copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated
Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu
Yoongi tengah menata buku yang berjejer di rak sambil sesekali menyenandungkan musik yang terputar di otaknya. Ia menggumamkan nama buku yang ada di tangannya dengan mata mengedar untuk melihat mana pasangan buku di tangannya. Akhir-akhir ini toko buku ramai, sudah menjelang ujian dan Yoongi pikir siswa sekolah benar-benar butuh referensi untuk belajar dan mendapat ilmu lebih banyak. Ia jadi teringat betapa menjengkelkan gurunya dulu dengan soal sulit dipecahkan karena tidak ada dalam buku paketnya.
Saat ia sudah selesai dengan rak yang paling berantakan, ia pun mencoba mengecek bagian lain yang mungkin tetap perlu dirapikan. Ia melangkah pada buku bacaan membosankan dengan sampul yang mungkin tidak akan menarik perhatian orang, siapa yang berpikir ingin membuatnya berantakan padahal menyetuh saja tidak minat?
"O–omona!" Yoongi memekik kaget saat melihat seseorang bersandar pada rak dengan buku bersampul putih polos dan hanya ada judul di depannya. Ia tidak pernah melihat orang berada di barisan buku ini, jadi mungkin ia agak kaget dan tidak menyangka menemukan sosok berjas hitam dengan celana bahan bersandar di sana.
Sosok yang membuat Yoongi terkejut itu mendongak, alisnya terangkat sambil memasang ekspresi ada apa yang tampan. "Kau juga bekerja di sini?" Sosok itu bersuara setelah menutup buku di tangannya kemudian memasukkannya ke dalam rak kembali. Ia mengerling pada Yoongi, memasang wajah dingin yang tenang namun benar-benar menarik.
"Presdir Park—," Yoongi agak gugup menyadari sosok yang berada di hadapannya adalah atasannya, apalagi sempat melakukan reaksi terkejut beberapa menit lalu. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
Jimin, sosok yang tadi bersandar pad arak, kini memasang senyuman sederhana yang panas. "Aku sedang ingin membeli buku," ujarnya tenang sambil mengalihkan pandangannya dari Yoongi. Matanya menelusuri deretan buku dengan warna polos yang terlihat membosankan. "Ada saran buku yang bisa aku beli?"
Yoongi menggaruk tengkuk ragu sambil terkekeh, "sebenarnya sisi sini bukan bagian saya, tapi kalau Anda meminta saran buku referensi meteri sekolah, saya mungkin bisa membantu Anda."
Jimin tertawa kecil sambil memegang baku warna hitam dengan tulisan balok putih dalam persegi, dalam hati Yoongi berteriak betapa anehnya selera seorang Park Jimin yang tampan. "Kau lucu juga," ujar Jimin sambil tersenyum tipis. Ia kemudian membaca pembukaan buku, suara gumaman lolos dari mulutnya sehingga Yoongi berpikir bahwa Jimin mungkin sedikit aneh tentang selera—ia pernah sekali mencoba membaca buku di deretan ia berada sekarang dan hasilnya ia benar-benar muak dengan isinya; membosankan sekaligus tidak menarik.
"Presdir Park," Yoongi mengiringi langkah Jimin yang sepertinya hanya berminat jalan-jalan dideretan rak tinggi dengan buku berwarna polos sepanjang jalan. "Kenapa Anda di sini?" Ia mendadak merasa bersalah sepenuh hati karena sudah menanyakan hal macam itu karena raut wajah Jimin kini berubah sedikit lebih keras. Bagaimana ia jadi begitu ceroboh menanyakan hal macam itu?
Tapi Jimin tetap tersenyum tipis sekedar untuk menanggapi pertanyaan Yoongi. "Aku sudah bilang aku sedang berjalan-jalan," jawabnya sambil terkekeh kecil. "Lagi pula ini toko milik Jihyo, jadi aku sengaja mampir."
"Jihyo… Nona Park Jihyo?" Yoongi membeo, terlihat berpikir sejenak kemudian matanya terbelalak saat menyadari sesuatu. "O–oh, astaga! Apa Nona Jihyo adik Anda?"
Jimin tertawa kecil melihat reaksi lucu Yoongi, ia mengangguk. "Jihyo adik kandungku," ia tersenyum tipis. "Apa ini takdir atau bagaimana? Kenapa bisa kau bekerja di deteran keluargaku?" Ia terkekeh kecil kemudian.
Pipi Yoongi merona, entah kenapa suara tawa Jimin membuatnya sedikit berdegub dan bergetar. Nyaris membuatnya memekik seperti siswa sekolah melihat tawa Jimin yang menggoda hatinya untuk meleleh. "Mungkin ini yang dinamakan destiny, Tuan Park," ia terkekeh kecil mengikuti Jimin.
"Maja," Jimin mengangguk setuju sambil menahan wajahnya agar sedikit lembut daripada ekspresi biasanya. "Apa itu berarti mungkin saja kau takdirku, Min Yoongi–ssi?"
Yoongi yang awalnya masih terkekeh tadi tentu langsung terkejut dan tersedak ludahnya sendiri, ia tergagap dan seperti tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan dilontarkan seorang atasannya pada dirinya untuk candaan. Maksud Yoongi—oh astaga! Itu tentu sangat mengejutkan kalau kau mendengar pernyataan seperti itu dari atasanmu yang benar-benar tampan, semua orang tentu mau menjadi takdirnya dan berjodoh dengannya!
"Pre–Presdir Park," ia menunduk malu sambil tertawa canggung. "Presdir pasti bisa mendapatkan yang lebih luar biasa dari saya," ia bersuara ragu. Saat mendongak, ia menemukan alis Jimin yang terangkat seolah menanyakan maksudnya. "O–oh, lupakan. Saya hanya terlalu serius menanggapi candaan Anda."
Jimin tertawa kecil sambil mengangguk paham, ia kemudian mengedarkan matanya untuk melihat ke sekeliling toko. Tubuh Jimin cukup tinggi jadi ia tidak tenggelam di antara rak, matanya bisa mengedar ke mana saja karena tidak ada yang menghalangi pandangannya. Yoongi dalam hati merengut iri karena ia selalu kesulitan untuk mengedar ke sekeliling toko.
"Kau bekerja di sini sampai jam berama, Yoongi–ssi?"
Yoongi terkesiap, ia baru saja melamun dan baru menyadari masih ada Jimin di hadapannya. "Oh, saya sampai pukul tujuh, Tuan."
"Pulang sendiri?" Jimin menatap dengan pandangan penasaran yang hebatnya terlihat begitu tampan.
Yoongi mengangguk kecil, "saya biasanya berjalan kaki karena apartemen saya lumayan dekat dengan toko ini."
"Kau sudah makan?"
"Eo–eoh?" Yoongi mengerjap bingung, "Belum… saya biasanya makan di apartemen."
"Ayo kita makan di café seberang," Jimin menunjuk pada café yang terlihat dari toko buku, café yang cukup ramai dan terkadang Yoongi ingin mampir karena aroma kopi dari dalam sana bahkan menyebar ke luar cukup untuk menggoda nafsunya. "Aku traktir."
"Tapi Tuan… pukul tujuh masih satu jam lagi, Presdir Park pasti lelah dan butuh istirahat. Satu jam tentu sangat berarti."
"Tidak juga," ia tersenyum tipis. "Jawab saja, ya atau tidak? Oh, aku tidak suka penolakan omong-omong."
"B–baiklah," ia menjawab dengan ragu. "Saya bisa menemani Anda."
"Great, aku tunggu di luar. Pukul tujuh," ia tersenyum tipis kemudian berjalan keluar setelah mengatakan aku pergi pada Yoongi.
Yoongi melangkah menuju tempatnya harusnya berada, bersandar pad arak sambil menggerutu pelan tentang betapa bodohnya ia menerima tawaran Jimin beberapa menit lalu.
"Yang tadi bosmu, eonni?" Suara seseorang mengejutkan Yoongi dan membuatnya hampir saja terjungkal membuat rak ambruk.
Ia menoleh dan menemukan karyawan toko buku dengan name tag Baek Yebin, ia pun memberi senyuman kecil dan anggukan pada sosok di hadapannya.
Yebin tersenyum sumringah, "dia sangat tampan!"
Yoongi terkekeh kecil lalu mengacak rambut coklat yang ada di hadapannya. "Sekolah yang benar dulu baru memikirkan laki-laki tampan. Dia kakak dari pemilik toko kalau kau ingin tahu."
Yebin terbelalak sambil memberi tatapan tidak percaya, "Kakak dari Park Jihyo? Daebak! Aku baru tahu Jihyo adik pemilik Park's House."
Yoongi mengangguk setuju, "aku juga baru tahu. Dia lumayan rendah hati ternyata."
"Dia memang anak baik," Yebin tersenyum kecil. "Ayo eonni, kembali bekerja!"
.
.
.
"Kau sudah?" Jimin tersenyum setelah melihat sosok Yoongi dengan baju kaos lengan panjang bergaris-garis biru sebagai corak dan celana ripped jeans abu-abu yang membalut kaki kurusnya. Sneakers yang ia gunakan juga terlihat begitu pas di kakinya karena ukuran kakinya yang kecil membuat ia terlihat seperti seorang gadis feminim yang sporty. "Kau cantik," komentar Jimin setelah menyadari jepit warna putih membuat rambutnya di sisi kanan tersingkap sedikit ke belakang.
Yoongi tertawa kecil sambil menyelipkan rambut yang tersingkap ke belakang telinga. "Tapi terlihat sangat buruk jika disamping Anda yang memakai baju formal. Sebaiknya kita tidak pergi bersama, Tuan," ia bersuara agak gugup.
"Aku sudah mengganti pakaianku tadi," Jimin melepas jas —yang ternyata sebuah jaket; Yoongi mengira itu jas karena bentuknya yang seperti blazer formal— yang ia kenakan dan menunjukkan kaos putih bertuliskan huruf latin di sana. Ia terlihat lebih santai karena ternyata pantofel yang tadi ia kenakan kini menjadi sneakers dengan merek mahal tertulis di sisinya, juga bajunya yang membalut tubuhnya. Meski begitu aura seksi jelas tidak bisa hilang dari dirinya. "Kita terlihat cocok sekarang."
Yoongi kali ini tertawa canggung, rasanya lucu mendengar kata cocok dan menyadari Jimin mengganti pakaian hanya agar bisa makan di café bersamanya. Konyol dan aneh.
"Jangan menatapku seperti itu," ia terkekeh kecil sambil mengacak pelan rambut Yoongi. "Apa salah aku mengajakmu menghabiskan sedikit waktu di café? Apa itu menganggumu?"
"A–Ah," Yoongi tergagap menyadari pertanyaan Jimin, dalam hati menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa bersikap lebih sopan. "Tidak Tuan, saya hanya melamun. Maaf jika menganggu Tuan."
Yoongi tidak pernah membayangkan lengannya akan digenggam dan ditarik pelan oleh laki-laki kecuali Hoseok atau Jihoon, apalagi jika orang yang menarik lengannya adalah seseorang yang sangat tampan dan seorang taipan. Hebatnya sekarang lengan kurusnya ditarik lembut oleh seorang Park Jimin hingga kakinya tepraksa melangkah mengikuti tarikan itu agar tak terjatuh. Ia terpana pada figur wajah Jimin yang begitu tampan dari samping, apalagi saat udara sore hari menerpa rambut hitam itu yang ternyata sudah terjatuh menimpa poni tanpa minyak rambut yang membuat surai itu tersingkap ke belakang dan memamerkan kening sempitnya yang indah. Ternyata Jimin dengan poni pun benar-benar tampan bahkan kali ini terlihat lebih muda daripada biasanya.
"Kau suka aroma kopi 'kan?" Jimin tersenyum sederhana setelah tiba di depan pintu kaca dengan tulisan buka tertempel, bau kopi yang menyenangkan membuat bibir Yoongi melebar sempurna karena aroma ini selalu menjadi aroma kesukaannya.
Yoongi mengangguk kecil sambil membuat matanya membentuk bulan sabit yang indah, "sangat suka. Begitu menggoda dan menenangkan."
Jimin mengangguk setuju dan tanpa kata-kata ia mendorong pintu masuk, melakukan gestur mempersilakan Yoongi masuk setelah tangannya melepas lengan kurus itu. Ia bisa melihat bagaimana pipi seputih susu itu tertumpahi sesuatu kemerahan hingga terlihat sangat menggemaskan dan menarik dirinya untuk menunduk lalu mengecup pipi itu. Sayangnya Yoongi lebih cepat bergerak menunduk dan masuk sambil menarik lengannya; Jimin pikir gadis itu sangat gugup karena setelah menyadari tangannya melingkar pada lengan orang gadis itu langsung melepasnya dan menggumam maaf penuh sesal.
Tentu saja Jimin tidak masalah, jadi ia menepuk pelan kepala Yoongi dan kemudian menunjuk sebuah tempat yang lumayan sepi dengan jendela besar di sebelahnya. Bisa dilihat pemandangan jalanan saat sore hari yang terlihat begitu indah sudah bisa tertangkap sedikit dari tempat mereka berdiri sekarang. "Kita duduk di sana, aku sudah memesan tempat itu."
Saat Yoongi menempatkan diri, ia menoleh dan menemukan jalanan kota yang ramai dengan kendaraan dan orang-orang berlalu lalang. Indah sekali, ditambah langit sore yang mulai menggelap karena matahari sudah hampir lenyap menggantung apik di ujung sana. Bibirnya menggumamkan kata pujian atas keindahan yang bisa ia lihat sekarang. Jarang ia bisa menikmati pemandangan karena hidupnya memang untuk bekerja, ia pun tidak pernah senang berfoya-foya karena ia tumbuh pada lingkungan sederhana.
"Indah?" Jimin bersuara setelah beberapa lama melihat Yoongi yang memperhatikan jalan. "Kau melamun sejak tadi jadi aku yang memesankan minumanmu. Kau suka Caramel Macchiato 'kan?"
Yoongi mengerjap setelah menyadari suara Jimin dan juga mengetahui dirinya tidak seharusnya melamun seperti tadi. Ia tersenyum tipis sambil terkekeh kecil, "aku suka. Maaf Tuan, terima kasih."
Tanpa bersuara, Jimin hanya mendengung sambil mengangguk. Ia kemudian menyesap pelan americano-nya, menghirup aroma kopi yang selalu ia suka dari sana tanpa campuran apapun.
Yoongi terlihat terkagum pada cara Jimin yang begitu elegan, juga tidak terlihat kesulitan membiarkan minuman itu lolos dari lidahnya. Sepanjang hidupnya, tiap temannya menawarkan americano untuk ia minum, ia selalu menolak setelah Hoseok memberi tahu rasa americano padanya. Rasanya pahit dan begitu aneh, tidak ada keindahan rasa —karena rasa pahit yang mengerikan— di dalam sana; menurutnya. Tapi, yeah, aroma kopi tanpa campuran susu atau maple syrup memang sangat menyenangkan dari cangkir americano.
Ia kemudian menyadari bahwa dirinya juga perlu menyesap minumannya daripada melamun memperhatikan Jimin dengan obvious. Ia merasakan rasa kopi, susu, sirup, semua tercampur pada lidahnya karena aliran dari bawah menekan semua yang di atas untuk masuk ke dalam mulutnya. Juga rasa whipped cream dan karamel yang menempel pada bibirnya. Setelah meneguk minumnya, ia meletakkan gelas dan membiarkan lidahnya bergerak membersihkan semua yang menempel pada bibirnya.
"Tuan, Anda tidak pulang?" Yoongi bertanya setelah beberapa menit hanya diam karena pertanyaan yang dilontarkan Jimin tidak akan bertahan lama; Yoongi hanya akan menjawab ya atau tidak, itu sebabnya apa yang ditanyakan Jimin berakhir cepat. Ditambah Yoongi tidak benar-benar berani untuk bertanya kecuali sesuatu tentang Seolhyun yang beberapa hari lalu memaksanya ikut ke mall dan memastikan apa Jihyo memang adik dari Jimin.
Jimin melirik americano-nya yang sudah nyaris habis, juga gelas Yoongi yang kini sepertinya hanya tersisa whipped cream menempel di gelasnya. Sudah agak lama dan ia pikir mereka memang perlu berhenti di sini. "Aku rasa ini sudah larut," Jimin menjawab sedikit melenceng tapi cukup untuk membuat Yoongi mengangguk setuju. "Aku antar kau ke apartemen, ayo."
"Tuan," Yoongi menolak halus dengan menyingkirkan pelan lengan Jimin yang sudah menarik lengan bawahnya untuk berdiri. Jimin sangat cekatan karena tiba-tiba ia sudah berdiri di sebelah Yoongi sambil tangannya menggenggam lengan itu. "Apartemen saya di dekat sini, saya bisa berjalan kaki. Tuan pasti sangat lelah, Anda bisa langsung tidur daripada harus mengantar saya ke apartemen."
"Apa kau sedang membuatku seperti laki-laki brengsek?" Jimin mendelik penuh tatapan tidak suka, Yoongi merinding beberapa saat menyadari tatapan itu karena cara Jimin menatap berubah dengan cepat setelah itu. "Aku yang membawamu ke sini, jadi ayo aku antar pulang." Suaranya penuh paksaan; cukup untuk membuat Yoongi bungkam dan mengangguk setuju.
"Baiklah," ia menyerah, kemudian berdiri di sebelah Jimin. Ia tidak bisa keras kepala seperti saat menolak tawaran Hoseok atau menentang ucapar Seokjin, Jimin bukan tandingannya karena ia adalah seorang dominan. Sifat keras kepalanya lenyap begitu saja karena merasa penuh dosa jika sampai harus melawan ucapan Park Jimin.
.
Yoongi tidak pernah mengira akan mendapati Hoseok berlari padanya dan menatapnyap penuh khawatir. Tapi setelah ia turun dari mobil Jimin dan membungkuk berterima kasih pada sosok yang di mobil, ia menemukan Hoseok berada di sebelahnya dengan napas tersenggal khas orang habis berlari dengan ekspresi khawatir. Pun ada Jihoon di belakang Hoseok dengan ekspresi kesal yang menggemaskan.
Jimin terlihat bingung melihat dua orang laki-laki menyerbu Yoongi dan berpikir mungkin Yoongi dalam bahaya. Jadi ia turun dan menemui Yoongi.
"Ada apa?" Ia bertanya setelah berdiri di sebelah Jihoon. Sebelumnya ia bisa mendengar beberapa pertanyaan penuh interogasi ditujukan pada Yoongi.
Hoseok menoleh dengan wajah yang lucu, Jimin hampir meledak dalam tawa karena ekspresi was was terpasang apik di sana. "Kau yang membuat Yoongi menghilang satu jam penuh?"
"Astaga Hoseok," Yoongi mendesisi frustasi setelah melihat Hoseok yang rasanya berlebihan. Jihoon terkekeh kecil mendapati wajah jengkel Yoongi. "Hanya satu jam, Hosiki! Lagi pula aku sudah cukup besar untuk merawat diriku."
"Juga merawat ponselmu?" Ia mendelik kesal, kemudian tangannya menarik ke luar ponsel berwarna putih dengan gantungan anjing kecil yang lucu. "Kau menjatuhkannya di depan toko dan kau tidak tertemukan di manapun, bagaimana bisa aku tidak berpikir kau diculik, ha?! Belum lagi teman seapartemenmu berspekulasi berlebihan, aku jadi terpengaruh."
"Dasar latah," Yoongi mencibir, tangannya kemudian menarik kasar ponsel di tangan Hoseok dan memeriksa bentuknya. "Pantas saja tasku terasa ringan."
"Oh!" Jihoon memekik kecil setelah memperhatikan Jimin beberapa saat. "Bukankah kau yang waktu itu ke luar dari ruangan Hoseok–hyung? Kau rekan bisnis Hoseok–hyung, ya?"
Hoseok yang menyadari namanya disebut itu menoleh pada sosok yang berdiri di sebelahnya. Tanpa perlu berlama-lama tentu Hoseok langsung tersadar pada sosok di hadapannya, orang yang ia curigai membawa kabur Yoongi. Itu Park Jimin! "Astaga!" Hoseok memekik kecil sambil menepuk kepalanya. "Maafkan aku, Jimin–ssi," ia membungkuk penuh rasa bersalah, "aku terlalu khawatir pada Yoongi sampai tidak mengenali wajahmu."
Jimin tertawa dan mengangguk, "aku juga baru sadar kau Hoseok. Ya sudah, aku pikir tadi kalian akan melakukan hal jahat pada pegawaiku, ternyata kalian temannya, 'kan? Kurasa aku bisa pulang sekarang. Sampai jumpa."
.
"Jelaskan padaku," Hoseok mengikuti langkah Yoongi. "Jelaskan padaku bagaimana bisa kau dekat dengan seorang Park Jimin?"
Yoongi memutar bola matanya malas, "mana aku tahu! Kita hanya kebetulan sering bertemu."
"Tidak mungkin. Sedikit kemungkinannya seorang pegawai baru sebuah divisi perusahaan bertemu dengan atasannya. Bagaimana bisa kau pergi dengannya bahkan duduk berdua di café?"
"Aku juga tidak tahu!" Yoongi memekik kesal saat tiba di depan pintu apartemennya, jengkel juga karena sifat penasaran Hoseok masih saja sama. "Ini benar-benar tiba-tiba dekat. Aku tahu itu aneh, tapi semua seperti terjadi dengan kebetulan."
Hoseok menghela napas, "itu benar-benar aneh, kau tahu? Jimin terkenal dengan sifatnya yang cuek, tidak pernah memandang gadis sekalipun itu Hwang Miyoung atau Park Jiyeon. Kau pikir aku tidak merasa aneh mengetahui kalian dekat?"
"Aku juga merasa aneh."
"Jangan dekat-dekat dengannya," Hoseok berpendapat seperti melarang dan penuh paksaan. "Aku takut kau dalam bahaya jika berhubungan dengannya."
Dengan malas Yoongi kembali memutar bola matanya. "Urus saja urusanmu, Hoseok-ah. Kau jadi menjengkelkan sekarang. Aku bisa mengurus hal ini sendiri, oke? Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, bukannya kau yang mengatakan aku ini gadis hebat?"
"Jangan berurusan terlalu jauh dengan Jimin," ia bersuara dengan wajah ditekuk. Yoongi terkekeh melihat ekspresi lucu sahabatnya. "Aku khawatir kau kenapa kenapa."
"Aku akan baik, aku janji."
"Aku pegang janjimu."
"Tentu," ia tersenyum cerah. "Ya sudah, aku masuk. Sampai jumpa lagi, Hosiki."
Setelah memasukkan kata sandi, Yoongi pun masuk ke dalam. Hoseok masih berdiri di tempatnya membuat Yoongi melambaikan tangan sebelum menutup pintu, sekedar basa-basi untuk mengatakan sampai jumpa sekali lagi.
"Aku pulang," Yoongi berseru pelan. Ia bisa mendengar suara ribut dari kamar Seokjin setelah menyerukan kalimat itu, pun menemukan sosok Seokjin yang menatap nyalang dirinya saat tiba di ambang pintu kamar. Dalam hati Yoongi tertawa karena Seokjin terlihat begitu jelek.
"Yak! Kau!" Seokjin menuding Yoong tidak sopan, matanya menunjukkan kekesalan penuh pada yang berdiri di sebelah sofa. "Kau dan ponselmu yang terjatuh benar-benar membuatku gila!"
Yoongi terkekeh kecil sambil menghampiri Seokjin, "kau dan rasa khawatirmu cukup untuk menjadi penulis cerita misteri."
"Aku serius khawatir tahu!" Seokjin masih meledak-ledak dengan emosinya. "Kau jelas selalu stand by dengan ponselmu meski kau bukan pengguna aktif. Jika ponselmu sampai terjatuh, aku pikir ada sesuatu berbahaya terjadi padamu."
"Dan aku baik," Yoongi tersenyum sambil terkekeh kecil. "Kau dan Hoseok benar-benar menggemaskan. Aku beruntung memiliki kalian. Ya sudah, aku mau istirahat. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Seokjin-ah."
Seokjin memutar bola matanya malas, "lupakan. Kau benar-benar menjengkelkan, dasar. Aku jadi merasa bodoh sudah khawatir padamu."
"Kau yang terbaik!"
"Dan kau yang termenjengkelkan. Astaga, Namjoon memang benar. Tidak akan ada yang berminat menculikmu karena sifatmu itu," Seokjin mendengus. "Harusnya aku percaya dan bukan malah meneriaki Namjoon tidak waras."
"Hey!" Mata sipit Yoongi mendelik kesal. "Aku tidak semenjengkelkan itu ya!"
"Satu-satunya alasan orang menculikmu pasti karena mereka ingin mengambil organ tubuhmu," Seokjin membalas delikan Yoongi. "Menjual itu semua dan membuangmu ke sampah. Tidak mungkin ada yang berpikir menculikmu untuk kepuasan batin."
"Yak!"
"Dah!" Seokjin melambai cuek sambil menutup pintu kamarnya kasar setelah masuk ke dalam.
.
.
Mata Yoongi menatap ke jalanan yang terlihat penuh cahaya dari atas lewat jendela kamarnya. Ia tersenyum, meski tidak terlihat seperti melihat bintang saat ia ada di kampung halamannya, setidaknya cahaya lampu di bawah sana cukup untuk membuatnya merasa senang. Tangannya bermain pada jendela seolah memegang warna cahaya yang menempel pada jendela kamar, terkekeh kecil karena kembali teringat masa ia kecil dulu.
Saat ia masih sekolah dasar, tangannya senang sekali bermain pada jendela seperti menekan bintang-bintang di langit sana. Seolah dapat membuat taburannya menempel pada jarinya dan membuat ujung jarinya berkelip. Ia tahu cahaya tidak akan pernah bisa disentuh, tapi terkadang ia membayangkan bagaimana jarinya jika dapat bercahaya.
"Park Jimin," tiba-tiba nama atasannya yang tampan itu terlintas pada otaknya. Ia membayangkan wajah tegas dengan senyum dingin yang memesona, orang yang memaksanya ke café juga mengantar pulang bersama dan membuat Hoseok berlari padanya penuh rasa khawatir setelah ia turun dari mobil.
"Ada yang aneh pada Park Jimin," gumamnya pelan setelah memikirkan ucapan Hoseok tadi. Benar, sangat kecil kemungkinan seorang atasan bertemu banyak kali dengan bawahan dari divisi yang bahkan bukan seorang staf inti, apalagi mengobrol. Lalu kenapa ia bisa begitu sering bertemu seorang Park Jimin? Yoongi tidak benar-benar tahu tentang Jimin, tapi Hoseok tentu mengetahui pamor sosok itu. Mana mungkin Hoseok hanya mengarang, dia tipikal orang serba tahu dan memastikannya. Itu berarti memang ada yang aneh pada atasannya itu. "Tapi aku tidak mungkin menghindarinya 'kan? Semua pasti hanya kebetulan."
Yoongi menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan posisi terlentang. Rasanya lucu sekali kalau sampai pemikirannya tentang Park Jimin yang tertarik padanya, benar-benar khayalan bodoh. Mana mungkin seorang taipan luar biasa macam Jimin terjatuh padanya, aneh. Yoongi hanya terlalu banyak membaca cerita fiksi tentang hidup menyenangkan seseorang yang awalnya menderita. Lagi pula Yoongi tidak pernah benar-benar menderita seperti cerita-cerita fiksi di luar sana.
"Tapi boleh 'kan aku mengatakan ini?" Ia terdiam sebentar sambil memejamkan mata dan menahan napas. Setelah napasnya keluar, suaranya pun lolos. "Selamat malam, Park Jimin."
.
Suara alunan musik klasik, udara dingin dari pendingin ruangan, rasa lembut menyelimuti tubuh, bantalan nyaman, cahaya redup yang hanya berasal dari lampu kuning di nakas. Jimin benar-benar menikmati suasana seperti ini, tenang dan nyaman. Rasanya ia bisa terlelap kapan saja jika sudah berada di posisi begini.
Tapi pikirannya sedang tidak di tempatnya, ia tidak bisa memejamkan matanya barang sekejap. Rasanya otaknya melayang ke tempat yang bukan di kepalanya, membuat pemikirannya tidak tenang dan tidak nyaman. Itu Yoongi, sosok yang membawa akalnya pergi dan membuatnya susah terlelap. Sosok kecil yang berpengaruh besar pada seluruh dirinya.
"Noona, kau benar-benar berbahaya," Jimin terkekeh kecil. Ia baru tahu bahwa ternyata Min Yoongi lebih tua dua tahun darinya, tubuh mungil dan wajah imutnya benar-benar membuatnya tidak percaya. Yoongi terlihat seperti seseorang yang baru menginjak umur dua puluh dan membuat Jimin tergila-gila seperti bocah baru merasakan kasmaran. Sosok lebih tua penuh bahaya tiap ia memindahkan atensinya pada sosok itu.
Ia menghela napasnya, tersenyum sebentar mengingat interaksinya dengan Yoongi beberapa waktu lalu. Jika ia bisa cepat dekat dengan Yoongi seperti tadi maka ia bisa makin mudah pula mendapatkannya. Entah kenapa ia begitu tergila-gila dan begitu ingin mendapatkan seorang Min Yoongi.
"Min Yoongi," Jimin menyeringai kecil. "Hati-hati dengan dirimu."
TBC.
Aku gatau kenapa chapter ini jalannya lambat banget. Tapi, hey, chapter ini penuh MinYoon moment! Oh, ya, omong omong… kalian ngertikan maksudnya submisif—penurut, bukan berarti selalu jadi yang macam Anastasia (atau siapa lah cewek yang di FSOG, aku lupa namanya). Submisif termasuk sifat sih. Jadi ga akan aku buat seberlebihan FSOG lah, sampe begitu. Lagi pula aku juga ga bisa buat yang begitu wkwk
Aku udah selesai uts nih, yeay! Tapi sebentar lagi aku study tour, jadi aku agak sangsi bisa lanjutin ini cepet. Tapi aku selalu berusaha buat update secepat yang aku bisa.
Trus, iya itu Jimin dan Seolhyun itu saudara tiri. Tau kan orang kaya itu sukanya punya isteri banyak, nah jadi Jimin Seol ini saudaraan, tapi ya ga sepenuhnya sedarah soalnya cuma punya ayah yang sama.
Buat yang minta ada VKook, oke! Tunggu aja, kalau Yoongi Jimin udah deket, aku munculi itu VKook hahaha. Mungkin sekarang belum bisa lihat Jungkook karena rancananya Jungkook muncul begitu Jimin bawa Yoongi, itu berarti Yoongi harus deket dulu sama Jimin kan?
Aku mau makasih banget buat yang mau tinggalin komentar padahal ff buatanku ini aku pikir dari chapter satu sampe chapter lima ini enggak bisa aku temuin sesuatu yang berkembang berarti, wordsnya juga ga banyak. Belum juga ini ff on-going yang juga on-going waktu aku post, jadi punya ending yang ngegantung. Masih ada yang mau komentar aku makasih banget :'3
Yaudah, mungkin segini aja cuap cuapku. Sampe jumpa next chapter!
