Under The Sky [Ch. 9]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family
OOC, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
Pagi hari jam menunjukkan pukul sembilan, kediaman Klan Li tampak ramai dikarenakan ketua Klan Li yang baru saja pulang setelah pergi ke ibukota.
Gempa, Taufan, dan Ochobot tampak mengintip dari balik dinding dan melihat sang ketua klan yang di sambut oleh beberapa pelayan, dibelakangnya terdapat bodyguard yang mengikutinya.
Gempa lalu melihat Ying yang berlari menuju si ketua klan, "Selamat datang, kak." Ucapnya pada pemuda itu.
"Aku pulang Ying, bagaimana keadaan disini selama aku pergi?" tanya pemuda itu, keduanya lalu berjalan menuju kearah Gempa dkk yang bersembunyi di balik dinding.
"Semuanya baik-baik saja," jawab Ying, "oh, ya. Dan aku mendapat beberapa tamu." Lanjutnya.
"Tamu?" tanya sang kakak.
Ying menatap Gempa dan menyuruh mereka semua untuk keluar dengan sekali lambaian tangan. Gempa pun segera berjalan menuju kearah kakak beradik itu diikuti oleh Ochobot dan Taufan. Si ketua klan tampak terkejut saat melihat wajah Gempa dan Taufan.
"Mereka telah menolongku dua kali, jadi sebagai rasa terimakasih, aku membawa mereka kesini. Lagi pula mereka sedang mencari saudara mereka." Ucap Ying.
"Yang ini Gempa, lalu yang kuning itu Ochobot, ini Taufan." Lanjut Ying sambil menunjuk mereka satu persatu, "Em.. kemana Halilintar?" tanya Ying karena tak melihat Halilintar di sekitar mereka.
"Halilin lagi ke toilet." Jawab Taufan, Ying mengangguk.
"Salam kenal," ucap Gempa pada si ketua klan.
Si Ketua klan tersenyum, "Salam kenal juga, aku Li Fang, ketua Klan Li yang ke lima belas, sekaligus kakak Ying." Ucapnya kemudian sambil mengangguk hormat.
Gempa mengangguk.
Seorang pelayan mendatangi Fang sambil membawa sebuah nampan kosong, Fang segera menaruh tas yang ia bawa diatas nampan itu juga sarung tangannya.
"Tolong bawa ke ruang kerjaku." Ucapnya, pelayan itu mengangguk dan pergi.
Fang beralih lagi kearah Gempa, "Kebetulan disini ada orang yang memiliki wajah sepeti kalian berdua." Ucapnya sambil menunjuk Gempa dan Taufan.
"Siapa?" tanya Gempa.
"Ehm, bolehkah jika kita berbicara saja di ruang tamu?" tanya Fang balik.
"Oh, oke."
Lalu mereka berjalan menuju sebuah ruangan terbuka yang terdapat beberapa sofa di dalamnya. Fang pun mempersilahkan mereka untuk duduk setelah ia duduk di sofanya. Gempa dkk mengangguk.
"Kau tidak memberi tahu mereka, Ying?" tanya Fang pada adiknya.
"Hoh, aku lupa. Padahal tadi malam kami melewatinya." Jawab Ying sambil cengengesan.
Fang mengangguk. Ying lalu berjalan kearah pelayan dan menyuruhnya untuk mengambil beberapa gelas teh dan makanan ringan, pelayan itu mengangguk dan pergi. Lalu gadis itu pun pergi dari ruangan itu, berniat untuk mencari Halilintar.
.
.
.
Halilintar menghela napas sambil keluar dari toilet. Ia menyadari adik-adiknya menghilang ntah kemana dan meninggalkannya saat ia pergi ke toilet. Halilintar memperhatikan sekitarnya, kediaman Klan Li baginya luas sekali, pasrah, Halilintar pun melangkahkan kakinya menurut instingnya.
Langkahnya terhenti saat mendengar alunan suara seruling seperti yang ia dengar tadi malam. Ia mencari sumber suara dan mendapati seorang yang sedang duduk di kursi lorong yang ia lewati. Halilintar berjalan mendekat, ia menyadari bahwa orang yang bermain seruling itu seorang pemuda.
Merasa di perhatikan, pemuda itu menyudahi permainan serulingnya. Lalu mendongak dan mendapati Halilintar yang menatapnya.
.
Pemuda itu mendongak dan bisa Halilintar lihat wajah datar pemuda itu. Helaian rambut panjang pemuda itu diikat dan disampirkan di bahu.
"Halo, kakak tertua, lama tak berjumpa." Ucap pemuda itu lirih, masih dengan wajah datarnya.
Halilintar mengerjap, ia baru sadar kalau wajah mereka mirip, rambut pemuda itu sedikit membedakan penampilannya.
"Air?" tanya Halilintar.
"Ya, Aku Air, tapi orang-orang disini memanggilku Shui." Jawabnya.
Halilintar membuka mulutnya, lalu mengatupkannya. Ia melirik kearah lain lalu kembali menatap Air.
"Rambutmu.." ucap Halilintar.
Air melirik rambutnya, "Oh ini.. aku hanya malas untuk memotongnya, tenang saja, nanti juga kupotong.."
Halilintar mengangguk, "Apa kau… baik?" tanya Halilintar.
"Tentu saja, kau tidak lihat? Kau sepertinya juga baik-baik saja." Jawab Air.
"Ya." Ucap Halilintar, lalu duduk di sebelah Air.
"Mana yang lain?" tanya Air.
"Mereka pergi ntah kemana, aku ditinggal waktu ke toilet tadi." jawab Halilintar.
"Mau mencari mereka?" saran Air.
"Boleh."
Keduanya lalu berjalan menelesuri lorong demi lorong hingga bertemu dengan Ying yang sedang mencari Halilintar.
"Oh, kau bersama Shui." Ucap Ying saat melihat keduanya.
"Ada apa?" tanya Halilintar.
"Kalian mencari Gempa dan yang lain kan? Ayo." Jawab Ying.
Keduanya mengangguk dan mengikuti Ying menuju ruangan dimana Gempa dan yang lain beserta kakaknya berada. Orang yang berada di ruang tamu itu menyadari Ying kembali dengan Halilintar di belakangnya bersama dengan Air.
"Hali, siapa di sebelahmu?" tanya Gempa.
Ying menggeser dirinya agar tak menutupi keberadaan Air disitu. Gempa lalu berdiri saat melihat Air dan berjalan ke arahnya.
"Halo, kakak ketiga, kakak kedua, lama tidak berjumpa." Ucap Air sopan.
Gempa menganga, "Kau Air?" Air mengangguk, "tapi tunggu, kakak ketiga? Kedua?" tanya Gempa heran.
Air menatapnya tanpa dosa, "Aku lupa dengan nama kalian, kakak tertua juga."
"Hah?"
Ying tertawa.
"Jahat sekali kau melupakan nama mereka." Celetuk Fang.
Air menoleh, "Setidaknya aku tidak melupakan wajah dan pribadi mereka." Balas Air.
"Tentu saja, wajah kalian semuanya sama." Ucap Fang lalu meminum teh.
Halilintar menatap Ying lalu melirik Fang, Ying yang menyadari itu berbisik, "Dia kakak ku sekaligus ketua klan Li, Li Fang."
Halilintar mengangguk.
"Yang tertua itu Halilintar, lalu yang kedua Taufan, terus aku Gempa." Ucap Gempa pada Air yang mengangguk mengerti.
"Maafkan aku," ucap Air.
"Tidak apa. Lagi pula kau tidak melupakan kami juga." Balas Gempa.
Taufan menarik Gempa kebelakang dan menempati tempat Gempa tadi, lalu menaruh kedua tangannya di sisi kepala Air.
"Kau Air?" tanya Taufan sambil menggencet pipi adiknya itu.
"Ha, hafu hahir." Jawab Air. (Ya, aku Air)
Taufan nyengir, lalu menguyel-uyel pipi Air, dilanjutkan dengan menarik-narik rambut panjang Air.
"Taufan, hentikan itu.." ucap Gempa.
Taufan tertawa, "Ini makhluk, adik kembar kita?" tanyanya.
Gempa diam, Halilintar menatapnya datar, Air mengerjap, Ying melongo.
"Jahat sekali.." ucap Ochobot.
Taufan tertawa, "Aku hanya bercanda!" serunya lalu memeluk Air dan memutarnya, persis seperti saat ia bertemu Gempa beberapa waktu lalu.
"Taufan, pusing…" ucap Air.
Taufan menghentikannya dengan tetap masih tertawa,"Lama tidak berjumpa juga!"
Gempa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat ulah Taufan.
Air mengerjapkan matanya, menghilangkan rasa pusing sesaat yang mendera kepalanya. Ia lalu melihat sekelilingnya.
"Dimana.. Api?" tanyanya.
"Oh, kami belum bertemu dengannya." Jawab Gempa.
Air mengangguk mengerti.
"Jadi… apa kau mau ikut kami?"
Air mengangkat kepalanya.
"Kemana?" tanya Air.
"Ya.. ikut dengan kami, tinggal bersama kami, juga mencari Boboiboy Api.." jawab Taufan.
Air menatap kedua kakaknya itu dalam diam, ruangan hening menunggu jawaban Air.
"Aku tidak bisa, maksudku… aku belum bisa meninggalkan tempat ini.." jawab Air.
"Kenapa?" tanya Taufan heran.
"Karena.. aku punya masalah yang belum aku selesaikan sekarang…" jawab Air lirih dan pelan.
Ochobot menatap Gempa dan Taufan yang masih saja terheran, Halilintar yang menyerobot duduk disampingnya lalu meminum teh yang tersedia di meja, dan Ying yang terdiam. Ia lalu menoleh ke arah sang ketua klan yang raut mukanya kini mengeras dan menatap Air dengan pandangan tajam, Ochobot mengerjap melihat hal itu, heran.
.
.
=CoffeyMilk=
.
Gempa memakai sebuah baju cina yang dipinjami oleh Air kepadanya, Halilintar, Taufan dan Ochobot. Baju itu berwarna hitam, ujung lengan bajunya bergaris emas, panjangnya 10 cm diatas lutut dan sebuah celana putih yang panjangnya sebatas mata kaki.
Ia lalu melihat pantulan dirinya pada cermin di hadapannya, dirapikannya rambutnya yang berantakan sehabis mandi tadi, lalu tersenyum puas berikutnya. Ia lalu melihat sekelilingnya dimana Halilintar sedang tidur pulas juga Taufan dan Ochobot yang sedang bermain kartu di pojok ruangan.
Gempa menghela napas, lalu membuka pintu geser di salah satu sisi ruangan itu. Taufan menoleh.
"Mau kemana?" tanya Taufan.
"Jalan-jalan, mau ikut?" tanya Gempa balik.
Taufan menggeleng, "Nggak ah, capek. Tempat ini luas sekali, bahkan lebih luas dari kastil ku. Lagipula, ini lagi seru." Jawab Taufan lalu melanjutkan permainannya.
Gempa mengangguk kecil dan segera pergi, ditutupnya pintu geser dengan sekali sentakan dan berjalan menelusuri lorong-lorong panjang hingga ia menghirup udara luar di saat ia melangkahkan kakinya di lorong terbuka.
Beberapa orang tampak berlalu lalang di lorong yang sama dengannya. Gempa lalu melewati sebuah lapangan dimana ia dapat melihat banyak orang yang sedang berlatih pedang dan Fang yang sedang melatih orang-orang itu.
"ULANGI SEKALI LAGI! SATU! DUA!" teriak Fang memberi perintah pada orang-orang dihadapannya.
Gempa menghentikan langkahnya, ia menyadari orang-orang yang di latih oleh Fang adalah pasukan tentara Klan Li. Melihat pedang, ia pun teringat Halilintar dan Paman Kiyoshi.
Halilintar pasti senang sekali melihat ini, atau mungkin ia akan menantang si pelatih pedang Klan Li, pikir Gempa.
Ia kembali melangkahkan kakinya, melewati lorong panjang sekali lagi, lalu melewati lorong terbuka di mana ada sebuah taman dengan sebuah kolam luas di tengah taman. Gempa tersenyum kecil, dijelajahinya tiap jalan yang ia lewati.
Suara alunan merdu seruling menyapa indera pendengarannya, Gempa mengerjap, di lihatnya sekelilingnya, mencari keberadaan datangnya sumber suara. Masih dengan melangkahkan kakinya, ia mengikuti sumber suara yang semakin lama semakin mendekat. Gempa berbelok pada pertigaan lorong dan berpapasan dengan Air yang masih saja meniup alat musiknya.
"Air…" ucap Gempa.
Air menghentikan permainan musiknya dan menatap Gempa, "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Air.
Gempa tersenyum, "Jalan-jalan. Tempat ini besar sekali ya." Jawab Gempa lalu menatap langit-langit diatasnya.
Air balas tersenyum, "Kau benar, tapi lebih luas lagi istana tempat tinggal kita dulu." Ucap Air kemudian.
Gempa menatap saudara kembar terakhirnya itu, "Kau masih mengingatnya?" tanyanya.
Air mengerjap, "Tentu saja, kau tidak?" tanya Air balik.
Gempa terkekeh dan memegang kepalanya, "Aku hanya mengingatnya sedikit-sedikit, waktu itu kita belum terlalu peduli dengan luasnya istana, kau tahu." Jawab Gempa.
Air mengangguk, keduanya lalu memasuki taman dan duduk diatas rumput. Lembayung oranye terlihat jelas menghiasi langit. Keduanya terdiam cukup lama sampai Gempa menghela napas.
"Hah… Hei, keberatan jika kau memainkan satu lagu untukku?" tanya Gempa.
Air meliriknya, "Satu lagu?" tanyanya.
Gempa mengangguk, "Lagu apapun terserah," ucap Gempa kemudian.
"Kau benar-benar akan mendengarkannya?" tanya Air.
"Tentu." Jawab Gempa.
Air tersenyum kecil, lalu menaruh ujung seruling di mulutnya dan meniupnya, melantunkan alunan nada tenang yang mampu membuat Gempa tersenyum senang.
Alunan merdu yang dimainkan Air membuatnya tenang, rileks dan nyaman. Gempa merasakannya. Adiknya persis seperti namanya. Begitu tenang—juga menenangkan.
Langit semakin gelap, suara alunan seruling Air mengangkasa, kini nada alunannya meninggi beberapa kali menurun. Gempa mengerjapkan matanya, termenung, mengikuti alunan nada itu.
Alunan nada yang selalu di nyanyikan Ibu mereka dulu. Gempa tersenyum kecil. Ingatan buram masa kecilnya melintasi pikirannya berkali-kali. Dimana ia mengingat sang Ibu menyanyikan lagu yang sama dengan yang Air mainkan saat ini. Dimana saat sang Ibu tertawa lalu menggendong dan menari dengan mereka satu persatu bergantian, berlanjut saat sang Ayah datang dan bergabung bersama mereka. Suara tawa mereka terngiang dikepalanya.
Gempa bahkan tak sadar air matanya meleleh menuruni kedua pipinya, rasa sesak di dadanya membuncah, rindu dengan saat-saat itu. Ia memeluk kedua kakinya, membiarkan air mata mengalir begitu saja membanjiri pipinya.
Air menghentikan permainannya, saat ia membuka mata dilihatnya Gempa menangis dalam diam. Air tercenung, ia pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Rasa rindu yang kuat kembali menyesakkan dadanya.
"A—apa k—kau selalu… mengingat la..gu itu?" tanya Gempa.
Air tak menjawab dan mengangguk.
"K—kau selalu me—ngingat Ibu dan Ayah?" tanya Gempa, sambil berusaha menghentikan senggukan dan rasa tercekat dilehernya.
"Y—ya… dan aku juga.. selalu mengingat kalian…" jawab Air.
Gempa menghapus air matanya, "Kau berbohong soal melupakan nama kami?" tanyanya.
Air menjatuhkan air matanya yang sedari tadi berusaha ia tahan dan mengangguk, "Ma—na mung—kin aku—melupakan kalian.. bukan?" diletakkannya seruling di samping kakinya.
Gempa terdiam, ditatapnya Air disampingnya. Keheningan menyelimuti keduanya, hingga langit menggelap dan bulan menggantikan tugas matahari menyinari bumi.
"Bagaimana jika kau tidur sekamar dengan kami nanti?" tanya Gempa.
Air menoleh dan mengangguk, "Boleh."
.
.
.
Halilintar menguap lebar, bersama dengan Gempa, Taufan, Ochobot, dan Air, mereka keluar dari ruang makan dan berjalan kembali ke kamar mereka. Halilintar menoleh kesampingnya dimana ia mendapatkan Air disampingnya dan Gempa. Halilintar mengerjap.
"Apa yang—"
"Dia akan tidur sekamar dengan kita nanti!" jawab Gempa, memutus perkataan Halilintar.
Halilintar membuka bibirnya dan mengatupkannya kembali, lalu mengangguk. Taufan menyerobot, merangkul Air dan tersenyum lebar.
"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita perang bantal!" seru Taufan riang.
"Perang bantal?" tanya Ochobot.
"Yup! Perang bantal!" jawab Taufan.
"Sepertinya seru, ayo!" timpal Gempa.
"Seperti anak-anak saja." Ucap Halilintar pedas.
Taufan, Gempa dan Ochobot menoleh, menatap Halilintar dengan pandangan kesal. Halilintar mengerjapkan matanya.
"Aku tidak salah kan?" tanya Halilintar.
"Cih, Halilin gak asik." Jawab Taufan tidak senang.
"Benar, Halilintar gak asik." Timpal Gempa.
"Halilintar gak tahu masa muda." Timpal Ochobot juga.
Halilintar mengerjap lagi, "Hah? Apa-apaan?!"
Kilatan petir imajinatif terlihat diantara Taufan, Ochobot, Gempa vs Halilintar. Dan keempatnya terdiam saat mendengar kekehan kecil Air.
Keempatnya terdiam dan saling menatap satu sama lain, lalu tersenyum lebar.
.
.
.
Halilintar baru saja akan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang baru saja ia gelar, namun lemparan bantal mengenai wajahnya dengan telak.
"HUMPH-!"
Taufan dan Gempa tertawa-tawa senang. Gempa lalu melempar kembali Halilintar dengan bantal yang lain.
Perempatan siku muncul di kepala Halilintar dan menatap sengit kearah dua adiknya. Diambil bantal yang tadi mengenainya dan melemparnya kearah Taufan dan Gempa. Namun dengan sigap Taufan dan Gempa menhindar, bantal yang dilempar Halilintar sukser mendarat di kepala Ochobot.
Ochobot menoleh, "Sudah mulai?" tanyanya heran,
"Ya!" jawab Taufan dan Gempa bersamaan.
Ochobot mengambil bantal itu dan melemparkannya kembali kearah Halilintar, tapi Air lewat dan bantal itu mengenai kepala Air. Air menoleh.
"Oh, ups, sori." Ucap Ochobot.
Air mengambil bantal yang jatuh dikakinya dan segera melemparnya dengan cepat kearah Taufan. Kaki Taufan melangkah mundur setelah bantal yang dilempar Air mengenai wajahnya.
Taufan melempar bantal yang sedari tadi ia pegang kearah Gempa, hingga Gempa terjungkal. Taufan tertawa lebar.
Gempa terbangun, lalu melempar bantal yang tadi dilempar Taufan, kearah Halilintar. Halilintar menangkisnya dengan lengan dan bantal itu melayang kearah wajah Air.
"Hmp!"
Gempa tertawa, Halilintar terkekeh. Air melempar bantalnya kearah Ochobot. Bantal itu mengenai wajah Ochobot dan membuat Ochobot jatuh terbaring diatas kasurnya. Ochobot bangun, lalu melempar kearah Taufan.
Bantal itu mengenai kepala Taufan, Taufan melempar kearah Halilintar, dan mengenai wajah Halilintar.
"Yes!" seru Taufan gembira.
Halilintar mengambil bantalnya dan melemparnya kearah Gempa.
Perang bantal terus berlangsung, dan kelimanya begitu menikmatinya. Tawa mereka membahana menmenuhi ruangan.
Air melemparkan bantal kearah Gempa yang berlari didepan pintu geser, Gempa tertawa kala ia dapat menghindari lemparan Air. Namun, bantal itu mengenai seseorang yang baru saja membuka pintu geser di belakang Gempa.
Kelimanya terdiam saat Fang menatap mereka dengan wajah murka dan tangan terkepal.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Fang, "Tidakkah kalian tahu sekarang jam berapa?!" tanyanya lagi.
Gempa menggaruk lehernya yang tak gatal, "Uh… maafkan kami.."
Fang menatapnya, "Sudahlah, sekarang kalian tidur dan jangan mengganggu-UPH!"
Air melempar bantal sekali lagi kearah Fang dan tepat mengenai wajah si ketua klan itu.
"SHUIIIII!" teriak Fang.
Air tertawa, diikuti oleh Taufan berikutnya. Fang lalu mengambil dua bantal di bawah kakinya dan melemparnya. Salah satu bantal mengenai Ochobot dan satunya lagi mengenai Air.
"Rasakan." Ucap Fang,
Taufan tertawa, lalu melempar bantalnya kearah Halilintar.
Brak-!
"BISAKAH KALIAN DIAM?!"
Keenamnya terdiam saat Ying muncul sambil mendobrak pintu dan menatap mereka sengit.
"Ma—maafkan kami nona muda…." Ucap mereka pada Ying.
Ying menggertakkan giginya.
"Jangan lakukan lagi! kalian mengganggu orang lain! Atau kalian lebih memilih tidur diluar?" tanya Ying.
"Ma—maafkan kami…"
Ying mendengus, "Cih! Mengganggu tidur cantik orang lain aja!" serunya lalu pergi.
Keenam pemuda itu menatap kepergian Ying dengan muka melongo. Setelah beberapa detik, Fang menepuk tangannya dua kali.
"Oke, kalian tidurlah sekarang. Jangan ribut. Selamat malam." Ucap Fang kemudian dan menutup pintu geser di hadapannya.
Kelima pemuda itu saling pandang satu sama lain.
"Yuk, tidur."
"Hoaaaamm~"
"Kau benar, aku sudah mengantuk…"
"…."
"Selamat tidur~"
.
.
=CoffeyMilk=
.
.
Gempa, Taufan, Halilintar dan Ochobot melangkahkan kaki mereka menyusuri tiap lorong yang mereka lewati setelah keluar dari ruang makan.
Taufan bersiul kecil, "Udara disini bersih ya, sejuk lagi." ucapnya.
Gempa tersenyum, "Soalnya tempat ini berada di tengah hutan." Balasnya.
Taufan mengangguk, "Kalau di RingFree Town, sudah ada beberapa pabrik-pabrik yang dibangun. Asap yang dikeluarkan pabrik-pabrik itu mencemari lingkungan." Curhat Taufan.
"Tapi kau sangat betah berada disana," timpal Halilintar.
"Tidak juga." Balas Taufan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya di bully saudara tiri?" celetuk Ochobot.
Taufan menoleh, "Kau sedang menyindirku?" tanyanya.
"Iya, mungkin ya." Jawab Ochobot.
Taufan menggembungkan pipinya, "Itu masa-masa menyakitkan, Ochobot, jangan mengingatkanku lagi."
Ochobot terkekeh, ia lalu melihat sekelilingnya dan mendapatkan sosok Air yang sedang memasuki sebuah ruangan yang berada di pojok lorong.
"Hei, itu Air." Ucap Ochobot.
Ketiga kembar sontak menoleh, sosok Air tampak berdiri di ambang pintu beberapa detik kemudian masuk dan menutup pintu. Kembar tiga saling pandang,
"Kira-kira ruangan apa itu?" tanya Gempa.
Halilintar mengendikkan bahunya, "Mungkin kamarnya." Jawabnya.
"Tidak, itu sepertinya ruangan penting. Ada papan nama diatasnya." Jawab Taufan lalu berjalan kearah ruangan itu.
Gempa, Halilintar dan Ochobot mengikuti langkah Taufan, "Ini ruang kerja ketua klan Li, Fang." bisik Taufan.
"Kau bisa baca tulisan itu?" tanya Gempa.
"Mom Anna pernah mengajarkan ku." Jawab Taufan.
BRAK!
Keempatnya berjengit kaget saat mendengar suara meja yang dipukul keras.
"Aku sudah mengatakan padamu, Shui! Kau tidak bersalah sama sekali!"
"Tidak, kau tahu bukan? Gara-gara aku, orang-orang klan terluka!"
Taufan, Gempa, Halilintar dan Ochobot terdiam, pikiran mereka sama, menguping perdebatan antara Fang dan Air.
"Kau tak perlu cemas dengan itu!"—Fang.
"Tidak! Aku akan ikut bertanggung jawab!"—Air.
"Lebih baik kau segera pergi dengan saudara-saudaramu itu."—Fang.
"Kau mengusirku?" —Air.
"Tidak, Shui. Aku hanya ingin kau selamat!" —Fang.
"Kenapa?" —Air.
"Pihak kerajaan memburumu! Dan aku harus menuruti perintah ayah yang menyuruhku untuk mengutamakan keselamatanmu!" —Fang.
"Kau bodoh? Kalau kami semua ketahuan, itu sama saja dengan bunuh diri!" —Air.
"Tapi setidaknya jejak kalian tidak tercium cepat oleh para tikus kerajaan itu kalau kalian pergi sekarang juga! Mereka tidak akan mengetahui keberadaan kalian!" —Fang.
"Lalu, bagaimana dengan klan ini? Kau tahu orang-orang kerajaan itu juga akan memerangi klan ini!" —Air.
"Kau meremehkan ku? Kau lupa aku siapa? Itu masalah mudah! Aku bisa mengalahkan mereka!" —Fang.
"…."
"Sekarang keluarlah, aku harus berkerja." —Fang.
"…"
"Shui."
"Aku tidak akan pergi dari kediaman Klan Li ini sebelum aku bisa ikut bertarung melawan mereka." —Air.
"Apa?!"
"Aku mohon, Fang! Aku tidak bisa hanya berdiam diri melihat ini semua terjadi di depan mataku!" —Air.
"….."
"Aku sudah menyeret kalian ke dalam masalah, membuat anggota klan terluka,..maka dari itu, tolonglah, sebagai permintaan maafku…"—Air.
"….."
"Fang." —Air.
"Susah sekali untuk bicara padamu. Keluar sekarang." —Fang.
"Katakan, apa kau mengizinkanku?" —Air.
"Tidak. Sekarang keluarlah, terserah kau mau melakukan apa, terserah." —Fang.
"….."
"Kau dengar aku, Shui?"
"…."
Taufan, Gempa, Halilintar dan Ochobot panik saat mendengar langkak kaki mendekat menuju pintu, mereka segera berlari cepat dan berbelok ke lorong yang tak jauh dari tempat mereka berada.
.
.
.
Fang memijat kepalanya yang beredenyut setelah Air keluar dari ruang kerjanya, beberapa kali terngiang di kepalanya perintah sang Ayah untuk menyembunyikan keberadaan Air dari pihak kerajaan dan ia lalai. Kini keberadaan Boboiboy Air telah diketahui dan pihak kerajaan mulai memburunya. Perintah Ayahnya tak bisa ia laksanakan lagi.
Namun, tak hanya satu perintah yang diberikan sang ayah padanya, ia juga harus memimpin Klan Li, mengutamakan keselamatan Air, melindungi adiknya dan pengikut Klan Li, meneruskan bisnis Klan, dan beberapa perintah lagi. Mau tak mau sebagai anak ia harus melakukan apa yang ayahnya katakan.
Kepakan sayap menyapa indera pendengarannya, membuatnya menoleh kearah jendela. Mendapati seekor merpati terbang kearahnya. Diangkatnya lengannya dan merpati itu mendarat diatasnya. Fang mengambil gulungan kertas yang di ikat di kaki merpati itu dan membukanya.
Ia membaca tulisan tangan yang tertera pada kertas itu dengan cepat, lalu menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki.
"Mereka sudah bergerak…" lirihnya.
.
.
Air termenung, melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan luas yang tak jauh dari ruangan kerja Fang tadi. Ia membuka pintu ganda di hadapannya dan masuk ke dalam ruangan dimana beberapa alat bela diri terdapat di ruangan itu. Ditutupnya pintu ganda tadi, lalu berjalan menuju matras di ujung ruangan dan membaringkan dirinya.
Di tatapnya langit-langit tinggi diatasnya, masih terbayang wajah amarah Fang saat mereka berbicara tadi. Air memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Ia lalu duduk dan membuka matanya kembali.
Ia bangkit dan segera berlari menuju sasak tinju dengan tangan masih terkepal dan meninjunya kuat.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Air menngatur penapasannya yang memburu, ia melihat tangannya yang masih terkepal memerah. Ia menghela napas.
"Sudah berapa hari aku tidak latihan?" tanyanya lirih.
Ia membuka kepalan tangannya dan mengepalkannya lagi, lalu tersenyum kecil.
"Aku harus menjadi kuat... Aku akan ikut bertarung dalam pertarungan nanti.." Ucapnya lirih.
"Dan jika itu semua selesai… aku akan memulai perjalananku bersama mereka….." Air tersenyum kecil.
.
.
"Kita barusan mendengar apa?" tanya Taufan.
"Air mulai diburu oleh pihak kerajaan." Jawab Halilintar.
"Dan klan ini akan berperang dengan pihak kerajaan." sambung Gempa.
"Memangnya ada apa dengan pihak kerajaan?" tanya Ochobot.
"Kau tahu kami ini siapa bukan?" tanya Taufan.
Ochobot mengangguk, "Kalian adalah para pengeran kembar." Jawab Ochobot.
"Jadi, karena kami berlima hilang dari istana saat 13 tahun lalu, pihak pemberontak yang kini memerintah di kerajaan selalu mencari kami untuk dimusnahkan. Bagi mereka, tak ada keturunan raja terdahulu yang boleh hidup." Jelas Taufan.
"Jika mereka tau kita masih hidup, mereka takut pemerintahan akan digulingkan." Sambung Halilintar.
Ochobot mengangguk. Keempatnya terus berjalan menuju ruangan mereka.
"Maka dari itu Bibi Mira, Paman Kiyoshi, Bibi Anna, Paman Li Xiao dan satunya… entah siapa namanya membawa kita dan menyembunyikannya dari pihak kerajaan." Ucap Gempa.
"Tapi kalian sekarang keluar dan malah berkelana mencari saudara kalian." Ucap Ochobot.
Ketiga kembar menatap Ochobot.
"Kami bukan anak kecil yang harus selalu di lindungi, Ochobot." Ucap Taufan.
Ochobot mengangguk, "Tapi masalahnya Air…."
"Aku pikir kita harus membantunya," ucap Gempa.
"Bagaimana caranya?" tanya Taufan.
"Bertarung bersamanya, melawan pihak kerajaan." Jawab Gempa.
Mata Ochobot membulat, "Kau gila?"
"Tidak," Gempa nyengir, "tenang saja itu urusan nanti."
"Tapi… bagaimana pihak kerajaan mengetahui keberadaan Air?" tanya Halilintar.
"Bagaimana kalau kita menanyakannya pada Ying?" tanya Ochobot balik.
"Ide bagus, ayo."
.
.
.
TEBECEH.
INI APA~
AH, UDAHLAH. BTW, HAIIII~ SAYA BALIK LAGI~/SORRYCAPSLOCKKEINJEK/MATIINcapslock
Tebakannya pada salah ya, (._.) ini serasa saya nulis gak ketangkep gitu sama reader, sepertinya saya harus berusaha lagi(._.) oh ya, saya minta maap kalau Api belum bisa muncul di chapter ini, krn saya sudah memikirkan dia bakal jadi Bbb yang terakhir yang ditemukan/sungkem
Disini Fang dan Air udah saya munculin~ saya senang sekali memunculkan mereka~ dan benar-benar greget pengen cepet2 ngelanjutin biar Api cepet muncul~ tapi waktu dan kemauan membatasi semuanya :( sori saya curhat XD , dah saya mau balas review dulu :
Buat Another Guest : gak apa kok, tebakan mu benar~/tebarconfetti Papa Zola ya? Mungkin dia gak bakal keluar (._.) final chap? Tenang aja, ini bakal hepi ending kok. :v
Buat Febri : tebakan anda dua-duanya benar~/tebarconfetti-lagi/ weleh, saya sendiri bahkan lupa dimana saya tulis kata tenang, trus buru2 baca akhir ch. 8 XD
Buat Azure : di kartunnya juga begitu kan? Hali Taufan itu sedikit susah akur XD yang jadi kakaknya Fang, dan sepertinya kamu gak terlalu memperhatikan ucapan Ying y, Ying kan bilang kakaknya lagi pergi~ :D yg rambutnya panjang itu Air, dan oh ya, thanks gara2 kamu saya jadi kepikiran ngasih nama lain untuk Air—Shui, jujur sebetulnya saya sendiri kurang sreg kalau manggil dia Air/malah curcol
Buat Otaku Sesat : maaf ya, tebakanmu salah~ :D oke, ini udah lanjut
Buat Fajrin : tebakan untuk kakak Ying benar~ tapi untuk Boboiboy-nya salah~/nari/ biasanya orang berantem mulu itu gak bakal bosan XD iyup, ini udah lanjut
Buat Guest : Nggak kok, tenang aja. Btw, seneng kan Air dulu yang saya munculin? :D
Buat Tazkya : iyup, anda benar, yang muncul Bbb Air~ ini udah apdet.
Thanks buat yang udah nunggu saya apdet terus baca ch ini, juga yg udah review kemarin~ review lagi ya~ ya~ /tebarflykiss
.
Adios! :3
