Under The Sky [Ch. 15]

Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.

AU, Adventure, Family

OOC level max, Typos, No Pair, RnR

.

=CoffeyMilk=

.

.

Api membuka pintu kayu dihadapannya. Ruangan terlihat gelap. Ia lalu menutup pintu dan menuju sebuah lilin dan menyalakannya kemudian membawanya. Di taruhnya ember berisi peralatan untuk membersihkan nisan milik Roderick di kuburan tadi.

Api berjalan lagi menuju dapur, mengambil segelas air dan meminumnya. Ia kemudian berjalan memasuki kamarnya dan merebahkan diri diatas lantai.

Lilin yang ia taruh di sebelahnya masih menyala. Kobaran api nya bergerak-gerak dan menimbulkan bayangan-bayangan gelap di dinding.

Api menatap langit-langit kamarnya. Napasnya tampak teratur. Terlintas dibenaknya kenangan beberapa tahun silam.

.

.

.

13 tahun lalu…

Perang berkecamuk, Roderick mempercepat langkah larinya menghindari kejaran musuh. Dengan Api di dekapannya.

"Itu dia! Yang membawa pangeran!"

"Kejaaarrr!"

Roderick terus mempercepat langkahnya, napasnya mulai tidak teratur. Sedangkan Api di dekapannya menangis.

"Berhenti kaauu!"

Roderick tidak menghentikan langkahnya, ia berusaha agar musuh tak dapat menjangkaunya. Ratu telah berpesan padanya agar menjaga bocah kecil dalam dekapannya.

"Ibu…" panggil Api di sela tangisannya.

Roderick menggigit bibirnya, di usaknya kepala Api lembut, mencoba menenangkannya.

"Huweee…"

"Cup.. cup… tenang ya.." ucap Roderick masih sambil berlari.

"Ibu…. Hu..weee…."

Roderick menelan ludah, tidak mudah baginya untuk menenangkan seorang bocah di bawah lima tahun.

Dor!

Dor!

Roderick terkejut, sebisa mungkin untuk menghindari peluru yang terbang kearahnya. Ia kemudian memasuki hutan dan terus berlari.

Dor! Dor! Dor!

Rentetan peluru masih saja mengejarnya. Roderick menghindar dan berlari lagi.

"Apa? Suara apa itu?" tanya Api.

"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawab Roderick sambil tersenyum.

Dor!

Roderick kembali terkejut dan saat ia menoleh peluru itu tepat berada beberapa puluh centi di depannya. Ia menggulingkan tubuhnya sambil memeluk Api erat-erat. Berusaha agar bocah itu tidak terluka.

.

.

Mereka bersembunyi di sebuah gua. Roderick berjaga-jaga agar pasukan yang mengejarnya tidak sampai di tempat mereka. Api kini memeluknya karena ketakutan.

Roderick tersenyum, di usapnya pucuk kepala Api lembut.

"Lebih baik kau tidur, ini sudah malam…" ucap Roderick.

Api mengusap air matanya dan mengangguk kecil.

.

.

.

Api terbangun. Ia terduduk, kini dirinya telah berada di sebuah ruangan yang sama sekali tidak ia kenal dengan selembar kasur lipat di bawahnya. Cahaya matahari masuk di sela-sela ventilasi yang berada di ruangan itu.

Api celingukan. Ia lalu beranjak berdiri. Keluar dari ruangan. Di langkahkannya kakinya mencari-cari siapa saja yang ia kenal.

"Ibu?"

"Ayah?"

"Halilintar?"

"Gempa?"

"Air?"

"Taufan?"

Air matanya mulai merebak. Kala orang-orang yang ia cari sama sekali tak ia temukan.

"Di—dimana kalian?"

Api terhenti saat ia menubruk kaki seseorang. Ia mendongak. Mendapati seorang lelaki berumur dua puluhan di depannya.

"Oh? Kau sudah bangun?" tanya Roderick, tersenyum kearah bocah itu.

Api mencengkeram kain celana Roderick kuat-kuat.

"Dimana Ibu?"

"Dimana Ayah?"

"Halilintar, Gempa, Air dan Taufan juga dimana?" tanyanya.

Roderick menyamakan tingginya dengan tinggi Api. Ia berjongkok. Lalu mengusap kepala Api pelan.

"Maaf ya.. aku tidak tahu…" jawab Roderick.

Air mata mulai mengalir di pipi tembem bocah itu.

"Ke—kenapa kau membawaku kesini?"

Roderick tersenyum kecil, "Kau harus selamat, tuan muda… Ibumu yang meminta hal itu…"

Api terus saja menangis. Roderick bahkan kelabakan untuk meredakan tangis bocah itu.

Dan, sampai hari beranjak sore, Roderick belum berhasil membuat Api menghentikan tangisnya.

.

.

Beberapa tahun kemudian.

"Roderick! Roderick! Rooodeeerick….!" Panggil Api riang.

Roderick menoleh, mendapati Api berlari kearahnya dengan senyum merekah di wajah.

"Ayo cepetan! Ayo!" seru Api sambil melompat senang.

Roderick tersenyum, lalu membungkuk merapikan pita di kerah baju milik Api. Ia juga mengancingi rompi Api yang tak terkancingi dengan benar.

"Festival! Festivaal~!" seru Api senang.

Roderick terkekeh, "Baiklah, baiklah…"

Keduanya lalu keluar dari rumah dan berjalan menuju festival yang di selenggarakan setiap setahun sekali di desa itu.

Api menggoyangkan tangan Roderick yang ia genggam dengan senang.

"Kapan kembang api nya dimulai?" tanya Api.

Roderick meliriknya, "Masih lama. Dua jam lagi." jawabnya.

"Dua jaamm?" tanya Api.

"Ya." Jawab Roderick.

"Uuunnn.."

Roderick tersenyum kecil.

"Mau beli cumi bakar dulu?" tanya Roderick.

"Hmh!" Api mengangguk.

.

.

Dua jam berlalu begitu cepat dan hiruk pikuk terdengar semakin ramai. Waktu semakin menuju tengah malam, tanda festival akan segera diakhiri dengan melepaskan kembang api ke udara.

Api terlihat antusias, bocah delapan tahun itu bahkan sudah menyamankan diri duduk diatas bahu milik Roderick.

Satu persatu kembang api dinyalakan. Melesat ke udara dan meledak di langit, menghasilkan taburan cahaya berwana-warni yang indah dalam kurun waktu beberapa detik kemudian hilang.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Api tersenyum lebar. Wajahnya terlihat sangat puas melihat hal itu. Roderick yang melihat raut wajah bocah itu hanya terkekeh.

"Suatu hari nanti aku akan melihat ini bersama saudaraku!" seru Api senang sambil merentangkan tangannya.

"Hooo… baguslah." Jawab Roderick.

"Sama Roderick juga! Tahun depan! Tahun Depannya lagi!Dan tahun-tahun selanjutnya juga!" seru Api.

Roderick tertawa, "Baiklah tuan muda." Ucapnya.

Api menurunkan tangannya, "Janji?" tanyanya.

Roderick melihat pada jari kelingking Api yang disodorkan tangannya. Roderick tersenyum.

"Janji." Ucapnya sambil mengaitkan kelingking mereka.

Api tersenyum puas.

.

.

.

"Roderick." Panggil Api, tangannya memainkan gundukan pasir di depannya.

"Hm?" respon yang di panggil sambil menyiram tanaman menggunakan sebuah gayung dari kayu.

"Dimana saudara ku?" tanya Api.

Roderick menghentikan kegiatannya dan menatap langit, "Entahlah?" tanya Roderick.

"Apa mereka masih hidup?" tanya Api.

"Entahlah?" jawab Roderick.

Api menggertakkan giginya, menatap Roderick yang kini melanjutkan kegiatannya dengan pandangan kesal. Di lemparnya pasir kearah Roderick. Merasakan sesuatu mengenai rambutnya, Roderick menoleh.

"ITU BUKAN JAWABAN!" teriak Api.

Roderick hanya membersihkan rambutnya.

"KAU TAK PERNAH MENJAWABKU DENGAN BENAR JIKA AKU BERTANYA SEPERTI ITU!" teriak Api lagi.

Roderick menatapnya tajam, "Kau tanya aku pun, aku benar-benar tidak tahu, tuan muda," Jawab Roderick, "aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak. Aku juga tidak tahu kemana teman-temanku membawa mereka." Lanjutnya.

Api masih saja menatapnya kesal.

"KALAU BEGITU CARI TAHU!" teriak Api.

Roderick melanjutkan kegiatannya menyiram tanaman, "Setidaknya berbuatlah yang sopan dulu terhadap yang lebih tua. Sungguh kurang ajar perbuatanmu tadi." ucap Roderick tanpa melihatnya.

Api tertegun, kembali dia melempar pasir kearah Roderick. Roderick menoleh.

"API!" panggil Roderick kesal.

"AKU BENCI RODERIIIICK!" teriak Api kemudian berlari memasuki rumah dan membanting pintu.

Roderick terdiam, lalu menghela napas.

.

Tok.. Tok.. Tok..

Roderick mengetuk pintu kamar bocah berumur sembilan tahun itu, sedangkan di tangannya yang lain membawa sebuah nampan berisi satu porsi makanan.

"Tuan muda." Panggil Roderick.

"Tuan muda, keluarlah." Panggil Roderick lagi.

Sekali lagi ia mengetuk pintu. Roderick lalu menghela napas.

"Apa kau tertidur?" tanya Roderick.

Tak ada jawaban.

Roderick menatap jam pasir di sebuah meja yang tak jauh darinya.

"Tuan muda?" panggilnya, mencoba membuka pintu itu namun dikunci oleh pemilik kamar.

Roderick mengangguk kecil, "Kalau begitu ku tinggal bagian makan siangmu di meja, ya. Jangan lupa di makan." Ucapnya kemudian menaruh nampan itu di sebelah jam pasir.

"Baiklah, aku pergi kerja dulu ya!" serunya kemudian keluar dari rumah.

.

Api membuka pintu kamarnya. Raut wajahnya terlihat cemberut. Matanya melirik ke kanan kiri, kosong. Tentu saja, karena Roderick sudah pergi beberapa menit yang lalu. Api melangkahkan kakinya menuju meja dimana ada senampan makanan disana. Di bukanya tutup nampan. Semangkuk nasi, ikan goreng, dan sayur. Api lalu mengambil sendok dan memakannya sekali.

Ia lalu menelan makanan yang baru saja ia kunyah. Teringat saat ia meneriaki Roderick tadi. Api tersenyum sedih.

"Aku harus meminta maaf…" pikirnya.

.

.

Api tersenyum senang bermain dengan beberapa temannya. Ia berlari, menhindari temannya yang mengejaranya. Lalu mereka tertawa-tawa.

"Aku mengenai banyangannya Api! Sekarang Api yang jaga!" seru salah seorang teman mereka.

"Yeey lariii~"

"Hindari Apiiii~"

Api berganti mengejar salah satu temannya. Mereka memainkan sebuah permainan Bayangan dan Setan. Dimana orang yang kalah karena bayangannya di injak harus mengejar yang lainnya sebagai setan dan menginjak bayangan yang lain untuk berubah posisi.

Api menginjak salah satu bayangan temannya, lalu tertawa lebar.

"Aku menginjak bayangan Lucas!" seru Api senang.

"Lucas yang jagaaa~"

"Hati-hati dengan Lucaas~"

Api terkekeh, ia kembali menghindari kejaran temannya. Ia tersenyum lebar. Sejenak Api berhenti berlari, mengatur pernapasannya yang sedikit terburu. Kemudian kembali tertawa saat ada salah satu temannya kena. Ia tersenyum, teringat saat ia pernah memainkan permainan yang sama dengan saudaranya.

Api kemudian bertanya-tanya, apa yang sedang saudaranya lakukan saat ini?

Kemudian mereka terus bermain hingga langit menjadi senja, tanda hari akan berubah menjadi gelap. Dan Roderick melewati tempat dimana Api dan teman-temannya bermain. Ia segera berhenti setelah melihat Api ditempat itu.

"Tuan muda~! Tidak pulang?" tanya Roderick.

Api menoleh, mendapati Roderick berdiri beberapa meter tak jauh darinya. Api tersenyum lebar. Ia lalu berlari kearah Roderick dan memeluknya.

Roderick tertegun, lalu tersenyum dan mengelus puncak kepala milik Api.

"Ada apa?" tanya Roderick.

Api mendongak, "Maafkan aku… untuk yang tadi pagi." Jawab Api.

Roderick tersenyum kecil dan terkekeh, "Ini pasti ada maunya." Ucap Roderick.

"Aku bersungguh-sungguh minta maaf!" seru Api tidak terima.

"Oke, baiklah. Baiklah." Ucap Roderick.

"Tsk!"

"Kalau begitu ayo pulang, pamit ke temanmu sana." Ucap Roderick lagi.

Api mengangguk, "Hey! Aku pulang dulu yaa!"

.

.

.

"Aku ingin menjadi kuat." Ucap Api.

"Hm." Roderick hanya bergumam mendengarnya.

"Roderick, ajari aku bela diri." Ucap Api.

"Hm."

"Roderick!"

"Hm."

"Apa yang kau pegang?" tanya Api.

Roderick menoleh, mendapati tangannya menggenggam sebuah pistol dan segera menyembunyikannya.

"Kenapa kau malah menyembunyikannya?" tanya Api.

"Mm.. ya, ini berbahaya untuk mu. Sebaiknya kau tidak tahu." Jawab Roderick lalu tersenyum.

"Boleh aku memegangnya?" tanya Api.

Roderick menggeleng, "Berbahaya tuan muda." Jawab Roderick.

Api menggembungkan pipinya, "Dasar Roderick tidak asik!"

"Hm."

"Roderick, ajari aku menggunakan benda yang kau pegang." Ucap Api.

"Tidak boleh, tuan muda."

Api menggertakkan giginya.

"Memangnya untuk apa kau menjadi kuat?" tanya Roderick, tangannya memasukkan beberapa butiran kedalam pistol yang tadi ia pegang.

"Aku ingin melindungi orang yang ku sayangi!" seru Api.

"Hoo… punya?"

Api melempar mangkuk kayu kearah Roderick, yang langsung dengan cepat di hindari olehnya.

"Tentu saja punya!" seru Api.

Roderick mengambil mangkuk yang tadi di lempar Api dan melemparnya balik kearah bocah berumur sembilan tahun itu dan langsung mengenai keningnya hingga jatuh terjerembab di lantai kayu.

"Aduh!"

"Baiklah. Ayo ku ajarkan teknik bela diri." Ucap Roderick sambil bangkit berdiri.

Api tersenyum lebar, "Baiik~!"

.

.

CoffeyMilk

.

.

Dua tahun kemudian..

"Aku akhir-akhir ini mendengar keributan." Ucap Api.

Roderick menghentikan tangannya yang memotong lobak, "Apa?"

"Akhir-akhir ini aku mendengar keributan." Ulang Api sekali lagi.

"Hoo.." Roderick mengangguk.

"Tapi begitu aku memeriksanya tidak ada yang terjadi." Ucap Api.

"Hm.."

"Apa yang terjadi sebenarnya, Roderick?" tanya Api.

Roderick menggeleng.

Api termenung.

Ruangan dapur seketika sunyi.

.

"Roderick, bagaimana festival tahun ini?" tanya Api.

Roderick terkekeh, "Kau tidak sabar menunggunya, ya?"

"Tentu saja. Aku ingin melihat kembang api lagi." jawab Api.

"Masih sebulan lagi, tenang saja." Ucap Roderick.

"Bukannya kau bekerja di tempat pembuatan kembang api?" tanya Api.

Roderick mengangguk.

"Kenapa tidak kau membawakanku satu saja?" tanya Api iseng.

"Kalau aku melakukannya tanpa izin, aku bisa saja di pecat tahu." Jawab Roderick.

"Ehehehe.."

Roderick menuangkan sayur kedalam mangkuk dan memberikannya ke Api.

"Makanlah."

"Terimakasih. Unn… selamat makan!"

"Doa dulu."

"Oiya, heheh.."

.

.

.

"Nah."

Api mengerjap bingung saat Roderick menyodorkan beberapa batang kawat yang di bungkus kearahnya.

"Apa ini?" tanya Api.

"Kembang Api. Kau bilang kemarin ingin kembang api." Jawab Roderick.

"Oh! Kau melakukannya!" seru Api senang kemudian tertawa.

"Tidak, aku membelinya." Ucap Roderick.

Api berhenti tertawa, "Terimakasih."

"Sama-sama. Tapi itu bukan kembang api yang bisa di terbang seperti yang kau lihat di festival. Itu kembang api biasa, yang harus di pegang." Jawab Roderick.

"Jika aku melemparkannya ke langit?" tanya Api.

"Itu percuma. Yang kau dapat nanti hanyalah kembang api itu jatuh mengenaimu atau orang lain." Jawab Roderick.

"Hoh."

.

Percikan kembang api bersinar indah saat Api menyalakan satu batang kembang api. Ia tersenyum lebar sambil sesekali memainkannya dengan memutar-mutarnya. Roderick terkekeh melihatnya.

"Berapa umurmu?" tanya Roderick.

"Hm? Tahun ini dua belas mungkin?" jawab Api tidak yakin.

"Oh… berarti kau masih anak-anak. Pantaslah." Ucap Roderick.

"Mau anak-anak, yang penting bahagia, aku gak masalah." Ujar Api.

Roderick tersenyum simpul, "Bagaimana jika suatu hari kau mendapat masalah?" tanya Roderick.

Api sejenak terdiam, "Aku akan meminta bantuanmu." Jawabnya.

"Jika aku tidak ada?" tanya Roderick.

"Heh. Memangnya kau mau pergi?" tanya Api balik.

"Siapa tahu?" tanya Roderick.

Api terdiam.

"Oh, ya. Tuan muda." Panggil Roderick.

Api menoleh.

"Jika kau bermain keluar rumah, hindarilah orang-orang yang berseragam ya." Ucap Roderick.

Api mengernyit heran, "Orang-orang berseragam?" tanyanya, lalu teringat dengan beberapa orang-orang berseragam sama yang akhir-akhir ini bersliweran di desa.

"Memangnya kenapa?" tanya Api.

"Mereka berbahaya." Jawab Roderick.

Api mengangguk kecil, lantas menyalakan lagi satu batang kembang api.

"Atau lebih baik, jangan sampai mereka mendapatkanmu." Ucap Roderick lagi.

"Kenapa?" tanya Api.

"Jika mereka menyadari kalau kau adalah salah satu dari lima pangeran yang hilang, mereka akan membunuhmu." Jawab Roderick.

Api tertegun, "Membunuh? Apa?"

"Membunuhmu. Akhir-akhir ini pihak kerajan mulai mencari keberadaan keluarga kerajaan yang dulu." Jawab Roderick.

Api mengangguk kecil, lalu tersenyum, "Mana mungkin mereka menyadariku." Ucapnya.

"Maksudmu?"

"Memangnya mereka bisa mengenalku sebagai pangeran?" tanya Api balik.

"Tentu saja. Kau dan saudaramu itu kembar identik. Wajah kalian benar-benar mirip." Jawab Roderick.

"Tapi mereka belum pernah melihat wajah kami." Ucap Api.

"Sayangnya, Raja juga memiliki wajah yang sama dengan kalian." Ucap Roderick.

Api tertegun, "Ayah?"

"Ya. Maka dari itu mungkin wajah kalian akan langsung dikenali." Jawab Roderick.

Api mengangguk, sejenak terdiam. Lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda dari saku itu.

"Kalau begitu aku pakai ini aja." Ucap Api.

"Apa itu?" tanya Roderick.

Api melemparkannya kepada Roderick dan langsung ditangkap dengan sigap. Sebuah liontin berbentuk kobaran api.

"Riko pandai menempa sesuatu dan membuat sebuah benda yang unik. Jadi aku memintanya membuatkanku beberapa, dengan gambar dari ku sebagi contoh." Ucap Api.

Roderick menilik benda itu dengan takjub.

"Bagus bukan? Ada juga yang untuk saudaraku!" seru Api senang.

Roderick mengangguk, lalu melemparkannya kembali ke Api. Api menangkapnya dan segera memakainya di poninya.

"Aku juga ada untuk Roderick." Ucap Api kemudian, lalu melemparkannya kearah Roderick.

Roderick menerimanya dengan heran.

"Kenapa bunga?" tanya Roderick.

"Ntahlah?" Api lalu tertawa.

"Bocah sialan." Umpat Roderick.

.

.

.

.

Api melenguh bosan. Seharian latihan di rumah membuatnya mulai bosan. Ia meneguk segelas air putih dengan cepat.

Duduk bersila di lantai kayu dan menatap langit diluar jendela. Memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Keluar rumah?

Ide bagus, pikirnya. Ia akan menemui teman-temannya dan mengajak mereka bermain.

.

.

Api bersenandung kecil sembari melangkahkan kaki-kakinya menuju salah satu rumah temannya. Cuaca cerah membuat perasaannya senang.

"TIDAK!"

Langkah kakinya terhenti. Perjalanan ke rumah temannya tinggal beberapa meter lagi.

"CEPAT JALAN!"

"TIDAK!"

"BOCAH SIALAN!"

"AAH!"

"LEPASKAN ANAKKU!"

"DIAM KAU!"

DOR!

"AYAH!"

DOR! DOR! DOR!

Api terpaku melihat kejadian di hadapannya. Wajahnya pucat pasi. Matanya melebar dan berkedut takut. Tubuhnya bergetar kuat. Ketakutan menyergap dirinya.

"A—a—a—"

Temannya dan orang tua temannya mati dihadapannya. Darah mereka mengucur deras, menggenangi tanah.

Api ingin mundur dan kabur. Tapi kakinya tak mau bergerak, hanya bergetar hebat. Jantungnya berdebar kuat.

Seseorang penjaga menyadari kehadirannya. Dan sebuah tepukan keras dibahunya membuatnya terkejut dan jatuh tak sadarkan diri.

.

.

.

Api menyadari dirinya berada di tengah kumpulan orang yang ia kenal. Dimulai dari ayah nya, ibunya, Halilintar, Taufan, Gempa, Air, para dayang, pengawal, prajurit kerajaan, teman-temannya, tetangganya, dan Roderick.

Api tersenyum senang, semuanya ada bersamanya. Orang-orang yang ia sayangi ada bersamanya.

Dan mereka pun tersenyum kearah Api. Kemudian, satu persatu dari mereka berjalan pergi, meninggalkan Api sendirian.

"Hei—! Tunggu!" seru Api terkejut.

Tapi tak satupun dari mereka mendengar panggilannya.

Senyum Api digantikan dengan wajah sedih, nyaris ingin menangis. Ia menatap punggung mereka yang kini berjalan menjauh.

"….Kenapa?"

"….Kenapa?"

"….Kenapa kalian meninggalkanku?.."

"…..Sendirian…?"

Ia meratap, air matanya lolos. Mengalir, membasahi pipinya. Ia terduduk sendirian. Tangisannya semakin keras.

Tapi, tak satupun dari mereka yang kembali.

.

.

Api membuka mata, lalu mengangkat kepalanya. Menyadari dirinya berada di atas punggung Roderick yang kini sedang berlari.

"Oh, kau sudah sadar?" tanya Roderick.

Api terdiam, mengeratkan pegangannya pada leher milik Roderick agar tidak terjatuh.

"Kita dimana?" tanya Api.

"Kau tidak melihat? Kita sedang di jalan." Jawab Roderick.

"Kenapa kau berlari?" tanya Api.

"Ah, kita sedang di kejar." Jawab Roderick.

"Oleh siapa?" tanya Api.

"Para orang-orang berseragam itu." jawab Roderick sambil memasuki sebuah gang kecil.

Api terdiam sebentar, "Mereka… mereka membunuh Riko, juga ayah dan ibunya…."

Roderick melirik kearah Api, tubuh anak itu bergetar kecil. Isak tangis samar-samar ia dengar. Roderick menghentikan langkahnya, bersembunyi dibalik rumah-rumah penduduk.

"Aku bermimpi buruk—semuanya pergi meninggalkanku. Roderick juga—" ucap Api di sela isak tangisnya.

Roderick terdiam.

"Jangan pergi—hiks, jangan tinggalkan aku sendiri—"

"…"

"Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi…"

"….."

"Roderick sudah seperti ayah bagiku…"

"…"

"Dan aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi…"

"…"

"Ya… Roderick?"

Api kembali terisak. Air matanya yang mengalir bahkan sudah membasahi baju milik Roderick. Roderick menurunkan Api dari gendongannya. Kemudian mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu. Roderick tersenyum kecut sambil menatap anak itu sendu.

"Maafkan aku…" ucap Roderick.

Api mengusap air matinya.

"Aku tidak bisa berjanji untuk itu…" ucap Roderick.

"…Hiks.."

"Kematian… tak pernah ada yang tahu kapan terjadi. Aku pun begitu…. Tapi, sampai saat itu tiba, aku harus melindungi mu." Ucap Roderick.

Api menggeleng keras.

"Kalau begitu tak usah melindungiku!" seru Api.

"Sssttt…" Roderick dengan cepat memperingati Api agar tidak bersuara terlalu keras.

"Kalau kau tidak melindungiku… kau tak akan.."

"Jika aku tidak melindungimu, kau yang akan mati…" ucap Roderick.

"Tapi itu lebih baik daripada harus ditinggalkan lagi.." sela Api cepat.

Roderick menggeleng, "Tidak. Kau tidak boleh mati. Kau harus hidup."

Api menggeleng.

"Melindungimu sudah menjadi tugasku." Ucap Roderick lalu mengelus puncak kepala Api.

Api menggeleng.

"Kau boleh menangis. Kau boleh bersedih. Tapi, kau tak boleh tenggelam dengan semua itu. Lalu bangkitlah dan menjadi kuat." Ucap Roderick kemudian tersenyum.

Api menangis sesenggukan.

.

"Itu mereka!"

"Kejar!"

.

Roderick mengangkat tubuh Api lalu berlari menghindari kejaran petugas-petugas itu. Api memberontak.

"Lepaskan aku!" seru Api.

Roderick tersenyum, "Kalau aku melepaskanmu, mereka akan menangkapmu dan menjadikanmu budak lho." Ucapnya.

Api terdiam.

"Pilih mana, hidup bebas atau hidup menjadi budak?" tanya Roderick.

"….Hidup bebas…" jawab Api.

Roderick tersenyum lebar, "Maka dari itu aku harus melindungimu." Ucap Roderick.

Api melirik Roderick tidak mengerti.

Dor! Dor! Dor! Dor!

"Mereka mulai menembaki kita." Ucap Roderick, sambil menhindari beberapa peluru yang terbang kearahnya.

Dor!

Satu tembakan mengenai lengan Roderick, membuat Roderick meringis.

"Roderick!" seru Api panik saat melihat darah mengalir di lengan lelaki itu.

"Tenang saja." Ucap Roderick.

Roderick berlari, melewati jalan-jalan utama desa, melintasi gang-gang kecil. Pengejar terus datang dari berbagai arah. Mengejar keduanya hingga terpojok di depan dinding tinggi sebuah bangunan besar.

Roderick tertawa kecil menyadari kebodohannya. Para petugas yang mengejarnya semakin mendekat. Roderick melepaskan Api, anak itu langsung bersembunyi dibalik tubuh Roderick.

"Roderick…"

Roderik melihat sekelilingnya, diusapnya puncak kepala Api.

"Api, dengar." Ucap Roderick sambil menoleh kearahnya.

Api menatapnya, "Apa?"

"Aku akan menumbangkan beberapa orang dipojok sana…. Kau lari lah, melewati mereka. Selamatkan dirimu." Ucap Roderick.

"Kau?" tanya Api.

"Aku bisa nanti." jawab Roderick.

Api menggeleng, "Tidak."

"Kau harus." Ucap Roderick.

"Tidak."

"Aku tidak terima penolakan." Ucap Roderick, ia mengambil pistol dari sabuknya lalu menekan pelatuk berkali-kali.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Beberapa petugas tumbang.

"PERGI!" seru Roderick sambil mendorong Api kuat-kuat.

Api panik, kakinya berlari melintasi tubuh-tubuh yang kini tak bergerak. Api menoleh, menatap Roderick yang kini tersenyum kearahnya, lalu menembaki beberapa petugas yang hendak mengejarnya.

"Kejar bocah itu!"

DOR! DOR! DOR!

Brug! Brug!

Suara bedebam tubuh yang terjatuh membuat Api bergidik ngeri. Ia berlari dengan ketakutan, menjauhi pengejar yang kini satu persatu ambruk karena di tembak oleh Roderick.

.

.

Roderick masih saja menembaki satu persatu petugas yang kini menyerangnya. Ia berputar, melepaskan tembakan, memukul jatuh musuh. Digantinya peluru yang kosong dengan cepat.

DOR! DOR! DOR!

Beberapa peluru bersarang di tubuhnya, membuat gerakan semakin pelan. Tapi Roderick tetap melanjutkan kegiatannya. Menumbangkan musuh satu persatu.

Rentetan suara peluru terdengar.

Beberapa petugas ambruk dan kembali beberapa peluru musuh bersarang lagi di tubuh Roderick.

Roderick meringis, ia merasakan gerakannya semakin melambat. Kakinya yang terluka membuatnya berjalan tertatih.

Dor! Dor! Dor!

Sekali lagi ia mengisi pelurunya yang telah kosong. Ia menekan pelatuk, kembali menumbangkan musuh. Musuh kini tersisa sedikit. Tidak lebih dari sepuluh.

Roderick menyeringai perlahan, namun kepalanya berdenyut sakit. Ia menggertakkan giginya. Menekan pelatuk. Peluru yang ia tembakkan menembus dada salah seorang musuh dan langsung tumbang. Ia kembali menembakkan pelurunya.

Roderick merasakan penglihatannya mulai mengabur.

DOR!

Sebuah peluru musuh menembus pelipisnya.

Roderick membulatkan matanya, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh tak bergerak diatas tanah. Dengan darah yang mengalir deras dari kepala dan mulutnya.

.

.

Api bersembunyi di dalam celah sempit rumah penduduk. Duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya. Tak ada yang menyadarinya disana.

Ia terdiam. Menunggu Roderick datang menyusulnya. Namun, setelah beberapa jam ia menunggu, Roderick tak kunjung datang.

Api mulai resah. Ia bergerak gelisah. Seribu bayangan melintasi pikirannya. Ia berdiri, keluar dari tempat persembunyiannya.

Kakinya melangkah cepat, berlari menuju tempat dimana tadi ia meninggalkan Roderick.

.

Langit yang semula cerah berubah berawan dan mendung. Rintik-rintik air mulai jatuh menghujam bumi.

Api melangkah kakinya semakin cepat. Melewati jalan pintas hingga sampai ke tempat tadi.

Ia terdiam dengan pemandangan dihadapannya. Beberapa puluh mayat petugas disana, dengan darah menggenang dan bau anyir yang menusuk hidung. Api mengernyit jijik.

Ia menoleh kesana kemari, kakinya kembali melangkah.

Dan ia menghentikan langkahnya di depan sebuah mayat yang ia kenali, Roderick. Api terdiam, terpaku menatap tubuh yang kini terbujur kaku itu.

Ia merasakan lehernya kini tercekat, matanya memanas. Air matanya mulai menggenang dan menuruni kedua pipinya.

"….Hiks…"

Dijulurkannya tangannya, menutup mata Roderick yang terbuka. Di peluknya tubuh kaku itu, tak peduli dengan darah yang kini mengenai sebagian bajunya.

"…..Hiks… Huuu… Hiks…."

"Huuuuuuwaaaaaaaa…"

Api menangis keras. Tangisannya mengundang beberapa penduduk yang tak jauh dari sana keluar dari rumahnya.

"Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi…"

"Aku tidak ingin di tinggal sendirian…."

Beberapa petugas yang juga mendengar tangisannya mendatanginya. Wajah mereka menatap Api dengan tatapan mengejek.

"Hei, nak. Kau tidak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka.

Api tidak menjawab, tatapan matanya kosong kearah mayat Roderick.

"Lebih baik kau ikut kami saja, ayo!" seru yang lain sambil mencengkram tangan Api.

Api menepis kasar tangan petugas itu dan menoleh dengan tatapan sengit. Matanya menatap mereka dengan pandangan benci. Tanpa ia sadari tangannya mengambil pistol milik Roderick yang tergeletak tak jauh dari mayatnya.

"Hei. Hei. Nak. Itu barang yang berbahaya untuk mu."

Api menatap mereka dengan pandagan merendahkan.

"Diam. Kutanya padamu, siapa yang membunuh Roderick?" tanya Api.

Mendengar pertanyaan itu, petugas di depannya tertawa keras.

"Untuk apa kau ta—"

Dor!

Api menembak petugas itu tepat di leher. Tubuh petugas itu langsung ambruk di hadapannya.

Rekan petugas itu pun bersiaga.

"Kutanya pada kalian, siapa yang membunuh Roderick?!" seru Api.

Tak ada siapapun yang menjawab. Api berdiri.

"Kalau begitu aku hanya harus membunuh kalian semua. Seperti kalian membunuh Roderick." Ucap Api lalu mengangkat tangannya.

"Mata dibalas mata, kepala di balas kepala, nyawa dibalas nyawa."

DOR! DOR! DOR!

Para petugas itu ambruk tak bernyawa.

Api terdiam, melirik beberapa penduduk yang masih berkumpul disitu. Dilirik begitu, para penduduk itu bubar dengan takut.

Hujan mulai deras. Membuat tangan Api pada pegangan pistol licin dan terlepas.

Api tersentak, menatap pistol yang baru saja ia jatuhkan dengan kaget, begitu pula saat ia menyadari mayat di hadapannya. Ia berjalan mundur dengan perasaan takut.

Namun, kakinya menginjak mayat Roderick membuatnya menoleh.

"Roderick!" Api duduk menyentuh mayat Roderick yang sudah mendingin karena air hujan.

"Roderick! Roderick… Rode—rick.." ia memanggil nama lelaki itu.

Api menatap sendu mayat itu, "Roderick… kau meninggalkan ku…"

"Seperti ayah dan ibu juga saudaraku yang meninggalkan ku….."

"Seperti Riko dan yang lainnya…."

"…..Hiks…. aku… apa yang harus aku lakukan?" tanyanya di sela isak tangis dan hujan yang semakin deras.

.

.

UNDER THE SKY

.

.

CoffeyMilk

.

.

Gempa menatap sekelilingnya dengan heran, ia baru saja bangun tidur dan mendapati penduduk yang kemarin mereka tolong berkurang jumlahnya.

"Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.. sebelas…" hitungnya, "Em… kemana yang lain?" tanya Gempa pada mereka.

"Oh, kembali ke desa." Jawab salah seorang wanita.

Gempa terperanjat, "E..eh, untuk apa?" tanyanya.

"Ya.. kami tadi malam berencana untuk meyelamatkan penduduk yang masih di desa. Setelah semua ini, kami pikir kami akan pindah ke daerah yang lain." Jawab wanita itu.

"Apakah tidak apa-apa? Maksudku… para petugas itu, mereka akan menangkap kalian.." ucap Gempa.

Wanita itu menggeleng, "Tidak apa-apa. Biasanya pagi-pagi begini para petugas itu belum memulai pekerjaan mereka."

Gempa mengangguk mengerti, "Jadi…. Kapan mereka akan kembali?" tanya Gempa sambil mengguncang tubuh Halilintar yang masih tidur.

Wanita itu menggeleng, "Tidak tahu…"

"Aku harap jangan sampai terlalu siang ya…" ucap Gempa.

Halilintar terbangun, mengusap wajahnya yang khas orang bangun tidur.

"Pagi…" sapa Halilintar dengan suara parau.

"Pagi." Balas Gempa.

Halilintar menoleh ke kanan dan kiri, "Yang lain sudah pada bangun?" tanya Halilintar.

Gempa mengangguk.

Halilintar lalu bangkit, "Jadi, kemana mereka?" tanya Halilintar saat menyadari Ochobot, Taufan dan Air tidak ada.

"Ochobot dan Taufan mencari kayu bakar dan bahan makanan, Air ditemani salah satu penduduk mengambil air. Kantong minum kita sudah hampir habis." Jawab Gempa.

Halilintar mengangguk, "Lalu apa yang bisa kubantu?" tanyanya.

"Kau memasak saja, kompor yang kemarin masih ada." Jawab Gempa.

Halilintar lalu menatap kearah Gempa, "Lalu, kau?"

"He? Apa?"

"Kau kerja apa?" tanya Halilintar.

"Aku? Aku menjaga keadaan." Gempa menjawab sambil nyengir.

Halilintar mengangguk tak minat. Ia lalu beralih kearah penduduk yang kemarin mereka tolong dan mengernyit heran saat melihat jumlahnya yang berkurang.

"Mereka kembali ke desa." Ucap Gempa.

Halilintar meliriknya, "Ngapain?"

"Menyelamatkan penduduk yang lain." Jawab Gempa.

"Bukankah berbahaya?" tanya Halilintar.

Gempa mengendikkan bahunya, "Mereka bilang, kalau pagi-pagi begini para petugas itu belum memulai aktivitas mereka." Jawabnya.

Halilintar menghela napas, "Kalau begitu aku harus memasak banyak." Ucapnya.

Gempa menatapnya bingung.

"Karena pasti jumlahnya lebih banyak dari yang kemarin kan?" tanya Halilintar.

Gempa menepukkan tangannya dan mengangguk mengerti, ia kemudian tersenyum.

"Kalau kau butuh bantuan, aku akan membantu." Ucapnya kemudian.

Halilintar tersenyum, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."

Gempa mencibir.

Saat itu pula, Taufan dan Ochobot datang sambil membawa seekor kelinci, sayur, dan ranting-ranting kering.

"Hey! Tidak apa jika kita memasaknya bukan?" tanya Ochobot sambil menunjukkan kelinci itu.

"Tangkapan bagus!" seru Gempa.

.

.

.

Satu jam kemudian para penduduk datang, tidak banyak jumlahnya hanya sekitar lima puluh orang, terdiri antara pria, wanita dan anak-anak.

Gempa menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Selamat datang~" ucapnya.

Seorang berlari menghampirinya, wajahnya terlihat cemas. Gempa menatapnya bingung.

"Ada apa?" tanya Gempa.

"Itu—itu—" orang itu berucap putus-putus.

Gempa tertawa kecil, "Lebih baik anda tenang sejenak lalu berbicara." Ucapnya.

Orang itu mengangguk, lalu menghirup napas kemudian menghembuskannya beberapa kali. Ia lalu menatap Gempa.

"Aku melihat, anak itu—siapa namanya… yang sedang kalian cari?" tanya orang itu.

"Api?"

Orang itu mengangguk, "Aku melihatnya, para petugas membawanya. Anak itu terlihat tidak sadarkan diri."

Gempa tertegun, tiga kembar dan Ochobot juga terkejut mendengarnya.

"Ba—bagaimana bisa?" tanya Gempa.

"Aku—aku tidak tahu, aku hanya sekilas melihatnya dibawa para petugas-petugas itu! ma—maaf, aku tidak bisa menolongnya…"

.

.

.

TBC

Hola! Aku kembali~ oke, chapter ini mulai menyerempet rating M untuk adegan pembunuhan, haha :D walaupun aku rasa itu tidak terlalu menakutkan :3 dan rada sinetron untuk si Api. =3=

Yaweslah, Cmiw~

Fadia : Api emang lupa atau pura-pura lupa? Menurutmu bagaimana? :)

Dhea : Iya mungkin ya :3 iya, gpp. Btw, saya udah kasih tau kalau mau study tour kok, tapi di ff lain. Hehe :D

RaishaCaca : thanks ya. Iya, sori. Kebiasaan sih :3 /slap. Rajanya ntar siapa? Ntarlah, liat aja nanti, masih lama sih XD

J4NU5 : Iya, ini udah lanjut. Thanks :3

AnnishaAulia : iya, taunnya aneh. Tapi udah saya ganti kok '-' thanks ya, ini udah lanjut kok :3

Annisah : sekarang uda tau cara review kan? :)

Furusawa Aika : iya, saya maafkan asal jangan diulang lagi XD kamu males, saya juga bisa males lanjut kok :3

Alexandra Putri Taufriend : awalnya tak pikir2 senjata Api itu panah, tapi pake panah itu lama trus ribet, harus ambil anak panah, ngebidik, tarik busur, ah kelamaan, dan panah itu bisanya dari jarak jauh biasanya, sedangkan pistol kadang bisa jarak dekat. Em, terus, double stick itu apa ya?

Ayya : iyap, thanks ya :)

Buat yang beragama Islam, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ya~ :3

Makasih uda nungguin saya updet. Makasih juga buat yang kemarin munculin diri buat review. Jangan jadi sider lagi ya! Haha :D males ngutuk-ngutuk lagi soalnya~

Bye~ :3

.

CoffeyM