Hari sudah pagi, sekarang adalah hari libur dan (nk) akan pergi kerumah Taufan bersama dengan Gempa untuk memastikan keadaan Taufan. (Nk) sedang berada didalam kamarnya, ia tengah bersiap - siap pergi kerumah Taufan.

"(Nk), sudah siap belum?" teriak Gempa dari luar kamar.

"Iya, sebentar" (nk) melihat pantulan dirinya dicermin, style-an yang lumayan. (Nk) memakai celana jeans panjang, kaos putih yang dilapisi kemeja biru polos dan rambut yang diikat ponytail.

"Baiklah, aku sudah siap" (nk) pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah tepatnya ke ruang keluarga.

"Kak Gempa, ayo berangkat!" ujar (nk) pada Gempa.

"Sudah, kalau begitu ayo kita berangkat" Gempa memakai jaket kuning-hitamnya, lalu memasang topi dengan posisi terbalik atau ke belakang.

"Eh, tunggu sebentar. Bawa ini untuk Taufan" Ibu (nk) memberi kantong plastik berisi jeruk.

"Baiklah, yah, bu kami berangkat dulu ya"

Gempa dan (nk)pun berangkat dengan berjalan kaki, karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh hanya berjarak 3 blok dari rumah mereka.

~SKIP

Sekarang Gempa dan (nk) sudah berada didepan rumah sederhana, mereka telah sampai dirumah Taufan. (Nk) pun menekan bel pintu rumah Taufan.

Teeett~

Namun, tidak ada jawaban dari dalam rumah tersebut. Gempa dan (nk) saling menatap. (Nk) pun menekan bel pintunya sekali lagi sambil memanggil Taufan.

Teeett~

"Taufan, kau ada didalam? Ini (nk)"

Namun, tetap tidak ada jawaban

"Mungkin, Taufan sedang pergi keluar rumah" ujar Gempa pada (nk)

"Apa iya? Aku tidak yakin" tak lama kemudian...

GEDEBUK...

"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."

(Nk) dan Gempa segera menoleh ke arah pintu rumah Taufan. Buru - buru Gempa dan (nk) mengetuk pintu tersebut.

"Taufan, Taufan cepat buka pintunya!" ujar (nk) sambil menggedor pintu rumah Taufan.

Gempa mengintip lewat jendela rumah Taufan, dan betapa terkejutnya dia. Ia melihat Taufan tengah tergeletak tak berdaya di dekat tangga di dalam rumahnya.

"TAUFAN!" Gempa berteriak dan langsung mendobrak pintu rumah Taufan.

"TAUFAN!" (nk) menjadi histeris saat melihat Taufan yang tergeletak tak berdaya. Gempa memegang dahi Taufan, (nk) menghampiri Gempa dan Taufan.

~SKIP

Gempa sudah menggotong Taufan ke kamarnya di lantai 2 rumah Taufan, sedangkan (nk) sedang membuatkan bubur untuk Taufan di dapur rumah Taufan. Rumah Taufan memang sepi tidak orang selain Taufan yang tinggal dirumah tersebut. Yap, dugaan kaian benar Taufan tinggal sendirian dirumahnya, kedua orang tuanya sering pergi keluar kota untuk dinas dari kantor, sehingga Taufan sering ditinggal berdua dengan adiknya saja. Namun, sepertinya saat ini adiknya sedang tidak ada dirumah.

(Nk) sudah selesai memasak bubur, ia pun membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih dan obat demam untuk Taufan.

"Kak, Taufan udah sadar?" tanya (nk) dengan suara yang kecil dan halus sambil masuk ke dalam kamar Taufan. Gempa hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. (Nk) meletakkan nampan tadi, di meja dekat ranjang tidur Taufan.

"Aku tunggu di ruang tamu saja ya" Gempa beranjak dari tempat ia duduk tadi, di kursi meja belajar Taufan.

"Iya" Gempa pun pergi keluar dari kamar Taufan.

(Nk) menarik kursi tadi ke samping kanan ranjang Taufan, lalu duduk disana. Ia mulai memperhatikan seluk beluk wajah tampan Taufan, wajah itu terlihat memerah karena demam, bibir pucat, dan matanya sedikit bengkak dan menghitam, Taufan benar - benar terkena demam parah. Ketika sedang memperhatikan wajah tampan tersebut, tiba - tiba tangan Taufan bergerak, begitu juga matanya. (Nk) langsung mencoba untuk memberikan waktu untuk Taufan agar ia bisa sadar sepenuhnya.

"Dimana aku?" Suara serak Taufan terdengar ditelinga (nk)

"Taufan, kau sudah sadar?" Tampang cemas terpasang diwajah (nk), gadis tersebut memegang telapak tangan kanan Taufan. Taufan menoleh kearah (nk), pemuda itu terkejut.

"(Nk)!, kapan kau datang?"

"Tadi saat kau pingsan" (nk) berbicara dengan nada suara yang terdengar sedih.

"Oh" Taufan mencoba mendudukkan diri, namun... "Argh, kepalaku" Taufan memegangi kepalanya yang terasa sakit.

"Taufan!" (Nk) membantu Taufan untuk bersandar dikepala ranjang yang disanggah dengan bantal "kau ini masih sakit, jadi istirahat dulu!" (Nk) kembali memasang tampang cemasnya.

"Iya" jawab Taufan singkat

"Ini tadi aku memasakkan bubur untukmu, makanlah" (nk) mengambil mangkuk berisi bubur tersebut.

"Tidak ah, aku tidak lapar" Taufan mendorong mangkuk itu pelan.

"Ish, kau harus makan, biar kau cepat sembuh. Sini biar aku suapi ya" (nk) menyendokkan bubur tersebut, namun Taufan menutup mulutnya dan memaling wajahnya.

"Ayolah, Taufan sedikit saja ya" (nk) memohon pada Taufan.

"Tidak, aku tidak mau" Taufan tetap tak mau makan, melipat kedua tangan di depan dada masih dengan memalingkan wajahnya.

(Nk) menghela napas, ia meletakkan bubur tersebut kembali ke meja di samping ranjang Taufan. (Nk) menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Hiks..."

"Eh?!" Taufan menoleh kearah (nk). Taufan menarik kedua tangan (nk) yang menutupi wajahnya.

"Hiks... maaf hiks..." (nk) menangis, air mata mengalir dengan deras dari matanya menuju pipi.

"He-hei, (nk) sudahlah jangan menangis. Kau tidak salah kok" Taufan panik melihat (nk) menangis.

"Karena aku hiks... kau jadi hiks... sakit" Taufan terdiam "maaf kalau hiks... aku tidak bisa hiks... memberikan yang lain hiks... untuk berterima kasih hiks... aku hanya hiks... bisa memasakkan ini untukmu hiks... hiks..." Taufan tertegun mendengar semua yang dituturkan (nk).

Taufan menarik (nk) kedalam pelukannya, lalu ia mengusap - usap kepala (nk).

"Tak apa, (nk). Kau tak perlu melakukan ini semua, yang baik - baik saja itu sudah cukup bagiku. Lagipula, sebagai laki - laki meskipun cuma sahabatmu, aku harus bertanggung jawab atas dirimu. Aku kan menyayangimu" Taufan mengangkat wajah (nk) dan mencium kening (nk).

Air mata (nk) berhenti mengalir, berganti wajah yang tersipu karena perlakuan Taufan tersebut. Taufan melepaskan ciumannya pada dahi (nk), ia menghapus air mata gadis tersebut.

"Jangan menangis lagi ya" Taufan tersenyum lembut pada (nk)

"Iya, tapi kau makan dong!" (Nk) cemberut sambil memberikan mangkuk bubur tersebut.

"Baiklah, suapin~" Taufan memasang tampang imutnya.

"Iya ini aaa~"

~SKIP

Taufan sudah selesai makan dan sekarang dia akan minum obat.

"Nah, karena kau sudah selesai makan. Waktunya untuk... Minum obat~" setelah (nk) menyelesaikan kalimat yang diucapkannya, air muka Taufan berubah menjadi tegang, ia tambah merinding ketika melihat obat kaplet yang besar ditangan (nk).

"Aku tau kau tidak bisa menelan obat kaplet kan?, jadi aku akan menghancurkan obat dulu ya" Taufan hanya mengangguk kaku.

(Nk) pergi ke dapur, lalu 10 menit kemudian ia kembali dengan obat yang sudah ditumbuk.

"Nah, Taufan pegang airnya, dan buka mulutmu" Taufan yang tengah lemas hanya menurut, meskipun ia sangat tidak suka dengan obat. Taufan mengambil air minum yang ada di meja di sebelah ranjangnya.

"Buka mulutmu aaa~"

GLEK~

Taufan meminum obat yang diberikan (nk), ia memejamkan matanya. Lalu, beberapa detik kemudian, ia membuka matanya dengan lebar.

"PAIIIITTT!" Taufan buru - buru menenggak air minum digelas yang ia pegang. Namun...

"MASIH PAIT!" Taufan langsung saja berlari ke arah dapur.

"TAUFAN!" (Nk) langsung pergi mengejar Taufan.

ruang tamu

Taufan berlari kencang ke arah dapur dan melewati Gempa yang tengah duduk di ruang tamu sambil membaca majalah, pemuda bermata gold tersebut bingung merasakan angin kencang lewat. Ia hanya mengendikkan bahunya dan melanjutkan membaca majalah.

"Taufan, tunggu Taufan" Gempa menoleh keasal suara, ternyata itu adiknya (nk).

"Ada apa sih?" Gempa menutup majalah yangs edang ia baca lalu, menyusul Taufan dan (nk) ke dapur.

Taufan menenggak air yang ada diteko, ia menghabisi semua isi teko tersebut.

"Masih terasa pahitnya?" (Nk) menatap Taufan, Taufan mengecap - ngecap

"Ah~ MASIH!" Taufan mengambil gelas dan berlari menuju dispenser. Ia menenggak banyak sekali air.

"Masih?" Setelah minum 14 gelas air, Taufan menjawab "sudah"

"Fiuh~" (nk) mengusap keringat didahinya. "Memang sepahit itu ya rasanya?"

"Kau tau kan?. Sejak kecil itu aku memang tak suka obat jadi seberapa pahitpun tak terpungkiri rasanya" Taufan meletakkan gelas tadi dimeja dapur.

"Hahahaha... kupikir kenapa ternyata hanya karena obat" Gempa yang sedaritadi hanya memperhatikan kelakuan adiknya dengan sahabatnya itu, akhirnya mengerti dan bersuara.

"Ya sudah, ayo istirahat lagi" (nk) mengajak Taufan kembali ke kamarnya untuk istirahat.

"Hah~ iya" mereka berduapun kembali ke kamar Taufan dan Gempa kembali melanjutkan membaca majalah di ruang tamu.

kamar Taufan

Matahari sudah tenggelam, hari telah menjadi malam

Taufan kembali berbaring diranjangnya. Ia mulai mengantuk mungkin karena efek obat tadi.

"Hoam~ aku ngantuk sekali" Taufan menguap

"Tidurlah, lagipula ini sudah jam 7" tak terasa ternyata hari sudah malam.

"Kau mau pulang?" Taufan bertanya sambil menggosok - gosok matanya.

"Iya, tapi nanti kalau kau sudah tidur" ujar (nk) sambil menyelimuti Taufan.

"Kalau begitu, ini, nanti kau kunci dari luar saja" Taufan memberikan kunci rumahnya pada (nk).

"Lalu, bagaimana kau keluar rumah?" Tanya (nk)

"Nanti kau letakkan saja kuncinya dibawah pintu" (nk) mengangguk sebagai jawaban.

Taufan menutup kedua matanya, lalu tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Taufan yang sudah tertidur.

"Have a nice dream, Taufan" (nk) berbisik ditelinga Taufan, lalu (nk) memperhatikan wajah Taufan yang tertutup poni panjang pemuda tersebut yang tak tertutup topi. (Nk) menyingkirkan poni Taufan dan melihat wajah Taufan yang tengah tertidur.

"Tampan..." gumam (nk) pelan.

(Nk) tersenyum, lalu mencium kening Taufan. (Nk) pun pergi keluar kamar Taufan.

ruang tamu

Gempa tengah menunggu di ruang tamu. (Nk) menepuk bahunya dan Gempa pun menoleh.

"Ayo kita pulang, Taufan sudah tidur" Gempa mengangguk dan mereka pergi keluar rumah Taufan, tak lupa (nk) mengunci pintu rumah Taufan dan meletakkan kuncinya dibawah pintu.

Dalam perjalanan Gempa dan (nk) tidak mengeluarkan suara sedikitpun, mereka berjalan dalam keheningan.

"(Nk)" (nk) menoleh kearah Gempa

"Ya" sahut (nk)

"Katakanlah!" Ujar Gempa tiba - tiba.

"Hah?"

"Katakan saja, kalau kau itu mencintainya, sebelum terlambat" Gempa menatap adiknya dengan tatapan yang sangat meyakinkan.

"Mmm... aku ingin tapi... aku malu" (nk) menundukkan wajahnya.

"Buat apa malu? Dia kan juga merasakan hal yang sama"

"Jangan sok tau deh, memangnya kak Gempa tau darimana kalau dia juga mencintaiku?"

"Hehe, aku memang tidak yakin tapi kalau tidak dicoba kau tidak akan tau kan?"

"Huh dasar!"

Akhirnya mereka berjalan dalam keheningan kembali

"aku hanya tak ingin kau sepertiku saja, karena penyesalan datang belakangan, (nk)"

Tbc~

Maaf ya updatenya lama (ToT)

Soalnya ada urusan sekolah yang harus diselesaikan akhir - akhir ini, jadi mohon maklum ya semuanya.

Maaf kalau updatenya lama karena aku nyari waktu senggang untuk bikin chapter depan ya.

Dan makasih udah yang nge-review, review lagi ya! \(^-^)/