Under The Sky [Ch. 18]
Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.
AU, Adventure, Family, Action
OOC level max, Typos, No Pair, RnR
.
=CoffeyMilk=
.
.
Halilintar membawa kedua nampan itu hati-hati setelah menaburkan bubuk tidur keatasnya. Kakinya melangkah menuju lorong paling belakang sesuai petunjuk Air tadi.
Hingga akhirnya ia sampai di lorong paling belakang dan di sambut oleh dua penjaga disana.
"Ah! Akhirnya datang juga! Aku sudah lapar!" seru salah satu dari mereka.
"Maaf. Silahkan dimakan." Ucap Halilintar dan memberi nampan berisi satu porsi makan siang pada mereka.
Halilintar menyeringai kecil saat melihat mereka makan dengan lahap dan bercanda satu sama lain.
"Ah, menu hari ini berbeda. Aku sudah bosan dengan yang kemarin." Ucap penjaga itu.
"Aku harap besok menunya berganti lagi!" seru penjaga yang satunya.
"Akan aku katakan pada koki yang lain nanti." jawab Halilintar.
Makan siang mereka kini habis.
"Terimakasih makanannya!" seru keduanya setelah memberikan nampan itu kembali pada Halilintar.
"Tidak apa. Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Halilintar.
"Ya.. begitulah. Tuan dan Nona muda Aisley beberapa kali masuk untuk menyiksa bocah itu! aku sedikit kasihan, tapi mau bagaimana lagi, itu hukuman yang pantas untuknya!"
"Bagaimana dengan Tuan Anthony?"
"Bukankan dia baru datang sekali?"
"Ah, kau benar."
Halilintar mengangguk tanpa berkomentar apapun dan pergi dari lorong itu. Sepergian Halilintar, kedua penjaga itu mengobrol lagi.
"Hei, apa kau merasa mengantuk?"
"Tidak terlalu."
"Aku ngantuk sekali."
"Mungkin karena lelah kita harus menjaga tempat ini sehari penuh."
"Aku akan tidur sebentar, bangunkan aku kalau tuan Aisley atau nona Axel atau siapa pun itu datang."
"Oke."
"…Zzzz."
Penjaga yang masih terbangun diam. Hingga ia merasa kantuk menyerangnya.
"Heh.. ini aneh… aku ngantuk sekali… hoam…" dan setelah ia tidak bisa mengontrol kantuknya ia pun jatuh tertidur.
Bruk!
.
Halilintar kembali ke lorong itu sambil menyeringai lebar. Nampan yang tadi ia bawa ia letakkan di lantai. Kakinya berjalan melangkah kearah pintu dan membuka pintu baja itu.
Ruangan itu terlihat gelap. Namun, sinar matahari masuk melewati ventilasi besi yang ada di ruangan itu. Mata Halilintar menelusuri seluruh ruangan itu dan berhenti pada sosok salah satu saudaranya yang terikat borgol didinding. Tubuhnya penuh luka dan lebam. Darah yang mengalir dari lukanya kini mengering.
.
Melihat seorang masuk kedalam ruangan, Api terkesiap. Tapi, orang itu bahkan tidak mendekat kearahnya sama sekali, hanya berdiri di depan pintu yang masih terbuka. Perlahan ia mendongak dan matanya membulat saat melihat Halilintar kini berjalan kearahnya.
"..!"
Halilintar berdiri dihadapannya dengan mengeluarkan sebuah pedang pendek. Api menatap pemuda itu tidak percaya.
Halilintar mengayunkan pedang yang ia bawa kearah borgol ditangan Api. Api berjengit, jantung hampir saja mencelos. Dia pikir, Halilintar akan memotong tangannya. Tapi tidak, Halilintar memotong borgol yang mengikatnya.
Kedua tangan Api turun . Ia terdiam dan menunduk menatapi kedua tangannya yang kini kembali bebas.
Halilintar menyimpan pedangnya, menatap kondisi Api dalam diam. Tubuh itu penuh luka dan lebam kebiruan. Halilintar menghela napas, tangannya terulur, mengusap kepala Api perlahan dan ia mensejajarkan dirinya dengan Api.
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Halilintar.
Api mendongak, tidak menjawab pertanyaan Halilintar.
"Api. Aku bertanya padamu," ucap Halilintar, "Siapa yang membuatmu seperti ini?!" suaranya meninggi.
Api membuka mulutnya, namun suaranya tidak keluar. Ia menggerakkan tangannya, mengatakan sesuatu lewat gerakan tangannya. Halilintar mengernyit heran tidak mengerti.
"Aku tidak mengerti. Bicaralah." Ucap Halilintar.
Api menggeleng cepat dan mengibaskan tangannya di depan lehernya, membuat isyarat kunci dengan gerakan tangannya, dan membuka tutup tangannya lalu menggeleng.
Halilintar semakin mengernyit tidak mengerti, tapi dia menangkap satu inti dari semua isyarat adiknya itu, Api tak bisa bicara.
Halilintar tidak tahu mengapa, karena setahunya Api sebelumnya bisa berbicara. Mengabaikan hal itu sekarang dan teringat pesan dari Air ia pun berdiri sambil menjulurkan tangannya, berniat membantu Api untuk berdiri.
Api menerima juluran tangan itu dan berdiri. Ia terdiam saat merasakan kakinya begitu lemas hingga bergetar begitu hebat.
"Ayo kita keluar dari sini." Ucap Halilintar kemudian.
Api menepuk pundak si kembar pertama, Halilintar menoleh. Api menunjukkan kedua kakinya, menggerakkan tangannya dengan lambaian, dan isyarat berjalan dengan gerakan tangannya.
Halilintar menghela napas panjang, Api tidak kuat untuk berjalan.
Halilintar terdiam sebentar, Api memegang lengan Halilintar agar ia tidak terjatuh. Halilintar mendongak, matanya menajam, ia merasakan sebuah bahaya datang.
Trang!
Dengan refleks yang cukup bagus, Halilintar menangkis sebuah pisau yang melayang kearahnya dengan pedang yang ia miliki.
Api tercekat saat melihat Anthony berdiri di mulut pintu. Pengangannya pada lengan Halilintar berubah menjadi cengkraman.
Anthony terdiam sebentar sambil menatap kedua wajah yang hampir sama itu. Ia pun tersenyum kecil.
"Aku tahu ini akan terjadi." Ucapnya sambil terkekeh kecil.
"Siapa kau?" tanya Halilintar sambil bersiaga.
Anthony tetap tersenyum, "Kenapa tidak bertanya pada adikmu?" tanyanya.
"Itu tidak berguna, ia tidak bisa bicara…" Jawab Halilintar, ia terdiam sebentar menyadari sesuatu, "Apa yang kau lakukan padanya? Apa kau yang membuatnya tidak bisa berbicara?!" tanyanya marah.
"Satu-satu kalau bertanya." Jawab Anthony dengan penekan di setiap kata.
Halilintar memutar mata.
"Bukan aku yang membuatnya tidak bisa bicara dan yang kulakukan padanya hanyalah mencoba membunuhnya," Ucap Anthony sambil memainkan pisau ditangannya, "apa kau marah mendengar hal ini?" tanya Anthony sambil menyeringai.
Halilintar membulatkan matanya, menggertakkan giginya.
"Apa yang kau bilang?" tanya Halilintar sengit.
Anthony tidak menjawab, mata tajamnya menatap Halilintar menusuk. Bahkan, saat Halilintar melangkah dan menghunuskan pedangnya kearah Anthony.
Trang!
Api terdiam dan berdiri dengan tangannya memegang dinding sebagai tumpuan.
Trang!
Trang!
Trang!
Mengayun, menebas, menangkis. Terus berulang kali hingga menimbulkan bunyi nyaring saat pedang dan pisau saling bertabrakan.
Trang!
"Siapa namamu?" tanya Anthony.
"Kau siapa dulu?" tanya Halilintar balik dengan sengit.
"Emosian sekali," Anthony mendengus, "namaku Anthony." Ucapnya.
"Halilintar." Sahut Halilintar.
"Benarkah? Apa saudaramu yang lain juga punya nama yang sama anehnya dengan kalian berdua? Lucu sekali." Anthony terkekeh.
Halilintar terdiam.
Anthony menatapnya dengan pandangan merendahkan, lalu mendengus dan kembali terkekeh.
"Pedangmu mulai menumpul." Ucap Anthony.
Halilintar tersentak mendengar hal itu dan melihat kearah pedang ditangannya.
"Karat mulai menutupi badan pedang itu." ucap Anthony lagi.
Halilintar menangkis pisau Anthony, walaupun pikirannya sedikit teralihkan dengan keaadan pedang yang ada ditangannya.
"Dan kau kurang latihan, nak." Ucap Anthony lalu menendang perut Halilintar hingga pemuda itu terlempar dan terjerembab menabrak dinding batu di belakangnya.
Halilintar terbatuk keras, darah keluar dari mulutnya. Anthony memainkan pisau nya.
"Kau mungkin sudah beberapa pekan tidak latihan, aku benar?" tanya Anthony sambil melirik Halilintar.
Halilintar terdiam, ia melupakan fakta tentang itu. Ia tak punya waktu untuk latihan.
"Heh." Anthony terkekeh.
Anthony melempar pisaunya kearah Halilintar. Halilintar dan Api yang melihat hal itu terkejut. Halilintar tak mampu untuk menghindar, Api yang menyadari tentang itu meloncat, menjadikan dirinya sebagai tameng. Namun sebelum pisau itu menembus kulit Api, Anthony sudah lebih dulu menendang pisau yang sedang melaju hingga pisau itu membentur dinding.
Anthony menatap Api tajam.
"Melakukan hal gila apa kau?" tanya Anthony tidak senang.
Api menggeleng keras, ia menatap Anthony tajam.
Anthony menghela napas dan berdecak kesal, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah botol kecil dari sana. Lalu menunjukkannya kepada Api yang menatapnya bingung.
"Ini penawar," ucap Anthony, "suaramu akan kembali dan tubuhmu akan kembali sehat dengan ini." Lanjutnya.
Mata Api membulat tidak percaya.
"Kau tidak percaya?" tanya Anthony.
Api menggeleng.
Anthony menatapnya datar, "Padahal cukup susah untuk membuatnya," ucapnya, "kalau kau tak mau tak apa. Toh, tidak hanya kau yang membutuhkan obat ini." Lanjutnya.
Api tercenung.
"Jadi bagaimana?" tanya Anthony.
Api mengganguk perlahan.
Anthony menyeringai, "Kalau begitu ambillah." Ucapnya lalu melepaskan botol itu dari genggaman tangan.
Jika saja tangan Api tidak terjulur untuk mendapatkan botol itu, botol itu pasti akan pecah.
Anthony tertawa meremehkan, "Lihatlah, kau seperti orang rendahan sekarang." Ucapnya mengejek.
Halilintar mengepalkan tangannya.
Anthony berbalik, lalu berjalan menuju pintu.
"Aku lepaskan kalian. Pergilah menyelamatkan diri sebelum ditangkap," Ucap Anthony lalu terdiam sebentar, "dan oh ya… kupikir kalian harus menyelamatkan seorang lagi karena sebelumnya aku melihat seorang pemuda berwajah sama dengan kalian terikat diruang Aisley." Lanjut Anthony lalu pergi dari ruangan itu diiringi dengan tawa.
"…..!" Halilintar dan Api terbelalak mendengar hal itu.
.
.
.
Air melangkahkan kakinya memasuki sebuah lorong dengan sebuah pintu diujungnya.
"Taufan?" bisiknya memanggil saudara kembarnya.
"Taufan?"
"Taufan?"
Air merasakan hal tidak beres. Ia tidak menemukan Taufan di tempat itu. Ia terdiam, menatap sesuatu dalam genggaman tangannya, baju milik Api. Ia menggeleng kecil, kembali mencari keberadaan Taufan di lorong itu, namun nihil.
Sebentar terdiam, Air menyadari sesuatu. Perasaanya tidak enak. Pikirannya tertuju pada satu hal.
Taufan telah ditangkap.
.
.
Coffey Milk
.
.
Halilintar memapah Api keluar dari ruangan itu. Keduanya berjalan ke tempat dimana Taufan dan Air menunggu.
Halilintar melirik Api yang sedari tadi menatap kearah botol obat yang ia pegang.
"Kau tidak meminumnya?" tanya Halilintar.
Api meliriknya, lalu menggeleng.
"Kenapa?"
Api tidak menjawab. Keduanya terus berjalan. Lorong terlihat sepi, tidak ada petugas yang berlalu lalang. Hingga Halilintar menyadari seseorang berlari kearah mereka.
Itu Air.
Keduanya berhenti dan Air pun berhenti tepat di depan mereka dengan napas terengah.
"Maafkan aku.." ucap Air, ia menarik napas lalu menghembuskannya, "Taufan tertangkap." Lanjutnya.
Halilintar terdiam, ia sudah menduganya. Sebaliknya, Api, matanya melebar mendengar hal itu. Tangannya segera meraih kerah Air, wajahnya tampak tidak senang.
Air menatap pemuda itu.
Api melepaskan tangannya dari kerah Air dan jatuh terduduk. Wajahnya terlihat sedih.
Ini yang aku takutkan, batinnya.
Lehernya terasa tercekat dan ia menahan diri untuk menangis. Ia tidak ingin melakukan hal itu didepan saudaranya. Ditatapnya botol obat ditangannya. Memutarnya dan berpikir sebentar.
Matanyanya menajam. Dengan cepat ia membuka tutup botol itu dan segera meminumnya.
"Api-!" Halilintar terkejut.
Api tidak peduli apakah obat itu benar-benar bisa menyembuhkannya atau tidak. Tapi jika itu benar-benar bisa menyembuhkannya, Api akan segera menolong Taufan.
Gluk.
Pahit. Api meringis. Wajahnya berubah masam.
"Ekh. Ini pahit sekali." Ucapnya, lalu terkejut saat mendengar suaranya.
Halilintar mendengus, "Kau berbicara."
Air menatap keduanya tidak mengerti.
Api membulatkan mata, sontak berdiri, berteriak senang dan memeluk Air.
"YAY! AKHIRNYA SUARAKU KEMBALI!"
Air melongo. Tidak mengerti. Ia melepaskan pelukan Api dan bertanya pada Halilintar, "Apa yang terjadi?"
"Dia tak bisa berbicara tadi dan tubuhnya lemas sekali. Obat itu cukup manjur ternyata, lihat dia bisa lompat-lompat sekarang."
Api lalu merebut bajunya yang di pegang Air dan segera memakainya.
"Ah, isinya masih lengkap. Bodoh sekali mereka tidak memusnahkan benda ini," Ucap Api, "dimana kau menemukannya?" tanyanya.
"Tempat sampah." Jawab Air.
"Eww. Ah ya sudahlah. Yang penting aku harus menyelamatkan Taufan." Ucap Api lalu berlari.
"Hei! Kau tidak bisa sembrono begitu saja!" seru Air panik.
"Kenapa? Kau mau membuat rencana? Persetan dengan rencana! Aku hanya harus bergerak cepat!" seru Api.
Air dan Halilintar melongo.
"ITU MEREKA! TANGKAP!"
"Ups. Kita harus lari." Ucap Halilintar saat melihat segerombolah penjaga mendapati mereka.
.
.
.
Gempa kembali dan disambut oleh Ochobot.
"Kau kemana saja?" tanya Ochobot.
Gempa terengah-engah, setelah menetralkan deru napasnya ia menjawab, "Ini gawat. Aku harus menolong mereka."
"Apa? Apa yang terjadi?" tanya Ochobot terkejut.
"Penyamarannya sudah ketahuan. Aku—aku harus menolong mereka keluar dari sana." Jawab Gempa.
"Tapi bagaimana?" tanya Ochobot.
"Aku akan mengalahkan para penjaga-penjaga itu." jawab Gempa sambil mempersiapkan senjata apapun yang dia butuhkan.
"Kau gila! Kau kalah jumlah! Mereka bisa mengalahkanmu!" seru Ochobot.
"Aku tidak peduli! Ini semua karena aku! Jika mereka—jika mereka tidak disana, mereka tidak akan mengalami hal ini! Aku—seharusnya aku saja yang menyamar—" teriak Gempa.
"Ow—tenang Gempa. Tenang. Kau terlalu panik," Ucap Ochobot, "lagipula kita sudah memikirkan ini matang-matang dan mereka pasti baik-baik saja," Ochobot menghela napas, "aku akan membantumu, jadi kita akan bertarung bersama mengalahkan orang-orang itu dan menyelamatkan Halilintar, Air, Taufan dan Api."
Gempa terdiam. Ia mengerjapkan matanya.
"Baiklah.."
Keduanya terdiam.
"Biarkan kami ikut membantu." Ucap salah seorang penduduk, sejat tadi mereka memperhatikan kedua orang itu.
Gempa mendongak.
"Ya! biarkan kami membantu!"
"Tidak lucu jika kami hanya duduk menunggu sedangkan kalian berjuang?"
"Kalian sudah menyelamatkan kami, jadi biarkan kami ikut menyelamatkan saudara kalian!"
"Tapi—" Gempa tidak percaya.
"Ini tidak hanya untuk kalian saja. Tapi juga untuk kami! Kami ingin terbebas dari orang-orang itu! kami ingin kita merdeka!"
"Tapi jika kalian terluka dan kalah—" Gempa berucap.
"Kenapa kau terlihat begitu pesimis? Tidak apa! Kami bisa mengalahkan mereka!"
"Darahku sedang bergejolak! Aku tidak sabar lagi untuk menumpas mereka satu-satu!"
"Kita akan mengalahkan mereka!"
"Dan desa ini akan dipenuhi oleh senyuman lagi, bukan tangisan!"
"Ayo kita kalahkan mereka!"
Gempa terdiam, tak bisa berkata-kata.
Ochobot meliriknya, "Dengan ini kita tidak kalah jumlah." Ucap Ochobot.
Gempa menghela napas, lalu mengangguk.
"Baiklah, baiklah." Ucapnya.
Para penduduk tersenyum kearahnya.
Gempa membungkkukkan tubuhnya, "Mohon kerjasamanya!"
.
.
.
Taufan membuka mata. Ia mendapati dirinya duduk bersila dengan tubuh dan tangan terikat pada sebuah tiang. Taufan menghela napas.
"Seseorang tolooooong akuuuuuuuu…" bisiknya nelangsa.
Taufan tersenyum miris menyadari dimanapun dia berada dia selalu merepotkan orang lain.
Dia mendongak setelah melihat seorang wanita berdiri di depannya.
"Hai tampan. Apa kabar? Kau mengingatku?" tanya Axel.
Taufan melongo. Wajahnya seperti orang bodoh.
Axel tertawa, "Papa. Dia tidak ingat padaku." Ucapnya pada Aisley yang baru saja datang.
Taufan masih tetap tidak bereaksi.
"Tentu saja dia tidak mengenalmu. Dia terlalu banyak bertemu dengan wanita dari berbagai wilayah." jawab Aisley.
Axel menatap Taufan, "Tapi, tidak kusangka dia saudara kembar dari peliharaanku yang baru itu. wajah mereka kalau dilihat dari dekat persis sekali." Komentarnya.
"Siapa kalian?! Bagaimana kalian tahu tentang aku?" tanya Taufan.
"Aku pernah mengikuti pesta yang diselenggarakan Lovanna. Kau pasti tahu dia bukan? Dan disitulah kami mengenalmu." Aisley menyeringai.
"Mom Anna." Desis Taufan.
"Ya, ya. dia. Wanita tidak tahu diri itu. Tidak pernah aku menyangka dia membesarkan salah seorang pangeran dari raja sebelumnya. Ini tangkapan besar." Ucap Aisley.
"Kau mengatakannya tidak tahu diri? Kurang ajar!" seru Taufan tidak terima, "Tidak akan kubiarkan kau menghina Mommy ku!"
"Ya. ya. Kau anak mama diamlah."
"Jika dia pangeran, maka saudaranya juga pangeran, dan itu tidak hanya satu. Ada dua yang lainnya disini." Ucap Axel senang.
Taufan terkejut, "Jangan berani-beraninya kalian menyentuh mereka!"
Aisley tertawa, "Huh? Kau bisa apa? Menolong mereka dengan kondisimu yang seperti ini?!"
Taufan menatap orang tua itu dengan marah, ia berusaha melepaskan diri.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak akan bisa terlepas dari ikatan itu. Itu rantai kau tahu?" ucap Axel.
Taufan mendecih. Dia menatap tidak suka pada kedua orang dihadapannya.
DUAR!
Ketiganya terdiam. Air muka Aisley berubah tidak senang, "Apa itu?" tanyanya sambil berjalan menuju jendela. Mendapati penjaga gedung kocar-kacir menghindari bom yang berjatuhan. Bom-bom itu dilempar dari dalam gedung.
"SIAPA ITU?!" tanyanya naik pitam, dengan cepat ia keluar dari ruangan dan saat itu pula tidak jauh dari dia berdiri, hanya berjalan puluhan meter, terdengar suara bom dari koridor.
Axel ikut keluar dari ruangan karena penasaran, "Ada apa Papa?" tanyanya, sedetik kemudian ia terkejut.
Api berlari kearah mereka dengan tangan penuh dinamit. Seringai terbentuk dibibirnya.
"Dia lepas! Bagaimana bisa?! Siapa yang membuatnya kembali bisa bergerak?!" pekiknya tidak terima.
Api berhenti beberapa meter dari mereka. Ia menatap tajam pada kedua ayah-anak itu. Ia melempar satu dinamit pada mereka dan ketika akan melempar yang kedua, seorang penjaga melempar tangannya dengan anak panah.
Api meringis. Tubuhnya belum bisa di bilang pulih sepenuhnya, terutama luka-luka fisik yang ia terima, dan sekarang dia mendapatkannya lagi. Ia mencabut anak panah itu dan melemparkan dinamit pada penjaga itu.
Namun sial, seorang penjaga yang lain menangkapnya dari belakang. Dan meringkus tangannya.
Aisley tertawa, "Lihat dirimu! Masih ingin mencoba kabur dan melawan kami?!"
Api menggertakkan gigi-giginya. Ia sedikit menyesal tidak membawa Air atau Halilintar bersamanya, kedua orang itu sibuk menahan puluhan penjaga yang mengejar mereka. Api diseret masuk kedalam ruangan. Tatapan terkejut ia dapatkan segera dari Taufan.
"Api!" seru Taufan.
Api tidak menjawab, malah memberontak.
"Aku tahu mengapa kau kesini," ucap Aisley pada Api sambil berjalan menuju Taufan, "untuk menyelamatkan saudaramu bukan?" Aisley menjambak rambut Taufan dan mengangkatnya.
Taufan meringis, Api melotot, "Lepaskan tanganmu darinya!"
Aisley melepasnya dengan sentakan hingga kepala Taufan membentur dinding pilar dibelakangnya. Taufan meringis, lalu menatap Aisley tajam. Aisley yang melihat hal itu mendelik lalu menendangnya.
"Berani sekali kau menatapku dengan pandangan seperti itu?"
Taufan mengendikkan bahu cuek, lantas terbatuk dan meludah darah kearah sepatu Aisley.
"Tentu saja berani, toh kau bukan siapa-siapaku." Jawab Taufan.
Aisley menyeringai, "Mungkin sekarang kau terlihat cukup tenang," ucapnya lalu mengeluarkan pistol dari bajunya, lalu mengarahkannya ke pelipis Taufan, "tapi, lihat. Beberapa menit kemudian kau mungkin tinggal seonggok tubuh tak berguna. Aku akan mengirimkan tubuh mati mu ke Lovanna dan melihat bagaimana pucat wajahnya itu terulang lagi seperti saat suaminya mati setelah lima bulan mereka menikah."
Mata Taufan berkilat-kilat mendengarnya, emosinya naik.
"A—apa?! Jadi kau yang membunuh suaminya?!" tanyanya kalap.
Aisley tertawa, "Bukan, tapi istriku."
Taufan menatap Aisley dengan benci. Aisley menaruh jarinya di balik pelatuk, lalu menatap Api yang kini menatap mereka berdua dengan mata nanar.
"Katakan 'selamat tinggal' pada kakak mu." Ucap Aisley.
Api menggeleng kuat, "Tidak!"
Aisley terkekeh, "Kalau begitu, tanpa ucapan selamat tinggal, baikla—"
DUAR! DUAR! DUAR!
Aisley menjauhkan pistol, mengernyit kesal, "Apalagi itu?"
Petugas-petugas yang sedang memegang Api agar tidak kabur menggeleng, "Tidak tahu pak."
Aisley kembali berjalan menuju jendela, melihat kearah luar dan terkejut mendapati penjaga-petugas tengah baku hantam dengan puluhan penduduk yang menyerbu tempat itu.
Beberapa saat kemudian seorang petugas masuk sambil terengah dan berteriak,
"Pak! Ini gawat! Penduduk menyerbu kita!"
.
.
CM
.
.
"Xiao-gege!"
"XIAO-GEGE!"
Pria paruh baya itu menoleh, mendapati seorang wanita berambut sebahu menatapnya kesal dengan tangan ancang ancang menarik busur dan juga anak panahnya.
"Ow, maaf, ada apa?"
Wanita itu menghela napas, "Ikut aku, aku butuh bantuanmu. Dan oh ya, aku sudah menemukan kakak."
"Baguslah. Dimana dia?" tanya Xiao.
"Di bukit rendah itu." jawab wanita itu sambil menunjuk kearah bukit yang beberapa kilo dari mereka.
Xiao mengangguk, keduanya lalu berjalan cepat.
"Ada pergerakan," ucap Xiao tiba-tiba, "sesuatu bergejolak, udaranya tidak ramah."
Wanita itu mengangguk, "Aku tahu. Makanya aku butuh bantuanmu." Jawabnya.
"Apa?" tanya Xiao.
"Penduduk menyerbu markas Aisley. Aku tidak tahu kenapa… tapi kakak sepertinya tahu. Dia menatap serius kearah gedung itu dari atas bukit itu," wanita itu menghela napas, "dia menyuruhku memanah seseorang dari sana," lanjutnya, "tapi kau tahu, aku tidak bisa memanah dengan baik jika anginnya berhembus keras, konsentrasiku bisa pecah—"
"Kau harus belajar lagi." sela Xiao.
"Diam." sungut wanita itu, "aku butuh bantuanmu agar bisa konsentrasi pada tembakanku." Ucapnya.
Xiao mengangguk mengerti, "Ya. Ya. Setidaknya kau tidak menembak salah sasaran dan membunuh orang tidak berdosa."
"Aku tidak pernah melakukannya."
"Sebuah keberuntungan."
"Pria tua sepertimu lebih baik jangan membuatku kesal."
"Tua-tua yang penting tetap tampan."
"Menjijikkan, syukurlah kakakku tidak menerimamu waktu itu."
"Hey, jangan mengingatkanku masa lalu, sekarang aku bahagia dengan keluargaku sendiri."
"Iya, aku tahu."
Keduanya terus berjalan cepat. Kali ini topik pembicaraan mereka berubah.
"Erika."
"Apa?"
"Kau tahu alat komunikasi kita?" tanya Xiao.
"Aku tahu. Astaga, kenapa aku tidak memakai itu saja tadi, dengan begitu aku tidak capek-capek naik turun bukit." Jawab wanita itu, Erika.
"Tidak ada klan lain di sekitar sini yang diberikan benda itu oleh Kyoshiro Agata, aku bingung mengapa seseorang menghubungi aku tadi."
"Siapa?" tanya Erika heran.
"Aku tidak tahu. Aku mengirim surat merpati pada Fang, tapi dia belum menjawabnya." Jawabnya.
Erika mengangguk, "Mungkin dia disini?" tanyanya.
"Tidak mungkin. Aku selalu menyuruhnya untuk memberitahuku kalau dia pergi keluar wilayah." Jawab Xiao, memegang dagunya, pose berpikir, "kecuali terjadi sesuatu dan…" ia lalu menoleh kearah Erika.
"Hey, apa yang terjadi akhir-akhir ini?" tanya Xiao.
"Kau pasti sudah tahu sendiri bukan?" tanya Erika balik.
"Aku tahu ada hal paling kecil yang tidak kuketahui akhir-akhir ini dan aku belum menemukannya."
Erika mengangguk-angguk, "Aku bertemu Anthony."
"Anthony?" Xiao mengernyit, "aku pikir dia sudah gila karena Erick mati?"
"Dia gila. Tapi bukan gila yang sebenarnya." Jawab Erika, "yah, kau tahulah. Emosinya masih sangat labil bahkan diumurnya yang masuk kepala tiga ini."
"Apa yang kalian lakukan?"
"Aku memarahinya." Jawab Erika.
"Untuk apa?" tanya Xiao.
"Dia menyiksa keponakanku."
Xiao membulatkan mata, terkejut.
"Dan kau harus tahu sesuatu lagi, gege," Erika tersenyum lebar, "kelima keponakanku ada disini. Mereka disini. Ini sesuatu yang bagus. Walapun sayangnya, kakak…. Tidak mengingat mereka."
Xiao terkejut, "APA? Mereka semua disini?" tanyanya tidak percaya.
"Iya. Aku pernah melihatnya, empat… dan satu yang sudah lama berada di wilayah ini." Jawab Erika.
"Shui…"
.
.
.
.
"Kerahkan semua penjaga! Kalahkan para penduduk! Hidup atau mati, tangkap saja! Aku tidak peduli lagi! Mereka harus di jual!" teriak Aisley murka.
"Pak.."
"LAKUKAN PERINTAHKU!"
Penjaga itu pun keluar dari ruangan itu. Disana kini hanya terdapat Aisley, Axel, Taufan dan Api juga beberapa penjaga yang masih menahan gerakan Api.
Aisley memijit pelipisnya, ia lalu menatap Axel, "Keluarkan peliharaanmu."
Axel terkejut, "Apa?! Tidak!"
"Keluarkan!" seru Aisley kesal.
"Tidak mungkin, Papa! Aku sudah menangkap dan menjinakkan mereka, dan sekarang aku harus mengeluarkan mereka?! Peliharaanku bisa hilang semua nantinyaa." Tolaknya.
"Aku tidak peduli! Peliharaan? Hmph! Kau bahkan tidak pernah memberi mereka makan! Keluarkan saja dan biarkan mereka mengamuk! Kau bisa mendapatkannya lagi nanti dan membuat mereka!" kesal Aisley.
Axel memanyunkan bibirnya, ia lalu mendekati dinding dan menekan sebuat tombol kecil disana. Penjaga-penjaga yang menahan Api tampak memucat. Api dan Taufan menatap mereka heran.
Axel mengambil napas lalu berucap, "HAAII~ untuk kalian yang berada di bawah tanah~ para peliharaanku~ berbahagialah, ini saatnya kalian mengamuk—tidak, berpesta! Ya! Berpesta! Ada banyak daging hidup di luar! Pergilah! Ini saat-saat yang kalian tunggu!" Axel terkikik, lalu berbicara lagi, "Lakukan." Bernada absolut.
Axel lalu menekan tombol yang lain, lalu berbalik, "Sudah Papa."
Aisley mengangguk, ia lalu berbalik, "Baiklah, sampai mana kita tadi."
"Membunuh anak Lovanna, Papa." Jawab Axel.
"Kau benar." Ucap Aisley, mengeluarkan pistolnya dan meletakkannya di pelipis Taufan.
Axel terkikik saat melihat wajah Api memucat.
"Ucapkan selamat tinggal, Taufan." Aisley menyeringai, jemarinya perlahan mulai menekan pelatuk.
Beberapa detik kemudian darah memuncrat dan mengalir deras bersamaan dengan tubuh yang rebah ke lantai. Disaksikan oleh beberapa pasang mata yang melebar.
.
.
.
"SERAAAAANG!" teriak para warga dan mulai menyerang satu persatu pengawal dan penjaga yang ada. Baku hantam terjadi, saling melawan dan melukai atau membunuh satu sama lain. Berusaha menjadi pemenang dan menyingkirkan yang kalah. Pihak satu mengharapkan sebuah kebebasan bagi kotanya, pihak satunya lagi berusaha agar mereka tetap di bawah kekuasaan mereka.
Pertempuran terus menyebar. Gempa dan Ochobot ikut diantaranya mengalahkan satu persatu penjaga. Beberapa menit kemudian yang disertai bunyi keras dari bom yang meledak, Halilintar dan Air ikut membantu mereka. Pertempuran terjadi sangat sengit.
"Kalian! Syukurlah!" teriak Ochobot sambil membanting seorang penjaga di tangannya begitu melihat Halilintar dan Air.
"Hai." Sapa keduanya dan menendang dua penjaga yang tadinya akan menyerang Ochobot diam-diam dari belakang.
"Terimakasih." Ucap Ochobot.
Gempa menghampiri mereka dan mengernyit saat tidak melihat saudaranya yang lain, "Dimana Taufan dan Api? Bukankah kalian seharusnya menolong mereka?!" tanyanya panik.
"Taufan di tangkap, Api sedang berusaha menolongnya." Jawab Halilintar.
"Apa?! Taufan di tangkap?" tanya Ochobot dan Gempa bersamaan.
Halilintar dan Air mengangguk, "Tunggu! Kenapa kau membiarkan dia menolong Taufan?!" tanya Gempa.
"Karena itu keinginannya." Jawab Air.
"Lalu bagaimana keadaan Api sekarang? Dia baru saja bebas! Aku tahu, pasti ia memiliki luka di tubuhnya." Balas Gempa.
"Err… iya sih." Jawab Halililntar.
"Dan kalian membiarkan dia menolong Taufan sendirian?! Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu?!" tanya Gempa panik.
"Tenanglah, Gempa. Berharap saja mereka berdua baik-baik saja," Ucap Air, "kita harus percaya pada Api, dia bisa menolong Taufan."
"Aku tidak bisa." Jawab Gempa, "bagaimana—bagaimana jika… jika… aku… aku bahkan takut kalian semua ditangkap dan… sekarang Taufan ditangkap, lalu… kalian membiarkan Api pergi sendiri? Seharusnya salah satu dari kalian mengejarnya…"
"Dia tidak mendengarkan kami." Ucap Halilintar memotong ucapan Gempa, Gempa terdiam, mengatupkan rahangnya rapat.
"Tapi, ini belum terlambat bukan?" tanya Ochobot, "salah satu dari kita bisa menyusulnya." Lanjut Ochobot.
Air mengangguk, Gempa juga namun dengan gerakan pelan, tapi Halilintar menggeleng.
"Tidak bisa." Ucap Halilintar, ketiganya lalu menoleh kearahnya.
"Lihat," Halilintar menunjuk sesuatu yang keluar satu persatu dari dalam gedung, "mereka aneh… terlihat sangat berbahaya. Aku tidak tahu apa itu—" ucapan Halilintar berhenti saat apa yang ditunjuk Halilintar mulai mendekati orang di dekat mereka dan menggigitnya lalu memakannya.
Keempatnya membulatkan mata.
"Monster." Keempatnya berucap dan menahan napas tidak percaya kemudian meneguk ludah.
"—Tidak mungkin kita bisa dengan mudah memasuki gedung sekarang…"
Sebuah bencana datang.
.
.
.
HELLO, LONG TIME NO SEE~ ADA YG MERINDUKANKU? /UHUK
Berapa bulan ya? aku males ngitung haha. Sorry karena hiatus selama beberapa bulan, dan kayaknya kedepannya aku juga gak bisa untuk cepat update karena harus disibukkan dengan belajar dan ujian sekolah, penjajakan UN dan UN. Makasih buat kalian yang masih menunggu, membaca, mereview, fav & follow! I LOOVEEE YOUUU~
And then, maaf juga karena aku gak bisa membalas satu persatu review kalian lagi. /bow
Thanks for : Nozomi Tsumiki, Chikita466, Vio Ritsu, Chaterina Hinda P, Yoshie. Augestya, Nanas Rabbitfox, Desynap, Annishaaulia, Jjjj, Isha Kirara, Seriaryu Kairu Syin, Gietta-Re, Tsaniaakira, Rainbow Dash, Kira Fumiko, Mahrani29. Hanazawa Yuki, Shaby-Chan, Kurotori Rei, Mizuki Kanzaki, Nova Indriani, Nayu Namikaze, Guest, Dhea, M4dga4rl, Fandhia Taufan, Double M, Yuko, Hafila, Name Kazehaya, Salamandra Falwless, Tazkya19, Almost Sweety, Ramadhan-San, Amanda462, Khansa403, Dewisanti07900, Dilla, Ahmad Mahmudi, Uchihahikari1, Aizy, Guest, Firebluepheonix, Annisa Wijayanti, Dhiaz Rusyda N, Screet, Hikaru QA, Hamba Allah, Nurhalimah349, Fanji Trisna MP, Myo San, Milo-Chan, Myokochann, Asfifreezy, N Rani Kudo
See you!
Don't forget to Review!
