My Pabbo Pilot
Pairing : Kaihun, Taohun
Rated : M
Genre : Family/Drama
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Dua hari kemudian...
"Jika kita telah selesai memfaktorkan x2+ bx + c, dengan c0, kita dapat mencari hubungan antara b dan c dengan p dan q pada persamaan x2 + bx + c = (x+p)(x+q)..." Kai tengah menjelaskan beberapa dasar matematika kepada muri baru yang baru saja masuk ke akademi. Ia mengulang materi SMP supaya anak didiknya lebih paham dan tidak repot kedepannya.
"Mianhae, seosangnim, saya ingin bertanya.." seorang pemuda dengan pakaian terlihat acak-acakan mengangkat tangan kanannya, membuat Kai mengangguk mempersilakan.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Kai, singkat. Ia bukan orang yang suka basa-basi, dan ini merupakan hal yang sedikit sulit untuknya. Padahal, ia sudah berlatih dengan Sehun selama beberapa hari ini. Bahkan tadi malam Sehun sempat menjitak kepalanya dengan kertas sketsanya karena terlalu jengkel dengan sikap introvertnya ini.
"Maaf jika ini sedikit melenceng dari tema, pertanyaan saya adalah, mengapa anda lebih memilih vakum dari dunia penerbangan?" pemuda itu melihat sang moderator tengah terdiam sejenak. Entah kenapa, pertanyaan itu sedikit menyentaknya. Kemudian, dengan senyum sedikit terpaksa, Kai mulai membalas,"aku memiliki sebuah alasan.."
"Dulu, saat aku masih SMU sama seperti kalian, aku sangat tergila-gila dengan burung besi itu. tapi, karena profesi itu membuatku kehilangan orang yang sangat kusayangi, aku lebih memilih menemaninya untuk membesarkan anak kami bersama.." sangat manis dan penuh perasaan. Kai menjelaskan alasannya dengan menatap teduh kesetiap peserta yang ikut dalam seminarnya.
Tak pelak, beberapa murid perempuan menjerit tertahan karena ucapan dan obsidian moderatornya yang terasa sangat tulus. Sementara beberapa murid laki-laki mengangguk dan mengatakan, "begitu beruntung siapapun yang menikah dengan pria itu. mungkin, aku juga ingin seperti dia."
"Seosangnim, saya mau bertanya, mengapa anda memilih menjadi arsitek rangka pesawat? Apa anda tidak tertarik membuat rumah?" tanya salah seorang murid. "Pernah sekali, aku membuat sketsa rumah.."
Mengambil nafas beberapa saat, Kai melanjutkan, "Tapi, itu hanya karena permintaan isteriku saja.." Kai mengedipkan sebelah matanya. Para siswa pun tertawa.
...
"Ketua!" panggilan panik dan terkesan terburu-buru itu menggema di sebuah anggar pesawat terbang tipe semi kaku milik pangkalan udara militer Korea. Pria yang dipanggil ketua itu berhenti dan membalikkan tubuhnya. Terlihat Han Kyu Wan-Kepala Staf Gabungan tengah berlari ke arahnya. Pria itu membawa sebuah map berwarna biru, khas pendaftar baru di Sekolah Penerbangan Internasional itu.
"Ada apa kau menemuiku?" tanyanya dengan angkuh. Seperti biasa, ia selalu menunjukan flat face miliknya apabila berhadapan dengan orang lain. Han Kyu Wan mengatur nafasnya sejenak. Ia membuka map birunya dan memilah beberapa file baru.
"Ini, ada seorang pilot muda dengan kemampuan sama seperti Kim Jongin." Kyu Wan menyerahkan sebuah formulir dengan semangat. Berkas milik pihak administrasi memang rahasia, tapi, Kris dan anggota yang lain bisa mengambilnya karena mereka memang menjalin mitra kerja yang baik dengan militer Korea.
"Lalu, apa hubungannya denganku? Sudah, siapkan penerimaan siswa barunya, aku akan menelepon Kai, untuk sekedar mencari bahan referensi."Kyu Wan hanya mendengus. Kris memang tidak berubah sedari dulu. Pria itu benar-benar tidak bisa menangkap maksud dari ucapannya. Ia hanya meminta Kris memberikan pendapat pada orang yang ia anggap penerus dari Kim Jongin yang sialnya juga memiliki sifat seperti Ketua Staf Perhubungan itu. Cih!
"Awas saja kalau dia tertarik nantinya." Ucap Kyu Wan sambil melirik sinis ke arah punggung tegap Kris yang menjauhi tempatnya berdiri. Tapi, saat ia sadar dengan ucapannya, Kyu Wan diam. "Nanti, bagaimana dengan Luhan? Aigooo, aku perlu istirahat."
...
"Sehun-ah," Sehun yang tengah memeriksa data pasien, segera menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Zitao tengah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan di saku jas dokternya. Terlihat, pria yang-ia-akui-tampan-itu tengah menatapnya teduh. Sangat mirip ketika ia masih menjadi kekasihnya.
"Lupakan itu, Sehun-ah..Lupakan..." lirih Sehun. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berusaha mengusir pemikiran tentang masa lalunya.
"Kau pusing?" saat Zitao menempelkan tangan kanannya ke dahi Sehun, pemuda manis itu langsung terkesiap. Reflek, ia segera menepis tangan pria tan itu dari dahinya. Sehun tidak tahu harus berbuat apa. Ia melirik sekitarnya. Bagaimana bisa, koridor unit gawat darurat bisa selengang ini? Dimana dokter jaga dan dokter kepala yang tengah bertugas? Ini bukan jam istirahat, bukan?
"Maaf, hyung, aku...harus...uh.. aku harus pergi." Sehun benar-benar gugup dan takut. Pria ini terlihat tidak mengerikan, tapi sisi terdalam dari Tao, hampir sama posesifnya dengan Kai. Tapi, jika dengan Kai ia merasa nyaman, maka dengan pria ini ia sangat takut.
"Sehun-ah, chankaman!" Zitao mencengkeram lengan Sehun dengan erat. Pemuda manis itu menatap tangannya yang dicengkeram Zitao. Pandangannya berubah menjadi tajam. Sehun takut, dan ia tidak suka dalam kondisi seperti ini.
Sial.
Sial.
Sial.
Dan biasanya, disaat seperti ini, ia sangat ingin Kai ada disampingnya. Ia butuh suaminya. Tapi, ia juga tidak mungkin menelepon sekarang, mengingat Kai tengah seminar. Setidaknya, ia sedikit bersyukur karena Kai memberikan jadwal pekerjaannya kepadanya.
"Kumohon, lepaskan, Zitao hyung.." ucap Sehun mengiba. Ia membelalakkan matanya ketika wajah Tao mulai mendekat. Pria tan itu mulai menutup matanya. Membuat Sehun benar-benar menangis dan merasakan rasa tertekan yang begitu terasa. Ia berusaha meminta tolong kepada siapapun. Sehun menutup matanya, ia sangat ketakutan. Ya Tuhan, Kai ada disini, Kai ada disini, kumohon... batin Sehun terus berdoa.
BUGH
Sehun terperanjat ketika terdengar suara pukulan, reflek, ia membuka matanya dan mendapati Kai tengah menghajar Zitao dengan brutal. Bagaimana tidak brutal? Oh, ayolah, kau melihat isterimu diperlakukan seperti itu, apa kau tidak marah? Kai tidak menyangka Zitao akan melakukan hal seperti ini. Apa dia tidak juga mengerti kalau Sehun sudah menjadi isterinya sejak tiga tahun yang lalu? Salah siapa menyakiti pemuda yang begitu polos, dan diusia masih empat belas tahun?
"Jangan pernah sentuh isteriku. Ingat itu..."desis Kai. Pria tan itu merangkul tubuh Sehun dan membawa isterinya menjauh dari Zitao. Meninggalkan Zitao yang mendecih. Pria china itu berusaha bangkit dan menatap kepergian Sehun yang tengah dirangkul oleh Kai.
"Sial..."
...
"Pindah." Suasana di sebuah mobil yang biasanya hangat itu terasa sangat menegangkan. Kai tengah menahan emosinya yang terasa sangat ingin meledak. Tapi, ia tidak mungkin juga untuk mengungkapkan emosinya kepada Sehun. Luhan sudah menperingatinya untuk berlaku lembut pada Sehun, karena isterinya ini tidak bisa dibentak. Ia akan merasa sangat tertekan dan semakin menangis bila dibentak.
"Ne, hyung?" Sehun memainkan ujung kemejanya. Ia tidak berani mendongakkan kepalanya sekedar untuk menatap wajah tampan suaminya. Kai mencengkeram kemudi mobil dengan sangat erat. Suaranya desisannya terdengar Sehun, hingga membuat Sehun mengusap lengannya karena ketakutan.
"Kubilang pindah, Kim Sehun." Tambah Kai. Ia melirik isterinya yang pasti tengah menahan isakannya sekarang. Tapi, mau bagaimana lagi, memang seperti itu adanya. Lebih baik Sehun pindah dari rumah sakit itu daripada kejadian yang membuat darahnya mendidih seperti tadi itu.
"Dengarkan aku, lebih baik kau pindah rumah sakit, Kim Sehun." belum selesai Kai berbicara, suara ponsel miliknya membuat Kai menggeram kesal.
Piiiip!
"Ne, yeoboseyo? Kris hyung? Wae?"
"bisakah kau datang ke anggar sekolah pelatihan?"
"Kapan?"
"sekarang."
Piip!
"Kai hyung, kita mau kemana?" tanya Sehun sedikit melirik ke arah Kai yang terlihat sangat tidak bersahabat.
"Kau tidak perlu bertanya." Desis Kai dingin. Membuat Sehun kembali menunduk. Diam-diam, Kai melihat air mata keluar dari hazel cokelat milik Sehun. Tapi, mau bagaimana lagi, ia tahu Sehun tidak peka. Tapi, apa tidak pekanya harus separah ini? Ia harus mengunjungi Luhan untuk menanyakan tentang Sehun lebih dalam.
...
"Mammma...mamama..." Luhan tertawa melihat Jonghun mulai menangis mencari Sehun. Anak itu sangat pintar di usianya yang masih batita. Luen dan Luai tengah melihat-lihat pesawat yang pernah dinaiki Kris dan dirinya. Ia melihat Kris tengah berbicara dengan beberapa anggota militer yang akan berlatih dengan pesawat terbaru. Tapi, yang sedikit mengherankan, kenapa pria jangkung itu tidak mengendarai pesawat itu sendiri, toh ia juga merupakan Kapten pilot yang paling ahli dalam urusan penerbangan.
"Luhannie!" Kris tersenyum ketika menndapati Luhan tengah duduk di kursi tunggu di dekat ruangannya. Isterinya itu tengah menggendong Jonghun. Keponakannya itu benar-benar terlihat menggemaskan. Bahkan saat terlihat akan menangis seperti itu.
"Kris, kau sudah selesai?" tanya Luhan sembari menyerahkan bayi gembul itu pada Kris. Pria tinggi itu mengecup kening dan bibir Luhan, kemudian menggendong Jonghun yang langsung tertawa ketika digendong pamannya. Bayi tampan itu tertawa geli ketika paman tampannya mengusak-usak perut gembulnya.
"Juci...pesawat..ngeeeengggg!" Kris dan Luhan tertawa ketika bayi gembul itu diangkat oleh Kris da dibawa berputar di salah satu pesawat F-15 Slam Eagle. Pesawat yang menjadi saingan Luhan karena Kris meyebutnya dengan isteri keduanya.
"Papapapapa...mammamama!" Jonghun memberontak turun dari gendongan Kris dan berlari ke arah kedua orang tuanya. Ia beberapa kali hampir terjatuh, tapi, ia langsung melompat ke pelukan Sehun, membuat pemuda manis itu mundur dua langkah karena tidak siap dengan terjangan Jonghun.
"Kai, akhirnya kau datang juga."Kai hanya tersenyum tipis tanpa berniat membalas . Ia masih dalam keadaan tidak baik karena Zitao yang hampir saja mencium isterinya. Dan ia menemukan mereka secara langsung.
Seharusnya Kai tidak mengabulkan permintaan Sehun untuk pagi di IFS dan sore harinya di rumah sakit. Kai tidak suka Jonghun menjadi sangat kesepian karena Sehun yang tidak bisa membagi waktunya dengan baik.
Kepalanya terasa semakin mendidih ketika ada klien di perusahaannya yang menurutnya tidak bisa diajak bekerja sama. Benar-benar sangat menjengkelkan.
"Kita langsung saja. Ikut aku keruanganku."
...
"Waktu kita berbicara di ruanganku ketika di IFS, aku tidak yakin jika hanya kita berdua yang berbicara. Aku merasakan ada orang lain yang menguping." Kris menatap tajam Kai yang diam bergeming. Pria tan itu tidak menyahuti perkataan hyung iparnya. Pikirannya tengah tidak bisa fokus.
"Apa kau tahu siapa yang menguping, Tuan Kim?" pertanyaan Kris mau tidak mau membuat Kai memberikan atensinya kepada Kris. Pria jangkung itu tidak habis pikir dengan pasangan muda di depannya ini. Bagaimana bisa mereka sudah tiga tahun menikah tidak mengenal sifat dan karakter masing-masing?
"Apa maksudmu, Hyung?" Kai memberikan atensi sepenuhnya kepada pria jangkung di hadapannya.
"Parfum yang tertinggal di pintu ruanganku adalah milik Sehun." Desis Kris. Pria jangkung itu menikmati perubahan emosi yang terjadi di pemuda yang beranjak dewasa di depannya. Kai masih terlalu muda untuk menikah dan ia sudah menikah di usia dua puluh tahun. Sungguh nekat untuk ukuran anak yang baru saja dewasa.
Jika Sehun, Kris tidak perlu khawatir karena Sehun sebenarnya lebih mandiri dibanding kelihatannya. Adik iparnya ini sebenarnya lebih dewasa dibandingkan Kai. Tapi, Sehun seolah tahu kapan ia harus dewasa dan kapan ia harus bersikap manja kepada Kai, hingga membuat pria tan itu merasa ia harus berubah menjadi pria dewasa.
"Maksudmu Sehun mendengar semuanya?" Kai mengatakan kalimat paling retoris yang pernah Kris dengar selama ia pernah membimbing Kai ketika mantan anak didiknya ini masih di IFS dan belum terkena skors yang menurutnya tidak beralasan.
"Kau harus menjelaskannya perlahan kepada Sehun, dan buktikan kalau kau tidak bersalah. Aku tahu kau tidak suka dengan Zitao, tapi, ia satu langkah lebih maju karena ia yang membantu Yixing keluar dari keterpurukan akibat tewasnya Suho." Kai mendekati Kai. Pria tan itu terlihat sangat tegang.
"Aku paham kalau Zitao pernah berhubungan dengan Sehun. Tapi, kau tidak mengenal dirinya dari dalam. Kau tidak akan pernah tahu tabiat seseorang jika hanya dari luar." Kris menepuk bahu Kai, dan berjalan menuju pintu keluar ruang kerja miliknya.
Kris berhenti sejenak, "Oh ya, Zitao tidak seperti penilaianmu. Pikirkanlah itu baik-baik sebelum kau menyesal, anak muda. Ingat, aku sembilan tahun lebih tua darimu."dan pria jangkung itu meninggalkan Kai yang masih berpikir di ruangan kerjanya.
...
"Luhan hyung, bisakah kau menjelaskan beberapa teori tentang pesawat terbang kembali? Aku sudah lupa." Luhan yang sedang menata buku di ruang perpustakaan mengernyit. Tidak biasanya ia mendengar permintaan seperti itu. Sehun tidak akan melupakan materi kesukaannya meskipun pemuda pale skin itu sudah menjejali otaknya dengan berbagai teori kedokteran yang jumlahnya minta ampun.
"Sehun-ah, kau ada masalah?" Luhan mendudukkan dirinya di sebelah Sehun yang tengah mengusap Jonghun yang tertidur dengan nyeyak di gendongannya. Tubuhnya terlihat sedikit kurus. Tapi, entah kenapa binar di matanya terlihat redup dan murung.
"Tidak ada, hyung. Aku hanya ingin bertanya. Lagipula, aku sudah terlalu sibuk dan tidak bisa mengulang seperti dulu lagi." Sehun tersenyum manis ke arah Luhan. Sang kakak hanya mengangguk. Tidak mau memperpanjang masalah yang tidak mau Sehun ceritakan. Ia percaya kalau adiknya sudah tumbuh dewasa dan mampu ia percaya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan begitu, ia tidak akan begitu kerepotan ketika nanti Kris dipindahtugaskan.
"Kau rindu Hanyoung?" tanya Luhan pelan. Namja bermata rusa itu memperhatikan bingkai foto yang tergantung di dekat biola milik Luai. Sehun mengikuti arah pandangan Luhan.
"Iya hyung..." Luhan tidak menyadari kalau Sehun tengah tersenyum sendu...
.
.
.
TBC
Thanks for review
utsukushii02 :: Guest :: Kaihunn :: aulivp :: Yessy94essy :: JongOdult :: rytyatriaa :: VampireDPS :: kjinftosh :: kim sehyun96 :: Phcxxi :: Stephanie Choi :: HilmaExotics :: Exolweareone9400 :: Kim Sohyun :: ohhanniehunnie :: Nagisa Kitagawa :: fiya. KH :: Aniya17 :: Icha :: aliyya :: ooh :: 1004baekie :: rosianakawai :: vivikim406 :: Kim Seo Ji :: Myjeje :: Zelobysehunna :: babyhunhun94 :: dina. Blind :: dia. Luhane :: scarletshad1230 :: Maknae Lines 1994 :: Sohwapark8894 :: sehunskai :: yunacho90 :: Gaemgyu92 :: fvckmechankai :: wijayanti628 :: Stevanie Oh ::
