochobot.
"Enaknya apa yaa…" jawab Gempa, lalu melihat sekelilingnya, ia mendapati banyak sekali belalang, "Belalang! Kau bisa memasaknya?" tanya Gempa.
"Hmm… kurasa, akan kucoba." Jawab Ochobot.
"Yosh! Kalau gitu aku akan mengambilnya! Kau punya plastik?" ucap Gempa.
"Oh ya, tunggu." Ochobot membuka tasnya dan mengambil sebuah kantong plastik dan memberikannya pada Gempa.
Gempa pun lalu dengan gembira menangkap belalang. Ochobot tersenyum, lalu berdiri. Ia mengambil beberapa ranting pohon yang berjatuhan, satu per satu hingga banyak berada di tangannya. Matanya terhenti saat melihat tumbuhan jamur. Ia pun mendekatinya, mengeceknya untuk mengetahui apakah beracun atau tidak dan tersenyum senang untuk berikutnya.
.
.
.
"Sup jamur?" tanya Gopal.
"Yap. Aku menemukan jamur ini tadi." ucap Ochobot, sambil menuangkan sup pada mangkok.
"Ini tidak beracun kan?" tanya Gopal, matanya memicing.
"Tidak kok, aku sering memakan ini waktu dirumah." Jawab Ochobot, Gempa juga mengangguk.
Dengan was-was Gopal mencoba sup itu, lalu wajahnya berbinar berikutnya, "Enaakk…!" serunya.
"Enak kan? Ochobot itu koki yang handal, bukan?" timpal Gempa.
Gopal mengangguk cepat, "Ini mantap Ochobot!" ucapnya di sela makannya.
Ochobot tersipu, "Thanks."
Ketiganya lalu memakan makan malam mereka hingga habis.
"Makasih untuk makan malamnya," ucap Gopal.
"Tidak apa, Gopal." Balas Ochobot.
"Nah! Mari kita tidur!" seru Gempa.
"Eh, cepat amat!" seru Gopal.
"Aku capek banget, pengen tidur." Ucap Gempa, ia mengeluarkan kasur gulungnya.
"Jangan tidur dulu, sebelum makan, Gempa." Sahut Ochobot.
"Oh, baiklah. Aku tidak akan tidur dulu." Ucap Gempa, tapi ia menggelar kasurnya diatas rerumputan.
"Kalian tidur di luar?" tanya Gopal.
"Yup, kenapa?" tanya Gempa dan Ochobot bareng.
"Tidak takut?" tanya Gopal.
"Memangnya ada apaan?" tanya Gempa.
"Yaa… misalnya serangga, hewan melata..atau ada ular gimana?" tanya Gopal.
"Tinggal di taburi garam sih," ucap Gempa, lalu menabur garam disekitar kasurnya.
"Hoo…gitu.." ucap Gopal.
Gempa merengganggkan tubuhnya yang sedikit pegal, "Nah, sudah." Ucapnya, lalu masuk dalam kasur dan tertidur dengan cepat.
"Cepatnya!" seru Gopal saat mendengar dengkuran dari Gempa.
Ochobot tertawa, "Biasanya kalau dia lelah setengah mati dia akan tertidur dengan cepat," ucapnya sambil mengambil kasur gulungnya dan menggelarnya tepat disebelah Gempa lalu menabur garam disekitarnya.
"Aku juga, selamat malam, Gopal." Ucap Ochobot sambil masuk ke dalam kasurnya dan tertidur.
"Hee?! Ya sudahlah, aku juga tidur." Ucap Gopal dan masuk kedalam gerobaknya.
.
.
.
"Haaaah…. Pagi yang sejuk…" ucap Gempa, senan, ia merenggangkan tubuhnya dan menhirup udara pagi dalam-dalam.
Ochobot dengan wajah mengantuk, menggulung kasurnya, "Dingin," keluhnya.
"Sejuk, Ochobot." Sahut Gempa.
"Terserahlah," balas Ochobot.
"Hei, cepatlah naik." Gopal menggerutu diatas tempat duduknya, tangannya sudah memegang tali kekang kuda.
"Oh, oke." Gempa dan Ochobot pun segera naik ke gerobak, dan kuda pun berjalan setelah Gopal menggoyangkan tali kekangnya.
Gempa tersenyum lebar, ia ditatapnya langit diatas mereka, ia merasa tak sabar untuk bertemu dengan salah satu saudaranya.
"Hey, Gopal." Panggil Gempa.
"Apa?" tanya Gopal.
"Waktu itu kau bilang, kau familiar melihatku, apa kau pernah melihat orang yang wajahnya mirip dengan ku?" tanya Gempa.
"Hmm… sebentar! Ah ya! Aku pernah melihatnya, pantas saja rasanya tidak asing. Ia cukup terkenal di desa karena mengalahkan perampok beberapa bulan lalu." Jawab Gopal.
"Siapa dia?" tanya Gempa, tampak tertarik.
"Hm… aku tidak begitu tahu." Jawab Gopal.
"Dimana dia? Tinggal dimana?" tanya Gempa.
"Aku pikir ia tinggal di sebuah rumah yang memiliki dojo terbesar di desa, Dojo keluarga Nishimura." Jawab Gopal, setelah mengingat-ingat.
"Dojo? Apa itu?" tanya Ochobot.
"Dojo itu seperti tempat untuk latihan berpedang." Jawab Gopal.
"Antarkan kami kesana Gopal!" seru Gempa.
"Hah? tapi tunggu aku menyerahkan buah-buahan itu ke ayahku dulu!" balas Gopal.
.
.
.
Gempa dan Ochobot menatap takjub dengan bangunan didepannya, bangunan itu di kelilingi oleh tembok, dan diberi gerbang yang besar. Disamping pintu terdapat tulisan 'Dojo Nishimura'. Ia bisa melihat beberapa orang tengah berlatih pedang di salah satu ruangan.
"Err.. Gopal?"
"Apa?"
"Apa kita tak apa masuk kesini?" tanya Gempa.
"Tidak apa. Ada juga beberapa orang yang datang hanya untuk menonton kok." Jawab Gopal.
"Ohh… gitu," ucap Gempa.
"Sudah ya. Aku hanya bisa ngantar sampai sini! Sampai jumpa!" teriak Gopal dan pergi.
"Yaa! Terimakasih!"
.
.
Gempa dan Ochobot celingukan, terpana melihat isi wilayah itu. Gempa terlihat bersemangat, dan jantungnya berdegup tak karuan, dicarinya seseorang yang kemungkinan memiliki wajah yang sama dengannya.
"Dimana? Dimana?" tanya Gempa.
"Tenang, Gempa, nanti juga ketemu." Ucap Ochobot.
Gempa menarik napas panjang dan menghembuskannya, ia tersenyum lebar. Keduanya lalu melihat sekelompok anak-anak yang berlatih pedang.
"Mereka lucu," bisik Ochobot.
Gempa mengangguk, disaat itu pula ia mendengar suara pintu yang digeser dibelakangnya. Ia menoleh, mendapati seorang pemuda yang terlihat seusianya keluar dari sebuah ruangan sambil mengelap wajahnya dengan sebuah handuk.
Gempa terus menatap pemuda itu hingga pemuda itu menurunkan handuknya untuk mengelap bagian leher yang basah oleh peluh, kedua mata mereka saling menatap.
Gempa membulatkan matanya, wajah pemuda itu mirip dengannya. Pemuda itu tampak risih dilihatin begitu.
"Apa lihat-lihat?" tanya pemuda itu ketus dan turun dari teras.
(note : biasanya rumah jepang dan dojo itu lantainya tinggi)
Mata gempa berkaca-kaca, ia mencoba untuk menahan bulir air matanya yang bisa saja tumpah begitu saja, rasa rindunya membuncah kuat.
"S-s-s-s—siapa namamu?" tanya Gempa gagap.
"Aku? Namaku Boboiboy Halilintar." Jawabnya.
"Boboiboy Halilintar? Benarkah?" tanya Gempa.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanyanya.
"Ha..haha.." Gempa tertawa lirih, pemuda di depannya bingung dan terkejut kemudian, saat melihat Gempa menangis dan memeluknya.
"Hey!" serunya tidak terima.
"S—syukurlah, aku menemukanmu…" ucap Gempa, membuat Halilintar terdiam.
"Apa?" tanya Halilintar.
"Ini aku kak Hali! Gempa!" seru Gempa sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
Halilintar membulatkan matanya, dan menatap Gempa dari ujung kaki sampai unjung rambut. Tangannya gemetar dan memegang bahu sang adik.
"K—kau benar-benar Gempa?" tanyanya.
Gempa mengangguk kuat, Halilintar terdiam sebentar dan menatapnya.
"Pa—padahal kukira kau sudah mati waktu itu…" ucap Halilintar.
"Bibi Mira menyelamatkanku." Sahut Gempa.
"Bibi Mira?" tanya Halilintar bingung, "ah, sudahlah. Gempa, aku senang sekali melihatmu. Syukurlah kau masih hidup.." lanjutnya.
Gempa terkekeh, "Apa kabarmu, kak?" tanyanya.
"Baik, kau?" tanya Halilintar.
"Aku baik." Jawab Gempa.
"Hm.. tunggu, kau.. kenapa bisa tahu aku disini?" tanya Halilintar.
"Aku berencana mencari kalian semua, dan mendapat banyak bantuan, ah iya," Gempa menarik Ochobot kesampingnya, "Dia Ochobot..." Ucapnya.
"Sa-salam kenal.." ucap Ochobot, ia sangat kaget melihat kemiripan dua saudara di hadapannya.
Halilintar mengangguk, "Salam kenal."
Gempa tersenyum, hingga seseorang pria menyapa Halilintar.
"Halilintar."
Halilintar menoleh, "Sensei.."
Pria yang dipanggil 'sensei' itu tersenyum, "Siapa yang datang? Tumben sekali kau mau berbicara dengan pengunjung yang datang ke sini," ia melihat kearah Ochobot lalu ke Gempa, "oh, astaga.. suatu kehormatan, anda datang kemari tuan muda Gempa.." ucapnya begitu mengenali Gempa.
Gempa tertegun, "A-anda mengenal saya?" tanya Gempa.
"Tentu saja, Mirajane terkadang berkirim pesan dengan saya. Ngomong-ngomong, perkenalkan, saya Nishimura Kiyoshi." Ucapnya kemudian.
Gempa mengangguk cepat, "Eh.. em.. tolong tidak usah sesopan itu padaku.. anda lebih tua dari saya, dan… saya bukanlah tuan muda.." ucapnya tergagap.
Kiyoshi terseyum, "Saya mengerti. Apa kabar Mirajane? Apa dia sehat?" tanyanya kemudian.
Gempa tersenyum lebar, "Bibi Mira itu selalu sehat, dia monster soalnya." Jawabnya terkekeh.
Kiyoshi tertawa.
"Kalau bibi Mira mendengarmu, dia akan mengamuk." Ucap Ochobot.
"Tenang saja dia tidak ada disini," Gempa terkikik, lalu mengenalkan Ochobot pada Kiyoshi, "ini Ochobot, keponakannya bibi Mira."
"Salam kenal," ucap Ochobot sambil menundukkan kepalanya.
"Salam kenal juga, oh ya, Halilintar. Ajak mereka ke ruang tamu, aku akan membuatkan teh untuk kalian semua." Ucapnya pada Halilintar dan pergi.
Halilintar mengangguk, "Ayo."
Gempa dan Ochobot mengangguk. Mereka lalu mengikuti Halilintar menuju sebuah ruangan yang berada beberapa meter dari tempat mereka berdiri tadi.
"Oh ya, Kak Hali.." panggil Gempa.
"Hmm?"
"Ikutlah dengan ku! Kita pergi mencari saudara kita yang lain!" seru Gempa.
Halilintar terdiam lama sekali, "Aku tidak bisa." Jawabnya kemudian.
"Kenapa?" tanya Gempa bingung.
Halilintar tidak menjawab, dan ia membuka pintu geser dihadapanya.
"Masuk dan duduklah, tunggu saja Kiyoshi-sensei. Aku harus latihan lagi." ucapnya kemudian dan pergi meninggalkan keduanya.
Gempa dan Ochobot saling pandang.
.
.
TBC~
Saya kembali dengan membawa ch 3. Untuk yang ngarep Taufan atau Air yang duluan muncul maaf ya, yang mucul duluan si Halilin. Yah, ntar untuk kedepannya mereka juga bakal muncul kok tenang saja. (btw, saya juga pengen banget untuk cepat-cepat munculin Taufan, tapi saya harus menuntaskan masalah Hali dulu, dan memikirkan untuk bagian kosong di tengah-tengah cerita itu susah sekali, suwer)
Oke, buat yang uda baca dan review kemarin makasih. Yang baca chappie ini juga makasih, jangan lupa nyempetin review ya! (y) (y) (y) pertanyaan, koment, kritik saya terima!
Adios!
