My Pabbo Pilot
Pairing : Kaihun, Taohun
Rated : M
Genre : Family/Drama
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Kai menelusuri sebuah kertas dengan jemari panjangnya. Ia merenung, sedikit cemas dengan perubahan sel otaknya yang entah mengapa terus mengulang sebuah kejadian bak diktat ketika ia masih berada di IFS. Ia menghela nafas pelang. Kabar dari Kris tidak bisa ia abaikan begitu saja.. dan untuk masalah ini, ia sedikit bimbang untuk mendiskusikannya dengan Sehun.
"Kim sajangnim, anda harus menemui klien" sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya dengan segan. Perlahan, pintu cokelat itu terbuka.
"Masuklah, Nam, eh, Sehunie?" Sehun tersenyum manis ketika Kai memperlihatkan wajah bodoh yang begitu lucu dengan mulut terbuka.
"Sehuna, kenapa kau disini?" Kai dengan cepat membereskan kertas yang sangat mengganggunya itu. ia beranjak dari duduknya dan menarik pinggang Sehun untuk lebih merapat ke tubuhnya. Segera saja, reseptor dalam tubuhnya langsung memberi impuls bahwa Sehun sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kai, bisa kita pulang? Ini sudah sore dan aku sangat lelah..." Sehun berniat menyenderkan kepalanya di dada Kai kalau saja suaminya itu tidak menangkup kepalanya.
"Ada yang mengganjal pikiranmu, Sehunna?" obsidiannya berusaha menyelami hazel cokelat madu isterinya itu. Sehun hanya menggeleng. Sedikit senyum tulus, Sehun kembangkan untuk Kai.
"Kita bisa pulang sekarang kan?" dan untuk saat ini, Kai lebih memilih diam dan tidak menyangkutpautkan hal apapun dalam aksi Sehun yang ia nilai mulai terlihat gamang. Toh, ia juga menyembunyikan sesuatu yang menurutnya penting ia pertimbangkan sebelum di beritahukan ke Sehun, untuk saat ini.
(^_^)
Kai, aku membutuhkanmu kembali ke IFS. Kau tahu, komandan ingin kau juga melatih pilot militer yang masih trainee 6 bulan. –Kris
(^_^)
Rumah kecil itu trasa hangat. Kai tengah bermain dengan Jonghun di ruang televisi. Sementara Sehun tengah memasak untuk makan malam mereka bertiga. Hanyoung sudah tidak ikut dengan Sehun dan Luhan yang otomatis ikut dengan Kris, tinggal di rumah dekat dengan sekolah penerbangan. Jadi, Sehun menjadi pewaris dari rumah milik keluarganya itu. toh, lebih baik mereka menghemat uang untuk biaya Jonghun ketika ia besar nanti. Sehun tahu Kai adalah anak dari pebisnis sukses, tapi tidak ada salahnya jika ia memilih untuk mengghemat dan menabung dengan gajinya sebagai dokter.
Apalagi, untuk beberapa bulan terakhir ini, keuangan di Korea tengah carut marut akibat pergantian parlemen yang mau tidak mau membuat seluruh kekuatan militer harus memberikan pengawasan ekstra kepada masyarakat umum. Sehun yang kalau keadaan akhir-akhir ini akan mempengaruhi Kris dan Luhan lagi. Kris sebagai penanggung jawab latihan angkatan udara, dan Luhan sebagai ketua Kru ATC. Membuat mereka pasti menjadi sangat sibuk bekerja. Setiap tahun, angkatan militer selalu menerima warga yang mendaftar.
Sehun tertegun.
Ia pernah mengalami kegiatan ini beberapa tahun yang lalu. Sudah lama sekali ketika ia menjadi siswa IFS. Bagaimana bisa, ia dari SOPA, beralih kemudi ke sekolah penerbangan. Dan dengan cara yang begitu mudah, tapi membuat otaknya harus berpikir lebih ekstra. Ia teringat ketika ia masih menggunakan seragam biru ditambah blazer warna putih dengan almameter IFS. Tapi, sebelum ia lulus, ia harus berpindah ke Jepang, dan menempuh pendidikan kedokteran.
Tidak ia pungkiri kalau ia rindu.
Sehun ingin mengusap alat komando unitnya.
Sehun ingin mengusap pesawat F-5 Slam Eagle milik Siwon seosangnim.
Bahkan, ia rindu ketika Zitao menerangkan tentang balon udara. Entah bagaimana caranya, mantan guru teorinya itu bisa menjadi dokter senior di tempat ia bekerja. Mantan guru teori, dan mantan kekasihnya ketika ia masih SMP dulu. Jauh sebelum Sehun mengenal Kai, yang sekarang menjadi suaminya.
Pemuda pale skin itu memperhatikan Kai yang tengah bermain dengan Jonghun. Tatapan Kai terlihat sedikit aneh. Tapi, untuk saat ini, Sehun sudah bisa bernafas lega. Tao sudah memiliki anak, otomatis, ia sudah memiliki istri. Dan semoga hal ini tidak mengancam rumah tangganya dengan Kai.
"Aku mencintaimu, pilot bodohku." Sehun tersenyum dan kembali memotong wasabinya.
"Mama..lama...masak!" Jonghun menggerutu dengan bebek mainan yang tersobek di paruhnya karena menjadi korban tarik-menarik antara Kai dan Jonghun. Batita berusia tiga tahun ini memperhatikan ibunya yang masih memasak dengan pandangan memelas. Ia lebih memilih Ibunya tidak masak diaripada harus meninggalkannya bermain sendirian. Papa sibuk dengan ponsel dan kertas-kertas yang Jonghun rasa ingin dijadikan mainan.
"Papa! Papa cuekin Jonghun.." batita pintar itu menggoyang-goyangkan lengan papanya.
"Sebentar sayang.." Kai berusaha mengelak dengan mengusap tangan kecil milik Jonghun dengan halus. Tapi, Kai tidak tahu kalau perbuatannya membuat bayi gemuk itu menjadi gemas. Papa tidak peka, pikir batita gemuk itu.
"Papa.."
"Sebentar Jonghunnie.."
"Papaaaa.."
"Jonghun, jangan seperti itu..." Jonghun cemberut. Bibirnya mengerucut, sedangkan pipinya menggembung. Ia menatap nanar kertas dan ponsel yang dipegang papanya. Apa papa tidak tahu ya? Kalau Jonghun ingin bermain dengan papa. Kalau misal ia menyobek kertas itu, apa papa akan memperhatikannya? Jonghun tersenyum. Ia mendekati kertas itu, dan..
"Anak papa mau apa hm?" Kai langsung menggendong Jonghun yang membeo di gendongan papanya. Tapi sejenak, ia langsung tertawa ketika Kai mengangkatnya dan membawanya berputar seperti pesawat terbang. Kai diam-diam terkekeh. Menggoda Jonghun ternyata mengasyikkan. Sama seperti ketika ia menggoda Sehun yang tengah memasak.
"Sehuuna! Dua prajurit ini sudah kelaparan!" Kai mengerling ke arah Jonghun. Membuat bayi itu mengangguk-angguk.
"Mama...cibuk...papa..aneh.. hiihi" Sehun tersenyum. Ia memasukkan sayuran yang sudah ia potongi. Nugget kesukaan Jonghun ia bentuk menjadi seperti hati.
"Aku masih mencintaimu, Sehun-ah..."
DEG! Kalimat Zi Tao tadi siang masih terngiang di kepalanya. Sejenak, ia termangu dalam kondisi hati dan pikirannya dipenuhi dengan rasa sesak dan bersalah yang amat sangat kepada kekasihnya, orang yang kini menjadi suaminya, dan selalu melindunginya.
(^_^)
Sehun tersenyum manis ketika ada seorang dokter senior yang tersenyum ke arahnya. Setidaknya, ia tidak terlihat seperti panda kekurangan tidur akibat operasi dua jam yang baru saja ia lakoni. Bagaimana tidak? Operasi ini dilakukan ketika pukul tiga dini hari. Ia benar-benar kekurangan tidur satu minggu ini. Sehun bahkan berkali-kali minta maaf kepada Kai hingga merajuk untuk membuat suami tampannya itu tidak marah. Ya Tuhan, ia benar-benar lelah.
"Dokter Sehun, ada yang ingin kubicarakan tentang perkembangan pasien penyakit Guillilain-Barre-Syindrom yang baru saja terapi tadi pagi." Sehun hanya mengangguk dan menuruti langkah Jungkook ke bagian administrasi pasien. Disana, dokter senior itu mengambil beberapa kertas dan membimbing Sehun ke ruangannya. Kedua dokter itu terlibat perbincangan serius sebelum pintu diketuk.
"Jwesonghamnida. Saya mengganggu, saya ada perlu dengan Dokter Sehun perihal pasien yang baru saja ia bedah." Jungkook mengernyit, untuk apa kepala rumah sakit ini pagi-pagi buta berada disini? Seingat Jungkook, Tao tidak ada shift malam. Toh, ia juga sudah mendapat jatahnya tadi siang. Kenapa ia ada di rumah sakit? Mau bertemu dengan penghuni yang tidak terlihat? Atau cari wangsit?
Sementara Jungkook keheranan, Sehun terlihat sangat tegang. Ia hanya menghela nafas kasar tanda dia kelelahan dan melirik Jungkook, meminta undur diri supaya dokter seniornya yang mengurusi. Yah, meskipun itu melanggar aturan rumah sakit ini.
"Saya ada perlu sekarang, dokter dari Jepang itu tidak bisa mengatasi masalah pasien." Zitao sedikit mendesak, sehingga mau tak mau Jungkook memberi isyarat nonverbal kepada Sehun. Membuat pemuda pale skin itu menggigit pipi dalamnya tanda gugup. Ia tidak suka ketika Zitao mulai seperti ini. Lebih baik ia menuruti orang ini.
"Baik, saya ikut dengan anda, Dokter Tao, saya permisi, Dokter Kim." Sehun membungkuk, tanda hormat. Kemudian menyusul Tao yang sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan.
Di sepanjang perjalanan menuju bangsal tempat pasien itu berada, dua dokter muda itu hanya terdiam tanpa bicara suatu apa. Sehun bisa merasakan kalau ia tengah tidak bisa mengontrol emosinya. Memori ketika mereka masih menjalin hubungan terus berputar di pikirannya. Entah bagaimana awalnya, ia akhirnya menoleh ke arah Zi Tao. Pria berwajah sangar namun lembut itu terlihat memeriksa beberapa dokumen penting. Sehun mendengus keras.
"Ada yang mengganggumu, Dokter Xi?" atensi pria tan itu beralih ke Sehun. Sementara yang ditatap hanya diam. Tidak memberikan respon ataupun gerakan nonverbal.
"Zitao.." Sehun menghentikan langkahnya, membuat Tao otomatis ikut berhenti. Sehun tidak memanggilnya dengan embel-embel ssi, atau semacamnya. Tao hanya diam. Menunggu orang yang masih sangat ia cintai itu.
"Kau sudah punya anak.." Suara Sehun terdengar parau dan mendesis. Pemuda pale skin itu bertindak seolah-olah ia akan mengatakan rahasia negara pada musuh. Hati-hati dan waspada.
"Kau sudah punya istri..." desis Sehun. Ia melirik Tao yang menyeringai.
"Dan kau mengemis cinta padaku?" Sehun menatap langsung obsidian kelam milik Zitao. Membuat pria panda itu terlihat sedikit gugup. Sehun mendekat, kedua tangannya terlihat mengepal, bibirnya sudah merah dan bengkak karena terlalu lama ia gigit.
"Kau seharusnya bersyukur, Kai tidak membunuhmu." Sehun menatap tajam Tao.
"Aku rela dibunuh asalkan itu demi kau, Sehun.." keadaan sekarang berbalik. Sehun terpojok oleh Tao. Pria garang itu menghimpit tubuh kurusnya di kurungan tubuhnya dan dinding lorong.
"Aku membencimu." Sehun langsung mendorong Zitao dan pergi meninggalkan pria panda itu sendirian. Tanpa sadar, setetes liquid turun dari orbs hitamnya. Dan itu, karena pemuda pale skin bermarga Xi itu.
(^_^)
"Tunggu sebentar!" Kai mengusap matanya yang berair. Tanpa Sehun, ia menjadi tidak bisa tidur. dan, karena ini, ia lebih memilih untuk begadang memeriksa laporan dari para bawahannya. Mungkin, ada beberapa dari mereka yang tidak teliti dan mungkin membuat perusahaan akan merugi. Tapi, ketika ia asyik dengan laptop dan segala masalah tentang perusahaannya yang berniaga di bidang desain itu rampung, ada seseorang yang bertamu di pagi buta seperti ini. Tepat pukul empat pagi.
CKLEK! BRUK!
"Sehunna?!" Kai terdiam cukup lama ketika Sehun dengan tiba-tiba memeluknya sembari menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Entah apa yang terjadi, tapi Kai yakin ini menjadi beban yang sangat berat bagi Sehun.
"Kai.." pelukan Sehun semakin erat. Kai akhirnya menutup pintu depan dan membawa Sehun ke kamar mereka. Untuk saat ini, yang lebih baik ia lakukan adalah diam dan menunggu Sehun untuk memulai ceritanya sendiri. Ia tidak akan ikut campur jika masalah itu memang merupakan privasi Sehun. Tapi, Kai juga tidak bisa diam saja jika Sehun hingga menangis seperti ini.
"Aku disini, sayang.." dan tangisan Sehun semakin menjadi. Kekasihnya itu tidak menangis secara keras, tapi, akan menahannya hingga tersedu-sedu. Bahkan hingga mengakibatkan sesak nafas. Dan Kai hanya mengusap rambut Sehun yang terasa lengket dan basah oleh keringat. Sehun belum membuka jas dokternya yang kini sudah terlihat kumal karena terkena debu ditambah tubuh Sehun yang sangat dingin.
"Kai.." dan setelah itu, pandangan Sehun gelap.
.
.
.
TBC
