Under The Sky [Ch. 4]
AU, Adventure, Family,
Rated T
Warn : Typos, OOC, No Pair
Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.
Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona
Just for Fun!
.
.
Gempa menunduk, Ochobot menatapnya khawatir.
"Gempa, tidak usah sedih, kita bisa mengajaknya di lain waktu…" ucap Ochobot lirih.
Gempa mengangguk kecil.
"Aku pikir dia punya masalah yang belum ia selesaikan disini." Lanjut Ochobot.
Gempa mengangguk.
"Aku ingin mandi." Lanjut Ochobot lagi.
Gempa menjedukkan kepalanya pada meja dihadapan mereka, "Ochobot!"
"Apa? Memangnya salah? Haduh! Tubuhku rasanya gataaall.." keluh Ochobot.
Gempa menghela napas, saat itu pula Kiyoshi membuka pintu geser dan masuk kedalam ruangan, ditangannya ia memegang nampan yang berisi empat gelas teh dan sepiring mochi.
"Lho? Kemana Halilintar?" tanya Kiyoshi.
"Ah, dia pergi mau latihan lagi katanya." Jawab Ochobot.
"Oh, begitu. Anak itu memang benar-benar…" sahut Kiyoshi, dan menaruh isi nampan di atas meja, "nah, ayo di minum tehnya, di makan mochinya." Lanjutnya.
Gempa mengangguk dan mengambil segelas teh dari meja, dan meminumnya pelan-pelan.
"Apakah ini teh hijau?" tanya Ochobot.
"Ya," jawab Kiyoshi.
"Baunya harum sekali.." ucap Ochobot, sambil menhirup wangi teh di hadapannya.
Ruangan terasa hening kemudian.
"Apa kau mengajaknya untuk pergi bersama mu, nak?" tanya Kiyoshi.
Gempa mendongak, lalu menunduk, "Ah iya."
"Apa dia menolaknya?" tanya Kiyoshi.
Gempa mengangguk, Kiyoshi tertawa.
"Kau harus terus mengusahakannya." Ucap Kiyoshi kemudian.
Gempa mengangguk lagi, "Apa paman ingin dia pergi dari sini?" tanya Gempa kemudian.
Kiyoshi menggeleng kecil, "Tidak juga, tapi.. jika dia ikut denganmu, kuharap dia bisa menikmati hidupnya lebih lagi." jawab Kiyoshi.
"Kenapa?" tanya Gempa.
"Dia itu terlalu fokus dengan satu hal, menjadi kuat, tapi dia mengabaikan hal yang lain, aku bahkan tidak pernah melihatnya senyum secara tulus dalam hatinya walaupun sekali saja." Jawab Kiyoshi.
Gempa terdiam mendengarnya.
"Apa kalian mau menginap disini dulu?" tanya Kiyoshi.
"Apakah boleh?" tanya Ochobot.
Kiyoshi mengangguk lalu berdiri, "Baiklah, ayo saya antarkan menuju ruangan kalian."
"Terimakasih Paman."
.
.
.
"Segarnya…" ucap Ochobot riang setelah mereka keluar dari kamar mandi dengan memakai yukata.
Gempa tersenyum, "Aku bahkan baru kali ini mandi air panas," timpalnya.
"Aku juga sih, dan rasa letihku seperti hilang seketika." Balas Ochobot.
Keduanya berjalan melintasi koridor dan sesekali mengangguk hormat pada beberapa orang yang lewat.
"Apa kau mau balik ke ruangan?" tanya Ochobot.
"Hmm…" Gempa terdiam sebentar, "tidak, aku ingin mencari Halilintar." Ucapnya kemudian.
"Oh, yasudah. Bye.."
Ochobot berbelok sedangkan Gempa berjalan lurus. Melihat kesana-kemari mencari sosok Kakaknya. Dan akhirnya ia menemukan sang kakak sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman rumah itu. Gempa segera berjalan menuju Halilintar dan berniat untuk menyapanya namun di urungkannya karena melihat kakaknya tengah tertidur dalam kondisi duduk.
Gempa menggaruk dagunya yang tak gatal dan diam-diam duduk disampingnya. Gempa menghela napas, terdiam tak tahu harus melakukan apa. Hingga ia mendengar dengkuran Halilintar terhenti dan merasakan bahunya berat, dia menoleh dan mendapati kakaknya terbangun dari tidurnya.
"Keberadaanmu membuatku bangun." Ucap Halilintar, lalu menguap.
Gempa tertawa kecil, "Sori."
"Tidak apa." Ucap Halilintar.
Hening, keduanya sibuk dengan pikiran satu sama lain.
"Boleh aku tahu?" tanya Gempa, Halilintar menoleh, "Jika aku mengajakmu bersamaku, apa kau mau?" tanya Gempa.
Halilintar terdiam sejenak dan mengangguk.
Gempa tersenyum kecil, "Kau mau, tapi tidak bisa." Ucapnya.
Halilintar mengangguk.
"Kenapa?" tanya Gempa.
Halilintar menegakkan punggungnya, "Aku pernah bersumpah aku akan pergi dari tempat ini jika aku mengalahkannya dan dia mengakuiku." Jawabnya.
Gempa menaikkan sebelah alisnya, "Dia?"
"Kiyoshi-sensei," Jawab Halilintar.
Gempa menatapnya tak mengerti.
"Cita-citaku ingin menjadi samurai terkuat melebihi dia, melebihi samurai terkuat yang lain, dan aku bisa melindungi orang yang aku sayangi." Lanjut Halilintar.
Gempa terpana mendengarnya, "Wow."
Keduanya terdiam lagi, lama sekali hingga Halilintar berdiri dan berniat pergi.
"Tunggu." Ucap Gempa.
"Apa?"
"Ka—kalau aku menunggu di sini hingga kau mengalahkannya, bagaimana?" tanya Gempa.
"Terserah," jawab Halilintar dan pergi.
Gempa menghembuskan napasnya.
.
.
=Coffey Milk=
Gempa dan Ochobot terpaku menatap beberapa orang yang sedang latihan dengan pedang kayu dalam sebuah dojo.
"Sepertinya menyenangkan, aku ingin mencobanya." ucap Gempa.
"Coba saja." Balas Ochobot, tersenyum.
"Ingin sih, tapi kalau aku mengganggu bagaimana?" tanya Gempa.
"Ntahlah?" Ochobot mengendikkan bahu.
Gempa berdiri, tapi ia bingung harus melakukan apa. Dan Kiyoshi menghampirinya.
"Kau terlihat tertarik, ingin mencobanya?" tanya Kiyoshi.
Gempa mengangguk.
Kiyoshi tersenyum dan mengambil satu pedang kayu dari rak pedang dan memberikannya pada Gempa.
"Apa kau pernah memegang pedang sebelumnya?" tanya Kiyoshi.
"Ya, aku pengguna pedang pendek." Jawab Gempa.
"Begitu, kalau begitu mengajarmu akan lebih mudah. Pakailah baju pengaman dulu." Ucap Kiyoshi.
"Baik." Sahut Gempa.
.
.
"Hyah!" Gempa mengayunkan pedang kayunya lalu berhenti.
Ochobot menatapnya dan bertepuk tangan, "Capek?" tanyanya.
Gempa tersenyum lebar dan mengusap peluh, "Yah, ini cukup melelahkan. Tapi latihan begini jadi mengingatkanku pada bibi Mira." Jawabnya.
"Oh ya, bibi Mira pernah mengajarimu memakai pedang," sahut Ochobot, "aku masih ingat saat kau babak belur waktu itu." Lanjutnya.
Gempa tertawa dan menaruh pedang kayunya di rak, lalu melepaskan baju pengaman.
"Sudah?" tanya Ochobot.
"Yap," jawab Gempa.
Keduanya lalu berjalan keluar dari dojo, sambil bergurau keduanya melintasi koridor. Dan keduanya terhenti saat melihat Halilintar berdiri di halaman sambil melakukan sikap kuda-kuda, disekelilingnya terdapat beberapa tonggak-tonggak kayu yang dilapisi oleh jerami, dan beberapa detik kemudian, Halilintar mulai berkonsentrasi lalu mencabut pedangnya dan mengayunkannya dengan cepat. Membuat tonggak itu terbelah menjadi beberapa bagian, ia lalu mengayunkannya lagi dan tonggak-tonggak kayu itu terbelah menjadi beberapa bagian lagi. Halilintar segera menyarungkan pedangnya lagi.
"Wuaahh… keren." Desis Ochobot saat melihatnya, "kau lihat tadi, Gempa?" tanyanya.
"Gempa?" Ochobot bingung saat melihat Gempa malah berjalan ke arah Halilintar.
.
.
Halilintar mencoba fokus, sudah berapa hari ini perasaannya tidak tenang, beberapa kali latihan pun rasa gelisahnya tidak kunjung hilang, padahal setiap ada masalah ia bisa menenangkan diri lewat latihan dari kegiatan yang sudah ia geluti sejak kecil itu.
Halilintar menutup matanya, menghafal beberapa dan dimana tonggak-tonggak kayu yang dia pasang berada. Lalu dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan mengayunkannya, ia bisa mendengar suara kayu yang jatuh setelahnya, sekali lagi ia mengayunkan pedangnya, menebas tonggak-tonggak kayu itu. Kemudian, ia segera menyarungkannya lagi.
Halilintar masih tetap menutup matanya dan berdiri tegak. Ia merasakan seseorang mendatanginya dan ia membuka matanya. Tidak terkejut saat melihat Gempa di hadapannya dan hanya terdiam.
"Kak Hali," panggil Gempa, tangannya mengambil sebilah pedang pendek dari balik bajunya.
"Keberatan bertarung denganku?" tanya Gempa sambil tersenyum.
Halilintar mendengus, "Heh, aku tidak ingin tanggung jawab jika kau penuh luka." Ucapnya.
"Tidak akan kok, tenang saja." Ucap Gempa.
"Kau yang mengajakku bertarung, baiklah, ku terima tantanganmu." Ucap Halilintar lagi.
Keduanya lalu melakukan sikap kuda-kuda dan beberapa detik kemudian dengan waktu yang sama mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya lalu melaju satu sama lain.
Traang!
Suara dua pedang beradu nyaring. Keduanya lalu mundur dan Gempa kembali maju dan menyerang Halilintar, suara pedang beradu lagi, Halilintar dapat menghindari serangan Gempa. Kembali lagi Gempa melakukan serangan, Halilintar sekali lagi menangkis pedang Gempa. Terus begitu hingga Halilintar mendapat celah, dan mengayunkan pedangnya ke arah kepala Gempa, Gempa yang menyadari itu dengan cepat menghindar, namun pipinya terkena sabetan pedang Halilintar dan mengeluarkan darah.
"Tidak buruk!" seru Halilintar, dan tersenyum, "Sejak kapan kau belajar seni bermain pedang, Gempa?" tanya nya disela-sela pertarungan mereka.
Gempa mencoba menghindari pedang Halilintar, "Sekitar umur delapan!" jawabnya.
Gempa menyerangnya dan Halilintar sekali lagi meghindar, "Menyenangkan bukan?" tanya Halilintar.
"Ya… begitulah!" jawab Gempa sambil melayangkan serangan lagi ke arah Halilintar.
Halilintar menangkis serangan Gempa dan menyerangnya balik, kali ini melukai lengan atas Gempa.
"Ukh!" Gempa mendesis, namun tidak menurunkan pertahanannya.
"Tidak mencoba untu menyerah?" tanya Halilintar.
"Hhh…. Sayangnya tidak!" seru Gempa, kembali menghindari serangan Halilintar.
.
.
Ochobot menatap datar pertarungan dua kembar didepannya, pikirannya terlalu lelah untuk mencoba menghentikan keduanya karena keadaan Gempa yang sudah terluka disana-sini sedangkan Halilintar tidak.
"Mereka berdua terlihat senang, ya."
Ochobot melirik, mendapati Kiyoshi berdiri di sebelahnya, "Sayangnya saya tidak terlalu mengerti." Ucapnya kemudian.
Kiyoshi tertawa, lalu tersenyum, "Senyuman Halilintar itu.. senyuman yang ingin sekali aku lihat." Ucap Kiyoshi.
"Ah? Bukannya dia sedang menyeringai?" tanya Ochobot.
"Bukan. Seringai Halilintar itu sangat mengintimidasi, sedangkan sekarang… ia terlihat seperti menikmatinya." Jawab Kiyoshi.
Ochobot kembali menatap Halilintar dan Gempa lagi, di lihatnya Halilintar tersenyum begitu lepas seakan tak punya beban apapun dan begitu pula Gempa yang tampak tersenyum lebar, ia kini bisa mengerti.
"Halilintar memang harus ikut kalian." Ucap Kiyoshi kemudian, "aku akan membujuknya nanti." lanjutnya kemudian.
Ochobot mengangguk.
.
Gempa dan Halilintar kembali beradu pedang, menghasilkan bunyi nyaring di udara. Saling bertahan satu sama lain, lalu Gempa melangkah mundur. Ia mendesis merasakan lukanya yang terasa nyeri. Halilintar kembali melayangkan serangannya dan Gempa dengan cepat menangkisnya, berjalan mundur beberapa langkah, lalu melakukan serangan kepada Halilintar.
Gempa tersenyum senang saat pedangnya berhasil melukai lengan atas Halilintar. Halilintar tersenyum kecil, kembali pedang keduanya beradu.
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
Halilintar segera menyentak pedang pendek Gempa saat pemiliknya sedikit lengah dan pedang pendek Gempa terlempar jauh ke belakang disusul Gempa yang terjatuh.
Gempa meringis, lalu membuka matanya saat sesuatu yang dingin menyentuh dagunya. Ia melebarkan matanya saat mata pedang Halilintar tepat di hadapan wajahnya. Ia mendongak, menatap wajah Halilintar yang menatapnya.
"Kau kalah." Ucap Halilintar.
Gempa meneguk ludahnya dan mengangkat kedua tangannya, "Baik aku menyerah." Ucapnya.
Halilintar menyarungkan pedangnya setelah ia membersihkan darah Gempa yang mengotori pedangnya dengan cara mengayunkannya ke udara kosong. Gempa menghela napas lega, dan membaringkan tubuhnya diatas pasir.
Halilintar berjalan mengambil pedang pendek Gempa yang terlempar dan sarungnya yang Gempa lempar setelah menarik pedang di awal pertarungan tadi. Lalu berjalan lagi ke arah Gempa dan memberikannya pada Gempa.
"Berdiri." Titah Halilintar padanya, sambil mengulurkan tangannya.
Gempa mau tak mau berdiri dengan bantuan tangan Halilintar, dan keduanya berjalan menuju Ochobot yang menunggu mereka dengan sebuah kotak P3K di sampingnya.
.
"Perih!" seru Gempa, saat Ochobot membubuhkan obat merah pada beberapa lukanya.
"Tahan dikit," ucap Ochobot, lalu mengubek-ubek isi kotak P3K dan memberikan kapas potong dan kain kasa kearah Halilintar yang mengurus lukanya sendiri.
"Thanks," ucap Halilintar.
Ochobot membuka plester luka dan menempelkannya pada pipi Gempa yang tergores.
"Aww.."
.
.
=coffey milk=
.
Terlihat Halilintar dan Kiyoshi sedang duduk berhadapan sambil menikmati secangkir teh hangat. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara air mengalir dari kolam yang terletak di taman di samping ruangan dimana mereka.
"Halilintar," panggil Kiyoshi.
Halilintar menaruh gelas tehnya yang isinya tinggal sedikit lagi. dan menatap gurunya.
"Ikutlah dalam perjalanan mereka." Ucap Kiyoshi.
Halilintar tertawa kecil, "Sensei ingin aku cepat-cepat angkat kaki dari sini?" tanyanya.
"Bukan begitu." Jawab Kiyoshi,
"…."
"Halilintar, saat kau bersama saudara mu, kau terlihat lebih bebas, kau menikmati kebersamaanmu dengan mereka, jadi, dari pada kau terus mengasingkan diri di dojo ini, lebih baik kau pergi dengan mereka." Ucap Kiyoshi.
"Aku tidak apa-apa kok di dojo ini." Sahut Halilintar.
Kiyoshi menggeleng, "Kau harus ikut dengan mereka, jangan sia-sikan hidupmu dengan hanya berada di dojo. pergilah mencari pengalaman." Ucapnya kemudian.
Halilintar terdiam, kembali hanya terdengar suara air mengalir dari kolam di taman.
"Kalau begitu…." Halilintar menatap tegas Kiyoshi, "aku ingin sensei bertarung dengan ku!"
"Apa?"
"Sensei, bertarunglah denganku. Aku akan mengalahkanmu!" ucap Halilintar.
.
.
=coffeymilk=
"Skakmat!" seru Ochobot riang, sedangkan Gempa membanting punggungnya ke atas tatami dibawahnya, kesal.
"Ahh.. Ochobot! Mengalah lah sekali untuk ku!" seru Gempa kesal.
Ochobot bersiul senang, ini adalah kemenangannya yang ke-50 kali dalam bermain catur melawan Gempa.
"Tidak bisa," ucap Ochobot.
"Yaelah, sekali aja, biarkan aku merasakan yang namanya kemenangan itu." Sahut Gempa lalu mendudukkan dirinya.
"Kemenangan itu harus di capai dengan usaha sendiri, makanya jadi orang itu harus punya banyak rencana." Balas Ochobot.
"Sombong amat." Sahut Gempa.
Ochobot mengendik tak peduli dan membereskan bidak catur yang bececeran. Gempa mendengus kesal berkali-kali, lalu terhenti saat mendengar suara ribut dari luar. Ia pun segera bergerak menuju pintu dan menggesernya, mendapati beberapa orang yang berlari.
"Cepat! Aku dengar Halilintar dan Kiyoshi-sensei sedang bertarung!" ucap salah satu dari mereka.
"Serius nih? Ini bakal seru!" seru yang lainnya.
Gempa membulatkan matanya, sudah dimulai? Pikirnya.
Tanpa menunggu lama, Gempa segera berlari mengikuti mereka disusul Ochobot. Lalu mereka berhenti di depan halaman dimana Gempa dan Halilintar bertarung kemarin. Sudah banyak orang yang berkumpul untuk menonton keduanya bertarung.
Gempa melihat kakaknya kini terduduk sambil memegang erat pedangnya yang menyangga badannya agar tidak ambruk, beberapa luka goresan terlihat dari badannya.
"Mana semangat mu tadi? berdiri!" seru Kiyoshi.
Halilintar mendengus dan membuang ludahnya yang sudah tercampur dengan darah.
"Tak perlu kau bilang pun, aku akan berdiri." Ucap Halilintar dan berdiri lalu mencabut pedangnya dari tanah.
Halilintar melaju, mengayunkan pedangnya ke arah Kiyoshi, suara pedang beradu, kemudian Kiyoshi dapat memukul mundur Halilintar. Halilintar kembali melayangkan serangan kearah Kiyoshi, berkali-kali Kiyoshi menangkis serangan Halilintar.
Gempa terpana, ia tidak menyangka bahwa Kiyoshi sangat hebat. Gempa sendiri merasa ia sedikit kewalahan untuk mengalahkan Halilintar, sebelumnya ia tidak berpikir bahwa Kiyoshi lebih hebat dari Halilintar.
"Julukannya Paman Kiyoshi itu Harimau Merah." Bisik Ochobot saat Gempa bertanya padanya, "sudah tak terhitung jumlahnya, musuh-musuh yang ia kalahkan." Lanjutnya.
Gempa terdiam, ia tidak heran.
"Kau tidak pernah membaca surat kabar dan kurang bersosialisasi, Gempa."
Gempa menyikut Ochobot kesal.
"Aku juga sempat mendengar kalau Halilintar di juluki Harimau Muda." Ucap Ochobot lagi.
Gempa mengangguk, matanya terfokus pada pertarungan Halilintar dan Kiyoshi. Suara sorai-sorai mengudara, pertarungan berlangsung begitu sengit. Gempa menutup matanya kala Halilintar terkena mata pedang Kiyoshi lagi.
Halilintar tak putus asa, ia terus mencari celah untuk mengalahkan Kiyoshi, sayangnya ia sedikit lengah dan terlempar beberapa meter setelah pedang keduanya beradu.
Halilintar bangun dan berdiri, tubuhnya terasa berat, matanya terasa berkunang-kunang. Tapi ia terpaku saat melihat wajah cemas Gempa di barisan belakang orang-orang yang tengah menonton. Halilintar mendesah, ia tak ingin melihat orang lain melihatnya dengan tatapan mengasihani. Halilintar berdiri tegak dan memasang kuda-kuda, menatap Kiyoshi tajam.
.
"Ka—kalau aku menunggu di sini hingga kau mengalahkannya, bagaimana?"
Suara Gempa terngiang di benaknya. Gempa menunggunya dan Halilintar tak ingin membuat adiknya menunggu. Ia akan menuntaskannya saat itu juga, ia akan mengalahkan Kiyoshi. Ia ingin bertemu dan mengalahkan orang lain yang sekuat atau melampui kemampuan Kiyoshi suatu hari nanti. Dan juga ia ingin hidup bersama adik-adiknya kemudian.
"IBU! AYAH!"
"LEPASKAN! LEPASKAN! IBUU…! AYAAAHHH!"
13 tahun lalu, Gempa dan Mirajane tak pernah tahu kalau Halilintar mengejar mereka. Halilintar masih ingat dengan jelas bagaimana teriakan dan tangisan Gempa waktu itu. Menyakitkan. Sangat-sangat menyakitkan. Dan ia berjanji untuk melindungi seluruh adik-adiknya dan agar mereka tak pernah merasakan yang namanya kehilangan lagi. Jika saja ia dan adik-adiknya tidak terpisah satu sama lain…..
"HYAAAAAHHH…!"
Halilintar berteriak sangat keras dan menghunuskan pedangnya kearah Kiyoshi. Kiyoshi bersiap untuk menangkis serangan Halilintar dengan pedangnya.
Detik berlalu sangat lambat dan jarak keduanya semakin dekat.
Prak!
Kiyoshi tertegun melihat pedangnya patah saat kedua pedang mereka beradu. Dan ia dengan cepat menghindar sebelum mata pedang Halilintar menghujam dadanya.
Suasana hening, kedua pertarung mengatur napas masing-masing. Kiyoshi tersenyum dan membuang pedangnya ke atas tanah.
"Aku kalah." Ucap Kiyoshi, Halilintar mengangkat kepalanya yang tertunduk.
Suara sorai-sorai membahana. Halilintar membulatkan matanya, tanganya gemetar hebat. Tak percaya ia pada akhirnya dapat mengalahkan Kiyoshi.
"Aku… menang?" tanya Halilintar.
"Ya, kau memenangkan pertarungan ini Halilintar, selamat." Jawab Kiyoshi tersenyum.
Halilintar tersenyum senang, berikutnya tubuhnya limbung saat Gempa berlari dan memeluknya.
"Aduh!" pekiknya, saat punggungnya mencium tanah.
Gempa tertawa, "Syukurlah!" ia mengeratkan pelukannya.
Halilintar termangu sebentar dan membalas pelukan Halilintar.
"Terimakasih, Gempa…" ucapnya lirih.
Dan Ochobot berjalan kearah mereka dengan membawa kotak P3K di tangannya.
.
.
.
TBC~
Tatami = lantai yang terbuat dari anyaman jerami.
Hola! Saya kembali dengan ch 4. Masalah Halilintar selesai, nulisnya bikin geregetan apalagi waktu otak tiba-tiba blank di tengah jalan. Sekarang saya juga ngelanjutin untuk ch berikutnya juga nge-blank, sedih. /curhat
Btw, katanya Boboiboy ultah? Tanggal 13 Maret? Wuhuuu~ Heppi Besudei Boboiboy~/pelukciumBoboiboy/langsungdigampar.
Kenapa gak harinya di tambah 10 hari lagi aja sih? Jadinya 23, Kan biar sama kayak saya/dilemparteflon
Btw, sebelum nutup ni ch 4 saya mau buka lapak dulu buat nge-balas review bagi yang gak pakai akun :
Dari marmut mau sampe chapter berapa nih? chapter 3 aja br ketemu hali yang lainnya?
Saya juga nggak tahu ini bakalan sampai chapter berapa hehe, yah.. enjoy aja lagi.. :D
.
Dari Guest oh ya kalau bisa ending nya cobak buat ada perang nya untuk merebut kerajaan mereka lagi trus yang jadi rajanya halilintar aja
Kepikiran gitu juga sih tapi belum nemu wangsit untuk plot ceritanya, tapi untuk sekarang jangan bahas itu dulu lah, ntar malah jadi spoiler haha.. dan untuk rajanya…. Spoiler juga ntar, gamau ah. (btw review dengan nama Guest itu banyak ya, sampai bingung, tapi kayaknya kalian org yang sama)
.
Dari febri keren sekali ceritanya bagaikan terbawa ke abad kerajaan
Iyup, thank you :D
.
Dari Azure (Karena banyak sekali gak saya cantumin, sori, hehe)
Iyap, Hali duluan. Untuk pertanyaan tentang kenapa Hali gak bisa ikut uda kejawab ya. Dan untuk soal chara lain, bener mereka cuma numpang lewat, kalo tak biarin malah makin ruwet dan njelimet, bikin percakapan 2-3 orang saja udah bingung, ini bagian mana, bagian mana/curhat. Untuk senjata mereka itu dirahasiain lah, btw untuk si Api udah bener cuma kurang, gitu aja/plak. Ini udah lanjut.
.
Dari Guest(lagi) Si Halilintar bisa dual blades, gak? kan, dia biasanya pake 2 pedang halilintar.
Udahlah, satu aja pedangnya, satu aja susah deskripsiinnya, kalo dibuat dua ntar saya yang tekor.
.
Udah! Thanks buat yang review kemarin, buat yang belum saya balas reviewnya saya minta mangap~/dilempar
Yang kemarin udah review, review lagi ya! Buat yang belum review, jangan lupa ya! Makasih juga udah baca chapter ini.
Komentar, Kritik, Pertanyaan saya tunggu!
Adios! :)
