copyright © 2016 by crownacre
BEAUTIFUL DISASTER
seperti sebuah dosa yang manis
Park Jimin and Min Yoongi fanfiction
[ NOTE ]
Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.
[ WARNING ]
OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated ; Typo(s)
Terdapat beberapa kalimat kasar yang mungkin akan menganggu
Hari Minggu yang cerah bukan alasan untuk bermalas-malasan, Yoongi memutuskan kembali mengisi Minggunya yang membosankan dengan pekerjaan paruh waktu di toko buku karena memang tempat itu satu-satunya tempat yang dekat dengan apartemennya. Jihyo, sang pemilik toko, pun tidak keberatan dengan idenya dan justru dengan senang hati menerima pegawai tambahan mengingat jarang ada orang yag berpikir perlu bekerja di hari Minggu.
Yoongi melangkah gontai memasuki toko buku tempatnya bekerja. Senyuman Yebin di salah satu deretan buku membuat gadis itu ikut tersenyum, ia menepuk sebentar bahu Yebin dan pamit untuk masuk ke ruang pegawai untuk mengganti pakaiannya agar seragam.
Saat keluar, ia melihat Yebin tengah mengobrol bersama Jihyo dan gadis yang ia kenali wajahnya berdiri di sebelah sang pemilik toko. Ia terbelalak menyadari bahwa itu adalah Seolhyun, apalagi saat sosok cantik itu menemukan dirinya dan memberi senyuman lebar.
Seolhyun menghampiri Yoongi dengan wajah riang dan tangan memberi peringatan pada sosok itu agar tidak berlari menjauh. Saat dirinya tiba di hadapan gadis yang lebih pendek, ia mengulurkan sebuah kertas warna biru laut dengan wajah memohon yang lucu.
"Pesta ulang tahun," gadis itu bersuara sedikit dibuat-buat, matanya memberi tatapan penuh permohonan pada gadis di hadapannya. "Pesta ulang tahun dan aku mengundangmu untuk datang. Jangan menolak, ya?"
Mata sipit Yoongi mengerjap, menatap bingung Seolhyun yang memberi ekspresi aegyo. "Aku?" Ia bersuara bingung dengan tangan menunjuk dirinya sendiri. "Aku—tidak yakin," ujarnya sedikut sangsi.
"Yah!" Seolhyun menatap kesal pada Yoongi dengan bibir melengkung ke bawah. "Kalau kau tidak datang… akan kupaksa Jimin untuk menyeretmu!"
"Ke–kenapa Jimin?" Mata sipit itu membola tidak terima.
Seolhyun terkekeh kecil melihat reaksi Yoongi, "hanya Park Jimin yang kau turuti, bukan begitu?"
"Mana mungkin—"
"Kau datang bersama Jimin ke sebuah pesta, benar?" Ia menyeringai penuh kemenangan dan sedikit meledek pada sosok di hadapannya. "Ah, aku jadi bertanya-tanya. Apa Min Yoongi yang membuat Park Jimin berminat pada pesta atau Park Jimin satu-satunya orang yang bisa membuat Min Yoongi mau–mau–saja. Menurutmu mana yang benar? Atau keduanya?"
"Yah!" Wajah Yoongi kini hampir semerah tomat. "Tentu saja tidak ada yang benar."
"Aaah, aku tidak peduli mana yang benar. Sekarang aku hanya ingin kau datang ke pesta ulang tahunku besok Minggu. Aku akan mengirim Jimin untuk membelikanmu pakaian kalau alasanmu tidak memiliki pakaian yang bagus. Oke?"
.
"Aku tidak tahu apa darah seenaknya mengalir pada keluarga besar Park Jimin," Yoongi menggumam tidak percaya sambil memandangi kertas undangan yang diserahkan Seolhyun tadi saat ia bekerja. Ia yang baru pulang di siang hari sibuk menggerutu saat masuk ke dalam apartemennya tadi hingga selesai berganti pakaian. "Dan, apa ini?! Nama yang berulang tahun di sini jelas bernama Park Jimin, bukan Kim Seolhyun! Apa ini rencana atau sesuatu?"
Seokjin yang ada di dapur itu melongok pada sahabatnya yang sudah membuat posisi menjengkelkan di atas sofa seolah tempat itu adalah singgasananya. Ia melempar satu sumpit yang ada pada meja tembok dan mendarat mulus pada bahu Yoongi yang terekspos karena pakaian tanpa lengannya. "Kau berisik, Min Yoongi."
"Yah!" Yoongi memekik jengkel sambil mengaduh dan mengelus bahunya yang sakit terkena lemparan sumpit; benda itu mendarat tepat di tulang selangkanya. "Aku merasa ini benar-benar aneh, Seokjin-ah. Kau tidak merasa begitu?"
Gadis dengan kemeja kebesaran dan celana pendek yang tertutup kemeja itu menghampiri Yoongi dengan panic warna emas, meletakkannya pada meja dengan lambaran yang sudah disediakan sejak awal.
"Makan," ia menggumam penuh perintah hingga sosok yang membuat dirinya terlentang tidak indah di sofa itu menggulung tubuhnya untuk terjatuh kelantai dan bangkit duduk dalam waktu sepersekian detik. Seokjin menyerahkan sumpit dan mangkuk kecil pada Yoongi dengan kialan mata agar gadis di seberangnya mengambilnya.
Yoongi meraih benda itu dan menggumam terima kasih, mulai melahap minya yang sedikit panas dan mengambil kimchi yang ada pada mangkuk di sebelah panci—tindakannya itu mendapat delikan jengkel dari Seokjin dan gadis itu hanya memberi cengiran tanpa rasa bersalah.
"Seokjin-ah, aku serius, apa menurutmu itu tidak aneh? Kenapa keluarga Jimin mau sekali melibatkanku dengan dunia mereka, huh?"
Seokjin menatap Yoongi serius dalam tiap kunyahannya lalu menelannya setelah merasa mi itu lembut. Ia menghela napas pelan, "dengar, Min Yoongi, satu-satunya yang aneh dari ceritamu adalah: Park Jimin membuat pesta ulang tahun. Astaga, berapa umurnya sekarang, hah? Lagi pula saat dia baru legal pun ia tidak membuat pesta apapun! Itu benar-benar tidak logis."
"Begitukah?" Yoongi kembali menyumpit mi dan mengambil kimchi untuk dia kunyah. Matanya menatap ke atas seolah berpikir, membuat wajahnya terlihat sedikit aneh. Bibirnya mencebik tipis memikirkan pernyataan Seokjin ada benarnya; meski ia tidak tahu apapun tentang Park Jimin sebelumnya. "Hanya saja aku yang diundang pun terdengar aneh."
"Namjoon juga diundang," jawaban cepat Seokjin membuat Yoongi menatap ke arahnya dengan ekspresi blank yang lucu. "Dan aku yakin Hoseok pun akan diundang. Jadi, apa yang kau khawatirkan?"
"Aku khawatir aku akan diapa-apakan."
"Kalau begitu pergilah dan bergandengan dengan Hoseok."
"Bukankah lebih baik aku tidak pergi?"
Seokjin mengangguk setuju, "tapi jika kau mau mendapat peringatan langsung dari Jimin karena dia benar-benar mengharapkanmu."
"Bukankah itu berarti aku juga mendapat peringatan jika pergi bergandengan dengan Hoseok?"
"Tidak juga. Aku pikir akan terjadi adegan cemburu yang menarik dengan kau ditarik menjauh dari Hoseok atau kerennya lagi dia memukul Hoseok lalu membawamu pergi."
Yoongi membulatkan matanya dan menatap jengkel karena ucapan Seokjin, "kau—aish jinjja!"
Seokjin terkekeh kecil sambil mengacungkan dua jarinya membentuk gestur damai yang menjengkelkan, "mian," ujarnya dengan gurauan tanpa sedikit pun rasa bersalah.
.
.
.
Jimin menarik napasnya, menatap pintu lift di hadapannya dengan tangan meremas ujung jasnya sendiri. Sore ini kantor sepi, tidak terlalu banyak pegawai karena waktu telah menunjukkan pukul setengah enam. Terlalu malam jika harus ada yang berada di kantor.
Sekelilingnya kosong dan ia berpikir perlu mencoba melawan rasa takut yang sejak lama menghantuinya. Ia perlu menyelesaikan masalahnya atau akan terus terbebani tiap melakukan rencana kerja sama dengan beberapa rekannya di luar kantor yang memerlukan lift untuk melaksanakan pertemuan.
Saat pintu lift terbuka, ia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kaca besar berada di depannya. Ia menarik napas, mencoba mengatur pernapasannya yang mulai tersenggal dan sedikit mengigil melihat pintu tertutup setelah tadi membalikkan tubuhnya menghadap pintu.
Tiba-tiba matanya berkabut, ingatan tentang kejadian beberapa tahun lalu yang terus membayanginya kembali muncul dan memutar bagaimana urutan peristiwa itu dengan jelas. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang nyata, suasana hening makin membuatnya ketakutan dan tersenggal. Keringatnya mulai keluar, meleleh bersama rasa panas membayangkan kejadian waktu itu.
.
Panas. Semua yang dapat Jimin rasakan hanya panas. Tidak ada udara bersih yang bisa masuk ke dalam pernapasannya, asap pun telah memenuhi hampir seluruh tempatnya berada. Ia mencoba menutupi pernapasannya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa di kantung, berharap agar kain tipis itu dapat menetralisir bau asap yang bisa saja menghancurkan tubuhnya perlahan.
Lift tempatnya berada sekarang tidak bergerak, meninggalkannya sendiri dengan tenaga seadanya menggedor pintu dengan tangan lain menahan sapu tangan agar tak terjatuh. Ia panik setengah mati. Suasana gelap dan pengap membuatnya ketakutan.
Ia entah kenapa kembali teringat pada kejadian terkurung di dalam kamar sempit dengan pasokan udara yang sedikit karena menjadi anak nakal saat ia kecil dulu. Mendapat hukuman untuk tetap berada di ruangan itu selama hampir setengah hari. Meski sekarang lebih menakutkan, saat itu mentalnya masih belum sekuat sekarang dan dirinya jadi sama mengigilnya seperti saat itu. Ia ketakutan dan berharap akan segera terbebas daripada harus terkurung di tempat pengap dengan banyak asap dari kebakaran dalam waktu lama.
Hingga suara teriakan menyuruhnya mundur dan suara benturan keras membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang. Ia berharap banyak pada sosok di luar sana yang mau mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dirinya yang berada di ambang kematian. Bibirnya terus merapalkan doa untuk dirinya dan sosok di luar sana.
Hingga deritan perlawanan dan cahaya merah yang panas masuk ke dalam tempatnya berada sekarang, ia tersenyum lebar. Seorang pemadam kebakaran dengan pakaian jingga di hadapannya membuatnya begitu lega. Berterima kasih sepenuh hati pada Tuhan yang mau mengirim seseorang untuk membawanya keluar dari ruangan sempit yang hampir membuatnya mati sia-sia.
"Kemari," ujar pemadam kebakaran itu sambil mengulurkan tangan pada sosok Jimin yang bergetar.
Jimin menerima uluran tangan itu dengan mata berkaca, merasa benar-benar lega dapat keluar dari lift.
Mereka melangkah ke luar dengan langkah Jimin yang tertatih dan dibantu oleh sang pemadan kebakaran, masih terbayang tentang kejadian kebakaran hingga ia terjatuh pingsan saat berada di luar.
Sejak saat itu, Jimin benar-benar menyerah tentang ruangan sempit dan gelap. Ruangan yang terkunci dan membuatnya tidak dapat berlari dari sana begitu saja. Ia takut pada tempat yang membuat napasnya sesak jika berada terlalu sama di sana.
.
Ding!
"Tuan Park!"
Suara lift yang terbuka, juga pekikan seseorang yang ia kenal membuatnya membuka mata sebentar dari kesadarannya yang berada di ambang batas. Tubuhnya sudah ambruk di lantai dengan kepala bersandar pada dada seorang gadis yang memanggilnya tadi.
"Yoongi…," suaranya lemah dengan napas masih tidak beraturan. "Syukurlah,"
dan setelah mengatakan itu, Jimin tidak sadarkan diri.
.
"Dia baik-baik saja," Taehyung tersenyum melihat gadis kurus yang terlihat khawatir di bangku dalam ruang kesehatan. Matanya memandangi Yoongi dengan tatapan yang sulit diartikan di balik tatapan menenangkannya. "Ada baiknya kau tidak khawatir, Yoongi–ssi."
"Dia… dia pingsan dan pucat," Yoongi setengah meracau dengan mata melirik pada sosok Jimin yang terbaring di ranjang. Sosoknya masih diam, memejamkan mata, tidak bergerak sedikitpun; cukup untuk membuat Yoongi tahu bahwa Jimin masih belum sadar dari pingsannya. "Apa… itu benar-benar baik?"
Taehyung mengangguk sambil mempertahankan senyumnya. "Aku tidak tahu kenapa ia senekat itu berada dalam lift sendiri, tapi aku yakin dia akan baik-baik saja. Ia hanya sedikit terguncang."
"Nekat? Terguncang?" Mata sipit itu menatap bingung, nada suaranya teredengar meminta penjelasan lebih dari sekedar kalimat tidak berarti apa-apa dari sosok Taehyung yang tadi berlari menghampiri mereka berdua dari arah luar.
"Jangan pikirkan itu," laki-laki itu melirik sebentar pada sosok Jimin yang masih diam. "Omong-omong, aneh sekali melihat pegawai biasa di hari Minggu datang ke kantor. Ada apa?"
"O–ah," Yoongi tergagap mendapati pertanyaan dari Taehyung, ia meringis sebentar untuk menghilangkan rasa canggung. "Aku… berniat mengambil sesuatu yang aku lupakan."
Taehyung mengangguk paham, ia menggumam pelan. "Kau bisa mengambilnya dan segera pulang sekarang. Soal Jimin, biar aku yang urus."
"Baiklah," gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Ia membungkuk sebentar sebagai sopan santun, "maaf dan terima kasih, Tuan Kim. Saya permisi dulu," ujarnya kemudian melangkah menjauh meninggalkan ruangan.
Setelah gadis itu pergi menjauh, bibir Taehyung yang awalnya menyunggingkan senyum sederhana kini berubah menjadi seringaian. Ia menatap Jimin yang masih memejamkan mata dengan napas teratur setelah tadi sedikit berantakan, "kau lihat Park Jimin? Gadis itu mengkhawatirkanmu, harusnya kau bangun tadi. Dasar bodoh."
.
.
.
"Kenapa dengan wajahmu?" Seokjin bertanya melihat wajah Yoongi yang terlihat berantakan setelah pulang dari luar, wajah kusur dengan bibir melengkung ke bawah seperti merajuk. "Kau melihat makhluk asing, huh?"
Yoongi menggeleng.
"Lalu apa? Kau kecopetan?"
Sekali lagi, Yoongi menggeleng.
"Huh—," Seokjin berpikir sejenak. "Aku menyerah, beri tahu aku."
Yoongi menghela napas sebentar, ia kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap Seokjin yang kini memberi atensi penuh untuk dirinya. "Aku tidak menerti, kenapa aku merasa perlu khawatir pada orang itu, ya?"
Seokjin mengerutkan kening, menatap bingung pada Yoongi dan menghentikan kunyahannya untuk beberapa saat. "Orang itu siapa?"
Mata sipit Yoongi menatap Seokjin dengan serius, menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali seperti orang tengah mendapati masalah besar. "Park Jimin," akhirnya ia bersuara. "Tadi saat aku pergi ke kantor aku melihatnya pingsan, dan sekarang aku khawatir."
"Bukankah itu normal? Kau menyukainya, tentu saja kau khawatir."
"Sialan kau," Yoongi mendengus. "Kau benar-benar tak membantu."
"Aku menjawab pertanyaanmu kalau kau merasa itu tak membantu."
"Oh, ya, kau benar, itu jawaban darimu. Terima kasih."
Seokjin mengangkat bahunya, "bukan masalah."
Yoongi beranjak dari tempatnya, melangkah menuju kulkas untuk mengambil minum dingin.
Sambil meraih botol dengan air dingin itu, ia mencoba mencari tahu kenapa Jimin pingsan dan berkeringat dari dalam lift padahal suhu tubuhnya tidak tinggi seperti orang demam. Otaknya mencoba mencari tahu alasan itu dan tidak mendapatkan apa-apa, sialnya, ia benar-benar ingin tahu kenapa Jimin harus pingsan di sana.
"Yoongi, ponselmu berbunyi!" Seokjin dari ruang tengah berteriak, memanggil Yoongi yang terlihat melamun di dapur.
Yang dipanggil pun segera tersadar, meletakkan botolnya lalu melesat menuju tempat ponselnya berada.
Melihat yang menghubunginya, ia mengerutkan kening. Itu nomor asing, dengan angka cantik berjejer. Sambil bertanya-tanya ia pun mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Yoongi." Suara laki-laki dan Yoongi kenal suara itu.
"Tuan Park?" Ia terdengar sedikit ragu melafalkan nama sosok di sebrang.
"Ya," terdengar kekehan di sana, suara tawa yang angkuh namun memesona. "Ini aku, Jimin."
"U–uh, ya… kenapa menelepon?"
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu."
"A–apa apaan itu," wajah Yoongi merona, Seokjin yang ada di hadapannya memberi senyuman menggoda seperti meledek sosok Yoongi yang tengah malu meski tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
"Yeah, melihatmu samar-samar sebelum pingsan membuatku langsung mencarimu saat tersadar. Kau ke mana, huh?"
"Kim Taehyung mengatakan aku bisa pulang dan tidak perlu khawatir, jadi aku pulang."
"Oh, kau tidak khawatir?" Suara Jimin terdengar seperti suara orang kecewa.
"Bu–bukan begitu," Yoongi terlihat panik, cukup untuk membuat Seokjin sedikit terkekeh. "Aku percaya Taehyung bisa merawatmu, jadi aku pulang karena Seokjin menungguku di rumah."
"Jadi kau khawatir?"
"Tentu saja aku khawatir!"
—tunggu, apa? Mata Yoongi terbelalak, ia baru tersadar dari pertanyaan Jimin yang ternyata menjebak saat sosok di seberang sana terkekeh kecil.
"Baiklah, karena kau khawatir, bagaimana kalau besok jalan-jalan denganku?"
"Aku tidak berpikir itu berhubungan," Yoongi menjawab cepat, secara tidak langsung menolak ajakan Jimin karena ia tahu, sosok di seberang sana pasti ingin membelikannya baju dan sepatu.
"Sangat berhubungan. Kau keberatan, Nona Min yang cantik?"
Yoongi memutar bola matanya malas. "Untuk apa kita harus jalan-jalan?"
"Menunjukkan padamu bahwa aku sangat baik."
"Baiklah," ia menyerah pada akhirnya, melenyapkan sisi keras kepalanya begitu saja. "Tapi jangan saat jam kerja, oke?"
"Sure, kita akan pergi setelah kau pulang. Selamat malam, Yoongie."
"Selamat malam."
Telepon pun terputus. Seokjin yang masih setia di hadapan Yoongi memberi pandangan bertanya dan meminta menjelasan, memasang senyuman menggoda pada bibirnya hingga Yoongi mendengus jijik.
"Hentikan itu," Yoongi berkomentar sambil mendorong menjauh wajah Seokjin yang dicondongkan ke arahnya.
Seokjin menggeleng, "beri tahu aku apa yang kalian bicarakan?"
"Hanya jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Ke mana?" Mata Seokjin menatap penuh tanya.
"Berhentilah mewawancaraiku, lama-lama aku minta Hoseok menjadikanmu reporter berita dan gosip di majalahnya daripada model!"
"Aku akan menggosipkan tentang pemilik Park's House," gigi-gigi putih Seokjin terpamerkan sempurna, tatapannya terlihat sedikit meledek Yoongi. "Hubungannya dengan seorang pegawai bermarga Min."
"Kau tahu, Seokjin-ah?" Yoongi menatap kesal pada sahabatnya. "Kau benar-benar temanku yang paliiiiiing baik."
"Aku tahu, terima kasih."
"Aku mau tidur," ia beranjak dari duduknya menuju kamar.
"Baiklah, selamat tidur Nona Park!" Seokjin menyahut saat Yoongi sudah berada di depan pintu kamarnya.
Yoongi menoleh segera dengan wajah bersemu merah namun memandang jengkel pada Seokjin. "Di Korea tidak ada yang namanya mengganti marga, sialan!"
Ia masuk dengan backsound suara tawa Seokjin yang menjengkelkan.
To Be Cont.
Sedikit menjawab kenapa Jimin takut naik lift? Sekarang cuma Yoongi yang belum tau kenapa Jimin takut naik lift. Yeah. Aku mau buat Yoongi jadi semacam malaikat penolong (?) Jimin yang takut sama lift dan ubah hidup Jimin, tapi kayanya lagi-lagi aku terlalu lamaaaa.
Konflik. Entahlah. Buatku ini enggak akan jadi cerita berkonflik kecuali datang dari dua orang itu sendiri. Jimin yang keras dan Yoongi yang juga keras. Jimin udah nyatain cinta dan Yoongi yang aslinya juga jatuh cinta tapi ngelak. Itu udah termasuk konflik sih buatku, hehe. Selebihnya, mungkin rasa takut sama lift juga bakal aku bawa jadi konflik. Entahlah. Atau mungkin sekedar aku buat jadi tambahan kecil.
Molla. Molla. Aku jadi bertanya-tanya kapan ff ini berakhir, serius. Aku pingin cepet buat ff ini berakhir hahaha.
Sepertinya next chapter aku udah buat Yoongi Jimin jadian—dan NC hahahaha. Astaga. Kalau udah sejauh this and that, itu berartiii sebentar lagi cerita ini akan berakhir. Lol. Kalau emang engga habis-habis dan aku stuck sama idenya, mungkin aku bakal discount ini ff -_- aku menyerah kalo harus mikir terlalu lama (?)
Tapiiiii tenang aja, aku enggak akan segampang itu nyerah kok! Aku bakal selesaiin semampuku. Makasih buat kalian yang mau nunggu, bahkan kirim PM minta dilanjut hahaha astaga—maaf karena post terlalu lama, terima kasih udah mau baca. Aku tunggu lagi review. Semoga next chapter bisa aku post secepatnya. Terima kasih banyak :))
