copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated ; Typo(s)
Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu
Tidak biasanya Yoongi heboh di malam hari, memanggil nama Seokjin berkali-kali dan terus merengek pada teman satu apartemennya. Tapi hari ini berbeda. Ia terus saja menyerukan nama Seokjin sambil memegang eyeliner, menatap pantulan dirinya dan berusaha mati-matian membuat garis indah pada matanya. Sialnya ia selalu takut membuat bentuk yang buruk dan kembali menjauhkan benda itu. Sejauh ini benda yang biasa ia gunakan hanya hal sesederhana bedak dan kawan-kawan, lipstick, dan alis serta eyeliner tipis. Jika harus dengan kegiatan pesta mana mampu ia mengurus dandanannya sendiri.
"Baiklah aku membantumu!" Seokjin yang ada di sebalhnya mendengus jengkel, menyerah pada rengekan tanpa henti sahabatnya kemudian memaksa tubuh kurus itu menghadap padanya. Tangannya dengan kasar meraih benda hitam di tangan Yoongi, perlahan mendekatkannya pada mata sipit Yoongi yang sudah membuat bingkai hitam di sekelilingnya. Terlalu kasual dan Seokjin mendengus jengkel melihat dandanan Yoongi seperti dandanan tanpa usaha. "Kau harusnya bersyukur punya sahabat model."
Yoongi tertawa kecil dan mengangguk, "aku sangat-sangat bersyukur."
Mereka diam beberapa saat, Seokjin sibuk membuat bentuk rapi untuk garis tebal membingkai mata Yoongi hingga bentuknya jadi terlihat lebih lebar. Begitu selesai, gadis itu memekik riang dan menepuk tangannya. "Sempurna!" Ia menatap Yoongi lamat-lamat saat mata sipit itu terbuka, tersenyum puas karena hasil goresannya membuat Yoongi jadi terlihat berkali-kali lipat cantiknya. Kemudian matanya menatap beberapa rol yang menempel pada ujung rambut gadis itu, pekerjaannya satu jam lalu dan berharap dapat membuat bentuk rambut Yoongi jadi lebih indah.
"Tunggu sebentar," Seokjin menepuk bahu Yoongi dan mengambil beberapa benda yang entah apa di mejanya. Ia menempatkan diri di belakang Yoongi kemudian melakukan sesuatu pada benda-benda bulat dan rambut Yoongi yang berharga. Tadi sore Seokjin memikirkan bahwa Yoongi mungkin akan sangat indah dengan rambut coklat madu dan memilih warna itu untuk menghias rambut Yoongi, juga memutuskan untuk membuat sedikit lekukan pada ujung rambut Yoongi. Jadi itu sebabnya sekarang Seokjin sibuk dengan rambut panjang Yoongi.
Yoongi sesekali memekik merasa sakit karena saat Seokjin melepas rolnya rambutnya ikut tertarik. Seokjin menggumamkan kata maaf sambil tertawa tanpa dosa, namun cukup untuk membuat Yoongi justru ikut terkekeh. Saat Seokjin menggumamkan kata sudah, ia dengan heboh bergerak membawa rambutnya agar terlihat di cermin.
"Woah!" Yoongi memekik dengan mata berbinar jenaka, menatap pantulan dirinya kemudian Seokjin bergantian. Tangannya meraih rambutnya agar terbawa ke depan dan menggumamkan kalimat pujian banyak-banyak pada hasil yang Seokjin buat pada miliknya. "Apa ini benar-benar rambutku? Ini indah sekali!"
Seokjin mengangguk setuju sambil tersenyum lebar. "Kau sangat indah. Jimin tidak akan malu membawamu ke sana, Yoongi-ya."
Mendengar pernyataan Seokjin, gadis yang awalnya tersenyum riang itu tiba-tiba saja berubah air wajahnya. Ia menatap kosong pada dinding dengan bibir turun perlahan. "Bagaimana ini," gadis itu menggumam dengan suara yang jadi lebih rendah daripada sebelumnya. "Aku tetap merasa tidak pantas—kenapa aku bersemangat sekali tadi? Aish! Ada baiknya aku tidak ikut."
"Min Yoongi!" Seokjin memekik jengkel. Entah sudah keberapa kalinya Yoongi melakukan hal itu, merasa gemas juga pada tingkah labil sahabatnya satu ini. Seokjin sebenarnya tidak benar-benar peduli apa Yoongi akan ikut atau tidak, tapi menyadari bahwa Yoongi sudah dibelikan dress dan heels luar biasa mahal, Seokjin mendelik jengkel dan memaksa Yoongi untuk membuat dirinya cantik atau ia akan menendang bokong tipis itu ke luar dan tidak lagi diizinkan tinggal di apartemennya. Setidaknya hargai laki-laki dengan usaha selama laki-laki itu tidak terlihat angkuh soal uangnya. "Gerakkan kaki kurusmu dan pakai pakaianmu! Aku tidak mau mendengar keluhan tentang tidak pantas atau blablabla lainnya. Anggap saja menepati janjimu, mudah 'kan?"
Wajah manis itu merengut sebentar, tapi kemudian mengangguk setuju dan meraih dress merah yang digantung di sebelah dress hitam elegan milik Seokjin. Milik Seokjin seperti cocktail dress dengan ujung yang bergelombang, mekar seperti bunga tulip yang meski kecil tapi terlihat begitu indah. Yoongi pun tersenyum menyadari bahwa itu berarti dress-nya tidak akan menjadi pusat perhatian karena tamu lainnya pun menggunakan pakaian luar biasa indah.
"Apa aku oke dengan ini?" Yoongi bertanya ragu setelah meresletingkan pakaiannya.
Seokjin sendiri yang baru selesai menarik ke atas resleting menatap Yoongi kemudian melebarkan matanya penuh kekaguman. "Kau—," ia terlihat mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan betapa indah sahabatnya sekarang. Tubuh Yoongi yang biasanya terlihat kurus kini jadi terlihat lebih berisi dan berbentuk karena model dress yang memang tidak ketat tapi menempel apik di tubuh. Warna merah yang kontras dengan putihnya kulit Yoongi pun membuat Seokjin merasa tidak bisa berkomentar asal-asalan. "Aku nyaris kehabisan napas untuk mencari apa kata yang tepat untukmu, tapi kau benar-benar luar biasa!"
Yoongi tersenyum sambil menggumamkan terima kasih, kemudian memperhatikan Seokjin dan tersenyum lebih lebar. "Kau juga cantik sekali malam ini."
Mereka berdua turun bersama-sama, beberapa kali Seokjin memegang lengan Yoongi yang tiap langkahnya terlihat goyah. Ia terkekeh kecil melihat bagaimana sepatu Yoongi yang memang lumayan tinggi hingga membuat gadis di sebelahnya nyaris setinggi dirinya jika saja ia tidak memakai high heels. Yoongi tidak biasa dengan sepatu berhak, itu sebabnya dia terus berjalan dengan goyah. Tapi lama kelamaan langkah Yoongi jadi lebih baik dan lebih mantap, dirinya terlihat begitu anggun dan cantik saat melangkah.
"Park Jimin pasti tidak menyesal memilihmu," Seokjin memberi pujian tulus saat sudah berdiri di sebelah Yoongi. Ia menunggu Namjoon dan sahabatnya menunggu Jimin.
Yoongi terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuk gugup. "Aku justru takut mengecewakannya karena ini benar-benar bukan aku."
"Kau yang memutuskan untuk iya," jemari lentik Seokjin menyentil kening sempit Yoongi yang terpampang indah. Ia menatap tajam pada mata sipit itu, "kalau kau memang iya untuk pergi ke pestanya, maka jangan membatalkannya!"
Mendapati serangan dari Seokjin, Yoongi pun mengangguk patuh sambil tertawa kecil karena gemas. "Baiklah Seokjin-ah, karena aku mengatakan iya aku tidak akan bertingkah seperti mengatakan tidak."
"Bagus!" Ibu jari Seokjin teracungkan di depan wajah Yoongi.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen, Seokjin dan Yoongi yang melihat dari kejauhan tahu bahwa itu adalah mobil Jimin, lebih yakin lagi saat sosok tampan dengan jas pesta dengan warna hitam yang indah ke luar dari sana.
Seokjin tersenyum menggoda sambil menyenggol lengan kurus sahabatnya, mengikuti langkah kecil gadis itu dan beberapa kali mendorong tubuh kurus Yoongi agar mau melangkah lebih cepat. Seokjin berbisik akan mengantar Yoongi menemui Jimin, tapi mendadak Yoongi jadi merasa seperti seorang anak kecil yang dititipkan.
"Selamat malam Jimin–ssi," Seokjin membungkuk sopan yang diikuti oleh Yoongi. Dalam hati Seokjin tertawa melihat tingkah kaku sahabatnya.
"Seokjin ya?" Jimin tersenyum tipis memandang sosok di sebelah Yoongi.
Seokjin mengangguk lirih sambil memperhatahankan senyumannya.
Mata Jimin beralih pada sosok di sebelah Seokjin, senyumannya terkembang bebas saat melihat bagaimana penampilan Yoongi. Ia menatap gadis itu tanpa berkedip kemudian menelitinya dari atas ke bawah. "Woah—," Jimin bersuara dan kemudian tercekat begitu saja saat ingin melanjutkan kalimatnya. Meski sudah melihat Yoongi dengan pakaian dan sepatunya yang sekarang dikenakan, riasan pada wajah Yoongi dan tatanan rambutnya jelas baru pertama kali. Sekarang Yoongi berkali-kali lipat lebih indah bagi Jimin. "Seharusnya kau tidak berdandan seperti ini,"
ucapan Jimin dengan nada rendah membuat Yoongi terbelalak kaget. "Y–ya?" Dia tergagap sebentar untuk memperjelas ucapan Jimin. Seokjin yang ada di sebelahnya ikut terkejut mendengar pernyataan Jimin dan merasa bersalah pada Yoongi, ia meremas lengan sahabatnya seolah menyalurkan kata maaf.
Jimin tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut dua gadis di hadapannya sambil terkekeh pelan, "kalau kau seindah ini, aku takut laki-laki lain tertarik padamu."
"A–astaga."
"Yak!"
Reaksi berbeda diberikan Yoongi dan Seokjin, cukup untuk membuat bibir Jimin makin lebar dan tawanya ke luar beberapa saat.
"Baiklah, Noona, ayo berangkat. Seokjin–ssi, kau tidak ikut kami?"
Seokjin menggeleng, "aku menunggu kekasihku. Kita bertemu di pesta saja, sampai jumpa!"
.
Jimin membukakan pintu untuk Yoongi sebelum Yoongi sempat membuka pintunya sendiri, gadis itu tersenyum canggung menyadari apa yang dilakukan Jimin sebenarnya terasa terlalu cheesy. Ia hanya bahwan kalau boleh mengingatkan, kenapa justru Jimin yang menarik handle pintu? Terlewat dari bahwa Yoongi adalah gadis, ia merasa tidak sepantasnya dibukakan pintu.
"Terima kasih," Yoongi mengumam gugup merasa benar-benar tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti tadi. Belum lagi saat tangan Jimin terlurur, menawarkan—atau mungkin memerintahkan— jemari itu untuk digenggam oleh jari-jari kurus Yoongi.
Mereka melangkah masuk dengan saling bergandengan, dalam hati Yoongi merasa malu dan gugup setengah mati mengingat dirinya tidak sepantasnya berada di pesta seperti ini. Jimin sesekali menggumamkan kata tersenyum atau sekedar mengingatkan bahwa semua baik-baik saja. Yoongi percaya kala Jimin mengatakan semua baik-baik saja, jadi jika semua akan baik-baik saja maka Yoongi akan menahan senyumnya agar tak terjatuh dan membiarkan Jimin terus membawanya melangkah makin masuk.
Melihat sederet bangku yang kosong, Jimin membawa gadis di gandengannya menuju tempat itu. Ia mempersilakan Yoongi duduk yang dijawab dengan anggukan dan senyuman lalu gadis itu menempatkan dirinya di salah satu bangku.
Mata Jimin mengedar setelah itu, melihat-lihat apa yang mungkin bisa ia bawakan untuk Yoongi. "Keberatan aku ambilkan sampanye?" Jimin menawarkan saat melihat beberapa jejer minuman dalam gelas berisi anggur cemerlang.
Mata sipit Yoongi melebar sebentar kemudian menggeleng pelan, "tidak masalah."
Saat Jimin sudah melangkah menjauh, Yoongi merasa benar-benar kikuk sendiri. Dan apa tadi? Sampanye? Astaga— Yoongi belum pernah meneguk alkohol kecuali soju saat dirinya mendapat tekanan batin, membayangkan harus meminum sampanye ia jadi menyesal dan berpikir harusnya tadi ia meminta punch saja daripada sampanye.
Sebelum Jimin kembali, seorang gadis dengan rambut coklat dan beberapa high light warna-warni muncul di hadapan Yoongi. Senyumnya lebar hingga matanya melengkung nyaris lenyap dan gigi kelincinya terpamerkan dengan baik.
"Yoongi–ssi?" Jungkook menyapa riang sambil tidak melenyapkan senyumannya. Di sebelah gadis itu ada pemuda lumayan tinggi dengan rambut coklat dan high light hijau, mereka berdua terlihat seperti sepasang anak muda yang senang membuat sesuatu sesederhana rambut jadi sebuah couple. "Oh, kau benar-benar Min Yoongi!"
Yoongi tersenyum canggung dan mengangguk, ia berdiri untuk sekedar melakukan basa-basi tentang sopan santun. "Jungkook–ssi," ia menundukkan sebentar kepalanya sambil memberi senyuman. "Kau terlihat cantik malam ini."
Tawa kecil Jungkook membuat pemuda di sebelahnya tersenyum sambil memperhatikan gadis itu, cukup untuk membuat Yoongi berpikir mereka benar-benar pasangan yang sempurna. "Oh iya, omong-omong, kenalkan ini Taehyung," gadis itu menunjuk pada pemuda tinggi di sebelahnya. "Dia kekasihku. Dan, Taehyung, ini Yoongi, gadis yang dibawa Park Jimin."
Pemuda bernama Taehyung itu mengangguk kecil dan memberi senyuman pada Yoongi, "aku pernah melihatnya di kantor Jimin."
"Oh, Taehyung dan Jungkook," Jimin tiba-tiba muncul membawa dua gelas sampanye dan memberi senyuman kaku pada dua orang di hadapan Yoongi. Ia mengulurkan satu gelas di tangan kanan pada gadis di sebelahnya yang diterima gadis itu, kemudian tangannya yang kosong ganti merangkul pinggang kecil Yoongi. "Mengobrol tanpaku?"
Taehyung menggeleng, "kita baru saling berkenalan."
Jimin mengangguk paham, matanya mengerling bergantian dari Jungkook dan Taehyung. "Hair couple lagi?" Ia bertanya geli menyadari rambut keduanya yang terlihat lucu.
"Punya Taehyung lebih sederhana," jari Jungkook mengelus poni dengan beberapa garis warna hijau di sana. "Aku lebih suka yang punyaku."
"Gadis memang selalu heboh," Jimin mencebik. Ia melirik Yoongi yang terlihat gugup berada pada rangkulan yang justru membuat dirinya menarik tubuh kurus itu lebih dekat. "Yoongi–noona melakukan dengan baik untuk tampil sederhana."
Taehyung tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Jimin, "tu–tunggu, apa tadi? Noona?"
Laki-laki yang bicara sebelum Taehyung mengangguk tanpa dosa. "Yoongi–noona."
"Daebak!" Taehyung memekik kagum.
Jungkook tertawa kecil dan mengangguk setuju pada kekasihnya, "seingatku Jimin paling tidak suka menghargai umur orang yang lebih tua. Pada kekasihnya yang lebih tua pun dia cuma memanggil nama."
"Aku berubah pikiran sejak melihat Yoongi," mata Jimin sebentar mengerling pada gadis di rangkulannya. "Dia terlihat manis dan menggemaskan membuatku ingin memastikan diri sendiri kalau aku memang lebih muda darinya."
"Daebak," Taehyung dan Jungkook bersuara bersamaan.
Yoongi sejak tadi diam dan sibuk memperhatikan obrolan Jimin berserta teman-temannya, membatin dalam hati tentang yang mereka lakukan cukup untuk membuatnya bingung.
"Yoongi? Itu kau?" Suara seseorang yang tiba-tiba muncul dari sebelah Yoongi membuat gadis itu sedikit terlonjak, tapi menyadari siapa orang yang memanggilnya senyum Yoongi berubah jadi cerah.
"Hoseok!" Ia memekik agak keras dengan nada riang. Kemudian ia menoleh pada Jimin, "aku pergi dengan Hoseok sebentar ya?" Ia berpamintan, tidak lupa membungkuk kecil dengan sopan pada Taehyung dan Jungkook. Setelah itu ia melangkah menarik lengan Hoseok untuk berjalan menjauh.
"Hosiki!" Suara Yoongi terdengar begitu riang dengan senyuman lebar pada wajahnya. "Aku pikir kau masih di Jepang."
Hoseok terkekeh dan menggeleng, "aku baru pulang tadi pagi dan memutuskan untuk datang ke sini. Tidak kusangka justru bertemu dengan tuan putri."
"Yak!" Wajah Yoongi berubah kusut.
Sekali lagi Hoseok terkekeh, kali ini sedikit lebih keras. "Aku tidak tahu Seokjin bisa mendananimu seindah ini. Kenapa kau di sini, huh?"
Mata Yoongi mengerling pada laki-laki yang mengobrol dengan dua orang di hadapannya. "Janji dengan orang itu."
"Sudah kubilang jangan berurusan dengan Jimin," Hoseok mendengus agak kesal, menatap gemas pada Yoongi. "Kalau kau patah hati aku tidak bisa bantu."
"Hey! Kita tidak sampai sejauh itu kok."
"Itu sekarang," Hoseok tersenyum. "Tapi berikut-berikutnya bagaimana?"
"Kalau kita memang menjadi kekasih bukan masalah, setelah menikah aku bisa jadi kaya."
"Min Yoongi! Candaanmu selalu saja menjengkelkan."
Yoongi tertawa, ia menggeleng. "Kita tidak akan sejauh itu, percayalah. Lagipula dia orang baik."
"Baik apanya," Hoseok mencebik.
"Omong-omong di mana Jihoon?" Mata Yoongi mengedar ke seluruh ruangan, mencari keberadaan pemuda kecil yang selalu membuatnya gemas. Biasanya Jihoon selalu menempel pada Hoseok.
Hoseok terkekeh, "aku tidak mengajak Jihoon. Dia ada di café."
"Heish—kenapa tidak kau ajak ke sini?"
"Kau tahu 'kan," mata Hoseok menatap Yoongi dengan tatapan sulit diartikan. "Kau tahu kalau hubungan laki-laki dan laki-laki masih sulit diterima di sini, aku takut nanti kalau ditanya apa hubunganku dan Jihoon lalu aku menjawab kekasih, orang-orang akan berkomentar buruk tentang bocah itu. Dari rumor yang aku dengar, orang-orang berpikir kekasih gay seorang Jung Hoseok menggodaku yang gay untuk membantu keuangannya karena memang aku yang membangun café itu untuknya."
Yoongi mengangguk paham sambil membulatkan mulutnya. "Kau benar-benar kekasih yang baik."
"Tidak baik juga," Hoseok tersenyum simpul. "Kalau aku kekasih yang baik harusnya aku bisa menghentikan rumor itu, sayangnya aku tidak bisa."
Yoongi menepuk lengan Hoseok sambil memberi senyuman terbaiknya, "nikmati pestanya, Hoseok-ah!"
Jimin datang tiba-tiba di sebelah Yoongi, merangkul pinggang sempit itu dan menatap Hoseok sambil tersenyum tipis. "Sudah selesai mengobrol?" Ia bertanya sambil tangannya mengelus lembut pinggang Yoongi.
Hoseok melihat di mana tangan Jimin berada dan melihat Yoongi yang meringis kecil seperti menahan geli dengan bibir ditipiskan sambil mendesis lirih hingga hanya dirinya yang mendengar, "apa kalau kita belum selesai kau keberatan pergi sebentar, Jimin–ssi?"
Laki-laki itu terkekeh kecil, "mengobrol saja, aku akan di sini dan pura-pura tidak dengar."
"Geurae," Hoseok tersenyum tipis, "mungkin lain kali kita lanjutkan, Yoongi-ya. Aku mau mencari Namjoon dan Seokjin dulu. Sampai jumpa."
Yoongi mengangguk dengan bibir meringis merasa bersalah, ia melambaikan tangannya pada Hoseok agak kaku karena merasa membuat sahabat baiknya seperti orang asing.
"Hoseok itu siapamu sebenarnya?" Jimin bertanya sambil melirik Yoongi setelah laki-laki itu melangkah menjauh.
Yoongi mendongak dan mengerjap, menatap bingung pada pertanyaan Jimin. "Teman baikku, tentu saja. Kenapa?"
"Kalian lebih seperti sepasang kekasih," laki-laki yang merangkul Yoongi itu mendengus kecil. "Protektif padamu, meminta waktu sendiri, menatapmu dengan tatapan lembut, benar-benar seperti pasangan kekasih."
Gadis itu terkekeh kecil, "benar, semua orang selalu mengatakan aku dan Hoseok sepasang kekasih. Tapi serius, aku tidak pernah tertarik pada Hoseok sebagai lawan jenis begitu pula Hoseok padaku."
"Senang mendengarnya."
"Eoh?"
Jimin menoleh pada gadis di sebelahnya dan tersenyum, "senang mengetahui kau tidak pernah tertarik pada Hoseok sebagai lawan jenis."
"E–eh? Kenapa?" Yoongi menatap bingung laki-laki di sebelahnya.
Bukannya menjawab, Jimin justru menarik lengan Yoongi pelan munuju balkon. Sebelum sampai di luar, Jimin meraih gelas di genggaman Yoongi dan meletakkannya ke meja, membuat tangan mereka berdua kosong lalu membawa ke tempat sepi. Mata Jimin mengedar sekedar untuk memastikan tidak ada orang lalu tersenyum kecil. Ia menutup pintu balkon dan kembali di hadapan Yoongi yang terlihat bingung.
"Kenapa ditutup?" Yoongi bertanya dengan bingung, menatap wajah Jimin yang sekarang memberi senyuman padanya.
"Aku ingin mengobrol berdua denganmu," Jimin terkekeh kecil untuk mengakhiri kalimatnya.
"Bukankah masalah kalau ada orang yang melihat kita dan berpikir macam-macam?"
"Memangnya ada orang berani membuat berita macam-macam tentang Park Jimin?"
Yoongi terkesiap, terkejut pada pernyataan Jimin dan tatapannya yang terlihat tajam menusuk. Tidak, Jimin biasanya tersenyum hingga matanya lenyap, tapi kenapa ketika Yoongi bertanya sesuatu macam itu tatapan lelaki di hadapannya berubah mengerikan?
"Min Yoongi," suara Jimin merendah beberapa oktaf, mengubah tatapannya menjadi tatapan serius pada gadis di hadapannya. "Apa yang kau lakukan sebenarnya? Kenapa kau membuatku seperti ini?"
"Uh?" Yoongi mengerjap bingung. "A–apanya?"
Jimin melangkah mendekat pada Yoongi, sementara gadis itu justru mundur tiap Jimin semakin mendekatinya. Mendadak merasa benar-benar gugup sekaligus takut berada dalam tempat tanpa orang lain hanya berdua dengan atasannya. Hingga punggung Yoongi membentur dinding, Jimin mengulurkan kedua tangannya untuk mengunci pergerakan gadis di hadapannya. Yoongi mencoba lepas dari kurungan Jimin namun gerakannya tidak segesit laki-laki di hadapannya.
"Dari sekian banyak perempuan cantik aku memilihmu untuk menemaniku ke pesta ini," mata Jimin menatap dalam ke manik sipit Yoongi. "Kau tahu kenapa?"
Yoongi menggeleng dan menahan napas kemudian, terkejut karena setelah memberi jawaban laki-laki itu mendekatkan wajah pada dirinya. "Ji–Jimin…."
Yang namanya disebut menarik satu sudut bibirnya, matanya menajam untuk sekedar menembus telaga dalam di mata gadis itu. "Karena… aku menyukaimu."
Satu kecupan mendarat pada bibir Yoongi, mata sipit gadis itu melebar sempurna dengan reflek tangan meremas lengan kekar Jimin. Ia terkejut, tubuhnya mendadak kaku karena bibir Jimin mendarat terlalu lama pada bibirnya.
Setelah memberi kecupan yang hanya menempelkan bibir, Jimin menarik sebentar dirinya dari Yoongi, sekedar untuk melihat wajah terkejut gadis yang baru saja ia cium. Setelah melihat Yoongi yang ingin bersuara terbata, Jimin tersenyum kecil dan mengelus pipi putih Yoongi dengan sayang.
"Aku menyukaimu, Min Yoongi," ulangnya sekali lagi, pun kembali memiringkan wajahnya dan meraih bibir merah tipis yang menarik hatinya sejak awal. Ia merasakan rasa manis saat menjilat bibir itu, melakukannya dengan berani karena menyadari Yoongi masih terlalu terkejut dan belum bisa berbuat banyak. Karena bibir Yoongi yang terbuka sebelum ia diserang, Jimin menyelipkan lidahnya cepat ke dalam mulut gadis itu untuk mengabsen gigi atas dan gigi bawah yang rapi.
Yoongi bergetar. Tubuhnya seperti mengigil karena rasa lidah Jimin dalam mulutnya, juga dingin dari pagar yang menempel pada tubuhnya dari punggung hingga kaki. Jimin membuat dirinya makin menempel pada sisi pagar dan terus bergerak dalam mulutnya, memainkan lidahnya hingga melilitnya. "A–ahh," suara Yoongi lolos saat tangan Jimin meremas pinggangnya sambil mengigit bibir bawahnya. Gadis itu dalam hati merutuki suaranya yang tidak dapat ia tahan dan memejamkan mata erat hingga Jimin menarik dirinya menjauh.
Jimin terkekeh kecil melihat tingkah gadis di hadapannya, tangannya masih bertengger manis pada pinggang kurus Yoongi dan matanya sibuk memperhatikan keindahan wajah gadis yang ia sukai. Rona merah menghiasi pipi hingga telinganya, rasanya ingin tertawa melihat apa yang gadis itu lakukan.
"Kau bisa membuka matamu," Jimin bersuara sambil tersenyum, hanya saja gadis itu menggeleng dan tetap memejamkan mata. Ia menghela napas dan tertawa kecil melihat tingkah orang yang dipanggilnya noona sejak kemarin-kemarin justru seperti gadis senior high school yang ciuman pertamanya dicuri seorang ahjussi tua pemaksa. "Aku akan berpura-pura tidak mendengar suaramu ta—"
"Yak!" Mata sipit itu terbuka dengan nyalang dan menatap kesal Jimin, dan saat menyadari wajah terkejut laki-laki yang diteriakinya ia langsung menutup mulutnya juga menunduk merasa bersalah. "A–astaga, maafkan aku. Maaf—," tanpa menyelesaikan kalimatnya gadis itu berlari ke dalam meninggalkan Jimin yang masih hilang akal karena teriakan Yoongi beberapa detik lalu.
Selepas Yoongi pergi, Jimin terkekeh kecil sambil menatap punggung gadis itu yang belum melangkah terlalu jauh. Dalam hati memuji bagaimana gadis cantik seperti Yoongi bisa begitu manis dan menggemaskan.
"Seokjin-ah, Seokjin-ah!" Yoongi melangkah cepat tanpa memedulikan langkahnya yang beberapa kali goyah karena sepatunya, menghampiri gadis yang tengah mengobrol bersama laki-laki berambut dirty blonde yang lumayan tinggi.
"Eoh? Min Yoongi?" Namjoon, laki-laki yang mengobrol dengan Seokjin, menatap terkejut pada kehadiran gadis kecil yang kini berada di sebelah kekasihnya. "Sedang apa kau di sini?"
"Dia tamu undangan dari seorang tamu undangan," Seokjin terkekeh sambil merangkul lengan Yoongi yang terlihat kepayahan. "Ada apa? Di mana orang yang membawamu ke sini?"
"Itu masalahnya!" Yoongi memekik heboh saat Seokjin menanyakan Jimin. Gadis itu menatap serius teman berbagi apartemennya dan menggenggam jemari lentik yang tadi merangkul lengannya. "Dengarkan aku baik-baik."
Yang tangannya digenggam itu mengangguk paham, menatap serius gadis di hadapannya. Namjoon sendiri diam-diam berniat menguping pembicaraan dua gadis di hadapannya.
"Jadi tadi aku dari balkon," satu tangan Yoongi menuding ke arah pintu kayu yang terbuka dan persis menuju balkon. "Di sana… Park Jimin menciumku!" Suaranya terdengar heboh hingga Seokjin melebarkan mata dan Namjoon hampir menyemburkan minumannya. "Dia mengatakan dia menyukaiku dan menciumku! Dua kali!"
"Tunggu, tunggu," Namjoon menyela Seokjin dan Yoongi yang terlihat heboh dengan cerita pendek gadis paling kecil. "Park Jimin? Maksudmu… atasanmu pemilik Park House itu?"
Yoongi mengangguk dengan wajah serius, memberi tatapan aku bersumpah sambil bibir terbentuk sempurna untuk sekedar meyakinkan laki-laki tinggi di hadapannya. "Aku tidak berbohong, kalau aku berbohong aku berani bersumpah besok aku akan dipecat."
"Bukan itu masalahnya," laki-laki itu meringis mendengar taruhan yang Yoongi berikan, ia menatap serius gadis di hadapannya. "Kabar yang beredar, Park Jimin bukan laki-laki baik pada perempuan. Kau lihat sendiri… dia langsung meciummu tadi."
"Tapi Jimin membelikan Yoongi banyak hal," Seokjin menyela dengan mata menajam, tangannya dilipat di dada untuk bertingkah seolah menantang kekasihnya. "Kabar yang beredar Park Jimin tidak pernah mau membuang uangnya untuk gadis yang menarik hatinya sekalipun gadis itu gadis pas-pasan."
"Maja," laki-laki itu mengangguk setuju, tapi wajahnya jelas terlihat berpikir. "Apa menurutmu itu bukan sebuah strategi?"
"Jangan menghubungkan perempuan dengan bisnis kau saekki. Memangnya perlu strategi apa untuk menggaet gadis? Aku pun siap bertekuk lutut menghadap Park Jimin hanya dengan senyumannya tanpa perlu dibelikan ini–itu," bibir Seokjin mencebik jengkel.
"Kau hanya bertekuk lutut menghadapnya. Jika denganku kau bertekuk lutut membelakangiku. Bukankah itu terdengar lebih berbahaya aku?" Namjoon membalas serangan Seokjin dengan seringaian.
"Kalian, hentikan!" Tangan Yoongi mendarat pada kepala Namjoon hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan yang meski membuat reaksi sakit seperti itu dirinya harus sedikit berjinjit. "Kenapa kalian berdebat padahal aku hanya menceritakan masalahku?"
"Mian," Seokjin meringis. "Kau sekarang mau apa, Yoongi-ya?"
Gadis yang ditanyai menatap satu-satunya laki-laki diantara mereka, "keberatan jika aku minta diantar pulang?"
Namjoon tersenyum dan menggeleng, "bukan masalah. Kau teman kekasihku, membantumu jelas bukan hal besar."
TBC.
Jimin udah nyatain suka loh! Ah yeah—Yoongi pasti syok banget ya dicium tiba-tiba sama atasannya yang pernah dia kasih selamat malam sebelum tidur hahaha XD
Di sini TaeKook masih jarang karena emang kayanya aku buat yang tokoh bener-bener utama ini si Yoongi, jadi masih susah buat bikin interaksi antara Yoongi dan TaeKook kalau enggak ada Jimin. Sebenernya aku kurang yakin sama alasan kenapa Jihoon enggak ada, tapi rencanaku emang bikin alasan Hoseok enggak bawa Jihoon ya karena dia mau sembunyiin Jihoon dari orang banyak. Biar cuma beberapa orang aja yang tau Jihoon itu pacarnya gitu.
Trus kenapa pada khawatir Yoongi deket sama Jimin ya hahaha padahal kan Jimin baik banget sama Yoongi, bahkan Yoongi sendiri udah jatuh cinta sama Jimin kkkk :3
Ya udah, kita lihat aja kelanjutannya nanti gimana si Jimin selesaiin masalahnya sehabis cium kembang mawar putih hahaha pasti si Yoongi bakal ngehindarin si Jimin mulu deh nih, iya enggak sih? Eh aku kan authornya hahaha XD
Aku update cepet banget nih rasanya, baru dua hari lalu aku update dan hari ini update lagi kkk semoga kalian suka :3
