Under The Sky [Ch. 5]

AU, Adventure, Family,

Rated T

Warn : Typos, OOC, No Pair

Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.

Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona

Just for Fun!

.

.

Gempa membayar belanjaannya pada penjual di hadapannya. Ia kini tengah berbelanja untuk keperluan perjalanan mereka besok hari. Gempa tak henti-hentinya tersenyum senang, ia tak mempedulikan tatapan mata orang-orang yang menatapnya dengan pandangan aneh.

Ochobot keluar dari toko yang berbeda diikuti oleh Halilintar yang baru keluar dari toko yang menjual bermacam-macam pedang.

"Apa yang kau lakukan di toko itu?" tanya Gempa pada Halilintar.

"Aku menitipkan pedangku untuk di perbaiki." Jawab Halilintar.

"Benarkah? Seharusnya kau mengajakku!" seru Gempa.

Halilintar mendengus, "Pergilah sendiri." Balasnya.

Gempa menatapnya kesal. "Oke, tunggu aku!" ucapnya kemudian dan berlari memasuki toko pedang.

Ochobot dan Halilintar saling pandang, beberapa menit kemudian Gempa kembali sambil tersenyum lebar. Ketiganya lalu berjalan menelusuri trotoar.

"Mau makan bakpau?" tanya Ochobot saat melihat kedai bakpau di salah satu dari banyaknya jejeran toko.

"Boleh." Jawab Gempa.

Halilintar hanya diam dan mengikuti keduanya membeli bakpau.

.

Asap terlihat mengepul dari bakpau yang mereka santap. Ketiganya kini duduk di kursi taman, setelah membeli tiga buah bakpau berisi daging.

"Enak." Ucap Ochobot.

"Yup, bener, ini maknyus." Sahut Gempa.

Halilintar makan dalam diam.

"Ntar kita belikan satu buat Paman Kiyoshi." Ucap Ochobot lagi.

"Ide bagus." Sahut Gempa.

Halilintar tetap makan dalam diam.

Gempa dan Ochobot melirik Halilintar. Halilintar tampak makan dengan lahap dan sepertinya tak mendengar obrolan Ochobot—Gempa. Ochobot dan Gempa pun berbisik-bisik.

"Kelaparan ya?" goda Gempa sambil menyikut Halilintar.

Halilintar menelan bakpau di mulutnya, "Nggak juga." Jawabnya.

Gempa tertawa, "Sudah bilang saja, bisa ku belikan lagi kok kalau mau." Ucapnya.

Halilintar menggeleng, "Nanti uangmu habis." Ucapnya.

"Tenang saja, anggap saja itu utangmu!" balas Gempa.

Halilintar memutar matanya.

.

.

=coffeyMilk=

.

"Ini daerah terdekat selanjutnya," ucap Gempa sambil menunjukkan suatu daerah di peta.

Ochobot mengangguk, Halilintar meminum teh hijaunya syahdu.

"Ng… apa ini namanya… Ring…tree town?" tanya Gempa, menunjuk ke huruf yang sudah mulai mengabur itu.

"Ringfree Town." Ucap Kiyoshi yang baru saja masuk ke ruangan sambil membawa sepiring kue kering untuk mereka.

Ochobot dan Gempa menoleh, "Paman pernah ke sana?" tanya Gempa.

"Tentu saja, rekan paman ada di sana." Jawab Kiyoshi lalu menaruh piring berisi kue kering itu keatas meja dan Halilintar segera mengambil isinya lima.

"Siapa?" tanya Ochobot.

"Anna." Jawab Kiyoshi.

"Anna? Berarti ada kakak atau adikku yang lain di sana?" tanya Gempa, antusias.

Kiyoshi mengangguk, "Paman juga pernah membawa Halilintar ke sana."

Gempa segera menoleh kearah Halilintar cepat, "Kau pernah bertemu dengannya? Siapa dia?" tanya Gempa.

Halilintar menurunkan gelas dari bibirnya, lalu berpikir keras.

"Dia…. Makhluk kebanyakan senyum yang bikin sakit mata." Jawab Halilintar, aura disekitarnya terlihat gelap.

Gempa mengerjap, tidak mengerti dengan maksud Halilintar.

"Nanti kau juga tahu." Ucap Halilintar kemudian.

Gempa mengangguk pasrah, lalu menatap peta di meja lagi.

"Jadi, karena Kak Hali sudah mengetahui jalan menuju kesana, kita pasti akan cepat sampai ke tujuan." Ucap Gempa.

"Oh ya, Hali." Panggil Kiyoshi, Halilintar mendongak.

"Karena kau akan melewati desa itu, Sensei titip barang bawaan ke sana ya?"

"Oh, baik." Jawab Halilintar.

Gempa meminum tehnya. Ruangan hening kemudian, hanya ada suara jangkrik di luar dan suara kue yang dimakan.

"Sensei." Panggil Halilintar.

"Apa?" tanya Kiyoshi.

"Apa sensei tahu siapa samurai terkuat selain sensei?" tanya Halilintar.

Gempa dan Ochobot diam mendengarkan.

"Oh, kau penasaran dengan mereka? Baiklah. Tapi, jika kau ingin bertarung dengan mereka, hati-hati. Mereka itu kuat, mungkin kekuatan mereka sudah melebihiku," jawab Kiyoshi, "pertama ada Knife Lady, dia wanita hebat yang bisa menguasai beberapa jenis benda tajam, terutama pedang, tapi keberadaannya saat ini tidak di ketahui. Lalu ada Beard Monster, pria tua yang bahkan sampai sekarang tidak tahu kapan matinya, lalu ada Black Lucifer, dia pemuda jenius multitalenta yang seumuran denganmu, ada juga Red Gemini, kembar muda yang mahir bermain pedang dan suka berbuat onar." Kiyoshi menerangkan.

Halilintar mengangguk, "Yang lain?" tanyanya.

"Haahh… aku lupa." Jawab Kiyoshi.

Halilintar terdiam, ia menyeringai senang.

.

.

.

Ochobot tampak berdiri menunggu di depan gerbang ditemani oleh Kiyoshi dan beberapa murid di dojo itu. Menunggu Gempa dan Halilintar yang pergi ke toko pedang kemarin untuk mengambil pedang mereka. Disamping kakinya ada dua buah tas milik si kembar dan satu bawaan dalam karung besar, Ochobot tidak tahu apa isinya. Ketiganya telah bersiap untuk memulai perjalanan.

Selang beberapa menit kemudian, Gempa dan Halilintar menunjukkan batang hidungnya. Ketiganya lalu berpamitan pada Kiyoshi dan pergi. Halilintar membawa karung besar di punggungnya, bertiga mereka berjalan keluar dari desa itu.

"Halilintar," panggil Ochobot, di jawab oleh tolehan kepala oleh Halilintar.

"Boleh tau apa isinya ini?" tanya Ochobot sambil menunjukkan barang yang di bawa Halilintar.

"Oh… ini untuk desa tetangga." Jawab Halilintar.

"Desa tetangga?" tanya Ochobot.

Halilintar mengangguk, "Desa itu tidak pernah di perhatikan oleh kerajaan sekarang, bahkan di biarkan terbengkalai begitu saja dan keluarga Nishimura selalu memberi mereka bantuan pangan dan pakan." Jelas Halilintar.

Ochobot mengangguk mengerti, "Kerajaan ya…"

Gempa dan Halilintar terdiam, sibuk dengan pemikiran mereka.

"Aku pikir pihak kerajaan saat ini cukup memprihatinkan ya," ucap Ochobot lirih, "negara lain bahkan memandang kita rendah." Lanjutnya.

Ochobot menatap keduanya dan tersadar saat melihat mereka diam tak menyahut, ia berpikir mungkin ia telah mengatakan hal yang salah.

"Halilintar, Gempa? Maaf, aku…"

Gempa tersenyum lebar dan menatap Ochobot.

"Kau tidak perlu seserius itu, Ochobot. Tenang saja." Ucapnya dan merangkul Ochobot.

Ketiganya terus berjalan dengan Halilinta yang berjalan duluan.

"Kak Hali, butuh bantuan?" tanya Gempa kenudian.

.

.

Ketiganya memasuki sebuah desa yang terlihat kumuh, terus menyusuri jalan setapak yang ada di desa itu.

"Kak Hali ini kita mau kemana?" tanya Gempa.

"Ke rumahnya kepala desa," jawab Halilintar.

Mereka kemudian berbelok memasuki sebuah jalan kecil dan berhenti di sebuah rumah sederhana berwarna coklat kusam.

"Permisi.." panggil Halilintar pada penghuni rumah.

Beberapa menit kemudian seorang bapak tua keluar dari rumahnya dan mendatangi ketiganya.

"Ini titipan dari Nishimura Kiyoshi." Ucap Halilintar pada bapak itu dan menunjukkan sebuah karung besar yang berisi yang tadi ia bawa.

Bapak tua itu tersenyum, "Terimakasih, nak."

Halilintar mengangguk.

"Kau membawa teman? Aku tidak pernah melihat mereka." Tanya bapak itu dan menunjuk kearah Gempa dan Ochobot.

"Mereka saudara saya." Jawab Halilintar tersenyum kecil.

"Ohh… begitu, bagaimana jika kalian masuk dulu?" tanya bapak itu lagi.

Ketiganya serentak menggeleng.

"Tidak usah repot-repot bapak… lagipula kami mau melanjutkan perjalanan kami menuju Ringfree Town." Ucap Halilintar.

Si Bapak mengangguk, "Baiklah, baiklah, hati-hati…"

.

.

.

"Kak Hali berapa kilo meter lagi kotanya?" tanya Gempa.

"Enam kilo mungkin…" jawab Halilintar.

Ketiganya kini tengah berjalan melewati hutan. Wajah Ochobot tampak muram dan Gempa menyadarinya.

"Kau capek, Ochobot?" tanya Gempa.

Ochobot mengangguk. Gempa mengedarkan pandangannya, "Mau istirahat dulu?" tanya Gempa.

Halilintar berhenti, "Baguslah, aku sudah lapar." Sahutnya.

Gempa dan Ochobot menatap Halilintar datar. Kemudian mereka mencari tempat dan beristirahat. Ketiganya mengeluarkan sekotak bekal yang sudah dibawa.

"Aku tidak tahu kalau Kak Hali pintar memasak." Ucap Gempa setelah melihat tampilan isi bekal yang baru ia buka. Nasi yang dicetak, telur dadar gulung, sosis berbentuk gurita, sayur yang di tata begitu rapi.

"Ini keren," Ochobot menimpali dan mencobanya sesuap, "…dan enak." Lanjutnya.

"Makasih." Jawab Halilintar, "biasanya siapa yang masak?" tanyanya kemudian.

"Ochobot!" jawab Gempa cepat.

Halilintar menatap Ochobot, yang di tatap tersenyum kecil.

"Lain kali aku akan mencobanya." Ucap Halilintar.

Ketiganya lalu makan dalam diam.

"Setelah ini kita melanjutkan lewat mana?" tanya Gempa setelah menghabiskan bekalnya.

Halilintar menelan kunyahan bekal terakhirnya, "Hm… setelah keluar dari hutan ini, kita melewati perkebunan dan persawahan milik penduduk." Jawab Halilintar.

Ketiganya pun bersiap dan melanjutkan perjalanan. Keluar dari hutan dan berjalan terus melewati perkebunan penduduk.

"Ringfree Town itu… kota yang seperti apa?" tanya Ochobot.

"Itu kota yang terbebas dari kerajaan, lebih seperti memiliki daerah kekuasaan sendiri. Kerajaan tidak bisa menyentuhnya dan kota itu cukup makmur." Jawab Halilintar.

"Itu… terdengar yeah… luar biasa." Komentar Gempa.

Halilintar diam.

"Lalu… apakah yang kau temui disana itu Taufan?" tanya Gempa.

Wajah Halilintar menggelap, "Kau mengingatkanku padanya." Desis Halilintar.

Gempa tertawa, "Aku benar," ucapnya, "dia seperti apa?" tanya Gempa.

"Menyebalkan," jawab Halilintar, "sedikit manja, suka ngusilin orang, lalu…."

"Kak Hali menjawabnya hanya keburukannya apakah tidak ada kebaikannya?" tanya Gempa.

"Tidak." Jawab Halilintar.

Gempa melongo, mereka terus berjalan hingga sampai di depan gerbang kota. Gempa dan Ochobot terpana melihat gerbang kota yang megah.

"Wow.."

Setelah berbicara dengan penjaga Gerbang ketiganya memasuki kota itu. Kota itu tampak ramai, orang-orang berlalu lalang melakukan berbagai kegiatan. Gempa tersenyum senang melihatnya.

"Jadi.. dimana kita harus menemukan Taufan?" tanya Gempa.

Halilintar tak menjawab, mereka terus berjalan lurus. Gempa tak bertanya lagi hanya mengikuti langkah Halilintar.

.

Ochobot melihat beberapa toko yang menarik perhatiannya dan seketika matanya melihat seorang pemuda yang baru saja keluar dari sebuah toko, wajah pemuda itu terasa familiar baginya.

"Gempa! Halilintar!" panggilnya pada dua kembar yang telah berjalan sedikit jauh di depannya.

"Gempaa! Halilintaar!" panggilnya lagi, dua kembar itu menoleh dan berjalan ke arah Ochobot.

"Apa?" tanya Gempa.

"Aku baru saja melihat seseorang yang mirip dengan kalian." Ucap Ochobot.

Mata Gempa membulat, "Apa? Dimana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka.

"KYYAAAA…." Gempa berjengit kaget saat melihat segerombolan gadis berteriak sambil berlari ke seorang pemuda, "TAAAUUUFAAAANNN~"

Yang dipanggil 'Taufan' berhenti dan menoleh, kemudian tersenyum ganteng saat para gadis mengerubunginya.

"Taufan! Aku membuatkanmu kue, tolong diterima!" seru salah seorang gadis sambil menunjukkan sekantung plastik berisi kue.

Wajah Taufan terlihat berseri, dia mengambil satu kue dari kantung dan memakannya, "Ini enak sekali.. benar kau membuatnya? Terimakasih.." tanya Taufan.

"Y—ya! Aku membuatnya sampai begadang tadi malam!" balas gadis itu senang.

"Hee~"

"Taufaan~ coba ini juga, aku membuatkannya pagi-pagi sekali tadi!" seru gadis yang lain sambil menunjukkan sebuah kotak berisi cokelat.

Taufan mengambil coklat dan memakannya, "Ini enak sekali… kau semakin hebat dalam hal memasak…" komentarnya.

"E—eh. Ti—tidak. Saya masih dalam tahap amatiran!" balas gadis itu.

Taufan tersenyum, teriakan membahana dari gadis-gadis di sekelilingnya.

"Taufan, apa kau mau makan malam bersamaku nanti?" tanya gadis yang lain.

"Eh, boleh… tapi tidak janji ya?" jawab Taufan.

"Eeehhh…"

Taufan lalu beralih pada gadis yang lain, "Kau mengganti parfum mu? Harum sekali.."

Si gadis tersipu, "I—iya. Apa kau tahu aku menggantinya dengan parfum apa?" tanya gadis itu.

"Ah… dari harum mawar, sekarang harum melati?" tanya Taufan.

Gadis itu tergagap, "A-ah, ti—"

"Aku benar bukan?" tanya Taufan sambil tersenyum manis.

Si gadis tak berkutik, "Ka—kau benar."

Taufan tersenyum, si gadis fangirlingan.

.

"Dia barusan salah bukan? Dan gadis itu mengalah," ucap Ochobot melongo takjub sambil menunjuk ke arah Taufan.

Halilintar mengangguk pelan dengan wajah jijik melihat Taufan, "Lebih baik kau tidak menunjuk kearah orang bego itu." Ucapnya.

Gempa membatu melihat pemandangan di hadapannya.

.

"Taufaaan!" panggil seorang gadis berhijab sambil berlari kearah Taufan dan gerombolannya.

"Aku membawakanmu biskuit, kau harus memakannya!" tanya gadis itu.

"Yaya!" Taufan tampak terkejut takut, "Erm… emm… ah! Mom Anna memanggilku! Sampai nanti semuanya!" serunya lalu berlari cepat.

Para gadis-gadis itu sontak kecewa.

.

Gempa tersadar dari acara -mari membatu- dan ikutan berlari.

"Gempa? Mau kemana?" tanya Ochobot.

"Mengejar Taufan!" jawab Gempa.

"Oi. Oi. Yang benar saja?" tanya Halilintar yang mau tak mau mengikuti langkah Gempa bersama Ochobot.

Mereka berlari mengejar Taufan, hingga sampai di sebuah taman kota. Mereka bertiga celingukan mencari keberadaan Taufan yang menghilang. Saat itu pula sesuatu terbang ke arah mereka, Halilintar yang punya refleks cepat segera menyuruh Gempa dan Ochobot menghindar. Benda terbang itu hampir saja mengenai mereka dan Halilintar menyadari kalau itu adalah sebuah bumerang. Kemudian mereka di kejutkan dengan tali cambuk yang melesat kearah mereka.

Bertiga mereka dalam pose siaga, mencari keberadaan orang yang menyerang mereka. Namun, setelah mereka menunggu beberapa menit tak muncul seseorang pun. Hingga pertahanan Gempa melemah dan seseorang menutup matanya dari belakang.

Gempa memberontak, mencoba untuk melepaskan tangan itu dari wajahnya, selang beberapa menit kemudian yang punya tangan melepaskannya.

"Surprise!"

Gempa terbelalak, mendapati Taufan tersenyum lebar di hadapannya.

"Ta—taufan?" tanya Gempa.

Yang di panggil cengengesan dan segera memeluk Gempa lalu berputar-putar.

"Haduh… pusing~"

Taufan melepaskannya, "Aduuuh~ berapa lama kita tak bertemu? Aku rindu sekali padamu…" ucapnya.

"Eh.. ya…" Gempa tidak tahu harus berkata apa.

Taufan beralih pada Halilintar, "Ha—lilin~ lama tak bertemu? Bagaimana keadaanmu?" tanya Taufan.

"Halilin? Hentikan panggilan menjijikkan itu." Ucap Halilintar

"Itu terdengar lucu.." Taufan tak peduli dan tertawa puas, lalu beralih pada Ochobot dan tersenyum lebar.

"Siapa bocah unyu kuning ini?" tanya Taufan sambil memegang dagu Ochobot.

"Eh? Bocah?" Ochobot mengerjap, "Aku sudah besar lah, bukan bocah lagi." jawabnya.

Taufan melepaskannya dan mendengus, "Ah, maaf. Kau pendek soalnya." Ucapnya lalu terkekeh.

—jlebb.

Ochobot tidak tau harus melakukan apa. Dan Taufan kembali lagi beralih pada Gempa.

"Jadi… ada acara apa kalian datang ke sini?" tanya Taufan.

"Hm.. ya… kami sedang mencari saudara kita yang lain… dan kita nanti akan tinggal bersama, jadi… apa kau mau ikut?" tanya Gempa.

Mata Taufan membulat, "Kau bercanda?" tanyanya dengan suara tinggi.

"Em.. kalau kau tidak mau sih, tidak apa…" jawab Gempa.

Taufan memegang kedua bahu Gempa,"Tentu saja aku mau!" serunya kemudian.

.

.

TBC

Oke, sekarang saya bawa ch 5 dengan Taufan yang udah muncul di dalamnya, cepet ya? Dan kalau kurang memuasakan ya, mangap. Soalnya saya sendiri juga nulis ini idenya mentok-mentok, kadang buntu.

Buat yang uda review kemarin makasih, yang nge-fav sama follow juga makasih~

Oke, saya mau balas review dulu~

Dari Fajrin Kak, ntar di chapter dpn Taufan ya. Penasaran Taufan nya lg ngapain. Heheh

Iyup ini Taufannya udah muncul~ review lagi ya~

Dari Marmut Chapter 4 masalah hali nanti chap 5 perjalanan mereka ber3, dijalan ketemu salah satu temennya, trus chap 6 baru ngomongin masalah yang bbb nya, trus chap 7 perjalanan mereka ber4, bla bla bla mau kayak gitu ahirnya? btw, lanjut ya! makasih udah jawab pertanyaan aku XD

Iya sama-sama krn udah review, untuk ch 5nya. begini, disetiap cerita mereka bertemu saudara yang lain itu beda-beda, kalau ceritanys sama terus kan bosan, hehe. Klw selanjutnya nanti ini lagi otw ngetik. Yap, ini udah lanjut, review lagi ya!

Dari Azure(karena panjang gak saya tampilin, maaf ya) :D

Pertama thanks uda review dan ngasih tau soal nama Guest itu, haha saya baru tau XD. Untuk pendeskripsiannya , maf ya, nulis orang bertarung itu sebetulnya bagi saya susah, kalau ini gambar kayaknya bisa ya, tapi saya gak pandai/elah/ untuk si Api, kesampingkan dulu lah/dipatok/ Hali di Jepang, Taufan di sini saya udah kasih tahu, jangan diartiin nama kotanya, saya malu. Nyari nama kota itu susah, soalnya saya sendiri jarang bepergian/curhat/ buat Api sama Air nya ntar tempatnya bakal tahu sendiri, sabar ya. Untuk soal Taufannya lihat ntar di ch besok. Duh, ini kepanjangan… review lagi ya~

Dari Febri untuk selanjutnya mereka mencari siapa?

Taufan, udah kejawab ya~

Dari Another Guest Aku mau ngasih saran. Bagaimana ketika mereka berkumpul, musuh yang telah mengalahkan ayah dan ibunya bertemu dengan mereka semua? Terus Api, Halilintar, dan Air tertangkap. Jadi, Taufan dan Gempa harus menyelamatkan mereka. Di tengah perjalanan, mereka menemukan pedang ayah tak mau, tak apalah. Tolong di balas ya! Sorry, kepanjangan.

Idenya bagus, tapi maaf ya, gak bisa.. /sujud/plak/ saya sendiri udah mikirin ide akhir.. tapi plotnya lagi nyari yang pas, ini udah saya balas, makasih ya! Review lagi ya~

Selesai. Oke, yang udah baca ch ini jangan lupa review ya~ makasih jg uda baca~

Komentar, Kritik, Pertanyaan saya tunggu! :)

Adios!