Sebuah Kejadian


"Kemudian kau bawa aku kedalam pelukanmu. Isakku terhenti terdedam dada bidangmu. Mengapa? Mengapa kau mau ulurkan tangan untuk menolongku?"

"Jadi kau sudah yakin padanya?"

Suara ayahnya menghentikan langkah Sakura menuju tangga. Gadis iu berbalik menghadap ayahnya yang masih duduk diruang tamu, "Maksud ayah?"

"Kau percaya padanya?"

"Tentu saja," Ah, Sakura sudah tahu kemana arah pembicaraan ayahnya.

"Yakin?" tanya ayahnya ragu. "Ayah belum pernah melihatnya pernah main kesini diantara teman-teman kerjamu, atau teman kuliahmu, atau teman SMA-mu"

"Karena aku bertemu dengannya bukan di tempat kerja, kampus, apalagi sekolah," jawab Sakura cepat. Tubuhnya benar-benar lelah. "Dan aku yakin padanya"

Sakura sendiri tak tahu bagaimana kelanjutan sandiwara mereka saat itu. Yang jelas, Sakura takkan benar-benar menikah dalam waktu dekat. Yang benar saja.

"Ayah tak bermaksud mendesakmu. Hanya saja selama ini kau belum pernah membawa laki-laki kerumah –teman sekelompokmu saat sekolah tidak masuk hitungan tentu saja-,makanya ayah kenalakan kau pada teman ayah,"

Emosi Sakura terusik. Maksudnya mengenalkannya pada seorang pria berbahaya? Astaga. "Dan aku sudah memiliki keputusan sendiri, ayah"

"Ya, ayah tahu." Lanjut ayahnya, "Jadi apa yang kau lakukan dirumahnya hingga malam begini?"

-1-

Mata Sasuke melebar. Apa katanya barusan? Kabuto menculik Sakura, begitu? Tidak, lebih tepatnya menjadikannya sandera.

Selama dua detik ia tak bersuara. Tangan kanannya yang tadi sedang mengetikkan sesuatu diatas keyboard laptop yang ia letakkan disamping kursi pengemudi melayang sejenak diudara. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Oh, nampaknya kau sangat terkejut,"

Sebuah suara dari telepon genggam yang sedang ia tempelkan ditelinga kirinya membuat Sasuke berkedip satu kali. Ia harus menyusun rencana baru. Bagaimanapun agar mereka tak melukai Sakura.

"Baiklah, aku setuju. Aku akan datang kesana sendirian," ujar Sasuke. Kemudian matanya beralih pada monitor laptop yang menampilkan gambar sebuah bulatan merah berkedip-kedip. Telunjuk Sasuke menekan enter diatas keyboard, lalu sebaris tulisan muncul disana.

"Baiklah. Tepati janjimu jika tak ingin ada yang terluka. Dan...kau pasti tahu apa akibatnya jika kau melanggar aturan"

"Tentu saja aku tahu," tandas Sasuke sebelum lawan bicaranya memutus sambungan telepon. Ia melemparkan telepon itu ke kursi disampingnya, tangan kanannya menyalakan mesin mobil, sementara tangan kirinya meraih sebuah telepon lain yang ia letakkan di dashboard. Hendak menghubungi seseorang.

Tadi ia bahkan belum sampai dirumah saat Kabuto meneleponnya. Setelah menyadari ternyata Kabuto yang menelepon, Sasuke segera menepi dan mematikan mobilnya, lalu membuka laptop untuk melacak posisi Kabuto sekarang. Rencananya semula ialah pergi ketempat Kabuto berada bersama tim yang sudah disiapkan Aoi setelah ia berhasil melacak posisinya. Namun setelah tahu Sakura menjadi Sandera tentu saja rencana berubah.

"Dimana tempatnya? Tim Aoi akan segera..."

"Rencana berubah" Sasuke segera memotong ucapan Juugo yang lebih dulu membuka pembicaraan ditelepon. "Aku akan kesana sendirian, berikutnya aku akan memberi sinyal padamu agar menyusulku ke lokasi,"

"Apa? Mengapa?"

"Mereka menahan Sakura. Pertama-tama aku harus kesana sendirian, lalu aku akan kirimkan informasi pada kalian melalui penyadap suara yang kutempelkan dibajuku, setelah aku memberi sinyal, segera datang ke lokasi" terang Sasuke panjang lebar, sementara tangan kanannya memutar setir dan pandangannya fokus kedepan.

"Baik, aku mengerti. Lokasinya?"

"Distrik Shinagawa, sekitar dua kilometer kearah utara dari pusat perbelanjaan Suzuki Shopping Avenue. Dari yang kulihat disini lokasi adalah semacam gedung tua tak terurus, cukup terpencil"

"Oke. Kami akan..."

"Oh ya, Juugo." Lagi-lagi Sasuke memotong ucapan lawan bicaranya, "Dengarkan semua yang terjadi disana melalui penyadap suara." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku mengandalkanmu"

-2-

"Tentu saja aku tahu,"

Ucapan terakhir lawan bicaranya membuat Kabuto tersenyum, berikutnya tanpa mengucapkan apapun lagi ia memutuskan sambungan.

Setelah menaruh ponselnya diatas meja Kabuto kemudian berdiri, berjalan menghampiri sesosok gadis yang tengah duduk disebuah kursi kayu. Gadis itu diikat menggunakan rantai panjang yang digembok sehingga tak dapat bergerak sama sekali. Mulutnya dilakban. Yang bisa Kabuto lihat hanyalah sepasang mata yang memancarkan ketakutan dan...kekesalan yang amat besar.

"Selamat sore, Sakura" saat sampai dihadapan Sakura, pria itu berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan milik Sakura. Saat Kabuto menghampirinya, sepasang alis Sakura saling bertaut, matanya memancarkan kebencian. Namun Kabuto hanya tersenyum.

"Kurasa kau amat terkejut dengan apa yang kulakukan sekarang. Tapi asal kau tahu, Sakura. Seandainya saat itu kau tak menolak lamaranku maka kau takkan begini sekarang" Kabuto berkata sambil melirik rantai yang mengikat tubuh Sakura.

Sakura hanya diam. Tentu saja. Namun jelas sekali napasnya terengah. Berbagai emosi bergelut dalam dirinya tanpa bisa ia redam. Melihat mata Sakura yang berkilat-kilat, lagi-lagi Kabuto hanya tersenyum, "Dan yang tengah kulakukan sekarang ialah mengorek informasi pria brengsek yang menghancurkan rencanaku. Dia bukan orang biasa, bukan? Karena jika iya, maka ia sudah tewas sekarang,"

Ekspresi terkejut jelas terlihat dari mata Sakura. Kabuto bisa saja membuka lakban yang membungkam mulut gadis itu dan menanyakan semuanya padanya, namun ia yakin gadis ini takkan mau membeberkan apapun. Maka ia akan menunggu Sasuke sendiri yang mengatakannya.

"Tenanglah, aku takkan melakukan apapun. Asalkan calon suamimu melakukan apa yang harus ia lakukan. Kurasa sebentar lagi ia akan menjemputmu"

-3-

Sakura terkejut saat Kabuto menyebut nama Sasuke. Apa hubungannya dengan Sasuke? Jangan-jangan...sebelum ini Kabuto mencoba membunuh Sasuke akibat 'sandiwara' mereka waktu itu? Pikiran itu segera membuat bulu kuduknya berdiri. Perkiraannya kala itu bahwa semua ini akan berakhir jika Sakura membawa pria lain dihadapan orangtuanya, dan ia menolak lamaran Kabuto secara halus ternyata salah besar. Ia tahu Kabuto orang jahat. Tapi ia sama sekali tidak menyangka Kabuto akan bertindak sejauh ini. Tidak menyangka pria itu akan membunuh Sasuke.

Mendadak Sakura merasa amat bersalah. Melibatkan orang lain dalam urusan pribadinya, dan malah nyaris membuat orang lain terbunuh gara-gara dirinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Sasuke memang 'orang biasa'. Astaga, tidak.

Suara berisik dari arah bawah memotong jalan pikir Sakura, juga membuatnya sadar kini ia tengah berada di lantai dua -atau lebih- suatu bangunan tua yang remang-remang. Hal yang terakhir ia ingat ialah dirinya yang tersengat listrik kemudian jatuh pingsan. Lalu sadarkan diri dalam keadaan terikat dan mulut terlakban. Sedari tadi rasa takut menjalarinya, bagaimana jika Kabuto melakukan sesuatu padanya?

Sakura memejamkan mata membayangkan bagaimana jika hal buruk terjadi padanya. Sebelum berkhayal lebih jauh, pintu diruangan itu terbuka, dua orang pria masuk dan menghampiri Kabuto, "Dia sudah datang,"

Kabuto bangkit dari posisi berlututnya, kemudian berjalan mendekati pintu, "Bagus, bawa kemari"

Setelah itu kedua pria tadi kembali keluar dan menutup pintu. Jantung Sakura berdetak tak karuan. Napasnya masih tersengal, keringat dingin mengucur dipelipisnya. Ia ketakutan.

"Nah, calon suamimu sudah datang. mari kita lihat, manakah yang lebih penting baginya, nyawamu atau identitsnya?" Kabuto mengatakannya dengan nada yang tajam. Sedari tadi Sakura risih saat Kabuto menyebut Sasuke dengan 'calon suamimu'. Astaga, bagaimanapun kejadian saat itu hanyalah sandiwara.

Tepat setelah Kabuto mengucapkan kalimat terakhirnya, pintu ruangan itu kembali terbuka. Dua orang pria yang tadi masuk kembali, namun kali ini mereka tak sendiri, karena dibelakangnya berdiri seorang pria yang Sakura kenal. Berdiri sambil mengangkat kedua tangannya diudara, dengan mulut pistol menempel disamping kepalanya.

Untuk kesekian kalinya, mata Sakura kembali melebar.

-4-

"Angkat tanganmu!"

Sebuah bentakan lagi-lagi menyapa telinga Sasuke. Tanpa banyak bicara ia segera mengangkat kedua tangannya keudara.

Beberapa saat lalu ia sampai di tempat Kabuto berada. Ia tak heran jika bangunan tua berlantai dua ini menjadi markas mereka. Lokasinya yang jauh dari jalan raya dan jarang dilalui orang sangat cocok sebagai tempat berkumpul organisasi kriminal macam ini. Segera setelah ia turun dari mobil, beberapa orang pria menyambutnya dan menggeledahnya, namun tentu saja Sasuke sudah memperkirakan hal ini terjdi, karena itu ia menyembunyikan semua senjatanya dimobil dan keluar dengan tangan kosong. Lagipula mereka takkan membunuhnya, setidaknya untuk saat ini, karena Kabuto membutuhkan informasi darinya. Yang perlu ia lakukan hanyalah mengulur waktu sampai Juugo dan yang lain sampai ke lokasi untuk meringkus mereka. San tentunya memastikan nyawa Sakura aman. Namun tentu saja semua tak semudah itu juga.

Satu orang pria berdiri disampingnya sambil mengacungkan pistol kearah pelipisnya, sementara dua orang lain berjalan didepannya., menunjukkan jalan. Ada satu orang lagi yang hanya mengekor dibelakang. Jika dijumlah, kan dengan pria yang menggedahnya dipintu masuk tadi, total ada enam orang disini. Jumlah yang masih aman.

Sasuke diarahkan menuju tangga. Langkahnya terus menaiki anak tangga sementara matanya berkeliaran memandang sekitar. Hingga akhirnya ia sampai dipuncak tangga dan hanya melihat hanya ada satu ruangan di lantai dua. Seorang pria yang sedari tadi menunjukkan jalan membuka pintu ruangan itu, ia mengekor, dan hal pertama yang ia lihat ialah Kabuto yang tengah menyeringai kearahnya, dan Sakura yang diikat disebuah kursi. Sesuai dugaannya.

"Selamat datang," ujar Kabuto sambil berjalan mendekat, "Sesuai dugaanku, kau akan cepat sampai,"

Sasuke melangkah masuk, masih dengan mulut pistol menempel dikepalanya, "Wah, tentu saja. Aku tak begitu kesulitan menemukan tempat ini. Kau tahu? Jika kau membuka Google Maps, maka bangunan ini dengan jelas terlihat. Dan well, itu memudahkanku" ujar Sasuke santai. Mengulur waktu.

"Sudahlah, tak usah banyak basa basi, mari kita selesaikan urusan kita," ucap Kabuto serius. Pintu yang tadi dilalui Sasuke kini ditutup rapat, beberapa orang pria tadi juga keluar . Menyisakan Kabuto, pria yang menodongkan pistol kearahnya, dan satu orang lagi yang kini tengah berjalan mendekati Sakura.

Sasuke melihat Sakura diujung matanya. Mata gadis itu membelalak. Menyiratkan ketakutan, kekesalan, dan kesedihan disaat yang sama. Sasuke tahu itu, dan yang kini bisa dilakukannya hanyalah menjawab pertanyaan Kabuto dengan baik tanpa membongkar identitasnya.

"Siapa kau sebenarnya?"

Sebuah pertanyaan meluncur lancar dari mulut Kabuto. Sasuke bergeming. Melalui ekor matanya ia melihat salah seorang komplotan Kabuto berdiri dibelakang Sakura. Dan ini merupakan sebuah pertanda buruk.

"Mengapa kau ingin tahu?"

Sasuke tahu jawabannya tak masuk akal. Namun setidaknya untuk mengulur waktu, hal seperti inilah yang dibutuhkannya. Kini tinggal melihat reaksi Kabuto seperti apa.

"Jawab pertanyaanku dulu!" kali ini bentakan yang Kabuto lontarkan. Namun Sasuke tetap bergeming.

"Wah, mengapa? Bukankah kita sama-sama ingin tahu?" Sasuke menjawabnya dengan nada datar, juga dengan wajah datar. Melihat wajah datar Sasuke, Kabuto menyeringai, "Baik jika kau tak mau menjawab, kita sudah sepakat bukan, sebelumnya?"

Tepat setelah Kabuto mengatakan itu, sebuah tamparan keras mendarat dipipi kanan Sakura. Tamparan itu begitu keras hingga kepala Sakura terkulai ke sisi kiri, sementara gadis itu memejamkan mata rapat-rapat. Pastinya merasakan sakit yang amat sangat.

Sasuke menelan ludah. Panik mulai menjalarinya. Jika ia yang disiksa itu tak masalah, namun, jika orang lain? Ini benar-benar masalah besar.

"Bagaimana? Apa kau tega melihat calon istrimu diperlakukan seperti itu? Atau kau mau memperpanjang penderitaannya dengan mengulur waktu?" ujar Kabuto, seringai itu masih terpampang di wajahnya.

Sasuke melirik Sakura yang kini tengah menatapnya. Tatapan itu, tatapan penuh harap, sekaligus tatapan keputusasaan.

-5-

"Wah, tak perlu kasar begitu. Mari bicarakan baik-baik," ujar Sasuke santai. Padahal tadi Kabuto sempat melihat sekelebet kepanikan dalam matanya. Namun wajah pria itu kembali datar. Kabuto tersenyum, pria in memang pandai sekali menyembunyikan emosi.

"Baik-baik katamu? Kini sudah tak ada yang perlu kita sembunyikan lagi, bukan? Kau sudah tau siapa aku sebenarnya, nah sekarang giliranmu,"

Sasuke terdiam sejenak sebelum berkat sambil tersenyum menyindir, "Aku tak pernah menanyakan identitasmu padamu, aku mencarinya sendiri. Dan kau? Menanyakannya padaku? Oh, apa anak buahmu tak berhasil mengorek identitasku?"

Kali ini sebuah tamparan keras mendarat dipipi kiri Sakura tanpa aba-aba dari Kabuto. Hidan nampaknya kesal dengan perkataan Sasuke barusan. Kabuto menengok kearah kanan, menyaksikan Sakura yang tengah menunduk memejamkan mata. Menahan sakit tentunya.

Kabuto menoleh kearah Sasuke. Wajah itu lagi-lagi datar,namun kali ini jelas sekali mata pria itu berkilat-kilat. Melihat itu Kabuto tersenyum lagi, kemudian pria yang sedang diatatapnya berkata dengan nada serius, tidak sesantai sebelum-sebelumnya. "Baiklah, jauhkan anak buahmu dari Sakura dan bersiaplah. Aku akan membongkar identitasku,"

-6-

Pipi Sakura masih berdenyut-deyut akibat tamparan pertama tadi, kini pipi kirinya malah ditampar dengan lebih keras. Mulutnya mengaduh, namun tetap tak bersuara. Matanya terpejam, rasa sakit menjalari kedua pipinya, berdenyut-denyut. Ia belum mau membuka matanya, walaupun ia sadar kini sebulir airmata siap jatuh dari sepasang matanya.

"Baiklah, jauhkan anak buahmu dari Sakura dan bersiaplah. Aku akan membongkar identitasku,"

Suara bass Sasuke membuat Sakura membuka mata. Ia bersyukur airmata tadi tidak jatuh saat ia membuka mata. Sepasang emerald Sakura kini menatap mata kelam Sasuke dalam-dalam. Mata kelam itu tengah menatap Kabuto serius. Namun sedalam apapun Sakura menatapnya, ia takkan pernah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.

"Wah baiklah, silakan mulai dengan pekerjaanmu. Sebenarnya kau ini apa?" tanya Kabuto. Lewat kedua matanya Sakura menyaksikan kedua pria yang tengah berhadapan itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu apa yang akan dilakukan pria itu, sedikit banyak Sakura tahu bahwa semacam agen rahasia tak boleh memberitahu identitasnya pada siapapun –kecuali keluarganya- apalagi pada musuh. Namun bagaimana jika Sasuke dihadapkan pada situasi seperti ini? Bahkan dalam keadaan seperti inipun wajah pria itu tetap datar. Sakura menelan ludah. Nyawanya kini benar-benar berada ditangan Sasuke.

"Sebelum itu...aku ingin bertanya..."

"Kau masih mau mengulur waktu, ha? Lekaslahh!" ucapan Sasuke diinterupsi oleh bentakan pria yang tadi menampar Sakura. Lewat ujung matanya, Sakura melihat pria itu mendekatinya lagi. Namun tidak dengan tangan kosong, karena sekarang sebuah benda logam yang dingin menempel dipelipis Sakura. Mendadak Sakura gemetaran. Rasa takutnya kini memuncak. "Atau kuledakkan kepala gadis ini"

Seluruh tubuh Sakura kini gemetaran. Deru jantungnya bahkan bisa ia dengar sendiri. Keringat dingin bercucuran dikeningnya, dengan segala kepanikan yang ada gadis itu menoleh kearah Sasuke, menatap mata kelamnya yang juga tengah menatapnya. Kini Sakura bisa melihat kepanikan yang sama dalam mata itu walau wajah Sasuke tetap datar. Siapa dirinya bagi Sasuke? Hanya gadis yang baru ia kenal beberapa hari lalu. Apakah Sakura berharga jika dibandingkan identitasnya? Entahlah, Sakura tak tahu jawabannya.

Kepanikan Sakura memuncak saat sebuah letusan senjata memekakkan telinganya. Membuatnya memejamkan mata rapat-rapat. Sakura bahkan belum membuka matanya lagi saat suara letusan kembali terdengar, berkali-kali, semuanya dari arah bawah.

Semuanya berlalu begitu cepat dan saat ia membuka mata terdengar suara bergedebuk kencang didekatnya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, hal yang pertama ia lihat ialah Sasuke yang tengah mengacungkan revolver kearahnya. Bukan, tapi kearah pria dibelakangnya.

Sakura belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi saat tiba-tiba suasana menjadi riuh. Suara tembakan bersahutan dari lantai bawah. Kabuto berteriak teriak kearah Sasuke sementara pria itu berteriak kearah pria dibelakang Sakura. Apa yang terjadi?

-7-

Suara tembakan bersahutan terdengar dari bawah. Sasuke tersenyum. Juugo datang tepat pada waktunya. Semua orang diruangan itu terkejut. Termasuk orang yang sedari tadi mengacungkan revolver ke kepalanya. Maka Sasuke memanfaatkan momen itu dengan memberikan sebuah tendangan dibagian tulang kering orang itu. Detik berikutnya orang itu oleng kedepan dan dengan sangat cepat Sasuke merebut revolvernya. Sebelum orang itu ambruk kelantai, lutut kanan Sasuke menendang ulu hati orang itu sehingga ia ambruk ke tanah dengan teriakan kesakitan.

Detik berikutnya Sasuke sudah mengacungkan pistol kearah anak buah Kabuto.

Semua masih belum pulih dari keterkejutan. Buktinya Kabuto malah berteriak menanyakan apa yang terjadi. Sementara anak buahnya malah melebarkan mata kearahnya, sama sekali tak melakukan apapun.

Sekali lagi Sasuke memanfaatkan momen keterkejutan itu dengan melepaskan sebuah tembakan kearah tangan anak buah Kabuto yang tengah menempelkan mulut pistol kearah pelipis Sakura. Dan tembakan itu tepat sasaran. Pergelangan tangan pria itu ditembus peluru sementara pistolnya terlempar kebawah.

"Brengsek! Kau pikir kau akan menang, ha?"

Umpatan Kabuto membuat Sasuke menoleh kearahnya, pria itu rupanya sudah mengacungkan pistol kearah Sasuke. "Keributan dibawah pasti sudah diatasi oleh anak buahku. Nah sekarang pasti salah satu temanku akan menyusul kesini untuk menghabisimu,"

Sasuke menyipitkan mata, "Benarkah?"

Detik berikutnya pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, sebelum Sasuke sempat menoleh melihat siapa yang datang, sebuah tembakan lolos diikuti dengan ambruknya Kabuto kelantai. Dua tembakan berikutnya menyusul, dan saat Sasuke menoleh, ia mendapati Juugo dengan 'pakaian tempur'nya tengah menembaki Kabuto yang sudah tumbang. Pria itu rupanya belum lumpuh, karena berikutnya terjadi baku tembak antara Kabuto dan Juugo.

Sasuke kemudian berlari kearah Sakura. Sejenak melepaskan sebuah tembakan kearah anak buah Kabuto yang tadi ia tembak tangannya untuk memastikan ia tak dapat bergerak. Kali ini yang ia harus lakukan ialah memotong rantai yang mengikat Sakura dan secepatnya membawa gadis itu keluar dari sini.

-8-

Kabuto menekan picunya lagi namun kali ini tak ada suara letusan. Pelurunya habis. Ia menekannya sekali lagi namun tetap tak ada letusan. Lagipula menembak orang dengan pakaian antipeluru seperti itu sebenarnya sia-sia.

Napas Kabuto tersengal, ia sudah benar-benar ambruk. Sekitar empat peluru kini bersarang ditubuhnya. Ia sudah benar-benar tak bisa berdiri.

"Diam ditempat!"

Bentakan itu membuat Kabuto melepaskan pistol dan membiarkannya jatuh kelantai. Kini ia sudah tak berkutik. Namun bukan berarti ia kalah, karena sebuah rencana pasti sedang dilancarkan anak buahnya. Tinggal menunggu waktu saja.

Beberapa pria berpakaian seba hitam masuk keruangan. Masing-masing mengacungkan laras panjang kearahnya. Kabuto sekuat tenaga menahan sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Berikutnya derap langkah Sasuke yang berjalan membopong Sakura menarik perhatiannya. Detik berikutnya sebuah senyum mengembang dibibirnya,

"Hei, Sasuke"

Panggilan Kabuto yang nyaring membuat Sasuke berhenti melangkah. Pria itu menoleh kaearahnya dengan wajah datar dan tatapan dingin. Sementara Kabuto tak bisa melihat wajah Sakura karena gadis itu bersandar membelakanginya dan menjadikan bahu Sasuke sebagai bantalan.

"Pegang janjiku padamu. Aku akan membunuhmu. Bagaimanapun caranya," ujar Kabuto tajam. Namun Sasuke hanya diam, kemudian melanjutkan langkahnya keluar ruangan.

-9-

Napas Sakura masih tak beraturan, begitupun dengan detak jantungnya. Suara tembakan beruntun tadi membuat telinganya berdenging. Kini ia malah tak bisa mendengar apapun. Ia sibuk dengan rasa paniknya sendiri.

"Tenang, Sakura. Kau sudah aman. Tenang, tenang..." suara Sasuke terdengar kecil sekali ditelinganya. Kini ia sudah berada di dalam mobil Sasuke, setelah tadi dibopong dan didudukkan di jok samping pengemudi. Namun tetap saja. Sakura merasa dirinya belum sepenuhnya pulih.

"Tenangkan dirimu Sakura, kau sudah aman..." pria itu kini menggenggam bahunya. Mencoba menenangkannya namun Sakura masih terlalu bingung untuk mencerna semuanya. Emeraldnya menatap mata Sasuke dengan tatapan bingung bercampur panik. Mata hitam itu kini balas menatapnya hangat.

Tangan Sasuke menggerakkan bahu Sakura hingga punggungnya yang tegang bersandar ke sandaran kursi. Setelah bersandar Sakura mulai mengatur napasnya.

Namun lagi-lagi suara rentetan tembakan memekikkan telinga Sakura. Kali ini Sakura memejamkan mata sambil menunduk. Membuat puncak kepalanya menyentuh dada Sasuke. Sebutir airmata yang sedaritadi ia tahan kini jatuh. Ia tak berani membuka mata, takut kalau tangisnya tiba-tiba tumpah.

Tiba-tiba Sakura merasakan sepasang tangan menariknya kedalam sebuah pelukan. Kali ini mata Sakura terbuka, sadar benar kini ia tengah berada dalam pelukan Sasuke. Rasa hangat kini menjalarinya. Demi tuhan, selama ini laki-laki yang pernah memeluknya hanyalah ayahnya. Dan kali ini?

Tangis Sakura akhirnya tumpah. Seluruh kepanikan dan ketakutan yang sedaritadi disimpannya ia tumpahkan semua dalam bentuk buliran airmata. Selama beberapa detik suasana hening. Hanya isakan lirih Sakura satu-satunya suara yang terdengar.

"Kita pulang. Kita pulang, Sakura," Sasuke berbisik pelan ditelinganya. Berikutnya Sakura dengan cepat melepaskan diri dari pelukan pria itu dan menggeleng kuat, "Tidak. Jangan kerumah, aku...aku tak mau...ibuku me-melihat aku...aku seperti ini. dia... akan khawatir. Kumohon, kumohon jangan..."

Sakura tahu persis ia mengucapkan serentetan kalimat itu dengan amat tidak jelas. Isakan-isakan kecil yang berkali-kali lolos dari mulutnya mengacaukan kalimat yang ia ucapkan. Namun nampaknya Sasuke mengerti, karena kemudian ia mengangguk menenangkan, "Baiklah, kita ke apartemenku"

-10-

Tangan kanan Sasuke memutar kunci pintu apartemennya, sementara tangan kirinya sedari tadi menggenggam bahu Sakura erat. Takut gadis itu tiba-tiba terjatuh. Bagaimanapun gadis itu pasti terguncang hebat. Ia tentunya sudah biasa menghadapi situasi seperti tadi namun gadis ini sama sekali tidak. Karena itu selama perjalanan dari markas mereka tadi hingga sampai apartemen, yang keluar dari mulutnya hanya isakan-isakan kecil yang tak bisa lagi ia tahan. Sasuke mengerti, bagaimana trauma yang dirasakan gadis itu.

"Ayo masuk,"

Sasuke mendorong punggung Sakura pelan, mengajaknya masuk ke dalam apartemennya yang gelap gulita. Gadis itu menurut, dan setelah menyalakan lampu Sasuke membawa Sakura ke ruang tamu dan mendudukkannya di sofa, "Beristirahatlah disini, aku akan ambilkan minum,"

Saat Sasuke menatap emerald gadis itu, kilat ketakutan masih jelas terlihat disana. Gadis itu benar-benar terguncang. Jejak-jejak airmata gadis itu biarkan membekas disekitar mata dan pipinya tanpa ada niat untuk menghapusnya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

Setelah Sakura mengangguk lemah barulah Sasuke bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air mineral. Proses itu tak berlangsung lama, karena Sasuke tak tega membiarkan Sakura terlalu lama sendirian.

"Minum dulu, pelan-pelan." Sakura menatap mata Sasuke sejenak sebelum tatapannya beralih pada gelas yang disodorkan Sasuke. Detik berikutnya tangan Sakura yang masih gemetaran mengambil alih gelas itu dan meneguk air didalamnya perlahan. Setelah itu Sakura bersandar disandaran sofa yang empuk, memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam.

"Tenanglah, kau sudah aman, Sakura. Tenangkan dirimu. Kau terlihat panik sekali," Sasuke mencondongkan badannya pada Sakura. Gadis itu masih bersandar sambil menatap Sasuke kosong. Sasuke sempat bingung apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini. ia sudah beberapa kali berhadapan dengan penjahat yang membawa sandera, dan beberapa kali juga berhasil menyelamatkan sandera yang panik setengah mati. Namun tentu saja selama ini ia hanya menyelamatkan dan membawanya ketempat yang aman, bukan membawanya ke apartemennya. Dan memeluknya.

Saat potongan adegan ia memeluk Sakura beberapa saat lalu muncul dibenaknya entah mengapa Sasuke merasa aneh. Demi tuhan ia tak pernah memeluk wanita seperti tadi. Tadi itu tiba-tiba saja, dan...

"Kau tau betapa paniknya aku tadi?"

Lamunan Sasuke terinterupsi suara lirih Sakura yang tengah memandangnya sendu.

"Aku tahu, aku tahu. Kau disini dulu, jika tak mau ibumu khawatir tenangkan dirimu disini dulu, nanti akan kuantarkan kau pulang," Sasuke kehabisan akal apa yang harus dikatakan pada seseorang yang sedang panik.

"Ibuku pasti khawatir, tadi aku diculik saat akan pulang kerumah untuk mengantarkan kunci rumah untuknya, dan temanku juga...pasti mengkhawatirkanku..." Sasuke tak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan gadis itu, karena suaranya begitu lirih seolah-olah sedang berbicara pada dirinya sendiri. Yang bisa Sasuke pahami hanyalah ibu Sakura yang tengah mengkhawatirkan anaknya. Tentu saja.

"Biar aku telepon ibumu, akan kukatakan kau baik-baik saja"

Sejenak Sakura memandang Sasuke ragu, "Apa yang akan kau katakan pada ibuku untuk meyakinkannya aku baik-baik saja?"

"Serahkan padaku, aku sudah sering menyamar dan berakting untuk beberapa kasus," padahal Sasuke masih belum tahu akan mengatakan apa pada ibu Sakura, namun hanya inilah yang dapat ia katakan untuk menenangkan gadis itu.

"Baiklah," ujung bibir Sakura terangkat membentuk sebuah senyum tipis. Tangannya kemudian merogoh saku jaketnya dan menyodorkan ponsel, "Ini ponselku, aku tak tahu mereka mengotak-atiknya atau tidak, dicoba saja,"

Sasuke menerima ponsel itu, kemudian menekan salah satu tombol disana, "Masih berfungsi, nampaknya mereka tak menyentuhnya,"

Sasuke bangkit dari sofa sambil menekan beberapa tombol di ponsel Sakura, "Baiklah, kau istirahat saja disini, sisanya serahkan padaku. Kau mempercayaiku, bukan?"

Sakura mendongak menatap Sasuke langsung kematanya, beberapa saat. Kemudian dengan raut wajah yang sulit diartikan ia menjawab, "Aku percaya padamu,"

Kemudian Sasuke melangkah menuju kamarnya.

-11-

Dibalik kacamata hitamnya, Juugo dengan jelas dapat melihat tubuh Kabuto yang sedaritadi ambruk itu sudah dipenuhi luka tembakan. Pria itu kini sudah kehabisan peluru. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi.

Tak ada lagi yang perlu dirisaukan karena Sasuke tadi sudah membawa sandera pergi dari sini. Sekarang hanya tinggal membereskan Kabuto beserta anak buahnya.

"Kuberitahu saja padamu, aku takkan kalah," ujar Kabuto sambil menyeringai. Juugo berjalan mendekat. Bahkan dengan luka seperti itu saja ia masih berani berbicara seperti itu? Astaga.

"Asal kau tahu saja, anak buahmu dibawah sudah kami ringkus," ujar Juugo, terus berjalan mendekati Kabuto sambil tetap mengacungkan laras panjangnya. "Semuanya" tegasnya lagi.

"Hahahaaa! Kau pikir anggota kami hanya sesedikit ini? Tunggu saja, sebentar lagi, mungkin"ujar Kabtuto lagi, kini suaraya mulai serak dan melemah, pasti ia tengah merasakan sakit luar biasa diseluruh tubuhnya.

"Jadi, menyerahlah," kini Juugo sudah berdiri tepat dihadapan Kabuto yang jatuh tengkurap dilantai. Kemudian Juugo menurunkan senjatanya, lalu menyampirkannya dibahu.

"Begitukah? Kau tahu? Didinding bangunan ini sudah ditanam empat bom. Bukan bom besar namun jika dinyalakan bersamaan dapat membuat bangunan ini runtuh dengan sekejap," Kabuto masih terus berbicara walau Juugo yakin rasa sakit tengah menggerogoti tubuhnya. Juugo berjongkok untuk memperpendek jaraknya dengan Kabuto.

"Kurasa aku pernah mendengarnya," balas Juugo asal. Tepat saat itu derap langkah beberapa orang terdengar memasuki ruangan itu dengan terburu, Juugo berbalik sekilas dan mendapati empat orang berseragam sepertinya tengah mengacungkan senapan kearah Kabuto. Melihat semua itu Juugo mengangkat sebelah tangannya kearah mereka, "Tunggu dulu,"

Kali ini tangan Kabuto berusaha merogoh saku celananya, "Nah, kalau begitu kau sudah mengerti rupanya, jadi segera tinggalkan tempat ini. Sebelum aku..." Kabuto mengatakannya sambil mengeluarkan sebuah benda semacam remote control kecil dan mengacungkannya tepat didepan wajah Juugo, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Meledakkan tempat ini sekarang,"

Juugo terkejut. Tentu saja. Ia sudah tahu kelompok ini akan membakar markas yang sudah tercium pihak keamanan, namun ia sama sekali tak tahu mereka akan menghancurkannya dengan bom, berpengendali jarak jauh.

"Jadi bagaimana? Kau mau mati ditempat ini bersamaku atau kau akan pergi dari sini dengan senang hati?" Ujar Kabuto tajam, sementara Juugo masih sibuk memikirkan apa langkah yang harus ia ambil. Detik berikutnya suara decitan rem mobil terdengar dari bawah. Tak hanya satu, nampaknya beberapa. Berikutnya suara orang-orang membuka pintu mobil terdengar. Dan berikutnya suara rentetan tembakan yang terdengar.

Pada saat itulah Juugo bangkit, berbalik dengan cepat menghadap rekan-rekannya, kemudian berteriak dengan tegas, "Plan B!"

-12-

Sakura membuka matanya perlahan. Yang pertama kali ia lihat ialah langit-langit kamar. Ia mengerjap beberapa kali lagi. Ini memang langit-langit kamar, namun bukan kamarnya, lalu dimana ia berada?

Detik berikutnya Sakura bangun dengan cepat dari posisi berbaringnya dan duduk diatas tempat tidur. Menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sambil menyapukan pandangan kesekitar kamar. Mendadak kepalanya berdenyut akibat gerakan tiba-tiba tadi. Ia merasa tak mengenali kamar ini. Dimana ia?

Kemudian matanya melebar saat mengingat kejadian sore tadi. Saat ia diculik dan...Sasuke membawanya keapartemennya. Jadi? Ia ada diapartemen Sasuke?

Menyadari fakta itu ia bergegas menyibakkan selimut sepenuhnya, kedua kakinya turun menapaki lantai yang dingin. Benaknya mulai mengingat kejadian tadi. Jadi tadi ia ketiduran di sofa? Lalu Sasuke membawanya kekamar? Kekamarnya? Astaga, Sakura merasa amat malu.

Dengan kepala yang masih berdenyut Sakura berjalan perlahan menuju pintu. Kamar itu berukuran sedang, ada sebuah lemari besar dan semacam meja berkaca yang biasa disebut sebagai meja rias –walaupun tak ada satupun peralatan berhias sedikitpun disana-. Kamar ini juga dilengkapi sebuah toliet dan ranjang yang tadi ia tempati jelas cukup luas untuk dua orang. Astaga, mengapa ia malah mengomentari kamar ini? Seharusnya secepatnya keluar dari sini dan mencari Sasuke, bukan?

Apa yang terakhir mereka lakukan dan mengapa ia bisa sampai ketiduran?

Sakura berhenti melangkah saat mengingat tadi Sasuke baru akan menelepon ibunya untuk memberi kabar tentangnya. Lalu bagaimana sekarang?

Maka dengan gerakan cepat ia berjalan lalu membuka pintu dan seketika aroma sup ayam menyambut hidungnya. Ia menyesapi aroma sup itu sejenak sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Menyesuaikan matanya dengan pencahayaan ruang tamu yang lebih terang daripada lampu kamar.

"Kau sudah bangun?" suara bass itu membuat Sakura menoleh kearah bukaan yang menghubungkan ruangan ini dengan dapur. Sakura kemudian berjalan mendekat sambil menjawab, "Ya...dan apa yang terjadi tadi?"

"Kau ketiduran di sofa, dan kurasa tidur di sofa yang tidak terlalu empuk takkan membuatmu nyaman. Jadi aku membawamu kekamarku dan menyalakan pemanas. Sekarang bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" ujar Sasuke datar sambil mendekat kearahnya. Pipi Sakura memanas. Apa yang akan dilakukan ayahnya jika tahu ia baru saja tidur dikamar laki-laki?

"Jauh lebih baik, err...terima kasih,". Jika kejadiannya bukan seperti ini maka Sakura takkan mengucapkan terima kasih pada pria yang sudah membawanya tidur dikamar pria itu. Dan kejadian ini jelas berbeda. Sakura merasa salah tingkah. Kemudian akalnya kembali berfungsi, karena ia segera ingat apa yang akan dikatakannya tadi, "Oh iya, bagaimana dengan ibuku?"

"Sudah beres. Kau tak perlu khawatir," ujar Sasuke santai, kemudian sambil menatap Sakura ia melanjutkan, "Dan kau tak perlu khawatir juga, aku tak melakukan apapun padamu selama kau tidur"

Pipi Sakura memanas. Pasti sekarang wajahnya sudah merah. Ia mengutuk dirinya sendiri yang berpikiran macam-macam sambil berjalan menuju sofa dan duduk disana, sementara Sasuke setelah mengatakan itu berlalu kearah dapur. Sakura kemudian melirik jam tangannya yang tergores, mungkin akibat rantai yang mengikatnya tadi, pukul 19.00. ini sudah malam rupanya. Berapa lama tadi ia tidur?

"Aku memang tak pandai masak, tapi bukan berarti masakanku tak layak dimakan. Jadi makanlah ini, kau pasti lapar," Sasuke datang dari dapur sambil membawa semangkuk sup ayam yang yang masih mengepulkan asap, sakura menelan salivanya. Ia memang lapar, tapi ini sudah malam.

"Ah, apa sebaiknya aku pulang saja? Ini sudah malam, lagipula...aku sudah banyak merepotkanmu," ujar Sakura. Lagi-lagi Sasuke hanya menatapnya dengan datar, "Tidak, kau akan kuantarkan pulang setelah kau makan ini. Katanya kau tak mau membuat ibumu khawatir?" ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Lagipula ini belum ada apa-apanya dibanding pertolonganmu waktu itu"

Pertolongan? Oh, ya. Pertolongan yang itu. Saat Sasuke sekarat dan...oh sudahlah, "Baiklah, terima kasih"

Hening sesudah itu, Sakura mengambil mangkuk sup yang ditaruh diatas meja dan menyendok isinya perlahan. Saat rasa hangat kuah sup itu melewati kerongkongannya, Sakura memejamkan mata sejenak. Akhirnya rasa laparnya terobati juga. Entah karena Sakura yang kelaparan atau supnya memang enak, entahlah, yang jelas sup itu sudah habis dalam hitungan menit.

"Ambil lagi saja di dapur, aku membuatnya cukup banyak," ujar Sasuke saat melihat Sakura tengah menyantap suapan terakhirnya. Namun gadis itu segera menggeleng, "Tidak, terima kasih. Aku mau pulang saja,"

"Baiklah, aku ambil kunci dulu," Sasuke baru saja akan berbalik menuju kamar saat tiba-tiba langkahnya berhenti, "Kau tidak membawa tas...maksudku, saat mereka menculikmu, tak ada barang yang diambil?"

Sakura menggeleng, "Tidak, tasku ada di rumah temanku". Setelah itu Sasuke berlalu menuju kamarnya, dan kembali dengan jaket kulit melekat ditubuhnya, "Nah, ayo kita pulang. Kau siap untuk bersandiwara lagi?"

"Siap, tentu saja. Akan kuikuti skenario apapun yang kau buat," ujar Sakura sambil tersenyum. Ini adalah senyum pertamanya sejak sore tadi. Dan jika ia tak salah ingat...Sasuke tak sedikitpun membahas tentang kejadian sore tadi semenjak ia bangun tadi. Mengapa? Untuk meredakan traumanya? Oh, entahlah. Yang jelas saat ini Sakura sudah jauh lebih baik dibanding tadi. Meskipun bayang-bayang ketakutan masih ada dibenaknya.

Setelah itu Sasuke melangkah kepintu, Sakura mengekor dibelakangnya. Namun langkah Sasuke bahkan belum mencapai pintu saat bel interkom apartemennya berbunyi. Sasuke sekilas melihat kearah layar interkom, Sakura tak dapat melihat wajah yang muncul dilayar karena terhalang punggung Sasuke, namun setelah itu Sasuke menekan sebuah tombol disana sambil mengumpat, "Oh, astaga"

Tak lama pintu terbuka, menampilkan seorang pria berseragam tentara lengkap, matanya sekelam milik Sasuke, dan jika Sakura tak salah menilai...wajah pria ini mirip Sasuke.

"Mengapa kau tak mengangkat... oh?" pria itu langsung menanyai Sasuke saat pintu terbuka, namun ucapannya terhenti saat matanya bersibobrok dengan emerald Sakura. Merasa ditatap dengan tatapan terkejut, Sakura kemudian menunduk sopan, "Selamat malam"

Pria tadi masih memandangnya bingung, ia menatap Sasuke seklias, kemudian ikut menunduk sambil tersenyum, "Selamat malam, oh, apakah aku mengganggu?"

-13-

"Tidak, tidak sama sekali. Aku baru saja akan pulang dan...aku bisa pulang sendiri jika anda ada perlu dengan Sasuke," ujar Sakura sopan sambil melirik Sasuke sekilas. Sasuke sendiri tengah memandang pria dihadapannya dengan alis berkerut, "Ada apa malam-malam begini?"

Tatapan pria itu beralih ke Sasuke, "Sebenarnya ada kabar yang harus kusampaikan, dan sebenarnya juga aku sudah meneleponmu puluhan kali sejak tadi sore, namun karena tak satupun teleponku yang kau angkat, jadi aku langsung kesini sepulang kerja. Tapi lebih baik kau antarkan temanmu pulang dulu saja, Sasuke. Aku akan kesini lagi besok...setelah aku meminjam toilet apartemenmu,"

Penjelasan Itachi yang panjang lebar itu membuat Sasuke menghela napas panjang. Jelas sekali Itachi bingung atas kehadiran Sakura disini. Seumur hidup Sasuke belum pernah mengajak teman wanitanya keapartemennya, apalagi malam-malam begini. Yah, dan karena kakaknya itu sudah memergoki Sakura malam ini, ia yakin pikiran macam-macam sudah bertebaran dibenak Itachi. Lagipula mengapa ia harus datang disaat seperti ini?

Sasuke belum menjawab, dan Sakura mendahuluinya, "Tidak usah, aku takut mengganggu kalian jadi..."

"Aku akan pergi mengantarkannya. Sejak tadi ponselku kumatikan. Besok sore aku akan ada disini dan setelah selesai menggunakan toiletku, matikan semua lampu dan..."

"...kunci cadangan kau simpan di tempat biasa. Well, aku sudah hapal." Itachi memotong ucapannya, kemudian ia menatap Sakura ramah, "Dan...nona, senang bertemu dengamu,"

"Ah, iya, aku juga. Aku Sakura Haruno. Salam kenal," Sasuke menatap Sakura yang tengah membungkukkan badannya, Itachi juga melakukan hal yang sama, "Salam kenal. Itachi Uchiha"

Mata Sakura melebar sejenak, seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Sakura, Sasuke segera menambahkan, "Kakakku"

Sakura menatapnya sejenak, kemudian tersenyum, "Oh sudah kuduga, kalian berdua sangat mirip"

Itachi hanya tersenyum sekilas, kemudian menatap Sasuke dengan pandangan bertanya. Sasuke paham benar kakaknya itu menagih penjelasan padanya, namun sekarang ini nampaknya ia bisa menghindar, "Well, kami harus pergi sekarang. Sampai besok,"

Ucapan Sasuke membuat Itachi mundur satu langkah, mempersilakan adiknya dan Sakura melangkah keluar. Saat melewati Itachi, Sakura menunduk sopan sambil mengucap salam yang segera dibalas oleh Itachi. Namun saat Sasuke melewati kakaknya, siku Sasuke segera ditahan oleh tangan kanan Itachi, berikutnya kakaknya itu membisikkan sesuatu ditelinga Sasuke, "Ingatlah bahwa kau berutang penjelasan padaku. Dan aku akan menagihnya nanti"

Oh, sepertinya Sasuke tak bisa menghindar lagi.

-14-

Suara-suara derap langkah dan tembakan senjata terdengar amat gaduh. Saat itu Juugo dan empat rekannya sudah berbalik menuju pintu, mendekati tangga untuk melihat apa yang terjadi dibawah. Nampaknya kawanan Kabuto datang dalam jumlah banyak. Dilantai satu rekan-rekan Juugo memang sudah meringkus anak buah Kabuto yang ada di bangunan ini tadi. Namun nampaknya sekarang jumlah mereka kalah dengan jumlah lawan. Mereka harus turun kebawah dan melawan.

Saat menginjak anak tangga terakhir, Juugo segera dikepung oleh beberapa pria yang menodongnya dengan senjata. Beberapa malah sudah menembakinya sembarangan.

Beberapa rekan Juugo sudah tumbang. Juugo menggertakkan gigi gelisah sementara senapan yang ada dalam genggamannya tak henti-hentinya memuntahkan peluru. Mereka banyak dan kuat. Sementara tim yang datang bersama Juugo tadi jumlahnya tak banyak. Sekarang Juugo hanya tinggal menunggu waktu. Tadi ia sudah menyatakan Plan B segera dijalankan. Itu artinya pasukan khusus akan datang sebentar lagi.

"Berhenti! Kalian semua berhenti!"

Suara nyaring Kabuto membuat semua kepala yang ada disana mendongak bersamaan. Kabuto berdiri dipuncak tangga. Berdiri tergopoh-gopoh dengan badan berlumuran darah. Sebelah tangannya berpegangan pada dinding, menahan tubuhnya agat tidak tumbang, "Kalian tak perlu marah begitu. Toh nyawa orang-orang pengganggu ini ada ditanganku"

Ia mengatakannya sambil mengacungkan remote control tadi. Berikutnya keadaan menjadi riuh, beberapa anak buahnya memaksa naik tangga untuk menolong Kabuto turun tangga, keluar dari tempat itu dan kabur. Tim Juugo membuat pagar disekitar tangga, namun tetap saja, karena kalah jumlah maka mereka berhasil menerobos pagar dan menaiki tangga. Namun sebelum seorangpun dari mereka berhasil mencapai puncak tangga, salah seorang rekan Juugo melepaskan peluru yang berakhir di tangan kanan Kabuto. Pria itu berteriak kesakitan sementara remote control yang sedaritadi digenggamnya meluncur ke lantai. Keadaan kembali riuh. Kedua pihak yang bermusuhan berlari memperebutkan remote itu, dan lagi-lagi karena kalah jumlah, pihak lawan yang kembali mendapatkannya.

Kembali terjadi kerusuhan disana, kini Kabuto sudah berhasil dibopong kebawah dan kawanannya yang lain menuruni tangga dengan anarkis. Berikutnya terjadi aksi kejar-kejaran, dan kawanan Kabutolah yang berhasil mencapai pintu lebih dulu.

"Apa kalian pikir kami akan membiarkan kalian pergi begitu saja?" ujar salah satu diantara mereka sambil mengacungkan remote control dimulut pintu, "Hancurlah kalian bersama tempat ini,"

Berikutnya pintu ditutup dan dikunci dari luar. Tim Juugo segera menyerbu pintu untuk mendobraknya, bersamaan dengan itu suara yang amat bising terdengar dari atap. Suara itu semakin mendekat.

"Kalian, mundur! Kita keatap! Heli kita sudah datang!"

-15-

"Jadi tadi itu kakakmu?"

Sasuke mengangguk, "Begitulah,"

Sakura melirik Sasuke yang tengah serius menatap jalanan malam dihadapan mereka. Ada pertanyaan yang masih mengganjalnya. Namun, apakah boleh jika ia menanyakannya?

"Sasuke, apa aku boleh bertanya?"

"Tentu saja." Ujar pria itu tanpa menoleh kearahnya. Sakura meneguk salivanya sebelum memberanikan diri bertanya, "Kau itu sebenarnya siapa?"

Hening sesaat. Sakura sempat ragu Sasuke tak mengerti maksud pertanyaannya, "Maksudku, tadi kelihatannya Kabuto sangat ingin tahu tentang identitasmu. Aku sudah terlanjur mendengarnya, ta-tapi, jika aku tak boleh tahu, tidak ap-"

"Agen inteljen negara," potong pria itu cepat. Sakura terdiam. Sebenarnya dugaan Sakura sudah mengarah kesana. Namun siapa yang tahu jika tak ditanyakan langsung?

"Oh, aku sempat menduganya. Tapi... tidak apa-apa jika kau memberitahunya padaku?"

Kali ini Sasuke menoleh kearahnya, "Tidak apa-apa. Selama itu orang yang kupercayai,"

Jadi Sasuke memercayainya?

"Dengar, Sakura. Kini tinggal urusan kami –aku dan rekan-rekanku- dengan mereka, kau sama sekali tak boleh terlibat karena ini berbahaya. Mereka berbahaya. Maka setelah ini kupastikan mereka takkan menyentuhmu lagi,"

Wajah Sakura berubah khawatir, "Bagaimana kau memastikannya? Tadi saja tiba-tiba ada yang mem..."

"Aku sudah mencabut GPS yang mereka tanam diponselmu. Sekarang kau sudah aman," lagi-lagi Sasuke memotong ucapan Sakura. Kini gadis itu tengah menatapnya heran, "Jadi selama ini mereka menyimpan radar diponselku? Bagaimana bisa?"

"Mereka sudah ahli, mungkin saja saat kau tengah berbicara dengan Kabuto... semuanya mungkin saja." Sakura terdiam. Astaga. Ini sama sekali tak pernah terpikir olehnya.

"Maafkan aku,"

Sasuke mengernyit, "Maaf apa?"

"Jika hari itu aku tak meminta tolong padamu maka mereka takkan mengincar identitasmu, dan nyawamu. Astaga, maafkan aku karena telah melibatkanmu," Sakura menatap mata kelam itu dalam-dalam. Walau mata itu kini tengah terpaku menatap jalanan. Namun tak lama mata itu beralih menatapnya, "Mereka berbahaya, Sakura."

"Aku tahu, dan kau tak akan..."

"Bisa kau bayangkan jika organisasi seperti itu bebas berkeliaran di dunia luar?"

Sakura menggigit bibir.

"Kau bisa bayangkan berapa nyawa yang telah mereka habisi? Berapa kerugian yang ditimbulkan?" Sakura masih menggigit bibirnya menatap wajah yang...tidak, Sasuke tidak sedang marah, namun wajah datar itu kini menyimpan emosi. "Dan bisa kau bayangkan bagaimana jika kau sampai jatuh ke tangan mereka?"

Sakura tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika ia sampai menikah dengan Kabuto. Tidak. Tidak mungkin.

"Jika ini menyangkut tindak kejahatan, maka ini urusanku juga, Sakura. Kewajiban kami ialah memberantas kejahatan," Sasuke menoleh sejenak saat mengucapkannya, sementara Sakura masih tak bersuara. Apa pula yang harus ia katakan?

"...dan pegang janjiku, bahwa aku akan melindungimu," kali ini Sasuke mengatakannya sambil menengok sepenuhnya pada gadis itu, menatap kedalam matanya, hingga emerald Sakura melebar kaget. Melindungi?

"Mengapa? Mengapa kau melindungiku?"

"Karena kau telah menyelamatkan nyawaku." Tepat saat Sasuke mengatakannya, mobil pun berhenti. Maka Sakura menoleh kedepan dan yang ia dapati ialah pagar rumahnya yang tertutup rapat.

-16-

Sasuke menginjak rem saat mobil mereka sampai didepan rumah Sakura. Kemudian ia menoleh pada gadis disampingnya, "Kita sampai. Sudah siap menemui orangtuamu?"

Sakura mengerjap satu kali. Sasuke bingung apakah gadis itu masih trauma atau kebingungan menyimak kalimatnya, yang jelas sampai saat ini gadis itu tetap diam sambil memandanginya.

"Aku akan masuk kedalam sebentar," ujar Sasuke sambil membuka seatbelt-nya.

Sakura mengerjap lagi, kemudian seolah baru sadar dari lamunannya ia berkata, "Tolong jangan katakan apapun pada orangtuaku tentang hal ini."

Sasuke mengangguk, "Tentu,"

"Aku tak ingin membuat mereka khawatir"

"Aku tahu,"

"Dan terimakasih telah menyelamatkanku,"

"Terima kasih juga karena telah menyelamatkanku,"

Sakura terdiam. Kemudian berkata dengan kikuk, "Err... itu... sudah kewajibanku sebagai dokter untuk menolong orang lain,"

"Dan kewajibanku juga untuk melindungi orang lain,"

Lagi-lagi Sakura terdiam. Sasuke tak tahu apa yang tengah dipikirkan gadis itu karena ia hanya diam menatapnya. Sasuke rasa ini semua belum cukup untuk membayar hutangnya pada gadis itu.

Detik berikutnya gadis itu tertawa, "Baiklah, ayo kita masuk."

Mereka membuka pintu mobil bersamaan. Dan saat Sakura membuka pagar besi rumahnya, terdengar derap langkah dari dalam rumah, kemudian ibunya membuka pintu dengan tak sabar lalu berlari menghambur kearahnya, "Sakuraaaaa!"

-17-

Kini mereka telah ada didalam helikopter. Helikopter yang mereka tumpangi bahkan sudah mengudara setinggi sepuluh meter. Juugo memandang kebawah, kearah gedung tua yang baru saja mereka tinggalkan. Tentu saja mereka harus terburu, karena gedung itu sebentar lagi akan meledak.

Helikopter mereka mengudara semakin tinggi, kini Juugo bisa melihat puluhan kawanan Kabuto yang tengah memasuki mobil. Kabuto sendiri sudah tak terlihat diluar, mungkin sudah masuk terlebih dahulu. Beberapa diantara mereka menengadah keatas, menatap kearah helikopter yang kini semakin menjauh dari tanah.

Dari kejauhan Juugo melihat salah seorang diantara mereka mengacungkan remote control keudara, seolah sedang menunjukkannya padanya. Dan beberapa detik kemudian sebuah suara ledakan terdengar memekakkan telinga.

-18-

Setelah mengucapkan salam pada kedua orangtua Sakura, Sasuke melangkah keluar menuju pagar, Sakura mengekor dibelakang sementara ibunya hanya berdiri sampai pintu rumahnya. Begitu sampai di mulut pagar, Sakura memanggil pria itu sebelum benar-benar memasuki mobil, "Sasuke"

Pria itu menoleh, "Ya?"

"Hati-hati," ucap Sakura singkat. Pria itu terdiam sejenak sebelum mengangguk, "Ya. Aku pulang dulu,"

Setelah mobil Sasuke berjalan menelusuri jalanan aspal yang terbentang didepan rumah Sakura, gadis itu menutup pagar lalu masuk kedalam rumahnya. Sesudah ini ia akan mandi. Kemudian tidur, tentu saja. Dan ia tak tahu dengan keadaan seperti ini besok ia bisa bekerja atau tidak.

"Jadi kau sudah yakin padanya?"

Suara ayahnya menghentikan langkah Sakura menuju tangga. Gadis iu berbalik menghadap ayahnya yang masih duduk diruang tamu, "Maksud ayah?"

"Kau percaya padanya?"

"Tentu saja," Sakura sudah tahu kemana arah pembicaraan ayahnya.

"Yakin?" tanya ayahnya ragu. "Ayah belum pernah melihatnya pernah main kesini diantara teman-teman kerjamu, atau teman kuliahmu, atau teman SMA-mu"

"Karena aku bertemu dengannya bukan di tempat kerja, kampus, apalagi sekolah," jawab Sakura cepat. Tubuhnya benar-benar lelah. "Dan aku yakin padanya"

Sakura sendiri tak tahu bagaimana kelanjutan sandiwara mereka saat itu. Yang jelas, Sakura takkan benar-benar menikah dalam waktu dekat. Yang benar saja.

"Ayah tak bermaksud mendesakmu. Hanya saja selama ini kau belum pernah membawa laki-laki kerumah –teman sekelompokmu saat sekolah tidak masuk hitungan tentu saja-,makanya ayah kenalakan kau pada teman ayah,"

Emosi Sakura terusik. Maksudnya mengenalkannya pada seorang pria berbahaya? Astaga. "Dan aku sudah memiliki keputusan sendiri, ayah"

"Ya, ayah tahu." Lanjut ayahnya, "Jadi apa yang kau lakukan dirumahnya hingga malam begini?"

Benar-benar. Disaat seperti ini ayahnya malah menanyainya hal yang tidak-tidak. Jika yang bertanya bukan ayahnya mungkin Sakura akan membentaknya, "Ayah, aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang baik mana yang tidak. Mana salah mana benar. Jangan samakan lagi dengan aku yang masih berseragam SMA"

Kali ini ayahnya bangkit, sedikit merasa bersalah karena terkesan menyudutkan puterinya, "Bukan begitu maksud ayah. Ayah tahu kau sudah dewasa. Tapi ini..."

"Tidak. Ayah selalu menganggapku anak kecil," Sakura sekuat tenaga menahan emosinya, agar tak keluar dalam bentuk bentakan maupun tangisan, "Kumohon, ayah. Kali ini biarkan aku menentukan jalanku sendiri. Aku. Sudah. Dewasa."

Ayahnya terdiam. Puterinya benar. Ia sudah berusia dua puluh enam tahun dan ayahnya masih menganggapnya seperti anak baru lulus SMA. Jelas sekali ayahnya melihat mata puterinya berkaca-kaca. Kali ini ia takkan memaksanya lagi. Takkan memilihkan pilihan lagi untuknya karena puterinya sudah dewasa. Akhirnya saat seperti ini datang juga.

"Baiklah. Tidurlah, kau pasti lelah," ujar ayahnya sambil tersenyum. "Ayah juga akan tidur,"

Sakura terdiam sejenak sebelum berbalik menuju tangga, kemudian memasuki kamarnya dan menutupnya rapat-rapat. Benar-benar hari yang luar biasa.