My Pabbo Pilot

Pairing : Kaihun, Taohun

Rated : M

Genre : Family/Drama

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Sehun tengah memasak untuk makan malam. Dirinya sedari tadi tengah memikirkan sesuatu. Mungkin, akan lebih baik kalau ia mendiskusikannya dengan Kai. Tangannya mengusap perutnya yang mulai membuncit. Namja pale skin itu menghela nafas. Ia bahkan lupa memberitahu Kai kalau Jonghun akan memiliki adik.

"Sehunna.." Kai memeluk Sehun dari belakang. Pria tan itu menghirup aroma di perpotongan tubuh Sehun. Mengusak-usakkan wajahnya dengan nyaman.

"Kai, hentikan. Aku sedang memasak." Sehun menggeliat keluar. Tapi, tangan Kai malah semakin erat memeluk.

"Hunna, kau tahu kalau aku cemburu?" tangan kanannya ia gunakan untuk mengecilkan kompor, sedang tangan satunya memutar tubuh Sehun untuk menghadap ke arahnya. Pria tan itu menatap teduh Sehun yang menunduk. Tidak memandang wajahnya.

"Kai hyung, maaf kalau aku selama ini tidak peka.." Sehun memulai. Ia tahu kalau secara tidak langsung, Kai memintanya untuk bicara perihal pria yang paling tidak ingin Kai sebut. Sehun memberanikan diri untuk mendongak. Ia menggigit pipi dalamnya supaya suaranya tidak terdengar bergetar.

"Aku baru tahu kalau Zitao hyung masih menganggapku seperti dulu. Tapi, aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa jika harus menjauhinya. Luhan hyung pernah bilang kalau jangan balas dendam. Makanya aku diam saja.." suara Sehun sudah bergetar dan sedikit serak. Kai masih setia mendengarkan. Pria tan itu hanya menaikkan satu alisnya.

"Aku tidak mau kejadian Kris hyung dan Luhan hyung terjadi pada kita. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut membebanimu, aku tahu kau tidak suka kalau aku terlalu dekat dengannya. Tapi, disatu sisi, aku hanya menganggapnya teman. Kubiarkan saja, mungkin Zitao hyung akan jera, tapi aku tidak tahu kalau dia bertindak sejauh itu." Sehun langsung membuang pandangannya ke samping. Matanya tidak mau bekerja sama. Butiran air sudah keluar sejak ia mencoba menjelaskan dengan tegar.

"Maaf, bahkan aku tidak tahu harus bilang kepadamu kalau aku hamil. Aku tidak.."

Ucapan Sehun terhenti ketika Kai memeluknya dengan erat. Pria tan itu mengurung Sehun dalam rengkuhannya. Tangisan Sehun yang semakin kencang membuat ia akhirnya kembali berfikir. Akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk. Disaat yang sama, secara tidak langsung ia sudah membebani Sehun lebih dari perkiraannya. Dan tadi..

"Hunna, kau hamil? Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Kai. Ia melepas pelukannya dan menangkup wajah Sehun. Namja manis itu mengusap air matanya.

"Satu bulan yang lalu." Jawab Sehun singkat. Ia masih belum bisa mengatur suaranya. Jawaban Sehun membuat Kai terdiam.

"Satu bulan yang lalu, saat itu aku tengah mengurusi proyek 20 kertas desain itu?!" Kai menatap horor ke arah Sehun yang mengagguk.

"Kapan kau pergi ke dokter? Kenapa kau tidak bilang denganku?!" Sehun menghela nafas. Orang ini mulai lagi. Dengan gemas, Sehun mendeplak dahi Kai dengan spatula yang masih ditangannya. Membuat si empunya meringis kesakitan.

"Hyung bilang tidak pulang tiga hari. Setelah itu, hyung bilang kalau ada urusan kantor selama seminggu, lalu, beberapa.." bibir tipis Sehun dijepit Kai dengan kedua jarinya.

"Cukup Sehun. Kau membuatku tampak buruk." Kai cemberut. Sehun hanya tertawa. Ia memeluk Kai dengan erat.

"Aku janji akan menjaganya dengan baik. Dan, aku akan menjaga pergaulanku, supaya my pabbo pilot yang satu ini tidak cemburu." Sehun mencuri ciuman di pipi kanan Kai. Pria tan itu ikut tertawa. Sehunnya memang manis.

"Kupegang janjimu, Kim Sehun." Dan acara damai khas Kaihun itu diakhiri dengan Kai yang mengecup kening Sehun dengan sayang.

"Nah, Tuan Kim. Lebih baik kau bawa Jonghun, dan kita makan malam bersama." Sehun membuat gestur mengusir.

"Siap, Nona Kim!"

"Apa kau bilang?!"

...

Keesokan harinya..

"Sehun! Kau tahu setelan jasku?" Kai berjalan mondar-mandir. Rambutnya yang acak-acakan dan bajunya yang berantakan menandakan kalau pria yang sudah menjadi ayah muda ini kesiangan. Sehun merampungkan kegiatan memasaknya dan menghidangkannya di meja makan. Ia menghampiri Kai yang masih sibuk mencari jas.

Akhirnya, Sehun mengambil setelan jas yang baru saja ia setrika pagi-pagi buta. Dokter muda itu mengambil dasi hitamnya sekaligus. Ia berjalan masuk ke kamarnya dan Kai. Dapat ia lihat Kai yang tengah membereskan beberapa dokumen, dengan Jonghun yang tertawa melihat wajah panik ayahnya.

"Mamamamama...papapapap...panik...hihihihi...papapapa.." Jonghun bertepuk-tepuk ketika melihat Sehun datang membawa setelan jas hitam Kai.

"Ini, baru tadi pagi kusetrika. Biar kupakaikan." Sehun tersenyum lembut. Ia merapikan pakaian Kai yang keluar dari celana, membetulkan ikat pinggang suaminya, memasangkan dasi, dan memakaikan jas. Terakhir, dokter muda itu mengusapkan gel rambut ke rambut hitam pria tan pabbo di hadapannya.

"Sudah beres. Kau tunggu di meja makan. Aku akan mengurus perlengkapan Jonghun. Ia akan masuk playgroup dua bulan lagi." Sehun baru saja akan beranjak ketika sebuah tangan menahan lengannya.

"Kai?" Sehun menatap bingung Kai.

"Aku berangkat dulu. Nanti sore ku jemput. Aku sedikit longgar." Kai tersenyum dan mencium bibir Sehun gemas.

"Ah, kalau begitu bawa bekalmu, oke?" tawar Sehun. Kai mengangguk. Ia pergi ke dapur dan mengambil satu set lunch boks yang sudah disiapkan Sehun.

"Aku berangkat dulu. Saranghae." Kai mengecup kening Sehun dan melambaikan tangannya. Meninggalkan Sehun yang tersenyum manis. Masalahnya dengan Kai sudah selesai. Sekarang, ia hanya perlu meluruskan salah paham antara dirinya dan mantan pacarnya itu.

...

"Selamat pagi Dokter Sehun." Seorang perawat yang berada satu divisi dengannya menyapanya. Sehun hanya menganggukd an tersenyum. Ia menerima dokumen yang dibawa oleh si perawat.

"Maaf, dok." Sela sang perawat. Sehun mendongak menatap wanita yang mungkin seusia dengan Jessica-kakak Kris.

"Ne?"

"Pasien di bangsal 9-3 yang koma selama dua tahun mengajukan pergantian dokter. Tapi, pihak keluarga belum menentukan siapa dokter pembimbingnya." Sehun mengernyit.

"Bisa kulihat data pasiennya?" tanya Sehun. Wanita itu mengangguk. Ia menyerahkan satu dokumen yang lain. Segera saja Sehun membacanya. Ia terlihat mengerutkan kening.

"Kim Joon Yi, 9 tahun, perempuan. Diagnosa pendarahan selaput otak karena benturan."Sehun tertegun.

"Suster, kalau boleh saya tahu? Apa penyebab benturan ini?" tanya Sehun tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas data pasien tersebut. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Entah dimana, ia merasa pernah melihat wajah anak ini. Mungkin, mirip dengan seseorang.

"Dia menjadi salah satu korban dari jatuhnya pesawat F14 Tomcat yang diluncurkan oleh IFS."

DEG

"Pesawat F14? Bukannya itu pesawat Amerika? Awak media memberitakan kalau pesawat naas itu jenis pesawar ulang alik dengan turbulensi rendah, semisal Boeing atau F15 SE?! Bagaimana bisa?" bantah Sehun. Ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa, pesawat latihan yang hanya boleh digunakan satu pilot dan satu co-pilot itu digunakan untuk mengangkut penumpang?

"Iya, Dok. Tapi, memang itu kenyataannya. Berita yang disiarkan oleh awak media telah diubah untuk merahasiakan kejadian sebenarnya. Petinggi IFS sudah merencanakan itu semua untuk meredam konflik." Jelas sang perawat.

"Kalau anda masih penasaran. Datang saja ke kantor arsip rumah sakit. Kebetulan saat itu aku yang mengurus para korban bersama Dokter Jung." Sehun mengangguk terima kasih. Wanita itu akhirnya undur diri.

Selepas perginya sang perawat, Sehun terdiam. Selama dua tahun ini, ia kemana saja? Yang ia tahu, dua tahun yang lalu-ketika ia masih mahasiswa koas- ada kecelakaan pesawat penumpang dari IFS. Jika seperti itu masih wajar-karena ada beberapa pesawat yang belum diperbarui-tapi, kalau sampai ada pesawat latihan yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Ini bukan hanya mencoreng citra IFS, tapi juga mencoreng nama militer Korea.

"Kai, kenapa kau tidak pernah cerita denganku..ugh!" Sehun mengacak rambutnya frustasi. Awas saja kalau dia pulang.

"Kkamjong memang benar-benar paboo pilot!"

...

Siang itu, Sehun dalam keadaan badmood. Bukan hanya bawahannya saja yang terkena semprot. Dokter Jung-yang merupakan ketua divisi dosen pembimbingnya-juga terkena imbasnya. Bahkan sang dosen sampai mundur satu langkah, dan membiarkan Sehun mengambil alih pimpinan ketika mereka tengah melakukan operasi transplantasi jantung.

Aura yang keluar dari dokter yang tengah mengambil spesialis bedah itu terlihat suram dan mengerikan. Beberapa perawat yang membutuhkan Sehun untuk membubuhkan tanda tangan di laporan kerja mereka, akhirnya mengurungkan niatnya. Bahkan, ketika Sehun tengah makan siang di kantin, dokter muda itu hanya menatap sayuran yang selalu menjadi kesukaannya dengan tidak minat. Benar-benar the power of Kkamjong.

"Yo! Sehun-ah!" Zitao mendudukkan dirinya di samping Sehun. Pria bermata panda itu menusuk daging bulgoginya dengan garpu yang sudah dilumuri mayonaise di ujungnya. Baru saja akan mengunyah, pria tan itu menoleh ke arah Sehun yang terlihat tidak nafsu makan.

"Kau ini kenapa? Auramu suram sekali." Sehun hanya melirik malas ke arah Zitao. Entah kenapa kehadiran orang di sebelahnya ini bukannya menambah suasana hatinya baik, tapi malah membuatnya semakin takut. Entah apa alasannya.

"Zitao-ssi.." panggil Sehun seadanya. Zitao yang tengah menikmati makannya bergumam. Ia melirik Sehun yang tengah menatapnya dengan pandangan tidak biasa. Terkesan sendu dan bingung.

"Kau bisa ceritakan padaku kalau kau mau." Jelasnya.

"Apa kau tahu pasien bernama Kim Joon Yi di ruang 9-3?" tanya Sehun langsung.

"Uhuk! Uhuk! Sehun...minum..." Sehun dengan segera mengambilkan air putih dan menyodorkannya pada Zitao. Pria itu mengangguk dan meminumnya. Ia mengatur nafasnya setelah tersedak potongan daging yang cukup besar.

"Memangnya ada apa?" tanya Zitao.

"Aku yang menjadi dokter penanggung jawabnya sekarang." Jelas Sehun. Dokter muda itu mengendikkan bahu dengan ekspresi kesal. Ia menatap Zitao yang terdiam. Diam-diam, namja pale skin itu menyadari perubahan emosi yang cukup kentara dari pria disampingnya.

"Zitao-ssi?" panggil Sehun. Zitao mengerjap. Ia menghela nafas. Nafsu makannya telah hilang sepenuhnya.

"Ya, aku mengenalnya. Sebaiknya kau hati-hati, dan persiapkan dirimu jika ada sesuatu yang mengguncangmu." Zitao menepuk bahu Sehun dan pergi begitu sadar. Sehun bahkan lupa kalau ia harus menjauhi pria yang tidak disukai oleh suaminya ini.

"Hah, untuk sekali ini saja. Aku kesal denganmu Kkamjong!"

...

Bringland Corp..

"Tuan Kim. Rapat sudah menunggu anda. Klien dari Haruzawa Ltd sudah menunggu di aula utama." Seulgi datang dengan camilan yang masih terkuyah.

"Kau ini. Habiskan makananmu, dan siapkan dokumenku. Wendy dan Joy tengah meeting dengan klien dari Busan, dan Irene tengah cuti untuk mempersiapkan pernikahannya. Jadi kau, siapkan berkas yang sudah diselesaikan Irene beberapa hari yang lalu." Jelas Kai.

"Siap bos!" wanita itu berbalik dan merapikan dokumen yang diperlukan oleh atasannya. Mereka berdua akhirnya pergi ke aula utama. Beberapa klien dari Jepang dan China sudah tiba dan tengah berbincang. Kai mengucap salam dan masuk. Ia menduduki kursi di ujung dekat LCD.

"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada tuan-tuan yang telah datang. Mari kita bahas tentang pembangunan kamp akademi di China Selatan." Kai membuka lembar dokumennya. Ia memberi sinyal kepada Seulgi untuk menyalakan monitor.

"Ini adalah rancangan saya untuk membangun kamp akademi IFS di China. Tepatnya di Kowloon." Jelas Kai. Pria tan itu berhenti sejenak. Memberi kesempatan kepada para audiens untuk bertanya.

"Maaf, Pak Kim. Kenapa anda memilih Kowloon yang berada sangat jauh dan terletak hampir di dekat pantai? Bahkan sangat dekat dengan Hongkong." Tanya salah seorang presdir-Kai lupa darimana.

"Akan saya jelaskan. Kowloon merupakan tempat yang tepat. Karena tempat itu merupakan bekas pangkalan militer Jepang. Dan kebetulan, disana ada beberapa pelabuhan udara dan air yang sudah tidak terpakai tapi masih bagus. Saya sudah melakukan survei lokasi beberapa bulan yang lalu." Kai mengganti slide di monitor.

"Satu lagi, saya memilih Kowloon karena dekat dengan Hongkong. Dengan begitu, kita bisa membuktikan kepada Hongkong, bahwa daerah pinggiran mampu bergerak cukup kreatif-disamping dengan sektor pariwisata pantai. Dan, saya menyarankan daerah ini karena letaknya cukup strategis, dan tidak padat penduduk." Sang presdir tersenyum puas dengan jawaban Kai.

"Pak Kim, saya ingin bertanya. Apa anda juga akan membangun pusat IFS di Beijing? Bukannya itu terlalu jauh?" tanya salah seorang sekretaris. Lagi-lagi Kai lupa dari perwakilan mana.

"Untuk apa ke Beijing? Cukup di Shanghai saja. Beijing sudah mampu dengan berbagai fasilitasnya. Saya disini hanya untuk membantu China dan Jepang saja yang tengah bersaing dalam kemajuan teknologi dan militernya." Jelas Kai, memberikan seringai licik di akhir penjelasannya.

...

"Haah, akhirnya selesai juga. Aku benar-benar tidak menyangka mereka akan sangat agresif." Seulgi mengusap peluh. Ia menatap Kai yang tengah memberesi perlengkapannya.

"Oh, ya Presdir Kim. Anda harus ke rumah sakit sekarang. Jadwal menjemput Nyonya." Seulgi mengerling ke arah Kai. Pria tan itu mengangguk.

"Bilang kepada semua karyawan untuk pulang jam sembilan malam. Dan katakan kepada mereka untuk tidak ada yang lembur. Besok aku akan meringankan jam kerja kalian hingga pukul tujuh malam sebelum proyek China dilaksanakan." Perintah Kai. Seulgi dengan segera mencatat di notenya.

"Terima kasih untuk pulang awalnya, Presdir! Asal gaji kami tidak dipotong saja!" wanita itu membungkuk hormat dan pergi meninggalkan Kai yang mendengus.

Presdir kita yang satu ini memang terkenal baik dikalangan para karyawannya. Maka dari itu Kai sangat disegani oleh bawahannya. Setidaknya, jangan sampai membuat Kai marah. Karena bukan pemecatan yang akan kau dapatkan. Pria tan ini tidak sekejam itu. Hukumannya hanya potong gaji dan berlari mengitari gedung dari lantai satu sampai lantai enam. Hanya itu.

"Yup, sekarang waktunya menjemput Jonghun dan Sehun.." Kai berjalan santai ke basement kantornya.

Piiip! Piiip! Piiip!

"Ne, Yeoboseyo, Sehunna?"

"Kau tidak cerita jika pesawat F14 Tomcat kecelakaan."

...

TBC

Big thanks to:

my love double b :: Nagisa Kitagawa :: Lovekaihun :: Icha :: kaihunn :: JongOdult :: Kim Sohyun :: Oh Byul :: GaemGyu92 :: exolweareone9400 :: dia. Luhane :: VampirDPS :: fyodult :: kjinftosh :: HilmaExotics :: auliavp :: temperasakimchi :: utsukushii02 :: Yessy94essy :: ohhanniehunnie :: wijayanti628 :: Guest :: rytyatriaa :: kim sehyun96 :: flowerinyou :: phcxxi :: aliyya :: Aniya17 :: ooh :: 1004baekie :: rosianakawai :: vivikim406 :: Kim Seoji :: My jeje :: Zelobysehuna :: babyhunhun94 :: dina. Blind :: scarletshad1230 :: Sohwapark8894 :: sehunskai :: yunacho90 :: dan Silent Readers

MIND TO REVIEW?