Under The Sky [Ch. 8]
AU, Adventure, Family,
Rated T
Warn : Typos, OOC, No Pair
Boboiboy dkk punya animonsta. Yang punya cerita saya, sedikit terinspirasi dari anime Akatsuki no Yona, tapi keseluruhan cerita sangat banyak berbeda, tapi bukan berarti gak ada yang sama, ada sedikit lah.
Thanks buat Boboiboy dan Akatsuki no Yona
Just for Fun!
.
.
Gempa terbangun saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya, ia mendongak menemukan dokter Chun Hwa di hadapannya.
"Oh, kau sudah bangun?"
Gempa mengangguk, lalu menyentuh tengkuknya.
"Leher mu perlu di kompres." Ucap Chun Hwa saat melihat Gempa menatapnya dengan heran.
Gempa mengangguk, lalu melihat ke sampingnya dan tak mendapatkan Halilintar yang sebelumnya duduk di sebelahnya.
"Kau mencari kakak mu?" tanya Chun Hwa.
"Ya, kemana dia?" tanya Gempa balik.
"Baru saja pergi keluar setelah menceritakan apa yang kalian alami…" jawab Chun Hwa.
"Oh, dia sudah menceritakannya…." Ucap Gempa, "Lalu, bagaimana dengan Ochobot?" tanyanya.
"Temanmu baik-baik saja, mau melihatnya?" Chun Hwa menunjuk ke arah bilik dengan jempolnya.
Gempa mengangguk dan segera bangkit lalu berjalan memasuki bilik. Terlihat Ochobot sedang membaca buku sambil tiduran.
"Halo." Sapa Gempa.
Ochobot menutup bukunya, "Oh, Halo." Jawab Ochobot.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gempa.
"Baik, dokter menyarankan ku untuk tidak berjalan dulu selama dua hari karena kalau tidak jahitannya akan terbuka." Jawab Ochobot.
Gempa duduk di kursi yang di sediakan, "Jadi kita harus menunggu dua hari ya… tapi apa itu boleh? Bangunan ini milik warga disini, dan dokter juga akan kembali ke rumahnya nanti sore." Ucap Gempa.
"Tenang saja! Dokter sudah minta izin sebelumnya pada ketua RW dan dia juga sudah memberikanku bubuk obat." Sahut Ochobot.
Gempa mengangguk mengerti.
"Halilintar mana?" tanya Ochobot.
"Mungkin menjemput Taufan." Jawab Gempa.
"Hm… ngomong-ngomong, apa Taufan baik-baik saja?" tanya Ochobot.
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi kata Halilintar ia tidak apa-apa." Jawab Gempa.
Ochobot mengangguk.
.
.
.
.
"Hatchhuuu…!" Taufan bersin, "Haah… Hatchhuu…! Haduh ada yang sedang bicarain aku…" ucap Taufan.
Taufan masih saja duduk bersila di atas batu besar, mengusap-usap hidungnya yang memerah karena bersin.
"HUUAATTCCHHUU!" bersin lagi.
"Aku rasa tidak ada yang membicarakanku…" Taufan bermonolog lagi.
Taufan merebahkan badannya di atas batu, menatap langit cerah di atasnya, matahari bersinar cerah dan cukup terik.
"Aku bakal menunggu sampai kapaan? Aduh, silau.." ucap Taufan, lalu duduk lagi.
"Oh ya, kalau aku berjemur gini kulitku bakal hitam, aduh jangan deh.. nanti ketampananku gak ada gunanya." ucapnya lalu turun dari batu.
Taufan mengecek lagi barang-barangnya yang masih dijemur, ia tersenyum senang saat mengetahui bajunya sudah kering benar. Lalu ia pun melipatnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Melihatmu benar-benar membuatku iritasi." Taufan berjengit kaget, lalu menoleh dan mendapati Halilintar yang berdiri sambil menyilangkan tangannya.
"Sejak kapan kau di situ?" tanya Taufan.
"Sejak kau…." Jawab Halilintar, "kalau aku berjemur gini kulitku bakal hitam, aduh jangan deh…" lanjut Halilintar sambil mengikuti gaya bicara Taufan sekaligus gerak geriknya, "Kau macam banci yang pernah aku lihat beberapa bulan yang lalu." Ucapnya kemudian.
Taufan melempar nya dengan kerikil, "Sialan, aku jauh beda dengan mereka." Ucap Taufan.
"Tidak, kalian sama."
"Beda."
"Sama."
"Beda!"
"Sama."
"Beda!"
"Sama!"
"Cih!" Taufan melempar bumerangnya kearah Halilintar, Halilintar dengan sigap menghindar.
Taufan menangkap bumerangnya lalu melemparnya kembali kearah Halilintar, Halilintar kembali menghindar, terus berkali-kali hingga Halilintar menangkap bumerang yang di lempar Taufan.
Taufan tertawa keras, "Kau lihat?! Aku seperti habis melempar sebuah tulang kearah anjing dan anjing itu menangkapnya! Hahahaha!" serunya.
Halilintar tertawa remeh, "Hahaha! Kau berani menghina ku, banci?!"
"Banci bahkan lebih bagus daripada seekor anjing!" seru Taufan.
"Oh! Berarti kau mengaku dirimu banci, bukan?!" tanya Halilintar.
Taufan menatap Halilintar kesal, Halilintar tertawa penuh kemenangan, lalu terdiam beberapa detik kemudian. Ia lalu berjalan ke arah bajunya yang di jemur dan mengangkatnya.
"Oh, ini sudah kering syukurlah." Ucap Halilintar lalu mengambil tasnya dan memasukkan bajunya begitu saja kedalam tas.
"Berterimakasihlah padaku karena sudah menjaganya." Ucap Taufan.
Halilintar menoleh dan menatapnya sengit, "Kau mengingau? Siapa yang harus berterimakasih disini, hah?!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Tidak!" seru Halilintar lalu mengambil kantung tidurnya dan menatap Taufan marah, "sudah! Rapikan barangmu, dokter sudah menunggumu." Ucapnya kemudian.
"Apa? Dokter?" tanya Taufan.
"Ya," jawab Halilintar, "atau kau takut untuk berobat ke seorang dokter?" tanya Halilintar, menyeringai.
"Hah, tidak." Jawab Taufan sambil memungut barang-barangnya yang tadi di jemur dan memasukkannya ke dalam tas, "memangnya aku dirimu?"
"Gak salah?" tanya Halilintar balik sambil merapikan jemuran yang ia buat kemarin.
Setelah semua rapi, keduanya mulai berjalan menuju pemukiman penduduk dan tidak berhenti saling mengejek satu sama lain. Hingga akhirnya mereka memasuki balai dan mendapatkan pukulan di kepala masing-masing satu dari Chun Hwa.
"Dilarang berisik." Ucap Chun Hwa.
"Maafkan kami." Jawab keduanya sambil menunduk.
Chun Hwa lalu menatap kearah Taufan, "Oh, jadi ini yang hampir keseret arus?" tanyanya.
"Bukan hampir, tapi memang sudah keseret, dok." Jawab Halilintar.
Taufan mentapnya sengit, "Ap—"
"Jangan berisik," Ucap Chun Hwa, Taufan diam, "ayo ikuti saya." Ucapnya kepada Taufan.
Taufan mengangguk.
.
Gempa menatap kearah Chun Hwa yang sedang memeriksa keadaan tubuh Taufan.
"Dia tak apa-apa, dok?" tanya Gempa saat Chun Hwa selesai memeriksa Taufan.
Chun Hwa mengangguk, "Ya, dia tidak apa-apa."
Taufan tersenyum lebar, "Terimakasih dok~"
"Sama-sama.."
Taufan lalu berdiri dan melangkah menuju Ochobot yang terbaring, "Ochobooot~ Bagaimana keadaanmu?" tanya Taufan.
"Aku baik. Syukurlah kau tidak apa-apa." Jawab Ochobot.
"Siapa juga yang menolongnya." Sahut Halilintar yang baru saja masuk kedalam bilik.
Taufan menoleh sengit, "Aku tidak memintamu!"
"Tapi kau berharap untuk di tolong, bukan?!" tanya Halilintar tak kalah sengit.
"Sudahlah, kenapa kau tak berterimakasih saja pada Halilintar? Jika dia tak menolongmu mungkin kau takkan ada disini." Sela Gempa.
Taufan menoleh ke arah Gempa, "Baiklah!" lalu menoleh kearah Halilintar, "Makasih sudah menolongku!" seru Taufan tidak niat.
"Kurang tulus, pijat bahuku sekarang." Sahut Halilintar dan membalikkan tubuhnya.
Taufan merutuk kesal dan segera memukul-mukul punggung Halilintar dengan sikunya.
"ARRGHH!"
"Rasakan."
Keduanya lalu bergelut, Ochobot menghela napas, Chun Hwa menatap mereka datar.
"Taufan, Halilintar, hentikan!" seru Gempa berkali-kali lalu menyerah karena tak bisa menghentikan kedua saudara tertua.
"Hei, aku sudah berkata kepada kalian berdua… Jangan berisik!" seru Chun Hwa kemudian.
Taufan dan Halilintar berhenti, "Maafkan kami…."
.
.
=CoffeyMilk=
.
Dua hari berlalu begitu cepat, Dokter Chun Hwa bahkan sudah kembali menuju rumahnya. Mentari pagi kembali menyinari bumi, sinarnya yang masuk kedalam celah-celah jendela tempat dimana tiga saudara tertidur pulas. Gempa membuka matanya lalu terduduk, udara dingin pagi langsung menyapanya.
"Sudah pagi…. Dingin…" ucap Gempa parau, lalu keluar dari kantung tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi di ujung ruangan.
.
Halilintar terbangun dan mendapati kantung tidur milik Gempa kosong. Ia lalu bangkit dan melipat kantung tidurnya dan kantung tidur milik Gempa, lalu menendang Taufan agar terbangun.
"Aduh! Iya-iya! Aku bangun!" seru Taufan dan duduk sambil meringis kesakitan.
Taufan lalu bangkit dari kantung tidurnya dan melipatnya dan memasukkannya ke tas. Ia lalu berlari terbirit ke kamar mandi setelah Gempa keluar dari kamar mandi.
Gempa menatap pintu yang ditutup Taufan heran, lalu menoleh kearah Halilintar.
"Ada apa dengannya?" tanya Gempa.
"Kebelet kali." Jawab Halilntar sambil mengendikkan bahunya lalu berjalan kearah bilik.
"Ochobot kau sudah bangun?" tanya Halilintar sambil melihat kedalam bilik.
Ochobot masih tertidur.
"Dia masih tidur.." ucap Gempa, ikutan melihat ke dalam bilik.
"Ya sudah, kita tunggu dia bangun sambil menyiapkan sarapan." Sahut Halilintar lalu masuk kedalam kamar mandi setelah Taufan keluar.
.
.
.
"Ah.. makan masakan Halilin lagi," keluh Taufan.
Halilintar mendelik mendengarnya.
"Hah? memangnya kenapa? Kan masakan Hali enak." Ucap Gempa, heran.
"Tidak. Aku ingin masakan Ochobot." Ucap Taufan.
"Ya, lain kali saja." Sahut Gempa sambil mengendikkan bahunya dan melanjutkan makan.
Halilintar makan dalam diam, mencoba untuk tidak menghajar Taufan. Ochobot keluar dari dalam bilik. Ketiga kembar terkejut dan menghentikan makan mereka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gempa.
"Huh? Berdiri. Memangnya tidak boleh?" tanya Ochobot datar.
"Lalu bagaimana dengan lukamu?" tanya Taufan.
Ochobot menepuk pelan perutnya, "Sudah tidak apa, lagi pula kita harus mencari rumah klan Li, bukan?" tanya Ochobot.
"Tidak. Tidak. Tidak. Kau masih harus beristirahat, Ochobot." Ucap Taufan.
"Taufan benar, kita tidak perlu terburu, santai saja." Ucap Halilintar.
"Tidak ah, berbaring berhari-hari itu membosankan." Balas Ochobot dan duduk di sebelah Halilintar.
"Tapi bagaimana jika jahitannya terbuka?" tanya Gempa.
"Tenang saja." Jawab Ochobot dan mengambil semangkuk bubur yang diberikan Halilintar.
Taufan, Gempa, dan Halilintar saling menatap satu sama lain lalu kembali melanjutkan makan.
.
.
=CoffeyMilk=
.
.
Setelah mereka meminta izin pada ketua RW untuk berterimakasih dan pergi menuju kota, mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Mereka berhenti saat melihat dua kota yang terpisah oleh hutan.
"Jadi itu kotanya? Luas sekali…" tanya Ochobot.
"Yup, untuk menuju kota pertama kita harus menuruni bukit ini dulu." Jawab Taufan.
"Dan butuh setengah hari untuk sampai ke kota. Ayo mulai jalan!" seru Gempa.
"Itu wilayah terbuka di tengah hutan itu apaan?" tanya Ochobot saat melihat bagian tengah hutan tidak ada pohon-pohon yang tumbuh seperti pohon lainnya.
"Ntahlah, sudah ayo." Jawab Gempa.
.
.
"Seperti yang kita lihat waktu diatas bukit tadi, wilayah kota ini cukup luas. Jadi.. bagaimana kita harus menemukan rumah klan Li?" tanya Gempa.
Halilintar dan Taufan menggeleng, Ochobot berpikir.
"Bagaimana jika kita berpencar? Hali dengan Taufan, aku dengan Gempa." Saran Ochobot.
Halilintar dan Taufan sontak menoleh kearah Ochobot dengan raut wajah horor. Gempa tersenyum puas.
"Ide bagus, Ochobot! Oke! Kita berpencar!" seru Gempa.
"T—tunggu, Ochobot." Ucap Taufan.
"Ya?"
"Kau serius menyuruhku pergi dengan Halilin?" tanya Taufan tidak terima.
Ochobot tersenyum lucu, "Yap! Oh ya, jangan berkelahi ya, jangan buat masalah di dalam kota juga!" jawab Ochobot.
Lalu Gempa dan Ochobot mengambil jalan yang berbeda. Halilintar dan Taufan terdiam. Beberapa menit kemudian Halilintar menghembuskan napasnya dan berjalan.
"Woy! Tunggu!"
.
.
.
"Haahh… Jarang sekali ada gadis cantik disini… Pesonaku jadi tidak ada gunanya disini…." Keluh Taufan sambil memijat kepalanya.
Halilintar menatapnya datar mendengar ocehan Taufan dari tadi. Sudah sejam lebih mereka berjalan, tapi tak menemukan sama sekali sebuah rumah besar bertulisan 'Klan Li'. Kota cukup ramai, beberapa orang tampak sibuk dengan kegiatan jual-beli mereka. Halilintar juga melihat beberapa orang yang berseragam sama dimana-mana.
"Taufan." Panggilnya.
Taufan menyudahi keluhannya, "Apa?"
"Siapa orang-orang berseragam itu?" tanya Halilintar, "mereka ada dimana-mana dan membuatku sakit mata." Lanjutnya.
"Ohh… itu, mereka petugas dari salah satu pemerintah di kerajaan," jawab Taufan sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala, "katanya sih mereka bukannya menjaga ketertiban tapi malah suka berbuat hal yang semena-mena. Terutama untuk beberapa orang-orang lemah termasuk wanita, karena itulah aku jarang melihat banyak gadis disini." Lanjutnya panjang.
Halilintar mengangguk, ia juga menyadari tak banyak wanita yang berkeliaran dikota. Keduanya terus berjalan, beberapa kali melewati rumah-rumah besar untuk mencari keberadaan rumah yang mereka cari, bahkan setelah berjam-jam mereka tak menemukannya.
"Ayo kita cari makan dulu, aku lapar." Ajak Taufan.
Halilintar mengangguk, mereka berjalan menuju jalan utama dan mencari sebuah kedai untuk mengisi perut mereka.
"Tolong, hentikan! Kumohon!"
Sebuah teriakan wanita menghentikan langkah keduanya dan mereka melihat seorang gadis yang di ganggu dua orang petugas.
"Ayolah! Ikut kami!" seru salah satu dari mereka.
Gadis itu terlihat panik.
"Kau bisa meminta bayaran kepada kami sebanyak yang kau mau! Kami bisa membayarnya!" sambung yang lain.
"Ti—tidak!" teriak gadis itu.
Halilintar dan Taufan saling pandang, mereka lalu melihat orang-orang disekitar gadis itu, orang-orang tampak ketakutan dan tak berani untuk membela gadis itu.
"Aku akan menolongnya!" seru Taufan.
"Tidak, jangan. Kalau kau menolongnya, kita bakalan jadi buronan." Sahut Halilintar sambil mencekal lengan Taufan.
"Tapi mereka mengganggu seorang gadis! Dan itu tak sesuai prinsipku yaitu wanita adalah makhluk yang harus dilindungi!" balas Taufan.
Halilintar terdiam, "Kau benar.." ucapnya lirih.
Keduanya lalu berlari ke arah salah satu petugas dan memukulnya. Si gadis tampak terkejut, penjaga yang dipukul tadi terlempar dan terjatuh. Petugas yang lain menatap Halilintar dan Taufan dengan marah, dia mencabut pisau dari sarung di ikat pinggangnya dan berlari sambil menghunuskannya.
"Apa-apaan kalian?!" teriaknya marah.
Halilintar segera menangkisnya dengan menangkap lengan petugas itu dan memelintirnya, petugas itu mengaduh kesakitan dan menjatuhkan pisaunya, Halilintar segera menendang pisau itu jauh jauh.
"Kalian mengganggunya lalu marah kepada kami, huh?" tanya Halilintar sambil menatapnya tajam, lalu menendangnya hingga terlempar beberapa meter.
Beberapa petugas yang lain datang, "Ribut-ribut apa ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Walah!" Taufan berseru dan segera memegang tangan gadis tadi dan berlari, "Kabuuurrr!"
"Kejar mereka!"
Beberapa petugas mengejar ketiganya, mereka masuk kesebuah gang kecil lalu keluar dari gang dan berlari lagi menembus beberapa celah toko dan rumah. Hingga para petugas tak dapat menemukan mereka.
Taufan melepaskan pegangannya dari tangan si gadis, "Aaah, itu tadi bahaya sekali." Ucapnya.
Halilintar mengangguk sembari berjaga-jaga apabila petugas menemukan mereka.
"Maaf.." si gadis bersuara sambil mengangkat kepalanya, mata sipit menghiasi wajah orientalnya, "Anu, terimakasih." Ucapnya.
Taufan tersenyum, "Tidak apa, sudah tugasku untuk membantu gadis yang sedang kesulitan." Ucapnya dengan aura blink-blink disekitarnya.
Gadis itu tertawa, "Jadi, bolehkah saya pergi sekarang? Saya sedang terburu." Ucapnya.
"Eeh? Kau sudah mau pergi?" si gadis mengangguk, "Apakah kau mau kutemani?" tanya Taufan.
Gadis itu menggeleng, "Tidak-tidak apa. Rumahku sudah dekat dari sini." Jawabnya kemudian.
Taufan mengangguk, "Baiklah hati-hati!" gadis itu mengangguk dan tersenyum.
Keduanya melihat gadis itu berjalan dan perlahan menghilang dari balik bangunan.
"Sebentar," ucap Halilintar, "bukankah itu menuju hutan?" tanyanya saat melihat beberapa pohon lebat dari arah kepergian si gadis.
Taufan menepuk keningnya, "Oh, ntahlah, mungkin rumahnya di dekat hutan."
.
.
.
"Aku melihat mereka, Gempa!" seru Ochobot.
Gempa menoleh, lalu mengikuti Ochobot yang berlari kearah Halilintar dan Taufan yang sedang berdebat.
"Gadis itu mencurigakan!"
"Apa kau tidak bisa menahan prasangka burukmu?"
Ochobot menatap keduanya jengah, "Apa yang kalian debatkan?" tanyanya.
Halilintar dan Taufan menoleh, "Ah, tidak apa-apa.." jawab Taufan.
"Aku mendengar kalian menyebutkan kata 'gadis', ada apa?" tanya Ochobot.
"Tidak ada, sudahlah, Ochobot. Sekarang apa kalian sudah makan?" tanya Taufan.
"Hmm… belum." Jawab Gempa.
"Baguslah, kalau begitu kita cari kedai makanan di dekat sini!" seru Taufan.
.
.
"Jadi apa kalian menemukannya?" tanya Gempa.
Halilintar dan Taufan menggeleng.
Gempa menghela napas, "Kami juga…"
Kini mereka berada dalam sebuah kedai dan baru saja menghabiskan makanan yang mereka pesan di tempat itu. Gempa kemudian mengambil peta dari tasnya dan menggelarnya diatas meja.
"Bibi Mira melingkari dua wilayah ini dan salah satunya kota ini," ucap Gempa lalu menunjuk peta, "apakah kita harus memeriksa kota sebelah juga?" tanya Gempa.
"Eeehh… itu melelahkan…" komentar Taufan.
"Ini karena bibi Anna tidak mau memberitahu lokasi sebenarnya.." ucap Ochobot.
"Itu karena Mom suka petualangan." Jawab Taufan.
Halilintar terdiam sambil meminum teh-nya. Suasana menjadi hening hingga Halilintar menaruh gelas teh-nya diatas meja.
"Mungkin maksudnya apa yang kita cari berada di perbatasan dua kota itu." Ucap Halilintar.
Ketiganya menoleh kearahnya.
"Perbatasan dua kota ini, berarti…hutan?" tanya Taufan.
"Ingat yang aku tanyakan tentang wilayah terbuka di hutan tadi pagi? Mungkin rumah Klan Li di wilayah itu." Celetuk Ochobot.
"Iya sih…" ucap Gempa.
"Berarti gadis yang kita tolong tadi salah seorang dari Klan Li!" seru Taufan.
"Gadis?" tanya Gempa.
"Err… ya, kami tadi menolong seorang gadis yang diganggu para petugas, lalu setelah itu ia pulang menuju hutan." Jawab Taufan.
"Petugas? Oh orang-orang yang memakai seragam sama yang buat sakit mata itu ya?" tanya Gempa.
"Kenapa kau sepikiran dengan Halilin?" tanya Taufan balik.
"Hah?"
"Oke, jadi kita nanti harus ke hutan untuk mencari rumah Klan Li?" tanya Ochobot.
"Tapi apa benar ada di hutan?" Jawab Gempa.
"Yah, kita coba aja. Toh nanti kalau tidak ada kita masuk ke kota sebelah." Sahut Taufan.
.
.
.
Ketiganya berjalan di tengah hutan, hari semakin menggelap dan Taufan mulai mengeluh.
"Taufan, kumohon diamlah." Pinta Gempa.
"Tapi kapan kita menemukannya? Hari sudah gelap…" ucap Taufan.
"Yah, kita coba saja. Toh nanti kalau tidak ada kita masuk ke kota sebelah. Kau mengatakannya dengan tenang, bukan? Peganglah kata-katamu sendiri." Ucap Halilintar pedas.
Taufan mendecih sebal dan menggerutu menyumpahi Halilintar.
Gempa mengambil obor dari tasnya, "Apa kita harus menyalakannya?" tanyanya sambil menunjukkannya pada tiga orang di belakangnya.
"Emm… ya boleh.." jawab Ochobot.
"Nyalakan! Nyalakan!" seru Taufan.
"Penyakit takut gelapmu itu membuatku kesal." Celetuk Halilintar.
"Halilin, diam!" seru Taufan.
Gempa baru saja mau menghidupkan obornya jika tidak mendengar teriakan seorang gadis.
"Lepaskan!"
Keempatnya menoleh, mendapati seorang gadis yang memberontak dari seseorang yang mencekal tangannya.
"Ah, itu gadis yang tadi." ucap Taufan, lalu menghampiri gadis itu dan orang di sebelahnya.
"Ada apa ini?" tanya Taufan.
Si gadis menoleh, "Ah, anda yang tadi. maaf, tapi bisakah anda membantuku? Preman satu ini memaksaku untuk ikut dengannya." Ucap Gadis itu.
"Oke!" ucap Taufan, lalu melepaskan cekalan tangan si preman dari lengan si gadis.
"Hey, tidak baik mengganggu seorang gadis yang sedang sendirian." Ucap Taufan kemudian dengan senyum menghias di wajahnya, sebuah senyum keji.
Si preman bergidik takut dan segera berlari menjauh. Taufan lalu beralih pada si gadis.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Taufan.
"Ya. Terimakasih lagi!" seru Gadis itu lega.
"Tapi.. kenapa kau ada disini? Kau bilang kau akan pulang tadi?" tanya Taufan.
"Ya, rumahku di dekat sini." Jawab gadis itu.
Gempa, Ochobot dan Halilintar segera mendekati keduanya, Gadis itu terkejut saat melihat dua orang yang berwajah sama dengan Taufan.
"W—woww," Ucap Gadis itu, "apa kalian ini kloningan?" tanyanya.
"Apa itu kloningan?" tanya Gempa.
"Ah tidak." Jawab gadis itu.
"Maaf," ucap Gempa, "apa kau dari Klan Li?" tanyanya.
Gadis itu tampak terkejut, "Kenapa kau tahu?" tanyanya balik.
"Kau dari Klan Li? Syukurlah!" seru Gempa.
Gadis itu menatapnya heran.
"Ah, maaf, saya Gempa," ucap Gempa, lalu menunjuk Taufan, "dia Taufan, kakak kedua," Gempa menunjuk Halilintar, "dia Halilintar, kakak pertama," kemudian menujuk Ochobot, "dan ini Ochobot."
"Salam kenal.." ucap keempatnya.
"O—oh, salam kenal juga, saya Li Ying," Balas gadis itu, "lalu ada urusan apa kalian dengan Klan Li?" tanya Ying.
"Emm… kami mencari salah satu saudara kami, mungkin kami bisa berbicara juga dengan Tuan Li Xiao?" tanya Gempa.
"Oh, Ayah sedang pergi bertugas sejak setahun yang lalu. Sedangkan kakak ku akan pulang besok hari," jawab Ying.
"Oh, begitu…" ucap Gempa kecewa.
"Hmm.. gimana kalau kalian menginap dulu untuk malam ini? Kalian lelah bukan? Sepertinya kalian dari tempat yang jauh.." Ucap Ying.
"Boleh?" tanya Gempa, beseri.
"Ya, kebetulan kakakku pergi karena ada sebuah keperluan, kekuasaan terbesar jatuh kepadaku selama dia pergi." Jawab Ying.
.
.
.
Mereka sampai di depan sebuah tembok tinggi dengan gerbang ala Cina, di hias oleh dua ekor patung naga merah di atasnya, di sebelah kanan kiri ada seorang penjaga. Ying membuka pintu gerbang ganda di hadapannya dan mempersilahkan keempatnya masuk.
"Selamat datang di kediaman Klan Li." Ucap Ying.
Mata mereka terbelalak saat melihat begitu besarnya kediaman Klan Li.
"Aku tidak habis pikir ternyata rumah Klan Li benar-benar di tengah hutan." Ucap Ochobot, terpana dengan megahnya kediaman Klan Li.
"Sebelumnya kediaman Klan Li berada di kota, tapi sejak pergantian kerajaan 12 tahun lalu, kediaman Klan Li di pindah. Lagi pula pengikut kami semakin hari semakin banyak." Sahut Ying.
Mereka berjalan menuju gedung utama, di tengah jalan mereka disapa oleh beberapa pemuda dan pelayan wanita dengan ramah. Dan mereka balas menyapanya.
Jalan menuju gedung utama cukup jauh, di sisi kanan kiri jalan yang mereka lewati terdapat taman dengan dua buah gazebo. Lalu mereka melihat seorang yang sedang bermain seruling di gazebo, rambutnya panjang di ikat dan disampirkan ke bahu.
"Permainan yang bagus, mendengarnya membuatku tenang.." komentar Ochobot saat mendengar merdunya permainan seruling orang itu, Halilintar mengangguk setuju.
"Oh, itu hobinya jika sedang senggang dan orang-orang tak berani mengganggunya, kau benar mendengar permainannya bisa membuat diri kita tenang." Sahut Ying.
Mereka lalu sampai di gedung utama dan terus berjalan tanpa menyadari seseorang menatap mereka hingga mereka hilang di balik dinding.
"Bukankan Tuan Li Xiao ketua klan? Kenapa dia pergi selama setahun?" tanya Gempa.
"Oh, bukan! Ayah bukan ketua klan lagi, jabatan ketua klan sudah di pegang Kakak saya!" jawab Ying.
"Begitu," ucap Gempa kemudian.
"Kalian bisa bertemu dengannya besok." Lanjut Ying lagi.
.
.
.
TBC~
Saya balik lagi sori kalau upddet telat ya~, disini Ying mucul, haha.. btw, ada yang bisa nebak siapa kakaknya? :3 Dan lagi, disini saya udah ngeluarin satu Bobiboy lainnya, ada yang tau siapa? :3
Saya mau balas review dulu~
Buat Onozuka Mikado (namamu mengingatkanku dengan tokoh utama Durarara, btw) : si Taufannya gak apa kok/tunjukatas/ idenya bagus! Kapan-kapan saya tampilin coba. Thanks! tapi musuh yang dikatakan Kyoshi gak semuanya jahat, ada beberapa yang nanti mihak mereka. Hehe :3
Buat Fajrin : ini udah lanjut~
Buat Guest : saya gak tau mau berapa chapter ini, tapi kalau say perkirakan mungkin sampai lima belasan mungkin ya, atau bisa juga kurang.
Buat Azure : Iya, Hali bisa diandalin, tapi ntar gak cuma dia kok. Btw, untuk panggilan 'Hal' itu aku lagi rindu sama tokoh dari manga 'SWITCH' hehe/gakgitujugakeles, situ fujo? Sama XD. Waah~ nonton Magi juga~ saya juga bayangin Gempa rada kaya Alibaba trus Ochobot jadi Aladin, udahlah. Btw, magi sisen 3 tahun ini ada g ya? ._. Panjang banget ini, udah ah.
Buat Otaku sesat : Maaf ya, untuk idenya gak bisa, soalnya saya sudah nyantumin 'no pair' di ff ini
Thanks buat yang uda review kemarin! Jangan lupa review lagi ya~ thanks juga udah baca chapter ini~ :3
Adios!
A/N : oh ya, buat kedepannya saya minta maaf kalau gak bisa updet kilat ya~ /bow
