copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated
Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu
Yoongi berangkat pagi-pagi sekali saat langit terlihat mendung, dalam hati ia menggerutu karena belum sempat membeli payung baru dan berharap banyak pada langit agar tak segera turun hujan. Perjalanan dari halte perhentiannya menuju kantornya berada tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya basah jika hujan turun. Ia menyalahkan Namjoon, kekasih Seokjin yang ceroboh, menggunakan payungnya untuk membeli barang yang Seokjin inginkan di mini market dan menutupnya dengan payah hingga kerangkanya patah. Ia mencatat dalam note-nya untuk membeli payung nanti setelah pulang dari kantor karena sekarang sudah memasuki musim gugur yang berarti akan banyak hujan.
Saat bus yang ia naiki tiba di halte dekat kantor, ia menemukan rintik-rintik hujan yang tadi hanya sedikit membasahi bumi kini sudah jadi cukup deras jika ia harus berlari menuju kantor; orang-orang yang turun di tempat yang sama sudah berlarian untuk menembus hujan atau dengan beruntung membawa payung untuk menemaninya berjalan. Ia bisa basah kuyup jika nekat dan ia tidak akan kuat dengan dingin, tapi ia bisa terlambat jika menunggu terlalu lama di sini. Ia berharap banyak pada teman satu kantor yang mengenalnya lewat dan dengan baik hati memberinya tumpangan meski sebenarnya merasa sia-sia karena ia hanya pekerja baru yang pasti masih asing bagi pegawai lain.
Sudah sepuluh menit Yoongi menunggu, tapi hujan tetap saja deras bahkan bertambah. Ia menggerutu pelan, merasa kesal juga pada langit yang tidak mau bekerja sama dengan dirinya agar bisa segera tiba di kantor sebelum berangkat. Ini baru jadi hari ke sepuluhnya bekerja, sangat tidak baik jika ia terlambat.
Hingga dari jauh ia melihat sebuah mobil mahal, mobil yang ia kenali sebagai mobil presiden perusahaan tempatnya bekerja, mobil Tuan Park yang selalu terparkir di parkiran khusus untuknya dengan tempat yang teduh dan memiliki penghalang sinar matahari ataupun hujan untuk sampai di sana.
"Tuan Park sudah tiba dan aku belum bisa ke kantor," Yoongi mendesah penuh rasa bersalah karena tidak dengan cerdas meminjam payung Seokjin tadi sebelum berangkat dan justru menggerutu pada payungnya yang rusak.
Masih sibuk dalam dunianya, ia sampai tidak menyadari mobil yang ia lihat dari jauh dan sangat ia kenali itu berhenti tepat di depan halte. Ia baru menyadari saat jendela mobil itu turun dan seseorang dari dalam memanggil dengan sapaan sederhana. "Apa kau butuh tumpangan?" Seseorang di dalam bangku penumpang bertanya dengan senyuman simpul yang begitu manis sampai Yoongi terkesima. Ia terkejut mendapati wajah seorang presiden perusahaannya kini berada beberapa meter di hadapannya dan mengejaknya berbicara di luar tempat bekerja dan bahkan menanyakan hal macam tumpangan.
"O–oh, Presdir Park?" Yoongi menggeleng sambil tersenyum, berusaha sesopan mungkin agar tetap menunjukkan rasa hormat karena tadi wajahnya tertekuk dan bibirnya sibuk menggerutu. "Tidak perlu, Tuan. Saya bisa menunggu di halte saja, jog mobil Tuan bisa basah jika saya masuk." Ia mengerling pada bagian bawahnya yang terkena cipratan air, sepatu hak sedang pemberian Hoseok sudah basah dan terasa dingin di kakinya.
"Benarkah?" Jimin—orang yang berada di bangku belakang mobil yang berhenti tiba-tiba di hadapannya itu— terlihat memasang ekspresi berpikir, membuat wajahnya berkali lipat menawan di mata Yoongi—ia suka melihat laki-laki menatap ke atas dengan bibir ditipiskan untuk berpikir. "Aku tidak tahu itu bisa terjadi. Kenapa kau tidak coba masuk dan buktikan?"
"Bagian bawahmu basah sepenuhnya," Jimin berkomentar saat melihat lantai mobilnya terdapat banyak air yang ternyata dari sepatu hak sedang milik Yoongi.
Ia berhasil memaksa Yoongi setelah sekitar lima menit melakukan obrolan dengannya yang penuh penolakan. Dalam hati menggerutu pada sosok kecil yang keras kepala di bangku halte dan sekarang merasa lega sosok itu mau menerima tawarannya karena sosok itu terlihat tidak punya harapan menuju kantor selain tumpangannya.
Yoongi menyadari kakinya dingin dan basah sejak awal, ia mendadak merasa bersalah sudah menyerah dan membiarkan Jimin memaksanya masuk hanya dengan kata-kata. Seharusnya ia tetap menolak dan membiarkan mobil presdir perusahaan tempatnya bekerja tetap kering. Apa lagi ia tidak cukup pantas dilihat dari sisi manapun berada di mobil yang sama dengan Jimin, apa lagi mobil itu milik si pemuda sukses di sebelahnya. "Maafkan saya, Tuan. Biar nanti saya—"
"Pakai ini," ia menyela begitu saja sambil memberikan satu bungkus plastik dengan kardus merah yang membungkus sesuatu di dalamnya. Yoongi bertanya-tanya apa itu hingga ia menyadari bahwa yang ada di dalam situ adalah sepasang sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi yang sangat manis setelah Jimin mengeluarkan kardus dari plastik dan membukanya. Sepatu dengan logo Park's House yang berarti sepatu milik perusahaan seseorang di sampingnya. Oh, sepatu yang ada di hadapannya kali ini pasti sangat mahal! "Adikku meminta sepatu dan aku membeli banyak yang seperti itu untuknya, jadi mungkin kau bisa memilikinya satu. Dia tidak akan menghitung jumlah sepatu yang aku belikan."
"Tuan… ini terlalu—"
"Pakai saja," sekali lagi Jimin menyela dengan wajahnya yang dingin dan angkuh, memberi tatapan penuh paksaan dan dominasi agar sosok di sampingnya menurut. Kemudian matanya turun ke sepatunya, "atau perlu aku pakaikan?"
"Jangan!" Yoongi memekik heboh saat melihat Jimin sudah menunduk untuk meraih sepatunya yang basah. Tidak, itu terlalu berlebihan jika membiarkan seorang pengusaha kaya mengganti sepatunya, berlebihan dan tidak tahu diri. Ia menyadari sempat berteriak, jadi ia menggumamkan kata maaf beberapa kali sambil memaki dirinya sendiri dalam hati. "Bi–biar saya sendiri yang menggunakannya, Tuan."
Jimin tersenyum simpul dan mengangguk kecil. "Aku sering melihatmu di bagian pemasaran," ia tiba-tiba bersuara. Matanya yang tadi menatapi Yoongi berpindah ke depan.
Yoongi terkesiap, tangannya terhenti memakai sepatu yang ada di kakinya. Ia menegakkan duduknya, menoleh pada Jimin penuh tanya. "Iya? Saya hanya pegawai baru, Tuan."
"Pantas wajahmu terlihat asing," ia menjawab cepat.
Yoongi pikir mungkin Jimin memang pengingat yang baik, itu berarti beberapa pegawai di divisi kecil pun ada di ingatan seorang Park Jimin. Ia bisa saja sebenarnya orang perhatian yang baik.
"Siapa namamu?"
Yang ditanya terkejut, ia mengerjap beberapa kali. "Yoongi," jawabannya terdengar ragu. "S–saya Min Yoongi, Tuan Park."
"Baiklah Yoongi," Jimin menatap ke luar. "Kau bisa turun terlebih dahulu dan segera masuk."
Dalam hati Yoongi menggerutu karena terlalu terpesona pada sosok di sebelahnya dan tenggelam dalam pikiran tentang orang itu hingga tidak menyadari dirinya sudah tiba di kantor. Ia segera turun dari mobil dan membungkuk sopan setelah berada di luar. "Saya sangat berterima kasih pada tumpangan yang Anda berikan, Pesdir Park."
Jimin memperhatikan Yoongi dari mobil, tersenyum tipis melihat langkahnya yang lucu hingga sosok itu menghilang setelah masuk ke dalam kantor. "Manis," ia menggumam tipis, dalam hati berterima kasih banyak pada Tuhan yang sudah menurunkan hujan dan membuat sosok mungil yang sudah ia perhatikan sejak lama harus menunggu hujan hingga membuatnya bisa menawarkan tumpangan meski hanya beberapa menit.
.
Luar biasa, belum genap satu bulan bekerja dan dia mendapat tumpangan cuma-cuma dari seorang presdir perusahaan. Sungguhan keajaiban yang tak terduga hingga Yoongi harus mencubit lengannya sendiri tidak percaya. Ia mengerling pada sepatu yang ia gunakan tadi dan sudah tertata di rak, itu bukti bahwa yang terjadi bukan sekedar khayalan. Tapi, kenapa bisa? Apa Park Jimin yang dingin itu memang sebenarnya sangat penyayang dan perhatian? Yoongi nyaris gila memikirkan alasan seorang CEO Park's House rela memberikan tumpangan pada sosok miskin sepertinya, bahkan membiarkan lantai mobilnya basah dan memberi sepatu yang seharusnya untuk adiknya.
Ia masih ingat aroma menyenangkan dengan udara cukup hangat dibandingkan dinginnya udara luar di dalam mobil presdirnya, juga senyuman tipis dari sosok itu yang menyerahkan sepatu padanya seperti memberi minuman dingin; seperti bukan barang mahal yang diberikan padanya.
Suara gemerisik dari luar membuat Yoongi menoleh, menemukan sosok Seokjin dengan coat coklat caramel yang selalu ia banggakan tengah melepas sepatu dan menatanya di rak. Seokjin pulang lebih malam hari ini yang Yoongi simpulkan karena pekerjaannya hari ini butuh waktu lebih lama.
Seokjin adalah model, belum benar-benar terkenal tapi sudah mendapat kontrak dua tahun dengan perusahaan Hoseok. Yoongi yang mengenalkan Seokjin pada sahabatnya itu, dan entah bagaimana Hoseok tertarik membuat Seokjin menjadi model perusahaan. Tubuh Seokjin bisa dibilang body goals karena tubuhnya tinggi, kaki jenjang, leher kurus yang menarik, perut dengan eleven abs, pinggul proposional hingga tubuhnya membentuk S–line, tidak lupa wajahnya yang cantik seperti tuan putri dengan bibir penuh yang menggoda dan mata selalu membentuk lengkungan indah tiap tertawa. Yoongi dengan senang hati mengaku dirinya akan iri setengah mati pada sahabatnya itu jika ia bukan sahabatnya.
Hoseok masuk dengan wajah kelelahan dan senyuman tipis terukir untuk ia tujukan pada Yoongi. Tangannya bergerak untuk melepas coat dan menggantungkannya ke tempat coat itu biasa menggantung. Ia kemudian duduk di sebelah Yoongi sambil meluruskan kakinya ke meja. "Apa Hoseok menghadiahimu sepatu baru lagi?" Ia bertanya setelah merebut remot di tangan Yoongi dan tidak mendapatkan perlawanan apapun.
Kening Yoongi mengerut, berpikir sejanak kemudian menggeleng kecil. "Tidak. Ada apa?"
"Tidak?" Seokjin membeo dengan mata mengerjap bingung, ia melirik sebentar Yoongi setelah kemudian fokus bada televisi yang kini menunjukkan acara drama yang selama dua minggu ini sudah ia ikuti. "Lalu sepatu hitam dengan logo Park's House itu dari siapa? Kau membelinya sendiri?"
"O–oh, itu…," ia terlihat gugup menyadari sepatu yang Seokjin masuk. Tangannya ia gunakan untuk menggaruk lehernya yang tidak gatal kemudian tersenyum tipis. "Anggap saja aku membelinya sendiri."
"Itu keren," Seokjin terkekeh, ibu jarinya ia acungkan pada Yoongi. "Aku tidak tahu kau punya selera tentang sepatu hak tinggi, biasanya yang kau beli sekedar converse atau vans. Semua hak tinggi bermerek yang kau milik pasti dari Hoseok."
Yoongi terkekeh canggung, mengangguk ragu-ragu. "Begitulah. Yuju membuatku belajar sedikit tentang sepatu untuk gadis sepertiku."
Tanpa curiga apapun Seokjin mengangguk, ia tersenyum. "Senang mengetahui dirimu sudah mulai menyadari bahwa sepatu dengan hak tidak buruk."
Seandainya kau tahu itu pemberian bosku, apa kau percaya, Seokjin-ah? Yoongi membatin dalam hati, dengan diam memperhatikan Seokjin yang seperti biasa membersihkan wajah tanpa cermin di ruang tengah sambil menonton televisi meski satu matanya tengah dibersihkan; menonton drama atau apapun yang ditayangkan dengan mata satu.
"Omong-omong, Yoongi," Seokjin bersuara setelah wajahnya yang tertumpuk make up kini bersih dan ia terlihat lebih polos daripada mata tajam dan bibir bergradasi merah dan hot pink. Ia memperhatikan sosok Yoongi dari atas ke bawah, "aku pikir sekarang kau jadi lebih feminim. Kau jatuh cinta pada laki-laki penyuka perempuan sejati?" Ia tertawa setelah mengatakan kalimat itu.
Yang ditanya mengerut heran sambil terkekeh kecil, "benarkah? Aku hanya mengikuti gaya teman satu kantorku berpakaian."
Seokjin mengangguk paham, ia tersenyum sambil menepuk bahu Yoongi. "Kau tahu, tubuh mungilmu sangat pantas dengan hal-hal feminim seumuran gadis high school. Cobalah menggunakan sepatu berhak yang membuat kakimu terlihat lebih panjang, kau akan jauh lebih cantik."
Yoongi mendengung kecil, "aku tidak terlalu senang dengan heels, menganggu."
"Heels tidak semenganggu itu," Seokjin tertawa kecil. Mengingat profesinya yang sebagai model tentu saja bukan hal yang memberatkan jika ia menggunakan heels, tapi Yoongi adalah gadis tomboy yang tidak pernah senang berurusan dengan sepatu berhak meski tubuhnya tidak bisa dikatakan tinggi, satu-satunya yang ia gunakan dan bisa menambah sedikit tingginya hanya sepatu dengan sol tebal.
Yoongi tersenyum, kakinya mengelus betisnya yang masih terasa pegal karena ternyata heels yang diberikan Jimin tadi siang lumayan tinggi dibandingkan sepatu pemberian Hoseok yang biasanya. "Aku pikir aku tidak bisa dengan sesuatu semacam itu," ia terkekeh kecil.
"Kau akan biasa nanti, kau bisa meminjam sepatuku kalau kau mau mulai mencoba."
"Sepatumu?" Suara Yoongi seperti tidak percaya dengan nada geli di dalamnya. "Pertama, sepatumu itu punya ukuran lebih besar dari sepatuku, dan kedua sepatumu semuanya tinggi hingga aku yang melihatnya pun pegal."
"Tinggi?" Kening Seokjin mengerut dan memberi tatapan tidak setuju pada pernyataan sahabatnya. "Yang benar saja, Yoongi. Memang kakimu selemah itu?"
"Otot betisku tidak pernah bisa menerima hal semacam itu, Seokjin-ah."
Seokjin tertawa kecil, mengangguk paham mengingat temannya memang tidak punya hubungan baik dengan sepatu hak tinggi sejak lama. "Terserah kau juga, aku yakin pasti cepat atau lambat kau akan terbiasa dengan sepatu berhak."
.
.
.
Yoongi melihat lagi sosok Jimin di kantor—seperti biasa, sosok itu melangkah dengan wajah tenang yang sangat tampan lewat eskalator. Ia bertanya-tanya bagaimana si pemilik perusahaan memilih naik lewat eskalator daripada lift, tapi juga bersyukur sepenuh hati karena sosok itu yang lebih memilih eskalator dan membuatnya jadi sering mendapati pemandangan indah tiap pagi.
Ia masih teringat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya bisa berada dalam satu mobil yang sama dengan sosok itu, bertanya-tanya bagaimana wajahnya diingat oleh sosok Jimin padahal baru dua kali mereka benar-benar bersitatap. Pertama bertemu dengan si presiden direkturnya adalah saat menyerahkan berkas yang tidak bisa Yuju berikan, itu pun bisa bertemu karena Jimin tengah di luar dan mengobrol bersama sekretarisnya. Yang ke dua karena tengah ada rapat pemasaran dan sosok itu masuk ke ruang rapat untuk mengecek, selagi memiliki waktu ruang dan ingin melihat kerja para manager dan divisi katanya. Hanya sesederhana itu, tapi cukup untuk membuat sosok itu teringat padanya, sungguhan hal luar biasa baginya. Ia jadi nampak sangat pantas menjadi seorang presiden sebuah perusahaan sebesar Park's House.
"Yoongi," Yuju memanggil, menyenggol lengannya kurus Yoongi dengan nada suara geli. "Kau melamun. Apa Presdir Park setempan itu?"
Yoongi mengerjap, menatap bingung Yuju dengan mata sipit yang melebar lucu. "Aku tidak melamun," ia mengelak.
"Kau terlihat melamun," yang lebih tinggi bersikeras, terkekeh kecil melihat temannya yang merengut memberi penolakan. "Tidak masalah kau jatuh cinta padanya, asal siap patah hati saja."
Ia menoleh tiba-tiba pada Yuju, nyaris membuat orang itu melonjak karena terkejut. "Yuju!" Matanya memberi tatapan lebar yang manis, "apa Presdir Park punya ingatan yang baik? Apa dia mengingat wajahmu dengan baik?"
Yuju terlihat berpikir, mencoba menggali ingatannya tentang Tuan Park yang tampan. Ia kemudian menggeleng kecil. "Tidak juga. Dia kenal aku Yuju, tapi tidak dengan mudah mengingat wajahku saat awal bekerja di sini."
"Iya? Butuh berapa lama?"
"Dua bulan?" Yuju masih tetap berpikir. "Aku kurang yakin, tapi dia tidak bisa benar-benar mengingatku saat awal aku bekerja."
Kening Yoongi mengerut, matanya yang tadi penuh rasa penasaran kini berubah menjadi tatapan bingung. "Dua bulan ya?"
Jika Yuju perlu waktu dua bulan, lalu kenapa dirinya dengan mudah diingat Presdir Park padahal belum genap dua minggu? Apa karena tubuhnya yang kecil? Atau wajahnya yang tidak semenarik divisi lain? Atau karena dirinya pernah melakukan hal yang tidak ia sadari sudah membuat sosok Jimin itu terus teringat pada wajahnya? Rasanya aneh setelah mengetahui Yuju tidak dengan mudah diingat tapi dirinya lumayan sering. Dia tidak benar-benar bisa menemukan alasan itu, tapi dalam hati terus mempertanyakan dan mencari kemungkinan yang ada.
.
"Yoongi, bisa antarkan berkas ini ke ruang Presdir? Aku ada perlu ke luar dan harus segera ke sana, tidak bisa mengantarnya sendiri. Kau bisa bantu aku 'kan?" Yuju menatap Yoongi penuh permohonan. "Tuah Oh meminta aku merapikannya dan menyerahkan pada Tuan Park tepat waktu yang itu berarti hari ini, tapi ternyata aku tidak bisa menyerahkannya. Tolong aku, ya?"
Yoongi mengerjap, melihat map yang di ulurkan Yuju kemudian tersenyum dan mengangguk tulus. "Tentu, Yuju-ya. Akan aku antarkan, kau bisa percaya padaku. Hati-hati di jalan, pai!"
Yuju menggumamkan banyak kata terima kasih sambil melambaikan tangannya pada Yoongi yang tersenyum manis padanya. Mulutnya terus bergerak untuk mengatakan sampai jumpa dan terima kasih banyak hingga Yoongi tertawa gemas sekaligus sebal.
"Ke ruang Presdir Park," Yoongi menggumam sambil memegang mapnya. "Aku tiba-tiba saja menyesal menerima permintaan tolong Yuju."
Ia mengerling pada jam di dinding. Menemukan angka tiga sudah ditunjuk dengan jari pendek jam dinding. "Bahkan seharusnya aku sudah pulang," ia menghela napas. "Sudalah, ini kan amanah."
Ia menaiki lift menuju lantai tempat Presdir Park berada. Mengingat seharian ini sosok itu tidak terlihat turun dari atas, ia berharap banyak sosok itu sedang berada di ruangannya dan membuatnya hanya bertemu sang sekretaris daripada harus melihat sosoknya yang tengah mengobrol tentang jadwal pada gadis dewasa yang cantik bernama Ahn Heeyeon, yang bekerja sebagai seorang sekretaris pribadi sekaligus pengatur jadwal padat seorang Park Jimin.
Saat suara denting lift berbunyi dan angka pada layar di atas pintu menunjukkan angka tujuh ia segera melangkah ke luar. Sebenarnya ia bertanya-tanya kenapa Jimin memilih lantai tujuh sebagai ruangannya padahal gedung ini memiliki lebih dari sepuluh lantai, pun lebih memilih menggunakan eskalator yang sebenarnya sedikit aneh jika ada di kantor. Normalnya seorang pemilik perusahaan besar akan ada di tempat paling tinggi gendung utamanya, menggunakan lift untuk naik turun bahkan membuat lift khusus untuk dirinya atau orang berkepentingan yang ada perlu dengannya.
Pemikirannya buyar karena suara Heeyeon yang ia kenal menyapa dan tangan kurus itu menyentuh bahunya.
Yoongi tersenyum tipis dengan sedikit canggung karena sudah melamun begitu saja. "Maaf, Heeyeon–ssi," ia mengulurkan berkas yang di bawanya dengan sedikit canggung. "Yuju memintaku menyerahkan ini, mungkin—"
"Heeyeon-ah," suara seseorang dari sebelah mereka berdua menoleh, menemukan sosok Jimin yang begitu tampan tengah berdiri penuh aura dominan yang mengagumkan. "Oh, kau," ia tersenyum simpul namun terlihat dingin, senyuman khas yang selalu Jimin berikan pada siapa saja. "Menyerahkan berkas?"
Ia mengangguk canggung dengan senyuman gugup yang lucu, Heeyeon dalam hati menahan geli melihat bagaimana Yoongi yang terlihat terpesona pada atasannya. "Saya akan segera pergi. Ini berkas yang Yuju titipkan, Heeyeon–ssi, terima kasih."
"Tunggu," suara itu membuat Yoongi yang sudah berbalik kembali menghadap Jimin. Kaki jenjang dengan balutan celana bahan itu melangkah menghampiri Yoongi, "karena kau membuat Heeyeon memiliki pekerjaan tambahan, jadi aku butuh kau. Temani aku turun lewat lift, ya?"
"Tuan Park," Heeyeon terlihat khawatir, Yoongi bertanya-tanya atas dasar rasa khawatir itu.
Jimin melirik Heeyeon dengan tatapan tenang, "aku ada perlu dan harus aku selesaikan dengan cepat, naik eskalator hanya memperlama. Aku perlu lift. Ayo, Yoongi," ia melangkah lebih dulu, meninggalkan Yoongi dengan wajah blank yang berharga.
Heeyeon mendorong lembut bahu Yoongi dan menyadarkannya dari terkesima yang cukup lama. Ia tertawa kecil saat suara terkesiap Yoongi terdengar begitu lucu. "Temani Tuan Park, cepat."
Yoongi mengangguk paham, kemudian membawa langkahnya untuk menghampiri Jimin yang sudah berdiri di depan pintu lift.
Mereka berada di ruang yang sama, dengan canggung Yoongi berdiri di pojok dan Jimin di sisi lain memegang pegangan yang ada pada lift. Ia terlihat memejamkan mata sambil menggumam sesuatu entah apa yang membuat Yoongi bertanya-tanya.
"Kenapa dia terlihat seperti seseorang yang ketakutan begitu?" Ia bermonolog dengan suara lirih, bertanya pada dirinya sendiri.
Saat suara denting lift berbunyi dan menunjukkan angka satu, Yoongi menepuk bahu Jimin. Jimin terkesiap, ia menatap Yoongi agak panik hingga yang mendapat tatapan melompat ke belakang.
"Oh, sudah ya," Jimin terlihat terbata, mengigit bibirnya sebentar seperti anak kecil yang ketakutan kemudian melangkah agak ragu ke luar.
Yoongi pikir sosok itu pusing karena menaiki lift, jadi dengan kekuatan seadanya ia memegang lengan kekar Jimin dan menuntunnya ke luar. "Hati-hati," ia bersuara penuh peringatan meski sebenarnya orang yang dituntun tidak terlihat akan jatuh.
"Terima kasih," suaranya sekarang lebih tenang, napasnya yang tadi terlihat memburu jadi lebih teratur daripada sebelumnya.
Senyuman dan anggukan tulus Yoongi berikan untuk membalas terima kasih presdirnya. "Sama-sama, hati-hati di jalan Anda, Tuan."
Yoongi memperhatikan Jimin yang melangkah ke luar, menuju mobilnya berada yang sudah menyala sejak awal. Pertanyaan tentang sosok Jimin jadi makin besar. Tentang sosok itu yang mengenali dirinya padahal jelas ia ada di pinggir jalan bahkan saat itu hujan tengah turun, dan sekarang sosok itu yang terlihat ketakutan berada di lift hingga membuatnya minta ditemani; suara khawatir Heeyeon membuat Yoongi menyimpulkan bahwa Jimn dan lift punya hubungan yang tidak baik seperti dirinya dan high heels.
"Aku jadi benar-benar ingin tahu tentang Park Jimin sekarang," gumam Yoongi sambil memperhatikan mobil hitam yang sudah sangat ia kenali.
To Be Continue…
Chapter ini tanpa YoonSeok! Wah, YoonMin udah dapet moment, pegang lengan, di dalam mobil yang sama, gimanaaa? Oke kan? :3
Mungkin Jimin kelihatan baik ya? Haha yeah, aku mau gambarin Jimin jadi sosok yang baik tapi dingin, ya macam orang yang cool gitu loh. Bukan yang heartless heuhehe
Next chapter mungkin aku bakal berpindah fokus ke Jimin, tapi enggak janji ya. Lagi, mungkin Jimin bakal jadi orang baik yang sedikit pemaksa. Maksudnya, yeah, gitu deh. Lihat aja. Semoga aku gambarin dengan baik deh nanti
Omong-omong, aku galau sendiri nih. Kenapa reviewnya makin lama makin sedikit padahal aku baru jalan dua chapter? :( ke mana kalian semua yang tinggalin komentar huhuhu
Yeah, ya sudah, mungkin segini aja basa-basi aku. Sampai jumpa next chapter! Jangan lupa review yaaa~
