Under The Sky [Ch. 17]

Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.

AU, Adventure, Family, Action

OOC level max, Typos, No Pair, RnR

.

=CoffeyMilk=

.

.

Hari mulai menggelap, sudah beberapa jam lebih Air, Halilintar dan Taufan berada di markas musuh. Dengan hati-hati mereka mencari dimana Api dikurung. Seperti sekarang, mereka tengah menyusuri lorong demi lorong.

"Jadi kemana lagi kita harus mencari?" bisik Halilintar.

"Kakiku mulai pegal…" keluh Taufan.

"Aku pikir kita belum memeriksa bagian-bagian tersembunyi." Jawab Air.

"Ya sudah, ayo." Ucap Halilintar.

"Tapi kita terlalu mencurigakan, dari tadi berputar-putar dari lantai tiga, ke lantai satu seolah mencari sesuatu." Ucap Air.

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Taufan.

"Berpencar, atau kita sudahi saja dulu, lanjutkan besok." Jawab Air.

"Berpencar." Ucap Halilintar.

"Lanjutkan saja besok." Ucap Taufan.

"Kau..!"

"Tolonglah, aku sudah capek. Lagi pula sebentar lagi waktunya makan malam, ayo beristirahat dulu." Bisik Taufan.

"Taufan benar, ayo kita ke ruang makan sekarang." Sahut Air.

.

.

.

Api membuka mata. Ia meringis saat merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Ia merasa sangat lemas seakan energinya terkuras begitu saja.

Dan perutnya lapar.

Api menghela napas. Mata sayunya menjelajahi tiap sudut ruangan. Lilin sebagai penerangan ruangan itu semakin lama semakin memendek.

"Siapa yang akan menolongmu?! TIDAK ADA! HAHAHA.!"

Perkataan Axel terngiang di kepalanya. Api tersenyum kecut. Siapa yang akan menolongnya? Tentu saja tidak ada. Mengharap sebuah kebodohan apa dirinya?

"Kau Boboiboy Api, kan?"

"Ini aku, Taufan! Kita adalah saudara! Kau ingat?"

Api tersentak, bayangan seseorang yang mengaku sebagai Taufan melintas dikepalanya. Sebuah harapan muncul di hatinya.

"Aku bermimpi buruk—semuanya pergi meninggalkanku. Roderick juga—"

"Jangan pergi—"

"Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi…"

"Kalau begitu tak usah melindungiku!"

"Roderick!"

Kilas balik bermunculan, memaksa Api kembali mengingat kenangan buruk itu. Ia juga teringat saat dirinya melihat keempat saudaranya menyelamatkan para penduduk. Api menggigit bibirnya, ia yakin saat itu saudaranya sedang mencarinya. Darah menetes dari bibirnya karena ia menggigitnya begitu keras. Air matanya menetes.

"Jangan melindungiku…." Suaranya terdengar parau, "jangan mencariku… jangan menolongku….."

Api berusaha menahan isakannya.

"….karena..hiks… kalau kalian melakukan hal itu… kalian akan pergi meninggalkanku….."

.

.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak mati saja?"

Api tersentak. Ia mendongak. Seorang lelaki baru saja masuk ke dalam ruangan tempat dia berada. Ditangan lelaki itu, ia memegang sebuah pisau perak yang terlihat berkilau saat dia melempar dan menangkapnya sesekali.

Lelaki itu tersenyum manis, "Kau tidak ingin mereka pergi meninggalkanmu bukan? Kalau begitu kenapa tidak kau yang meninggalkan mereka?" tanyanya sambil berjalan mendekat kearahnya.

Api terdiam, mulutnya sedikit terbuka, matanya membulat lebar.

"Hm?" lelaki itu masih tersenyum.

"…Roderick?" Api berujar tak percaya saat lelaki itu berjongkok di hadapannya.

Sret.

Pisau yang di pegang lelaki itu menggores pipi Api.

Api terkejut dan meringis.

"Sayang sekali, namaku Anthony. Huh? Roderick? Nama busuk siapa yang kau sebut?" tanya lelaki itu sambil tersenyum kejam.

Api meringis saat Anthony kembali menyayat kulitnya dengan pisau yang lelaki itu bawa.

"Jadi, karena kau kakak lelaki ku mati? Cuma karena ia melindungimu?" tanya Anthony lalu tertawa kecil, "Dasar tidak berguna." Ia kembali tertawa lagi sambil menggoreskan pisau pada kulit Api.

"Sejak kecil pun dia tidak berguna. Sejak dia bertemu dengan perempuan itu dia semakin tidak berguna," Anthony kembali menyayat kulit Api dengan pisaunya, "bahkan setelah perempuan itu menikah dengan seorang raja, ia tetap tidak berguna. Dan semakin tidak berguna saat ia disuruh mengasuh seorang bocah ingusan seperti mu." Anthony terus berbicara sambil memainkan pisaunya.

Api tercekat.

"Kau merindukan dia—si tidak berguna?" tanya Anthony terkekeh, "Tidakkah aku sangat mirip dengannya—si tidak berguna?"

Api menatap lelaki itu dengan emosi yang semakin meningkat kala Anthony terus menyebut Roderick si tidak berguna.

"DIAM!" seru Api marah, "Jangan menghina Roderick! Kau tidak mirip dengannya! Bahkan kau lebih buruk dari-!" Api tertegun saat suaranya tiba-tiba menghilang begitu saja.

Anthony tersenyum lebar, "Hm? Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya…. Bisa kau ucapkan sekali lagi?" tanyanya.

"…" Api kembali mengeluarkan suaranya, tapi suaranya tidak keluar sama sekali beberapa kali dia mencoba.

Anthony tertawa kencang, "Ahhh…. aku rasa Axel memasukkan racun khususnya padamu bukan? Racun yang membuatmu merasakan 'lebih baik aku mati dari pada menerima ini' setelah kau meminum racun itu, lalu energimu seolah hilang dan kau lemah tak berdaya kemudian tidak bisa mengeluarkan suaramu selama beberapa hari. Wanita itu selalu memberikannya pada setiap orang yang tidak patuh padanya lalu menyiksanya." Ucapnya.

"Wanita itu memiliki kebiasaan yang sangat buruk bukan?" tanya Anthony, pisau yang ia pegang kembali mengiris-iris kulit Api.

Api bergerak gelisah, selama beberapa hari?

Anthony menatap pemuda yang dirantai itu dengan mata menyipit lalu terkekeh.

"Aku juga pernah merasakan rasanya menderita seperti itu," ucap Anthony, "dan sekarang suaraku terdengar bukan? Hihi. Kau terlihat ketakutan." Lanjutnya.

Api terdiam, menatap Anthony yang kini berputar mengelilingi ruangan, dengan pandangan heran. Lelaki itu tertawa tanpa henti sambil memainkan pisaunya. Tangannya bergerak cepat dan pisau itu sama sekali tidak melukai kulitnya. Kemudian ia melemparnya kearah Api tanpa melihat.

"…!" Api menghindari pisau yang melaju cepat kearah kepalanya. Adrenalinnya memuncak.

Pisau itu membentur dinding dan jatuh ke lantai setelah sebelumnya membuat luka sayatan lain di lengan Api.

"Ah… tidak kena, menyebalkan sekali." Ucap Anthony mengambil beberapa pisau lagi dari balik bajunya.

Pisau-pisau itu kembali melesat cepat kearah Api. Beberapa jatuh ke lantai setelah membentur dinding dan ada pula yang menancap di lengan dan pinggang Api juga menyayat kulit leher Api.

Api meringis kesakitan tanpa suara. Darah mengalir dari luka yang baru saja ia terima. Anthony tertawa keras saat melihat Api seperti itu. Api memejamkan matanya rapat-rapat, menaikkan kedua bahunya, mencoba untuk menutup luka di leher dan menghentikan darah yang mengalir. Anthony menghentikan tawanya.

Anthony berjalan kearahnya lalu menjambak rambut Api keras. Mata Anthony menatap pemuda itu tajam. Kilatan emosi terlihat dari tatapan tajam itu.

"Dengar." Ucap Anthony dengan penekanan pada ucapannya.

Kepala Api menengadah karena jambakan itu. Dia menatap tidak mengerti pada wajah Anthony di depannya yang terlihat menyiratkan kepedihan begitu dalam.

"Seandainya kau tidak ada, kakakku tidak akan mati. Seandainya dia tidak melindungimu, dia tidak akan mati. Seandainya kau tidak membunuhnya dengan keberadaanmu—atau seandainya perempuan itu sama sekali tidak ada—" Anthony membenturkan kepala Api ke dinding dan melepaskan jambakannya.

"—Roderick tidak akan mati dan meninggalkanku pergi untuk ketiga kalinya…" lanjut Anthony lalu berjalan mundur dan pergi keluar.

.

.

CoffeyMilk

.

.

Pagi ini Gempa datang ke desa untuk memastikan isi kotak. Dia tersenyum senang saat melihat ketiga orang itu masih berada di sana dan tampak tertidur lelap.

Gempa terkekeh geli saat melihat ketiga orang itu menggigil kedinginan karena hanya memakai selembar celana dalam, Halilintar, Air dan Taufan mencuri pakaian mereka sebelumnya. Ia lalu mengambil sehelai kain panjang yang sedari tadi ia bawa.

"Karena aku baik hati~ jadi aku memberikan ini pada kalian~" bisiknya, lalu meneylimuti mereka dengan kain itu.

Ia menghela napas, sesaat kemudian matanya menangkap sesuatu yang berjalan di dinding. Seekor kecoa. Gempa menyeringai licik. Dengan sedikit sentakan dia menjatuhkan kecoa itu kedalam kotak lalu menutup kotaknya rapat-rapat.

"Maafkan aku~" ucapnya lalu berjalan meninggalkan tempat itu.

.

Kakinya melangkah menelusuri jalan di desa. Sedikit susah bergerak dengan pedang yang ia bawa di pinggangnya ia pun akhirnya membawanya di tangannya.

Matanya menyusuri tiap sisi desa dan menemukan sebuah menara berada beberapa puluh meter darinya. Langkah kakinya mendekati menara itu dan dia mendongak. Menulusuri menara bagian luar dengan mengitarinya. Ada sebuah pintu di hadapannya kini dan ia membukanya.

Suara derit pintu terdengar begitu pintu menjeblak terbuka. Gempa terbatuk kecil kala debu menyambutnya. Ia pun masuk kedalam menara sambil menutup hidungnya. Didalam menara terdapat tangga besi yang menghubungkan ke lantai atas menara.

Tanpa pikir panjang, Gempa pun memanjat tangga itu sembari menyingkirkan jaring laba-laba dan beberapa tumbuhan paku yang menghalanginya. Setelah sampai di lantai atas ia tersenyum senang dan menepuk tangannya untuk menghilangkang debu yang menempel.

"Sepertinya tempat ini tidak pernah tersentuh selama beberapa tahun…" monolognya.

Ia mendesah bahagia kala pemandangan yang indah menyapanya. Dataran hijau yang luas, hutan, rumah-rumah penduduk dan sebuah danau luas yang letaknya berpuluh-puluh kilometer dari tempatnya berada.

Udara yang sejuk menerpanya. Gempa tersenyum lebar. Bersenandung kecil ia menaruh pedang diatas lantai kayu tempatnya berpijak dan mengambil gulungan kertas peta yang berada di balik bajunya.

Ia mendudukkan diri dan membuka peta itu. Menelusuri wilayah tempat dia berada dan wilayah yang sudah mereka kunjungi dengan jari telunjuknya. Hingga jari telunjuknya berhenti di sebuah gambar danau.

Gempa melirik danau yang bisa ia lihat dari tempat itu, "Ini pasti danau itu." monolognya.

Gempa terdiam sebentar. Ia teringat sesuatu. Jika mereka sudah berkumpul semua, akan pergi kemana lagi mereka? Apakah menetap di wilayah ini? Atau melanjutkan lagi perjalanan mereka?

Gempa jelas tidak ingin menetap di wilayah ini. Berbahaya. Dia lebih memilih opsi kedua, tapi kemana?

"Hei, bocah-bocah. Ingat, untuk berkunjung kemari jika pencarianmu sudah selesai."

Gempa tersentak saat mengingat kata-kata Mirajane saat dia dan Ochobot akan melakukan perjalanan mereka. Dia melihat peta, jarinya yang tadi berhenti di gambar danau, kini bergeser kearah wilayah yang di lingkari, wilayah tempat Mirajane berada. Gempa tersenyum. Ia sudah menentukan pilihan.

Jari-jarinya kembali bergerak kearah wilayah lain yang di lingkari oleh Mirajane. Ia terkejut begitu menyadari perjalanannya itu membuat bentuk melingkar, dengan wilayah istana raja sebagai pusatnya. Ia tidak begitu menyadari sebelumnya, karena ia tidak tahu. Wilayah istana dikelilingi oleh wilayah-wilayah yang tak pernah ia kunjungi.

Jari-jarinya kembali ke gambar danau yang tadi.

.

.

.

CM

.

.

Api menatap nanar lantai batu di bawahnya. Sorot matanya kosong, seolah tak ada kehidupan disana. Matanya terlihat merah dan kantung mata yang menghitam akibat tidak bisa tidur. Semua ucapan Anthony seolah menamparnya. Langit-langit pikirannya seolah runtuh. Ia tidak bisa memikirkan apapun. Kosong. Hampa.

Rasa bersalah dan kecewa membungkamnya. Hatinya pedih seolah teriris oleh belati. Menangis bahkan tidak bisa, Api yakin air matanya kini mengering, seperti darah dilukanya yang lama-kelamaan berhenti mengalir dan mengering.

Sinar mentari menimpanya, membuat Api tersadar dan melirik kearah berkas-berkas cahaya yang datang dari celah ventilasi besi.

Hangat.

Api memejamkan matanya. Menikmati kehangatan itu dalam sunyi. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dengan menyenderkan diri ke dinding belakangnya. Api menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, terus melakukan hal itu secara teratur. Entah kenapa dia merasa tenang sekarang.

Api membuka matanya, matanya mengerjap saat bayangan Roderick teringat di benaknya. Api berdecak. Roderick lagi, Roderick lagi.

Api merutuk.

Pria itu selalu memasang wajah tenang, kadang tak berekspresi. Seolah tak punya masalah dalam hidupnya atau menyimpan sebuah rahasia besar dalam dirinya. Hidupnya terasa biasa dan datar seperti kebanyakan orang.

Itulah yang Api pikirkan sebelumnya, membuatnya tak terlalu peduli atau bahkan ikut campur dalam masalah pria itu.

Yang ia pedulikan hanyalah egonya agar orang yang ia sayangi tak meninggalkannya lagi. agar ia tak merasa kehilangan lagi.

Tapi siapa tahu ternyata ada orang yang merasakan hal yang sama sepertinya?

Dan orang itu adalah Anthony yang mengaku sebagai adik Roderick.

Api tak tahu harus melakukan apa. Rasa bersalah yang ia pendam sejak kematian pria itu menjadi-jadi.

Tapi mengapa Roderick tak pernah memberitahukan soal Anthony kepadanya? Api penasaran. Apakah karena pria itu tidak ingin Api mengenal Anthony? Atau adakah hal yang lain?

Apapun itu Api ingin tahu sekarang.

.

Suara derit pintu membuatnya tersentak. Api melirik kearah pintu yang terbuka. Suara langkah kaki wanita terdengar. Tak perlu di beritahu, Api tahu siapa yang datang.

"Kau merindukanku?" tanya Axel yang baru saja datang, kemudian tertawa menyebalkan.

Siksaannya akan kembali dimulai.

.

.

.

CoffeyMilk

.

.

Anthony menghentikan langkahnya di sebuah lapangan rumput. Ia menghisap rokok dan menghembuskannya. Berulang kali. Kemudian, mematikan rokok itu.

Ia menatap langit biru diatasnya. Sedikit menyipitkan matanya kala silau cahaya matahari menerpanya. Langit terlihat cerah.

Anthony menghela napas. Ia tidak menyukai cuaca cerah. Karena hal itu mengingatkannya pada kakaknya yang lebih tua tiga tahun darinya itu. Ia tidak menyukai semua hal yang menyangkut tentang kakaknya. Mau itu cuaca, binatang, benda-benda, bahkan manusia yang dekat dengan kakaknya, termasuk juga dirinya.

Ia berharap cuaca cerah itu akan menghilang, binatang yang dekat dengan kakaknya ia bunuh, benda-benda ia musnahkan, kemudian manusia—tidak ada yang boleh berhubungan dengan kakaknya, apapun itu.

Karena kakaknya mengambil semua hal itu dari dirinya. Jadi ia ingin kakaknya merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.

Tapi tak pernah terlintas di benaknya kakaknya akan mati, meninggalkan dia lebih dulu.

Hal itu membuatnya tersadar, ia tidak pernah membenci kakaknya. Semuanya hanyalah ego-nya agar sang kakak tetap bersamanya.

Tapi cara yang ia lakukan salah. Dan semua itu tak bisa diulang kembali. Mau bagaimanapun dia memohon hingga putus asa.

"Anthony."

Anthony menoleh saat seseorang memanggilnya. Ia terdiam, menatap datar pada seorang wanita berambut sebahu di hadapannya kini.

"Lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Ucap wanita itu.

"Untuk apa kau disini?" tanya Anthony ketus.

Wanita itu tersenyum manis, "Kita harus kembali ke Sein. Tapi, kakak menghilang entah kemana dan aku harus mencarinya." Jawab wanita itu.

"Oh."

Keduanya terdiam cukup lama hingga wanita itu mengambil ancang-ancang dan menampar Anthony sangat keras.

PLAK!

Anthony tak bereaksi walaupun ia merasakan sakit pada pipinya. Ia hanya melirik wanita itu tidak mengerti.

"Satu tamparan tidak cukup, Anthony," ucap wanita itu sambil tersenyum manis, ia mengelus tangannya, matanya menatap tajam pria itu, "mau sampai kapan kau begini?" tanyanya lalu kembali menampar Anthony.

Anthony terdiam. Tak berniat membalas wanita itu.

"Biasanya kau membalas pukulan dariku. Sekarang tidak," wanita itu tertawa kecil, "apa karena kau tahu bahwa tamparan ini sebagai balasan dari tingkah lakumu kepada kak Rick? Atau karena kau baru saja menyiksa keponakanku?"

PLAK!

PLAK!

PLAK!

PLAK!

"Lima tamparan belum cukup untukmu. Kau perlu lebih, Anthony. Tapi aku masih sayang tanganku, jadi lain waktu aja." Ucap wanita itu sambil mengibaskan tangannya yang memerah.

Anthony tetap terdiam, hingga wanita itu berbalik.

"Kalau kau merasa salah, kenapa tidak kau perbaiki saja? Kesalahan itu jangan dilanjut atau malah diulang hingga berapa kali." Ucap wanita itu lagi lalu mengedipkan sebelah matanya.

Anthony masih saja diam.

"Dengan begitu kak Rick akan memaafkanmu bukan?"

Anthony tetap terdiam.

.

.

.

.

Beberapa jam yang lalu…

Air terbangun. Dengan segera ia mendudukkan dirinya. Matanya masih mengantuk, namun ia paksakan untuk tidak kembali terlelap. Kakinya menapak dan menyentuh lantai yang dingin. Ia melihat sekitarnya, masih tertidur, tidak terkecuali Halilintar dan Taufan yang tampak mendengkur.

Air tersenyum kecil, mengganti bajunya dengan seragam ia lalu keluar dari ruangan itu tanpa suara. Lorong-lorong masih terlihat gelap, hanya disinari dengan cahaya lilin. Air terkesiap saat mendengar suara langkah kaki memenuhi lorong. Ia kembali masuk kedalam ruangan dan mengintip dibalik celah pintu yang terbuka sedikit.

Suara langkah kaki kian mendekat, Air berpikir mungkin itu adalah seorang yang akan membangunkan isi ruangan tempat dia berada. Tapi dia salah. Itu adalah seorang koki. Ia tampak membawa dua nampan dengan satu porsi sarapan diatasnya. Air bertanya-tanya untuk siapa dua nampan itu.

Jadi dia memutuskan untuk mengikuti sang koki.

.

Langkah kakinya yang mengikuti sang koki menapak sampai lorong terdalam bangunan tempat dia berada sekarang. Koki itu memasuki lorong terakhir dengan cahaya temaram lilin. Air berpikir untuk bersembunyi sembari mengintip apa yang dilakukan sang koki.

Koki itu tampak berbicara kepada dua orang didepan sebuah pintu. Dua orang penjaga pintu yang masih saja terkantuk-kantuk itu pun menerima nampan dari sang koki dan memakannya. Koki itu duduk sembari menunggu.

Perhatian Air kini tertuju pada pintu di belakang dua penjaga itu. Sebuah pintu berbahan metal berwarna hitam dengan sebuah jendela kecil di tengahnya.

Api pasti berada di balik pintu itu.

Setelah puas memastikan, Air segera pergi tanpa suara dari sana.

.

.

Tiga kali makan dalam sehari. Maka, koki itu pasti akan mengantarkan dua nampan makanan sebanyak tiga kali sehari ke tempat itu.

Air memutar otak, ia harus melakukan sesuatu untuk mendekati pintu itu. Salah satu caranya adalah dengan apa yang ia lihat tadi, koki dan masakan.

Air tersenyum tipis, ia mendapat sebuah ide.

.

.

.

Coffey Milk

.

"Lapor! Sesuatu mencurigakan terjadi di kotak lima blok D!" seru seorang petugas pada Aisley yang duduk di kursi kerjanya.

"Mencurigakan bagaimana?" tanya Aisley.

"Mereka menggeor-gedor kotak mereka dengan keras," ucap petugas itu.

Aisley mendelik, "Cuma karena itu? sungguh membuang waktu ku." Ucapnya kesal.

"Tidak hanya itu pak, setelah kami buka kotaknya—"

"Kalian membukanya? Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal itu, hah?!" tanya Aisley marah.

"Sebentar, tunggu penjelasan saya—" ucap petugas itu takut-takut.

Aisley diam sambil menatap petugas itu tajam.

"Ketika kotak itu di buka—mereka yang berada di dalamnya mengaku kalau mereka adalah para penjaga yang menjaga keamanan bagian luar gedung ini dan mereka juga mengatakan ada penyusup di gedung ini." Ucap si petugas.

"APA?!" Aisley menggebrak meja, giginya bergemelutuk.

"Benar pak."

Aisley lalu berdiri dan mengambil mantelnya, matanya menatap petugas itu tajam, "Bawa aku ke tempat mereka." Titahnya.

.

.

Gempa merasakan hal buruk. Ia segera menyudahi kegiatannya diatas menara dan turun kebawah. Dengan sedikit was-was ia keluar dari menara itu dan berlari mengendap-endap ke suatu tempat.

"TIGA ORANG PENYUSUP TELAH MEMASUKI GEDUNG UTAMA!"

Gempa berhenti berlari saat mendengar hal itu. Debaran jantungnya menjadi-jadi. Ia berjalan mengendap mendekati salah satu gang tempat kotak sandera itu berada.

Terlihat beberapa petugas mengerubungi kotak itu, seorang berdiri di kotak itu berteriak-teriak tentang penyusup.

Gempa membulatkan matanya. Para penjaga yang sudah mereka tangkap sudah memberitahu segalanya.

O-oh. Gempa panik sekarang. Dan semakin panik saat melihat seseorang yang seperti petinggi desa itu berjalan mendekat dengan di kawal beberapa petugas. Gempa bergerak cepat. Bersembunyi di dalam rumah orang yang berada tepat di sampingnya.

Berdoa dalam hati semoga tak ada yang mengetahui keberadaannya. Gempa pun kemudian menenangkan diri dan pernapasannya yang tersengal. Ia menghirup napas lamat-lamat kemudian menghembuskannya, berkali-kali ia lakukan.

Menempalkan telinganya ke dinding dan menajamkan pendengarannya untuk menguping apa yang mereka bicarakan. Gempa di landa kecemasan.

Pemimpin musuh telah mengetahui hal ini. Air dan yang lainnya dalam bahaya.

"Perintahkan semua petugas dan penjaga untuk berkumpul! Tangkap para penyusup itu segera!"

Gempa membulatkan matanya. Hingga para orang-orang disana pergi ia tetap berada di rumah itu. Gempa menghela napas perlahan. Ia bergerak, merapat ke pojok dinding dan mengambil sesuatu dari saku bajunya. Ditatapnya benda yang di berikan oleh Air itu.

Dia harus menghubungi Air. Sekarang juga. Tapi masalahnya adalah….

Bagaimana cara menggunakannya?

.

.

"Aku merasakan hal buruk akan terjadi." Ucap Halilintar lirih.

"Hal buruk bagaimana?" tanya Taufan tidak mengerti.

"Tidak tau. Ini hanya insting.. tapi…" Halilintar menatap Air yang berjalan di hadapan mereka.

"Kita akan kemana Air?" tanya Halilintar.

"Ke ruang ganti." Bisik Air setelah menoleh.

"Huh? Untuk apa?" tanya Halilintar.

"Aku ingin kau menyamar menjadi koki." Bisik Air lagi.

"Kenapa harus aku? Tidak, apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Halilintar.

"Nanti aku jelaskan. Kita harus bergerak cepat, jadi, menyamarlah menjadi seorang koki." Jawab Air tegas.

.

.

.

Bagaimana cara menggunakannya?

Gempa menjambak rambutnya, mencoba mengingat-ingat. Di tatapnya benda itu, ada empat tombol. Merah, biru, hijau… hijau! Tombol itu pun segera ia tekan.

Setelahnya Gempa bingung, akan ia apakan benda ini?

Benda itu mulai bersuara putus-putus, Gempa berjengit kaget.

[Ha—lo. Rena?]

Gempa terdiam mendengar suara yang keluar dari benda itu. Gempa berpikir benda ajaib apa ini.

Tapi siapa Rena? Dengan hati-hati dia mendekatkan bibirnya pada benda itu.

"Siapa ini?" tanya Gempa was-was.

[Tentu saja aku Xiao. Tunggu, siapa kau?]

Gempa terdiam, Rena? Xiao? Siapa itu?

[Oh, apa kau Eri?]

Gempa tidak menjawab, ia kembali mencoba mengingat-ingat apa yang Air katakan kemarin.

Benda ini akan tersambung dengan benda yang sama dalam radius duapuluh kilometer.

Mata Gempa melebar, ada orang lain yang memiliki benda seperti yang ia pegang sekarang selain Air. Gempa kembali was-was. Atau Air menjatuhkan benda itu disuatu tempat? Gempa menggeleng keras.

[Aku pikir ini bukan kalian berdua, baiklah, aku tutup saja]

PIP

Benda di tangan Gempa tidak bersuara lagi. Gempa kembali menekan-nekan tombol hijau di benda itu, berharap tersambung dengan milik Air.

[Ya, ada apa Gempa?]

"Air! Syukurlah!" seru Gempa.

[Ada apa? Cepatlah. Aku tidak bisa berlama-lama.]

Gempa mengangguk, "Kalian dalam bahaya! Cepat keluar dari gedung itu!" serunya.

[Apa? Kenapa?]

"Penyamaran kalian akan terbongkar, para penjaga yang sudah kami tangkap memberi tahu pada para petugas di desa—tidak hanya itu tapi juga pemimpin mereka! Cepat atau lambat kalian akan ketahuan!" seru Gempa.

[…Hh..]

"Air?"

[Baiklah, kebetulan aku sudah mengetahui dimana Api berada, kami akan berusaha untuk cepat keluar dari sini, terimakasih.]

PIP

Benda itu berhenti bersuara. Gempa menghela napas lega.

"Hati-hati…" lirihnya.

Suasana berubah sunyi. Gempa menjatuhkan dirinya diatas lantai kayu. Matanya menatap jendela dengan tatapan nanar. Tangannya terkepal kuat.

"Aku juga…. Harus membantu mereka…" lirihnya lagi kemudian bangkit dan keluar dari rumah itu tanpa diketahui siapapun.

.

.

.

"Kita akan segera ketahuan." Bisik Air pada Halilintar dan Taufan.

"Apa?" bisik Taufan dan Halilintar bersamaan.

"Gempa menghubungiku tadi. Kita sedang dalam bahaya. Kita harus keluar sebelum tertangkap." Bisik Air lagi.

Halilintar dan Taufan mengangguk mengerti.

"Jadi apa rencana mu?" tanya Halilintar sambil berkacak pinggang.

"Aku sudah menemukan ruangan Api tadi pagi. Melalui seorang koki yang mengantarkan makanan untuk penjaga pintu ruangan itu. Aku pikir setiap waktu makan koki itu pasti akan kesana untuk mengantar makanan."

"Aku mengikutinya. Dia seorang kepala koki di sini dan ditugaskan untuk mengantar makanan itu. Dan aku sudah membuatnya memakan obat tidur. Saat ini dia sedang tertidur lelap."

"Lalu kau membuatku menyamar menjadi koki itu dan mengantarkan makanan?" tanya Halilintar.

"Yap, kau juga harus mengeluarkan Api dari ruangan itu." jawab Air.

"Bagaimana caranya?" tanya Halilintar.

"Ini. Obat tidur. Cukup kuat sebetulnya, bertahan hingga sepuluh jam. Kau taburkan ini ke makanan mereka dan pastikan mereka memakannya." Jawab Air sambil menunjukkan kertas berisi bubuk obat.

Halilintar mengangguk dan menerimanya.

"Lalu di mana tempatnya?" tanya Halilintar.

"Aku akan menunjukkannya tempatnya saat kau sudah membawa makanannya nanti. Kau Taufan, bersiaplah di pintu belakang tempat yang sudah kita dapatkan kemarin. Setelah mengantar Halilintar aku akan menyusulmu."

Taufan mengangguk.

.

.

.

Halilintar membawa dua buah nampan di tangannya lalu keluar dari dapur. Ia mendapati isyarat dari Air untuk mengikutinya. Kemudian dengan di pimpin Air yang berjalan agak jauh darinya, keduanya berjalan menuju di mana Api berada.

Keduanya berjalan melewati beberapa lorong panjang. Air kemudiam berhenti dan menunjuk kearah lorong paling tengah. Kemudian berbalik dan berjalan melewati Halilintar.

"Di ujung lorong itu, berhati-hatilah. Dan setelah itu segera ke tempat kita berkumpul. Aku dan Taufan akan menunggu kalian berdua." Bisik Air.

"Baiklah, sampai nanti. Dan kalian juga harus berhati-hati." Pesan Halilintar.

"Ya."

.

.

Coffey Milk

.

.

"Urgh…"

Tangan itu menggapai-gapai. Dia memberontak. Berusaha agar melepaskan diri dari cengkraman.

"Urghh! Lepaskan!"

"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!"

Kakinya menendang nendang apapun. Ia panik. Tak bisa memikirkan apapun dengan tenang. Dan bau memabukkan membuatnya pusing.

Cengkraman pada tubuhnya terlepas. Ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri, namun kepalanya semakin pusing dan jalannya terseok-seok. Tubuhnya berkali-kali membentur dinding di sampingnya.

Kesadarannya menipis.

"Maaf…" lirihnya berbisik sebelum tubuhnya jatuh keatas lantai batu yang dingin.

.

.

.

.

TBC!

.

HAY EPRIBADEEEEH! /RIPENGLISHPLZ/ SAYA KEMBALI DENGAN CH 17 UYEAAY~

Apa kabar semua? Apakah masih ada yang mengingat epep hampir terlupakan ini? Aku rasa nggak ada ya~

Setelah WB juga kemalasan menyerang dan aku sedang tergila-gila di dua fandom baru/lirikbtsandseventeen/ akhirnya kesampaian menyelesaikan ch ini/faint

Oke saya balas review dulu dan karena sudah saya balas, harap review lagi~/wink/plak

DesyNAP : IYYA… DAN INI GUE UPDATE LAGI/capsmba/ aku juga rindu padamuuu/wink/plak/ makasih udah review~ :3

Dhea : cie aku update lagi. cie yang tebakannya bener :D jangan jadi cenayang, dosa XD iya aku tahu kok, banyak juga yang gak tegaan Api disiksa ;_; makasih udah suka ch yang kemarin :3 untuk efeknya… itu udah di cerita ya… kurang greget sih u_u sebetulnya aku pengen yang lebih wow lagi efeknya, tapi susah ntar jadinya nanti/jahat/ chapter lanjut udah ketemuan kok sama Api, yeeyyy. Kenapa mereka gak ketahuan? Soalnya saya males buatnya. Jadi, anggap aja penyamaran mereka itu bagus/slap/ gak ada topeng kaya yang di naruto. Makannya ya biasa. Mereka berbaur dengan yang lain. Saya nggak tersinggung kok XD malah seneng kalau dpt review panjang/desh makasih uda review~/flyingkiss

Gietta-Re : terimakasih kembali~ aku gak bakalan bikin Api mati kok~

Fadiaa : yaaay.. dan ini aku update lagi~ jangan maen bunuh-bunuh nak, tidak baiiiik~/youdon'tsay/ dia masih hidup kok, dan Halilintar akan menyelamatkan nya ~ oke, makasih udah revieew~

J4NU5 : maaf ya udah buat kamu jamuran dan menunggu lama ;_; ada apa dengan instingmu terhadap Taufan? Hm? Aptx48? Gak ah, jangan. Nanti Api jadi bocah cebol. Gak lanjut entar cerita malah XDD Oke, makasih uda review~ :3

Kira Fumiko : makasiiii~

Marmut2002 : Taufan yang ceroboh itu….. kawaii/heh/ si Aer kan emang cool/sibakrambut/mba/ bukan, Axel gak termasuk yang dibilang Kiyoshi Nishimura. Udah lanjut ya, makasih uda review~

Tazkya19 : IYYA, AKHIRNYA GUE UPDATE DAN SEKARANG UPATE LAGI/MBACAPSLOCK. Kokoro gua malah seneng liat dia disiksa/eyy/ dan gue gak jual toge~ (togenya dirimu togenya togenya~) /gantungTazdipohontoge/ yap. Tebakanmu di spoiler gambar pertama benar, selamat~ makasih udah review say/digetok

Ayya : Api gak bakalah mati kuq :)) dan untuk pertanyaanmu…. Jawabannya iya. Gitu aja XD makasih semangatnya~ makasih juga udah review~

MASK : makasih~ ini saya udah lanjuttt. Yup, api kena racun. Dan kalau masalah dia sekarat… iya mungkin XD

Angelly Rein : HUAHAHAHA SAYA JUGA—ini udah next nak, makasih udah review~

Seriaryu Kairu syin : Waalaikumsalam~ kalau salam itu jangan setengah-setengah ya ;) di selesein dulu baru lanjut yang lain, oke? Kamu mau yang Gempa tersiksa? Ntar ada waktunya kok ;D ini udah updet. Makasih dah review~

Guest : Axel itu…. umurnya 22 tahun

Gladys : maaf yaaaa…. Saya sibuk… juga kena writer block dan kemalasan merajalela~ maaf sudah membuatmu menunggu~ terimakasih sudah review~

ApiHara : tisu itu jangan digigit—gak enak~ wah, kamu anaknya baperan ya~ aku juga~ ini sudah lanjut~ dan makasih udah review~

nova idriani.r : iya ya, kasian diaaa :(

AnnishaAulia : maaf kalau update lama :') maaf juga gak bisa update kilat~ makasih~

Sawsan : aduuh~ makasih XD kalau untuk chap awal2 sih emang gak ada konflik, biasanya kan koflik tengah2 cerita X) makasih udah review~

Yolanda Audrey : Halo juga~ iya saya maafkan, sekarang udah masuk kan reviewnya? X) makasih~cieee yang baperan~boleh bertanya kok~ tapi kalau jawabannya gak memuaskan maap~ kalau untuk ending—itu rahasia ya— pertanyaan kedua bisa ditebak lah jawabannya. Api baik2 saja nanti, tenang aja ya~ Selesai ch berapa aku gak tau~ dan raja selanjutnya itu rahasia~ makasih udah review~

Guest : ehh udah terlanjur nyiksa dia, gimana nih? XD/sodorintisu/ maaf ya updatenya lama (u,u) iya saya maafin~ maafin juga kalau saya punya salah ke kamu~ kalau untuk pertanyaaannya udah kejawab di cerita ya~ X) makasih uda review~

Sofy : sampe halaman 16? O_O saya nulis ch kemaren hampir 20+ halaman kok~ sabar donk~ nulisnya susah eyyy.. saya juga harus cari inspirasi, nentuin kata sama kalimat, dan plot lanjutan~ menurutmu akhir-akhir hidup mereka gimana? Bahagia atau malah menyedihkan? ;) tapi, btw. Akhir-akhir hidup itu berarti mati donk… makasih udah review~

Chatarina Hinda : ya makasih. Aku balas juga reviewmu yang satu lagi lewat inbox. :))

Rainbow dash : sabar ya… jangan baper…/sodorintisu

Risti Story : udah update nih :3 dia gapapa kok~ :3

: maaf ya updatenya lama :3

Selesai! :3 makasih buat yang udah review~ yang dari user ataupun guest review. Btw, kalau yang pake user, reviewnya saya jawab lewat inbox,. Jadi jangan bingung kalau review anda gak saya balas langsung disini dan jangan lupa buka inbox. Dan untuk yang pake guest review tahulah… saya balas langsung disini~

Review again!

See you in next chap! X3