Under The Sky [Ch. 13]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
Trang!
Suara pedang beradu nyaring, berkali-kali dan dengan gesit kedua belah pihak menghindari serangan pedang yang diberikan oleh satu sama lain.
Keduanya menyeringai, pedang mereka berayun, saling mencari titik lemah dan berusaha memenangkan pertarungan.
Trang!
Trang!
Halilintar melompat mundur, menjauhi sabetan pedang Fang. Fang mengayunkan pedangnya, pedang mereka pun beradu tertahan.
Halilintar balas menyerang, mengayunkan pedang kearah Fang, membuat sebuah luka gores dipipi Fang. Fang terkekeh, ia mengayunkan pedangnya, menggores lengan Halilintar.
Keduanya lalu melompat mundur, kemudian berlari dengan pedang terhunus.
Trang!
Suara pedang beradu lagi. Halilintar mengayunkan pedangnya, Fang menghindar dan menjadikan pedang miliknya sebagai tameng. Halilintar kembali mengayunkan pedangnya, menyerang Fang bertubi-tubi. Suara pedang beradu lagi berkali-kali.
Halilintar berputar, lalu menjadikan pedangnya sebagai tameng. Membuat pedang mereka kembali beradu. Fang menyerang, mengayunkan pedangnya ke arah Halilintar. Halilintar menahan serangan pemuda berkacamata itu dan balas menyerangnya.
Fang tersenyum tipis. Keduanya berlari, saling menghindar dari ayunan pedang satu sama lain. Saling mengayunkan pedangnya, mencoba melukai.
Trang!
Trang!
Trang!
Halilintar melompat kebelakang, menjauhi tebasan Fang yang hampir saja mengenainya. Fang mengejarnya. Kembali pedang mereka beradu tertahan membuat sebuah suara pilu dari ujung pedang.
Trang!
Halilintar melepaskan pedangnya dari pedang Fang, menghindar beberapa langkah lalu menghunuskan pedangnya. Fang menjadikan pedangnya sebagai tameng. Pedang mereka kembali beradu. Fang lalu mengayunkan pedangnya kearah Halilintar.
Halilintar balas menyerang bertubi-tubi, membuat Fang menghindar dengan gerakan mundur kebelakang. Tanpa sadar tubuhnya menabrak pohon di belakangnya.
Halilintar tersenyum, di hunuskannya pedangnya. Fang menangkis serangannya dan bergerak menjauhi pohon.
Trang!
Trang!
Trang!
Traang!
Pedang Halilintar menebas bahu Fang, membuat sebuah luka terbuka disana. Fang tersenyum. Ia tetap mengayunkan pedangnya, menyerang Halilintar. Kedua pedang mereka kembali beradu. Setelah itu keduanya melompat menghindar.
Fang meraba bahunya, "Oh, kau sudah bertambah kuat. Baguslah." Ucapnya sambil memainkan darah di telapak tangannya.
Halilintar terkekeh, "Tapi tetap saja aku belum membuatmu tumbang." Jawabnya.
Fang merilekskan lehernya yang kaku dengan mengarahkannya ke kanan dan ke kiri hingga menimbulkan bunyi 'krek'.
"Kau ingin membuatku tumbang? Boleh juga." Ucap Fang.
Halilintar diam.
"Bagaimana perasaanmu di perang kemarin? Senang?" tanya Fang.
Halilintar tersenyum, "Sangat senang, aku berterimakasih padamu telah mengikut sertakan aku di perang itu." jawab Halilintar.
"Jangan berterimakasih pada ku. Berterimakasihlah pada pemuda berpakaian hitam emas itu." ujar Fang.
"Gempa?" tanya Halilintar sambil melirik Gempa yang menatap keduanya dengan bingung.
Fang mengangguk.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Halilintar.
"Hanya menyatakan sebuah permintaannya padaku. Itu saja." Jawab Fang.
Halilintar mengangguk.
"Baiklah, kita lanjutkan?" tanya Fang.
Halilintar mengangguk. Kedua nya melesat dengan pedang terhunus dan menimbulkan suara dentang yang tinggi.
Keduanya saling menyerang bertubi-tubi. Menghindar. Menangkis.
Halilintar mengayunkan pedangnya, siap menebas Fang lagi saat dilihatnya Fang melengah. Namun, dia salah. Dengan gesit Fang menghindar kesamping. Memutar pedangnya dan mengarahkan mata pedangnya kearah leher Halilintar.
Halilintar menahan napas, sedikit saja, mata pedang Fang dapat mengiris kulit lehernya.
Fang menyeringai, dengan cepat ia menyentakkan pedang milik Halilintar hingga terlepas dari pegangan tangan Halilntar dan melambung tinggi kelangit, berputar di udara kemudian jatuh menghujam ketanah dan hampir saja mengenai Halilintar jika saja pemuda itu tidak menghindar dengan cepat.
"Hh… bahaya… hampir saja.." desis Halilintar.
Fang tersenyum lebar, di lepasnya pedang Halilintar yang menancap di tanah.
"Lanjutkan?" tanya Fang.
Halilintar mengangguk, "Tentu saja, sampai aku mengalahkanmu." Jawab Halilintar.
"Baiklah." Ucap Fang lalu melemparkan pedang milik Halilintar kearah pemiliknya.
"Arigato…!" Ucap Halilintar sambil menangkap pedangnya.
"Doita shimasu!" Balas Fang.
Dan pertarungan mereka kembali dimulai.
.
.
COFFEYMILK
.
Istana Kerajaan
BRAK!
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALAH DARI PARA MANUSIA SAMPAH ITU?!" teriak seorang lelaki pada dua orang yang terlihat babak belur, Baron dan Louis.
"DASAR KALIAN TIDAK BERGUNA!"
"Ma-maafkan kami, tuan Grel." Ucap Baron dengan wajah pucat.
"INI BENAR-BENAR MENCORENG NAMA KERAJAAN! KALIAN HARUS MEMBAYAR UNTUK ITU!" teriak Grel.
Baron dan Louis mengangguk takut-takut.
"Diamlah, Grel. Aku tidak menyuruhmu untuk berteriak diruangan ini." Titah sebuah suara tegas membuat Grel terkejut.
Grel menoleh, lalu berlutut, "Ma—maafkan saya Yang Mulia, Raja." ucapnya kepada seorang lelaki yang menatapnya tajam diatas singgasana-nya.
"Berdirilah," ucap sang Raja kemudian, lalu beralih menatap tajam pada Baron dan Louis.
"Kenapa kalian bisa kalah?" tanya sang Raja.
"Ka—kami.."
"Kalian tahu, aku tidak menyukai yang namanya kekalahan dan orang-orang yang tidak patuh kepadaku." Potong sang Raja.
Baron dan Louis menelan ludah mereka.
"Seharusnya, Boboiboy Air sudah ada ditanganku, hidup atau mati. Tapi, mengapa kalian tidak sanggup melakukan hal sekecil itu?" tanya sang Raja.
"Ka—kami ka-kalah ku-at Y-yang Mulia." Jawab Louis.
Sang Raja menatap mereka murka, "Kalah kuat? Katakan padaku apa maksudnya dengan itu."
Baron dan Louis menunduk.
"Aku sudah memberikan kalian prajurit yang banyak. Sungguh sia-sia aku melakukan hal itu." ucap sang Raja.
"Pengawal! Bawa mereka ke ruang hukuman!" titah sang Raja, yang langsung di kerjakan oleh beberapa pengawal yang berjaga disana.
"Ta—tapi, Yang Mulia!" seru Louis tidak terima.
Sang Raja menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"A—aku punya be-berita bagus untukmu, wahai Yang Mulia!" seru Louis.
"Apa itu?"
"Aku melihatnya, tiga orang pemuda yang memiliki wajah serupa dengan Boboiboy Air!" seru Louis, berharap setelah ia mengatakan hal itu, ia dibebaskan.
"Hooo…. Baguslah kalau begitu, semakin banyak mereka keluar, semakin mudah pula mereka untuk ditangkap," ucap sang Raja, "Pengawal, segera bawa mereka!" seru sang Raja lagi.
"Ta—tapi, Yang Muliaa!" seru Louis.
"Jangan berteriak padaku, kau makhluk rendahan. Nikmatilah waktu hukumanmu." Ucap Raja.
Dan kemudian para pengawal yang membawa Baron dan Louis keluar ruangan, dan pintu pun tertutup.
"Baiklah, kita kembali lagi pada topik," Ucap sang Raja, "Bagaimana dengan perdagangannya?" tanyanya.
Seorang lelaki berkacamata bangkit dari tempat duduknya, "Sejauh ini baik-baik saja, Yang Mulia,"
"Bagus."
"Tapi, kita punya masalah. Bocah Pengebom selalu menghalangi kami menangkap orang-orang yang harus diperdagangkan. Bocah itu harus segera kita tumpas, Yang Mulia." Lanjut lelaki berkacamata itu.
Mata sang Raja menyipit, "Lakukan segala cara untuk menangkap bocah itu, tapi lebih baik jangan membunuhnya. Siksa dia, lalu jual lah." Ucap sang Raja.
Lelaki itu tersenyum licik, "Sesuai keinginan anda, Yang Mulia.."
"Lalu bagaimana dengan apa yang dikatakan Louis tadi, Yang Mulia?" tanya seorang wanita.
Sang Raja menyeringai, "Seperti yang aku bilang tadi, lebih baik kita menangkap mereka sekaligus saat mereka sudah lengkap, itu hal yang mudah."
Wanita itu tertawa, "Aku setuju pada anda, Yang Mulia." Ucap wanita itu kemudian.
.
.
=CoffeyMilk=
.
Suara pedang beradu berkali-kali. Halilintar dan Fang masih saja menyerang satu sama lain.
Trang!
Halilintar menggigit bibirnya, mencoba berpikir bagaimana caranya ia harus mengalahkan pemuda itu.
Pedang mereka beradu tertahan. Kemudian kembali lagi beradu. Halilintar melancarkan serangannya, mengarahkannya kearah titik fatal Fang. Namun, Fang berhasil menangkis pedang Halilintar.
Trang!
Trang!
Fang maju, menganyukan pedangnya kearah Halilintar, membuat sebuah luka goresan di perut pemuda itu. Halilintar menangkis, kembali menyerang. Tangannya dengan lihai ia gerakkan untuk menganyunkan pedang.
Fang menghindar, pedang mereka kembali beradu. Halilintar menatapnya sengit dan menyerangnya berkali-kali. Suara pedang mereka berdentang bertalu-talu.
Trang!
Trang!
Trang!
Trang!
Fang diam, dengan tenang menangkis serangan Halilintar. Halilintar terus menganyunkan pedangnya, mencoba melukai pemuda berkacamata itu.
Dan ia tersenyum lebar saat bisa melukai tangan Fang.
.
Fang meringis, pegangannya pada pedang sedikit mengendur. Dan Halilintar mengambil kesempatan itu untuk mengalahkan pemuda itu. Diayunkannya pedangnya dan dengan keras mengenai pedang Fang.
.
Pedang Fang melayang, kemudian menghujam pada tanah. Fang menatap tangannya yang tak memegang pedang lagi, bahkan malah mengalirkan darah yang cukup deras.
Halilintar diam.
"Yosh. Aku menyerah," Ucap Fang lagi sambil menaikkan tangannya, "aku bukan kidal, soalnya."
Halilintar menetralkan deru napasnya. Menatap pedang Fang yang tertancap pada tanah beberapa meter dari mereka. Disimpannya pedangnya dalam sarung.
"Kau tidak membuatku babak belur? Atau membunuhku? Itu akan membuatmu merasa lebih menang lagi." ucap Fang.
Halilintar menatap Fang lalu menggeleng, "Kau gila ya? Ini sudah dari cukup, aku tidak ingin membunuh orang yang telah membantu kami semua. Aku cukup tahu tanda terimakasih." Jawab Halilintar.
Fang menurunkan tangannya, "Baiklah." Ucap Fang.
Bruk.
Halilintar terkejut saat Fang rebah ketanah.
"Kau tidak apa?" tanya Halilintar.
Fang tertawa, "Aku baik-baik saja. Hanya pusing karena kehabisan darah." Jawabnya.
"Lebay. Lukamu bukanlah luka yang lebar." Komentar Halilintar.
Fang kembali tertawa, "Aku menikmatinya, bertarung denganmu." Ucapnya.
Halilintar lalu duduk bersila di sebelahnya, "Aku pun begitu."
Fang tersenyum lebar, "Jadi berapa kali kau telah kalah dalam pertarunganmu?" tanyanya.
"Pertanyaanmu seperti menyindirku." Jawab Halilintar lalu mendengus.
Gempa, Ochobot lalu menghampiri mereka dan mengobati luka mereka. Halilintar menatap sekitarnya, mendapati Taufan dan Air tampak duduk di teras bersama Liam dan Kou yang tersenyum kearahnya lalu melambaikan tangan kepadanya.
"Halilin~" panggil Taufan.
"Pangeran Halilintar bisa juga." Ucap Liam sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Kou mengejek ke arah Liam.
"Aku pengguna tombak, bukan pedang." Jawab Liam.
"Itu bukan alasan." Balas Kou.
"Kau sendiri?" tanya Liam.
Kou terkekeh malas.
Air tersenyum tipis, "Kakak pertama menang dari Fang, hahaha… aku bahkan tidak tahu apakah ini keberuntungan…." Ucapnya.
"Tentu saja keberuntungan!" seru Taufan lalu tertawa keras.
"Dia mungkin akan marah jika kau mengatakan itu.." ucap Air padanya.
Taufan merangkulnya, "Sudahlah, ayo kesana!"
"Yah…. baiklah.."
.
.
.
Bulan purnama bersinar terang di langit malam penuh bintang. Udara dingin berhembus menyapa kulit. Air kini duduk bersila di sebuah gazebo, matanya terpejam, menikmati permainan serulingnya. Jari-jemarinya bergerak menutup lubang seruling bergantian, menghasilkan nada indah yang kini mengudara, kemudian memenuhi kediaman klan Li.
Seseorang datang dan duduk disampingnya, lalu memainkan Ehru, sebuah alat musik gesek China, mengikuti nada yang Air mainkan.
Air membuka matanya, melirik dan mendapati Fang disampingnya. Air mengangguk kecil saat Fang balas meliriknya, keduanya tak berniat untuk menghentikan permainan pada alat musik masing-masing.
Nada itu terus dimainkan hingga tiga kembar dan Ochobot datang menghampiri mereka. Air menyudahi permainan serulingnya, diikuti Fang yang menuntaskan nada akhir.
"Kenapa berhenti? Itu indah sekali lho.." ucap Taufan.
"Rasanya tenang sekali mendengar nada tadi.." timpal Ochobot.
"Terimakasih." Ucap Air.
Mereka lalu menaiki lantai gazebo.
"Kalian tidak bersiap-siap? Katanya besok mau berangkat mencari…siapa?" tanya Fang.
"Api, Boboiboy Api," Jawab Gempa, "Kami sudah selesai bersiap kok." Lanjutnya.
Fang mengangguk mengerti, lalu memijat keningnya, "Nama kalian gak ada yang normal ya." Ucapnya.
Tok!
Halilintar memukul kepalanya dengan sarung pedang. Fang mendengus.
Taufan tertawa. Gempa membuka sebuah peta yang sedari tadi ia bawa dan menunjukkannya pada Fang.
"Fang, kau tahu tempat ini?" tanya Gempa, menunjukkan sebuah wilayah yang dilingkari.
"Hmm?" Fang mengambil peta itu, lalu membacanya.
Gempa diam menunggu.
"Kalian akan mendatangi tempat ini?" tanya Fang.
Gempa mengangguk, "Bibi Mira yang menandainya." Jawabnya.
"Dan Boboiboy Api ada di wilayah ini?" tanya Fang.
"Aku tidak tahu pasti, Bibi Mira bilang dia membuat itu sudah lima tahun yang lalu. Jadi, mungkin saja ia sudah pindah lokasi, tapi, kami berencana untuk memeriksanya lebih dulu." Jawab Gempa.
"Lebih baik… kau tidak mengunjungi tempat ini." Ucap Fang kemudian.
Gempa menatapnya bingung, "Ha? Kenapa? Ada sesuatu tentang wilayah itu?"
Fang mengangguk, "Perdagangan manusia, sebetulnya tidak hanya di wilayah ini, tapi daerah sekitarnya juga. Aku khawatir jika kalian tertangkap dan diperdagangkan." Jawab Fang.
Gempa melongo, tiga kembar yang lain memperhatikan pembicaraan keduanya, begitu pula Ochobot.
"Tapi, jika kalian benar-benar akan kesana, kusarankan untuk berhati-hati, karena bisa jadi wajah kalian sudah di ketahui." Ucap Fang.
Gempa mengangguk.
"Disana juga banyak sekali prajurit-prajurit dan para pengawal dari kerajaan. Jadi.. kalau kalian mengalami suatu masalah, aku ingin kalian tidak bertindak gegabah. Pikirkan semuanya dulu secara matang sebelum melakukannya." Ucap Fang lagi.
"Aku mengerti, terimakasih." Ucap Gempa.
"Sama-sama." Balas Fang.
.
.
=CoffeyMilk=
.
Kediaman klan Li tampak ramai karena keempat Boboiboy dan Ochobot akan segera pergi.
"Ah, kalian sudah mau pergi saja. Padahal aku belum sempat mengobrol dengan kalian." Ucap Liam sambil menjabat tangan Gempa.
Gempa tertawa kecil, "Aku harap suatu hari nanti kita bisa mengobrol." Ucapnya.
"Kau benar. Hati-hatilah diperjalanan kalian." Ucap Liam.
Halilintar tampak mengobrol dengan Kou.
"Aku baru kali ini melihat ada yang bisa mengalahkan Ketua Fang walaupun sekali, kecuali Tuan Besar Xiao." Ucap Kou.
"Benarkah? Walaupun aku hanya menang sekali?" tanya Halilintar.
"Yap. Bahkan Shui tak bisa menandinginya." Jawab Kou.
"Ho? Lalu bagaimana dengan mu? Aku melihat kau juga pengguna pedang." Ucap Halilintar.
Kou melihat langit diatasnya, "Hm… itu… aku kalah telak lima kali." Jawab Kou, senyum tak lepas dari bibirnya.
Halilintar mengangguk mengerti, "Tapi aku tidak puas hanya bisa mengalahkannya sekali, sedangkan dia sudah mengalahkanku tiga kali."
"Kalahkanlah Ketua lain kali." Kou tertawa.
.
Air mengecek barang bawaannya dalam tas, menghela napas lega menyadari semua barang yang ia butuhkan lengkap. Ia mendongakkan kepalanya saat Fang dan Ying menghampirinya.
"Haaa kediaman Klan Li pasti sepi kalau kalian sudah pergi!" seru Ying.
Air tertawa kecil.
"Aku juga tidak bisa mendengar permainan serulingmu." Ucap Ying.
"Tapi masih ada Fang yang memainkan ehru-nya." Jawab Air.
Ying tertawa keras, "Untuk apa? Aku bisa memainkannya sendiri." Ucapnya.
"Kau menyindirku," celetuk Fang.
Air tersenyum tipis kearah mereka berdua, lalu memeluk keduanya.
"Kau kenapa?" tanya Fang geli melihat pemuda itu.
"Aku berasa ibu yang anaknya mau pergi jauh." Ucap Ying.
"Aku akan merindukan kalian berdua." Jawab Air.
Fang mendengus, Ying tertawa.
"Halah, paling gak sampai setahun ntar ketemu lagi, kok." Ucap Fang.
"Ya, benar!" seru Ying.
Air melepaskan pelukannya.
"Ehh… kami gak dipeluk juga nih?"
Air menoleh, mendapati Liam dan Kou tersenyum lebar kearahnya.
"Nggak ah, ntar kalian balas meluk sampai aku kehabisan napas." jawab Air datar.
Liam tertawa.
"Berhati-hatilah di perjalananmu, pangeran Shui.." ucap Liam.
"Tolong jangan memanggilku begitu." Ucap Air.
Liam mengangguk tidak minat, "Oke, oke~"
Kou terkekeh.
Tiga kembar dan Ochobot menghampiri mereka.
"Oh, sudah?" tanya Fang.
Gempa mengangguk, "Kita akan berangkat." Ucapnya.
Fang tersenyum, lalu mengantarkan mereka sampai diluar gerbang besar kediaman Klan Li, diikuti oleh Ying, Liam, Kou dan beberapa pelayan.
"Ingat pesanku tadi malam," Ucap Fang. "Jangan gegabah dan berhati-hatilah."
Gempa tersenyum, "Tentu! Terimakasih!" serunya sambil mengancungkan jempolnya.
"Kalau kita bertemu lagi, ayo bertarung." Ucap Halilintar pada Fang.
"Ya, baiklah." Fang mengangguk kecil.
"Sampai bertemu lagi, Li Fang! kau juga Li Ying!" seru Taufan riang, "Dan… jangan merindukanku!" serunya lalu tertawa lebar.
"Heh. Siapa juga yang mau merindukanmu?" tanya Halilintar terkekeh.
"Ada saja!" Jawab Taufan.
"Aku harap kita bertemu lagi, Li Fang, Li Ying.." ucap Ochobot.
"Ya. Terimakasih, Ochobot. Ngomong-ngomong, kue buatanmu enak sekali." Ucap Fang.
"Oh, ya.." ucap Ochobot.
"Aku juga, terimakasih, Ochobot! Sudah mengajariku memasak!" seru Ying, "Oh ya, aku punya sesuatu untuk mu." Ucap Ying.
"Apa itu?" tanya Ochobot.
Ying memakaikan sehelai kain tebal di pinggang Ochobot.
"Aku sering melihatmu menggigil, jadi pakailah ini." Ucap Ying.
Ochobot menepuk kain yang terpasang dipinggangnya, "Terimakasih Ying!" ucapnya senang.
Gempa tersenyum, "Baiklah, kami berangkat!" serunya.
"Dah~"
"Hati-hati~"
"Dah~"
"Jangan merindukankuuuu~"
"Woy."
"Dah~"
.
.
=CoffeyMilk=
.
.
"Udaranya segar." Ucap Halilintar.
Air mengangguk.
"Tapi, aku capeeekk.." ucap Taufan.
Gempa tertawa, "Habis kita sudah beberapa hari gak jalan kayak gini." Ucapnya.
"Hmm… sudah hampir seminggu ya.." timpal Ochobot.
Gempa mengangguk, "Dan sekarang kita sudah berjalan lebih dari sepuluh kilo."
Ochobot menoleh kearah Taufan, "Mau istirahat dulu?"
"Iyalah!" seru Taufan cepat.
Gempa melihat sekitar tempat mereka berada, "Tapi ini bukan tempat yang bagus buat istirahat, jalan lagi dulu ya?" tanyanya.
Taufan menatap Gempa sebal, "Sampai mana?" tanya Taufan.
"Emm… setidaknya, tempatnya agak terang sedikit." Jawab Gempa.
Mereka pun terus berjalan, hingga sampai di sebuah padang rumput yang dimana ada beberapa ekor domba di ternak disana.
"Di dekat sini ada pemukiman penduduk sepertinya." Ucap Gempa, lalu duduk di atas sebuah batu besar.
Halilintar mengangguk.
Taufan pun duduk di sebelah Gempa. Air duduk bersila diatas rumput. Diikuti oleh Halilintar dan Ochobot. Kelimanya lalu mengambil bekal yang mereka bawa dari kediaman Klan Li.
"Masih sejauh mana tempat yang akan kita tuju?" tanya Taufan disela-sela makannya.
Gempa menelan makanan yang ia kunyah, "Sebentar," ucapnya lalu merogoh isi tasnya untuk mengambil kertas peta. Ia lalu duduk di rerumputan dan membuka gulungan peta itu.
Gempa memakan sesendok bekalnya, menunjukkan sebuah daerah tempat dimana mereka berada sekarang.
"Haku raswa kita disinhi sekwarang." Ucap Gempa di sela kunyahannya.
"Emm… telanlah dulu makananmu baru berbicara." Ucap Halilintar.
Gempa mengangguk. "Wokeh." Ia lalu menelan makanan di mulutnya.
"Aku pikir kita disini sekarang," ucap Gempa, "kalau benar didekat sini ada pemukiman penduduk berarti benar. Dan tempat tujuan kita masih beberapa kilo meter jauhnya." Lanjut Gempa.
"Kurang lebih jaraknya 40 kilo." Ucap Air.
Gempa mengangguk kecil, "Mungkin."
"Ahh… itu jauh sekali~" keluh Taufan.
"Anak manja diamlah." Ucap Halilintar.
"Aku tidak manja." Taufan menatap Halilintar kesal.
"Kalau begitu ayo selesaikan makannya dulu, baru kita kembali berjalan." Ucap Ochobot.
Keempat kembar mengangguk.
.
.
.
.
Gempa mengusap keringatnya menetes di wajahnya, di tatapnya matahari yang kini bersinar begitu cerah dan terik.
"Panasnya.." keluh Ochobot.
"Kau benar.." ucap Halilintar lalu melepaskan jaketnya.
"Bagaimana jika kita mencari sebuah tempat yang segar?" tanya Air.
Gempa meliriknya, "Maksudnya?"
"Sungai misalnya." Jawab Air.
"Kau ingin mandi?" tanya Gempa.
"Mungkin begitu." Air tertawa kecil.
Gempa membuka petanya, "Tapi aku tidak tahu apakah disini ada sungai atau tidak…. Mm.. sampai dimana kita sekarang?" tanya Gempa.
Air menunjukkan sebuah tempat, "Tadi kita disini," jawabnya lalu menggeser telunjuknya sedikit, "Mungkin kita disini." Lanjut Air.
Gempa mengangguk, ia kemudian menelusuri wilayah sekitar mereka di peta.
"Ah ada, wilayah ini melewati sungai." Ucap Gempa.
"Tapi apa tidak melenceng dari jalur perjalanan kita?" tanya Ochobot nimbrung.
"Iya sih, tapi…"
"Ayo kesana." Ucap Halilintar.
Gempa menghela napas, "Ya sudah, ayo." Ucapnya.
"Kemana Taufan?" tanya Ochobot sambil melihat kesekitarnya, mencari Taufan.
"Oh iya, dimana Taufan?" tanya Gempa.
Halilintar dan Air serempak menggeleng, "Tidak tahu."
Ochobot lalu berjalan mencari Taufan. Ia melewati beberapa pohon yang ia lewati tadi bersama yang lainnya. Dan ia pun menemukan Taufan di bawah sebuah pohon, berdiri sambil wajah menghadap atas.
"Taufan, apa yang kau lakukan?" tanya Ochobot.
"Mangga." Jawab Taufan.
"Ha?"
Taufan lalu loncat, meraih mangga yang berada beberapa puluh centi diatas kepalanya. Ochobot melongo menatapnya yang terus meloncat seperti itu.
"Kau akan jatuh kalau terus meloncat seperti itu…." ucap Ochobot.
"Tenang saja, tidak akan, kok!" seru Taufan di sela loncatannya.
"Bagaimana kalau kakimu terpeleset batu—"
DUAAK!
"—Baru saja aku mengatakannya." Ucap Ochobot lalu menghela napas.
Gempa datang, terkejut melihat Taufan terkapar diatas tanah.
"Ta—taufan! Kau kenapa?" tanya Gempa.
"Tenang saja, dia hanya terpleset jatuh karena mau mengambil mangga." Jawab Ochobot.
"Ooh… itu mungkin seperti karma untuk orang yang mau menyolong mangga, ya?" tanya Gempa.
"He? Pohon ini ada yang punya?" tanya Ochobot balik.
"Ntahlah? Tempat ini juga bukan seperti kebun milik penduduk. Ada penungggunya mungkin." Jawab Gempa.
"Lalu bagaimana ini? Siapa yang mau membawa Taufan?" tanya Ochobot.
"NGGAK MAU." Ucap Gempa dan Halilintar serentak.
Ochobot lalu menatap Air, "Ya sudah, berarti Air yang harus membawa Taufan." Ucapnya.
"Eeh… kenapa aku?" tanya Air memelas dengan wajah datar.
"Wajahmu sama sekali tidak mencerminkan perkataanmu." Ucap Halilintar lirih.
Air mendengus lalu memapah tubuh Taufan.
Halilintar menatap pohon mangga itu, ia menaruh tangannya di bawah dagu, pose berpikir.
"Mangga ya…. Aku rasa tidak buruk." Ucap Halilintar.
"Kau juga?" tanya Gempa.
"Tidak apa bukan? Lagipula aku bosan memakan apel terus.." ucap Halilintar.
"Setidaknya bersyukurlah dengan rezeki yang kau punya…" ucap Gempa.
"Apa itu? pesan moral?" tanya Ochobot lalu tertawa.
"Kau mau mangga, Halilintar?" tanya Air.
Halilintar menoleh, "Mau sih. Tapi aku lagi malas untuk memanjat."
Air menatapnya mantap, "Aku bisa memanjatnya dan mengambilkannya untukmu." Ucapnya.
"Oh, ya? Itu ide bagus." Jawab Halilintar puas.
"Tapi ada syaratnya…." Ucap Air.
"Huh?"
"Aku akan mengambilkannya beberapa buah, tapi kau yang membawa Taufan." Ucap Air.
Halilintar menatapnya datar, "Tidak ah, tidak jadi. Ayo jalan lagi." ucap Halilintar.
Air terdiam dan dengan malas ia membawa Taufan, berjalan mengikuti kedua kakaknya dan Ochobot dengan menggerutu.
.
.
.
.
"Sungai!" seru Gempa.
"Ah… kita sampai. Ada air terjunnya lagi." sahut Halilintar.
Ochobot lalu menghampiri sungai dan meminum airnya.
Air membaringkan tubuh Taufan keatas rerumputan. Lalu mengikuti kegiatan Ochobot.
"Bagaimana kalau makan malam nanti ikan bakar?" tanya Gempa.
"Bagus, tapi kau yang menangkap ikannya." Jawab Halilintar.
Gempa menatap datar pemuda itu, "Ya sudahlah, lagi pula kau yang memasaknya nanti.."
"Yang masak Ochobot," Ucap Halilintar, "yang buat api, si Air." Lanjutnya.
"Lalu kau mau ngapain?" tanya Gempa, kesal.
"Istirahat." Jawab Halilintar santai.
"Ha? Tidak. Kau harus mencari kayu bakar." Ucap Gempa.
Halilintar menggeleng keras, "Nggak mau."
"Halilintar." Panggil Gempa.
Halilintar menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejek Gempa. Ia lalu memasuki sungai, berjalan kearah air terjun.
"Kau mau mencari ikan?" tanya Gempa.
Halilintar menggeleng, lalu nyengir, "Jangan ganggu aku dulu, ya. Mau meditasi." Ucapnya lalu duduk bersila diatas batu besar di bawah air terjun.
Gempa melongo. Ochobot dan Air terdiam.
Halilintar pun menutup matanya.
Gempa menghela napasnya, "Ya sudahlah, aku akan mencari kayu bakar. Air, tangkap ikan ya." Ucapnya lalu pergi.
"Baik." Balas Air.
Ochobot tertawa kecil, "Andai Taufan tidak terjatuh tadi…"
Air mengangguk, lalu menggulung celana dan lengan bajunya. Kemudian, memasuki sungai dan mulai menangkap ikan.
.
.
.
Taufan mengerjap perlahan, ia merasakan dirinya tengah berbering diatas rumput. Ia terduduk, mengerjapkan mata sekali lagi. Sedikit meringis saat merasakan kepalanya berdenyut sakit.
Taufan lalu menatap sekitarnya, tampak Ochobot sedang membakar ikan, Gempa yang tengah membaca, Air yang memeras bajunya yang terlihat basah dan Halilintar yang tengah duduk bersila di bawah air terjun.
"Apa aku tertidur..?" tanya Taufan pada Gempa yang tidak jauh darinya.
Gempa menoleh, "Tidak, kau pingsan." Jawabnya.
Taufan mengusap wajahnya, "Tapi aku merasa tertidur.." lalu menguap.
Gempa tersenyum kecil, "Apa kepalamu terasa sakit?" tanyanya.
Taufan mengangguk.
Gempa mengambil sesuatu dalam tasnya, lalu memberikannya pada Taufan, "Olesi ini, sakit kepala mu akan hilang nantinya." Ucap Gempa.
Taufan menerima obat salep yang di berikan Gempa, "Terimakasih."
Gempa mengangguk lalu kembali membaca.
"Bagaimana dengan perjalanannya?" tanya Taufan.
"Karena hari sudah mau gelap, aku memutuskan untuk beristirahat disini sampai besok pagi. Lagi pula, dari tadi Halilintar belum selesai meditasi." Jawab Gempa.
"Sudah berapa jam?" tanya Taufan.
"Satu setengah jam mungkin?" jawab Gempa.
Taufan mengangguk mengerti.
Air datang sambil menunjukkan bajunya yang masih saja basah.
"Baju ku tidak mau kering.." ucapnya.
"…Seharusnya kau menjemurnya." Ucap Taufan.
"Dimana?" tanya Air, "Tidak ada tempat untuk berjemur disini." Lanjutnya.
"Buat sendiri," Jawab Gempa, "lihat, dua pohon disana bisa kau buat menjadi tiang jemuran. Sambungkan saja dengan tali."
Air mengangguk, "Terimakasih."
"Ikan sudah siap!" seru Ochobot.
"Aku mau!" Gempa berseru senang, ia langsung menyambar satu ikan yang sudah terpanggang dari tangan Ochobot.
"Aku juga mau." Ucap Taufan.
"Oh, kau sudah bangun? Gimana tadi jatuhnya, enak?" tanya Ochobot, terkekeh, menyerahkan satu ikan padanya.
Taufan mendengus, "Sakit."
"Kan aku sudah bilang." Ucap Ochobot.
"Iya lah." Jawab Taufan lalu duduk di samping Gempa.
"Halilintar! Mau sampai kapan kau meditasi?!" tanya Taufan.
"Jangan ganggu, katanya tadi. sudah, biarkan saja." Jawab Gempa.
Air lalu datang dan mengambil satu ikan dari api unggun dan segera menyantapnya.
.
.
Halilintar membuka matanya, air terjun terus menghujam tubuhnya. Halilintar turun dari batu dan berjalan lalu keluar dari dalam sungai.
"Dingin…" lirihnya sambil menggigil.
Gempa melemparkan handuk kearahnya dan ia segera menangkapnya, "Makasih."
Gempa mengangguk.
Halilintar lalu mengelap wajahnya dengan handuk, lalu mengeringkan rambutnya. Sambil mengalungkan handuk di lehernya, ia membuka bajunya yang sudah basah kuyup.
"Gempa, lemparkan juga baju ku." Ucap Halilintar.
Taufan lalu melempar tas milik Halilintar.
"—BHUAH!" dan mengenai wajah Halilintar.
"Ups, sori." Ucap Taufan lalu bersembunyi dibalik tubuh Gempa. Gempa tertawa.
"Taa…uu…faaan…" Halilintar memegang tas nya, "Bagaimana jika tasku jatuh kesungai, hah?!"
Taufan bersiul riang, "Itu masalahmu~"
Halilintar mendengus dan segera mengganti pakaiannya. Ia lalu memeras pakaiannya yang basah hingga tak tersisa air lagi lalu menjemurnya di sebelah baju milik Air. Melihat itu Air segera menyingkirkan bajunya menjauhi pakaian Halilintar.
Halilintar menatap Air kesal, "Apa maksudmu?"
"Aku hanya khawatir jika baju ku akan basah lagi." jawab Air.
Halilintar segera memiting leher Air, "Itu tidak mungkin terjadi, bodoh." Geramnya.
"Khh… tholong…."
"Halilintar! Lepaskan, nanti dia mati!"seru Ochobot.
Taufan tertawa keras.
Halilintar melepaskan pitingan lalu berjalan menuju api unggun dan duduk di depannya. Dilemparkannya ranting kecil kedalam api dan ranting itu pun dengan cepat terbakar.
"Aku lapar." Ucap Halilintar.
Ochobot segera memberikan satu ekor ikan yang sudah terpanggang diatas selembar daun pada Halilintar.
"Kau lama sekali, ini bahkan sudah mendingin." Ucap Ochobot.
Halilintar memegang ikan ekor itu, "Gak apa, toh aku bisa memanaskannya." Ucapnya lalu membakarnya diatas api.
Ochobot tertegun, "Nanti malah gosong!"
Halilintar mengendikkan bahu tak peduli. Setelah beberapa menit, ia pun menyantap ikan itu.
"Sebetulnya, untuk apa kau bersemedi?" tanya Gempa.
"Menyegarkan pikiran dan hati." Jawab Air.
"Aku pikir, dia bertanya padaku kenapa kau yang menjawab?" tanya Halilintar.
"Soalnya aku pernah melakukannya." Jawab Air.
"Aku tidak tanya itu." ucap Halilintar.
Air mengendikkan bahunya tidak peduli, "Terakhir kali aku melakukannya, aku malah demam tinggi." Lanjutnya.
"Kamu gak ngerepotin orang Klan Li kan?" tanya Taufan.
"Nggak kok." Jawab Air.
"Berarti daya tahan tubuh mu lemah." Cibir Halilintar.
Air tersenyum tipis, "Kakak pertama, sudah pernah merasakan yang namanya dibanting?" tanyanya kesal.
"Sudah kok, aku sudah di banting oleh kenyataan hidup." Jawab Halilintar.
"Galau sekali," ucap Taufan dan tertawa.
Halilintar menaikkan alisnya sekali dan melanjutkan makannya.
"Hm.. lalu, bagaimana dengan perjalanannya?" tanya Halilintar di sela makannya.
"Kita lanjut besok lagi." jawab Gempa sambil menggelar kantung tidurnya diatas rerumputan.
"..Kau sudah mau tidur?" tanya Halilintar.
Gempa mengangguk, "Kalian sebaiknya juga cepat tidur, biar kita besok bisa segera melanjutkannya." Ucapnya kemudian.
"Tapi matahari baru saja terbenam, kau mau langsung tidur?" tanya Taufan tertegun.
"Iya!" ucap Gempa, lalu terlelap.
Keempat orang yang masih terbangun terdiam.
"Baiklah, aku juga akan tidur…" ucap Air lalu menggelar selembar kain diatas rumput dan segera merebahkan diri, lalu tidur.
Ochobot tertawa kecil, lalu menyiapkan kantung tidurnya.
"Aku belum mengantuk sih, tapi tidur-tiduran kurasa gak apa." Ucap Ochobot sambil merebahkan diri di dalam kantung tidurnya.
"Aku sudah tidur tadi, jadi aku tidak mengantuk sekarang." Balas Taufan.
Ochobot mengangguk.
"Pingsan begitu, kau bilang tidur?" tanya Halilintar.
Taufan terkekeh,
Halilintar pun menyenderkan tubuhnya di batang pohon, ia lalu melihat langit yang kini gelap sepenuhnya. Ia pun menguap.
"Oke, aku tidur dulu, zzz…." Ucap Halilintar.
Taufan terkejut, "He? Sudah mau tidur?!" ia lalu menoleh kearah Ochobot yang kini sudah terlelap.
"Jangan tinggalkan aku, hey!" seru Taufan tidak terima.
.
.
CM
.
Pagi datang, fajar mulai menyingsing. Burung-burung berkicau nyaring.
"Bangun! Bangun!" seru Gempa membangunkan saudara-saudaranya dan Ochobot.
Ochobot terbangun dan mengerjapkan matanya, "Pagi…"
Halilintar membuka matanya, "Oh, sudah pagi? Cepat sekali?"
Taufan mengucek matanya dan menguap lebar.
Air masih setia mendengkur, "Krr…"
Gempa lalu membuat api dengan dua buah batu yang ia gesekkan, "Aku sudah menangkap beberapa ikan, jadi sekarang tolong bantu aku!" serunya kemudian.
Halilintar pun segera membantunya.
"Dan bangunkan Air!" seru Gempa.
Taufan mengangguk malas, lalu menghampiri Air, "Heeeiii… Aiiirr…. Baaanguun.." ucap Taufan yang masih mengantuk.
Ia menggerakkan tubuh Air berkali-kali.
"Air, banguun!"
"Krr…."
"Hooi! Sudah pagi!"
"Hrr…"
"Bangun!"
"Zzzz…"
"Kau mau ditinggal?"
Air pun terbangun, "Oh, sudah pagi? Cepat sekali…" ucapnya lalu menguap.
"Ya, ini sudah pagi." Jawab Taufan lalu berjalan ke sungai dan mencuci wajahnya.
Ke limanya lalu duduk mengitari api unggun dan menunggu ikan mereka terpanggang hingga matang. Keadaan menghening.
SREK.
"!"
Gempa terkejut saat seseorang duduk disebelahnya. Tubuhnya besar dan sedikit gemuk. Rambutnya sudah memutih sempurna begitu pula jenggot dan kumisnya yang lebat.
"Bolehkah aku ikut duduk disini bersama kalian?" suara berat orang itu terdengar.
Orang itu lalu menaruh ikan miliknya kedalam api.
Gempa menatap wajah orang itu, wajah yang terlihat sudah sangat berumur.
"Siapa anda?" tanya Gempa.
Orang itu tersenyum lebar, "Ah, tidak usah terlalu sopan, nak. Aku hanyalah orang tua yang kebetulan lewat dan sedang lapar. Beruntung kalian punya Api, aku numpang sekalian ya." Jawabnya.
Gempa mengangguk kecil.
Ochobot, Halilintar, Taufan dan Air terdiam.
"Apa anda.. pengembara?" tanya Gempa.
Orang itu tertawa, "Kau benar nak! Aku bahkan baru saja kembali dari negara tetangga!" bangganya.
"Ohh.."
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya orang itu.
"Oh, tidak! Tidak apa-apa kok, anu…" jawab Gempa.
"Namaku Gou. Panggil saja aku kakek Gou." Ucap orang itu.
"Kakek? Memangnya berapa umur anda?" tanya Ochobot.
"Sembilan puluh dua, nak." Jawab Gou.
Ochobot terperanjat, "Anda sudah sangat tua, tapi masih sanggup mengembara?"
Gou tertawa, "Tubuhku ini terlalu kuat." Ucapnya sambil menunjukkan lengannya yang berotot.
Ochobot mengangguk kecil.
Gou lalu memperhatikan anak-anak muda disekitarnya.
"Ngomong-ngomong…. Nak, kalian anak kembar?" tanyanya sambil menunjuk kearah empat kembar.
Gempa, Halilintar, Taufan dan Air sontak mengangguk.
"Tapi, kenapa cuma empat? Seharusnya ada lima bukan? Mana yang satu lagi?" tanya Gou.
"!"
.
.
.
TEBECEH.
HALOH. APA KABAR SEMUANYAH. JUMPA LAGI DENGAN SAYAH DI CH 13 YOSH!/CAPSLOCKWOY
Ada yang udah jamuran atau karatan nunggu saya updet ini? :3 Maafkan saya ya :3 saya habis study tour soalnya, selama lima hari lagi, kenyang saya/dilempar/sombongamat/ dan kulit menggelap/mewek
Balas Review dulu Yua :3
Untuk ZDN : iyap, ini udah lanjut :3 iya Api munculnya ch selanjutnya :3 iya, makasih semangatnya :3
Untuk Diffa : oke, ini saya udah lanjut :3
Untuk Rendi : mereka tinggal dimana saya gak tau '-' belum memikirkannya :3 Api pakai bahan peledak :3
Untuk Ciko : ha? Siapa yang keluar lagi? O.O tamatnya saya belum tau sampai ch berapa '-' iyap, thanks semangatnya :)
Untuk DesyNAP : tenang aja kamu gak makai 3 unsur itu kok :)) yak, ini udah lanjut thanks~
Untuk Firda : thanks, untuk sekarang yang mimpin kerajaan bukan Gempa ataupun Halilintar ya, tapi musuh
Untuk J4NU5 : nama user mu mengingatkanku sama judul lagunya Boyfriend/haha/ thanks untuk semangatnya :3
Untuk Tazkya : yang memaksa itu… ya kalau minta saya updet kilat. Gitu. Terus pakai tanda seru. Gitu :D kan saya anggap sebagai paksaan gitu ya ._. Orang yang diakhir mimpi Hali bukan Api :3 knife lady ibunya mereka? Kata siapa? Saya gak percaya/slap XD yap saya udah lanjut :3
Untuk AnnisaAT : kalau sampai chp berapa saya gak tau masih lama kayaknya ._. Utk pertanyaan yg lain uda terjawab di cerita ya :3 ya. Thanks semangatnya :3
Untuk Another Guest : untuk pertanyaannya udah kejawab ya :3 untuk si Api, sabar~ ch selanjutnya dia beneran muncul kok XD
Untuk AnnishaAulia : yap, selamat datang pembaca baru~ ini udah updet
Untuk MA : iya makasih juga uda review lagi. ini udah updet :3
Untuk Afiyah : terimakasih kembali, btw, yang buat cerita ini Cuma satu, saya :3
Udah~
Btw, kan bentar lagi ada UKK, semangat ya yang mau UKK~
.
.
Soalnya saya juga mau UKK. Jadi kalo ini lama updet lagi ya, sori~ :3 dan thanks untuk yang baca chapter ini.. thanks juga untuk yang udah review, review lagi y~
Sampai jumpa di ch selanjutnya~
.
.
.
Oh ya, btw. Siapa aja yang baca ff ini yang uda nge-add fb saya tapi belum saya konfirm? 0w0 kirim pesan ke saya yah, soalnya saya kalau konfirm itu milah-milah jadi kalau saya gak di kasih tau gak saya konfirm, maaf :) /bow
