Under The Sky [Ch. 14]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
"Kenapa cuma empat? Bukankan seharusnya ada lima? Mana yang satu lagi?"
.
"!" Kelima anak muda itu terkejut dan menatap Gou tak percaya.
"Da—darimana anda tahu itu?" tanya Taufan.
Halilintar pun bersiaga dengan menyiapkan pedangnya. Gempa terdiam.
Gou tertawa keras.
"Kalian tak perlu setegang itu! tenang saja aku bukan orang jahat!" seru Gou.
"Bagaimana anda tahu kami seharusnya lima kembar?" tanya Air.
Gou tersenyum, "Aku akan menjawabnya, tapi setidaknya ayo makan dulu, sebelum ikan kalian gosong. Ayo." Jawabnya.
Kelima anak muda itu pun mengangguk lalu menyantap ikan masing-masing, begitu pula Gou.
"Aku ini bekas prajurit kerajaan, tepatnya seorang Jendral. Tentu saja aku mengetahui kalian, wajah kalian pun aku masih ingat." Ucap Gou kemudian setelah makan mereka selesai.
"Kalian dulu lima anak kembar yang lucu, aku bahkan tidak menyangka aku akan bertemu dengan kalian lagi dihari ini setelah kejadian tiga belas tahun yang lalu." Lanjut Gou lalu terkekeh.
Keempat kembar dan Ochobot tercenung mendengarnya.
"Apa anda mengikuti perang tiga belas tahun lalu?" tanya Gempa.
"Tentu saja." Jawab Gou.
"Ayah dan Ibu… tidak, Raja dan Ratu, bagaimana mereka?" tanya Gempa.
"Yang mulia raja wafat, tetapi aku tidak tahu dengan Ratu.." Jawab Gou.
Gempa tertegun.
"Jadi, apakah dia masih hidup?" tanya Halilintar.
Gou menggeleng, "Aku tidak tahu nak." Jawabnya.
"….."
"Apakah ayah mati karena terkena ledakan di istana?" tanya Gempa.
Gou menggeleng, "Ia mati di tangan musuh." Jawabnya.
Gempa mengangguk, tangannya terkepal erat.
Gou terdiam sebentar, "Aku seharusnya tidak menceritakan ini kepada kalian, maaf." Ucapnya.
"Tidak apa-apa." Gempa menggeleng dan tersenyum.
Gou ikut tersenyum, "Kalian sangat mirip dengan Yang Mulia Raja." ucapnya.
Gempa tertawa kecil, ia masih ingat sedikit dengan wajah ayahnya.
Taufan memegang wajahnya, memikirkan wajah sang ayah di benaknya.
Air memejamkan matanya, berusaha mengingat bayangan sang ayah.
Halilintar termenung, ia teringat akan mimpinya sebelumnya, saat ia melihat seorang yang mirip dengannya tengah tersenyum kearahnya.
"Aku bertemu dengannya, dimimpiku." Ucap Halilintar.
Gempa dan Taufan meliriknya, "Lalu, apa yang kalian lakukan?"
"Gak ada sih, dia cuma lewat sambil senyum, gitu aja." Jawab Halilintar.
"Lalu bagaimana dengan ibu? Apakah ada diantara kita yang setidaknya mirip dengannya?" tanya Air.
Gou menggeleng, "Aku tidak tahu."
Air menghela napas.
"Aku pikir tidak ada." Jawab Taufan sambil menyikut pinggang Air.
Air menepis lengan Taufan, " Sakit tahu."
Taufan terkekeh.
.
"Apa kalian dalam perjalanan?" tanya Gou.
Kelimanya mengangguk.
"Oh, berarti sepertinya aku sudah menunda perjalanan kalian." Ucap Gou.
"Eh, tidak apa." Jawab Gempa.
Gou mengangguk, "Baiklah, lagi pula aku juga akan melanjutkan perjalananku." Ucapnya lalu berdiri.
Keempat kembar dan Ochobot pun ikut berdiri.
"Baiklah, aku akan duluan. Terimakasih, nak." ucap Gou lalu mengambil barang bawaannya dan pergi.
"Ya, terimakasih kembali, kakek Gou!" seru Taufan.
Gou tersenyum.
Halilintar menatap lelaki itu, "Sebentar, Kek." Panggilnya.
Gou menoleh, "Ada apa, nak?"
"Apa kau… Beard Monster?" tanya Halilintar.
Gou terkekeh, "Itu panggilan beberapa tahun yang lalu nak, sekarang tidak lagi." jawabnya.
Halilintar mengangguk kecil, "Apa kau keberatan jika aku menantangmu berpedang?" tanyanya.
"Sayang sekali, nak. Aku kehilangan pedang milikku." Jawab Gou.
Halilintar mengangguk, "Baiklah. Maafkan aku, kek." Ucapnya.
"Tidak apa nak. Sampai jumpa lagi." ucap Gou, lalu melangkah pergi.
.
"Kerjaanmu ngajak orang bertarung mulu." Ucap Taufan.
"Biarlah." Jawab Halilintar.
"Sebegitu inginnya kau menjadi kuat?" tanya Taufan.
Halilintar mengangguk kecil, tangannya menuangkan tanah keatas bara api yang masih menyala, mencoba memadamkannya.
"Kenapa gak disiram aja?" tanya Air.
Halilintar terdiam.
Gempa terkekeh, "Oke, sebaiknya kita kembali perjalanan sekarang." Ucap Gempa kemudian.
.
.
Coffey Milk
.
.
Setelah itu, hari-hari berlalu begitu cepat. Mereka terus berjalan, melewati beberapa tempat, beristirahat, melanjutkan perjalanan, begitu terus hingga hari menjelang malam. Beristirahat, melanjutkan perjalanan, hingga malam. Esok harinya, mereka berjalan lagi.
"Aku capek berjalan." Ucap Taufan.
"Ya sudah. Ayo lari." Balas Halilintar.
"Bukan begitu maksudku…" ucap Taufan.
"Lalu gimana?" tanya Halilintar.
"Gempa, gendong aku." Ucap Taufan.
Gempa terkejut, "Tidak mau!"
Ochobot tertawa, "Kerjamu mengeluh terus." Ucap Ochobot pada Taufan.
"Aku tidak akan mengeluh jika kita menggunakan kendaraan misalnya, kuda." Jawab Taufan.
Ochobot mengangguk, "Tapi kan lebih menyenangkan berjalan."
"Lagipula kalau kita pakai kendaraan itu akan menghabiskan uang." Ucap Gempa.
"Uang? Kenapa?" tanya Taufan.
"Menyewa kuda?" jawab Gempa.
"Untuk apa menyewa kalau aku punya.." ucap Taufan.
"Kau punya?" tanya Ochobot.
"Tipikal anak orang kaya, dimanja, apapun pasti di kasih." Cibir Halilintar.
"Kamu iri?" tanya Taufan.
"Nggak." Jawab Halilintar.
"Halah, bilang aja iri." Ucap Taufan.
"Aku bilang nggak, aku nggak iri." Balas Halilintar.
"Udah, jujur aja~" ucap Taufan.
Ochobot dan Gempa tertawa.
Air menyikut pinggang Halilintar, "Aku juga di lingkungan orang kaya, lho." Bisiknya.
"Memangnya aku nanya?" Halilintar berujar kesal.
Taufan dan Air terkekeh, "Kamu iri kan?"
Halilintar mencoba bersabar dengan kedua saudaranya itu, "Bisa diam gak?" tanyanya.
Taufan dan Air menggeleng.
Halilintar menatap sengit kearah Taufan dan Air.
"Adik-adik kurang ajar." Desisnya.
"Tapi kita seumur lho, kakak pertama." Ucap Air.
"Iya, kakak pertama. Cuma beda berapa detik." Sahut Taufan.
"Kenapa malah mempermasalah—"
.
DUAARR!
.
Ketiganya terkejut dan menghentikan langkah mereka, begitu pula Gempa dan Ochobot yang sedari tadi ketawa geli melihat perdebatan antara Halilintar, Taufan dan Air.
"Apa tadi?" tanya Halilintar.
Gempa menggeleng tidak mengerti.
DUAARR!
Kembali lagi suara itu terdengar.
"Ada pengeboman lagi?" tanya Taufan.
Gempa menggeleng, "Aku tidak tahu, tapi arah suaranya dari sana," ucapnya sambil menunjuk kearah depan, "kita harus keluar dari hutan ini untuk mengetahuinya."
Kelimanya pun berjalan lagi dan terhenti di ujung hutan. Pemandangan asap hitam dan percikan api langsung menyapa pandangan mereka.
"Apa-apaan ini?" tanya Gempa.
DUAARR!
"GYYAA!" sayup-sayup teriakan histeris beberapa lelaki kemudian terdengar.
.
"Sebetulnya separah apa masalah yang terjadi di kerajaan ini?" tanya Ochobot.
Gempa diam.
"Tapi bom ini tidak sebesar yang kemarin terjadi di pelabuhan." Ucap Air.
"Mau besar atau tidak, bom tetaplah bom. Siapa yang tega melakukan hal ini?" tanya Halilintar.
Kelimanya lalu memperhatikan sekitar. Suara ledakan bom terdengar lagi.
"Hahahahah!" terdengar suara tawa seorang pemuda di depan luapan api bekas bom beberapa puluh meter dari mereka.
Pemuda itu memegang dinamit di tangan kirinya dan sebuah pistol di tangan kanannya. Beberapa orang berseragam tampak mengejar pemuda itu dengan keadaan sudah babak belur. Pemuda itu pun melemparkan dinamit kearah mereka dan tertawa lagi saat ia mendengar teriakan panik dari orang-orang yang mengejarnya.
Pemuda itu lalu berputar, sambil tertawa senang. Dan ia berhenti saat menyadari empat kembar dan Ochobot di belakangnya. Ia menoleh, dengan sebuah seringai di wajahnya. Menaikkan pistol ditangannya dan memfokuskan kearah empat kembar dan Ochobot. Lalu menarik pelatuknya.
Dor!
Peluru melesat cepat dan melewati kepala Air dan mengenai pohon di belakangnya.
"!" Air tertegun.
Gempa, Ochobot, Halilintar dan Taufan segera menghindar. Begitu pula Air.
Pemuda itu berlari kearah mereka, mendecih pelan, lalu mengangkat pistolnya lagi, menekan pelatuk berkali-kali dan mengarahkannya kebeberapa arah.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Halilintar, Gempa, dan Taufan sontak menghindar, peluru itu meleset.
Pemuda itu tersenyum kecil, ia menurunkan pistolnya dan menyimpannya di saku bajunya.
"Pergilah." Ucap pemuda itu.
Keempat kembar dan Ochobot menatap pemuda itu dengan tatapan bingung.
"Pergilah!" seru pemuda itu.
"Apa maksudmu?" tanya Halilintar.
"PERGILAH! JANGAN MENDEKAT LAGI KEARAH WILAYAH INI!" seru pemuda itu.
Keempat kembar dan Ochobot terdiam.
"Wilayah ini tidak aman, sebaiknya kalian tidak usah kemari. Pergilah. Atau kalian akan menyesal." Ucap Pemuda itu.
Gempa mengangguk kecil, walau ia masih memiliki beberapa pertanyaan dipikirannya pada pemuda itu. Halilintar bahkan sudah berbalik. Ochobot dan Air pun mengikuti.
Taufan terdiam, menatap pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pemuda itu berambut hitam, memakai sebuah pengikat rambut dengan liontin berbentuk kibaran api di ujung poninya, bajunya merah tanpa lengan, kulitnya bernoda kehitaman karena jelaga.
"Taufan! Ayo!" seru Ochobot.
Taufan tidak bergeming, ia masih menatap pemuda itu hingga pemuda itu berbalik.
"Taufan!"
Taufan menoleh, mendapati tiga kembar dan Ochobot berdiri menunggunya. Taufan menggeleng. Gempa menghampirinya.
"Ayo."
Taufan menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Gempa bingung.
Taufan menoleh, menatap kearah pemuda itu, "Dia.. Dia Api.."
"Hah?"
Taufan berlari kearah pemuda itu, dan menghampirinya. Pemuda itu berbalik, menatapnya dengan heran.
"Kau Api, kan? Kau Boboiboy Api kan?" tanya Taufan, sambil mengguncang bahu pemuda itu.
Mata pemuda itu membulat.
"Ini aku, Api! Aku Taufan!" seru Taufan senang.
Pemuda itu terbelalak, lalu menatapnya kesal, ia menepis tangan Taufan dari bahunya.
"Hah? Taufan? Siapa? Aku tidak mengenalmu." Pemuda itu berucap tajam.
"Kita adalah saudara! Kau tidak ingat?" tanya Taufan.
Pemuda itu menatapnya tajam, "Hah? saudara? Sejak kapan aku punya saudara?"
Taufan mengatupkan mulutnya, menatap pemuda itu dengan pandangan tidak percaya.
"Jangan sok akrab dengan ku." Ucap pemuda itu lagi dan pergi.
Taufan terdiam.
.
.
.
"Kau mungkin salah orang." Komentar Ochobot pada Taufan yang terus menunduk.
Taufan mendongak, "Aku tidak salah orang! Dia beneran Boboiboy Api! Aku tidak pernah salah…" balasnya.
Gempa meliriknya, lalu mengelus punggung Taufan.
"Jangan menangis.." cibir Halilintar.
"Aku tidak menangis! Hanya sedih!" seru Taufan kesal.
Kelimanya lalu terdiam.
"Bagaimana kalau anak itu beneran Api?" tanya Gempa.
"Hmm.. entahlah?" tanya Halilintar, "Dia bahkan bilang tidak kenal Taufan bukan?"
"Mungkin dia berbohong.." jawab Ochobot.
Gempa mengangguk, "Itu mungkin saja."
"Dia pasti punya masalah." Ucap Air.
"Kau benar, mungkin masalahnya adalah wilayah ini. Dia bilang wilayah ini tidak aman bukan? Jadi sebisa mungkin, dia tidak ingin kita dalam bahaya." Ujar Gempa.
"Benar juga sih, tapi apa maksudnya dengan menembakkan pistol kearah kita?" tanya Halilintar.
"Mungkin… agar kita pergi dari sini?" tanya Ochobot.
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini!" seru Taufan.
Halilintar, Gempa dan Air menoleh.
"Aku akan menyusulnya." Ucap Taufan.
"Jangan gegabah!" seru Halilintar.
"Aku tidak peduli, dia adikku. Jika dia sendiri tidak ingin kita dalam bahaya, aku juga tidak ingin dia dalam bahaya." Jawab Taufan, lalu berbalik.
"Taufan!" panggil Gempa.
Halilintar menghela napas.
"Kakak kedua, kita harus memikirkannya dulu," Ucap Air, "akan sangat merepotkan jika kau mendapat masalah yang lebih besar lagi. Ingat kata Fang, kita harus memikirkannya dulu." Lanjutnya.
Taufan menghentikan langkahnya.
Gempa tersenyum, "Air benar, ayo kita pikirkan lagi. Kita tidak perlu terburu. Setidaknya kita harus memiliki rencana dan sebisa mungkin tidak membahayakan diri sendiri." Ujar Gempa.
Taufan terdiam.
"Baiklah…"
.
.
.
.
"Aku khawatir jika perkataan Fang tentang perdagangan manusia itu benar. Mereka pastilah menangkap para penduduk untuk di perdagangkan menjadi budak. Jika itu benar kita harus waspada dengan mereka. Lalu soal Api… hm.. ada masukan?" tanya Gempa.
"Datangi saja dia." Jawab Halilintar.
Taufan mengangguk setuju.
Ochobot menggeleng keras, "Jangan. Dia pasti marah nanti." ucapnya.
Air mengangguk, "Lebih baik kita ikutin saja dia, lagipula kita tidak tahu kesehariannya bagaimana." Usulnya.
Ochobot mengangguk, "Kau benar, dengan begitu jika dia benar-benar punya masalah lain kita bisa mengetahuinya dan membantunya sebisa mungkin."
Gempa mengangguk, "Baiklah, kalau begitu kita ikutin dia."
"Errghh… itu lebih seperti penguntit. Itu tindak asusila." Ucap Halilintar.
Gempa menatap Halilintar datar.
"Tapi kalau kita lakukan sekarang, kita sudah kehilangan jejaknya." Ucap Taufan.
"Tidak apa-apa kita bisa mencarinya." Balas Air.
.
.
.
Mereka memasuki sebuah pemukiman penduduk dan terdiam saat pemukiman itu sunyi. Tak terlihat ada penduduk yang berada di sana, hanya ada beberapa petugas berseragam yang sesekali melewati jalan utama.
"Tidak ada penduduk disini." Bisik Ochobot.
Gempa mengangguk.
Air melirik sebuah rumah di sebelahnya, di tatapnya sebuah jendela yang tertutup rapat. Air mendekati rumah itu, mendapati sebuah celah kecil di kayu pintu jendela. Di intipnya isi rumah itu, mendapati sebuah keluarga yang duduk ketakutan sambil memeluk anggota keluarganya.
Air terdiam, ia lalu berjalan kearah saudaranya dan Ochobot.
"Dimana kita bisa menemukan Api?" tanya Taufan.
"Entahlah?" ucap Gempa.
Kelimanya lalu berjalan cepat melintasi beberapa rumah saat tidak ada petugas yang lewat.
"Api dimana~" ucap Taufan.
"Ssstt.." desis Halilintar.
Kelimanya terus berjalan, melewati beberapa gang sempit dan jalan yang sunyi.
"KYAA!"
Kelimanya sontak berhenti dan bersembunyi di balik gang kemudian mengintip.
"MAMA..! MAMA…!" teriak seorang anak kecil kearah seorang wanita dalam cengkraman dua orang petugas.
"ISTRIKU..!" teriak lelaki yang merupakan suami wanita itu.
"TO—TOLONG!" teriak wanita itu.
"JANGAN BANYAK BICARA KAU! CEPAT JALAN!" salah seorang petugas membentak.
"Le… lepaskan istriku!" teriak sang suami sambil mencoba melepaskan istrinya.
DUAK!
Salah seorang petugas yang lain menendang lelaki itu hingga membentur tembok. Sang anak berteriak histeris melihat hal itu dan mulai menangis. Wanita itu kemudian di paksa berjalan menuju sebuah tempat dimana ada beberapa wanita lain yang telah diikat.
"MAMAAA! MAMAA!"
.
"Ouh. Ini mengerikan." Ochobot menutup mulutnya dan tidak ingin melihat hal itu lagi.
"Aku jadi mengerti kenapa pemuda itu melarang kita mendekat ke wilayah ini." Ucap Gempa.
"Bukan pemuda! Tapi Api!" seru Taufan.
"Ssstt.. jangan teriak-teriak." Ucap Halilintar.
"Tapi yang mereka tangkap kebanyakan wanita." Ucap Air.
"Ntahlah, aku tidak mengerti." Balas Gempa.
Mereka terus mengintip.
"Apakah kita tidak menolong mereka?" tanya Halilintar.
"Lebih baik jangan dulu.." jawab Gempa.
Beberapa wanita tampak di boyong kearah wanita lain yang telah diikat.
"Korbannya makin banyak, Gem." Ucap Halilintar.
"Aaah… bagaimana ini?" tanya Gempa.
Dan mereka terkejut panik saat beberapa petugas terlihat berjalan kearah mereka. Dengan cepat mereka bersembunyi di balik kotak-kotak besar di dalam gang itu.
Petugas itu ternyata hanya melewati gang itu sambil lalu. Mereka berlima yang tadinya menahan napas, mulai menghela napas lega.
"Hampir saja…" ucap Ochobot.
Taufan terkekeh.
Gempa tersenyum, ia lalu melihat kotak besar disampingnya dengan heran, "Kotak apa ini?" tanyanya.
Keempat lainnya menoleh, lalu melihat kotak-kotak besar lainnya yang disamping mereka.
"Benar juga, kotak apa ini?" tanya Ochobot.
Halilintar mencoba membuka tutup kotak besar yang ada disampingnya, membuat yang lain berkumpul.
"Rrrggh!" Halilintar masih mencoba membuka tutup itu.
"Kuat sekali, ya." Komentar Gempa.
"Perlu ku bantu?" tanya Air.
"Heh. Tidak." Jawab Halilintar lalu mendengus.
Dengan sekuat tenaga di bukanya tutup itu dan membuahkan hasil. Mereka terkejut melihat isi kotak itu. Empat orang wanita yang terduduk di dalam kotak itu dengan keadaan terikat dan mulut mereka di tutup.
Gempa melihat kearah kotak lainnya, ada lima kotak disana, "Jangan bilang kalau seluruh kotak ini isinya…"
"Manusia." Ucap Air.
Seorang wanita melihat mereka dan mulai berteriak tidak jelas dengan mulut mereka yang tertutup, mencoba meminta tolong.
Taufan membuka kain penutup mulut wanita itu, "Siapa kalian ini?" tanya Taufan.
Wanita itu menarik napas, "Ka—kami orang—orang yang—d-di tang—kap oleh.. para.. petugas-petugas itu." jawabnya.
Taufan mengangguk lalu membuka kain penutup mulut wanita yang lain.
"Apa kalian tahu untuk apa kalian di tangkap?" tanya Halilintar.
Wanita itu menggeleng takut.
"To—tolong kami!" seru wanita yang lain pada mereka.
Air menaruh telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar para wanita itu tidak berisik. Dan mereka kembali panik saat beberapa petugas kembali melewati gang itu.
Mereka kembali berdiri setelah memastikan petugas-petugas itu tak lewat lagi.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ochobot.
Gempa berusaha membuka tutup kotak di depannya.
"Ki—kita harus—menolong—me..mereka." jawab Gempa.
"Tapi akan bahaya jika ketahuan oleh para petugas." Ucap Ochobot.
"I—itu bisa diurus nanti!" jawab Gempa, kemudian dia berhasil membuka kotak itu.
Seperti dugaannya, isi kotak itu juga manusia. Tapi bukanlah wanita namun lima orang anak kecil berumur kurang lebih belasan tahun.
Seorang anak tampak mengkerut takut saat kotak itu terbuka. Gempa tersenyum kecil, lalu membuka penutup mulut mereka.
"Kalian tidak apa?" tanyanya.
Anak itu menggeleng takut. Gempa mengangguk, kemudian membuka penutup mulut yang lain.
Melihat hal itu Taufan dan Air melakukan hal yang sama yang baru saja di lakukan Gempa, mencoba membuka penutup kotak besar disamping mereka. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berhasil membukanya.
Ochobot termenung, lalu mencoba membuka tutup kotak besar disampingnya, dan langsung terbuka.
Empat kembar melongo melihatnya.
Ochobot tertawa hambar.
"Kau itu kuat sekali apa bagaimana?" tanya Halilintar.
"Eheheh." Tawa Ochobot, lalu melepaskan penutup mulut empat wanita muda didalam kotak itu.
.
.
.
Setelah ikatan pada orang-orang yang didalam kotak di lepas mereka bersiap untuk kembali keluar pemukiman itu.
"Kau hapal jalannya Gem?" tanya Halilintar.
Gempa mengangguk, ia membawa seorang anak di punggungnya, sedangkan empat yang lain mengerumuninya. Mereka berencana membawa manusia yang mereka temukan di kotak itu ke luar pemukiman penduduk.
"Ingat, kalian harus berhati-hati dengan para petugas itu. Dan ikuti aku." Ucap Gempa.
Tiga kembar dan Ochobot mengangguk.
"Kalian kuat kan? Untuk berlari?" tanya Gempa kearah orang-orang itu.
Semuanya mengangguk mantap.
Gempa melihat kanan kiri, "Oke! Kita duluan!" seru Gempa lalu berlari dan diikuti anak-anak itu.
Ochobot menyusul, diikuti empat wanita muda di belakangnya. Halilintar pun juga menyusul dengan empat wanita di belakangnya.
Rombongan Taufan dan Air terpaksa bersembunyi sebentar saat ada petugas yang lewat. Setelah memastikan tidak ada lagi petugas, mereka pun berlari.
.
.
.
Gempa menghentikan langkahnya, mendapati beberapa petugas tampak berkumpul di salah satu jalan. Ia menengok kearah Halilintar untuk merubah haluan jalan. Halilintar mengangguk dan memimpin. Diikuti oleh rombongan Ochobot dan Gempa.
Air yang melihat hal itu pun mengikuti mereka dengan diikuti oleh beberapa lelaki di belakangnya. Taufan melihat kanan kiri, setelah menyadari keadaan aman, ia dan rombongannya pun menyusul rombongan Air.
.
Dikejauhan pemuda berbaju merah memperhatikan gerak-gerik mereka.
.
.
CoffeyMilk
.
.
Kelima rombongan itu berhenti berlari di hutan. Gempa berbalik.
"Baiklah, kita sampai disini saja. Setidaknya tempat ini aman." Ucap Gempa.
Seluruh orang disana mengangguk.
"Apakah ada yang tertinggal?" tanya Gempa.
Mereka lalu memeriksa rombongan masing-masing, "Tidak ada."
"Baguslah kalau begitu." Gempa tersenyum kecil, lalu menurunkan seorang anak dari gendongannya.
"Kami mengucapkan terimakasih pada kalian karena telah menolong kami," ucap seorang lelaki, "tapi siapa kalian?" tanyanya.
"Kami hanyalah orang-orang yang lewat ke wilayah ini." Jawab Gempa.
"Tapi untuk apa kalian menolong kami?" tanya seorang wanita muda.
"Hanya keinginan, begitu saja." Jawab Gempa.
"Kalian bisa saja diincar oleh penguasa." Ucap Wanita yang lain.
"Ah ya, itu bisa diurus nanti." jawab Gempa.
"Sekali lagi terimakasih anak muda." Ucap wanita yang lain.
"Sama-sama. Saya senang bisa membantu." Jawab Gempa.
.
"Bagaimana kalau sekarang kita membuat makan?" tanya Ochobot, "Sudah berapa lama kalian tidak makan?" tanyanya lagi.
"Ah, itu ide bagus." Ucap Taufan.
"Mungkin sekitar beberapa hari." Jawab salah seorang dari mereka.
"Jadi kalian di tangkap, di masukkan kedalam kotak lalu dibiarkan begitu saja?" Gempa terperanjat.
Seorang lelaki muda tertawa kecil, "Kau mungkin tidak bakal percaya, tapi itu lah yang mereka lakukan." Ucapnya.
Gempa mengangguk, "Kalau begitu kalian harus makan sekarang…"
Air lalu datang dengan membawa beberapa ranting pohon dan memberikannya ke Halilintar.
"Biarkan kami ikut membantu."
"Tapi kita akan memasak apa?" tanya Taufan.
"Sup aja, lebih mudah." Jawab Ochobot.
"Sudah ada bahan?" tanya Gempa.
Ochobot mengangguk.
.
Halilintar tengah membuat kompor dari bebatuan yang ditata melingkar, lalu mengisinya dengan ranting dan daun kering. Seorang lelaki membantunya dengan membuat api.
Ochobot mengeluarkan sebuah wajan dari dalam tasnya. Taufan terkejut.
"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya Taufan.
Ochobot terkekeh, "Aku memintanya pada koki klan Li."
Taufan mengangguk.
.
.
Sup kemudian selesai dimasak, Gempa mengeluarkan sebuah mangkuk kayu dari dalam tasnya. Ia lalu menoleh ke tiga kembar dan Ochobot.
"Berapa banyak mangkuk yang kalian bawa?" tanya Gempa.
Mereka menoleh, "Satu." Dan menjawab serentak.
Gempa menghela napas, "Berarti kita hanya punya lima mangkuk. Kita harus bergantian memakainya."
"Ah, biarkan anak-anak itu saja duluan yang makan." Ucap seorang wanita.
Gempa mengangguk. Ochobot lalu menuangkan sup kedalam masing-masing mangkuk dan anak-anak itu pun makan dengan lahap.
Gempa tertawa kecil, lalu beralih ke rombongan penduduk itu.
"Sejak kapan kalian mengalami ini di desa kalian?" tanya Gempa.
"Sudah lama sekali… lima—tahun." Jawab seorang lelaki.
"Dan apa kalian tahu untuk apa di kalian di tangkap?" tanya Gempa.
Beberapa orang menggeleng.
"Aku tahu, kami akan dijual menjadi budak." Jawab seorang lelaki.
Gempa mengangguk kecil.
"Apa dari kalian disini tidak ada yang satu keluarga?" tanya Gempa.
Mereka saling menatap, lalu beralih ke arah Gempa dan menggeleng.
"Tidak ada? Satu pun?" tanya Gempa terperanjat.
"Kebanyakan dari sini keluarganya sudah habis dijual. Atau mereka baru saja ditangkap." Jawab seorang wanita.
Gempa mengangguk kecil. Taufan datang menyerobot.
"Apa kalian tahu dengan seorang anak dengan ikat rambut berliontin di poni?" tanya Taufan.
Mereka kembali saling menatap, lalu beralih menatap Taufan.
"Oh, maksudmu seorang anak yang mirip dengan kalian dan memakai liontin berbentuk kibaran api itu? dan suka mengebom?" tanya salah seorang dari mereka.
Taufan mengangguk cepat.
"Oh… namanya Api. Aku tidak tahu mengapa namanya sangat aneh.." ucap seorang lelaki.
Taufan tersenyum lebar mendengarnya.
"Suka mengebom? Apa maksudnya?" tanya Gempa.
"Mmm… gimana ya? Itu seperti dia hendak menolong kami. Kebanyakan yang menjadi korban pengebomannya hanya para petugas-petugas itu." jawab seorang wanita.
"Ya, benar! Dia bahkan pernah mengebom tempat yang akan di gunakan untuk mengantar tangkapan dan melepaskan korban tangkapan juga." Sambung yang lain.
Gempa terdiam, sedikit lega karena ternyata saudaranya tidak mengebom tanpa alasan.
"Sejak kapan dia suka mengebom?" tanya Gempa.
"Hm… sejak kapan ya.."
Halilintar, Ochobot dan Air lalu datang dengan membawa mangkuk berisi sup.
"Siapa yang makan selanjutnya?" tanya Ochobot.
Beberapa orang pun mengancungkan jari.
"Terimakasih."
"Sama-sama." Jawab Ochobot.
.
"Aku tahu! Dia suka mengebom setelah tuan Roderick meninggal!" seru seorang lelaki.
Gempa dan Ochobot terperanjat, "Roderick?" tanyanya.
"Ya… tuan Roderick."
"Dia salah satu teman bibi Mira yang kau lupakan." Sindir Ochobot pada Gempa.
Gempa terkekeh, "Ha… sori…"
"Kapan tuan Roderick meninggal?" tanya Gempa.
"Em… lima tahun yang lalu." Jawab seorang lelaki.
Gempa mengangguk mengerti.
"Padahal sebelumnya dia anak yang lucu dan periang, tapi setelah semua ini terjadi ia berubah sangat drastis sekali…."
Taufan menunduk mendengarnya.
.
.
.
Setelah semua rombongan selesai makan. Kini giliran empat kembar dan Ochobot yang makan. Seorang anak mendekati Gempa sambil membawa mangkuk berisi sup ditangannya. Gempa menerimanya.
"Kakak.. terimakasih sudah menolong kami!" seru anak itu.
Gempa tersenyum, "Terimakasih kembali." Jawabnya.
Anak itu tersenyum malu, lalu berbalik pergi menuju teman-temannya.
.
.
.
"Bagaimana dengan Api?" tanya Taufan.
"Kau ingin melanjutkan mencarinya?" tanya Gempa.
Taufan mengangguk.
"Tapi ini sudah sore." Ucap Gempa.
"Tidak apa. Aku hanya ingin memastikannya baik-baik saja." Jawab Taufan.
"Kalau begitu ayo, berdua saja." Ucap Gempa lalu berdiri.
"Kau yakin?" tanya Taufan.
Gempa mengangguk, lalu mereka pun pamit pada Halilintar, Ochobot dan Air.
"Hati-hati." Ucap Halilintar.
.
.
.
Gempa dan Taufan berjalan mengendap mencari Api. Sudah hampir satu jam mereka mencari, tapi belum menemukannya sama sekali. Lembanyung oranye menyinari langit, tanda hari sudah mulai menggelap.
Gempa dan Taufan menghentikan langkah mereka saat melihat Api berdiri di sebuah wilayah kuburan, di depan sebuah nisan. Gempa dan Taufan lalu bersembunyi di balik pohon.
Api tampak menunduk dalam di depan nisan itu. Setelah beberapa menit ia pun mengusap nisan itu kemudian pergi dari tempat itu.
Sepergian Api, Gempa dan Taufan berlari menuju nisan yang tadi di kunjungi Api. Sebuah tulisan di ukir di batu nisan itu.
R.I.P
Roderick Kim
Born
15 June 1360
Die
26 Agustus 1398
.
.
.
TBC
Chiko : okeh, pertanyaannya udah kejawab di cerita kan?
Adriana Larasaty : Yup, Api udah keluar~ /gamparsesuairequest/ iya, gpp kok. Tapi entar review lagi ya~/wink/ sori kalau kelamaan, niat saya emang bikin readernya lumutan kog/dilemparsandal XD
DesyNAP : makasi udah nunggu! :3 pertanyaannya udah kejawab kan? :3
ZDN : thanks untuk semangatnya~
Afiyah : makasih untuk semangatnya~ kamu juga semangat untuk review ya? XD /digaplok
Dhea : eh, emang sebelumnya kecepatan alurnya ya? Hummm oke, makasih sarannya :3 btw, pertanyaannya udah kejawab ya. Oleh2 studytur? Habis, hehe XD
Marmut2002 : udah kejawab ya~ btw, marmut yang imut :3 kamu mau saya sembelih? Mumpung sebentar lagi idul adha, ayok :3 /digampar
J4NU5 : iyap. Tenang saja, reviewnya pada terkirim kok :3 oke, ini udah lanjut :3
Tazkya : udah ketauankan siapa yang di mimpi Hali? Knife Lady? Jelasinnya masih lama XD ini udah updet, mandi dulu sana, ilangin itu jamurnya XDD /digampar
AnnishaAulia : oke, ini Api udah muncul~
Mizu21 : okeh, pertanyaannya udah kejawab ya~
Another Guest : Thanks! :3 kenapa semua orang gak mau bawa Taufan? Simple aja, namanya juga guyonan. Gak semuanya harus di tanggapi serius. Saudara kadang mah sering gitu. Kakak adik gue sering gitu kok XD
Dina : HEI. kenapa menggantung? Karena saya suka menggantungkan sesuatu, termasuk menggantungkan hatimu :3 /slap/ kalau gak di gantungin, gak bakal seru lagi lah :(
Putri Hilapious : udah kejawab ya~
RaishaCaca : udah lanjut, gak tau sampai chap berapa nih ff. kenapa Air yang muncul duluan? Bukan Api? Ya, itu suka-suka saya :3 saya authornya :3 okeh, ini Api udah muncul :3
Alexsandra Putri Taufriend : Halilintar selalu bersemedi atau dia baru melakukannya? Ya… kalau dia selalu bersemedi entar dia gak bakalan ikut perjalanan dong ya :3 okeh, saya ngerti maksudmu kok :3 sebelumnya ya pernah lah, tapi gak keseringan :D kenapa Taufan selalu bernasib sial? Karena saya suka menistain tokoh, nanti gak Cuma Taufan kok yang nasibnya sial/ketawasetan/ untuk idenya makasih ya, tapi maaf, saya udah keburu mikir apa yang terjadi selanjutnya :3
Well done! :3 hallo again!/lambai-lambai
Makasih uda nungguin ini ff updet! :3 makasih juga udah review kemarin~ and, karena saya lagi malas cuap-cuap…..
Sampai jumpa di chap berikutnya! :3
Last,
.
.
Sider, mampus aja, ya? :3
