Under The Sky [Ch. 7]

AU, Adventure, Family,

Rated T

Warn : Typos, OOC, No Pair

Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.

Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona

Just for Fun!

.

.

Musuh di hadapan Halilintar ambruk tepat setelah Halilintar menebasnya bersamaan dengan teriakan Taufan dan Ochobot.

Halilintar menoleh dan mendapati Taufan terjun bebas dan menghilang, Halilintar merutuk, "Bocah bodoh itu…!" ia menggertakkan giginya dan melanjutkan aktivitasnya menebas satu persatu musuh yang berdatangan.

Halilintar merasa ia harus bergegas, ia harus menolong Ochobot dan kedua adiknya. Halilintar mengelap percikan darah yang membasahi wajahnya, lalu kembali menebas musuh di depannya hingga tak tersisa.

Halilintar mengayunkan pedangnya di udara guna menghilangkan darah yang membasahi pedangnya, lalu memasukkan pedangnya ke sarungnya. Halilintar lalu berjalan cepat kearah tebing untuk memastikan keadaan Taufan dan ia menghela napas lega saat melihat Taufan bergelantungan pada sebuah dahan pohon yang tumbuh di dinding tebing. Taufan menatapnya dengan tatapan memohon.

"Bertahanlah sebentar! Aku harus menolong Ochobot dulu!" seru Halilintar dan meninggalkan Taufan yang termangu.

Halilintar mendekati Ochobot, memastikan bahwa pemuda itu masih hidup. Ia lalu mengambil perban dari dalam tasnya dan membalutkannya ke perut Ochobot guna menhentikan pendarahan dari luka Ochobot.

Ochobot membuka matanya dan menatap Halilintar lemah, "A..ku sudah tidak apa..apa.. kau… harus segera menolong… Taufan…" ucapnya terbata.

"Beneran?" tanya Halilintar, lalu memindahkan tubuh Gempa dan membaringkannya di samping Ochobot.

Ochobot mengangguk. Halilintar kemudian memastikan kembali keadaan Taufan. Wajah Taufan terlihat memerah karena lelah dan juga rasa takut akan jatuh. Halilintar mencari cara agar dapat menolongnya, namun teriakan Taufan membuatnya terhenti dan segera melihat kearah Taufan lagi.

.

Taufan lelah, tangannya sudah tidak kuat bergelantung pada dahan pohon yang ia pegang. Ia menggigit bibir, kapan Halilintar akan menolongnya.

Krek.

Taufan menatap horor saat mendengar suara dari dahan yang ia pegang.

Tunggu dulu! bertahanlah sebentar lagi! Suara dahan mulai terdengar lebih jelas, Taufan merutuk, kenapa Halilintar lama sekali?

Krak!

"Ups—Gyaaa!" Hal yang Taufan lihat sebelum ia tercebur ke sungai, ia melihat tatapan panik Halilintar.

-Byuurr!

Arus sungai yang deras segera membawanya, Taufan mencoba berenang dan menggapai-gapai untuk mendapatkan sesuatu yang bisa menahannya. Tapi arus yang terlalu deras membuatnya susah bergerak, ia bahkan merasakan air mulai memasuki mulut dan hidungnya, membuatnya terbatuk keras.

.

Halilintar mendapati sisa jembatan yang masih bergelantung disisi tebing dimana ia berada, dengan segera ia menuruninya dengan hati-hati. Ia melompat kebawah saat jembatan itu berakhir dua meter diatas tanah, melepaskan alas kaki dan tasnya lalu segera berlari menuju arah dimana Taufan terbawa arus.

"Taufan!" panggilnya.

Halilintar meneguk ludahnya kasar, ia tak mendengar jawaban dari Taufan, tubuh Taufan tak berdaya di bawa arus, pemuda itu tak sadarkan diri.

Halilintar medapatkan sebilah rotan panjang dan mencoba meraih tubuh Taufan, namun itu sia-sia. Halilintar menggertakkan bibirnya, terus mengejar tubuh Taufan yang masih terbawa arus. Dan ia terkejut saat ujung sungai itu berupa air terjun.

Halilintar menjambak rambutnya, ia harus bergegas untuk membawa tubuh Taufan ke daratan atau Taufan akan jatuh ke air terjun. Dan Halilintar nekat masuk kesungai dan berenang kearah Taufan dengan susah payah.

Ia meraih baju Taufan dan menarik tubuh itu hingga mendekatinya. Dan sekarang ia harus kembali lagi kedaratan, karena arus air mulai membawa tubuhnya juga. Halilintar kembali berenang dengan sekuat tenaga sambil membawa tubuh Taufan. Lalu ia menggapai batu besar sungai dan bergerak mendekati daratan.

Halilintar menaruh tubuh Taufan disampingnya saat keduanya telah naik ke daratan. Halilintar mengatur pernapasannya, lalu menoleh kearah Taufan yang tak sadarkan diri.

Wajah Taufan terlihat pucat, bibirnya membiru. Halilintar segera mengecek denyut nadi pemuda itu, terasa samar. Halilintar panik.

"Hei! Bangun, Taufan!" seru Halilintar.

Halilintar bersiap untuk memberikannya napas buatan jika saja Taufan tidak terbatuk keras dan mengeluarkan banyaknya air dari mulutnya.

"OHOK-OHOK!"

Halilintar menghela napas lega. Taufan membuka matanya dan menatap Halilintar dan tersenyum lemah. Halilintar membantunya untuk duduk.

"Maaf ya.." ucap Taufan, lalu terbatuk lagi berkali-kali.

Halilintar diam dan memeluknya. Taufan tertawa lemah, lalu ia merasakan pandangannya mulai mengabur dan gelap.

"Taufan?" tanya Halilintar saat ia tak mendengar Taufan bersuara lagi, tapi kali ini Halilintar tidak begitu khawatir sebab ia dengar adiknya mulai bernapas teratur.

.

.

.

Gempa terbangun, yang ia lihat saat membuka matanya adalah langit penuh bintang diatasnya. Ia segera terduduk dan melihat sekitarnya, ia mendapatkan Ochobot tertidur di sampingnya dan disebelah Ochobot ada sebuah lilin yang menyala, Gempa terkejut saat melihat perut Ochobot di balut perban dan ada sedikit bercak darah di perbannya, ia juga tak melihat Halilintar dan Taufan dimanapun. Gempa heran, apa yang terjadi di saat ia tak sadarkan diri?

Gempa mengingat bahwa seseorang memukul tengkuknya membuat ia tak sadarkan diri. Di elusnya tengkuknya, masih terasa nyeri. Gempa termangu memikirkan apa yang terjadi.

Kruyuuuukkk…

Perutnya berbunyi. Gempa segera membuka tasnya untuk mengambil buah yang ia simpan dan memakannya. Sambil menggigit apel dan mengunyahnya, ia melihat langit diatasnya, mengira-ngira kemana perginya Halilintar dan Taufan.

Semilir angin malam membuatnya menggigil kedinginan. Disaat ia asyik mengira dimana keberadaan kakak-kakanya ia mencium bau anyir darah yang sangat menyengat dari arah belakang saat hembusan angin menerpanya.

Gempa menoleh dan melihat Ochobot masih terlelap, mata Gempa memicing saat melihat gundukan aneh beberapa meter didepannya. Ia segera bangkit dengan masih memakan apel dan membawa lilin di tangannya yang satu lagi.

Di arahkannya lilin itu kedepan sambil melangkah perlahan kearah gundukan itu dan Gempa tercekat dengan apa yang dilihatnya. Tumpukan manusia, Gempa tidak tahu apakah mereka sudah mati atau tidak, tapi bau anyir darah yang ia cium tadi berasal dari mereka. Dan Gempa bisa melihat goresan luka akibat pedang, ini pasti perbuatan Halilintar, pikirnya.

Gempa kembali mengarahkan lilin kesamping, ia melihat beberapa manusia terkapar tak sadarkan diri, tidak ada luka apapun kecuali memar berwarna biru di kepala.

Gempa merasakan perutnya mual, ia segera berjalan lagi kearah dimana Ochobot berada. Lalu mendudukkan diri dan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, hatinya merasa tak tenang dan ia membiarkan apel yang ia makan masih tersisa setengah lagi.

Sayangnya, dalam ketakutan ia terus terjaga hingga pagi datang.

.

.

Halilintar membuka matanya yang terpejam, dilihatnya langit yang masih agak gelap walaupun fajar sudah menyingsing. Diacak-acaknya rambutnya yang tak lagi basah. Halilintar menhela napas, semalaman ia terus terjaga.

Udara dingin pagi menusuk kulitnya, ia mengeratkan selimut yang ia pakai sambil menggerutu. Tubuhnya lelah, tapi ia tak bisa mengistirahatkan diri. Halilintar berdiri dari duduknya lalu memeriksa barang-barang Taufan yang ia jemur kemarin, masih lembab.

Halilintar kembali menggerutu lalu menatap Taufan yang sejak kemarin tidak bangun. Ia sudah memastikan adiknya itu baik-baik saja dan hanya tertidur. Halilintar lalu menatap air sungai yang alirannya tak sederas kemarin saat ia menyelamatkan Taufan.

Ia lalu berjalan menuju sungai dan mencuci wajahnya. Halilintar lalu menatap keatas tebing dimana Gempa dan Ochobot berada di atas sana. Namun ia tak melihat keduanya, Halilintar berpikir mungkin mereka masih tertidur.

Merasa bosan, Halilintar melangkahkan kakinya menyusuri arah berlawanan dengan aliran sungai. Ia terus berjalan sambil menghapal jalan yang ia lewati agar mudah kembali nanti, hingga ia sampai di sebuah pemukiman penduduk. Halilintar kembali berjalan melewati jalan utama dari pemukiman itu.

Halilintar berpikir ia tak perlu lagi menaiki tebing, tapi Gempa dan Ochobot lah yang harus turun, tapi Ochobot sedang terluka. Halilintar menghela napas, lalu mengendikkan kedua bahunya. Halilintar berhenti saat melihat dua buah kota besar dibawah bukit dimana ia berada. Dua kota itu terpisah oleh hutan dan ia juga bisa melihat laut membentang luas tidak jauh dari kedua kota itu.

Halilintar tersenyum tipis, setidaknya ia menemukan sebuah jalan untuk mempercepat perjalanan mereka. Ia lalu berbalik untuk kembali menuju dimana Taufan berada.

.

.

Ochobot terbangun, ia mendudukkan dirinya dan sedikit meringis saat merasakan sakit di perutnya. Ochobot mengusap wajahnya, ia lupa bahwa ia sedang terluka. Dilihatnya Gempa terduduk membelakanginya dengan kepala tertunduk. Ochobot baru saja menebak bahwa Gempa sedang tertidur, namun ia salah saat Gempa menoleh kearahnya dan mata pemuda itu terlihat memerah dan berkantung gelap.

"Kau tidak tidur?" tanya Ochobot kaget.

Gempa menoleh, "Itu karena mereka," jawab Gempa sambil menunjukkan gundukan yang ia lihat tadi malam.

"Oh… itu hasil amukan Halilintar.." ucap Ochobot.

"Aku tahu, ngomong-ngomong Ochobot, apa yang terjadi kemarin saat aku tak sadarkan diri?" tanya Gempa.

Ochobot termangu.

.

.

"Taufan jatuh ke tebing?!" seru Gempa tidak percaya, Ochobot mengangguk.

"Dan Halilintar turun untuk menolongnya, setelah itu aku tidak tahu." Ucap Ochobot mengakhiri ceritanya.

Gempa menunduk, "Aaah! Apa yang aku lakukan?" tanya Gempa.

"Tenang saja, Gempa. Kamu itu korban pertama yang tak sadarkan diri. Jadi tak usah merasa bersalah." Jawab Ochobot.

Gempa menatapnya, "Lalu bagaimana dengan lukamu?" tanyanya.

Ochobot menatap perutnya, "Aku pikir ini tidak terlalu dalam, tapi aku merasa susah bergerak." Jawab Ochobot.

Gempa terdiam, lalu melangkah menuju ujung tebing dan melongok ke bawah, mencari-cari keberadaan kedua kakaknya. Lama ia mencari hingga melihat seseorang yang tertidur dalam kantong tidur. Mata Gempa memicing, berusaha memperjelas penglihatannya.

Ia berseru gembira menyadari bahwa itu Taufan dan ia melihat seseorang yang berjalan mendekati Taufan, Gempa kembali gembira.

"HALILINTAARR!" teriaknya keras dan berikutnya suaranya memantul beberapa kali.

Yang di panggil mendongak, Gempa melambaikan tangan, Halilintar membalasnya.

"DARI MANA SAJA, KAU?" tanya Gempa.

"AKU MENELUSURI JALAN KE ARAH SANA." Jawab Halilintar sambil menunjuk kearah dimana ia berjalan tadi, "AKU MENEMUKAN JALAN MENUJU KOTA." Lanjutnya.

"BENARKAH?"

Halilintar mengangguk, Gempa lalu menoleh kearah Ochobot.

"Bagaimana cara kita turun ke bawah?" tanya Gempa riang.

Ochobot menatapnya dengan wajah malu, "Kalian tidak perlu berteriak-teriak, suara kalian memantul beberapa kali, bikin malu aja." Jawab Ochobot.

Gempa mingkem.

"Halilintar kemarin turun lewat sisa jembatan yang putus." Ucap Ochobot kemudian sambil tertawa.

Gempa mengangguk dan berjalan kearah dimana jembatan itu berada. Lalu kembali dan mengambil tasnya.

"Heh? Mau kemana?" tanya Ochobot.

"Turun kebawah." Jawab Gempa.

"Lalu aku?" tanya Ochobot.

"Iya juga ya…" ucap Gempa dan terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Ochobot ikutan terdiam, hingga Gempa memberikan tasnya pada Ochobot. Ochobot menatapnya heran.

"Apaan?" tanya Ochobot.

Gempa jongkok membelakangi Ochobot, "Ku gendong. Kau bawakan tas ku." Ucap Gempa.

"Oh, oke." Balas Ochobot dan naik keatas punggung Gempa. Keduanya lalu berjalan kearah dimana jembatan berada.

Halilintar terkejut melihat keduanya, "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya.

"Turun ke bawah!" jawab Gempa.

"Bahaya!" seru Halilintar.

"Tenang saja!" balas Gempa, lalu menuruni satu kayu pada jembatan yang putus.

Halilintar menghela napas, "Hati-hati!" ucapnya kemudian.

Gempa terus menuruni kayu demi kayu dari jembatan itu, saat menuruni jembatan ketiga dari akhir ia tak sengaja kepleset.

"Gempa!" seru Halilintar dan Ochobot bersamaan.

Gempa tertawa, lalu mengatur pernapasannya yang tiba-tiba berderu cepat.

"Sori.." ucapnya, lalu menuruni kayu lagi. Gempa bingung saat kayu yang akan ia turuni habis, dan menggantung dua meter diatas tanah.

"Lompat saja!" seru Halilintar.

Gempa menatapnya ragu, lalu melompat ke bawah.

"Aaw!" ringis Ochobot saat perutnya terasa nyeri setelah keduanya mendarat.

Gempa menoleh, "Eh, maafkan aku, Ochobot!" serunya panik.

Ochobot turun dari punggung Gempa, Gempa dan Halilintar panik saat darah Ochobot menyebar cepat mewarnai perban diperutnya.

"Hal, gimana ini?" tanya Gempa.

"Bawa dia kesini!" jawab Halilintar lalu berjalan kearah dimana tasnya berada.

Gempa segera memapah Ochobot dan mendudukkannya di atas tanah begitu sampai di samping Taufan yang masih tertidur.

"Tolong lepas perbannya, Gempa." Ucap Halilintar sambil mengambil perban dari tasnya.

Gempa mengangguk dan melepaskan perban Ochobot dengan hati-hati, setelah selesai Halilintar segera menutup luka Ochobot dan membersihkan darah disekitar lukanya, kemudian ia membalutnya dengan perban yang baru.

"Setelah ini kita harus segera mencari dokter." Ucap Halilintar sambil memerban perut Ochobot.

Gempa mengangguk, "Bagaimana dengan Taufan? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya.

Halilintar mengangguk, "Bangunkan saja dia." Jawabnya.

"Aku sudah bangun dari tadi." suara itu membuat ketiganya menoleh.

Taufan mengacak-acak rambutnya dan wajahnya khas orang bangun tidur.

"Sejak kapan?" tanya Gempa.

"Sejak kalian berdua teriak-teriak," Jawab Taufan lalu menguap,"memalukan." lalu memeluk dirinya sendiri.

"Haahhh… syukurlah aku masih hidup…" ucap Taufan lirih.

"Kau seharusnya berterimakasih padaku." Sahut Halilintar dan membantu Ochobot untuk berbaring.

Taufan menggangguk tak niat lalu melihat pakaiannya, "Ini bukan bajuku." Ucapnya.

"Tentu saja, bajumu basah, isi tasmu juga basah." Jawab Halilintar.

"Jadi ini baju siapa?" tanya Taufan, "Baunya tidak enak," ucapnya kemudian setelah mengendus-ngendusnya.

Halilintar melemparnya dengan sendal Taufan, "Kau menghinaku? Setelah kau kutolong, kau menghina ku?" tanya Halilintar murka.

Taufan meneguk ludah kasar, "Haha… sori.." lalu segera berdiri dan melipat kantung tidurnya.

Halilintar diam.

"Kita harus segera bergegas mencari dokter." Ucap Gempa menengahi keduanya.

Halilintar dan Taufan menoleh.

"Kau benar."

"Tapi bagaimana dengan barang-barangku?" tanya Taufan sambil melihat kearah barang-barangnya yang sedang dijemur.

"Itu masalahmu." Jawab Halilintar.

Taufan menggerutu dan memeriksa barang-barangnya, "Ini belum kering benar, masih dingin," ucapnya saat memeriksa bajunya, "tapi yang ini sudah sih," lanjutnya saat memeriksa barang lainnya.

"Kalau begitu kau tinggal saja disini." Ucap Halilintar, Taufan menoleh dengan cepat.

Halilintar tak peduli dan segera memapah Ochobot, "Ayo pergi Gempa." Ucapnya pada Gempa.

Gempa mengangguk. Dan ketiganya berjalan menyusuri arah yang berlawanan dari aliran sungai meninggalkan Taufan yang melongo.

.

"Sebentar, Hal. Kau meminjamkan bajumu pada Taufan, aku pikir waktu kau menolongnya bajumu ikut basah juga, sekarang kau pakai apa?" tanya Gempa.

Halilintar menghentikan langkahnya, "…Aku masih memakai celanaku… tapi untuk atasannya aku pakai selimut ini." Jawabnya sambil menunjukkan kain yang membalut tubuhnya.

Gempa hampir saja membenturkan kepalanya ke pohon terdekat, "Nggak kedinginan?" tanyanya.

"Dingin lah," jawab Halilintar.

Gempa lalu ia mengambil kaos yang ia miliki dari tasnya dan memberikannya ke Halilintar.

"Pakai ini," ucap Gempa, Halilintar menoleh.

Keduanya lalu menukar kaos yang diserahkan oleh Gempa dengan Ochobot. Gempa berganti memapah Ochobot sedangkan Halilintar membuka selimutnya dan segera memakai kaos milik Gempa.

"Thanks." Ucap Halilintar.

Ketiganya kembali melanjutkan langkah mereka dan sampai di daerah pemukiman. Halilintar segera menghampiri salah satu penduduk di situ.

"Permisi, teman saya sedang terluka, apakah di sini ada seorang dokter?" tanya Halilintar pada seorang pria baruh baya yang lewat didepan mereka.

Pria paruh baya itu menoleh, lalu melihat kearah Ochobot dan terkejut saat melihat noda darah terlihat jelas di baju pemuda bersurai kuning itu.

"Oh! Itu sepertinya luka yang serius!" seru pria itu, "Disini tidak ada dokter, sayang sekali…..Oh tunggu!"

Pria itu lalu berbalik, "Hei! Apakah Dokter Chun Hwa masih ada disini?!" tanyanya pada orang yang sedang berleha-leha di teras rumah.

"Ya! Dia masih disini! Aku dengar dia akan kembali sore nanti!" jawab orang itu.

Pria itu kembali beralih kearah ketiganya, "Ada dokter yang datang kesini beberapa hari lalu, bersyukurlah ia masih disini, ayo saya tunjukkan tempatnya." Ucap pria itu kemudian.

Di pimpin pria itu, mereka berjalan menuju sebuah bangunan yang sederhana namun tampak paling bagus dari rumah lainnya, di atas pintu terdapat sebuah plang kayu bertuliskan 'Balai RT'.

.

"Seharusnya kalian segera membawanya kesini begitu ia mendapatkan luka ini." Ucap seorang dokter yang diketahui bernama Chun Hwa.

"Maaf, ada hal yang menghalangi kami untuk segera membawanya ke dokter." Jawab Gempa.

"Luka seperti itu harus di jahit, syukurlah dia bisa bertahan." Ucap Chun Hwa lagi.

"Apakah kita harus membayarnya?" tanya Halilintar.

"Tidak perlu, sebagai gantinya kalian harus menceritakan apa yang kalian alami nanti, oke, sekarang tunggulah diluar, saya harus segera menjahit lukanya." Jawab Chun Hwa.

Halilintar dan Gempa segera keluar dari bilik dan duduk menunggu di sebuah kursi panjang yang di sediakan di balai itu.

"Aku harap dia tidak apa-apa." Ucap Gempa.

"Tidak apa-apa kok." Sahut Halilintar.

Pria yang mengantar mereka tadi masuk kedalam balai, "Bagaimana?" tanyanya.

"Ya, luka teman kami sudah mulai di jahit, terimakasih sudah mengantar kami ke tempat ini, Pak." Jawab Gempa.

Pria itu mengangguk, "Dia dokter yang berpengalaman banyak dan juga sangat cekatan, banyak yang puas dengan kerjanya, namun orang-orang kadang heran mengapa ia tidak bekerja di rumah sakit besar." Ceritanya.

"Begitukah?"

Pria itu mengangguk, lalu mereka terdiam sebentar.

"Apa kalian di serang oleh perampok di tengah perjalanan?" tanya pria itu kemudian.

Gempa mengangguk.

"Begitu… kalian mengalami hal sulit ya…" ucap Pria itu, "tapi tidak apa-apa, masa muda adalah dimana kalian harus membuat pengalaman dan pelajaran yang bany, semangat!." Lanjutnya.

Gempa mengangguk lagi dan tersenyum, Halilintar menguap lalu berkali-kali mengerjapkan matanya, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.

"Baiklah, saya harus kembali bekerja, sampai jumpa!" ucap pria itu lalu pergi.

Gempa menoleh kearah Halilintar, "Kalau ngantuk tidur saja." Ucap Gempa padanya.

Halilintar mengangguk dan dua detik kemudian terlelap.

"Cepat sekali." Ucap Gempa, ia juga merasakan kantuk menderanya, ia berusaha untuk menahannya, namun malah jatuh tertidur.

.

.

Taufan memilah-milah barang-barangnya yang sudah kering dan memasukkannya kedalam tasnya yang sudah kering lebih dulu. Ia lalu terdiam didepan bajunya yang masih dijemur di sebelah baju Halilintar.

"Haahh… Bagaimana ini?" tanyanya.

"Kalau bajunya kumasukin tas dalam keadaan masih belum kering benar nanti malah bau…. Kalau bajuku bau, ketampananku tidak akan ada gunanya." Ucapnya bermonolog ria.

Suara nyanyian burung terdengar.

"Sepi…." Lirihnya.

Ia melihat langit dan matahari yang bersinar terang, "Dan mereka meninggalkanku sendiri dan lagi ini sudah melewati waktu—"

Kruuyuuuuukk~

"—sarapan pagi." Lanjutnya.

Taufan berjongkok di depan sungai, "Aku butuh makan, ikan, ikan, ikan," omelnya, "tapi kalau aku menangkap ikan, baju yang ku pakai akan basah, aku tidak punya baju ganti, ini merepotkan."

Taufan berdiri, lalu menoleh kesana-kemari, "Apakah tidak ada yang bisa dimakan?" tanyanya.

Lalu matanya tertuju pada tas Halilintar yang tergeletak di sebelah kantung tidur yang ia lipat sebelumnya. Taufan tersenyum menyeringai, lalu menggeledah isinya dengan bersenandung senang. Ia mendapatkan tiga buah apel di dalamnya dan mengambilnya satu.

Ia lalu berjalan lagi kearah sungai dan mencuci apel lalu memakannya.

Taufan menelan gigitan pertamanya, "Aku harus menunggu sampai kapan ini?" tanyanya nelangsa.

.

.

.

Chun Hwa merapikan alat-alat yang baru saja ia cuci dalam tas khusus miliknya, ia lalu menatap sekali lagi pada pasiennya yang baru saja ia tangani tertidur. Ia lalu mencuci tangannya dan melapnya hingga kering lalu keluar dari bilik.

"Sudah sele… walah." Chun Hwa terkejut melihat Gempa dan Halilintar tertidur pulas diatas kursi panjang.

Chun Hwa terdiam, "Ya sudahlah, biarkan mereka tidur dulu."

.

.

.

TBC

Ok, sori terpaksa saya potong sampai disini dulu, buat yang minta di ch ini Api muncul, maaf belum bisa, lain kali ya~ sori juga updet lebih lama dari yg biasanya.

Saya mau balas review dulu~

Dhea : Thanks, untuk Api dia petarung jarak jauh, Air jarak dekat. Untuk pertemuan mereka berlima sabar ya, endingnya juga ntar liat aja.

Another Guest : Iya, sama-sama udah review. Aduh, lu jatuh tangga gak papa kan? Untuk pertanyaannya udah kejawab ya. Pertanyaan terakhir maaf ya, belum bisa jawab.

Onozuka Mikado : Thanks, untuk pertanyaannya, ini gak ada yang berhubungan dengan sihir, biar beda lah sama yang lain, hehe

Guest : Maaf ya, di chapter ini Air belum bisa muncul~

itu tidak penting : Iya, saya gak pake kekuatan mereka ntar susah nanti lagi pula pake kekuatan2 gitu bikin saya geli. Wong saya nonton Boboiboy aja ngakak mulu, gak peduli suasananya bagaimana XD

Fajrin : Maaf ya, Api belum bisa keluar di ch ini…

Thiahhhh : Maaf ya, Api belum bisa keluar di ch ini…

Azure : Iyap, sama-sama~

Buat yang udah review kemarin terimakasih~ yang baca ch ini juga trimakasih~ jangan lupa review lagi ya~ koment, kritik, pertanyaan saya tunggu! m(_ _)m

Sampai jumpa~

(0~0)/