Taqaballahu Minnawaminkum, Mohon Maaf Lahir Batin :D Happy Eid Mubarak 1436 H :D
Saya minta maaf untuk kesalahan saya yang disengaja ataupun tidak ya. m(_ _)m
Dan ini saya balik dengan membawa ch 16. Sori kalau kurang memuasakan, kurang greget, pendek, gaje, dll.
Selamat membaca!
:D
/
/
Under The Sky [Ch. 16]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family, Action
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
Api keluar dari rumahnya. Udara pagi lantas ia hirup dalam-dalam lalu dihembuskannya. Ia tersenyum kecil. Jalan-jalan sementara di pagi hari untuk pemanasan.
Ia melangkahkan kakinya, melewati jalan-jalan yang sepi. Api menoleh ke kanan kiri, jalan memang selalu sepi, seperti biasa. Dan dia satu-satunya yang berani berjalan-jalan seperti itu walaupun di saat pagi-pagi begini para petugas itu belum melakukan kegiatan rutin mereka, patroli keliling dan menangkap beberapa penduduk.
Api menghentikan langkahnya saat melihat seekor kucing diatas dahan pohon, kucing itu mengeong dengan memelas, takut untuk turun.
Api nyengir lebar di julurkannya tangannya, bermaksud menolong kucing itu.
"Miaw…"
"Kemari kucing manis…. Aku akan membantumu…" ucap Api lirih.
"Miaw… Miaw…"
"Puss, puss, puss~"
Kucing itu tertarik dan mulai ancang-ancang untuk melompat. Ia pun melompat, tapi Api tidak bisa menangkapnya dengan tangannya, ia menangkap dengan wajahnya, alhasil ia terkena cakaran kucing tersebut.
Api mendengus kesal dan mengumpat, kucing itu berlalu begitu saja.
"Kucing sial! Tunggu kau!" serunya lalu mengejar kucing itu dengan beringas.
"Miaw!" si kucing terkejut dan melarikan diri.
Api pun akhirnya kejar-kejaran dengan kucing di pagi hari.
.
Api menghentikan langkahnya mengejar kucing dan mengatur napasnya yang terengah. Ia lalu berbalik, tidak lagi peduli dengan kucing itu.
Samar-samar ia mendengar suara gaduh. Ia mengintip, melihat beberapa orang berlalu lalang di depan beberapa rumah.
Api mengernyit.
Tapi ia tidak peduli lagi karena menyadari mereka adalah penduduk. Para penduduk itu bahkan tak menyadarinya dan masuk ke rumah.
Suasana kembali tenang. Tak ada kegaduhan lagi.
Api kembali melangkahkan kakinya, menelusuri jalan-jalan, gang-gang, celah-celah rumah. Ia bersiul kecil, ditendangnya batu dengan keras dan batu itu melayang tinggi kelangit lalu jatuh nyaris mengenai kepalanya.
Api terkekeh. Ia kembali berjalan.
"KYAAAA…. TOLOOONG!"
Sebuah teriakan seorang wanita membuatnya menghentikan langkahnya, ia menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis berlari kearahnya dengan air mata mengalir di pipinya. Baju gadis itu terlihat robek di beberapa sisi. Di belakangnya tiga orang petugas mengejar gadis itu.
Gadis itu menubruknya, "Tolong! Tolong aku!" teriaknya, lalu bersembunyi di belakang Api.
Petugas itu berhenti saat melihatnya.
Api menatap mereka tajam, ia mengeluarkan sebuah dinamit dari saku bajunya. Para petugas itu ketakutan dan kabur.
Api mendengus, lalu menyimpan dinamitnya. Ia lalu berbalik, menghadap kearah gadis itu. Gadis itu menghapus air matanya lalu tersenyum kearah Api.
"Terima kasih!" serunya sambil tersenyum senang dan memeluk Api erat-erat.
Api tersentak dan memberontak.
"Terimakasih! Terimakasih! Terimaka—"
"Ya. Ya, baiklah." Ucap Api, risih, berharap gadis itu melepaskan pelukannya.
Tapi gadis itu tak melepaskannya sama sekali. Bahkan memeluknya begitu erat. Dan saat itu pula Api menghirup wangi harum yang begitu menusuk, sesaat kemudian wangi itu membuat kepalanya terasa berputar-putar dan lehernya terasa tercekat.
Sebelum akhirnya matanya terasa berat dan kesadarannya menghilang, ia melihat gadis itu tersenyum menyeringai penuh kemenangan kepadanya.
Bruk..!
Api pun jatuh tak sadarkan diri di tanah.
Gadis itu tertawa keras, ia kemudian menari-nari kecil. Kemudian tersenyum menyeringai.
"Misi sukses~" ucapnya riang, "HEI KALIAN! KEMARI!" teriaknya.
Tiga petugas yang tadi berlari kabur pun mendatangi gadis itu. melihat Api yang terkapar di tanah membuat mereka tersenyum lebar.
"Kita berhasil, Nona!"
Gadis itu mendengus angkuh, ia menyibak rambutnya, "Hmph! Tentu saja! Kau pikir siapa aku?" tanyanya.
"Anda Poison Lady ! Dan anda yang terbaik!"
"Ho—hohohohoho!" gadis itu tertawa.
"Sekarang! Bawa dia! Ayo kita kembali!" perintahnya kemudian.
"BAIK!"
.
.
Coffey Milk
.
.
"Jadi… apa yang harus kita lakukan?" tanya Taufan sambil menunduk dalam.
"Menolongnya, tentu saja." Jawab Halilintar.
"Iya, aku tahu. Tapi bagaimana?" tanya Taufan.
Keempat kembar dan Ochobot terdiam. Mereka kini tengah berkumpul setelah mendengar akan berita penangkapan Api, sedangkan para penduduk tengah menikmati sarapan pagi mereka.
"Untuk pertama, kita harus mengetahui letak dimana dia berada setelah ditangkap." Ucap Ochobot.
"Kau benar, kalau begitu kita harus bertanya pada mereka." Ucap Gempa menimpali sambil melirik para penduduk.
"Tapi mereka sedang sarapan, lebih baik nanti saja." Ucap Ochobot.
"Tidak bisakah ini sedikit lebih cepat? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Api?" tanya Taufan.
Gempa menatapnya.
"Kita harus segera menolongnya!" seru Taufan.
"Kami tahu, Taufan. Tenanglah." Ucap Gempa.
Ochobot berdiri, lalu berjalan kearah penduduk, "Adakah dari kalian yang sudah selesai sarapan?" tanyanya.
Beberapa orang menoleh, "Ya, kami sudah." Jawab mereka.
"Mm… boleh kami meminjam satu atau dua orang dari kalian? Kami ingin bertanya." Pinta Ochobot.
"Ah… Baiklah…"
Ochobot lalu kembali kearah empat kembar dengan dua orang mengikuti dibelakangnya.
"Aku membawa mereka." Ucap Ochobot.
Kedua orang itu mengangguk sopan kearah empat kembar.
Gempa tersenyum, "Duduklah."
Ketiganya pun duduk.
"Boleh kami tahu nama kalian?" tanya Gempa.
Kedua orang itu mengangguk, "Aku Yohee, salam kenal."
"Namaku Sena, salam kenal."
"Oh, salam kenal juga, aku Gempa, dia Ochobot, ini Taufan, lalu itu Halilintar dan Air." Ucap Gempa lalu memperkenalkan saudaranya.
Kedua orang itu mengangguk kikuk, "Jadi.. apa yang bisa kami bantu?" tanya mereka.
Gempa tersenyum lagi, "Apakah kalian hapal daerah desa kalian ini?"
Yohee mengangguk, "Tentu, kami sudah tinggal disini sejak lahir." Jawabnya.
Gempa mengangguk, "Jadi, apakah kau tahu letak bagunan para petugas itu—maksudku, kemungkinan jika mereka mengumpul para penduduk yang sudah mereka tangkap?" tanyanya.
"Ya, kami tahu. Bangunan itu hanya ada satu di desa ini." Jawab Sena.
"Tapi kami tidak pernah berani kesana. Tempat itu di jaga cukup ketat." Ucap Yohee.
Gempa saling pandang kearah saudaranya dan Ochobot.
"Apa kalian hapal jalan kesana?" tanya Taufan.
Yohee mengangguk, "Bangunan itu sempat menjadi pabrik dulunya." Jawabnya.
Semuanya kemudian terdiam, memikirkan cara apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan Api.
"Terobos aja." Usul Halilintar sembrono.
"Jangan!" sergah Gempa cepat.
Halilintar diam.
"Bagaimana jika berpura-pura menjadi salah satu penjaga? Kita menyamar." Usul Air.
"Ah, usul bagus!" seru Taufan.
"Benar juga, kita bisa mengambil pakaiannya dari berapa petugas yang berkeliaran di desa." Ucap Gempa.
"Tidak bisa." Ucap Sena.
Semuanya menoleh kearahnya, "Seragam mereka berbeda." Ucap Sena.
"Bagaiman kau bisa tahu?" tanya Yohee.
Sena menunduk, "Aku pernah kesana…. Adikku ditangkap oleh mereka. Jadi aku mengikutinya…"
"Aku tidak pernah tahu hal itu!" seru Yohee.
"Aku tidak pernah memberitahumu." Ucap Sena sambil melirik kearah Yohee.
"Lalu, kau bisa selamat? Tidak ketahuan oleh mereka?" tanya Gempa.
Sena menggeleng, "Tak ada yang menyadari ku, karena waktu itu mereka sibuk mendata tangkapan mereka." Jawabnya.
"Mendata?" tanya Ochobot.
"Ya, seperti mengintrogasi satu persatu." Ucap Sena.
Gempa mengangguk.
"Jadi, apa kau bisa menyelamatkan adikmu?" tanya Taufan.
Sena menggeleng.
"Berarti kau langsung pergi begitu saja tanpa menolongnya?" tanya Ochobot.
Sena mengangguk, "Aku terlalu takut untuk melakukannya."
Kemudian, mereka kembali terdiam.
"Ya sudah. Kita ambil saja pakaian petugas disana." Ucap Taufan.
"Ah bisa juga." Ucap Air.
"Ya, dan kita juga bisa berkeliling untuk mencari dimana Api berada." Ucap Halilintar.
"Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Ochobot.
"Ya… berarti kita harus punya rencana lain." Jawab Gempa.
"Bagaimana jika Api tidak ada disana?" tanya Ochobot.
"Dia pasti ada disana." Jawab empat kembar serentak.
Ochobot terkejut, "Serempak sekali, tau dari mana?" tanyanya.
"Insting." Jawab Halilintar.
"Ya, ya." Ucap Taufan.
Gempa dan Air mengangguk-angguk.
"Hm… jadi, sekarang kita tentukan siapa yang harus menyamar. Kalian harus mencoba menjadi salah satu petugas." Ucap Ochobot.
Keempat kembar saling pandang.
"Mulai dari Taufan." Ucap Ochobot.
"Aku?! Aku, eh…" Taufan tersentak, lalu menggaruk pipinya.
"Sudah coba saja, misalnya kau menjadi salah satu petugas itu." ucap Ochobot.
Taufan mengangguk, lalu berdiri dan menarik napas, "….Haa….." menghembuskannya.
Taufan menggerakkan lengannya kaku, "He—hei! A—ayo jalan, cepat!" serunya.
"Apa yang kau lakukan? Memangnya kau sedang mengajak mereka jalan-jalan?" tanya Halilintar mencemooh.
Muka Taufan merah padam kemudian mendengus, "I—itu salah! Ya, ya, itu salah! Aku akan mengulanginya!"
Taufan mengubah wajahnya menjadi garang, "Hei kau bocah! Kemari!" serunya sambil menunjuk seorang anak kecil yang lewat.
"…." Anak itu terdiam, lalu melengos pergi sambil menangis takut.
Taufan mematung, ia pun menoleh kearah Ochobot yang menatapnya datar.
"Aku akan mengulanginya lagi!" seru Taufan.
"Ah, sudahlah. Kau gagal," ucap Ochobot.
"Ke—kenapa?" tanya Taufan.
"Penyamaranmu buruk sekali," jawab Ochobot, "dan mungkin nantinya akan lebih parah jika kau berhadapan dengan seorang wanita." Lanjutnya.
Taufan menunduk, "Haa…"
"Gempa!" seru Ochobot.
"Eh… ehm…"
"Hei, kalian! Jangan banyak bicara! Berdiri!" seru Gempa, mencoba memperagakan bila ia menjadi salah satu petugas.
"Kurang menghayati." Komentar Ochobot cepat.
"Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya!" seru Gempa tidak terima.
Mereka tidak menyadari kini menjadi tontonan penduduk yang lain.
"Halilintar!" seru Ochobot.
Halilintar berdiri, ia terdiam.
"…."
"…"
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Halilintar.
Ochobot menghela napas.
Halilintar menatap Ochobot tajam. Ochobot terkejut. Halilintar lalu menarik tangan Ochobot kuat, membuat Ochobot terseret.
"Berjalanlah dengan benar kau, sampah!" seru Halilintar.
Ochobot membulatkan matanya, kemudian menatap sengit Halilintar, "Kau kurang ajar, aku bukan sampah." Ucapnya.
"Yah—, aku hanya bercanda!" seru Halilintar panik.
Ochobot terkekeh, "Oke, sekarang Air."
Air berdiri, tangannya di letakkan di belakang punggung, pose beristirahat ditempat dan terdiam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ochobot heran.
"Aku…. Jadi penjaga pintu." Jawab Air.
Ochobot mengusap wajahnya, "Belum tentu kau akan menjadi penjaga pintu." Ucapnya.
"Benar juga." Balas Air.
"….."
"Tapi, untu menjadi petugas itu tidak harus berbica sekasar itu, Ochobot." Ucap Air.
"Oh, ya. Kau sering melihatnya di sekitar tempat tinggalmu." Ucap Ochobot.
Air mengangguk.
Ochobot terdiam sejenak, "Bukannya, mereka terlihat sama saja?" tanya Ochobot bingung.
"Maksudku bukan begitu," ucap Air.
Ochobot mengangguk, "Aku mengerti, yah… setidaknya kau terlihat lebih meyakinkan dari pada Gempa ataupun Taufan." Ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Air.
"Berarti, yang akan menyamar menjadi petugas adalah Halilintar dan Air." Ucap Ochobot.
"Apa?! Aku juga mau!" seru Taufan tidak terima.
"Tidak bisa, Taufan. Kalau ketahuan duluan, ini bisa gawat." Ucap Ochobot.
"Yasudah! Aku akan menyamar menjadi penduduk yang ditangkap aja!" seru Taufan.
Semuanya terdiam.
"Kau sebegitu inginnya menolong Api?" tanya Gempa.
Taufan mengangguk.
Gempa menghela napas, "Menyamar menjadi yang ditangkap malah merepotkan. Begini sajalah, kalian bertiga menyamar menjadi petugas saja." Ucapnya sambil menunjuk kearah Halilintar, Air, Taufan.
Taufan berseri-seri, langsung memeluk Gempa, "Makasih, Gempa!" serunya riang.
"Elah, Gempa. Seleksi yang ku lakukan jadi gak ada gunanya kan?" tanya Ochobot kesal, ia terlihat menikmatinya tadi.
Gempa tertawa hambar, "Maafkan aku.." ucapnya.
"Kalian serius? Mau menyusup kesana?" tanya Yohee.
Halilintar, Air dan Taufan mengangguk.
Yohee dan Sena saling berpandangan, "Akan berbahaya jika kalian semua ketahuan!" seru Sena.
"Tenang saja, kami bisa mengatasinya!" seru Taufan.
Gempa memukul punggung Taufan, "Bagaimana cara mengatasinya? Aku bahkan belum memikirkannya." Ucap Gempa.
"Eh, ya sori." Ucap Taufan lalu terkekeh.
"Kemungkinan caranya, kita harus segera kabur dari situ, masalahnya ita sendiri belum tau seluk beluk isi bangunan itu." ucap Halilintar.
"Benar juga…" ucap Gempa.
"Aku pikir penyusupan ini tidak bisa selesai hanya dalam satu hari." Ucap Ochobot.
Keempat kembar menatap Ochobot.
"Bagaimana jika kita kesana saja dulu?" tanya Air.
Gempa mengangguk, "Kalian bisa menunjukkan jalannya?" tanya Gempa pada Yohee dan Sena.
Keduanya mengangguk.
.
.
Mereka berlari melewati rumah-rumah penduduk dengan hati-hati. Berusaha agar tidak ada petugas yang menyadari mereka hingga mereka tiba di depan sebuah bangunan besar dan tinggi. Mereka pun bersembunyi di balik semak-semak di sekitar pohon yang ada di sekitar bangunan itu.
"Tidak ada gerbangnya." Komentar Taufan.
"Memang tidak ada," Balas Sena, "tapi para penjaganya banyak."
Taufan mengangguk saat melihat beberapa petugas berlalu lalang di sekitar bangunan itu.
"Tapi bagaimana mengambil seragam mereka?" tanya Taufan.
"Itu hal mudah bukan?" tanya Halilintar balik.
Air mengangguk, "Jatuhkan mereka, rebut baju mereka." Jawabnya.
Gempa terkekeh.
"Tapi kalau begitu, kita harus memancing mereka kesini." Ucap Ochobot.
"Terlalu beresiko jika yang kemari banyak. Kita akan ketahuan." Ucap Gempa.
"Kalian tidak perlu memancing mereka, karena mereka akan berpatroli beberapa jam sekali, jadi pasti mereka melewati tempat ini." Ucap Sena.
"Ah, begitu.."
"Berarti itu kesempatan kita, setelah itu kita segera saja berbaur dengan mereka." Ucap Halilintar.
"Bagaimana jika kita sudah masuk ke dalam?" tanya Taufan.
"Serahkan saja padaku. Aku akan mengatur kalian berdua." Jawab Air.
"Baiklah, aku serahkan padamu." Ucap Gempa sambil tersenyum.
Air mengangguk.
"Halilintar dan Taufan, jangan berkelahi kalau disana." Ucap Ochobot.
Taufan terkekeh, Halilintar mendengus.
Gempa terdiam.
"Ada apa Gempa?" tanya Ochobot.
Gempa menoleh, "Nggak, ntah kenapa aku jadi ingin ikutan menyamar." Jawab Gempa.
"Aku sih juga ingin. Tapi kalau kebanyakan…" ucap Ochobot.
"Bakal ketahuan." Sambung Halilintar.
Gempa mengangguk, "Aku tahu."
Kemudian mereka terdiam.
.
"Datang!" seru Taufan berbisik kearah Halilintar dan Air yang menunggu diatas pohon.
Halilintar mengangguk.
Terlihat dua orang penjaga sedang berpatroli yang kini berjalan kearah mereka. Taufan, Gempa, Ochobot, Yohee dan Sena bersembunyi di balik semak-semak.
Kedua penjaga itu mulai mendekat, mereka pun berjalan melewati pohon yang diatasnya terdapat Halilintar dan Air.
Halilintar dan Air saling berpandangan dan mengangguk, kemudian mereka turun dari pohon dan segera menumbangkan dua orang itu hingga pingsan, lalu menyeretnya kesemak-semak.
"Heii~ bagaimana dengan ku?" tanya Taufan berbisik.
Halilintar menaikkan bahu tidak peduli.
"Kau lihat penjaga yang berpatroli di sana sendirian?" tanya Gempa berbisik.
"Oh…"
"Seret dia dengan cambukmu." Bisik Gempa sekali lagi.
Taufan mengangguk.
Ia pun berjalan mengendap-endap, mendekati penjaga itu sesekali bersembunyi dibalik pepohonan. Ia menyiapkan bumerang yang ia simpan di balik bajunya. Terdiam sebentar untuk ancang-ancang dan ia melemparkannya ke penjaga tersebut.
BRUK!
Penjaga itu tumbang ke tanah, sedangkan bumerang kembali ke tangan Taufan.
Tiga kembar yang mendengar suara keras itu pun sontak menoleh. Beberapa penjaga yang lain pun tampak mencari sumber suara.
"APA ITU?!" teriak para penjaga.
"Khh! Si bodoh itu!" desis Halilintar geram.
"Aduh… dasar kakak kedua." Bisik Air sambil menepuk keningnya.
"Apa yang kau bisikkan padanya?" tanya Ochobot pada Gempa.
"Aku hanya menyuruhnya menyeret penjaga itu dengan cambuknya." Jawab Gempa.
Sedangkan, Taufan panik dan menyembunyikan dirinya di balik pohon.
Air dan Halilintar yang sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian penjaga lengkap dengan atributnya pun keluar secara diam-diam dari balik pohon-pohon. Kemudian mereka berjalan dengan tenang kearah penjaga yang lainnya.
"Maaf, aku menemukan ini jatuh dari pohon…." Ucap Air sambil menunjukkan beberapa buah mangga ditangannya yang ntah dari mana dia mengambilnya.
"HAH? Cuma itu? Astaga. Kami kira apa."
"Tapi itu terlihat segar, ayo kita memakannya!" seru salah satu dari mereka dan merebut mangga dari tangan Air.
Para penjaga itu pun kembali ketempat mereka.
Halilintar tetap diam dan Air menghela napas lega.
"Dari mana kau mendapatkan mangga itu?" tanya Halilintar sambil menyikut Air.
"Ah.. ya, kau tahulah. Saat kita naik pohon tadi." jawab Air.
"Yasudah, ayo kita kembali." Ucap Halilintar.
"Mungkin lebih tepatnya, kita harus berpura-pura patroli." Balas Air.
"Ah, terserahlah." Ucap Halilintar.
Air terdiam sebentar, "Tapi setidaknya kita benar-benar harus berpatroli." Ucapnya kemudian.
"Haih… merepotkan." Balas Halilintar.
"Setidaknya kita bisa mengenali lingkungan luar bangunan ini dulu." Ucap Air.
"Oke, oke."
Ketiganya lalu kembali ke balik semak-semak dengan hati-hati. Disana sudah ada Gempa dan Ochobot yang tersenyum lebar kearah keduanya.
"Bagus!" seru Gempa lalu terkekeh.
Taufan muncul dengan menyeret penjaga yang sudah ia tumbangkan dan ia juga sudah memakai pakaian penjaga itu lengkap dengan atributnya.
Gempa, Halilintar, dan Air dengan cepat menjitak kepala Taufan begitu ia tiba.
"Aduh!" teriak Taufan dalam bisikan.
"Aku mungkin tidak segan menghajarmu jika kau membuat kesalahan." Gertak Halilintar sambil mengelus pedangnya.
"Taufan, tolong pikirkan dulu apa yang mau kau perbuat." Ucap Air.
"Setidaknya kau bisa berterimakasih pada Halilintar dan Air yang sudah menolongmu." Ucap Gempa.
"Maaf…" ucap Taufan.
Semuanya kemudian terdiam selama beberapa menit.
.
"Jika kalian bertiga sudah masuk kedalam, aku tidak akan tahu bagaiman keadaan kalian," ucap Gempa, "jadi… jika kalian dalam bahaya, aku tidak bisa menolong kalian….mm.. setidaknya aku butuh sesuatu untuk bisa memastikan keadaan kalian." Lanjutnya.
"Ah… benar juga." Ucap Ochobot.
Mereka pun berpikir.
"Seruling, bagaiamana dengan suara seruling?" tanya Taufan.
"Ah, bisa juga." Jawab Halilintar.
"Tidak, itu terlalu menarik perhatian orang." Jawab Air.
"Bagaimana dengan tulisan?" tanya Ochobot.
"Kita mungkin tidak memiliki bahan dan alatnya disana." Jawab Halilintar.
"Cahaya… gimana kalau itu?" tanya Gempa.
"Cahaya! Kau bisa menggunakannya dengan memakai penerangan di sana." Ucap Ochobot.
"Tapi itu kan hanya bisa untuk malam hari. Bagaimana untuk siang hari?" tanya Taufan.
"Ah, benar juga." Jawab Gempa.
Air terdiam.
"Kau ada ide, Air?" tanya Ochobot.
Air mengangguk, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah benda berukuran setelapak tangannya.
"Ini namanya alat komunikasi. Kita bisa terhubung dengan benda ini. Alat ini di ciptakan oleh klan Agata, dan Kyoshiro-san menghadiahkannya pada Klan Li. Tapi, emang dasar si Fang lebih suka memakai merpati surat, jadi aku ambil saja ini dari ruang kerjanya." Terang Air.
"Dari pada mengambil, lebih tepatnya kau nyolong." Komentar Halilintar.
"Peduli amat." Balas Air.
"Kau seharusnya mengeluarkannya dari tadi." ucap Gempa.
"Aku kira benda ini tidak terlalu di butuhkan." Jawab Air lalu memberikannya pada Gempa.
"Kau?" tanya Gempa saat benda itu berada ditangannya.
"Aku punya satu lagi." Air menunjukkan benda yang sama.
"Jadi… bagaimana cara memakainya?" tanya Gempa.
"Benda ini akan tersambung dengan benda yang sama dalam radius duapuluh kilometer. Tekan saja tombol hijau ini dan akan langsung tersambung dengan milikku yang masuk dalam jangkauan benda ini." Jawab Air.
Gempa mengangguk mengerti.
"Oke, baiklah." Jawab Gempa.
Air mengangguk, "Baiklah, ayo." Ucapnya pada Taufan dan Halilintar.
"Hm.. sebaiknya kalian membawa senjata." Ucap Ochobot.
"Aku tidak perlu, aku bisa memakai tangan kosong, atau tongkat yang biasanya para penjaga itu bawa." Jawab Halilintar.
"Aku sudah membawanya." Jawab Taufan sambil menunjukkan sesuatu di balik bajunya.
"…." Halilintar menatap pedangnya yang panjang.
"Kau akan membawanya, itu terlihat mencolok, pedangmu." Ucap Taufan.
"Benar juga… mau bagaimana lagi." ucap Halilintar sambil mengelus-elus pedangnya.
"Ah, kalau itu, bagaimana jika kau memakai pedangku?" tanya Gempa sambil menunjukkan pedangnya.
Halilintar menatapnya.
"Pedangku lebih pendek dari milikmu, mudah untuk menyembunyikannya." Ucap Gempa.
"Tapi aku tidak terbiasa dengan pedang pendek," ucap Halilintar lalu menyerahkan pedang miliknya dan mengambil pedang Gempa, "baiklah. Setidaknya mereka cukup sama." Lanjutnya.
Gempa tersenyum kecil. Ketiga kembar itu pun lalu memulai penyamaran mereka.
.
.
Coffey Milk
.
.
"Bangunannya besar dan luas sekali." Komentar Taufan saat mereka bertiga berpatroli mengelilingi isi luar gedung.
Halilintar mengangguk.
Ketiganya kini berjalan menuju pintu utama gedung itu.
"Sebentar." Ucap Air.
Halilintar dan Taufan pun berhenti dan menatap Air heran, "Sepertinya mereka akan memberi hormat kepada seorang petinggi. Kita harus mengikuti mereka." Terang Air saat melihat sebuah kereta kuda berhenti didepan gedung dan para penjaga mulai berbaris rapi.
"BERI HORMAT!"
Para penjaga itu pun menunduk 80 derajat, "SELAMAT DATANG, TUAN AISLEY."
Seorang pria paruh baya tampak angkuh berjalan ditengah para penjaga yang memberi hormat kepadanya diikuti seorang gadis dengan gaun yang glamour hingga mereka memasuki gedung itu.
"Papa! Kau tahu, aku sudah menangkap bocah itu!" seru gadis itu terdengar samar-samar oleh Air.
"Aku hebat kan, Papa?"
Kedua ayah-anak itu pun menghilang dari balik lorong. Para penjaga pun menyudahi kegiatan hormat mereka dan kembali berjaga-jaga di sekitar bangunan.
.
"Gadis itulah yang menangkap Api." Bisik Air pada kedua saudaranya.
"Apa?!" Taufan berteriak dalam bisikannya.
"Ssshh…"
"Kalau begitu ayo segera kita cari Api." Ucap Taufan.
"Tidak bisa begitu, tunggu saja sampai kita ada giliran masuk kedalam gedung. Mungkin… saat makan siang." Ucap Air.
Halilintar dan Taufan mengangguk.
.
.
.
"Sepuluh orang berikutnya! Silahkan makan siang!" seru seorang penjaga yang baru saja keluar dari gedung.
"Ayo." Bisik Air.
Sepuluh orang penjaga termasuk tiga bersaudara pun memasuki gedung, mereka melewati lorong demi lorong dan sampai di sebuah ruang makan yang besar. Lalu mengantri hingga mendapatkan satu porsi makan siang mereka.
"Dimana kita harus duduk?" tanya Taufan.
"Sebelah sana saja, ada bangku yang tersisa." Jawab Air sambil menunjuk kearah meja lebar yang sudah diisi oleh beberapa petugas dan penjaga.
"Langsung berbaur dengan mereka?" tanya Taufan terperanjat.
"Bersikaplah seolah-olah kau adalah bagian dari mereka dan ambil informasi sebanyak-banyaknya." Jawab Air.
Dan mereka pun menghampiri meja itu.
.
.
CoffeyMIlk
.
.
Api terbangun kala segelas air dilemparkan kearah wajahnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya, dan melihat dimana ia berada.
Sebuah ruangan sempit dengan penerangan dua lilin. Kedua tangannya terentang dan diborgol ke dinding di belakangnnya. Bajunya tak ada, Api berpikir mungkin baju kesayangannya itu sudah dibuang atau dimusnahkan, karena senjatanya ada di saku di dalam bajunya.
Api merasakan tangannya sakit karena sudah lama tertarik. Sudah lama? Berapa jam sudah ia berada diruangan ini?
"Oh. Kau sudah bangun ternyata." Sebuah suara wanita menyapa indera pendengarannya.
Api mendongak, ia lalu menggertakkan gigi-giginya, menatap tajam gadis itu.
"Kau..! penipu!" seru Api marah.
Gadis itu menyibakkan rambut panjangnya, "Aku? Penipu?" tanyanya angkuh, "Humph!" ia lalu menendang perut Api keras.
"UHUK!"
"Rendahan sepertimu tidak pantas mengatakan hal itu padaku! Kau lah yang terlalu naif dengan jatuh dalam perangkapku!" seru gadis itu lalu tertawa dan kembali menendang tubuh Api.
"UKH! UHUK! UHUK!" Api memuntahkan darah dari mulutnya.
"Gimana?! Enak?!" tanya gadis itu.
"….." Api tak berniat untuk menjawab.
Gadis itu kembali menendangnya dengan kesal, "JAWAB AKU! Kau rendahan!"
Api kembali terbatuk. Ia merasakan tubuhnya nyeri.
"Kau terlihat menderita, lihatlah! Apa yang bisa kau lakukan, ha?! Membom segala tempat dan menembak?! Tidak ada lagi senjatamu!"
"…"
"Siapa yang akan menolongmu?! TIDAK ADA! Percuma saja kau menolong para penduduk itu! mereka bahkan tak bisa menolongmu! Hahahaha!"
"… Sayang sekali, aku tidak menolong mereka." Ucap Api, lalu tersenyum menyeringai kearah gadis itu.
Gadis itu terdiam dan menatap Api tajam, "OH?"
"Aku tidak bermaksud untuk menolong mereka. Aku hanya berniat untuk menghabisi kalian," Ucap Api lalu terkekeh, "menolong mereka hanya menghabiskan waktuku. Lebih baik aku membunuh semua dari kalian para anjing kerajaan." Lanjutnya.
Sebuah tendangan mendarat di kepalanya, "Oh, kau menyebut kami anjing kerajaan? Kau pikir dirimu apa?" tanya sebuah suara berat.
Api meringis, darah menggalir dari kepalanya. Ia merasa pusing tiba-tiba menderanya.
"Papa!" seru gadis itu.
Ayah gadis itu lalu mencekik leher Api, "Kau bahkan tidak bisa menjawab kan?" tanyanya sambil menyeringai lebar kearah Api yang kini berusaha melepaskan diri.
"Kkhhh…" Cekikan di leher semakin kuat dan Api mulai merasakan pasokan udaranya menipis.
"Papa, kita tak boleh membunuhnya. Walau seharusnya dia di bunuh saja. Dia sudah merepotkan kita. Ya kan, Pa?"
Sang ayah terkekeh, lalu melepaskan cekikannya dan membuat Api terjerembab di dinding belakangnya.
Api mengatur napas lalu mendongak dan meludahkan darah kearah wajah ayah gadis itu.
"Maaf sekali, kedudukanku bahkan lebih tinggi dari kalian." Ucap Api.
Ayah gadis itu dengan cepat mengusap ludahan Api dari wajahnya, mukanya memerah. Ia sangat marah.
"KAU KURANG AJAR!" Teriak pria itu lalu memukul Api bertubi-tubi.
"…" Api terdiam lalu terkekeh pelan, "Cuma itu?" tanyanya.
Pria itu kembali naik pitam dan menghajar pemuda itu. Setelah beberapa menit hingga Api tak bergerak dan darah membasahi kepalan tangan, pria itu menyelesaikan kegiatannya menghajar Api.
"Baiklah, Axel. Ayo kembali." Ucap pria paruh baya bernama Aisley itu sambil menyeka darah dari kepalan tangannya.
"Baik Papa!" seru gadis bernama Axel itu ceria, ia kemudian menyusul sang ayah dengan sebelumnya ia menghampiri Api sambil tertawa. Diangkatnya dagu milik Api dan membuka mulut pemuda itu kemudian menumpahkan cairan kemulut Api.
"Telan." Perintah Axel sambil mengangkat dagu Api tinggi-tinggi.
Setelah memastikan Api menelan cairan itu ia tertawa, "Racun ini akan membuatmu menderita. Hihihihi…" ia lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu setelah Aisley memanggilnya.
"Baik, Papa~"
Blam!
Pintu tertutup, kemudian terkunci.
Api terdiam lama. Merasakan rasa pahit cairan yang tadi di beri Axel masih berada di mulutnya. Ia meludah, mencoba mengeluarkan cairan itu. namun, apa daya setengah dari cairan itu sudah tertelan dan masuk ke kerongkongannya.
Api tiba-tiba merasakan tubuhnya memanas. Aliran darahnya seperti mengalir kencang. Degup jantungnya berdetak tidak karuan. Rasa panas seperti membakar tiap sel dalam tubuhnya.
"Ahk… Ukh… Uhuk!" ia meringis kesakitan dan memuntahkan beberapa mili darah dari mulutnya.
"Aaaakkhh! Ha….. hah… akh!" Api menggerakkan tubuhnya, rasa nyeri mendera seluruh tubuhnya. Tangannya melemas dan matanya berkunang-kunang, kepalanya sakit luar biasa.
Kesadarannya pun menghilang.
.
.
.
"Ini membosankan! Sudah seminggu kita memakan menu yang sama seperti ini!" keluh seorang petugas di sebelah Taufan sambil menghentakkan sendok keatas piring.
Taufan tertawa hambar, "Mungkin koki sedang kehabisan ide untuk menu yang lain." Ucapnya.
"Kau benar! Tapi aku lebih suka dengan menu dua minggu sebelumnya!" seru yang lain.
"Mungkin kita harus berdemo lagi, Hahaha!"
"Hei, jangan! Kasihan, kokinya sudah pada tua! Hahaha!"
"Biarlah, setidaknya kita bisa makan enak!"
Tawa terdengar membahana.
"Hei, kau dengar, Nona Axel menangkap bocah itu!" ujar seseorang.
"Ya, aku tahu! Aku juga mendengarnya tadi saat ia dan tuan Aisley lewat!"
"Sepertinya menarik, aku ingin melihatnya!" seru yang lain.
"Aku juga!"
"Aku juga!" seru Halilintar.
"Tapi, siapa yang tahu dimana letak dia berada?" tanya Air.
"Ntahlah, dia kan baru sehari ini disini." Jawab petugas yang lain.
Air mengangguk mengerti, ini tidak akan mudah, pikirnya.
.
.
.
"Nah, ayo kita kembali." Ucap Gempa pada Ochobot, Yohee dan Sena.
Ketiganya mengangguk.
"Tapi, Gempa… kita harus melakukan sesuatu dengan mereka." Ucap Ochobot sambil melirik kearah ketiga orang penjaga yang di tumbangkan Halilintar, Air dan Taufan.
"Oh ya, kau benar," ucap Gempa sambil menepuk keningnya, "kita harus menyenmbunyikan mereka… ah, aku tahu." Lanjutnya seolah mendapat pencerahan.
.
.
Setelah mengikat ketiga orang itu beserta menutup mulut mereka dengan kain, Gempa memasukkan mereka kedalam kotak yang ia temukan di antara celah rumah penduduk.
Setelah memastikan kotak tertutup rapat, ia menepuk tangannya dan tersenyum lebar.
"Dan kau sekarang mirip mereka yang mengurung para penduduk di dalam kotak." Komentar Ochobot.
"Hanya berjaga-jaga agar mereka tidak diketahui oleh teman-teman mereka." Jawab Gempa.
Ochobot mengangguk.
"Besok aku akan memastikan lagi keadaan mereka, sudah, ayo kita balik." Ucap Gempa kemudian.
Keempatnya berjalan kembali ke hutan, tanpa menyadari salah seorang dari ketiga penjaga tadi kini terbangun.
.
.
.
TBC~ ;)
Aku minta mangap eh maap karena sudah menyiksa Api disini :') aduuhhh Api sebetulnya aku gak tega, tapi keperluan cerita mau gimana lagi muehehehe/dibakar/nggak
RaishaCaca : dia ngga mati kok, tenang aja/heh/ sori saya gak bisa update kilat :') efek gara-gara malas dan writer block menyiksa saya/heleh/ makasih~ /wink
14112KID : fansnya kaito kid ya… saya juga :3 /hoi/ sori updatenya lama, kebiasaan sih haha :D ini udah lanjut, makasih~
DesyNAP : Api ditangkap, qaqa~ ini udah update~ maaf kelamaan~ udah hampir sebulan ya? XD
Fadiaa : makasih~/wink/ aduh, si Api itu gak jahat, percaya deh :') yang jadi raja nanti masih rahasia ya :3 masih lama soalnya, oke, ini sudah lanjut :3
Firda : iya, dan ini udah update lagi. eh… gitu ya, sori. Tapi saya gak bisa menyingkat-nyingkat cerita ini. Dan cerita yang panjang itu menyenangkan. Saya juga suka ide cerita yang berbelit-belit contoh aja anime Durarara dan Gintama, kalau kamu tahu sih/haha/ tapi makasih masukannya :))
Lian : iya makasih, ini udah lanjut :v sori gak bisa update kilat~ :v
Syifaa : begitulah yang terjai pada Api~/apaan/ iya gpp kok manggil saya milk-san :D sori gak bisa update cepet
Reyhan : yang nyulik kan para petugas, untuk apa? Karena dia sudah mengganggu perdagangan itu kalau masih bingung baca lagi deh yang sebelumnya ;) saya maafin asal gak diulang lagi :3 makasih~
Furusawa Aika : iya, saya maapin. Makasih ya~
AnnishaAulia : iya, thanks juga :3 ini udah lanjut
Sawsan : emang sebelumnya gak keren? :'') Taufan makai bumeran sama cambuk, karena saya ingin aja :d Air itu sebetulnya bisa bertarung dengan tangan kosong, dia ikut wushu, sebelumnya pernah kujelasin kayaknya :'') sebisa mungkin saya gak make sihir disini. Para Boboiboy disini gak punya kuasa. Kan udah kelihatan? Iya, Taufan gak punya masalah yang cukup berarti disini, jadi karena itu saya sering menistakannya, hohoho
J4NU5 : nih tak kasih tisu/sodorintisu/ ah, ada juga yang bilang nangis waktu puasa itu batal XD gak bakalan batal sih sebetulnya kalo kamu gak minum air matanya XDD (maybe?)/hoi/ keren lah, dia bisa langsung pake pistol XD soalnya emosinya sedang memuncak jadi tanpa sadar dia bisa melakukan hal yang sebelumnya bahkan belum dia kuasai/apaan/ semacam kaya Mikasa dari SnK/ngawurkemanakamu/ XD mungkin di ch selanjutnya XD oke, ini udah lanjut, makasih~/wink
Kirana Rahmani : cup… cup…/tepoktepok/ ah, saya belum nentuin chapter berapa selesai. Masih panjang soalnya. Semoga saya kuat, haha~ dan lagi, teman, saudara ataupun sepupu saya gak ada yang tau saya buat cerita beginian, oke?
Kira Fumi : makasih~ ini udah lanjut~
Guest : makasih~
Gietta-Re : hai juga~ makasih~ review lagi ya~/wink/ makasih sudah dukung saya/berasacaleg/ oke, saya banyakin adegan action dan family-nya kok tenang aja :)) ini udah lanjut
Afiyah : iya sama-sama
bustomi alfian : ini ch 16 nya~ maafkan keterlambatan saya~ :D
Alexandra Putri Taufriend : makasih~ ini udah lanjut~
Arti19 : saya maafin kalau gak diulang lagi X) ini udah lanjut makasih~
Alifah : pertanyaanmu udah kejawab ya~ tenang aja gak ada yang 'mbokong' (nyerang dari belakang) dia kok XD
Dhea : iya, gpp XD anak OSIS ya? Sabar ya~ thanks juga udah review ff saya lagi u,u btw, saya seneng bikin orang kepo/haha/ setelah Api ketemu yang lainnya…. Ya, mereka ngelanjutin perjalanan gitu XD tamatnya gak tau chapter berapa :( tebakanmu benar hehe/malahspoiler/ yap ini udah lanjut makasih~/wink
Guest : ini udah lanjut
Seriaryu Kairu Syin : terimakasih kembali~ :))
Yuko : ini udah lanjut
Agung : Makasih :)) ini udah lanjut. Api hidupnya lebih menderita karena saya ingin aja :3 /dibakar/gak/ untuk perangnya mungkin ada~
Okeh, terimakasih udah review~
Review Again!
