Happy Reading~
Taufan tengah duduk di bawah sebuah pohon yang rindang, pikirannya hanyut pada kejadian tadi.
"Argh!" Taufan mengacak - acak rambutnya sendiri hingga topi yang dikenakan jatuh terlepas dari kepalanya.
"Kenapa? (Nk), kenapa harus begini?" batin Taufan geram.
Namun, tak lama kemudian ketika Taufan tengah menundukkan kepalanya, ada sebuah bayangan menghampirinya. Ia mendongak dan melihat siapa itu, ia seorang gadis berambut coklat panjang.
"Hai, apa anda Taufan?" Tanya gadis tersebut pada Taufan.
"Mm... ya, kau siapa ya?" Jawab Taufan tenang.
"Perkenalkan, aku Yura, aku teman adikmu Air" ujar gadis bernama Yura tersebut.
"Teman Air?" Taufan mulai merasa bingung, "Ada apa? Kenapa kau menemuiku?"
"Aku hanya ingin mengabarkan kalau Air sekarang tengah berada di rumah sakit, ia mengalami kecelakaan semalam" ujar Yura pada Taufan, mendengar hal tersebut Taufan langsung terkejut.
"Kecelakaan?" Taufan langsung berdiri.
"Iya, semalam ia mengikuti balapan liar. Aku sudah mengingatkannya agar tidak ikut atau kau akan marah padanya tapi, ia tidak mendengarkanku" jelas Yura, Taufan kini terlihat murung.
"Kalau begitu, bisa kau antar aku kesana?" Tanya Taifan sambil memegangi bahu Yura.
"Tentu, Ayo!" Dan mereka berduapun lari meninggalkan taman tersebut, namun sebelum Taufan benar - benar jauh dari tempat itu, ia sempat menoleh ke belakang dan melihat (nk) dan Halilintar tengah berpelukan. Mata Taufan terbelalak namun...
"Mereka saling mencintai, Taufan. Mereka pasti sudah jadian, jadi kau harus menjauhinya sekarang" Taufanpun berlari lagi meninggalkan tempat itu.
"Taufan, kemana ya?" Ujar (nk) pada Halilintar, kini mereka tengah mencari Taufan dengan memutari taman tersebut.
"Entahlah, lagipula kenapa dia tiba - tiba pergi tanpa bilang padamu" Halilintar memutar mata.
"Aduh, kalau aku ditinggal dia nanti aku pulang sama siapa?" Halilintar melirik (nk) dan kemudian menjawab dengan santai.
"Biar aku yang mengantarmu kalau Taufan tidak ketemu" (nk) menoleh kearah Halilintar dan menatapnya tak percaya, orang yang selama ini ia anggap dingin dan cuek ternyata adalah seorang pemuda yang baik hati padahal mereka hampor tak pernah berinteraksi sebelumnya.
"Benarkah?" Tanya (nk) memastikan kalau ia tak salah dengar.
"Kalau kau tidak mau tak apa" ujar Halilintar santai.
"Baiklah, Terima kasih" ujar (nk) tenang, "Tapi, bagaimana kalau Taufan justru mencariku dan sedang panik sekarang?"
"Kurasa tidak, dia terlihat senang jauh darimu" ujar Halilintar tiba - tiba.
"Hah?! Apa maksudmu?" (nk) merasa terkejut ketika mendengar perkataan Halilintar itu.
"Lihat itu!" Halilintar mengarahkan kepala (nk) untuk melihat kebelakangnya, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Taufan sedang bersama seorang gadis cantik disana.
"Siapa gadis itu? Apa dia gadis yang dicintai Taufan?" batin (nk) ketika melihat adegan itu.
"Gadis itu temanmu juga?" Tanya Halilintar pada (nk).
"Tidak, bukan" ujar (nk) sambil menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca - kaca. Halilintar terkejut melihatnya menangis dengan tiba - tiba.
"Hiks... dia tidak mencintaiku hiks... hiks..." gumam (nk) disela tangisnya.
"Hei, (nk) kenapa kau menangis?" Halilintar mulai panik.
"Dia tidak mencintaiku, kenapa aku bisa berpikir kalau dia juga merasakan hal yang sama padaku" ujar (nk) dengan suara yang bergetar karena menangis. Halilintar merasa sesak di dadanya ketika melihat (nk) menangis dihadapannya karena Taufan.
"Kau begitu mencintainya?" Ujar Halilintar dingin, dan (nk) mengangguk sebagai jawaban. Halilintar tidak tahan melihat (nk) menangis semakin menjadi - jadi, akhirnya pemuda dingin itupun memeluk gadis yang dicintainya itu.
"Sudahlah, (nk), kau tak perlu menangis hanya untuk hal yang sudah jelas tidak untukmu. Lebih baik kau cari saja seseorang yang juga mencintaimu dan cobalah untuk mencintainya" ujar Halilintar pada (nk), atau lebih tepatnya mencurahkan isi hatinya.
"Apa ada orang yang mencintaiku?" Tanya (nk) pada Halilintar seraya melepas pelukan Halillintar dan menghapus air matanya.
"Aku, (nk), aku sangat mencintaimu lebih dari apapun"
"Percayalah, (nk). Pasti ada seseorang didunia ini yang mencintaimu, aku yakin itu!" Ujar Halilintar menyemangati (nk). (Nk) menatap Halilintar dan kemudian tersenyum.
"Kalau memang benar ada orang yang mencintaiku, aku ingin orang itu sepertimu. Dingin dan cuek diluar namun, didalamnya hatimu baik sekali, terima kasih, Halilin"
BLUSH~
Seketika pipi Halilintar merona merah, ketika mendengar apa yang dikatakan (nk). Ia merasa penantiannya selama ini akan segera berakhir karena mungkin tak lama lagi (nk) akan menyadari perasaannya.
"Kuharap itu terkabul, (nk)" ujar Halilintar lagi.
"Kalau begitu, ayo tepati janjimu untuk mengantarku pulang" (nk) menggenggam tangan Halilintar dan kemudian mengajaknya berlari. Halilintar tersenyum, baru kali ini ia bisa tersenyum pada orang selain Almarhum ibunya. Merekapun berlari meninggalkan taman tersebut.
SKIP TIME~
(Nk) dan Halilintar sudah sampai dirumah (nk). Mereka tengah berdiri didepan gerbang rumah (nk).
"Baiklah, Halilin. Mau masuk dulu?" Tawar (nk) ramah.
"Tidak, terima kasih. Aku mau langsung pulang saja, aku takut adikku sudah bangun dan ia sendirian" tolak Halilintar halus.
"Oh begitu, kalau begitu hati - hati ya" ujar (Nk) tersenyum.
"Iya, sampai jumpa, (nk)" Halilintarpun berlari pergi meninggalkan rumah (nk).
"Halilintar, keren juga" gumam (nk) yang tengah menatap punggung Halilintar yang semakin jauh, "Ehehe... bicara apa aku ini!" (Nk) mulai sadar dari lamunannya dan masuk kerumah tanpa ia sadari Gempa tengah memperhatikannya dari jendela atas (kamarnya) juga Ibu dan Ayahnya yang tengah mengintip melalui jendela lainnya.
(Nk) masuk kedalam rumah dan melepas sepatunya.
"Ayah, Ibu aku pulang!" (Nk) duduk didekat pintu dan melepaskan sepatunya.
"Jadi, diakah calon kekasihmu?" (Nk) mnoleh ke suara tersebut yang ternyata memang benar milik Gempa.
"Mm... mungkin!" Jawab (nk) santai.
"Kupikir kau akan menjadi kekasihnya Taufan" ujar Gempa lagi.
"Lupakan saja dia, dia sudah punya kekasih bahkan dia meninggalkanku di taman tadi hanya untuk bertemu dengan gadis itu" (nk) menghela napasnya "Hah... tapi, untunglah ada Halilintar disana jadi aku tak kesepian" lanjut (nk) yang terlihat geram pada Taufan karera kejadian tadi.
"Ouh" Gempa dapat melihat pancaran kebencian dari mata (nk) sekarang.
Sementara itu...
Taufan kini tengah berlari di koridor rumah sakit bersama Yura, mereka sedang menuju kamar rawat Air. Dan setelah lama berlari merekapun sampai di kamar tersebut.
"AIR!" seru Taufan sambil mendobrak pintu kamar rawat Air.
"Kau apa yang kau lakukan disini? Siapa yang memberitaumu aku disini?" Air terlihat tak suka dengan kehadiran Taufan disana.
"Air, kau baik - baik saja?" Taufan menghampirinya dan mengecek seluruh tubuh Air.
"Apa yang kau lakukan?! Aku baik - baik saja, pergilah sekarang!" Air menepis tangan Taufan.
"Air, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Sudah 1 minggu kau tidak pulang kerumah dan sekarang aku mendapat kabar kau ikut balapan liar lalu masuk rumah sakit" ujar Taufan dengan nada yang terdengar khawatir.
"Kau masih peduli padaku?" Tanya Air dengan nada yang dingin dan wajah datar.
"Apa maksudmu? Tentu saja, aku peduli padamu!" Ujar Taufan agak kesal.
"Lalu, kenapa kau biarkan mereka pergi tanpa mengurus kita? Tidak, lebih tepatnya mengurusku!" Bentak Air pada Taufan, Taufan terbelalak mendengar bentakan Air.
"Sejak kecil kau selalu mereka sayang, tapi, aku hanya mereka telantarkan bersama pembantu!" Air kini mengeluarkan air matanya. Taufan menundukkan kepalanya.
"Kau lebih berharga buat mereka sedangkan, aku hanya pajangan buat mereka" Taufan hanya diam tak menjawab.
"Dan sekarang mereka pergi meninggalkanku tanpa memikirkan apapun!"
"Sadarlah, Air. Mereka tidak hanya meninggalkanmu! Mereka juga meninggalkanku!" Kini Taufan berbalik membentak Air.
"Aku tau, kau marah pada mereka. Kau pikir aku suka mereka seperti itu? Tidak, Air, aku juga benci mereka yang seperti itu!" Taufan menatap Air tajam.
"Dan aku juga tau kau seperti ini pasti gara -gara mereka, karena itu aku mencoba untuk peduli padamu agar kau tau, aku juga merasa kesepian, Air" tutur Taufan yang kini membuat Air terdiam.
"Tapi, terserah kalau kau masih berpikir aku lebih beruntung dari kau! Aku pulang dulu!" Taufanpun pergi keluar dari kamar rawat Air.
Diluar kamar tersebut Yura menatap Taufan dengan tatapan sedih dan khawatir namun, Taufan malah tersenyum dan memegangi bahunya.
"Aku percayakan Air padamu" setelah mengatakan itu Taufan pergi dari rumah sakit tersebut.
TBC~
.
.
.
.
.
PENGUMUMAN UNTUK READERS FANFIC INI!
Author mau minta bantuan sama para readers yang meminati fanfic ini. Aku mencari beberapa tokoh (OC) untuk fanfic ini, yaitu untuk menjadi :
1. Adik Halilintar
2. Kekasihnya Gempa
3. Tokoh perempuan yang mencintai Taufan
Untuk sementara mungkin untuk 3 orang itu dulu, bila berminat, silahkan tulis nama (OC) dan perannya di review, 3 orang tercepat yang aku pilih ya!
Okay, akhir kata. Terima kasih atas review sebelumnya dan jangan lupa untuk review lagi! Sampai jumpa dichapter berikutnya!
