Hari sudah larut malam, pesta sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, namun Taufan dan (nk) belum juga mendapatkan taksi untuk pulang, akhirnya mereka memutuskan untuk jalan sebentar sampai ada taksi yang lewat. Mereka berjalan dalam keheningan, hanya ada suara gemuruh - gemuruh kecil dari langit ditambah deru angin yang kencang menerpa. Taufan tidak suka dengan keheningan, dia pun membuka suara.

"(Nk)" panggil Taufan.

"Iya" sahut (nk)

"Aku mau tanya padamu, kita ini kan sudah menjadi teman sejak kecil, apakah kau memiliki perasaan padaku?" Taufan bertanya demikian, ya karena meskipun terlihat serasi, sebenarnya mereka hanyalah sahabat kecil. (Nk) berpikir sejenak lalu menjawab.

"Mmm... Tidak, memangnya kenapa, kau suka padaku ya~" (nk) malah mengejek Taufan "aduh, kenapa aku ini padahal tadi saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, huh, bodoh" batin (nk) merutuki dirinya sendiri.

"Hah, buat apa aku suka padamu?" Taufan berkata dengan santai, namun dalam hati Taufan berkata "sial, kenapa aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya"

"Maksudnya?" (nk) yang kebingungan akhir bertanya balik ke Taufan.

"Hhh, dengar ya aku tidak mau membumbui hubungan persahabatan kita dengan cinta" Taufan berkata dengan serius, bahkan ia berhenti berjalan hanya untuk mengatakannya. "yah, setidaknya ini alasan yang tepat"

"Iya, aku tau itu, karena itu aku tidak mau memiliki perasaan apapun ke kamu" ujar (nk) sambil memandang langit mendung. "bodoh, (nk), bodoh"

"Dan satu hal lagi apa kau sudah memiliki orang yang kau suka?" pertanyaan Taufan membuat (nk) bingung harus menjawab apa.

"Sebenarnya sudah tapi, tak yakin bisa mendapatkan laki - laki itu" (nk) berkata dengan raut wajah yang terlihat sedih.

"Tenanglah, kau kan cantik, pasti dia mau dengan wanita sepertimu" Taufan berkata sambil menahan, ya menahan diri agar ia tidak berteriak, karena mendengar perkataan (nk) tadi. Hatinya menjerit, namun, wajah tetap tersenyum. "apa?!, kau bilang 'dia' mau denganku tapi kenapa kau malah bilang tidak ingin" kira - kira itulah isi batin (nk) sekarang.

"sudahlah sebaiknya kita cepat hujan akan segera turun, tuh lihat sudah gerimis" ujar (nk) sambil melihat air yang turun dari langit.

"Ya sudah, ayo lari saja" ajakTaufan dan mereka pun berlari menyusuri trotoar.

Tak lama kemudian, hujanpun turun dengan deras.

"Duh, Taufan bagaimana ini? Hujannya malah makin deras lagi" (nk) mulai panik.

"Sudah, tidak apa - apa sebentar lagi juga sampai" ujar Taufan sambil terus berlari.

Namun, tiba - tiba...

TAAAKK...

"Aww" (nk) terjatuh karena high heels yang dia gunakan lumayan tinggi.

"(Nk)!" Taufan langsung menghampirinya yang terduduk sambil memegangi kaki kanannya.

"Kau baik - baik saja?" Taufan terlihat khawatir. "kurasa kakiku terkilir sedikit, Taufan" (nk) terlihat tengah mencoba menahan rasa sakit dikakinya. Namun, Taufan membalikkan badannya dan berjongkok.

"Ayo cepat naik ke punggungku" perintah Taufan. "Eh?" (nk) malah bengong.

"Kurasa hujannya akan berlangsung lama jadi cepat naik ke punggungku biar kau kugendong saja" Taufan masih dengan posisi yang sama, namun, sekrang sambil melepas jaketnya yang basah. "Dan pakai ini untuk menutup kepala dan tubuhmu" Taufan memakai jaket tersebut ke tubuh (nk).

"Ayo cepatlah naik ke punggungku" (nk) pun naik ke punggung Taufan dan Taufan mulai berdiri lalu langsung berlari lagi.

~SKIP~

Hanya tinggal belok ke kanan mereka berdua akan sampai dirumah (nk). Taufan masih terus berlari sambil menggendong (nk).

"Kita sampai" ujar Taufan ketika mereka berdua sampai di depan gerbang rumah (nk).

Taufan membuka kunci gerbang rumah (nk), lalu masuk dan menekan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah seorang pemuda beriris emas, dia adalah Gempa kakak (nk).

"Taufan, (nk)" ujar Gempa.

"Maaf kak, (nk) pulang terlambat soalnya tadi, dia terkilir dijalan" ujar Taufan sambil menurunkan (nk) dari punggungnya.

"Oh, ya sudah, tapi kaki hanya terkilir kan?" tanya Gempa pada adiknya.

"Iya, ga apa - apa kok" jawab (nk) yang sedang dipapah oleh Taufan lalu berpindah ke Gempa.

"Ya sudah, kalau begitu kak Gempa,Taufan pamit dulu sudah malam. Permisi" Taufanpun pergi dari kediaman (nk).

Gempa memapah (nk) masuk ke dalam rumah, diruang keluarga ada ayah dan ibu mereka.

"(Nk), darimana saja kau ini?" tanya sang ibu.

"Iya, kau bilang akan pulang pukul 10 tapi lihat jam berapa sekarang!" ujar sang Ayah.

Gempa mendudukan (nk) disebuah kursi dan pergi mengambil kotak P3K.

"Begini, ayah, ibu, tadi itu saat aku dan Taufan ingin pulang kami tidak mendapat taksi akhirnya kami memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki karena takut terlambat pulang, namun tiba - tiba turun hujan dengan deras, akhir kami berlari namun, karena tidak hati - hati aku terjatuh, dan akhirnya Taufan menggendongku sambil berlari. Nah, makanya itu aku baru sampai, maaf ya ayah, ibu membuat kalian khawatir" jelas (nk) pada kedua orangtuanya.

"Oh, begitu lalu mana Taufan?" tanya ayah (nk).

"Tadi belum sempat kusuruh masuk dia malah langsung pamit katanya takut kemalaman"sahut Gempa yang baru datang habis mengambil kotak P3K dan handuk untuk (nk).

"Lalu, dia pulang hujan - hujanan?" kali ini ibunya yang bertanya.

"Sepertinya begitu" jawab Gempa lagi

"Oh ya, (nk) kau memakai jaketnya Taufan?" sekarang Gempa yang bertanya pada adiknya sambil mengobati kaki adiknya itu. (Nk) yang baru sadar melihat tubuhnya terbalut jaket biru Taufan yang sudah basah karena kehujanan.

"Oh iya, aku lupa" ujar (nk) sambil memegangi kepalanya.

"Dasar kau ini, Taufan pasti demam" ayah (nk) mendekati anaknya dan memegang dahi (nk). "Nah, mungkin kau juga, akan terkena demam kalau tidak makan dulu. Cepat makan dulu sana!" perintah terluncur dari mulut sang ayah.

"Kau bisa jalan tidak?" setelah Gempa selesai mengobati kaki (nk). (Nk) berdiri dan mencoba berjalan meski pincang - pincang.

"Yah, lumayan meskipun agak sakit, terima kasih Kak"

"Iya" Gempa beranjak dan pergi menaruh kembali kotak P3Knya.

"Sebentar biar ibu ambilkan makanan" ibu (nk) pun pergi untuk mengambil makanan.

"Besok, kau pergi ke rumah Taufan, dia kan tinggal sendiri kalau dia sakit tidak ada yang merawatnya, jadi, kau harus merawatnya besok kau kan libur sekolah, Gempa juga akan ikut" sang ayah memberi perintah pada kedua anaknya.

"Iya, yah" sahut (nk) lembut. "Ini makan dulu setelah itu tidur" ibu (nk) datang membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauk, dan segelas air putih.

(Nk) pun makan dengan tenang. Lalu, setelah itu dia pegi ke kamarnya.

kamar (nk)

(Nk) tengah berbaring diranjangnya, tentunya ia sudah berganti pakaian, pikirannya sedang melayang memikirkan pria yang mengantarkannya pulang tadi, siapa lagi kalau bukan Taufan.

"Aku jadi tidak tenang begini, bagaimana kalau Taufan benar - benar sakit" (nk) memandang jaket biru yang tergantung di pintu lemarinya (jaket itu sudah di cuci dan dikeringkan di mesin cuci).

"Taufan, maaf ya aku tak bisa jujur padamu, soal perasaanku padamu. Sebenarnya aku menyukaimu" gumam (nk) pada dirinya sendiri.

TOK... TOK...

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar (nk). (Nk) memandang ke arah pintu, lalu mengubah posisi tidur menjadi posisi duduk.

"Masuk!"

CKLEK...

Pintu kamar (nk) terbuka, terlihatlah Gempa masuk ke dalam.

"Oh, kakak, ada apa?" tanya (nk) pada kakaknya.

"Tidak apa - apa hanya ingin bertanya" Gempa duduk ditepi ranjang (nk)

"Mau tanya apa?" Gempa memandang adiknya, lalu tersenyum jahil. "Kapan kau mau mengubah statusmu dan Taufan dari 'sahabat' ke 'pacar'?" pertanyaan Gempa membuat (nk) membelalak matanya ditambah dengan penekanan pada kata 'sahabat' dan 'pacar'. Pipi (nk) merona tipis.

"Ap-apa - apaan sih kakak ini?" (nk) terlihat malu, ketika Gempa menyelesaikan perkataannya.

"Sudahlah, kurasa kalian itu cocok tau, lagipula kalauku lihat Taufan itu, sepertinya sangat menyayangimu"

"Kakak sok tau, mana mungkin dia kan hanya ingin bersahabat denganku tidak lebih dari itu"

"Memangnya dia tidak pernah bertanya padamu soal perasaanmu padanya?" (nk) terdiam sejenak.

"Tadi saat kami dalam perjalanan pulang dia bertanya sih, apa aku menyukainya atau tidak? Tapi, jawab tidak. Lalu saat tanya balik dia malah bilang 'buat apa aku menyukaimu?' dan lalu dia bilang kalau dia tidak ingin membumbui persahabatan kami dengan cinta begitu" jelas (nk) panjang lebar.

"Kau tau tidak, kalau laki - laki bertanya seperti itu pada seorang gadis. Berarti mereka suka pada gadis tersebut namun, dengan menutupinya mereka akan mencari alasan contohnya ya itu dia" Gempa sebagai laki - laki berbicara dihadapan adiknya.

"Memang iya?" (nk) masih tidak percaya pada Gempa

"Kau ini, aku kan laki - laki" Gempa berkata sambil menunjuk dirinya.

"Tapi, apa iya dia bilang tidak ingin itu hanya alasan?"

"Tentu saja, karena kau bilang tidak suka padanya, coba kalau kau bilang iya dia pasti akan menyatakan perasaannya padamu tadi" kini perkataan Gempa membuat (nk) jadi menyesal.

"Hah, kenapa sih aku ini? Kenapa malah begini?" (nk) mengacak - acak rambutnya.

"Kuberi saran ya, sebaiknya kau katakan perasaanmu yang sebenarnya itu segera, sebelum seseorang mendahuluimu memilikinya" saran Gempa pada adik perempuannya.

"Benar juga, kata kakak tapi, kakakkan tau aku ini pemalu, berbicara biasa saja terkadang gugup, apalagi menyatakan perasaanku"

"Ya sudah itu sih, terserah padamu yang penting aku sudah memberi saran itu saja, aku ingin kembali ke kamar dulu ya" Gempa pun beranjak dan pergi dari kamar (nk).

"Kalau begitu berarti aku harus segera menyatakan perasaanku ini"

Tbc~

Maaf ya kalau ga suka jalan ceritanya.