Under The Sky [Ch. 10]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
Ying meletakkan cangkir kopinya diatas lantai saat melihat keempat tamunya berjalan kearah gazebo tempat dirinya berada.
"Sudah aku duga kalian akan datang padaku." Ucap Ying riang.
"Kok bisa?" tanya Gempa.
"Tentu saja, aku melihat kalian menguping di depan ruang kerja kakak tadi." jawab Ying.
Keempatnya saling pandang.
"Eeh, sori…." Ucap Gempa.
"Tidak apa kok," balas Ying.
"Jadi… sampai mana kalian menguping pembicaran kakak dan Shui?" tanya Ying sambil mempersilahkan keempatnya duduk.
"Sampai dengan penyerangan dari pihak kerajaan… dan mereka yang memburu Air.." jawab Ochobot.
Ying mengangguk.
"Hmm… ya.. kami hanya ingin menanyakan berapa hal…" ucap Gempa.
"Apa itu?"
"Bagaimana keberadaan Air bisa di ketahui oleh pihak kerajaan?" tanya Taufan.
Ying menatap langit-langit diatasnya, "Oh… itu.. kapan ya? Kalau gak salah kejadian itu terjadi bulan lalu…" ucap Ying, "Waktu itu aku menyuruh Shui untuk membeli sesuatu di kota. Jadi dia pergi ke kota… dan dikota ia menyelamatkan seorang gadis yang sedang dipaksa oleh para petugas. Ia menghajar beberapa petugas itu dan sialnya ada seorang petinggi dari kerajaan, Shui lalu kabur dan petugas yang tersisa mengejarnya hingga ia memasuki hutan. Lalu… beberapa hari berikutnya wajah Shui diketahui sebagai anak sah raja 13 tahun yang lalu…" Ying berhenti sebentar, menatap keempat pemuda yang mendengarkannya dengan baik, "Setelah itu, Klan Li di curigai. Belakang ini Klan Li diketahui sebagai salah satu klan yang memihak raja 13 tahun lalu dan kami mulai diperangi, beberapa anggota klan ditangkap, banyak juga yang terluka, alasan mereka cuma satu, kami harus menyerahkan Shui…" lanjut Ying.
"Tapi kami bersikeras untuk tidak menyerahkannya, ayahanda memerintahkan kami untuk menjauhkannya dari pihak kerajaan. Dan semua itu menjadi konsekuensinya…. Shui merasa sangat bersalah, dia mengajukan agar menyerahkan diri dan kakak dengan tegas menolak." Ying lalu menimum kebali kopinya.
"Setelah itu, bersambung~" ucap Ying riang, membuat Gempa, Taufan, Halilintar dan Ochobot mangap.
"Kenapa bersambung? Ini lagi seru!" seru Taufan tidak terima.
"Benar!" seru Gempa.
Ying tertawa, "Memang sampai situ kok, selanjutnya liat sendiri saja!" jawab Ying.
Gempa termenung, lalu menatap Ying, "Lalu bagaimana dengan serangan dari pihak kerajaan?"
"Aku tidak tahu, tapi para pasukan latihannya bertambah dua kali lipat akhir-akhir ini.. itu untuk persiapan jika pihak kerajaan benar-benar memerangi kami." Jawab Ying.
"Tadi aku mendengar kakakmu berkata bahwa peperangan dengan pihak kerajaan itu masalah mudah dan ia bisa mengalahkan mereka. Aku pikir kakakmu bukan hanya sebatas ketua klan aku pikir? Siapa dia sebenarnya?" tanya Ochobot.
Ying menatapnya, "Hei… Kau tahu? Aku merasa seperti diwawancarai sekarang." Ucap Ying.
"Oh, sorry… kau tak menjawabnya juga tidak apa…" balas Ochobot tidak enak.
Ying tersenyum kecil, "Aku akan menjawabnya kok, kak Fang itu… punya nama julukan—"
"—Black Lucifer, itu julukannya."
Halilintar terbelalak, Gempa mengerjap, Ochobot dan Taufan melongo.
"BLACK LUCIFER?!" teriak Taufan, Ochobot dan Gempa.
"Kau tidak bercanda kan, Ying? Black Lucifer? Pemuda yang mengalahkan lima puluh orang dalam sepuluh detik itu?" tanya Taufan tidak percaya.
Ying mengangguk.
"Limapuluh?!" Gempa dan Ochobot segera menoleh kearah Taufan.
"Kalian tak pernah membaca surat kabar ya?" tanya Taufan.
Gempa menggeleng.
"Sesekali," jawab Ochobot lalu terkekeh.
"Tapi syukurlah identitas asli kakak tidak ikut di beritahukan dalam surat kabar." Ucap Ying.
Halilintar terdiam, perkataan Kiyoshi terngiang di kepalanya. Ia mengepalkan tangannya, tersenyum lebar dan matanya berkilat senang.
.
.
=CM=
Gempa terdiam saat mendengar suara benda yang terjatuh nyaring di atas lantai. Ia celingukan, menatap sekitarnya dan tidak menemukan apapun. Kembali suara itu terdengar, terus berkali-kali. Gempa mengerjap, menatap sebuah pintu ganda yang letaknya bersebrangan dari gedung dimana ia berada.
Gempa menuruni teras, berjalan melewati jalan setapak dan berdiri di hadapan pintu ganda itu. Ia mengetuknya, sekali, dua kali. Tak ada yang menjawab, Gempa memutuskan untuk membuka pintu itu. Pemandangan yang pertama kali ia lihat setelah membuka pintu adalah tubuh adiknya yang terbaring di atas lantai dengan sebuah tongkat sepanjang satu setengah meter tergeletak di sampingnya.
Gempa berjalan menuju tubuh Air dan berjongkok di sebelah Air yang mengatur pernapasannya yang terburu.
"Kau tidak apa?" tanya Gempa.
Air mengangguk dalam diam, lalu menatap Gempa sambil menaikkan poninya yang menutupi mata.
Gempa mengganti posisinya dari jongkok menjadi bersila. Ia lalu melihat sekitar, meneliti ruangan tempat dimana ia berada.
"Ini ruangan latihanmu?" tanya Gempa sambil tersenyum takjub melihat isi ruangan itu.
"Tidak, ini ruang latihan untuk penghuni di klan ini juga." Jawab Air.
Gempa mengangguk mengerti.
"Anu… bisakah kau mengambilkan air minumku disana?" tanya Air sambil menunjuk kearah meja di pojok ruangan.
Gempa menatap Air dan mengerjap, "Kau kan sudah air, kenapa masih butuh air?" tanya Gempa.
Air menghela napas panjang, "Itu cuma nama.." ucap Air lirih.
Gempa tertawa kecil dan berdiri lalu mengambil apa yang diminta Air dan memberikannya pada adiknya itu.
Air mendudukkan dirinya dan menerima botol berisi air minum yang di berikan Gempa.
"Sebentar, ini dalamnya bukan minuman beralkohol kan?" tanya Gempa.
Air menggeleng, lalu minum, Setelah dahaganya terpuaskan, Air menatap kearah Gempa.
"Bagaimana kau bisa sampai sini?" tanya Air.
Gempa menatap ke arah pintu yang sedari tadi terbuka, lalu menatap Air, "Aku mencari Fang." jawabnya lalu kembali duduk bersila di hadapan Air.
"Untuk apa?" tanya Air.
"Menanyakan sesuatu." Jawab Gempa.
"Kalau soal Klan, kau bisa menanyakannya padaku." Ucap Air.
Gempa menggeleng dan tersenyum, "Itu bukan tentang Klan ini." Ucapnya.
Air menatap Gempa dalam, lalu menunduk, kemudian menatap Gempa lagi, "Dia mungkin ke pelabuhan." Ucapnya.
"Pelabuhan? Untuk apa?" tanya Gempa.
"Mengawasi, ada pelayaran untuk mengirim dagangan ke negara tetangga." Jawab Air.
Gempa mengangguk mengerti, "Kapan dia kembali?" tanya Gempa.
"Tergantung, jika tidak ada hambatan sama sekali ia akan cepat kembali." Jawab Air.
"Oh…"
Keduanya lalu terdiam, ruangan hening, hanya terdengar suara burung yang bersahut-sahutan dari luar ruangan.
"Hei, Gempa, aku—"
Gempa menoleh, menatap Air.
"—tidak, abaikan saja." Lanjut Air.
Gempa tersenyum, "Kau ada masalah?" tanyanya.
Air balas tersenyum kecil, "Tidak. Aku baik-baik saja." Jawabnya.
Gempa mengangguk, menatap lantai, lalu kembali menatap Air, "Apa kau nyaman tinggal disini?" tanyanya.
Air mengangguk cepat, "Tentu saja, semua orang disini sangat baik dan ramah." Jawabnya.
Gempa menaikkan satu alisnya, "Sepertinya hidupmu tenang sekali di sini." Ucapnya.
Air menatapnya, mengernyit, "Tidak juga." Balasnya.
Gempa tersenyum lebar, "Kau bahkan tidak punya masalah disini, sepertinya." Ucap Gempa.
Air menggeleng, "Itu tidak benar, aku juga punya beberapa masalah disini… tapi bukan masalah besar…" jawab Air.
"Lalu bagaimana dengan masalah yang belum kau selesaikan saat kau menjawab ajakan kami kemarin?" tanya Gempa.
Air tersenyum kecil, "Tenang saja, masalah itu akan selesai dengan cepat." Jawabnya.
"Selesai dengan cepat ya…." Gempa menghembuskan napas panjang, lalu terdiam dan menatap lantai yang ia duduki.
.
.
Gempa menuruni tiga anak tangga dan melangkahkan kakinya menyusuri lorong. Kakinya terhenti saat melihat Fang duduk diatas kursi, didepannya terdapat sebuah meja yang beberapa tumpukan buku tampak diatasnya. Gempa berjalan kearahnya. Fang sedang membaca buku, kacamata baca terlihat bertemgger di hidungnya.
"Apakah aku mengganggumu?" tanya Gempa, berdiri di depan meja yang membatasinya dengan Fang.
Fang mendongak, melepaskan kacamatanya, "Oh, tidak. Ada apa?" tanya Fang.
"Sedari tadi aku mencarimu, tapi kata Air kau pergi ke pelabuhan," ucap Gempa, Fang mengangguk, "tidak apa jika kita berbicara sebentar?" tanya Gempa.
Fang menatapnya, mengangguk sambil menutup bukunya. Ditaruhnya buku yang ia baca tadi diatas tumpukan buku di meja.
"Duduklah dulu," ucap Fang sambil menunjuk kearah kursi yang kosong di sebelah Gempa, ia lalu mengambil teko dari troller disampingnya dan satu cangkir, "mau teh?" tanya Fang.
"Eh, boleh." Jawab Gempa setelah menyamankan diri diatas kursi.
Fang menaruh cangkir di atas meja, dihadapan Gempa dan menuangkan teh kedalamnya, lalu ia menuangkan lagi kedalam cangkir miliknya yang sedari tadi baru terminum setengah.
"Terimakasih." Ucap Gempa.
Fang mengangguk kecil, "Lalu.. topik apa yang ingin kita bicarakan?" tanya Fang sambil mengembalikan teko diatas troller dan mengambil sepiring irisan-irisan kue.
"Air—Shui maksudku." Jawab Gempa.
"Sudah aku duga," ucap Fang.
Gempa tersenyum tipis, "Menurutmu dia bagaimana selama berada di sini?" tanya Gempa.
Fang menatap langit-langit, memasang pose berpikir, "Kalem." Jawab Fang.
Gempa menganga, "Cuma itu?"
Fang menggeleng, "Dia itu tenang, penurut, baik hati, tidak sombong, tidak nakal, suka menyendiri, suka menabung, suka menggalau—"
"Kau sepertinya mulai ngawur." Ucap Gempa cepat, memotong ucapan Fang.
"Tidak juga, aku cukup serius untuk opsi awal tadi, tapi akhir-akhir ini aku pikir dia sudah berubah, dari anak penurut menjadi anak pembangkang." Balas Fang.
"Kenapa?" tanya Gempa.
"Tidak usah kuberi tau, bukan? Kalian kemarin menguping perdebatan kami berdua." Jawab Fang.
Gempa meneguk ludah, "Bagaimana kau bisa tahu?"
Fang tersenyum kecil, "Aku punya pendengaran yang cukup bagus, aku bisa mendengar langkah kaki kalian kemarin." Jawab Fang.
Gempa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Oh, maaf.."
"Tidak apa kok."
"Aku sudah dengar dari Ying tentang bagaimana Air di ketahui keberadaannya oleh pihak kerajaan.. aku pikir petempuran yang akan datang adalah untuk menangkap Air makanya kau tak memperbolehkannya ikut?" tanya Gempa.
Fang meluruskan punggungnya, "Dia takkan semudah itu ditangkap oleh mereka, aku percaya itu. Tapi, yang terjadi nanti mungkin bukannya dia ditangkap, namun menyerahkan dirinya sendiri dengan syarat pihak kerajaan tak mengganggu klan lagi. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi." jawabnya.
Gempa mengangguk mengerti, "Tapi Air bersikeras untuk mengikuti petempuran itu, aku baru saja melihatnya latihan beberapa jam lalu." Ucapnya.
Fang menghela napas, "Begitu…"
"Aku pikir dia tak berniat untuk menyerahkan diri, tapi akan ikut bertarung melawan mereka." Ucap Gempa lagi.
Fang hanya diam menatap Gempa.
"Aku boleh memohon padamu untuk menyertakan dia pada pertempuran? Aku akan memastikan dia tidak menyerahkan diri, karena aku akan ikut dalam petempuran… tidak, tapi Halilintar dan Taufan akan ikut juga." Ucap Gempa.
Fang membulatkan matanya, "Keberadaan kalian akan diketahui oleh mereka." Ucapnya.
"Tidak apa, setidaknya tidak hanya Shui sendiri yang diketahui keberadaannya, jadi jika kami pergi nanti kita adalah sekelompok buronan…"
"Kau yakin dengan ini? Itu terlalu berbahaya." Potong Fang.
"Aku yakin. Tenang saja." Ucap Gempa.
Fang diam.
"Aku mohon padamu, Fang!" seru Gempa.
"Kau adalah tamuku, kau tidak perlu ikut campur dalam masalah Klan." Ucap Fang.
"Tapi, Shui adalah saudara kami, kami berhak membantunya, percuma saja jika menyembunyikan keberadaan kami, jika suatu hari nanti kami akan ketahuan juga. Aku mohon, Fang!" seru Gempa sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
Fang diam, membiarkan Gempa terus begitu hingga beberapa detik berlalu.
"Baiklah, asal kalian tidak membuat masalah baru yang lebih merepotkan." Ucap Fang akhirnya, Gempa menurunkan tangannya, wajahnya berseri, "Kalian kuat?" tanya Fang.
Gempa mengangguk cepat, "Aku pikir begitu."
Fang menatapnya datar, "Kau tidak yakin."
Gempa tertawa kecil.
"Tapi setidaknya kau harus memberitahu hal ini pada Shui." Ucap Fang, Gempa mengangguk.
"Terimakasih!"
Fang mengangguk, lalu meminum tehnya. Gempa yang melihatnya, dengan segera juga meminum tehnya. Mengerjap beberapa kali setelah menyesapnya sedikit.
"Ini enak dan baunya harum.." ucap Gempa lirih.
Fang tersenyum, "Ini teh khusus yang kubeli dari klan lain beberapa hari lalu." Balasnya.
"Teh khusus?" tanya Gempa.
"Ya, Khasiatnya banyak dan persediaannya terbatas." Jawab Fang.
Gempa mengangguk, kembali meminum teh dari cangkir yang masih dipegangnya sejak tadi. Setelah itu ditaruhnya cangkir diatas meja dan mengambil satu potong kue dari piring dan memakannya. Diperhatikannya tumpukan buku yang ada diatas meja.
"Kau banyak membaca buku?" tanya Gempa.
"Ya, kau?" tanya Fang balik.
Gempa menggeleng, "Aku jarang membaca buku." Jawabnya sambil mengambil satu persatu buku dan memilahnya lalu kembali menumpuknya.
"Ada yang membuatmu tertarik?" tanya Fang, saat Gempa menatap dua buku dengan antusias.
Gempa mengangguk kecil, "Boleh aku pinjam?" tanyanya.
"Tentu, jika kau ingin meminjamnya lagi akan kutunjukkan perpustakaan pribadi yang aku miliki." Jawab Fang.
"Kau punya perpustakaan pribadi? Wow, Ochobot akan senang mendengar hal ini." Ucap Gempa.
"Kau boleh mengajak mereka juga." Balas Fang, lalu kembali membaca bacaannya yang tadi sempat terhenti.
.
CM
.
Halilintar membuka matanya, terduduk dan menguap. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menatap sekitarnya yang kosong, tidak mendapatkan adik-adiknya dan Ochobot disekitarnya. Halilintar mengusap wajahnya, rasa haus dan perut keroncongan membuatnya terbangun dari tidurnya. Ia lalu bangkit dan keluar dari kamar. Melintasi lorong demi lorong, mencari dapur.
Ia melewati ruang makan dan berjalan lagi, hingga sampai di depan sebuah pintu terbuka yang disampingnya terdapat palang dengan tulisan 'dapur'. Ia melongok dan mendapati ada Ochobot dan Ying di dalamnya, sedang memasak sesuatu.
"Kalian memasak apa?" tanya Halilintar sambil menghampiri keduanya.
"Oh, Halilintar." Ucap Ochobot, "Ying memintaku untuk mengajarinya memasak." Jawabnya.
Halilintar mengangguk lalu celingukan mencari air minum.
"Mencari apa?" tanya Ying.
"Air." Jawab Halilintar pendek.
"Shui tidak ada disini." Ucap Ying.
"Bukan air itu, aku mencari air minum." Balas Halilintar.
Ochobot terkekeh, "Di dalam botol-botol itu." Ucap nya sambil menunjuk beberapa botol yang terbuat dari tanah liat diatas meja.
Halilintar segera mengambil satu botol dan hendak meminumnya.
"Hati-hati minuman beralkohol." Celetuk Ying, membuat Halilintar menghentikan gerakannya.
Ying tertawa, "Aku hanya bercanda, botol minuman beralkohol tidak di taruh di dapur." Ucapnya sambil menaruh adonan kue dalam cetakan.
Halilintar mendengus dan menenggaknya sampai habis, lalu menaruh botol lagi dan celingukan mencari sesuatu.
"Cari apa lagi?" tanya Ying.
"Sesuatu yang bisa di makan, Ying hati-hati adonannya luber." Jawab Halilintar.
Ying otomatis berhenti.
"Wah, ini kebanyakan Ying, pindahkan sedikit ke cetakan lain." Ucap Ochobot.
"Oke." Ying mengambil cetakan lain.
Ochobot beralih, "Kau lapar? Itu ada hasil kue buatan Ying," Halilintar menoleh kearah tempat yang ditunjuk Ochobot, "—tapi gagal, dan berubah menjadi dark matter." Sambung Ochobot.
Halilintar menatap datar pada makanan hitam gagal yang sudah tak berbentuk itu lalu menoleh kearah Ochobot.
"Tidak, tidak jadi. Sori. Aku akan pergi dulu." Ucap Halilintar lalu keluar dari dapur.
"Sampai nanti~" balas Ochobot dan Ying bersamaan.
.
CM
.
Halilintar melangkahkan kakinya kearah Gempa dan Fang yang tengah membaca.
"Gempa." Panggilnya, Gempa menoleh mendapati Halilintar berdiri di dekatnya, Fang juga menoleh.
"Ada apa, Hali?"
Halilintar diam, matanya mendapati sepiring potongan kue yang tinggal beberapa potong. Gempa segera mengerti.
"Kau mau?" tanya Gempa, lalu menarik tempat duduk, "Duduklah dulu." Sambungnya.
Halilintar menurut dan duduk.
"Kau belum berkenalan dengan Fang bukan?" tanya Gempa.
Halilintar menoleh kearah Fang, "Salam kenal, aku Halilintar." Ucapnya.
Fang mengangguk, "Salam kenal juga, aku Fang." balas Fang, "Kau mau teh?" tanyanya kemudian.
Halilintar menatap isi troller, lalu mengangguk. Fang segera meletakkan cangkir didepan Halilintar dan mengisinya dengan teh.
"Terimakasih." Ucap Halilintar.
Fang mengangguk, lalu kembali membaca buku.
"Dimana Taufan?" tanya Gempa.
Halilintar menggeleng, "Aku tidak tahu." Jawabnya.
"Kau tidak bertemu dengannya?"
"Tidak, aku hanya bertemu dengan Ochobot dan Ying." Jawab Halilintar.
"Mereka sedang apa?" tanya Gempa.
"Memasak kue." Jawab Halilintar, lalu mengambil sepotong kue dari atas piring, kemudian memakannya.
"Oh.. " Gempa mengangguk.
Halilintar dengan cepat menelan kue dimulutnya, hening menyelimuti mereka. Halilintar mengangkat cangkir dihadapannya dan meminum tehnya. Ini enak, pikirnya. Ia lalu melirik Fang dan mengingat apa yang di katakan Ying kemarin.
Black Lucifer, dan pemilik julukan itu ada di sampingnya sekarang.
"Hei, Black Lucifer." Panggil Halilintar.
Fang menoleh dan Gempa mendongak.
"Oh, kau tahu. Apakah Ying memberitahu mu?" tanya Fang.
Halilintar mengangguk, "Black Lucifer, bertarunglah denganku." Ucap Halilintar.
Fang menutup bukunya dan menatap Halilintar. Gempa tersentak, tebakannya bahwa Halilintar menantang Fang benar-benar terjadi.
"Bertarunglah denganku," ucap Halilintar lagi.
"Kau menantangku?" tanya Fang.
Halilintar mengangguk.
"Kau yakin?" tanya Fang.
Halilintar mengangguk.
"Bagaimana jika aku mengalahkanmu?" tanya Fang.
"Itu bisa nanti." jawab Halilintar.
Fang terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar, "Baiklah. Aku terima tantanganmu."
.
.
CM
.
Keduanya kini berhadap-hadapan dengan pedang yang sudah terhunus ke depan.
"Kau tak memakai kacamata mu?" tanya Halilintar.
"Tenang saja, itu cuma kacamata baca. Mataku baik-baik saja." Jawab Fang.
Halilintar mengangguk.
"Kau terlihat mahir menggunakan pedang, siapa yang mengajarimu?" tanya Fang.
"Nishimura Kiyoshi." Jawab Halilintar.
"Nishimura Kiyoshi? Red Tiger?" tanya Fang,
Halilintar mengangguk, Gempa yang berdiri tidak jauh dari mereka mengangkat tangan, memberi aba-aba dan menurunkan tangannya dengan cepat.
Kedua pihak melesat cepat, saling membenturkan pedang mereka, bunyi nyaring pedang terdengar. Keduanya menghindar satu langkah.
"Jadi kau adalah Young Tiger!" seru Fang saat Halilintar maju dan menghunuskan pedangnya kearah Fang, Fang bertahan dengan menjadikan pedang sebagai tameng, lalu mengayunkannya, Halilintar mundur menghindari ayunan pedang Fang.
Fang mengarahkan pedangnya ke arah Halilintar dan dengan sigap Halilintar menghindar. Fang melirik, mengikuti kearah mana Halilintar menghindar, lalu menyabetkan pedangnya pada Halilintar.
Halilintar menggunakan pedang sebagai tameng dan loncat menghindari serangan berikutnya dari Fang. Fang tersenyum kecil. Halilintar menyerangnya, Fang menangkisnya. Halilintar mundur, saat Fang berganti menyerangnya.
Suara pedang beradu berkali-kali, Fang terus menyerang Halilintar bertubi-tubi dan Halilintar terus bertahan. Halilintar terus melangkah mundur menjauhi serangan Fang, Halilintar melirik kebelakangnya saat menyadari ada tiang lampu di belakangnya. Dengan cepat dia berpindah tempat, membuat Fang membelah tiang lampu itu dan berdiri di belakang Fang, bersiap mengayunkan pedangnya.
Suara pedang beradu, Fang mengarahkan pedangnya, menangkis ayunan pedang Halilintar. Lalu dengan cepat Fang berbalik dan memukul mundur Halilintar. Halilintar meloncat, menghindari ayunan pedang Fang.
Senyum Halilintar merekah, begitu pula Fang. Kedua mata tajam mereka saling menatap.
Halilintar melesat, menyerang Fang, mengayunkan pedangnya kearah pemuda berambut langit malam itu. Fang menangkisnya. Suara pedang beradu terdengar lagi. Kini ia yang bertubi-tubi mengayunkan pedangnya kearah Fang.
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
.
.
Gempa menoleh, saat Taufan duduk di sebelahnya bersama dengan Air.
"Hwaa… sepertinya seru!" seru Taufan, "Halilintar~! Semangat~!" lanjutnya sambil tertawa.
Gempa menatapnya datar. Taufan cengengesan.
"Jadi apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Taufan.
"Halilintar mengajak Fang bertarung." Jawab Gempa.
Taufan mengangguk. Kembali mereka menonton pertarungan Halilintar vs Fang. Ketiga nya terdiam hingga Ochobot dan Ying datang menghampiri.
"Pertarungan lagi? sudah kuduga." Ucap Ochobot.
Gempa tertawa kecil, "Halilintar haus pertarungan." Ucapnya.
"Ah, kau benar." Timpal Ochobot, "Tapi mereka sepertinya sama-sama kuat ya." Ucapnya kemudian sambil melihat pertarungan di depannya.
Gempa mengangguk.
"Kira-kira siapa yang akan menang? Atau ini berhasilkan seri?" tanya Ochobot dan duduk disamping Gempa.
"Aku pikir seri." Jawab Ying.
"Tidak." Ucap Air, membuat keempatnya menoleh kearahnya.
"Apa?"
"Halilintar akan kalah," Ucap Air, melirik keempatnya lalu melihat pertarungan lagi, "hanya kemungkinan, ini tidak pasti, tidak usah melihatku begitu." Lanjut Air saat Gempa, Taufan dan Ochobot menatap intens padanya.
"Tapi instingku berkata begitu." Ucap Air lagi.
"Akh!"
Kelimanya menoleh, terkejut mendapati Halilintar terpojok oleh sebuah pohon besar, pedang Fang terhunus, tertancap di batang pohon dan sedikit membuat luka gores yang cukup tebal di pipi dan telinga kiri Halilintar.
Fang mencabut pedangnya dan melompat mundur, kemudian mengancungkan pedangnya kearah Halilintar.
"Ambil pedangmu." Ucap Fang.
Halilintar menetralkan napasnya yang terburu, lalu melirik pedangnya yang tadi terlepas beberapa meter. Ia lalu berjalan dan mengambil pedangnya. Kembali dalam mode bersiap dan menatap lawannya. Di sekanya darah yang mengalir mengotori pipinya.
"Tatapan yang bagus." Ucap Fang, tersenyum.
Halilintar tersenyum kecil, lalu berlari melesat kearah Fang dengan pedang terhunus. Suara pedang kembali beradu nyaring. Keduanya kembali menghindar satu langkah. Kemudian Halilintar menyerang Fang, dengan cepat Fang menghindar, suara pedang mereka kembali berbunyi saat pedang kembali beradu tertahan.
Halilintar membalikkan tubuhnya, mengayunkan pedangnya kearah Fang. Fang menjadikan pedangnya sebagai tameng. Tersenyum kecil dan memukul mundur Halilintar.
Fang maju mengarahkan pedangnya kearah Halilintar. Halilintar menghindar, namun ujung pedang Fang menggores lengannya. Halilintar mengayunkan pedangnya dan tersenyum saat seranganya melukai bahu Fang.
Fang melangkah mundur. Halilintar kembali menyerang Fang, mengayunkan pedangnya kearah Fang.
Suara pedang beradu terdengar lagi. Fang menyabetkan pedangnya, membuat Halilintar melompat kebelakang satu langkah. Fang melaju, menghunuskan pedangnya. Halilintar menghindar gesit dan mengangkat pedangnya tinggi-tingi lalu mengayunkan pedangnya kearah Fang.
Fang mendongak dan tersenyum lebar, pedangnya mengarah dari bawah keatas menghusus kearah tangan Halilintar. Halilintar terkejut cepat dan segera menghindar.
Halilintar tertawa kecil, menyadari hampir saja tangannya putus tadi jika ia tidak menghindar. Ia menatap Fang senang.
Ia menghunuskan pedangnya kearah Fang, kedua pedang kembali beradu, Halilintar terus mengayunkan pedangnya bertubi-tubi.
.
.
"Walah makin sengit," ucap Taufan.
"Akan selesai berapa lama lagi ini?" tanya Ochobot.
"Tidak tahu lah." Jawab Gempa.
Kelimanya terus menonton pertarungan dua pemuda itu.
DUAARRR!
Hingga suara menggelegar mengagetkan mereka, disusul dengan cahaya oranye yang naik keatas langit, berkali-kali setelah suara yang sama berbunyi.
DUARR!
DUARR!
"A—apa yang terjadi?" tanya Gempa.
Ying berdiri, menatap kumpulan asap yang memenuhi langit. Pertarungan Fang dan Halilintar terhenti setelah Fang menjatuhkan pedang Halilintar hingga menacap begitu dalam ke tanah, bersamaan dengan suara menggelegar yang pertama tadi.
Seseorang berlari kearah mereka dengan wajah cemas.
"KETUA! GAWAT! GUDANG PERSEDIAAN DAN BEBERAPA RUMAH DI DEKAT PELABUHAN DI BOM!" seru orang itu.
"APA?" Fang lalu menyimpan pedangnya dan beralih ke arah Halilintar, "Maaf ya, ini mendadak. Aku sebenarnya kecewa karena petempuran kita harus diganggu seperti ini, kau mau melanjutkannya lain kali?" tanyanya pada Halilintar.
Halilintar terdiam, lalu mengangguk dan menyimpan pedangnya.
"Baiklah, sampai nanti. Jika nanti kita bertarung lagi, pastikan kau bisa mengalahkanku." Ucap Fang lalu berbalik kearah orang yang tadi.
"Panggil Liam dan Kou. Segera suruh mereka pergi ke pelabuhan. Aku akan pergi lebih dulu." Ucapnya pada orang itu.
"Siap, segera!" seru orang tadi dan berlari.
"Ying aku serahkan keamanan tempat ini sementara padamu!" seru Fang lalu berlari.
"Roger!" jawab Ying.
Sosok Fang hilang di balik bangunan, menyisakan mereka yang berwajah cemas. Halilintar melangkahkan kakinya kearah kelimanya. Dan tersenyum lirih.
"Aku kalah." Ucapnya.
"Tapi kan pertarungan kalian belum selesai, kau masih bisa melanjutkannya." Timpal Gempa.
Halilintar menggeleng, "Tidak, dia sudah menjatuhkan pedangku dua kali, aku sudah dua kali di kalahkan olehnya." Ucap Halilintar.
"Kalau begitu, untuk selanjutnya kau harus mengalahkannya." Timpal Taufan.
"Kau tak perlu mengatakannya padaku. Aku akan mengalahkannya, tentu saja," Halilintar tersenyum puas, "tapi, dia itu—benar-benar, kuat.." lanjutnya sambil melihat kearah Fang pergi tadi.
"Tapi, aku tidak percaya Air bisa menebak kalau Halilin bakal kalah." Ucap Taufan.
Halilintar menatap Air, Air balas menatapnya, "Hai…" sapanya pada Halilintar.
"Hai juga." Balas Halilintar sambil menepuk kepala Air pelan.
.
.
.
TBC
Saya kembali~ :3 dan saya membawa chapter 10, ada yang kurang puas? Saya minta maaf. :D
Haaa~ bagian pertarungan itu membuat saya pusing, beneran, buatnya susah sih, tapi menyenangkan, haha XD/dipatok. Saya balas review dulu~
Buat Fajrin : Iya, Api masih belum muncul di chapter ini… dia masih lama munculnya, paling nggak dua chapter lagi mungkin ._. Oke, ini udah lanjut, review lagi ya~ :3
Buat Another Guest : iya, sama2 udah review~ untuk pertempuran dengan pihak kerajaannya chap depan ya. Untuk Apinya nanti bakalan tau sendiri kok X3 ini udah update~ review lagi ya~
Buat Azure : thanks udah review! :3 iya konflik udah mulai muncul. Air disini bisa wushu, salah satu dari kungfu juga(kalau tidak salah), jadi dia bisa pake tangan kosong, tongkat dan alat-alat martial arts lain ._. Untuk rambutnya…. Aku pikir2 dulu XD oke ini udah lanjut, review lagi ya! :3
Buat Tazkya : itu toa nyolong dari masjid? XD iya, masalah si Air begitulah. Iyup, review lagi ya~ X3
Buat Guest : iyap, thanks. Review lagi ya~ :3
Buat Lavender White : iya thanks, ini udah dimunculin scene yg ada Ying-nya, saya gak yakin bisa memperbanyak lagi, hehe/disembur/ review lagi ya~ :D
Maaf ya, saya telat updet, btw. Banyak tugas, mulai ada ulangan, ngantukan, dan faktor kesehatan membuat saya gak sempet nulis/lebaybangetalasannya/bilangajamalas/tapibenerkok/disumpal/ :3 thanks udah sabar nungguin ff saya ini~/tebarflyingkiss
Oke, thanks yang udah review~ buat yang udah baca chapter ini juga trimakasih~ saya harap kalian jangan lupa review ya~ :3
Adios! X3/sorikebanyakanemot :3
