copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated
Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu
Jimin masuk ke dalam mobil dan menemukan sosok Taehyung memberi senyuman lebar padanya, ia menghela napas kemudian. "Maaf membuatmu lama menunggu," gumamnya setelah menyuruh sang sopir menjalankan mobil.
Taehyung yang ada di sebelah Jimin menggeleng maklum dengan senyuman, "bukan masalah. Sulit turun lewat lift, 'kan? Heeyeon pasti sangat khawatir dan sempat menolak ajakanmu menemaninya turun."
"Sayangnya aku tidak turun dengan Heeyeon," senyuman penuh makna itu terukir di bibir Jimin.
Jawaban Jimin membuat kening Taehyung mengerut, matanya memicing penuh tanya pada sosok di sebelahnya. "Lalu, kau turun sendiri? Dengan gamangmu yang konyol soal lift itu? Tanpa merasa khawatir akan ini–itu?"
"Tidak," Jimin menggeleng sambil mempertahankan senyuman. "Aku meminta pegawaiku menemaniku. Lumayan, dia manis."
"Hah?" Mulut Taehyung menganga tidak percaya, matanya pun nyalang penuh tanda tanya pada sosok di sebelahnya. Dalam hati ia mulai penuh rasa ingin tahu berlebih pada sosok di sebelahnya. "Sejak kapan kau memikirkan gadis cantik?"
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa kau—"
"Tapi Yoongi pengecualian," bibir itu menyeringai misterius, menimbulkan jutaan pernyataan lebih banyak pada pikiran dan hati Taehyung. Jimin sendiri hanya terkekeh kecil melihat teman baiknya kini memasang ekspresi blank yang priceless; lucu sekaligus tolol.
"Jadi orang yang kau mintai aku cari tahu itu orang yang kau sukai?" Suara Taehyung kini menjadi menyelidik, penuh rasa penasaran dan menuntun jawaban yang pasti meski sebenarnya tanpa ditanya pun pasti apa yang ia pikirkan benar; Jimin benar-benar sosok yang obvious.
Mata sipit itu menatap tajam sosok Taehyung, memberi seringaian yang kini terlihat begitu seksi. "Kau tahu jawabannya, Taehyung-ah."
"aku pikir dia salah satu kekasih atau apalah dari lawanmu, ternyata dia orang yang menarik hatimu? Hebat, aku pikir seleramu setara dengan Park Jiyeon atau mungkin Hwang Miyoung yang dengan jelas menyukaimu."
Jimin menggeleng sambil mendecak. "Mereka cantik, seksi, juga terlihat pas di bawahku. Sialnya mereka tidak menggetarkan hatiku."
"Tapi Min Yoongi hanya orang di kelas sosial bawah," Taehyung mencibir, melempar asal map yang ada di tangannya untuk mendarat di paha Jimin. "Itu yang berhasil aku dapat dari Yoongi. Kelas sosial rendah sedikit sulit didapatkan, ia tidak banyak punya data di tempat aku biasa mencari informasi."
Kekehan kecil Jimin cukup untuk menjelaskan bahwa ia merasa puas dan berterima kasih atas usaha Taehyung. Ia membuka isi map yang diserahkan, menemukan beberapa data tentang Yoongi yang sekiranya sudah ia tahu setelah melihat isi data diri saat sosok itu mendaftar kekantornya, selebihnya yang belum ia tahu sebelumnya hanya tentang teman tinggalnya yang benama Kim Seokjin dan teman sangat dekat bernama Jung Hoseok.
"Jung Hoseok?" Jimin membeo saat melihat nama yang tertulis terasa tidak asing. "Aku seperti mengenali nama itu."
"Kolega bisnismu," Taehyung menjawab santai. "Dia pemilik perusahaan berjalan di bidang hiburan yang lumayan sukses."
"Sungguhan hanya teman dekat atau mereka terlihat punya hubungan khusus?"
"Yang aku dengar Jung Hoseok adalah gay dan kekasihnya bernama Lee Jihoon pemilik café dengan nama Seventeen."
"Kau juga mencari tahu tentang sahabatnya?"
"Ya, supaya aku bisa menjawab kerutan penuh tanya di kening tidak berhargamu."
"Wow," Jimin mengangkat alisnya sebentar lalu tertawa kecil. "Kau selalu tahu bagaimana caranya membuatku menyukaimu, Kim Taehyung."
Taehyung memutar bola matanya malas mendengar pernyataan Jimin yang menggelikan di telinganya. "Sialnya aku masih sangat menyukai Jeon Jungkook, Tuan Park yang terhormat. Dadanya lebih seksi daripada dada ratamu."
"Hebat," Jimin tertawa kecil, ia menutup map yang ada di tangan lalu meletakkannya kembali. "Kau bahkan sudah melihat dadanya sebelum kalian menikah."
Bahu Taehyung terangkat dengan cuek, "aku berani jamin jika kau berhasil mendapatkan Yoongi, satu ciuman akan membawa kalian ke ranjang."
"Aku lebih suka ide itu jika kau ganti dengan sofa."
.
Jimin melangkah tergesa untuk sekedar segera sampai di ruangannya. Ia nyaris beberapa kali menabrak karyawannya dan menggumam maaf tanpa beban meski sudah membuat beberapa barang yang mereka bawa terjatuh.
Pagi ini ia berniat untuk ambil libur karena semalam melakukan kegiatan penting di luar kantor untuk membuat kesepakatan dengan seseorang dari luar Korea yang mengatakan waktunya tinggal malam ini sebelum terbang kembali ke tempatnya tinggal. Sialnya Heeyeon menelepon dan mengatakan seorang gadis bernama Kim Seolhyun terus meneriakinya dan bertanya di mana Jimin.
Saat ia melewati lorong sempit, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berjalan ke luar dari ruang foto kopi. Tubuh mungil orang yang ditabraknya jatuh begitu saja hingga kertas-kertas di tangannya berserakan bersama pekikannya yang tertahan. Jimin bisa mendengar suara mengaduh dan cukup untuk membuatnya melihat siapa korban tabrakannya.
Ia menemukan Yoongi dengan setelan kemeja peach yang manis, rok putih tulang, juga sepatu tanpa hak warna coklat. Ia terlihat menawan meski posisinya mengenaskan. Saat melihat mata sipit itu menubruk penglihatannya, Jimin segera menyadarkan diri dari kekaguman dan mengulurkan tangan untuk sekedar memberi bantuan sederhana dengan imbuhan pertanyaan 'apa kau baik-baik saja' yang cukup untuk membuat Yoongi mengangguk.
"Maaf tidak bisa membantu," Jimin menggumam penuh rasa bersalah karena membuat Yoongi harus memungut sendiri dan mengatur kertas yang berceceran di lantai karena ulahnya. Ia berlalu begitu saja setelah Yoongi mengangguk dan memberi senyuman ditambah jawaban 'bukan masalah' setulus mungkin. Sesekali melirik sosok itu sebelum akhirnya matanya tidak cukup hebat untuk kembali mendapati sosok Yoongi di pantulan matanya.
Setibanya di depan ruangannya, ia melihat seorang gadis berambut coklat lurus sepanjang punggung dengan cocktail dress warna hitam yang pada bahunya berlubang memperlihatkan bentuk indah bahu sempit itu. Mata bulat itu terlihat tajam menantang Heeyeon yang terlihat kalang-kabut dan bibir gadis itu merengut yang sesekali diberi gerutuan-gerutuan tidak jelas. Dalam hati Jimin mendesah keras, membatin bagaimana gadis dengan riasan luar biasa menawan itu membuat kacau ruangannya dengan pekikannya yang menjengkelkan.
"Jimin!" Gadis itu memekik riang, ia memasang wajah cerah seperti bulan purnama penuh dengan bibir merekah, berubah total dari penampilannya tadi yang sibuk menggerutu pada sosok cantik Heeyeon yang menunduk bingung. Dengan langkahnya yang anggun ia menghampiri Jimin, memberi ekspresi merajuk yang harus Jimin akui cukup mengusik hatinya untuk merangkul dan bertanya ada apa dengan suara lembut. Gadis itu kemudian menuding sosok Heeyeon penuh penghakiman, "sekretarismu itu benar-benar menjengkelkan! Aku memintanya untuk menyuruhmu kemari, tapi ia terus mengatakan dirimu tidak bisa. Buktinya? Lihat! Kau bahkan di sini sekarang."
Bisa dilihat Heeyeon menghela napas, ia memberi senyuman maklum pada sosok Seolhyun yang memang selalu seperti itu. Bersyukur sepenuh hati karena wajah cantik itu membuat emosinya tertahan dan tidak meledak untuk meneriaki atau bahkan menjambak rambut yang nampak lembut itu. Jimin sendiri meringis kecil merasa bersalah pada Heeyeon karena sudah membuatnya repot dengan sosok Seolhyun.
"Hey," Jimin memanggil dengan suara tenang, matanya mengerling pada Seolhyun yang sibuk merengek seperti anak kecil. "Aku sungguhan lelah semalam, benar-benar berniat untuk tidak pergi ke kantor barang setengah hari saja. Sayangnya telepon dari Heeyeon dan mengatakan seorang monster cantik sudah merusak ruang kerjaku dengan rengekannya cukup untuk membuatku ngebut pergi kemari. Kau mau apa lagi, huh?"
"Oh astaga, Park Jimin," Seolhyun terkekeh kecil. "Maaf membuatmu tidak bisa istirahat, aku benar-benar menyesal."
"Aku tidak bisa melihat penyesalan di matamu," Jimin berkomentar sambil menyingkirkan rangkulan Seolhyun pada lengannya. Ia melirik Seolhyun kembali, "kenapa lagi? Bertengkar dengan eomma? Kali ini yang punyaku atau punyamu?"
Seolhyun tertawa kembali, membuat matanya tenggelam setengah di balik kelopaknya. "eomma-mu benar-benar membuatku meradang!" Ia memekik jengkel, setengah menggerutu. "Kenapa dia begitu menyayangi Jihyo sedangkan aku selalu dikomentari ini itu, huh?"
"Karena kau kakaknya," Jimin menanggapi santai.
Seolhyun memutar bola matanya malas, "ini kenapa aku bersyukur tidak mengganti marga dengan Park."
"Eoh," Jimin mengangguk dengan senyuman. "Aku juga bersyukur kau tetap mempertahankan Kim-mu itu. Kalau kau berubah menjadi Park, bisa-bisa kau berubah menjadi kakakku daripada mantan teman sekelas."
Kali ini Seolhyun tertawa keras, mengeluarkan suara tawa dengan jemari lentiknya menutup mulut dengan anggun. Ia kembali membuat matanya melengkung meski tidak menghasilkan eyes-smile berharga. "Aku juga takut kalau aku menjadi kakakmu, tidak ada kesempatan buatku menggodamu lagi."
"Sial," tawa Jimin menyusul kekehan Seolhyun. "Sekarang katakan apa maumu, Hyunari."
"Sepatu," mata indah dengan lens coklat terang yang membuat jaring-jaring indah di sana mengerling pada kakinya. "Sepatuku sudah rusak dua pasang dan aku pikir Park Jimin mau membelikanku sepatu baru seperti yang ia lakukan pada Park Jihyo beberapa hari lalu."
"Oh," mulut Jimin membentuk huruf O dan kemudian mengangguk mengerti. "Mall hari ini?"
"Yap! Kau keberatan?"
"Tidak," Jimin tersenyum ringan. "Tapi dengan satu syarat."
.
Seolhyun melangkahkan kakinya tanpa beban setelah turun dari lift, tangannya menggenggam satu cup kopi hangat yang tadi ia bawa dari ruangan Jimin dengan gelas kardus warna putih dan lambang Park's House yang menghias di bagian tengahnya. Matanya mengedar, mencari seseorang dan tersenyum cerah setelah melihat sosok yang ia cari tengah melangkah tergesa.
Ia menghampiri sosok itu. Sialnya karena ia yang tidak cukup baik dalam memperhitungkan langah, tubuhnya menabrak sosok itu dan membuat kopinya tumpah. Tumpah begitu saja, menodai dress hitamnya juga sepatu warna senada, bahkan membuat lantai itu kini basah dan ada genangan coklat air. Ia memekik saat rasa panas kopi mengenai sebagian tubuhnya dan setengah mendesis karena rasa terbakar sedikit melukai kulitnya meski tidak benar-benar panas.
Seolhyun menatap sosok yang tadi ia hampiri, menemukan kopinya menodai rok warna putih tulang hingga nodanya terlihat begitu merusak keindahan. Sosok itu terbelalak tidak percaya, ia kemudian membungkuk penuh rasa bersalah pada Seolhyun dan menggumamkan banyak kata maaf setelah menyadari apa yang terjadi.
Seolhyun merengut, dress berharganya jadi kotor meski warnanya tidak benar-benar terlihat rusak. Ia menatap kesal pada Yoongi setelah sebelumnya mendengus, "jangan meminta maaf saja!" Suaranya terdengar galak, bibirnya masih tetap merengut.
Semua orang yang melihat itu sedikit menahan napas, berpura-pura mengerjakan sesuatu meski matanya tetap mengerling pada Yoongi dan Seolhyun. Dalam hati berdoa penuh pada keselamatan Yoongi daripada harus didepak begitu saja karena kemarahan Seolhyun mendapati pakaiannya terluka oleh kopi.
"Dress-ku kotor," Seolhyun bersuara kembali, matanya menelusuri Yoongi dari atas ke bawah. "Ah, jangan menunduk begitu!" Ia kembali mengeluarkan suara galaknya. "Kau harus bertanggung jawab—uhm…."
"Yoongi," Yoongi menjawab lirih. "Nama saya Yoongi, Nona."
"Yeah, Yoongi. Baiklah, kau harus bertanggung jawab."
"Y–ya," ia mengangguk patuh. "Saya harus bertanggung jawab dengan apa, Nona?"
"Temani aku berjalan-jalan di mall mungkin?" Bibir Seolhyun kini mengembang penuh senyum, membiarkan matanya membuat bentuk sederhana yang indah pada matanya.
Yoongi hampir saja terlonjak kaget dengan mata nyalang tidak percaya, ia menatap bingung gadis cantik di hadapannya yang kini memberi senyum lebar dan nampak mengerikan dalam posisinya yang seperti ini. "Tapi saya harus—"
"Jimin bosnya dan aku saudaranya!" Seolhyun tersenyum lebih lebar, matanya membulat penuh permohonan agar Yoongi mau ikut dengannya. "Kalau ada yang menyalahkanmu, suruh ia datang ke Jimin. Ya? Ayolah! Lihat, rok putihmu yang berharga pun kotor karena kopi. Kenapa tidak kita membeli baru? Ayo! Kita bisa memakai baju kembar kalau kau mau."
"N–Nona…," Yoongi terlihat ragu, matanya mengedar dan menemukan tatapan takjub atau apapun itu yang terlihat tidak percaya pada nasib Yoongi yang terlihat pada posisi aman. "Pekerjaan saya harus—"
"Aku anggap kau setuju!" Tanpa menunggu jawaban, Seolhyun menarik tubuh Yoongi dan membawanya pergi ke luar kantor lewat lift. Terus mengabaikan kalimat penolakan yang Yoongi berikan, bahkan menyela kata-katanya dengan obrolan tidak berguna.
"Hai Jimin!" Seolhyun menyapa sosok Jimin yang terlihat duduk jengah di bangku belakang saat ia membuka pintu dengan tangan menggenggam pergelangan Yoongi. "Aku bawa pesananmu," bisiknya lirih pada telinga lelaki itu. "Kau seharusnya terkejut."
Seolhyun memaksa Yoongi duduk di tengah dan membuat sosok itu berada di sebelah Jimin. Ini kali kedua ia berada di mobil mewah ini, mendapati bagian depannya yang longgar dengan meja kecil ada di hadapannya. Ini limo, Yoongi baru menyadarinya setelah masuk ke dalam dan dengan iseng mencari tahu jenis limo. Ia menggumam kagum karena rasanya benar-benar luar biasa bisa menaiki limo seperti ini.
Ada hal yang membuat Yoongi bertanya-tanya, mendapati langit-langit kendaraan yang ia naiki terlihat seperti langit malam penuh bintang dan ternyata jendelanya yang gelap bisa menjadi gemerlap membuatnya penasaran setengah mati. Ia tidak mengerti kenapa Jimin harus membuat mobilnya jadi seperti berada di luar angkasa padahal ia bisa membuat desain jauh lebih unik dan mahal seperti berada dalam sebuah tempat dengan segala hal lengkap di dalam daripada bagian depan yang terlihat lapang tanpa diisi apapun kecuali karpet beludu yang terlihat lembut terbentang. Seperti sengaja membuat limo kecil ini jadi seperti sebuah ruangan kurang isi daripada ruangan elegan yang mahal.
"Yoongi," Seolhyun bersuara, ia terlihat tengah mengganti sepatu dan matanya mengerling pada sosok di sebelahnya yang terlihat gugup. Kekehan kecil lolos dari mulutnya, juga senyuman sederhana sekedar untuk memaklumi sifatnya yang sepertinya sedikit pemalu. "Maaf membuat sepatumu basah. Beruntung Jihyo selalu meninggalkan sepatunya di mobil Jimin, jadi mungkin kau bisa menggunakan sepatu Jihyo sementara waktu selama pergi denganku. Tidak masalah 'kan?"
Yoongi terlihat menimang setelah Seolhyun duduk dengan tegap dan membuat sepatu yang ia ambil tadi berada di depan kaki Yoongi. Itu sepatu yang luar biasa indah, Yoongi nyaris memekik kagum melihat penampilan sepatu dengan heels yang menawan. Heels kurus dengan bagian depan yang akan menutupi jemarinya juga pita manis seukuran ibu jari menghiasi bagian depannya, warnyanya naked yang begitu menarik dan membuatnya tergiur mencoba. Ia meringis kecil, mendapati dorongan —atau mungkin paksaan— dari Seolhyun, ia pun mengikuti kemauannya. Melepas sepatunya yang basah dan menggantinya dengan sepatu warna naked yang cantik luar biasa.
"Itu indah!" Seolhyun memekik riang, mengagumi bagaimana kaki Yoongi terlihat sangat cocok dengan sepatu itu. Warna kulitnya yang benar-benar putih membuat warna naked itu terlihat sedikit bohong. Kaki putihnya membuat sepatu itu terlihat lebih gelap dan jadi lebih menarik daripada terkesan tidak memakai sepatu. Dalam hati memuji Tuhan sepenuh hati karena menciptakan sosok dengan kulit yang begitu menawan seperti Yoongi. "Jihyo pasti iri pada ide kau menggunakan sepatunya, aku berani bertaruh."
Jimin terkekeh mendengar pernyataan Seolhyun, "kau harusnya merahasiakan itu dari Jihyo jika tidak mau terkena amukannya."
"Aku akan menjaga rahasia dengan baik," Seolhyun memasak ekspresi serius, jarinya kemudian menuding Jimin. "Tapi kau benar-benar ember bocor menjengkelkan, Park Jimin!"
"Aku hanya membuka buku. Salahkan gen cerdas keluargaku, jadi dengan hanya memberi kode pun dia akan paham maknanya tanpa menjelaskan secara terang-terangan."
"Tsk, sombong. Dasar juara satu menjengelkan," Seolhyun mencibir. Ia kemudian beralih pada sosok Yoongi. "Nah, Yoongi, aku harap kau mau menjadi asistenku hari ini karena kau sudah membuat kopi tumpah pada dress-ku. Tenang, aku akan tetap memberi bayaran padamu karena ini. Aku akan mengganti rokmu yang kotor, juga akan membeli baju kembar untuk kau dan aku. Menyenangkan, 'kan?"
Yoongi terkejut mendengar apa yang akan diberikan Seolhyun, ia kemudian menggeleng penuh penolakkan. "Tidak perlu, Nona. Aku bisa membeli rok putih lain sendiri, tidak perlu repot-repot. Saya hanya akan menemani Anda," ujarnya tulus dengan senyuman tipis yang menenangkan.
"Kau khawatir soal harga?" Jimin menyela, cukup untuk membuat Seolhyun meliriknya dan Yoongi menunduk. "Jangan menakutkan hal macam itu. Kau bahkan boleh meminta apa yang kau mau kalau memang benar-benar menginginkannya, Seolhyun pasti tidak akan keberatan. Uangnya terlalu banyak untuk dirinya sendiri."
Seolhyun tertawa sarkastis, "ya, benar. Uang di kartu kredit ini memang tidak cukup untuk diriku sendiri karena ini kartu kreditmu."
Dalam hati Yoongi menghela napas berat, membatin kenapa ia begitu sering berurusan dengan orang kelebihan uang.
.
Jimin bersumpah akan membuat Yoongi menggunakan heels dan melepas semua flat shoes karena ternyata kaki kurus itu terlihat begitu pas dengan sepatu tinggi. Tubuhnya jadi terlihat makin kurus dan terlihat begitu menarik untuk dipeluk meski dari belakang. Ia baru tahu ternyata Yoongi dan sepatu tinggi seindah itu karena, yeah, dia tadi hanya melihat saat sosok itu duduk, tidak benar-benar menggunakan sepatunya. Betisnya yang berbentuk membuat Jimin berpikir bahwa mungkin Yoongi tidak senang menggunakan heels karena dia ingin menjaga keindahan kakinya yang luar biasa. Tapi ia dan heels benar-benar seperti sebuah takdir, jadi Jimin bertekad akan membuat Yoongi menggunakan heels tiap ia melihat sosok itu. Mungkin Seolhyun harus terus berada di dekatnya untuk melancarkan usahanya mendekati Yoongi.
"Jimin, jangan melamun!" Seolhyun mengenggol lengan Jimin dengan sengaja, menyadarkan lelaki itu dari lamunan dan menemukan Yoongi yang terkekeh kecil melihat Seolhyun menggerutu.
"Kalian terlihat akrab," ia berkomentar setelah melihat Yoongi sudah mengganti pakaiannya yang tadi penuh noda kopi jadi sebuah dress putih berlengan pendek namun transparan pada bagian lengan hingga atas dadanya juga renda hitam pada ujung bawahnya. Sementara Seolhyun di sebelahnya menggunakan dress serupa dengan warna putih yang berubah merah, ia terlihat seksi karena tubuhnya yang lebih tinggi membuat pahanya jadi lebih banyak terlihat dibanding Yoongi yang hanya satu perempatnya saja.
"Tentu!" Seolhyun menjawab dengan senyuman riang. "Meski tidak secerdas Park Jimin, aku terlahir dengan jiwa sosialisasi yang harus ditiru sosok anti–sosial sepertimu."
"Kau tidak terlihat tidak cerdas," Yoongi menanggapi dengan suara lirih dan senyum tipis yang manis. "Sarkastismu tepat, itu terlihat benar-benar cerdas."
"Hey!" Jimin dan Seolhyun bersuara bersamaan dengan nada yang berbeda. Jika suara Jimin terdengar seperti protes, Seolhyun justru terdengar seperti rasa senang.
"Tunggu," Jimin memijat pangkal hidungnya, ia menatap sebentar Seolhyun kemudian menghela napas setelah matanya berpindah pada Yoongi. "Aku baru kali ini melihat seseorang memuji Seolhyun, sungguh. Kau benar-benar orang baik."
"Orang sering memujiku karena aku cantik," Seolhyun menimpali dengan suara cuek.
"Ya, Seolhyun memang cantik," Yoongi tersenyum kembali. Mau bagaimanapun, tubuh indah Seolhyun dan bentuk wajah yang menarik tentu terlihat jelas pada gadis itu. Cantik dan menarik.
Seolhyun bertepuk tangan penuh kemenangan. "Lihat! Aku mendapat double strike tentang pujian! Ini benar-benar strike membahagiakan daripada yang kau lakukan. Omong-omong, Yoongi, kau benar-benar manis! Aku tidak menyangka kau lebih tua dariku."
Yoongi tersenyum malu-malu, ia mengangguk kecil kemudian. "Benarkah? Terima kasih, Seolhyun-ah."
Seolhyun tersenyum ringan, "tentu, Yoongi-ya. Ayo, kita lanjutkan jalan-jalan!"
TBC.
Hai! Aku kembali dengan chapter empat. Woah—Seolhyun! Aku awalnya mau masukin dia jadi pemeran penggoda, tapi tiba-tiba terlintas ide buat bikin dia justru yang bikin Jimin dan Yoongi bersatu. Ah, aku mau buat semua cepat jadi aku pikir penganggu justru bikin apa-apa jadi lama, kan?
Oh, aku lagi UTS minggu ini, pun minggu depan aku ada study tour. Aku pikir aku bakal sulit update karena, yeah, bahkan hari ini pun aku susah payah cari waktu di sela belajarku. Beruntung besok pelajarannya enggak terlalu sulit, jadi aku coba selesaiin ini. Yey! Apa ada yang mulai bisa tebak ceritanya? Hebat! Aku sendiri belum bener-bener bisa tebak ceritanya hahahaha
Ah, ya, aku pikir segini aja mungkin ya? Aku bener-bener makasih sama semua yang rela luangin waktu buat baca, review, dan fav atau bahkan follow fiksi ini. Aku seneng lihat komentar kalian yang semua isinya dukungan buat kelanjutan ini dan itu berarti aku cukup baik menyampaikan pesan ceritanya.
Sekarang MinYoon udah deket. Jimin belum bener-bener tunjukin sisi berkuasanya karena yeah, image dia adalah cowok baik dengan jiwa dominan yang besar! Dia bakal dominan habis buat Yoongi yang aku buat submisif di sini hahaha. Dia penurut kan?
Oh astaga aku udah bilang 'segini aja' tapi tetep aja ngomong hahaha. Oke lah, mungkin sekarang saatnya kalan tinggalin review. Sampai ketemu next chapter!
