Sebuah Kepastian
"Kemudian kau buatku bimbang. Pernahkah kau berpikir tentang masa depan? Aku tidak. Dan seumur hidupku aku tak pernah sekalipun berpikir akan menghadapi masalah serumit ini"
Sakura menikmati cokelat yang meleleh dimulutnya sambil memejamkan mata. Brownie ini benar-benar enak. Ino yang sedari tadi memerhatikan Sakura tertawa saat melihat Sakura mengunyah sambil memejamkan mata. Seenak itukah brownienya?
"Oh ya, Sakura"
Sakura membuka mata. Namun mulutnya masih sibuk mengunyah brownie coklat Ino. "Ya?"
"Bagaimana dengan Kabuto?"
Sakura berhenti mengunyah. Emeraldnya menatap aquamarine Ino lekat-lekat. Ia baru ingat belum menceritakan kejadian delapan belas Januari silam. Juga tentang 'sandiwara' nya dengan Sasuke. Apakah ia harus menceritakannya?
"Sakura?"
Ino bertanya lagi saat Sakura tak kunjung menjawab pertanyaan pertamanya dan malah menatapnya lekat.
Sakura berkedip satu kali kemudian menjawab, "Ah, dia...tidak. Maksudku rencana perjodohan konyol itu batal"
Mata Ino melebar, "Oh ya? Bagaimana bisa? Kau bilang akan menyerah saja asal ibumu senang? Ah, sepertinya ada sesuatu yang belum kuketahui, ya? Ayo ceritakan!"
Sakura menggigit bibir. Tahu benar sifat sahabatnya yang satu ini. Lalu bagaimana? Ia perlu mengarang cerita atau mengatakan yang sejujurnya? Tapi selama ini tak ada yang berhaslil ia sembunyikan dari sahabatnya, jadi...
Sebuah suara dering ponsel memotong jalan pikir Sakura.
"Ponselmu, kan?"
Sakura segera merogoh tasnya dan dengan cepat menemukan benda yang berdering itu. Telepon dari ibunya?
"Halo, ibu?"
-1-
Pagi itu pertama kalinya Sasuke muncul di kantor setelah selama dua minggu terakhir harus beristirahat dirumah. Beberapa rekan yang kebetulan berpapasan di koridor sempat menanyakan kabarnya, dan setelah mereka tahu kronologisnya, seperti dugaan Sasuke, ucapan "Kau-beruntung-sekali" bertebaran dimana-mana. Termasuk rekan karib Sasuke yang kini duduk dihadapannya, barusan ia mengucapkan kata-kata itu dengan begitu antusias.
"Ya, aku memang sangat beruntung saat itu. Omong-omong, bagaimana kelanjutan penyelidikannya? Markas target sudah diketahui letaknya?"
Juugo menggeleng, "Ia kabur. Tanpa jejak tentunya. Dan satu informasi lagi yang kita dapat, organisasi target memiliki kebiasaan meledakkan markas-markas kecil mereka yang sudah terlacak pihak keamanaan. Agar tak satupun jejak mereka yang tertinggal disana."
Sasuke mengernyit. Dari baunya, nampaknya mereka sedang berhadapan dengan organisasi besar.
"Termasuk bangunan tempat kau ditembak, nampaknya tak lama setelah kau dibawa kerumah sakit, bangunan itu diledakkan, karena saat kami kesana satu jam kemudian, bangunan itu sudah hangus"
"Wah, lalu langkah apa saja yang sudah diambil?"
"Tak banyak kemajuan. Hanya nama organisasinya yang kami dapat"
"Oh ya? Apa?"
Juugo menatap Sasuke, "Sumiyoshi-kai"
Mata Sasuke melebar, benaknya memutar memori akan foto yang dikirimkan Sakura dua hari lalu. Namun siapa sangka orang yang nyaris membunuhnya berasal dari organisasi yang sama?"
"Itu kan, dibawah naungan Yakuza?"
"Yap. Namun ia bergerak sendiri, target utama mereka ialah..."
"Mereka memiliki lambang khusus, ya kan?"
"Ya, aku lupa tepatnya seperti apa, yang jelas membentuk huruf kanji dengan tinta hitam"
Sasuke mengutak-atik ponselnya dengan cepat, kemudian menunjukkannya pada Juugo, "Seperti ini?"
"Ya, persis" Juugo kemudian mengambil alih ponsel Sasuke. "Foto apa ini? Tato?"
"Ya. Aku menemukan orang dengan tato itu." Tandas Sasuke. Kali ini ganti Juugo yang terkejut,
"Benarkah? Dimana?"
"Ah itu..."
-2-
Kabuto Yakushi membuka pintu kayu yang sudah lapuk. Sebuah ruangan minim pencahayaan segera menyambutnya. Diruangan itu hanya ada seorang pria yang segera menoleh saat menyadari ada yang melangkah masuk, "Oh, kau"
"Ya, sendirian saja?"
"Ya. Dan...sudah beberapa hari belakangan aku tak melihatmu dimarkas manapun"
"Ah, kemarin ada sesuatu yang harus kuurus" Kabuto mendekati lawan bicaranya. Kemudian menarik kursi untuk duduk,
"Oh begitu. Omong-omong, katanya kau akan menikah, ya?"
"Ya, seandainya saja semuanya berjalan lancar. Namun sayangnya tidak." Kabuto mengatakannya dengan wajah kesal, memancing lawan bicaranya untuk bertanya lebih jauh, "Apa yang menghalangimu? Kudengar dari Suigetsu katanya orangtua si gadis yang menjodohkannya denganmu. Lalu sekarang kenapa?"
"Tiba-tiba saja kemarin ia membawa seorang pria,"
"Hanya membawa?"
"Sayangnya tidak, karena pria itu mengatakan akan menikahinya secepat mungkin. Dan gadis itu...setuju," Kabuto mengangkat bahu, lawan bicaranya kini mengangkat alis tinggi-tinggi, "Tiba-tiba begitu? Terdengar ganjil"
"Ya, sangat ganjil. Makanya aku ingin memintamu menyelidikinya," Kabuto mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya, kemudian menaruhnya diatas meja. "Deidara, bantu aku mencari latar belakang orang ini,"
Deidara mengambil foto itu. Jelas sekali foto itu diambil secara diam-diam. Dilihat dari fisiknya, usia pria ini hampir sama dengan Kabuto, kulitnya pucat, kurus dan kekar. Nampak tak berbahaya, "Setelah kutemukan identitasnya, akan kau apakan dia?"
"Akan kuhabisi"
Jawaban Kabuto membuat Deidara tersenyum, "Wah, nampaknya kau benar-benar mencintai gadis itu, ya?"
"Tidak juga." Kabuto mengangkat bahu.
"Lalu?"
Kabuto menyeringai, "Aku menginginkannya"
-3-
Sakura benar-benar tidak bisa tidur semalaman.
Kejadian kemarin siang terus saja terngiang-ngiang dibenaknya. Harusnya ia bersyukur karena kemarin Kabuto tak banyak bicara saat dia dan Sasuke datang kerumah secara tiba-tiba. Kabuto juga tak protes saat sandiwara mereka dimulai: Sasuke mengatakan akan menikahinya secepat mungkin, dan sisanya seperti potongan adegan dalam film, Sakura mengiyakannya sambil meyakinkan orangtuanya bahwa Sasuke pria yang baik. Orangtuanyapun tak masalah. Katanya mereka hanya menyetujui apapun keinginan Sakura.
Dan permasalahannya kini, bagaimana kelanjutannya?
Ia kini sudah terlepas dari bayang-bayang Kabuto. Yang ternyata bagian dari 'organisasi cukup berbahaya' –sepeti yang Sasuke ceritakan-. Dan masalah baru kini muncul, bagaimana realisasi dari 'sandiwara' mereka kemarin?
Sasuke takkan benar-benar menikahinya, bukan?
Saat ide itu menyelinap masuk kedalam benaknya, Sakura segera bangkit dari posisi berbaringnya. Matanya melebar. Benar juga, ya? Tapi bahkan Sakura baru bertemu Sasuke dua kali. Mengenal keluarganya saja tidak.
Maka setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Sakura meraih ponselnya dan mulai mencari sebuah nomor dikontaknya. Namun gadis itu bahkan belum sempat menekan tombol panggil saat tiba-tiba ponsel yang tengah berada dalam genggamannya berdering, menandakan ada telepon masuk.
Mata Sakura melebar saat membaca sederet nama yang muncul dilayar sentuhnya. Diiringi dengan degup jantungnya yang tak karuan.
-4-
"Kau serius, kan?" Juugo bangkit dari duduknya usai mendengar penjelasan Sasuke. Namun dari raut wajahnya jelas sekali Sasuke tidak sedang main-main.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Jika itu temannya temanmu, maka temui dia, Sasuke. Pasti temanmu itu bisa menjadi celah untuk menghubungkanmu dengan pria itu." Juugo berkata sambil mondar-mandir gelisah, "Temanmu itu bisa menjadi benang merah yang menghubungkan kita dengannya"
Sasuke termenung. Kata-kata Juugo memang benar. Namun apakah Sakura masih mau berhubungan dengan Kabuto setelah ia tahu identitasnya yang asli? Tidak. Ia sudah berniat menolong gadis itu. Ia tak mau melibatkan Sakura dalam bahaya lagi. Tidak.
Ia kemudian memijat pelipisnya. Menolong Sakura? Iya, sebagai ucapan terima kasih, karena gadis itulah yang membuatnya kini masih hidup. Tapi, apa? Kemarin ia bahkan baru saja bertemu dengan orangtua gadis itu dan menjalankan 'sandiwara' mereka. Lalu kini langkah apa yang akan ia ambil?
"Hei, Sasuke"
Sasuke mendongak saat Juugo memanggilnya.
"Ayolah, hubungi temanmu itu"
Berikutnya Sasuke hanya mengembuskan napas keras-keras.
-5-
Deidara hanya mengangkat bahu mendengar ucapan terakhir Kabuto. Jika Kabuto bukanlah orang berpengaruh di organisasi mereka, mana mau ia disuruh menyelidiki latar belakang orang biasa seperti ini. Tidak menarik. "Well, baiklah. Akan kupastikan nanti siang aku sudah dapatkan latar belakang orang ini. Sekarang aku pergi dulu. Kau mau tetap disini?"
Kabuto mengangguk, sementara Deidara bangkit dari duduk dan keluar ruangan. Berikutnya Kabuto mengeluarkan ponsel, menekan layarnya beberapa kali lalu menempelkannya ke telinga. Terdengar nada putus-putus dari seberang sana. Satu kali, dua kali, tiga kali.
Teleponnya tidak diangkat.
Kabuto tengah menurunkan ponselnya dari telinga saat terdengar suara berisik dari bawah, tak lama pintu ruangan itu terbuka. Beberapa laki-laki memasuki ruangan, begitu menyadari Kabuto tenngah duduk disana, pria yang berjalan paling depan tersenyum lebar kearahnya, "Brilian! Rencanamu tempo hari memang brilian, Kabuto!"
Kabuto menyunggingkan senyum tak kalah lebar, yang segera berubah menjadi tawa, "Hahaha! Kau masih meragukan rencanaku, ya? Baiklah, berapa banyak yang kalian dapat?"
"Dua koma tiga milyar yen"
"Wah, cukup banyak. Nah sekarang mari kita adakan pesta untuk merayakan keberhasilan kita"
"Rencana bagus." Ujar pria yang bertubuh paling kecil. Tangan kanannya meletakkan sebuah koper hitam diatas meja. Kabuto menyeringai menatap koper itu, "Ya, tapi sebelum merencanakan pesta... aku ingin meminta bantuan kalian"
"Apapun itu"
Ucapan salah temannya membuat senyum Kabuto melebar, "Baiklah, nanti kuceritakan, sekarang kalian istirahatlah dulu, ada yang harus kuurus sebentar"
Kabuto melangkah munuju jendela, kembali menekan layar sentuhnya beberapa kali, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga. Nada putus-putus kembali terdengar, namun kali ini hanya dua kali, karena setelahnya orang diseberang sana sudah mengangkat teleponnya,
"Selamat pagi, Sakura"
-6-
Sakura membiarkan ponselnya berdering tanpa mengangkatnya.
Ia pikir Kabuto sudah takkan mengganggunya lagi, namun nyatanya tidak. Untuk apa ia menelepon? Bukankah keputusannya kemarin sudah cukup jelas? Apa...
Pria itu membutuhkan penjelasan darinya?
Bagaimanapun Sakura setuju kedatangan Sasuke kemarin terlalu tiba-tiba. Tapi... tak ada pilihan lain kemarin. Ia kembali berpikir, bagaimana jika ia tak mau berbicara lagi pada Kabuto? Apa laki-laki itu akan berhenti menghubunginya? Atau malah terus saja menuntut penjelasan darinya?
Akhirnya Sakura memutuskan mengajak pria itu bicara. Untuk yang terakhir kalinya.
Ponselnya berdering lagi. Masih dari orang yang sama.
Sakura menarik napas dalam dalam, sebelum menekan tombol terima dan menempelkan ponselnya ke telinga. Sebuah suara yang familiar menyapa telinganya, "Selamat pagi, Sakura"
"Se-selamat pagi. Ada apa, Kabuto?"
"Ah, begini." Ada jeda sebentar sebelum Kabuto melanjutkan kalimatnya, "Kurasa kejadian kemarin itu berlangsung begitu tiba-tiba. Maksudku, kau tak pernah bercerita memiliki hubungan dengan pria lain sebelumnya. Namun... ah, bagaimana jika kita berbicara langsung saja?"
Sakura terdiam. Ia bersumpah ini akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Kabuto, "Baiklah, kapan?"
"Kau tentukan sendiri tempat dan waktunya, Sakura"
"Bagaimana jika hari ini? Hari ini hari libur dan... kupikir akan sulit menyisihkan waktu dihari kerja" Sakura berpikir makin cepat masalahnya selesai maka semakin baik.
"Baik, waktunya?"
Sakura berpikir sebentar, "Nanti sore? Tempatnya..."
"Bagaimana jika di Double Tall Cafe?"
"Tak masalah," ujar Sakura. Cafe itu tak begitu jauh dari rumahnya. Juga cukup ramai. Setidaknya ia tidak mau berbicara berdua dengan Kabuto di tempat yang sepi.
"Baiklah. Sampai nanti Sakura" Dan setelah telepon ditutup Sakura mengembuskan napas lega. Ia akan menyelesaikan masalahnya hari ini.
-7-
"Siapa namanya, Sasuke?"
Salah seorang rekan Sasuke yang tampilannya selalu berantakan, Kiba, bertanya pada Sasuke yang sedang melamun. Merasa panggilannya diabaikan, Kiba pun berteriak, "Oi! Namanya siapa?"
"Eh-oh, apanya?"
"Orang bertato Sumiyoshi-kai"
"Kabuto Yakushi"
Berikutnya jemari Kiba menari cepat diatas keyboard. Tak lama muncul beberapa baris tulisan di monitor. Kiba membaca kalimat demi kalimat dengan cermat. Juugo –yang juga ada disana- nampak sedang menunggu Kiba selesai membaca, namun karena pria berantakan itu tetap bergeming ditempat duduknya, dengan tak sabar ia menghampirinya. Ikut menatap monitor dan membaca tulisan-tulisan disana.
"Apa yang kau dapatkan, Kiba?"
"Emmm...hanya informasi dasar. Disini tertulis pekerjaannya sebagai pegawai bank."
"Dan itu tentu saja hanya kamuflase" sambung Juugo. "Baik, Sasuke. Sudah memilki rencana bagaimana caranya agar kau bisa bertemu orang ini?"
Sasuke terdiam. Dirinya belum bercerita pernah bertemu Kabuto satu kali. Ia juga tak bercerita mengenai Sakura yang dijodohkan dengan Kabuto, tentu saja. Banyak hal ganjil yang Sasuke tangkap dari pertemuannya dengan Kabuto. Salah satunya ialah fakta bahwa Kabuto telah memotretnya diam-diam dengan kamera ponsel. Tentang apa tujuannya, Sasuke tak tahu. Namun yang jelas Kabuto nampaknya akan melakukan sesuatu padanya. Entahlah. Namun ini artinya ia tak bisa mengorek informasi dari Kabuto secara langsung.
"Akan kupikirkan. Sekarang lebih baik aku pulang saja. Tak ada gunanya berdiam diri di kantor" Sasuke bangkit dari duduknya, "Oh ya Kiba, cari saja informasi sebanyak-banyaknya tentang dia. Aku akan mencari cara"
Setelah itu Sasuke melangkah keluar ruangan. Meninggalkan kelima rekannya yang masih berkutat dengan misi mereka
-8-
"Sudah jelas?"
Suara tenor Kabuto memenuhi ruangan. Beberapa pria yang duduk dihadapannya menyimak setiap perkataannya dengan serius. Salah seorang dari mereka menyeringai santai, "Kau ingin kami bunuh dia ditempat atau menyeretnya kesini hidup-hidup?"
Kabuto berpikir sebentar sebelum berkata, "Seret hidup-hidup. Aku ingin dia mati ditanganku"
"Baiklah. Ini tugas mudah. Aku yakin pria yang kau tunjukkan fotonya tadi kekuatannya tak seberapa"
Kabuto mengangkat bahu, "Semoga saja begitu. Nah, setelah Deidara datang kesini dan memberi alamat dia pada kalian, lekaslah berangkat. Aku yakin dia pasti sudah dirumah"
Tiga orang pria yang tadi duduk dihadapan Kabuto bangkit bersamaan, salah seorangnya kembali bertanya, "Kau punya usul kita harus membawa senjata jenis apa?"
Pria yang lain tertawa, "Ahaha, kurasa pisau dan borgol saja cukup membuatnya bertekuk lutut"
"Hei Suigetsu, kau ini selalu saja meremehkan. Bawa pistol"
"Satu cukup?"
"Cukup" Kabuto mengangguk, "Nah, sekarang aku pergi dulu, ada ..."
Suara pintu yang dibuka dengan kasar memotong ucapan Kabuto. Deidara muncul dari balik daun pintu sambil membawa beberapa helai kertas, "Kabuto!"
"Rusuh sekali. Ada apa? Dan oh, seingatku tadi pagi kau berkata akan menyerahkan data itu padaku tadi siang," sindir Kabuto. Namun Deidara tak peduli, ia mendekat kearah Kabuto dengan langkah lebar-lebar.
"Kurasa ia bukan orang biasa. Datanya setelah lulus SMA tak terlacak. Termasuk tentang pekerjaannya, nampaknya semua data tentang pekerjaannya sengaja disembunyikan." Jelas Deidara panjang lebar sambil menunjukkan kertas yang tadi ia bawa "Tapi aku memperoleh alamatnya"
Kabuto membaca data itu dengan kening berkerut. Apa yang Deidara sampaikan memang benar. Tak ada data seorangpun didunia ini yang tak bisa mereka lacak. Kecuali mereka adalah semacam...
"Suigetsu"
Panggilan Kabuto membuat pria bergigi runcing itu mendongak, "Ya?"
"Nampaknya satu pistol saja tak cukup"
-9-
Sakura membenarkan posisi duduknya. Jemarinya saling bertautan diatas meja. Manik hijaunya menatap sepasang mata Kabuto lurus-lurus. Mereka sudah berbicara disini sejak setengah yang jam lalu dan Sakura sudah memberikan penjelasan atas semua pertanyaan Kabuto. Jadi ia harap pria itu takkan menghubunginya lagi.
"Itu semua kurasa sudah cukup jelas. Jadi Kabuto, kuharap kau takkan meminta penjelasan apapun lagi,"
Kabuto masih membisu. Ia menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian tatapan itu beralih pada cangkir kopi yang ia pesan.
"Sakura, ah, mengapa kau tak bilang dari awal? Kalau kau tengah dekat dengan laki-laki?"
Sakura menggigit bibir, "Awalnya kami hanya teman"
"Lalu? Mengapa tiba-tiba...?" Kabuto menggantungkan kalimatnya diudara, namun pasti Sakura mengerti apa yang ingin ditanyakan Kabuto.
"Alasan apa yang membuatmu mau menikah dengannya?" tanya Kabuto lagi, karena tadi Sakura bilang mereka hanya berteman. Sakura menghela napas, nampaknya pria ini masih belum mau menyerah.
"Mengapa tidak?"
"Mengapa tidak denganku?"
Sakura terdiam. Mengutuk jawaban konyolnya tadi. Sekarang apalagi yang mau ia katakan? Sakura menggigit bibir saat sebuah jawaban melintas dibenaknya. Mau tidak mau ia harus berbohong untuk meyakinkan pria itu. Maka dengan datar ia menjawab,
"Karena aku menyukainya"
Kali ini Kabuto terdiam. Alisnya mengernyit ragu, meragukan jawaban gadis itu. Namun nampaknya Sakura bisa membaca keraguan Kabuto lewat mimik wajahnya, karena saat Kabuto baru membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Sakura berkata dengan nada tegas, "Aku mencintainya"
Mulut Kabuto terkatup lagi. Kini apalagi yang akan diragukannya?"
"Baiklah, Sakura. Aku takkan memaksamu," ujarnya sambil tersenyum, sementara Sakura tengah menggigit bibir gelisah. Ia tak pernah tenang jika sedang berbohong.
Kabuto baru akan mengatakan sesuatu lagi saat suara ponsel berdering membuat pria itu tergesa merogoh saku celananya. Setelah menemukan benda itu ia segera menempelkannya ketelinga.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi. Sakura hanya diam memerhatikan. Detik berikutnya wajah Kabuto berubah menegang. Pria itu tampak kesulitan berkata-kata. Apa yang terjadi?
-10-
Sasuke sampai didepan pintu apartemennya. Tangan kanannya merogoh saku jaketnya untuk mengambil kunci. Setelah itu membuka pintu dan mendapati apartemennya dalam keadaan gelap gulita. Setelah masuk ia segera melemparkan diri ke sofa. Bersandar sambil memejamkan mata, merasa sedikit pusing. Apa mungkin dirinya belum sehat benar?"
Ah tidak. Ia mungkin hanya lelah dengan semuanya. Lukanya pasti sudah sembuh, bukan? Maka dengan pikiran optimis itu ia bangkit dari duduk dan berjalan menuju lemari es. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sejak ia pulang dari rumah sakit hingga kemarin, ibunya menginap disini untuk merawatnya. Menyiapkan makanan dan sebagainya. Maka hari ini ia baru ingat semuanya kembali seperti semula lagi. Ia harus membuat makanannya sendiri.
Sasuke baru akan meraih sekaleng sarden saat bel apartemennya berbunyi. Siapa sore-sore begini?
Dengan langkah lebar ia berjalan menuju pintu dan melihat layar kecil disamping pintu masuk. Nampak seorang pria berdiri disana. Seseorang yang tak ia kenal. Maka dengan ragu ia menekan sebuah tombol di interkom, tak lama pintu dihadapannya terbuka. Dihadapannya berdiri seorang pria berseragam berusia tak jauh darinya. Pria itu tersenyum padanya,
"Selamat sore. Maaf mengganggu, saya petugas kebersihan air setempat ingin memeriksa kamar mandi anda dan memastikan apakah bak mandi anda sudah bebas dari jentik nyamuk demam berdarah karena kemarin seorang warga apartemen ini meninggal karena demam berdarah,"ujar pria itu panjang lebar. Sasuke memerhatikan pria itu dari kepala hingga kaki. Kemudian berujar, "Baik, silakan masuk."
"Terima kasih," pria itu tersenyum, kemudian melewati Sasuke yang berdiri diambang pintu untuk masuk. Sementara Sasuke dengan gerakan lambat berbalik kearah dalam dan menutup pintu dibelakangnya. Namun sebelum pintu itu benar-benar menutup sempurna, sebuah pukulan keras menghantam pergelangan kiri Sasuke yang menggenggam gagang pintu. Sasuke terkejut, badannya refleks berbalik dan mendapati seorang pria lain telah menyelinap masuk melalui celah pintu. Sasuke baru akan memukul balik pria itu saat sebuah tangan melingkari lehernya dari belakang, membuatnya sesak napas. Tangan itu ternyata milik pria yang mengaku sebgai petugas kebersihan air tadi.
Gigi-gigi Sasuke beradu. Apa lagi, kali ini? Ia merasa lilitan tangan pria kurus tadi cukup kuat hingga ia sedikit tertarik ke belakang. Pria yang tadi memukul tangannya kini mengacungkan sebuah pisau kerahnya, menyerangnya dengan emosi, "Diam disana dan menyerahlah!"
Namun sebelum pisau itu benar-benar melukai kulit pucat Sasuke, tangan kanan Sasuke lebih dulu menangkis pergelangan tanga musuhnya dengan keras. Amat keras, karena pisau yang digenggam musuh sampai terpental dan menimbulkan suara gaduh di lantai.
Musuh dihadapannya merasa terkejut. Sebelum musuh sempat melakukan sesuatu lagi, tangan kiri Sasuke terkepal untuk mengambil ancang-ancang, dan detik berikutnya, sikunya menghantam ulu hati pria dibelakangnya keras-keras. Setelah lilitan tangan dilehernya lepas, secepat kilat ia memungut pisau yang terjatuh dilantai, "Wah wah, ada apa ini?"
Ucapan santai Sasuke membuat kedua musuh menatapnya tajam. Seorang masih berdiri sementara yang satu lagi berguling kesakitan dilantai. Pria yang masih berdiri itu mengepalkan tinju kearah Sasuke yang segera ditangkis dengan tinju lain oleh tangan kanan Sasuke. Ujung matanya menangkap gerakan pria yang lain hendak memegang kakinya. Namun Sasuke menginterupsi gerakan itu dengan sebuah injakan keras ditelapak tangan musuh. Pria kurus tadi kembali mengerang kesakitan.
"Jadi, apa masalah kalian berdua?"
Alih-alih menjawab, musuhnya yang masih berdiri kini mengacungkan pistol kearah Sasuke, "Cih, berani-beraninya, Kau tak bersenjata! Angkat tanganmu!
Sasuke menyeringai. Tak bersenjata, katanya? Rupanya mereka masih belum paham dengan siapa mereka berhadapan, "O-oh, jika kau masih menginginkan temanmu ini hidup lebih baik kau turunkan pistolmu itu..."
Tangan kiri Sasuke merogoh saku bagian dalam jaketnya, mengambil sesuatu sebelum melanjutkan kalimatnya, "...karena aku tak pernah menarik lagi ucapanku"
Tepat setelah Sasuke selesai mengucapkannya, sebuah tembakan lolos dari pistol yang Sasuke genggam. Berikutnya suara jeritan melengking menggema. Pria kurus tadi tertembak ditangan kanannya.
Pria yang berdiri berhadapan dengan Sasuke tampak sangat terkejut. Tentu saja Sasuke memanfaatkan momen terkejut itu untuk merebut pistol berperedam yang ditodongkan padanya.
"Pistolmu mungkin berperedam, namun pistolku tidak. Dan kau tahu kan apa akibatnya jika terdengar suara pistol?" Sasuke mengatakannya sambil menggenggam erat pistol yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya. Pria dihadapannya sempat menahan pistolnya agar tak berpindah tangan. Namun teknik Sasuke jauh lebih matang, karena tangan kirinya meninju ulu hati lawannya sebelum lawannya sempat berontak. Alhasil pria dihadapannya menunduk, mengaduh kesakitan. Sekali lagi Sasuke mamanfaatkan momen itu untuk menutup pintu apartemennya rapat-rapat. Karena diluar sana sudah terdengar suara-suara tetangganya yang mengerubungi kamarnya akibat suara tembakan tadi. Ia tentu tak ingin mereka terlibat pertarungan berbahayanya disini.
Kedua musuhnya masih sibuk dengan rasa sakit mereka masing-masing saat Sasuke mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan beberapa digit nomor. Posisinya kini sudah aman, karena kedua senjata sudah ada dalam genggamannya, ia yakin pria kurus yang tadi ia tembak juga menyimpan pistol, namun ia takkan bisa menembakannya karena tangan kanannya tertembak sementara tangan kirinya masih berada dibawah telapak kaki Sasuke.
"Nah, aku takkan bertanya siapa yang mengirim kalian karena aku sudah tahu. Jadi, apa yang Kabuto Yakushi inginkan dariku?"
-11-
Kabuto membuka pintu bangunan tua dihadapannya dengan emosi. Apa-apaan ini? Kabar lewat telepon yang barusan diterimanya sama sekali tak masuk akal. Anak buahnya hilang kontak?
Dengan langkah terburu ia menaiki tangga, sesampainya di lantai dua ia segera membuka sebuah pintu dengan kasar. Beberapa pria yang tengah berkumpul diruangan itu menoleh serentak kearah Kabuto. Kabuto menyambut semua tatapan itu dengan tatapan marah bercampur bingung,
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan yang ia lontarkan dengan suara sangat nyaring membuat semua yang ada ada ruangan itu ciut. Kemudian salah seorang pria menjawab pertanyaannya "Suigetsu dan Ginkaku hilang kontak. Setelah masuk ke apartemennya aku tak bisa menghubungi mereka lagi,"
Alis Kabuto terangkat, "Apa? Siapa saja tadi yang pergi ke apartemen?"
"Aku, Yahiko, Suigetsu dan Ginkaku. Aku menunggu di mobil sementara Yahiko menunggu di pintu depan apartemen. Kami pikir akan lebih cepat jika saat dia dibawa keluar, mobil sudah siap dan kami tinggal jalan,"
"Jangan bilang kalian tak menyusul kedalam?"
"Tak memungkinkan. Karena petugas keamanan apartemen sedang memeriksa kamarnya karena menurut para tetangga terdengar bunyi pistol dari dalam kamar. Tadi aku melihat dia diinterogasi petugas di koridor, namun aku tak melihat Sui dan Ginkaku sama sekali," kali ini seorang pria berambut kuning terang yang menyahut. Kemudian tatapan Kabuto beralih padanya, "Bukannya pistol yang mereka bawa berperedam? Mengapa..."
"Justru itu. Dia tidak terluka sama sekali. Itu artinya..." Yahiko –pria berambut kuning tadi- menggantungkan kalimatnya diudara, membuat seluruh pasang mata menatapnya serius, "Tembakan itu bukan berasal dari pistol yang kita bawa"
"Dia memiliki pistol?"
Yahiko mengangkat bahu, "Nampaknya begitu. Dilihat dari data yang diperoleh Deidara tadi, menurutku ia bukan orang awam"
Kabuto terdiam. Terkejut lebih tepatnya.
"Lalu bagaimana dengan Sui dan Ginkaku? Kemana kita mencari mereka?" sebuah pertanyaan bernada panik dilontarkan Deidara yang sedari tadi berkutat dengan sebuah laptop, "Lihat ini. Aku tak menemukan lokasii mereka sama sekali"
"Dasar Suigetsu. Padahal tadi sudah kuperingatkan jangan terlalu meremehkan," Yahiko mengumpat, kemudian ia berjalan mendekati Deidara, "GPS yang dipasang di ponsel mereka berdua juga tak ada jejak?"
Deidara menggeleng, "Dia melepas GPSnya mungkin"
"Dia dan rekan-rekannya" tambah Kabuto. "Tak mungkin ia sendiri"
"Menurutmu dia ini siapa sebenarnya?"
Kabuto nampak berpikir. Berikutnya sebuah senyum sudah terukir dibibinya, "Entahlah. Bagaimana jika kita tanya orangnya langsung?"
"Kuharap kau tak bercanda di situasi seperti ini," tandas Yahiko datar.
"O-oh aku serius," masih dengan senyum terpasang, Kabuto berbalik kearah Yahiko, "Kita masih punya benang merah"
"Benang merah?"
Senyum diwajah Kabuto melebar, "Ya, Sakura adalah sandera yang menarik, bukan?"
-12-
Acara makan malam bersama di kediaman Haruno berlangsung sangat sepi. Padahal biasanya selalu ada saja topik yang mereka bicarakan. Ada apa dengan malam ini?
"Seharusnya kau bilang sejak awal kalau kau sudah punya pacar"
Sakura mendongak menatap ayahnya. Detik berikutnya ia sadar apa yang sedang dibicarakan ayahnya. Sakura menelan makanannya, lalu menjawab, "Kami...tidak dalam suatu hubungan sebelumnya"
"Tidak dalam suatu hubungan dan tiba-tiba kalian bilang akan menikah, begitu?"
Sakura terdiam. Menyadari benar perubahan nada suara ayahnya. Sebersit kekesalan kini tersirat disana. Tapi wajar, Sakura sendiri tahu langkah yang diambilnya tak tepat, "Maafkan aku, ayah"
"Kau membuat ayah malu. Tadi sore ayah Kabuto menelepon ayah, menanyakan alasannya"
Apalagi yang bisa Sakura katakan? Mengatakan bahwa Kabuto seorang penjahat? Tanpa bukti apapun? Mana mungkin orangtuanya percaya, "A-aku tahu ini terlalu tiba-tiba. Tapi...maaf. Aku, aku sudah berbicara pada Kabuto dan ia...ia menerimanya. Menerima keputusanku maksudnya."
Kizashi Haruno memasukkan sepotong ikan kemulutnya, "Sudahlah"
Sakura kembali menggigit bibir. Suasana di meja makan amat canggung sekarang. Ia melirik ibunya yang hanya menyimak. Tampak tak berniat menimpali omongan mereka berdua.
"Jadi apa kau bisa yakinkan ayah bahwa ia pria yang baik?"
Sakura tahu benar siapa 'ia' yang dimaksud ayahnya, "Tentu saja,"
"Baiklah. Ayah akan bicara padanya nanti. Apa pekerjaannya?"
Sakura paling membenci bagian ini. Sasuke jelas sekali tak mau mengatakan profesinya pada Sakura. Lebih tepatnya merahasiakannya. Dari perkataan pria itu mengenai 'memiliki keterampilan khusus dibidang keamanan dan penyelidikan' dan 'pekerjaan semacam detektif' Sakura menebak Sasuke adalah... agen rahasia?
Namun apa yang akan ia katakan pada ayahnya?
Jelas sekali ayahnya sedang menunggu jawaban. Maka tanpa berpikir panjang Sakura menjawab, "Rahasia"
Ayah Sakura menurunkan sumpit dari mulutnya, kemudian menatap lurus anak satu-satunya itu, "Jawaban macam apa itu?"
Sakura menggigit bibir, "Benar. Pekerjaannya harus dirahasiakan. Ayah bisa bertanya langsung padanya,"
Ayahnya hanya menjawab "Baiklah."
Sakura menghela napas. Ia ingin pembicaraan malam ini segera berakhir. Setidaknya besok ia akan menelepon Sasuke –atau bahkan bertemu dengannya- untuk membicarakan kelanjutan rencana mereka.
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ayah?"
Ayahnya pasti menangkap gelagat gelisah dari tindak tanduknya. Dan Sakura, yang ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka malam itu tentu saja menjawab, "Tidak. Tidak ada"
-13-
Sasuke duduk sambil mengamati tiga orang yang tengah berbincang dibalik kaca dua arah yang membatasi dua ruangan yang berbeda. Ruangan tempatnya berada itu remang-remang, dihadapannya terdapat meja panjang dilengkapi dua komputer. Sementara ruangan di seberang terang benderang, serta hanya dilengkapi tiga buah kursi dan sebuah meja.
Terdengar sebuah suara pintu terbuka dibelakangnya, Sasuke menoleh dan mendapati Juugo tengah berjalan menghampirinya, "Bagaimana?"
Sasuke mengangkat bahu frustasi, "Tidak. Tak ada informasi apapun yang keluar dari mulut mereka."
"Aissh, lalu kita apakan mereka?" Juugo duduk disamping Sasuke, ikut mengamati tiga orang pria yang nampak sedang berbincang serius. Dua diantaranya ialah Suigetsu dan Ginkaku, orang yang menyerang Sasuke kemarin. Kemarin setelah melumpuhkan kedua orang itu, Sasuke memanggil 'pasukan'nya untuk meringkus mereka, tentu saja sebisa mungkin tanpa ketahuan petugas keamanan apartemen, hanya membutuhkan sedikit karangan bahwa terjadi ledakan kabel listrik didalam apartemennya dan semuanya baik-baik saja. Buktinya mereka berdua kini ada di kantor ini. Sedang diinterogasi tentang keterkaitan mereka dengan Sumiyoshi-kai.
"Tidak tahu. Komplotan macam begini memang kebanyakan begitu, takkan mau membocorkan informasi apapun mengenai organisasinya. Dan mereka pun rela mati untuk itu," jelas Sasuke. Juugo hanya mengangguk-angguk disebelahnya.
Tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar disakunya. Pria itu segera menegakkan tubuh dan merogoh saku. Saat membaca sebaris nama dilayar ponselnya, ia bangkit dan berjalan menuju pintu.
Setelah menutup pintu dibelakangnya ia menempelkan ponselnya ketelinga, "Halo, Sakura?"
"Ah, Sasuke. Bisa bicara sebentar?" suara diseberang sana terdengar lirih.
"Ya. Ada apa? Dan oh, maaf aku belum sempat menghubungimu lagi sejak hari itu."
Sakura menjawab, "Bagaimana selanjutnya?"
Sasuke terdiam sejenak. Selanjutnya? Ya, ia pasti mengerti apa yang dimaksud Sakura. Namun ia belum memikirkan apapun tentang kelanjutan rencana mereka kemarin lusa. "Ah, kurasa kita harus berbicara langsung"
"Kau benar. Kapan? Semalam ...ah semalam ayahku menanyakan...tentang ini."
Sasuke tahu cepat atau lambat gadis ini membutuhkan kepastian. Tapi ia benar-benar belum memikirkannya. Belum sempat lebih tepatnya. Ia baru saja pulih dari luka mematikan dan masalah memilukan tiba-tiba saja menghampirinya bergantian. Astaga.
"Bagaimana jika nanti malam? Pukul tujuh? Kau hari ini juga bekerja, kan?" Sasuke berpikir mungkin ia memiliki luang nanti malam sepulang dari sini. Karena siang ini ia akan mengurus dua orang itu lebih dulu.
"Baiklah, ah, sebenarnya aku pulang siang hari ini. Tapi tak apa, kau pasti sibuk dan aku tak mau mengganggu. Jadi dimana?"
"Bagaimana jika di Kayashi Seafood?" ucap Sasuke, menyebutkan nama salah satu restoran terkenal di Shibuya. Berikutnya terdengar suara lagi dari seberang, "Baiklah, sampai nanti malam, Sasuke."
"Sampai nanti juga"
"Maaf mengganggu," ucap Sakura terakhir sebelum Sasuke membalasnya dengan gumaman dan memutuskan sambungan. Aneh sekali rasanya. Rekan kerjanya biasanya laki-laki, -ada juga beberapa yang perempuan namun Sasuke jarang terlbat dengan mereka- dan barusan ia berbicara dengan perempuan di telepon. Rasanya...
"Mereka tidak mengatakan apapun,"
Sebuah suara bass memotong jalan pikir Sasuke. Ia kemudian berbalik kearah sumber suara. "Aoi"
"Yahhh...sepertinya kita perlu teknik psikologis. Aku ahli dalam ini dan usahaku barusan tanpa hasil," ujar Aoi sambil mengangkat bahu, "Kau mau mencoba?"
Ia sama sekali bukan spesialis interogasi. Namun bukan berarti ia tak bisa melakukannya. Maka setelah menyimpan ponselnya ke saku ia melangkah mendekati Aoi, "Baiklah, aku akan masuk kesana. Aku perlu bertemu mereka"
-14-
"Apa? Kau sudah memasang GPS diponsel gadis itu?" tanya Deidara keras-keras, tanpa melepaskan pandangan dari laptop dihadapannya.
"Bukan Kabuto namanya jika tak memiliki perhitungan yang matang." Ujar Kabuto bangga. Bangga pada dirinya sendiri tentunya.
"Well, baiklah." Yahiko bangkit dari kursi, "Apapun rencanamu...Aku tak mau berurusan dengan gadis itu. Yang lain saja"
"Oh, apa kau baru saja mengatakan 'aku-tak-berani-menculik-seorang-gadis'?" tanya Kabuto sarkastik, Deidara segera menyambutnya dengan tawa.
"Oh, ayolah. Kau tahu benar aku bukan pengecut. Aku hanya malas," ujar Yahiko sambil berdecak. Kabuto tahu benar Yahiko orang yang bisa diandalkan, ia hanya bercanda tadi.
"Terserah kau saja." Ujar Kabuto akhirnya, "Masih ada Hidan 'si-ahli-culik' disini. Benar, bukan?"
Pria yang tengah sibuk menghitung segepok uang –Hidan- menoleh pada Kabuto saat merasa namanya disebut, "Serahkan padaku"
"Ini pasti akan sangat mudah bagimu"
"Ya, hanya seorang gadis, bukan? Tak masalah, dimana aku harus menyeretnya kesini?" tanya Hidan sambil tak sekalipun melepaskan pandangan dari setumpuk uang yang sedang dihitungnya.
"Dimana ia sekarang, Deidara?"
Deidara segera menjawab sambil tetap mengamati layar laptopnya, "Di rumahnya. Dan oh, tunggu, ia bergerak. Sepertinya ia akan pergi. Kita tunggu saja hingga ia sampai ke tempat tujuan"
"Oke. Aku akan bersiap dulu."
"Oh ya, Hidan. Jangan lukai ia sedikitpun"
Hidan yang baru akan membuka pintu untuk keluar mengurungkan niatnya dan malah berbalik kearah Kabuto, "Jangan lukai? Apa aku tak salah dengar?"
Kabuto tersenyum, "Tentu tidak. Biar kuulangi ucapanku. Jangan-lukai-calon-istriku,"
-15-
Sakura menurunkan ponselnya dari telinga. Berikutnya sebuah desahan lolos dari mulutnya. Hari ini entah mimpi darimana ia bisa pulang dari kantor sesiang ini. Biasanya ia belum pulang jika belum pukul lima sore. Bahkan pulang malam pun tak jarang.
Ah baiklah, karena ini momen langka, jadi ia akan bersenang-senang hari ini. Apa? Bersenang-senang? Ya tentu saja, dua malam ini tidurnya tak nyenyak dan jelas ia butuh refreshing. Jadi kini ia akan mengunjungi sahabatnya. Ia akan meminta maaf secara langsung karena dua minggu lalu tak jadi membawakannya tabung oksigen. Tentu saja karena tabung itu digunakannya untuk menolong seseorang.
Menolong seseorang yang kini sudah 'menyelamat'kannya.
Oh baiklah, lupakan masalah itu sejenak. Siang ini ia benar-benar akan refreshing, dan nanti malam ia akan makan direstoran. Oh, bukan hanya makan tentunya, tapi juga menentukan masa depannya.
Sebelum otaknya berpikiran macam-macam lagi, Sakura meraih tas kecil yang tergeletak diatas meja rias, lalu mengambil jaket. Berikutnya tentu saja ia akan keluar kamar, menimbang-nimbang apakah ia akan membawa mobil atau tidak. Tapi setelah berpikir sejenak ia memutuskan untuk berjalan kaki saja, lagipula rumah sahabatnya itu cukup dekat, dan hari ini matahari Tokyo sedang bersembunyi dibalik awan.
Maka sambil bersiul ringan Sakura membuka pintu rumahnya dan melangkah keluar.
-16-
"Bagaimana?"
Sasuke menghentikan langkah saat mendengar suara seseorang bertanya dari arah belakang. Ia kemudian berbalik dan mendapati Aoi tengah berjalan menyusulnya, "Mereka menatapku penuh dendam. Dan berkata suatu saat komplotan mereka yang lain akan membebaskan mereka dari sini. Dan sudah dipastikan mereka bagian dari Sumiyoshi-kai."
Aoi tertawa, "Mereka pikir bisa keluar dari sini? Lalu bagaimana? Mereka mau menjawab pertanyaanmu?"
"Tentu saja tidak. Aku sudah tiga jam didalam sana, menginterogasi mereka." Sahut Sasuke frustasi. "Jalan kita untuk membongkar Sumiyoshi-kai hanyalah mereka...dan Kabuto tentu saja. Jadi aku akan cari cara untuk memancing bosnya –Kabuto- keluar. Lagipula nampaknya ia takkan diam saja mengetahui dua anak buahnya ada ditangan kita"
"Benar juga. Berarti ada kemungkinan ia akan mengirim orang untuk menyerangmu lagi"
"Besar sekali"
Aoi menatap Sasuke, "Perlu pasukan untuk menjaga apartemenmu?"
"Tidak usah. Siapkan saja satu pasukan untuk berjaga. Aku akan memasang kamera dipintu apartemenku, dan jika mereka datang mengepung apartemenku, pastikan pasukan langsung berangkat ke lokasi. Aku yakin orang yang dikirimnya pasti jauh lebih banyak dari kemarin"
Aoi menatap Sasuke ragu sebentar, kemudian ia mengangguk. "Berhati-hatilah"
"Selalu" Sasuke lalu menarik risleting jaketnya sampai kepuncak, "Baik. Aku pulang dulu. Ada yang harus kulakukan dirumah. Pastikan pasukannya sudah siap"
"Serahkan padaku"
Sasuke kemudian berbalik, lalu melangkah menuju basement. Ia akan pulang, dan ia tahu benar sepanjang perjalanan kini diintai bahaya. Kapanpun ia harus selalu siap untuk diserang. Seperti kemarin misalnya.
Dan ia kini tengah memikirkan bagaimana caranya agar gadis yang akan ditemuinya nanti malam tak ikut diintai bahaya.
-17-
"Sudah siap, Deidara?"
Deidara mengalihkan pandangannya sekejap dari layar komputer, "Siap!"
"Baiklah. Akan aku mulai sekarang" ujar Kabuto sambil menekan layar sentuh ponselnya beberapa kali. Berikutnya ia menempelkan ponsel itu ketelinganya.
Suasana diruangan remang-remang itu hening. Tak ada suara sedikitpun. Mereka semua tengah menanti sesuatu dengan berdebar-debar.
"Halo. Selamat siang"
Sapaan santai Kabuto pada seseorang ditelepon membuat punggung Deidara menegak. Matanya fokus ke layar monitor sementara jemarinya menari diatas keyboard dengan sangat cepat.
"Sasuke Uchiha, bagaimana kabarmu? Dan oh, bagaimana kabar calon istrimu?" ujar Kabuto, dengan sedikit penekanan pada kata-kata 'calon'.
"Aku baik-baik saja, Kabuto. Dan calon istriku juga baik-baik saja." Balas Sasuke dari seberang sana. Kabuto menarik ujung bibirnya keatas saat mendengar Sasuke juga menekankan kata-kata 'calon'.
"Wah, aku terkejut kau masih mengingat suaraku. Baiklah Sasuke, tidak usah basa basi lagi. Siapa kau sebenarnya?" Kabuto merubah nada suaranya menjadi lebih serius sekarang.
"Wah, kukira anak buahmu sudah mencari identitasku, ha? Atau... kalian tidak menemukannya?"
Kabuto menangkap ada nada mengejek disana. "Aku takkan menanggapi pertanyaan macam apapun sebelum kau jawab pertanyaanku"
Tepat setelah Kabuto mengucapkan kalimat itu, sebuah ponsel yang tergeletak dimeja dihadapannya bergetar. Ia meraihnya dan membaca sebuah pesan yang masuk, dari Hidan rupanya. Detik berikutnya sebuah senyum terukir dibibirnya.
"Haruskah? Apa kau sedang memaksaku?"
"Kuharap kau tahu kau tak punya pilihan lain selain menjawab," ujar Kabuto, sedikit emosi.
"Wah, mengapa?"
"Lebih baik kau datang ketempatku sekarang. Kita bereskan semuanya disini"
"Apa itu semacam perintah?"
"Kukatakan sekali lagi, lebih baik kau datang ketempatku sekarang dan jelaskan siapa kau sebenarnya" ujar Kabuto, lebih tegas.
"Wah, tunggu saja, aku akan kesana nanti. Dan pastikan semua teman-temanmu berkumpul disana menyambut kedatanganku"
Kabuto tertawa. Apa ia akan membiarkan Sasuke mengepungnya bersama kawan-kawannya? "Maksudmu membiarkanmu bersama kawananmu datang kesini, begitu? Tidak, pastikan kau datang sendiri"
"Wah, bagaimana jika tidak?"
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan seorang pria kekar –yang tadi membuka pintu- dan Hidan mengekor dibelakangnya, tengah membopong seorang wanita. Melihat ketiga orang itu datang, senyum Kabuto melebar.
"Kupastikan kau datang kesini sendirian"
"Siapa yang menjaminnya?" tanya Sasuke.
"Nyawa seseorang ada ditanganku. Dan jika kau datang kesini bersama komplotanmu kupastikan kau takkan pernah bertemun dengannya lagi"
"Dengan siapa?" tanya Sasuke lagi,
"Calon istrimu"
Kemudian Sasuke terdiam.
-18-
"Inooo sudaah, tak usah repot-repot begitu doong," rengek Sakura saat sesosok gadis bermbut pirang sibuk mengeluarkan brownie cokelat daro oven.
"Tak apa, tak apa. Anggap saja ini perayaan," ujar Ino riang, tangannya masih sibuk menata brownie itu dipiring datar yang lebar.
"Baiklah, tapi aku tak menyangka, Ino. Setelah sekian lama ternyata kau bisa lepas dari tabung oksigen," ujar Sakura gembira. Sahabatnya ini sejak enam tahun silam didiagnosa terkena kanker paru-paru, dan tiga tahun berikutnya paru-parunya sudah sama sekali tak mampu memenuhi kebutuhan respirasinya, dan sejak saat itu ia tak bisa lepas dari tabung oksigen, sampai barusan Sakura mendengar bahwa minggu lalu dokter pribadi Ino mengatakan kondisi paru-parunya membaik. Artinya ia tak perlu sepanjang waktu menggunakan oksigen, hanya saat-saat tertentu saja jika ia kelelahan.
"Aku juga tak menyangka, Sakura. Ini kejutan yang amat manis," sahut Ino. "Baiklah, sebentar lagi aku akan selesai dengan brownie ini. Kau tunggu di ruang tamu saja."
"Baiklah,"
Sakura kemudian melangkah menuju ruang tamu rumah Ino yang luas. Disana ia duduk bersandar disebuah sofa empuk. Ia selalu merasa nyaman disini. Ino tinggal sendirian dirumah sebesar ini. Bayangkan saja, tidakkah itu menyenangkan?
Beberpa menit kemudian Ino datang dari arah dapur sambil membawa brownie yang sedari tadi digelutinya, "Taraaa! Chocolate Brownies Special buatanku sudah jadi. Silakan dicoba, Sakura!"
Sakura tersenyum lebar, memuji keputusannya untuk pergi refreshing kesini. Ino selalu berhasil menularkan keceriaannya. "Wah, aku coba, ya"
Sakura melahap sepotong brownies, "Mmm...kau lebih baik membuka toko kue saja, Ino."
"Ah, apa brownienya enak?"
"Sangat"
Ino tersenyum, "Ternyata berhasil juga aku mencoba resep baru."
Sakura menikmati cokelat yang meleleh dimulutnya sambil memejamkan mata. Brownie ini benar-benar enak. Ino yang sedari tadi memerhatikan Sakura tertawa saat melihat Sakura mengunyah sambil memejamkan mata. Seenak itukah brownienya?
"Oh ya, Sakura"
Sakura membuka mata. Namun mulutnya masih sibuk mengunyah brownie coklat Ino. "Ya?"
"Bagaimana dengan Kabuto?"
Sakura berhenti mengunyah. Emeraldnya menatap aquamarine Ino lekat-lekat. Ia baru ingat belum menceritakan kejadian delapan belas Januari silam. Juga tentang 'sandiwara' nya dengan Sasuke. Apakah ia harus menceritakannya?
"Sakura?"
Ino bertanya lagi saat Sakura tak kunjung menjawab pertanyaan pertamanya dan malah menatapnya lekat.
Sakura berkedip satu kali kemudian menjawab, "Ah, dia...tidak. Maksudku rencana perjodohan konyol itu batal"
Mata Ino melebar, "Oh ya? Bagaimana bisa? Kau bilang akan menyerah saja asal ibumu senang? Ah, sepertinya ada sesuatu yang belum kuketahui, ya? Ayo ceritakan!"
Sakura menggigit bibir. Tahu benar sifat sahabatnya yang satu ini. Lalu bagaimana? Ia perlu mengarang cerita atau mengatakan yang sejujurnya? Tapi selama ini tak ada yang berhaslil ia sembunyikan dari sahabatnya, jadi...
Sebuah suara dering ponsel memotong jalan pikir Sakura.
"Ponselmu, kan?"
Sakura segera merogoh tasnya dan dengan cepat menemukan benda yang berdering itu. Telepon dari ibunya?
"Halo, Ibu?"
Ino memerhatikan Sakura lekat. Kedua alisnya terangkat begitu melihat ekspresi Sakura yang berubah terkejut saat mendengar perkataan lawan bicaranya. Berikutnya gadis itu berkata, "Ooh ya astaga! Aku lupa! Baik, baik. Aku akan segera kesana. Tunggu sebentar lagi, ibu"
Sakura menurunkan ponselnya dari telinga, "Ino. Aku lupa memberitahu ibu bahwa aku akan kerumahmu. Dan aku meninggalkan rumah saat ibu tak ada, sementara kunci ada ditanganku"
Sakura memperlihatkan serangkaian kunci ditangannya, lalu bangkit. "Aku akan pulang dulu untuk memberikan kunci. Aku akan segera kembali"
"Baiklah, hati-hati. Pastikan kau kembali kesini secepatnya" pesan Ino.
"Dan pastikan brownie itu masih utuh saat aku kembali" balas Sakura, membuat Ino terbahak, sebelum membuka pintu Sakura berbalik sekilas sambil berkata, "Aku titip tas disofamu, ya"
Terdengar sahutan singkat Ino dari belakang. Sakura kemudian segera berderap keluar rumah. Setengah berlari ia melewati halaman rumah Ino yang cukup luas sebelum akhirnya sampai di pagar depan.
Setelah melewati pagar ia berjalan dengan langkah cepat. Tak mau sampai ibunya menunggu terlalu lama. Lagipula bagaimana bisa ia lupa memberitahu ibunya? Ah, ada-ada saja.
Sebuah mobil hitam baru saja berbelok dari pertigaan jalan tak jauh dari tempat Sakura berdiri, menuju kearahnya. Sakura terus saja meneruskan langkah sampai sebuah tangan menahan siku kanannya dari belakang. Refleks ia menengok,namun sebelum ia sempat sepenuhnya berbalik sebuah sengatan listrik melukai kulit pinggangnya. Sengatan itu berakibat fatal karena setelahnya Sakura langsung jatuh terkulai dengan sebuah tangan sebagai bantalannya.
Dan sepasang kelopak mata Sakura lebih dulu tertutup sebelum matanya melihat wajah pemilik tangan itu.
