copyright © 2016 by crownacre

BEAUTIFUL DISASTER

seperti sebuah dosa yang manis

Park Jimin and Min Yoongi fanfiction

[ NOTE ]

Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.

[ WARNING ]

OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated ; Typo(s)

Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu


"Yoongi," Yuju menghampiri Yoongi yang tengah menyelesaikan tugasnya di meja, gadis yang berdiri itu meletakkan sebuah berkas ke sisi lain meja Yoongi. "Kau dipromosikan. Katanya Presdir Park yang mengajukanmu, chukkae!"

Yoongi mendongak tidak percaya, menatap dengan mata melebar sempurna pada gadis yang berdiri itu. "A–apa?"

"Kau dipromosikan, Yoongi-ya! Kenapa? Kau seperti tidak senang," Yuju menatap bingung teman satu kantornya itu. "Kalau kau menang promosi, kau akan menggantikan posisi Sooyoung yang baru keluar kemarin. Kau bisa jadi staff inti bersamaku. Kau tidak senang?"

"Bukan tidak senang," Yoongi menggaruk tengkuknya gugup. "Aku hanya merasa—terlalu tiba-tiba. Aku hanya pegawai baru."

"Tapi kerjamu sangat baik," Yuju mengacungkan ibu jarinya pada Yoongi. "Harus aku akui kerjamu memang oke. Sepertinya semua juga tidak keberatan kau dipromosikan."

Yoongi meringis kecil, menatap Yuju dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku takut aku tidak bisa bertanggung jawab pada tugasku nanti."

"Aish, kenapa kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu semacam itu?"

"Yoongi," suara seseorang tiba-tiba menginterupsi obrolan Yuju dan Yoongi.

Yuju terkesiap saat menoleh dan menyadari sosok itu adalah Jimin, sementara Yoongi dengan segera berdiri untuk sekedar melakukan sopan santun pada atasannya itu.

"Hai Yuju," Jimin memberi senyuman pada Yuju yang kini terlihat begitu canggung. "Boleh aku pinjam Yoongi untuk menemaniku makan siang?"

"A–ah?" Mata Yuju melebar, melirik sebentar pada Yoongi yang sekarang terlihat sedikit gelisah dan gugup. "Tentu Tuan Park, Anda bisa membawa Yoongi. Saya sudah selesai."

Yoongi memegang lengan Yuju dan memberi tatapan seperti sebuah permohonan minta diselamatkan.

Yuju terkekeh kecil melihat wajah Yoongi yang terlihat lucu tapi kemudian mendorong pelan tubuh kurus itu agar lebih dekat dengan Jimin. "Saya permisi Tuan Park," Yuju pergi dengan sopan sambil meninggalkan satu tepukan pada bahu Yoongi.

Jimin terkekeh melihat Yoongi yang sekarang sibuk mengalihkan pandangannya dari dirinya, terlihat sangat menggemaskan sekaligus lucu. "Ayo kita makan di restoran sebelah," Jimin menepuk bahu Yoongi untuk sekedar menyadarkannya dari kegiatan mari–mencari–sesuatu–lain–selain–Jimin–untuk–dipandangi.

"W–wae? Kenapa tidak di kantin bawah saja daripada di restoran?"

"Dan kau menjadi bahan perbincangan karena mengobrol denganku?"

"Ah," Yoongi mengangguk dengan mata melebar; paham maksud yang Jimin ucapkan. "Baiklah, saya bereskan meja saya dulu."

.

Yoongi duduk di bangku yang sudah Jimin tarikkan untuknya, sedikit menahan napas menyadari sopan santun yang Jimin berikan cukup untuk membuatnya salah tingkah. Ia menatap sekitar untuk melihat restoran yang dipilih Jimin benar-benar luar biasa indah, apalagi tempatnya tepat di sebelah jendela hingga ia dapat melihat pemandangan di luar. Saat siang hari pemandangan memang tidak benar-benar bagus, tapi melihat bagaimana orang-orang berlalu-lalang cukup untuk membuat Yoongi tersenyum ringan merasa nyaman.

"Kau suka?" Jimin bertanya setelah selesai memesan makanan untuk mereka berdua, tersenyum kecil memperhatikan Yoongi yang terlihat senang di tempatnya sekarang.

Yoongi terkesiap, ia kemudian menatap Jimin sebentar dengan malu-malu setelah itu mengangguk kecil. "Su–suka."

"Kemarin kau lari," ia bersuara sambil menatap ke dalam mata Yoongi. "Ada apa?"

Yoongi tergagap, terlihat bingung harus menjawab apa. Melihat Jimin tersenyum, ia pun mencoba tersenyum meski yang keluar justru ringisan. "Aku panik saat itu, jadi aku minta diantar pulang Seokjin."

"Maaf untuk tiba-tiba menciummu," senyuman Jimin terlihat makin menawan.

"Bu–bukan masalah," gadis itu terlihat panik pada jawabannya sendiri. "Maksud saya—"

"Apa kalau bukan masalah aku bisa menciummu lagi?"

"Bukan begitu!" Suaranya sedikit meninggi dan bergetar.

Jimin terkekeh kecil melihat Yoongi yang sekarang nampak begitu lucu dan menggemaskan. "Kau tidak suka ya?"

"Ti–tidak suka? Tidak suka apa?"

"Tidak suka alasanku menciummu?"

"Saya suka—"

Dan Yoongi baru menyadari bahwa pertanyaan Jimin adalah pertanyaan yang memancing. Sialnya, ia tertipu dengan baik oleh pertanyaan tadi. Dalam hati ia menggerutu untuk dirinya sendiri yang sudah ceroboh menjawab dengan jawaban seperti itu.

"Baguslah, kalau begitu aku bisa tidur nyenyak nanti malam."

Pesanan datang diantar oleh seorang pelayan yang meletakkannya dengan penuh gaya sopan ke atas meja, memberi senyuman pada Jimin dan Yoongi. "Selamat menikmati," ujarnya sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.

Yoongi memperhatikan makanan di hadapannya, daging panggang yang disiram saus coklat dan sayur berada di sebelah daging itu. Ia menelan ludah saat mencium bau menyenangkan daging yang meski bukan seperti gogi kesukaannya di kedai tempatnya ia biasa menghabiskan uang dengan Hoseok, ia tetap tergoda. Ia suka daging dan Jimin memberi makanan kesukaannya dengan sangat tepat.

"Kenapa?" Jimin bertanya bingung melihat Yoongi yang hanya memandangi piringnya setelah ia selesai memotong semua dagingnya. "Kau tidak suka daging?"

"Tidak, tentu saja saya suka," gadis itu meringis kecil.

Jimin tersenyum melihat Yoongi yang terlihat canggung dan baginya terlihat sangat menggemaskan. Ia mengangkat piring Yoongi dan meletakkan piringnya di hadapan Yoongi, mengambil daging yang masih utuh itu untuk berpindah di hadapannya. "Makanlah yang sudah kupotong," ujarnya sambil mempertahankan senyuman.

Yoongi mengangguk patuh, memegang garpunya untuk mulai menusuk daging lembut di piringnya. Saat daging itu masuk ke mulutnya, bibirnya tersenyum lebar menyadari rasanya yang benar-benar enak. Tidak seperti gogi yang ia buat sendiri dan terkadang ada rasa terbakar karena membakarnya hingga gosong, daging lembut ini dibuat dengan kematangan yang sempurna. Dulu seingatnya seseorang dengan kemampuan membuat daging seenak ini adalah neneknya, entah kenapa ia jadi merasa menikmati makanan neneknya dan membuatnya memakan dengan lahap daging itu.

Jimin tertawa dalam hati melihat Yoongi yang nampak hanya fokus pada makanan, juga cara mengunyahnya yang lucu seperti seorang penilai masakan karena caranya yang hati-hati.

Setelah selesai makan dan melakukan sedikit obrolan, Jimin menyuruh Yoongi untuk menunggu di luar saat ia membayang. Berpikir bahwa mungkin saja Yoongi akan sibuk mengomel mengetahui harga makanan yang mereka beli karena saat membeli baju beberapa hari lalu gadis itu terus menunjukkan rasa bersalahnya dan penyesalan karena membuat dirinya mengeluarkan uang untuk hal sia-sia.

"Aku selesai," Jimin merangkul pinggang sempit Yoongi melihat gadis itu tengah memperhatikan sekeliling dengan wajah ceria. Sejak melihat Yoongi yang selalu memperhatikan lingkungan dengan cara yang cantik, ia berpikir bahwa mungkin gadis ini memang seorang gadis penuh rasa syukur. Terlihat dari bagaimana caranya memberi pujian tulus lewat mata akan hal-hal yang ia lihat dan ia miliki. "Mejamu sudah rapi dan tasmu sudah kau bawa, apa kalau aku menculikmu menuju mall kau akan keberatan?"

"A–ah? Tapi ini belum jam selesai kantor," Yoongi ingat bahwa pukul dua siang ia baru boleh meninggalkan kantor. Dan sekarang pukul satu pun belum ada. Tidak mungkin ia meninggalkan tempatnya bekerja meski hal yang perlu ia selesaikan sudah selesai sejak lama. Ia jadi teringat tentang Yuju yang terkadang memerlukan bantuannya, dan sejauh yang ia ingat, akhir-akhir ini Yuju benar-benar sibuk hingga beberapa kali meminta bantuannya. "Saya pikir—"

"Aku tidak menerima penolakan," Jimin memberi senyuman menawan. "beberapa hari lalu kita pergi dengan Seolhyun, aku ingin hari ini kita pergi hanya berdua. Bagaimana?"

"Kenapa harus hanya berdua?"

"Karena aku menyukaimu dan aku ingin pergi bersama orang yang aku suka."

Dan sekali lagi Yoongi harus pasrah pada kemauan hatinya yang menjengkelkan untuk tetap menuruti perintah mutlak dari Jimin.

.

Yoongi tidak mengerti kenapa Jimin membawa dirinya pergi ke deretan pakaian perempuan yang terlihat begitu mewah, sesekali gadis itu meringis kecil melihat harganya yang lumayan jelas di beberapa pakaian terpampang dan membayangkan dirinya harus menghabiskan begitu banyak uang untuk satu pakaian.

"Kau tidak ingin memilih?" Jimin menyenggol lengan Yoongi saat melihat sosok itu hanya memperhatikan tanpa menentukan pakaian yang ingin ia pilih.

Yoongi mendongak sambil meringis, "kenapa harus memilih? Aku tidak mungkin membelinya," jawabnya dengan nada sangsi.

Jimin terkekeh mendengar penuturan lugu dari gadis itu, mengelus rambutnya yang sudah kembali berubah hitam setelah malam hari lalu ia melihatnya berwarna coklat. "Noona, kau bisa memilih apapun yang kau suka dan aku akan membayarnya untukmu."

Gadis itu mendongak dengan kening mengerut, "lagi?"

"Lagi?" Jimin membeo bingung.

"Maksudku—lagi-lagi kau mau membayarkanku sesuatu seperti pakaian yang bahkan tidak kau perlukan?"

"Aku memerlukannya," mata Jimin menajam. "Aku memerlukannya untuk membuatmu terlihat cantik."

"Memangnya aku apamu? Kenapa kau bersikap begitu baik? Aku—aku jadi merasa tidak benar karena tidak bisa membalas kebaikanmu."

Jimin menghela napas, "aku menyukaimu, aku sudah mengatakannya waktu itu. Dan aku mau membuatmu senang karena aku menyukaimu. Apa kurang jelas?"

"Tapi aku tidak menginginkan kau buat senang dengan cara seperti ini, Jimin-ah."

"Yoongi," Jimin menatap ke dalam mata Yoongi hingga gadis itu terdiam dan tidak dapat bergerak. Bibirnya menipis dan terkatup rapat sekedar untuk mendesis jengkel pada sosok di hadapannya karena entah kenapa membuatnya begitu kesal, sifat keras kepala yang tidak menyenangkan hatinya. "Bersikaplah sebagai gadis penurut, bisa?"

"Kenapa aku harus jadi gadis penurut?"

"Karena aku takut aku memarahimu."

Yoongi menghela napasnya, menatap dengan tatapan yang sulit diartikan pada sosok lelaki di hadapannya dengan ribuan kalimat yang ingin ia lontarkan. "Kau membuatku takut," dan hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan dari banyaknya rentetan kata yang ingin ia muntahkan, hanya sebatas itu kalimat yang mampu didorong ke luar oleh kekuatannya.

Bisa dilihat rahang Jimin mengeras, tatapannya jauh lebih menakutkan daripada tatapan tajam yang diberikan beberapa menit lalu, bibirnya pun sudah benar-benar tipis karena sibuk mendesis untuk menahan makian yang ada pada otaknya. "Min Yoongi, apa yang begitu mahal darimu? Berhentilah bersikap seperti ini karena aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu dan harusnya kau tidak sangsi pada hal itu."

"Aku tidak meragukan perasaanmu," Yoongi bersuara dengan gentar, terlihat beberapa kata yang goyah saat ia mengucapkannya. "Aku—aku hanya takut. Kau bersikap begitu baik padaku yang jelas bukan apa-apa. Aku takut—"

"Apa aku terlihat berbahaya bagimu?"

"Kau… tidak. Tapi teman-temanku mengatakan kau berbahaya."

"Dan itu juga salah satu alasan kenapa kau takut?"

Gadis itu mengangguk.

"Apa aku perlu melakukan sesuatu agar kau tidak merasa takut lagi?"

Sekali lagi gadis itu mengangguk, ia memberi senyuman tipis. "Antar aku ke kantor, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dan aku akan merasa baik-baik saja setelah itu."

"Tanpa membeli sesuatu di sini?" Jimin memekik tidak percaya. Seperti baru kali ini melihat pernyataan lugas namun tidak pernah terbayang dalam pikirannya. Pikirnya, seorang gadis akan selalu senang melihat barang-barang mahal atau sekedar dengan brand ternama yang akan ia pamerkan dengan bangga pada teman-temannya.

Yoongi mengangguk, memberi senyuman sederhana yang selalu membuat Jimin meringis dalam hati mengetahui bagaimana gadis di hadapannya begitu menikmati hal kecil tanpa kesombongan. "Tanpa perlu membeli apapun, aku sungguh tidak membutuhkannya."

Jimin menghela napas, menyerah pada gadis keras kepala yang baru kali ini berhasil mengalahkan dominasinya. "Baiklah, kita ke kantor."

Mereka sampai di kantor setelah selama perjalanan hanya saling diam. Sebelumnya sesekali Yoongi melirik pada sosok Jimin yang ada di sebelahnya, begitu pun sebaliknya. Tapi tiap mata mereka hampir bertemu, mereka akan memalingkan wajah.

"Saya bisa pulang sendiri nanti," Yoongi bersuara lebih cepat daripada Jimin yang tengah mengambil napas; ia tahu Jimin akan menawarkan tumpangan dan ia tidak mau merepotkan terlalu banyak atasannya. "Tuan Park, hati-hati di jalan," ujarnya sambil tersenyum, ia melambaikan tangan setelah menutup pintu dan mobil itu berjalan meninggalkan kantor.

Yoongi segera masuk ke kantor, sedikit berlari susah payah karena heels-nya yang sedikit menganggu—entah kenapa ia jadi sedikit tertarik dengan heels sejak Jimin memberinya sepatu di hujan waktu itu meski sering menolak Seokjin yang memberi saran sepatu dengan heels yang cocok dengan pakaiannya saat berangkat kerja.

Saat tiba di mejanya, ia menemukan Yuju yang tengah duduk di bangkunya sambil mengerjakan sesuatu. Matanya melebar dan dengan panik ia menghampiri sosok itu, menepuk bahu Yuju dan menginterupsi kegiatan gadis yang duduk.

"Sedang apa?" Ia bertanya bingung, melirik ke sesuatu yang dikerjakan Yuju.

Yuju tersenyum sambil terkekeh, ia menunjukkan kertas kerjanya. "Mengisi sesuatu yang tadi diberikan Oh Sehun untukmu."

"Yah!" Yoongi mendorong tubuh Yuju, membuat gadis yang tadi di bangkunya berdiri dari duduknya. Ia menatap tidak senang pada kertas yang sepertinya sudah diselesaikan setengah. "Kenapa kau yang menyelesaikannya?"

"Kemarin kau dengan liciknya menyelesaikan tugas kita, membuatku terlihat begitu buruk karena tidak membantumu mengerjakannya. Sekarang aku mau membayar kelicikanmu dengan ini," Yuju menyeringai tanpa dosa. "Kita impas, oke?"

"Baiklah," Yoongi menghela napas, menyerah pada Yuju yang bersikeras bahwa dirinya tidak salah mengerjakan tugas untuk Yoongi. "Karena kita sudah impas, lain kali jangan lagi."

"Kau juga!" Jari lentik Yuju menuding Yoongi gemas. "Jangan mengerjakan sendiri tugasmu jika itu harus dibagi. Deal?"

"Deal."

Setelah itu Yuju melangkah menjauh sambil terkekeh-kekeh kecil, meninggalkan Yoongi yang merasa bersalah dan sedikit menyalahkan Jimin karena membuatnya melewatkan tugas dan menyebabkan Yuju mengerjakannya. Tapi ia menghela napas, Jimin tidak boleh disalahkan atas kecerobohannya sendiri.

Ia menyelesaikan apa yang tadi Yuju kerjakan dalam waktu satu jam. Jam dinding di atas pintu masuk menunjukkan waktu pulang lewat beberapa menit saat Yoongi mendongak, tersenyum tipis dan merasa lega setidaknya bisa menghabiskan satu tugas di hari ini. Setidaknya besok bebannya tidak terlalu banyak. Masih ada beberapa hal yang perlu ia tulis ulang karena kesalahan cetak dan file aslinya yang hilang.

Yoongi ke luar dengan langkah malas, berjalan menuju halte bus dan mulai membayangkan kasurnya yang akan terasa sangat nyaman setelah melewati hari yang melelahkan. Hari ini tidak ada part–time dan ia bersyukur untuk itu. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, bus pun datang. Yoongi masuk sedikit tergesa karena begitu merindukan kasurnya juga air yang akan membersihkan tubuhnya.

Selama dalam bus, ia memperhatikan jalan yang sedikit lengang, langit terlihat mendung dan Yoongi menyimpulkan mungkin saja memilih tidak keluar daripada harus kehujanan.

Setibanya di halte dekat apartemennya, ia turun dan melangkah. Langit masih gelap, namun hujan belum juga turun. Ia berpikir mungkin saja hujan menunggunya pulang agar dirinya tidak kebasahan, terkekeh kecil saat ia menggumam langit yang baik hati. Seperti anak kecil saja.

Ia masuk ke dalam apartemen dan disambut oleh Seokjin yang memasang wajah sumringah, Yoongi mengerut bingung melihat wajah teman satu apartemennya yang terlihat tidak bisa. Gadis yang lebih tinggi itu menarik pelan tubuh Yoongi agar berdiri lebih dekat lalu membisikkan sesuatu, cukup untuk membuat kening Yoongi mengerut bingung tidak mengerti.

"Siapa yang repot-repot menungguku sejak tadi?" Ia terus menanyai Seokjin yang bermain tebak-tebakan hingga mereka tiba di tempat tamu itu menunggu.

Mata Yoongi membulat sempurna melihat sosok yang ia kenal duduk manis di bangku dengan teh satu gelas di hadapannya yang sudah terminum sebagian. Sempat tidak percaya, ia menatap tajam sosok yang kini memberinya senyuman, menatap dirinya dengan sedikit mengerikan karena sosok itu jelas bukan yang ada pada bayangannya.

"T–Tuan Park?"

Sosok yang disebut itu mengangguk sopan, ia menatap bingung Yoongi yang tidak segera duduk dan justru berdiri bergeming di tempatnya. "Kenapa diam di sana?"

Seokjin tertawa kecil seperti bocah high school yang baru melihat seorang laki-laki tampan menggoda sahabatnya, mendorong-dorong pelan lengannya dengan siku hingga Yoongi menolak dan memberi lirikan tajam tidak senang.

"Mian," gadis itu meminta maaf setengah hati. "Kau harusnya ke sana, dasar tidak tahu sopan santun."

Yoongi mendengus, menendang pelan kaki Seokjin dengan gemas laul menghampiri Jimin yang sudah memberi senyuman dua jari di wajahnya saat ia melangkah mendekat. "Selamat sore Tuan Park. Kenapa kemari?" Ia bertanya dengan sopan, bertingkah seolah tidak mengerti kenapa sosok tampan itu repot-repot datang ke rumahnya.

"Aku pikir kau tidak mau aku antar," nada suaranya seperti ditarik-tarik dengan sedikit nyanyian di dalamnya. "Jadi… aku menunggumu dan memastikanmu sampai dengan selamat."

"Whoaa," Seokjin bersuara setengah meledek gadis di sebelahnya yang mendapat balasan kekehan oleh Jimin di hadapannya. "Aku pergi!" Ia bersuara cepat saat sekali lagi mendapat tatapan tajam dari Yoongi karena kesal. "Selesaikan masalah kalian. Jika kalian bercin—"

"Kim Seokjin!"

"Baiklah, sampai jumpa!"

Jimin terkekeh saat Seokjin sudah menjauh, masuk ke dalam kamarnya. "Sahabatmu lucu juga," komentarnya.

"Lucu apanya," Yoongi mencibir. "Gila baru benar."

"Karena dia gila dia terlihat lucu."

"Sekarang kau yang lucu menyebut Seokjin lucu."

Jimin tertawa gemas melihat wajah sewot Yoongi, belum pernah sebelumnya Yoongi membuat wajah seperti itu di hadapannya. "Min Yoongi yang paling lucu," ia mencubit pipi Yoongi gemas setelah mengatakan gadis di hadapannya lucu.

Mata Yoongi menatap tajam Jimin. "Hentikan, aku tidak lucu," ujar gadis itu setengah jengkal. Menyingkirkan tangan Jimin yang ada pada pipinya.

"Baiklah," lelaki itu terkekeh kecil, ia kemudian beranjak dari duduknya. "Aku pikir aku perlu pulang."

"Pulang?" Yoongi menoleh ke arah luar dan menemukan banyak rintik hujan telah berjatuhan. Di luar pasti sudah basah karena airnya terlihat tidak baik hati. "Hujan-hujan begini?"

"Aku pakai mobil."

"Tidak mau makan dulu?"

Jimin menggeleng, "lain kali saja aku mampir untuk mencoba makanan rumahan buatanmu. Oke?"

Yoongi mengangguk, "baiklah."

Yoongi mengantar Jimin ke depan pintu apartemen, melambai kecil pada lelaki itu setelah sosoknya selesai memakai sepatu dan berjalan ke luar menuju lift.

"Sampai jumpa di kantor, Yoongi," senyuman menawan terpasang apik pada wajah indah Jimin.

Yang mendapat senyuman itu mengangguk dengan sopan dan membalas senyumannya, "sampai jumpa, Tuan Park."

Jimin menunggu Yoongi menutup pintu. Hingga gadis itu pun menghilang di balik pintu putih, ia langsung melangkah turun lewat tangga darurat yang ada di sebelah lift.

.

"Pangeranmu sudah pulang?" Seokjin meledek saat Yoongi terlihat melangkah gontai setelah dari kamar mandi. Mencium bau harum dari tubuh kurus itu, ia simpulkan bahwa sosok Jimin sudah pulang sejak tadi. Karena Yoongi sudah selesai mandi.

Yoongi mendengus, menatap kesal pada Seokjin yang senang sekali meledeknya. "Pangeran apanya. Dia hanya bermaksud memberi tahuku sesuatu."

"Sesuatu tentang mengajakmu menikah?"

"Yah—Kim Seokjin!"

Seokjin tertawa, terbirit masuk ke dalam kamarnya sebelum Yoongi memutuskan melempar dirinya dari lantai setinggi ini. Ia bisa mendengar omelan jengkel Yoongi dari dalam dan terkekeh kecil karena ucapannya yang penuh dengan komentar soal dirinya.

"Kau benar-benar menjengkelkan, dasar Seokjin!"

Yoongi masuk ke dalamnya setelah puas mengomel pada teman satu apartemennya, ia melempar tubuhnya hingga berbaring di kasur dan entah kenapa jadi tersenyum-senyum sendiri. Entah kenapa pipinya merona mengingat Seokjin menyebut Jimin dengan pangeranmu, kata ganti yang sebenarnya benar-benar menggelikan namun cukup untuk membuat wajahnya panas. Seharunya ia tidak merona, tapi saat otaknya memutar kembali kejadian tadi siang ia merasa sosok Jimin memang seperti seorang pangeran masa kini. Setidaknya tanpa kata imbuhan mu yang membuat Jimin terlihat dimiliki, cukup kata pangeran sebagai sosok yang diidamkan semua gadis agar menjadi kekasihnya.

Sekarang Yoongi benar-benar tidak mengerti harus mendengarkan ucapan Namjoon dan Hoseok yang memberi tahu dirinya harus hati-hati, atau kata hatinya yang jelas mengatakan dirinya jatuh cinta pada Park Jimin.

TBC.


Nah. Jelas kan sekarang Yoongi perasaannya gimanaaa ~ aaah niatnya aku mau buat ada pengakuan dari Yoongi ke Jimin tentang perasaannya, tapi kayanya mending ntar aja deh. Next chapter. Aku maksa diri aku buat bisa selesai sebelum aku berangkat study tour dan mutusin langsung hari ini aja karena besok minggu perlu siapin ini itu dan ada tugas yang perlu aku selesaiin biar waktu pulang study tour bisa tidur pules.

Next chapter aku post paling cepaaaat hari sabtu, aku usahain aku bisa selesai post di sabtu malem biar jadi malam mingguan, kaya chapter ini lol.

Maaf untuk typo dan mungkin kesalahan tulis, aku enggak sempet edit karena terlalu malas (jujur) dan ada sesuatu yang bikin aku mikir perlu selesaiin aja langsung sekarang.

Yaudah, mungkin segini aja basa-basinya. Jangan lupa reviewnya ya!