Happy Reading~~
(Nk) pov.
Hari ini hari minggu, biasanya aku dan Taufan pergi untuk jogging bersama. Aku tengah mengecek penampilanku dicermin kamarku.
"Perfect!" Seruku.
Akupun keluar dari kamar dan pergi menuju ke ruang keluarga disana sudah ada kak Gempa juga ayah dan ibu.
"Pagi ayah, pagi ibu!" Seruku seraya memeluk ayah yang tengah duduk sambil membaca koran dan ibu yang duduk disebelah ayah yang sedang menyiapkan kopi untuk ayah.
"Pagi, sayang!" Balas mereka bersamaan.
Akupun beranjak dan menghampiri kak Gempa yang tengah push up, itu adalah aktivitas rutin yang ia lakukan di pagi hari dihari libur.
"Pagi, tampan~" godaku pada kak Gempa, aku suka sekali menggodanya.
Kak Gempa mengubah posisinya dari telungkup menjadi duduk dan bertopang pada kedua tangannya.
"Pagi, cantik~" godanya membalasku ditambah dengan kerlingan matanya dan menambah pesonanya karena saat ini ia sedang telanjang dada, kalau saja aku ini fansgirlnya kak Gempa aku pasti sudah mempotretnya atau bahkan pingsan karenanya.
"Huh, dasar kapan kau akan berubah, kak?" Ujarku sambil tersenyum.
"Kau yang mulai, kan?" Sahut kak Gempa seraya mencoba untuk berdiri.
"Aku tau, kak, kakak itu jomblo tapi, jangan goda aku juga" aku mengulurkan tanganku bermaksud untuk membantunya berdiri.
"Haha... memangnya kau tidak?" Kak Gempa menerima uluran tanganku dan aku menariknya sampai ia berdiri.
"Hhh... kakak lihat saja sebentar lagi aku akan punya pacar!"
"Eh, benarkah?" Ujar kak Gempa sembari menenggak air minum.
"Iya, tentu saja" seruku mantap.
"Kenapa aku tidak yakin, ya?" Ujar kak Gempa lagi.
"Percayalah, kak! Atau bagaimana kalau kita taruhan?" Tawarku pada kak Gempa.
"Taruhan? Boleh saja!" Jawab kak Gempa mantap.
"Waduh, waduh, memangnya apa yang kalian pertaruhkan? (Nk), kau tidak jogging dengan Taufan?" Tanya ibu yang tiba - tiba menyalip pembicaraan kami.
"Iya, aku mau pergi tapi, Taufan belum datang. Tapi , tumben sekali jam segini dia belum datang. Jangan - jangan ia terlambat bangun lagi" Terkaku sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
"Oh iya, mmm... syaratnya apa?" Tanya kak Gempa tiba - tiba.
"Mm... syaratnya kalau aku lebih dulu mendapat kekasih dalam waktu satu minggu, kakak harus mentraktirku makan, begitu juga sebaliknya. Bagaimana?" Ujarku sambil mengulurkan tanganku.
"Baiklah! Deal!" Kak Gempa membalas jabatan tanganku.
Ting~ Tong~ Ting~ Tong~
"Itu pasti Taufan aku berangkat dulu ya!" Seruku sambil berlari ke arah pintu.
"Hati - hati dijalan, sayang" Seru ibu padaku.
"Iya, bu" balasku.
(Nk) pov end.
Taufan tengah berdiri didepan pintu rumah (nk). Ia menunggu (nk) keluar dari rumahnya. Tak lama kemudian (nk) keluar dengan penampilan yang simpel, ia hanya mengenakan kaos biru langit tanpa lengan juga celana training hitam selutut dengan garis biru disampingnya. Ia juga mengikat rambutnya ponytail dan bandana biru yang senada dengan bajunya juga sepatu sneakers putih yang membalut kakinya.
"Cantiknya!" Taufan memandangi (nk) dari atas ke bawah pipinya merona.
"Siap?" Seru (nk) yang menyadarkan Taufan dari lamunannya.
"Y-ya tentu, Ayo!" Ujar Taufan dengan semangat dan gugup yang bercampur menjadi satu.
"Kalau begitu, Ayo!" (Nk) berlari kecil kearah Taufan, dan ketika mereka sejajar Taufanpun ikut berlari mengikuti (nk).
Mereka pun berlari menuju ke taman kota, disana ada banyak sekali orang - orang yang sedang melakukan aktivitas olahraga seperti, jogging, senam, ada juga yabg sekedar berjalan santai bersama hewan peliharaan mereka. (Nk) dan Taufan baru saja tiba disana, kini mereka sedang duduk untuk beristirahat karena jarak dari rumah mereka ke taman lumayan jauh.
"Hah, Taufan, aku haus tapi, aku lupa bawa minum dan aku tak membawa uang" keluh (nk) yang kelelahan.
"Kalau begitu, tunggu sebentar ya!" Taufan pun pergi dari pandangan (nk).
(Nk) duduk sembari menormalkan napasnya yang masih agak tersegal - segal. Ketika (nk) tengah menundukkan kepalanya, ia melihat ada bayangan yang datang menghampirinya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang datang menghampirinya.
"Hai?" Sapa orang tersebut.
"Halilin?" (Nk) membenarkan posisi duduknya dan bergeser agar Halilintar bisa duduk disebelahnya.
"Kau sendirian?" Tanya Halilintar yang kini duduk di samping (nk) sambil meminum sebotol minuman isotonik. (Nk) memandang Halilintar, bukan lebih tepatnya sebotol minuman isotonik yang dipegang Halilintar.
"Hmm?" Halilintar melirik (nk) yang terus memandanginya, dan ketika ia selesai minum, ia sadar kalau (nk) tengah memandangi minuman miliknya.
"Kau haus?" Tanya Halilintar pada (nk) yang terus memandangi botol minumnya.
"Iya, aku sedang menunggu Taufan tapi, ia lama sekali" ujar (nk) lesu.
"Ini!"
"Eh?" Halilintar tiba - tiba menyodorkan botol tersebut padanya sambil malu - malu.
"Maaf aku tidak punya uang untuk membelikan yang baru jadi kau minum saja ini" ujar Halilintar lembut, (nk) menerimanya sambil tersenyum manis.
"Terima kasih!" Serunya kemudian (nk) meminum minuman tersebut sampai habis.
"Ah~ lega... eh! Halilin, maaf aku menghabiskannya" ujar (nk) agak panik.
"Tak apa, kok. Jadi, kesini berdua dengan temanmu dimana dia?"
Disisi lain...
"Aku mengerti, (nk), aku tau dia memang laki - laki sempurna yang kau inginkan. Aku sangat jauh dibanding dia" batin Taufan yang tengah menatap mereka dari balik sbuah pohon yang tidak jauh dari mereka. Taufan memegang erat - erat sebotol minuman isotonik yang ia beli untuk (nk).
"Sabar, Taufan. Baiklah sekarang bersikaplah normal" gumam Taufan menyemangati dirinya sendiri. Kemudian ia berlari menghampiri (nk) dan Halilintar.
"(NK)!" Seru Taufan sambil berlari. (Nk) dan Halilintar menoleh kearah Taufan.
"Taufan!" Sahut (nk).
"Maaf kelamaan" Ujar Taufan sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Hmm... iya tak apa, sini berikan minumannya!" Ujar (nk) sambil mengulurkan tangannya.
"Ini" Taufan menyerahkan minuman pada (nk) dengan senyuman yang lebar.
"Halilin, ini untukmu karena tadi aku menghabiskan minumanmu" seketika senyuman Taufan itu langsung luntur dan hilang begitu saja.
"Ah, tidak perlu, (nk), lagipula tadi aku sudah meminumnya" Halilintar tersipu malu.
"Tidak, terima saja" (nk) memaksa Halilintar untuk menerimanya.
"Tidak perlu, (nk)"
"Ayolah, Halilin"
Taufan terus memandang pemandangan yang sangat menyakitkan baginya itu. Namun, karena tak tahan Taufan pun pergi berlari kesisi lain taman tersebut tanpa diketahui (nk) maupun Halilintar.
TBC~
.
.
.
Waduh, udah berapa bulan ga update, tiba - tiba muncul dengan ga jelasnya apa - apaan aku ini!
Maaf ya semuanya aku baru update soalnya kemarin habis ada uji coba UN sama beberapa urusan sekolah yang harus diselesaikan segera... Dan terima kasih juga yg udah me-review fanfic ini
Akhir kata mohon reviewnya dan ikuti terus cerita gaje ini ya!
Sampai jumpa lagi!
