copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated
Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu
Yoongi tiba di sebuah halaman kantor besar setelah mendapat tumpangan cuma-cuma dari Hoseok untuk mendaftar kerja. Bersyukur karena ia memiliki sahabat yang dengan senang hati mencari lowongan kerja untuknya karena ia butuh pekerjaan tetap; ia perlu mulai mengurangi kegiatannya yang luar biasa banyak dalam kerja part time tidak berarti karena uang yang ia dapat tidak sebanyak tenaga yang perlu ia keluarkan.
"Terima kasih, Hoseok-ah," senyuman cerah tergambar pada wajah Yoongi, memberikan sebuah pernyataan tulus tentang betapa ia senang memiliki sahabat seperti Hoseok. "Aku senang sekali kau mau memberi tahuku tentang hal ini."
"Tentu Yoongie," Hoseok membalas senyuman Yoongi lebih lebar, memberi tatapan senang dengan binar mata tenang. Ia kemudian terdiam sejenak sebelum menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Kalau kau tidak juga mendapatkan pekerjaan tetap, biar aku membawamu ke divisi pemasaran di kantorku. Aku—"
"Tidak, Hoseok. Aku akan mencari kantor yang bukan milikmu karena aku tidak mau terlihat mengemis pekerjaan pada sahabatku sejak sekolah menengah pertama."
"Tapi kau tidak!" Hoseok setengah memekik, merasa kesal juga dengan sahabat perempuannya yang sangat keras kepala. "Kenapa kau begitu peduli pendapat orang lain, ha?"
Yoongi tertawa kecil melihat wajah kusut Hoseok, senyumanya kini mengembang sedikit lebih lebar. "Harusnya kau tahu kelas sosial yang berbeda juga membuat apa yang terjadi dalam otak berbeda."
Hoseok tahu sahabatnya yang satu ini memang cerdas, pandai berdebat dan memiliki jawaban yang selalu tepat susah dibantah. Itu membuatnya selalu menyerah untuk berdebat dan membiarkan sifat keras kepala dan kecerdasannya bergabung membuat benteng kuat untuk membuat orang membuang napas karena sadar dirinya kalah. "Terserahmu, aku hanya bisa membantu sampai sini kalau itu memang pilihanmu."
"Aku sudah memberi tahumu lowongan kerja di kantor luar biasa besar. Ingat, kau harus diterima atau kau aku seret masuk ke kantorku mau tidak mau."
"Aku pasti diterima," wajah Yoongi yang awalnya jenaka berubah percaya diri, memasang wajah paling yakin yang ia miliki dengan senyuman mantap. "Kau harus mentraktirku gogi sampai alat penggorengan itu penuh, deal?"
Dengan senang hati Hoseok mengangguk, menepuk bahu sahabatnya yang berlapis pakaian sederhana namun terlihat jelas mahal; hadiah ulang tahun darinya tahun lalu dan dirawat dengan amat baik oleh tangan lembut Yoongi. "Kau harus makan gogi."
Setelah menarik napas dan merasa mantap hati, Yoongi membuka pintu dan keluar dari mobil. Wajahnya melongok sebentar untuk sekedar kembali menyapa Hoseok, senyumannya kini terlihat penuh percaya diri hingga Hoseok merasa begitu senang sahabatnya bisa memasang wajah seperti itu.
"Gogi di kedai kesukaanmu menunggu, jadi bergegaslah kau kukang jelek!"
"Sampai jumpa nanti, Hoseok-ah! Aku akan meneleponmu setelah ini selesai, hati-hati di jalan. Aku mencintaimu!" Yoongi setengah berteriak di kalimat terakhirnya karena langkahnya kini sudah beberapa meter jauhnya dari sahabatnya. Tangannya sempat melambai riang setelah akhirnya tangannya ia gunakan untuk menggenggam cangklongan tas yang menyimpan satu map berisi persyaratan untuk mendaftar di dalamnya.
Langkahnya ragu-ragu saat memasuki lorong yang kini penuh dengan pendaftar lain, merasa gugup entah karena apa secara dadakan. Ia pikir wajah cantik atau manis yang memenuhi salah satu lorong di kantor Park's House membuatnya benar-benar gugup, merasa ia mungkin akan ditolak mengingat ada syarat berpenampilan menarik di dalam persyaratannya. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa gugupnya agar lebih tenang dan tersenyum menyemangati dirinya sendiri.
"Kau pasti bisa melewati ini," gumam Yoongi lirih sambil memejamkan mata. Ia mencoba mengingat semua hal menyenangkan yang akan ia dapat jika berhasil lolos, menggunakan itu sebagai motivasi. Sekalian juga mengingat apa alasannya berada di sini, menjadikan hal itu sebagai tujuan.
Nomor urut masih pada angka dua belas saat menyadari ia berada pada angka dua puluh, mencoba berpikir masih ada waktu untuknya mengatur kegugupan. Ia harus berada dalam posisi tenang dan penuh percaya diri; pemasaran selalu berhubungan dengan orang lain dan akan sangat tidak mungkin jika ia gugup bahkan dalam keadaan tidak banyak orang, hanya para penilai untuk mempertimbangkan dirinya lolos atau tidak.
"Ingat Yoongi, ada gogi yang menunggumu untuk dimakan, pun kau tidak boleh berakhir di perusahaan Hoseok," ia terus merapalkan kalimat itu, menjadikannya sebagai mantra agar makin percaya diri.
Setelah beberapa lama terus mengucapkan mantra ajaib, suara seseorang memanggil nomor urut dua puluh menyadarkan Yoongi. Ia dengan sigap berdiri lalu melangkah ringan, masuk ke dalam ruangan dengan udara dingin yang mengelusnya saat ia berada di depan pintu tadi. Rasanya dingin bercampur menyejukkan saat ia sudah masuk dengan mata mengedar mencari tempat di mana ia harus duduk.
Seseorang mempersilakan dirinya duduk di sebuah bangku di tengah ruangan, wajah orang itu terlihat luar biasa tampan dengan senyuman menawan yang menarik hati. Yoongi ikut tersenyum saat ia sudah berada di bangku dan tetap mendapatkan senyuman manis dari lelaki di hadapannya. Di samping laki-laki itu ada seorang wanita sekitar kepala tiga berwajah cantik dan satu laki-laki lain terlihat seusia yang di tengah.
"Namamu?" Si tampan di posisi tengah menatap Yoongi dengan mata bertanya.
Yoongi terkesiap untuk beberapa saat karena tanpa sadar melamun, hatinya mengutuk kebiasaannya yang muncul dengan sangat tidak sopan. "Yoongi, Min Yoongi."
"Yoongi?" Wanita yang ternyata memiliki suara sangat lembut dan tenang itu tersenyum pada Yoongi, memberi rasa tenang pada hati si gadis karena ternyata ia tidak berada di tempat yang menyeramkan. "Baiklah Min Yoongi–ssi, bisa aku tahu kenapa kau mendaftar di sini? Juga jelaskan pada kami kenapa kau harus menjadi seseorang yang terpilih. Beritahu kami apapun yang sekiranya perlu dan ingin kau sampaikan," ujarnya dengan suara tenang.
Gadis di tengah ruangan itu tersenyum manis, ia mengangguk dan setelah itu menarik napas dalam untuk mulai berbicara. Ia tahu apa yang perlu ia katakan, sahabat baiknya si Hoseok itu sudah memberi tahu banyak hal tentang apa yang perlu ia katakan dan tidak perlu, juga memberi tahu apa boleh dan tidak boleh ia lakukan ketika wawancara. Semua kalimat tenang ia luncurkan, memberi tahu tentang alasannya datang, juga kelebihannya yang menjadi alasan kenapa perusahaan membutuhkan dirinya jika ingin lebih sukses. Jadi percaya diri dan beri sedikit hal berlebihan dalam kemampuannya tanpa memberi hal bohong, ia melakukannya dengan baik tanpa tersendat. Mendapati wajah penuh senyuman dan anggukan dari yang dilakukan tiga orang di hadapannya membuat Yoongi sedikit lebih percaya diri, setelah kalimat perkalimat yang ia katakan berakhir, ia memberi senyuman sopan dan mengatakan ia selesai, tidak lupa kata terima kasih atas perhatian yang mereka berikan di belakangnya.
Setelahnya ada beberapa pertanyaan sederhana yang dilontarkan, jawaban tenang lolos dari bibir Yoongi. Meski sesekali ia terlihat berpikir, tapi ia yakin jawabannya tidak ragu dan begitu matang. Terbukti dari senyuman puas setelah sang wanita di sisi kanan mengatakan wawancara mereka selesai.
Yoongi membukuk sambil mengucapkan terima kasih paa tiga orang di hadapannya, senyuman terus terkembang pada bibirnya karena ia merasa begitu lega sekarang. Bahkan saat ia melangkah ke luar dari ruangan bibirnya tidak bisa ia ubah, tetap mekar seperti bunga sedap malam yang cantik.
"Aku akan mendapatkan ini, juga gogi lezat di kedai Bibi Jung," ujarnya pelan setelah keluar dari ruangan dingin dengan penyejuk ruangan yang bersuhu lebih rendah daripada lorong. "Senyuman puas mereka tidak mungkin hanya formalitas, 'kan?"
Yoongi memutuskan untuk langsung pulang, mengirim pesan pada tempatnya bekerja paruh waktu dan mengatakan ia izin untuk satu hari. Hari ini ia mau istirahat dan berdoa habis-habisan pada Tuhan nanti di sore hari, meminta usahanya untuk mendapat pekerjaan tidak dipersulit.
Saat melangkah untuk berbelok dari lorong, tanpa sengaja ia menubruk seseorang hingga dirinya terjatuh. Yoongi memekik saat merasakan benturan pada pantatnya, mengerang pelan karena rasanya sakit. Ia mendongak, mendapati seorang pemuda luar biasa tampan dalam balutan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya.
Berpikir bahwa mungkin orang yang ditabraknya adalah orang penting, ia langsung saja berdiri kelabakan, mencoba merapikan roknya yang tersingkap sedikit saat berdiri lalu membungkukkan badan banyak kali. "Maaf, maafkan kecerobohan saya," gumamnya pelan. Ia tidak berani menatap wajah orang di hadapannya yang hanya berdiri tenang tanpa berniat mengeluarkan kata apapun, lagi pula ia merasa sedikit tidak nyaman karena tinggi orang di hadapannya terasa bagitu jauh.
"Kau salah satu pendaftar?" Suara dari orang di hadapannya akhirnya keluar, suaranya tenang namun begitu dalam hingga Yoongi sempat hilang akal dalam waktu sepersekian detik.
Yoongi mengangguk sopan, tersenyum sederhana sekedar untuk basa-basi. "Saya baru saja akan pulang dan berakhir nenabrak Anda, mohon maafkan kecerobohan saya tadi."
"Oh," laki-laki itu mengangguk paham melihat tingkah menggemaskan gadis mungil di hadapannya, menatapi pakaiannya yang hanya dengan kemeja formal warna putih, flared skirt polkadot yang menyembunyikan ujung kemeja, dan dengan percaya diri menggunakan flat shoes warna hitam tanpa berpikir menambah tinggi sederhananya. "Kalau begitu, maaf membuatmu jatuh tadi."
Yoongi membungkuk sopan, tersenyum sederhana pada orang di hadapannya sekali lagi lalu mulai melangkah meninggalkan kantor Park's House.
.
.
.
Pengumuman diterima atau tidak untuk pekerjaan di divisi pemasaran akan keluar tiga hari setelah pendaftaran dan begitu tiga hari itu berlalu Yoongi sendiri dengan tidak sabar menanti, berharap banyak pada senyum para penilai kemarin agar mau menerimanya dengan senang hati. Ia sudah berdoa hampir tiap malam dan meminta pada Tuhan agar kali ini jalannya mendapatkan pekerjaan tidak perlu lebih sulit, berharap banyak agar Hoseok tidak perlu membuat dirinya bekerja di kantor milik orang itu juga mendapat gogi sepuasnya.
Pesannya mungkin akan dikirim nanti siang, jadi ia mematikan ponselnya dan mulai bekerja melayani pembeli yang belum terlalu ramai karena ini adalah hari sibuk pada jam yang sama sibuknya. Hanya beberapa orang yang berminat datang untuk brunch atau sekedar kencan untuk urusan masing-masing dan memilih membicarakannya sambil menyeduh sesuatu hangat di pagi hari.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang Yoongi sudah melepas celemek dan menggantungnya, juga merapikan rambutnya yang tadi dijepit beberapa jepitan untuk memasang topi kecil khas café tempatnya part time. Ia meraih ponselnya yang selalu ia simpan di dalam tas, menemukan ada lima pesan masuk e-mailnya yang belum dibaca dan kemudian satu pesan menarik hatinya dengan nama pengirim Park's House.
Karena penasaran, ia langsung menekan pesan itu untuk membuka isinya. Berharap banyak pada pesan yang masuk untuk pekerjaan tetap dengan gaji yang mungkin jauh lebih memadai daripada paruh waktu yang melelahkan.
"Oh—Hoseok!" Yoongi memekik, matanya berbinar ceria sambil menatap ponselnya penuh rasa bahagia yang meledak-ledak. "Aku diterima!" Suara pekikannya masih tertahan namun penuh dengan senyuman senang. Ia peluk erat ponsel kesayangannya, merapalkan beberapa kalimat syukur juga puja–puji untuk Tuhan yang sudah dengan baik hati mengizinkannya mendapat pekerjaan itu. "Tuhan, Kau sungguhan yang terbaik!"
Yoongi baru saja keluar dari toko buku tempatnya bekerja paruh waktu pukul enam sore hari. Ia mengecek aplikasi chat-nya dan melihat percakapan dengan Hoseok, menemukan chat terakhirnya setelah membantunya mempertimbangkan beberapa hal untuk kerja paruh waktunya tadi dan hanya dibaca oleh sahabatnya itu. Mungkin Hoseok sudah menunggu di parkiran, pikir Yoongi.
Setelah mempertimbangkan beberapa part time-nya yang ingin ia buang, ia memilih untuk tidak bekerja paruh waktu di siang hari dan membuat tugasnya menjaga sebuah minimarket dekat apartemen kecilnya, juga membuat hari Minggu yang merupakan hari libur kantor untuk menjaga toko buku di sebuah mall besar. Memutuskan membuang tiga kerja paruh waktunya yang memang ada pada jam-jam kantor. Ia berterima kasih banyak pada Hoseok yang mau mendengarkan masalahnya dan memberi saran, serta berjanji untuk mengajaknya makan di Kedai Bibi Jung kesukaan Yoongi untuk memberi selamat.
Jadi sekarang setelah keluar dari tempatnya bekerja paruh waktu, Yoongi menemukan mobil hitam metalik yang menarik sudah terparkir rapi di sebelah mobil-mobil lain. Itu mobil Hoseok, dengan plat nomor yang selalu dihapal oleh Yoongi. Ia tersenyum cerah, bersyukur karena sahabatnya yang satu itu mau merelakan waktu berharganya hanya untuk sekedar makan di kedai murah, jelas kedai yang tidak sebanding dengan uangnya dan tempat ia biasa makan.
"Hei!" Yoongi menyapa sambil mengetuk jendela pengemudi yang di dalamnya ada Hoseok, memberi senyuman cerah yang selalu ia pasang di wajahnya jika itu untuk berbicara dengan Hoseok; teman baiknya yang sudah lebih dari lima tahun itu.
Orang yang di dalam menoleh, ikut tersenyum riang saat mendapati sahabat perempuannya menyapa. Ia membuka jendela lalu mengatakan pada Yoongi untuk masuk ke pintu penumpang dengan kialan yang hanya dipahami gadis itu.
"Kedai Bibi Jung?" Sambut Hoseok saat gadis cantik dengan pants mini skirt hitam, kaos putih bergaris hitam kecil masuk ke dalam pants mini skirt-nya, tidak lupa stocking hitam yang menutupi seluruh kakinya. Gadis itu terlihat sangat menawan namun sopan karena tidak terlalu banyak kulit yang terlihat.
Yoongi menyamankan posisinya lalu mengangguk, "gogi sudah menungguku untuk dimakan!"
Sebenarnya tidak butuh waktu lama bagi Hoseok untuk membawa mereka menuju kedai langganan Yoongi karena memang tempatnya yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada tadi, hanya saja mereka berdua memang memilih berjalan pelan sambil mengobrol banyak dalam mobil. Dalam mobil mereka membahas tentang apa yang ingin Yoongi makan, juga beberapa hal tentang rencana Yoongi untuk kerjanya nanti. Hoseok tahu seberapa sibuknya seorang bagian pemasaran, jadi ia mewanti-wanti sahabat perempuannya yang keras kepala itu untuk menghentikan kerja part time sesegera mungkin karena ia akan sangat lelah setelah dari kantor.
"Kenapa kau begitu terobsesi dengan pekerjaan, Yoongi? Kau bisa patah tulang lama-lama," Hoseok berkomentar pada pernyataan Yoongi yang intinya ia akan memenuhi harinya dengan bekerja.
Yoongi tertawa kecil, ia terlihat menerawang untuk beberapa saat. "Sekarang siapa yang tidak butuh uang? Aku bekerja agar aku kaya."
"Menikahlah denganku kalau begitu, kau bisa langsung kaya setelah itu."
"Yang benar saja!" Gadis itu tertawa sambil menepuk bahu sahabatnya gemas. "Aku takut kekasihmu akan menghajarku nanti, apalagi dia adalah laki-laki."
Hoseok ikut tertawa sambil menggeleng kecil. "Aku akan menjadi straight dengan suka rela jika kekasihku itu kau, sayangnya aku tidak berminat meninggalkan kekasihku untuk sementara ini."
"Oh, apa kau baru saja mengatakan kau ingin menjadi kekasihku cepat atau lambat?"
"Apa menurutmu begitu?" Alis Hoseok bergerak lucu, menggoda gadis di sebelahnya yang tertawa makin keras. "Kau tidak pantas mendapatkan seorang gay, Yoongi-ah. Kau harus mendapatkan laki-laki bersih yang menyukai buah dada, bukan buah zakar."
"Astaga, Hoseok!" Pekikan nyaring gadis itu membuat Hoseok tertawa keras, pukulan dari tangan kurus dan kecil itu sungguhan tidak menghasilkan apa-apa dan justru membuat suara tawa makin menjadi. "Jaga bicaramu, ya!"
"Baiklah, Tuan Putru Min," goda Hoseok sambil mengerem mobilnya. "Nah, kita sampai. Ayo turun? Gogi menunggu!"
"Yehey, gogiii!" Gadis itu membuka pintu dan langsung meloncar turun, wajahnya kini jadi begitu cerah sambil menunggu Hoseok mengajaknya masuk.
Mereka masuk sambil bergandengan tangan yang bergerak seperti anak kecil, selalu begitu karena memang itu kebiasaan mereka sejak sekolah. Sang pemilik kedai berseru riang menyebut nama dua orang yang sudah ia kenal baik. Seorang wanita tua berwajah sumringah tiap saat itu menghampiri dua sejoli yang berdiri menunggu kedatangannya di ambang pintu. Saat wanita itu sudah sampai di hadapan mereka ia langsung meraih lengan Yoongi dan menariknya ke sebuah tempat kosong.
"Hoseok memesan satu tempan dan dua potong besar daging. Aku kira itu karena sesuatu spesial, jadi aku memberi kalian tempat paling nyaman di kedaiku."
Yoongi tersenyum malu-malu, "ini hanya perayaan kecil-kecilan karena aku mendapat pekerjaan tetap, Bibi Jung. Anda seharusnya tidak serepot ini," ujarnya dengan wajah yang menggemaskan.
Wanita itu tertawa, mengangguk paham. "Itu sesuatu yang penting, Yoongi-ah. Baiklah, tunggu di sini biar aku ambilkan daging kesukaanmu. Setelah itu kau harus tumbuh lebih tinggi, oke?"
"Bibi Jung!" Gadis itu menautkan bibirnya, merasa baru saja dikomentari tentang tingginya yang sederhana. "Aku tetap lebih tinggi dari Bibi Jung, ish!"
Setelah menunggu sambil mengobrol, Bibi Jung kembali sambil membawa daging kesukaan Yoongi yang sudah diiris menjadi beberapa potong. Yoongi menyambutnya dengan senyuman cerah sementara Hoseok tertawa melihat bagaimana wajah gadis di hadapannya terlihat begitu lucu karena kelaparan dan begitu menginginkan daging.
"Selamat makan besar, gadis manis," Bibi Jung tersenyum setelah meletakkan daging ke meja, ia lalu pergi untuk melayani pembeli lainnya setelah Yoongi dengan riang mengucapkan terima kasih.
Dengan tidak sabaran Yoongi memotong dagingnya, membuatnya menjadi seukuran satu suapan dan membakarnya. Suara lemak yang meleleh karena panas terdengar menggoda, Yoongi setengah mati menahan nafsunya sambil terus memotong daging agar penggorengan penuh dan membalik bagian yang sudah matang.
Ia mendesah penuh nikmat saat rasa daging bercampur dengan rasa nasi serta beberapa lauk lainnya yang ia suap lewat sendoknya, menggumamkan beberapa kata seperti memuji atau bersyukur dengan rasa yang masuk lewat lidahnya. Hoseok menyusul saat dengan mulut penuh Yoongi menyuruhnya makan, meletakkan potongan daging yang sudah makan ke mangkuk berisi nasi yang ada di hadapannya.
"Nikmati kebahagiaanku, Jung Hoseok!" Perintahnya sambil melahap kembali makanan yang tersedia.
"Kau senang?" Hoseok bertanya setelah membayar pesanannya tadi sambil memperhatikan Yoongi yang terlihat setengah mabuk setelah berbagi satu botol mekju dengannya. Wajahnya memerah manis dengan mata sendu yang makin turun, ia memang tidak terlalu baik dalam minum namun tidak sampai taraf berakhir hangover; Yoongi selalu tahu batas kekuatannya.
Yoongi mengangguk, senyumannya terkembang lebih lebar dari biasanya karena mabuk. "Terima kasih, Hosikii," suaranya setengah bergetar, sungguh khas orang mabuk dengan getaran dan beberapa suara parau.
Hoseok tertawa melihat sahabatnya itu, ia langsung saja merangkul bahu sempit itu untuk dibawa ke mobil dan diantar pulang. "Kau besok mulai bekerja, 'kan?" Ujarnya setelah membiarkan Yoongi berjalan sendiri untuk masuk ke bangku penumpang. "Jadi segera pulang, persiapkan pakaian terbaikmu, hari pertama bekerja pasti akan sangat mendebarkan."
"Aku sudah memikirkan baju apa yang perlu aku pakai," Yoongi menggumam. "Flared skirt hitam dari pinggang hingga tepat di atas lutut, kemeja peach muda yang manis, juga flat shoes hitam kesukaanku." Suaranya seperti racauan entah karena mabuk atau karena dirinya yang sudah sedikit mengantuk dan bersiap pergi ke alam mimpi.
"Kau pasti akan sangat cantik nanti," pujian terlontar begitu saja dari Hoseok yang sudah menyalakan mesin mobilnya. "Setelah ini biar aku belikan kau high heels supaya tubuhmu jadi sedikit terlihat, oke?"
"Tidak mau!" Suara Yoongi meninggi, matanya kini melirik tajam pada Hoseok. "Aku tidak suka sepatu dengan hak, merepotkan! Lagi pula kalau aku mau aku bisa membelinya sendiri, tidak perlu kau belikan."
"Itu hadiahku yang lain karena kau diterima di divisi pemasaran Park's House, kau yakin kau tega menolak dan tidak tidak akan memakainya?"
"Hoseok!"
"Baiklah, baiklah," Hoseok menghela napas. Sahabatnya sungguhan keras kepala! "Aku tidak mau mendengarmu mengeluh tentang teman sekantormu yang mengomentari penampilanmu, sepatu tanpa hak terkadang terlihat sedikit tidak sopan, loh. Semua pegawai perempuanku menggunakannya."
"Benarkah?" Yoongi mengerjap, kemudian ia terlihat seperti tengah menimang. "Mungkin aku bisa membeli sepatu dengan hak pendek. Dua sampai lima senti tidak masalah, tapi tidak dengan kau belikan."
Kali ini yang di belakang kemudi tertawa, "terserah kau saja. Aku yakin kau jadi makin menarik jika memakai hak tinggi dan membuat kaki kecilmu itu terlihat sedikit lebih panjang."
"Ya, dan setelah itu atasanku akan melirikku dan jatuh cinta padaku, akhirnya aku tidak perlu bekerja karena aku akan menikah dengan atasanku. Oh, betapa sederhananya hidup," suara Yoongi terdengar seperti sindiran bercampur candaan, mengatakan hal itu bukan sebagai harapan tapi sebagai sarkasme pada dirinya sendiri. Yoongi tertawa kecil, "mana mungkin bisa seperti itu."
Hoseok tertawa lebih kencang, kali ini bersamaan dengan Yoongi yang tertawa geli karena kalimatnya sendiri. "Geurae, itu bisa terjadi. Tapi jika atasanmu itu aku," candanya yang kemudian larut dalam tawa bersama.
To Be Continue…
Oh astaga, aku suka banget sama pertemanan Hoseok dan Yoongi! Mereka menggemaskan, 'kan? Omong-omong, karena aku enggak punya pasangan buat Hoseok, jadi aku putusin bikin dia sebagai sosok gay. Mungkin di beberapa chapter ke depan aku bakal kasih lihat alasan kenapa Hoseok gay, atau mungkin engga, yeah karena dia bukan pemeran utama. (giggles)
Dari sini masih point of view dari sisi Yoongi, jelasin gimana Yoongi itu. Aku pun putusin buat Yoongi jadi tokoh sungguhan utama di sini dan beberapa chapter ke depan; itu berarti enggak menutup kemungkinan Jimin bakal berubah jadi sisi yang aku ceritain lebih banyak.
Jimin belum muncul, pasti kalian enggak sabar ya? Oh! Tapi di sini Jimin muncul kok, bukan sebagai yang namanya disebut sih, tapi kalian tau kan dia yang mana? (giggles sekali lagi)
Omong-omong, apa gaya penulisanku berubah? Haha pertanyaan apa ini. Temenku bilang aku sedikit berbeda di cara penulisan, dan apa itu menganggu kalau gaya penulisanku sedikit berubah?
Terakhir, apa pendapat kalian tentang chapter ini? Masih menarik kah ceritanya? Atau enggak sesuai ekspetasi kalian yang di prolog kemarin? Perlukah berlanjut atau berhenti aja di sini?
