Sebuah Keyakinan


"Bukankah kau berkata akan melindungiku? Dan yang harus kulakukan hanyalah memercayai perkataanmu karena tak ada lagi yang bisa kupercayai selain dirimu"

Kizashi tidak menjawab, ia malah memerhatikan putrinya lekat-lekat. Putri kecilnya yang sudah dewasa. Bagai peri yang sayapnya sudah bertumbuh. Namun ia belum benar-benat siap untuk terbang mengangkasa.

"...Tapi kurasa Sakura belum siap untuk menikah dalam waktu dekat..."

Perkataan Sasuke di kedai tadi kembali terngiang dibenaknya. mungkin Sasuke benar, Sakura sama sekali belum siap. Kini ia mengutuk dirinya sendiri tentang rencana bodohnya menjodohkan Sakura dengan anak rekan kerjanya. Ia hanya ingin Sakura bahagia. Hanya ingin Sakura menerima pilihan terbaik yang ia pilihkan untuknya. Namun soal ini sepertinya salah besar. Anaknya juga memiliki hati. Anaknya juga pasti memiliki pilihannya sendiri.

"Maafkan ayah, ya" perkataan Kizashi yang tiba-tiba membuat Sakura mengerutkan kening. "Maksud ayah?"

"Jika kau belum siap untuk menikah... maka jangan terburu-buru. Maafkan ayah karena sudah memaksamu kemarin-kemarin" sekali lagi ia mengutuk dirinya yang termakan omongan istrinya tentang usia putrinya yang kian bertambah. Juga tentang sepupu-sepupunya yang sudah berkeluarga. Namun kini ia tahu ia tak boleh menyamakan Sakura dengan yang lain. Mungkin Sakura memang berbeda.

Sakura hanya termenung menatap ayahnya. "Tidak apa-apa, ayah"

-1-

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan sorot lampu tidur yang redup. Tak lama matanya sudah terbuka sepenuhnya. Suara bel interkom yang tadi memaksanya kembali dari alam mimpi hingga kini masih terdengar. Maka sambil menggerutu pelan, ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar. Dalam waktu beberapa detik saja ia sudah membuka pintu apartemennya dan menatap wajah orang yang sudah membangunkannya pagi ini dengan ekspresi malas.

"Ada apa pagi-pagi begini?"

Pertanyaan Sasuke yang dilontarkan dengan nada malas membuat kakaknya tertawa, "Sudah kubilang, bukan? Kemarin ada yang harus kusampaikan padamu. Dan tadi malam aku sudah memberitahumu bahwa aku akan kesini lagi hari ini."

Sasuke menyipitkan mata, berikutnya tanpa berkata apapun berbalik masuk kedalam apartemen dan membiarkan kakaknya mengekor. Setelah pintu depan tertutup, Sasuke kembali membuka mulut, "Tapi kurasa kau tak perlu datang sepagi ini juga,"

Itachi duduk disebuah sofa dan mendongak menatap adiknya, "Tak apa, aku tak ingin mengganggumu malam-malam...yahh...seperti semalam. Dan...ehemm, kurasa kau masih berhutang penjelasan padaku,"

Sasuke mendengus, kemudian mengempaskan dirinya disebuah sofa lain, "Astaga, apa yang harus kujelaskan?"

Itachi tertawa, tertawa selama beberapa detik sebelum menjawab, "Oh ayolah, kita sama-sama tahu seumur hidupmu kau tak pernah membawa teman wanita manapun masuk kedalam rumah, dan...kau pasti mengerti maksudku."

"Jadi?" tanya Sasuke sambil mengangkat alis.

"Jadi siapa dia?"

Sasuke mendengus, "Dia temanku,"

"Kau pikir aku akan percaya jawaban macam itu?"

"Astaga, dia memang temanku,"

"Sudah berapa lama?"

Sasuke mengernyit, "Apanya?"

"Kau berhubungan dengannya,"

"Astaga, tak ada hubungan apapun."

Kali ini Itachi berdiri dan berjalan bolak-balik didepan adiknya, "Kurasa kau sudah tahu, bahwa tak ada satu hal pun yang bisa kau sembunyikan dariku,"

Sasuke menelan ludah. Apa yang dikatakan Itachi memang benar. Namun...apa ini berarti ia harus menceritakan semuanya pada kakaknya?

"Ayolah, waktuku tak banyak,"

Sasuke menatap mata kakaknya sekilas sebelum menjawab, "Dia yang menolongku waktu itu"

Itachi menghentikan langkah dan menatap adiknya sambil mengernyit, "Dia itu orang yang menyelamatkanmu? Dia dokter itu?"

Sasuke hanya mengangguk, tak tahu jika kakaknya tampak terkejut dengan pernyataannya barusan, "Jadi...? Oh astaga,"

"Aku tak tahu jika kadang-kadang kau bisa sangat berlebihan." Komentar Sasuke datar. Kakaknya kemudian bertanya lagi, "Apa yang ia lakukan disini semalam?"

"Astaga, apa itu urusanmu?"

"Tidak juga, tapi ini jelas-jelas menarik,"

"Apanya?"

"Jadi kau tertarik padanya, begitu?"

Sasuke mengangkat alis tinggi-tinggi, "Apa maksudmu? Dia hanya..."

"Hanya...?"

Sasuke terdiam sesaat. Mengutuk dirinya yang terlalu banyak bicara. "Hanya...sedang mempunyai masalah dan aku mencoba membantunya,"

"Begitu?"

"Ya, begitu."

Itachi kembali duduk di sofa, "Well, baiklah jika kau tidak mau mengaku, kita lihat saja nanti. Jadi, tadi aku akan..."

"Tunggu, mengaku apa?" potong Sasuke cepat. Kakaknya hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Bukan apa-apa. Nah, sekarang karena aku harus bekerja sebentar lagi, aku akan memberitahumu sekarang,"

Sasuke menanggapi dengan malas, "Apa?"

"Bulan maret nanti ayah mendapat dispensasi dari kantornya, berupa tiket pesawat dan voucher hotel gratis selama tiga hari ke Venezia, tiketnya tersedia untuk tujuh orang, jadi, apa kau berminat untuk ikut?"

-2-

Untuk pertama kalinya sejak lima belas menit lalu, Sakura membuka sepasang matanya perlahan. Mengerjap-ngerjap perlahan lalu segera menguap lebar-lebar. Manik emeralnya melirik jam kecil yang terletak disamping bantalnya. Tepat sekali, malam ini ia hanya tidur selama lima belas menit.

Lalu apa yang ia lakukan semalaman? Hanya berguling-guling gelisah sambil terus mengingat kejadian kemarin sore. Jelas sekali ia masih trauma. Ya, trauma. Atas penculikannya sore kemarin.

Sakura bangkit dari posisi berbaringnya, mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sambil memandang sekitar, kebingungan. Apa yang akan ia lakukan hari ini? Setelah terjaga semalaman tadi, ditambah trauma yang masih menggerayanginya, rasanya tak mungkin jika sekarang ia harus pergi bekerja. Lalu, jika ia tak bekerja, alasan apa yang harus ia lontarkan pada orangtuanya? Namun jika ia pergi bekerja, apakah ada jaminan Kabuto dan gerombolannya takkan...menculiknya lagi?

Segera gagasan itu menyelinap dibenaknya, Sakura menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak. Tak akan lagi. Mereka takkan menculiknya lagi, bukan? Bukankah rekan-rekan Sasuke sudah mengurusnya? Namun... siapa yang menjamin?

Sebuah ketukan di pintu menghentikan aktivitas berpikirnya, ia menoleh sejenak kearah pintu, namun ia belum sempat menjawab ketukan itu saat pintu kamarnya terbuka perlahan, menampilkan sosok ibunya yang memandangnya dengan ekspresi khawatir.

"Kau masih tak enak badan?"

Alis Sakura bertaut, 'masih?'. Sejak kapan ia bilang pada ibunya ia tak enak badan?

"Bukannya kemarin kau pingsan karena sakit? Semalam setelah temanmu pulang ibu belum menanyakan keadaanmu lagi karena kau sudah tidur," ibunya melangkah mendekatinya perlahan, sementara Sakura masih berusaha mencerna apa yang baru saja ibunya katakan. Siapa yang berkata ia pingsan? Kemarin kan... oh astaga!

"Sakura?"

"Oh iya, Bu. Nampaknya aku masih tak enak badan. Hari ini aku tak akan bekerja dulu," sambar Sakura cepat, setelah sebelumnya mengingat telepon Sasuke dan ibunya semalam. Mungkin saja karangan cerita pria itu berisi 'Sakura-pingsan-karena-sakit-lalu-aku-membawanya-kerumah' dan semacamnya. Namun bagaimanapun syukurlah, karena sejauh ini ibunya percaya.

"Begitu? Baiklah, kau pasti bisa mengobati dirimu sendiri, Sakura. Jam 8 nanti ibu akan perg, kau tak apa kan disini sendirian?" tanya ibunya setelah sejenak mengamati wajah Sakura yang nampak pucat.

"Tidak apa, aku baik-baik saja" balas Sakura dengan sebuah senyum tipis yang ia harap bisa menenangkan ibunya.

-3-

Juugo menghela napas panjang seraya merebahkan dirinya diatas kursi berlengan yang empuk. Dihadapannya terbentang meja persegi panjang besar yang dikelilingi empat orang yang juga sedang duduk. Semuanya nampak sibuk dengan secangkir kopi dan sandwich mereka.

"Jadi kita akan membuat Tim Khusus?"

Ucapan Juugo ternyata berhasil menarik perhatian mereka dari sarapan masing-masing. Semua mata kini menatap Juugo.

"Kurasa begitu, kudengar organisasi ini cukup berbahaya, benar begitu, Juugo? Kau yang menangani kasus ini sebelumnya, kan?" tanya salah seorang diantara mereka. Juugo menimpali, "Ya, aku dan Tim Aoi menyergap mereka di markasnya kemarin. Dan mereka...bukan musuh sembarangan. Makanya kemarin Aoi membentuk tim ini untuk menangani mereka secara serius. Kau disini memegang bagian analisis kan, Iruka?"

"Yah begitulah, dalam berkas misi yang diberikan Aoi semalam, aku diposisikan di bagian analis dan multimedia. Artinya aku takkan terjun ke lapangan." Ujar Iruka sementara Juugo hanya mengangguk-angguk.

"Tunggu, kudengan tim terdiri dari enam orang, siapa satu lagi?" seorang pria berambut hitam legam bertanya sambil menunjuk sebuah kursi kosong dengan dagunya. Juugo melirik kursi itu lalu menjawab, "Agen Uchiha"

"Sasuke Uchiha?"

"Ya, dia"

"Dia yang waktu itu terluka cukup parah?" tanya pria tadi, dengan sedikit penekanan. "Ya, lukanya sudah sembuh, dan dia memang harus terlibat dalam misi ini..."

Suara pintu terbuka menyita perhatian semua mata diruangan itu. Sasuke yang baru saja tiba hanya menatap mereka datar, tangannya baru akan menggeser pintu untuk menutupnya saat Juugo bangkit dan menahan gerakannya, "Tunggu, Sasuke. Kita bicara sebentar,"

Sasuke menghentikan gerakannya sementara Juugo memberi sinyal untuk pergi keluar ruangan. Sasuke menurutinya, mereka berjalan sedikit menuju pintu yang mengarah ke sebuah ruangan terbuka didekat lift. "Ada apa?"

"Aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi kemarin,"

Sasuke mengangkat alisnya, "Yang bagian mana?"

"Semuanya. Gadis itu. Pembicaraanmu dengan Kabuto. Semuanya." Ujar Juugo dengan nada mendesak. "Sekarang jelaskan semuanya. Kau sudah bertemu Kabuto sebelumnya, ya? Ada apa?"

"Ikuti saja prosedur yang Aoi buat. Kita akan membentuk Tim Khusus kan?" jawab Sasuke singkat. Ia tak ingin menceritakan tentang ini pada siapapun. Namun, Juugo sendiri sudah mendengar sekuruh pembicaraannya dengan Kabuto, bukan?"

"Tidak, tidak. Pasti ada sesuatu diantara kalian. Gadis itu, siapa dia? Kemarin kau membawanya pulang, kan? Oh ayolah, anggota tim lain tak perlu tahu, aku bersumpah kau hanya harus ceritakan padaku saja, Sasuke,"

-4-

Sasuke menatap Juugo ragu. Sudah terlambat jika ia ingin menutupi semuanya. Setidaknya pada Juugo.

"Saat mereka menyerangmu di apartemen, aku tak bertanya padamu soal ini. Kukira mereka hanya dendam padamu yang berusaha mengungkap identitas mereka melalui temanmu itu. Tapi, dari pembicaraan kalian kemarin...nampaknya lebih dari itu, ya?"

Juugo semakin mendesak Sasuke dengan pertanyaan-pertanyannya. Sementara yang ditanyai sedang memutar otak, sambil menimbang-nimbang akan menceritakannya atau tidak. Ia tahu benar ini masalah pribadi, tapi...

"Hei, Sasuke! Ayolah, kau memercayaiku, kan?"

Sasuke menatap kedalam mata Juugo selama beberapa saat sebelum berkata, "Asal kau bersumpah disini hanya kau yang tahu"

"Aku bersumpah!" ujar Juugo sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya keudara. Sasuke menghela napas panjang, lalu matanya menyapu ruangan untuk memastikan hanya sepasang telinga yang akan mendengarkan ceritanya.

-5-

Sakura mengeringkan rambutnya yang masih basah. Entah kenapa kepalanya bertambah pusing sekarang, apa karena ia kurang tidur? Entahlah, yang jelas ia tak bisa tidur lagi sekarang. Bagaimana jika nanti malam ia tak bisa tidur lagi?

Sakura sendiri sebenarnya heran mengapa kemarin ia bisa tidur nyenyak diapartemen Sasuke. Namun saat semalam ia berbaring di kamarnya sendiri, matanya tak mau terpejam, padahal tubuhnya sangat lelah. Ia hanya berharap malam ini ia bisa tidur nyenyak.

Suara mesin mobil yang terdengar dari bawah mendorong Sakura untuk melongokkan kepala ke jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Sebuah sedan hitam berhenti didepan pagar rumahnya. Itu kan hanya mobil, lalu mengapa sekarang lutut Sakura gemetaran?

Apakah ia trauma?

Tak lama sedan itu berbalik arah dan melaju menjauhi rumahnya. Rupanya tadi mobil itu hanya memutar balik. Namun kini Sakura masih berdiri didepan jendelanya, menatap kearah pagarnya dengan sorot ketakutan. Bagaimana jika mereka masih mengejarnya?

Gagasan itu secara tiba-tiba muncul kembali dibenaknya. Dan tentu saja efek dari gagasan itu berakibat buruk bagi tubuhnya. Karena kini hatinya gelisah dan ketakutan. Ia sendirian disini, dan...

Tak mau bergelut lebih lanjut dengan pikiran-pikiran buruk yang mulai hinggap dibenaknya, gadis itu beranjak dari tepi jendela dan melangkah kearah pintu. Berniat untuk memasak sesuatu untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi pagi belum diisi apa-apa.

Namun suara dering ponsel menghentikan langkahnya. Dengan menahan napas Sakura berjalan kearah mejanya, entah mengapa ia jadi ketakutan begini. Ia baru mengembuskan napas lega setelah melihat sederet nama yang tertera di layar ponselnya. Setelah itu dengan segera ia menempelkan ponselnya ke telinga, "Halo?"

"Sakura? Kau baik-baik saja, kan?"

Sakura menarik kursi kemudian duduk diatasnya, "Aku baik-baik saja"

"Syukurlah. Kau bekerja hari ini?"

"Err...tidak. Kurasa aku agak tidak enak badan. Semalam aku tidak bisa tidur...jadi kurasa aku perlu istrirahat hari ini." Tunggu, apa Sasuke perlu tahu semalam ia tak bisa tidur?

"Kau memang sebaiknya istirahat hari ini. Tak ada sesuatu yang terjadi lagi, kan?" pertanyaan Sasuke membuat Sakura menelan ludah. Jadi, ia memang belum aman, ya? "Tidak, tidak ada apa-apa"

"Baiklah. Dengar, aku akan terus mengejar mereka, jika terjadi apa-apa maka..."

Sakura tak mendengar kelanjutan kalimat Sasuke karena perhatiannya kini tertuju pada mobil BWM hitam yang berhenti didepan pagar rumahnya. Rasa ketakutan yang tak jelas mulai menjalarinya lagi. Bagaimana kalau...

"...Sakura?"

"O-oh, ya? Maaf, apa tadi katamu?" mata Sakura masih mengawasi BMW yang berhenti didepan rumahnya. Mobil itu masih bergeming disana.

"Ada apa?"

"Ti-tidak. Hanya ada mobil yang berhenti didepan rumahku, dan oh...tidak apa-apa, itu hanya mobil tetanggaku," ujar Sakura sambil mengembuskan napas lega saat sesosok wanita keluar dari BMW itu sambil menelepon. Wanita paruh baya itu Kushina, ibu teman lamanya yang tinggal beberapa rumah dari sini.

"Kau ketakutan?"

Saat suara dingin itu menanyakannya, Sakura hanya menggigit bibir, tak berani menjawab. Pandangannya menatap kearah BWM yang kini mulai bergerak meninggalkan pagar rumahnya. Mungkin tadi Bibi Kushina tak dapat sinyal didalam mobil, jadi ia menepi untuk menelepon.

"Kau disana bersama siapa?"

Kali ini Sakura menjawab, "Tak ada siapa-siapa. Hanya aku,"

"Orangtuamu kemana?"

"Ayahku bekerja dan ibuku mengunjungi kerabat..." jawab Sakura. Sekelumit rasa takut masih menggerayanginya. Astaga, sejak kapan ia menjadi seorang penakut?

Kemudian Sakura hanya terdiam saat Sasuke berkata, "Baiklah, tunggu disana. Aku akan kesana sebentar lagi"

-6-

"Oh, astaga," ujar Juugo sambil menatap Sasuke yang kini duduk disebuah meja. "Masalah yang rumit,"

"Yah begitulah," balas Sasuke sambil mengembuskan napas keras-keras. Kini Juugo sudah tahu semuanya. Semuanya. Dan hanya Juugo yang benar-benar boleh tahu.

"Kau...berani sekali," komentar Juugo. Sasuke hanya mengangkat alis , "Jika kau ada di posisiku saat itu, keputusan macam apa yang akan kau ambil?"

Kali ini Juugo terdiam. "Aku akan berpikir dulu sebelum mengambil keputusan"

"Berpikir, katamu? Dalam situasi mendesak seperti itu waktu sebanyak apa yang kau butuhkan untuk berpikir?" komentar Sasuke. Lawan bicaranya hanya diam.

"Hahah... berat, namun apapun keputusanmu...kau harus lindungi dia."

"Aku tahu."

"Dan...kau benar-benar akan menikah?" sebenarnya sedari tadi Juugo ingin menanyakan pertanyaan ini, namun menurutnya inilah waktu yang tepat. Juugo melirik lawan bicaranya yang hanya balik menatapnya. Sasuke tidak menjawab, atau mungkin perlu berpikir sebelum menjawab.

"Mungkin," setelah beberapa detik akhirnya sebuah jawaban meragukan meluncur dari mulutnya. Juugo mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Mendengar Sasuke-akan-menikah terdengar sangat aneh. Namun akan terdengar lebih aneh jika frasanya ia ubah menjadi sasuke-menyukai-seorang-gadis. Dan oh, ia lupa bahwa ini bukan tentang perasaan.

Namun bagaimanapun ia akan menunggu tanggal mainnya.

"Rapat pertama kita dimuiai jam berapa?" Sasuke bangkit dari duduk sambil melirik arliojinya. "Aku tak menyangka Aoi tiba-tiba membentuk Tim Khusus untuk menangani kasus ini semalam. Mungkin karena ia melihat betapa ganasnya musuh kita kemarin,"

"Well, mungkin. Sebaiknya kita kembali," Juugo berbalik untuk kembali keruangan rapat tadi. Setelah berjalan beberapa langkah, ia melirik Sasuke yang masih bergeming ditempatnya semula. "Lekaslah, mereka menunggu kita,"

"Kau duluan saja, aku akan menelepon sebentar,"

Juugo hanya menganggguk, tanpa berkata apapun dan langsung berbalik menuju ruangan mereka. Ia sudah tahu siapa yang akan Sasuke telepon.

-7-

"Memangnya tak apa-apa jika kau kesini? Kau sedang bekerja, bukan?" tanya Sakura ragu. Sasuke mengangkat wajah dari secangkir teh yang sedang ia minum. Setelah meneguknya, ia menjawab, "Ini bagian dari pekerjaanku,"

"Oh,, baiklah. Terima kasih sudah datang," timpal Sakura. Sasuke sudah tiba dirumah Sakura sejak sepuluh menit lalu, setelah sebelumnya izin selama satu jam kepada Juugo untuk pergi keluar. Lagipula rapat pertama misi hanya membahas garis besar musuh, yang hanya Juugo dan ia yang tahu karena sebelumnya sudah lebih dulu menangani kasus ini. juugo yang akan menerangkannya pada anggota lain, sementara Sasuke sendiri akan bergabung dengan mereka satu jam lagi. Setelah memastikan Sakura baik-baik saja.

"Kau tak perlu takut. Bukankah aku sudah berjanji akan melindungimu?" tanya Sasuke datar sementara Sakura nampaknya melebarkan mata. Butuh waktu beberapa detik bagi Sakura untuk menjawab, "A-aku tahu. Terima kasih,"

"Apa yang bisa kulakukan untuk meredam rasa takutmu?" tanya Sasuke lagi. Sakura menjawab, "Apa...apa mereka masih mengincarku?"

Pertanyaan itu pasti mewakili rasa takutnya, pikir Sasuke. Jawabannya tentu saja iya, namun jawaban macam ini hanya akan menambah rasa takutnya, maka ia ia pun menjawab, "Kita tidak tahu pastinya, kita hanya berjaga-jaga saja. Boleh kupinjam ponselmu?"

"Untuk apa?" kening Sakura mengernyit.

"Aku akan memasang radar disana, jadi jika sesuatu terjadi padamu...kami akan melacak lokasimu," berikutnya Sakura mengulurkan ponselnya yang segera diterima Sasuke. Pria itu membuka casing penutup ponsel, mencabut baterai, lalu tampak menancapkan sejenis microchip dibagian dalam ponsel. Sakura sendiri hanya memerhatikan tanpa berbicara apa-apa.

"Selesai. Mulai sekarang bawa ponsel ini kemanapun kau pergi. Jika sesuatu terjadi lagi...kau akan kami masukkan Program Perlindungan Saksi"

-8-

Sakura memerhatikan Sasuke yang sedang menanam sesuatu di ponselnya. Sebenarnya apa arti dari melindungi? Datang saat bahaya sudah menimpanya atau mencegah bahaya itu terjadi? Sasuke-dan rekan-rekannya- bilang akan melindunginya, namun bagaimanapun ia tetap saja takut.

"Selesai. Mulai sekarang bawa ponsel ini kemanapun kau pergi. Jika sesuatu terjadi lagi...kau akan kami masukkan Program Perlindungan Saksi1" ujar Sasuke sambil menyodorkan ponsel kearahnya. Sakura menerimanya, lalu menatap Sasuke ragu, "Program Perlindungan Saksi?"

"Ya, tak usah dipikirkan untuk sekarang. Yang penting berhati-hatilah, Sakura"

Usai Sasuke mengucapkannya, Sakura hanya menelan ludah. Jadi perkiraannya benar, ya? Sebuah bahaya besar tengah mengintainya, begitu?

"Tapi...mereka tak mengincar orangtuaku, kan?" takut-takut Sakura bertanya. Tak apa ia diincar, asal orangtuanya aman saja.

"Tidak. Jangan khawatir berlebihan. Mulai sekarang, beraktifitaslah seperti biasa. Dan jika Kabuto mengontakmu lagi...laporkan padaku." Tandas Sasuke. Barusan pria itu mengatakannya dengan nada yakin. Dan itu bisa mengikis kekhawatiran Sakura sedikit. "Baiklah"

Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yang menggantung dibenaknya. Diluar masalah ini, masih ada masalah lain. Sandiwaranya, sandiwara mereka kepada keluarga Sakura harus dipertanggungjawabkan. Namun bagaimana menanyakannya?

"Ada lagi yang perlu dikhawatirkan?"

Sakura menggigit bibir, "Semalam ayahku menanyakan tentangmu."

"Cepat atau lambat itu akan terjadi. Dan aku tak tahu apa yang harus kukatakan lagi... Sakura, bagaimana menurutmu?" kini Sasuke menyatukan kedua tangannya dibawah dagu, mencondongkan badannya kearah Sakura.

"A-aku tidak tahu harus mengatakan apa. Keputusanmu saat itu... apa kau serius?" Sakura bertanya dengan nada bingung.

Kali ini Sasuke terdiam. Sementara Sakura menggigit bibir gelisah, menunggu jawaban apa yang akan meluncur nanti. satu detik, dua detik, Sasuke masih diam. Tiga detik, suara dering ponsel memecah keheningan disana. Sakura melepaskan gigitan dibibirnya, sementara Sasuke merogoh sakunya lalu mengangkat ponselnya keudara,

"Halo?"

-9-

"Jadi misi kita meringkus tuntas seluruh anggota Sumiyoshi-kai, salahsatu organisasi kecil dibawah naungan Yakuza. Anggotanya dibawah seratus orang. Catatan kriminal mereka bisa kalian baca dalam berkas yang Aoi berikan pada kalian semalam," ujar Juugo sambil menggerakkan pointer kearah layar raksasa dihadapannya. Sementara empat orang lain tampak sedang menekuni berkas yang dimaksud sambil duduk. Hening sejenak sebelum seseorang diantara mereka mengacungkan tangan untuk bertanya, "Permisi, penyelidikan tentang organisasi ini bukankah sudah dilakukan sebelumnya? Sudah sejauh mana hasilnya?"

"Ah maaf, konfirmasi identitas? Aku tak mengenal beberapa orang disini," tanya Juugo. Seorang wanita yang tadi bertanya kini bangkit dari duduknya, "Agen Temari dari Divisi Echo-008, posisi disini sebagai agen lapangan"

"Baik, Agen Temari, ya, memang sudah dilakukan, tapi belum dibentuk tim secara khusus seperti sekarang, tim ini dibentuk karena melihat pergerakan musuh yang agresif. Belum ada kemajuan berarti, tapi kita sudah punya dua sandera dari pihak musuh dan sudah melakukan penyerangan ke markas mereka, walaupun sejauh ini belum ada hasil," ujar Juugo panjang lebar. Temari hanya mengangguk lalu kembali duduk.

"Nah sekarang kita lanjutkan..." kalimat Juugo terinterupsi suara ketukan pintu. Setelah mempersilakan tamunya membuka pintu, sesosok pria tinggi besar memasuki ruangan dengan sedikit tergesa, "Interogasi Hypnosis terhadap dua sandera kalian berhasil dilakukan, kami mendapat informasi sebuah alamat tempat markas mereka yang lain," pria itu mengatakannya sambil memberikan benda kecil seperti SDHC card pada Juugo.

"Bagus! Siapkan tim cadangan untuk berjaga-jaga. Kami akan ke markas mereka setengah jam lagi." Setelah itu pria tadi berbalik pergi sementara Juugo memasukkan benda itu ke slot disamping layar raksasa. Tak lama layar berubah menampilkan gambar denah lokasi. "Kita akan kesana dalam tiga puluh menit. Siapa disini yang diposisikan sebagai agen lapangan?"

Dua orang mengacungkan tangan, sementara Juugo mengangguk-angguk,"Baiklah. Berarti di bagian multimedia ada Agen Iruka dan...maaf?"

"Agen Inuzuka dari Divisi Omega-017, bagian multimedia" ujar seorang agen berpenampilan berantakan, nampak mengerti bahwa Juugo tak mengenalinya.

"Baik, kita bersiap-siap sekarang."

"Dimana Agen Uchiha?" tanya Neji, membuat seluruh mata teralih padanya. Juugo nampak baru teringat akan sesuatu, "Oh ya, aku lupa. Dia sedang mengerjakan yang lain. Akan kutelpon dia sekarang," ujar Juugo sambil merogoh sakunya.

-10-

Sasuke menyimpan kembali ponsel kesaku jaketnya, berikutnya ia menghela napas berat. Ini bahkan belum tiga puluh menit dan Juugo sudah menyuruhnya kembali ke kantor?

"Ada apa?" tanya Sakura. Sasuke terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku harus kembali ke kantor. Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali"

Sasuke bisa melihat pancaran kekecewaan dari mata Sakura, namun ia memang tak bisa tinggal disini lebih lama. "Ingat, kalau terjadi apa-apa hubungi aku. Kau tak apa-apa kan sendiri disini?"

Lawan bicaranya mengangguk, "Tak apa. Lagipula aku akan kerumah temanku sebentar lagi. Tak usah khawatir,"

"Dimana rumahnya?"

"Dekat sini. Berjalan kaki hanya membutukan waktu tujuh menit. Ah, sekali lagi terima kasih karena sudah datang," ujar Sakura sambil tersenyum. Senyum itu hanya untuk menutupi kekecewaannya, juga rasa takutnya, pikir Sasuke yang sudah kelewat sering membaca ekspresi orang lain.

"Biar kuantarkan kau kesana," Namun tawaran Sasuke segera disambut sebuah gelengan oleh Sakura. "Tidak usah, dekat, kok"

"Tak apa-apa. Lebih baik kita berangkat sekarang," ujar Sasuke sambil bangkit dari duduknya. Ia melirik arlojinya sekilas kemudian melihat Sakura yang masih duduk terdiam memerhatikan dirinya. "Sakura?"

"O-ohh? Baiklah, aku akan ganti baju sebentar," Sakura mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju tangga, "Tak apa jika kau menungguku sebentar? Tak akan terlambat pergi ke kantor?"

"Tidak akan, tenang saja," ujar Sasuke sambil tersenyum. Dan lagi, bukannya meneruskan langkah, Sakura malah terdiam ditempatnya berdiri. Beberapa detik kemudian barulah ia mengerjap dan berderap ke atas.

-11-

Kapan terakhir kali Sasuke tersenyum? Ah entahlah. Tapi senyuman pria itu yang tergolong 'sangat langka' tadi berhasil membuat Sakura salah tingkah tak karuan. Oh astaga, apa sih yang ia pikirkan disaat seperti ini?

"Belok kanan atau kiri?" pertanyaan Sasuke sukses membuat Sakura kembali fokus menatap jalanan di kompleks perumahan tempat Ino tinggal. Sakura berdeham seikit sebelum menjawab, "Kanan"

Mobil yang mereka tumpangi berbelok kekanan. Dhadapan mereka terbentang jalanan lurus yang lengang. Sepotong ingatan kembali terekam dibenak Sakura. Disinilah kemarin ia diculik.

"Kemarin mereka membawaku disini," ujar Sakura tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan. Entah apa yang mendorongnya untuk mengatakan hal ini. Sasuke menoleh sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan.

"Kau dibius?"

Suara dingin itu membuat Sakura menoleh, "Tidak. Pistol kejut."

"Sudah kuduga. Mereka takkan mau repot-repot menuangkan obat bius diatas saputangan," timpal Sasuke datar. Pandangan Sakura kembali fokus kedepan, kini mereka sudah sampai dirumah Ino.

"Sudah sampai,"

Mobil mereka berhenti disamping sebuah rumah berlantai dua dengan pagar tinggi menjulang. Sakura melepas seat belt seraya berkata, "Terima kasih,"

"Berhati-hatilah, Sakura."ujar Sasuke dengan nada berbeda. Atau...hanya telinga Sakura yang menganggapnya begitu? Oh sudahlah.

"Baik, aku pergi dulu." Berikutnya Sakura keluar dari mobil dan melangkah menuju pagar rumah Ino. Saat berjalan melewati halaman rumah Ino yang luas, Sakura membalik tubuh ke arah pagar sekejap dan mendapati Coupe hitam metalik Sasuke masih terparkir disana.

Mengapa ia tak langsung pergi?

Pertanyaan itu terus tergantung dibenak Sakura sampai ia mengetuk pintu rumah Ino beberapa kali. Sakura menengok kebelakang sekali lagi dan masih mendapati mobil Sasuke terparkir disana. Dan ketika ia berbalik kembali, Ino sudah membukakannya pintu dengan wajah sumringah, "Sakuraaaa!"

Ino segera mendekap Sakura dalam sebuah pelukan hangat. "Kau baik-baik saja, kan? Aku khawartir sekali kemariiinn, mengapa kau tak langsung meneleponku saat kau bangun dari pingsan?"

Sakura hanya bisa tersenyum bersalah. Ia akan menceritakan cerita kemarin-ia-sakit-lalu-pingsan pada Ino, tapi nanti, setelah ia mengecek apakah Sasuke masih ada di pagar atau tidak. Maka untuk ketiga kalinya Sakura berbalik kearah pagar, kali ini ia menyaksikan mesin Coupe hitam Sasuke berbunyi dan berlalu meninggalkan pagar rumah Ino. Jadi Sasuke menunggunya masuk kedalam? Apa ia ingin memastikan Sakura...

"Siapa yang mengantarmu?"

Pertanyaan Ino memotong jalan pikir Sakura yang mulai berspekulasi aneh-aneh. Dengan senyuman masih tersunggging dibibirnya, Sakura menjawab,"Temanku,"

Ino mengangkat alisnya tinggi-tinggi, "Apa kau pikir aku akan percaya jawaban macam itu?"

Oh, astaga.

-12-

Mobil yang dikendarai Iruka berhenti didepan sebuah bangunan tua berlantai dua. Dari luar terlihat seperti bekas pabrik yang sudah lama kosong.

"Bagaimana?" tanya Kiba setelah selama beberapa detik tak ada orang yang beraksi juga.

"Agen lapangan semua turun. Neji dan aku berjaga didepan, Sasuke dan Temari cari pintu belakang, jika ditemukan segera masuk. Lumpuhkan siapapun yang kalian temui didalam. Komunikasi jangan sampai terputus. Iruka dan Kiba tetap di mobil," Juugo berkata sambil mengisi Beretta-nya dengan peluru. Agen lain tampak sedang bersiap-siap juga, tak lama, Juugo membuka pintu geser mobil itu lalu mereka berpencar tanpa mengatakan apapun. Juugo sendiri kini mengendap-endap kearah pintu depan bangunan yang tertutup rapat. Setelah merapat kearah samping pintu, dengan hati-hati ia menempelkan telinganya ke kaca jendela yang ada disana, setelah beberapa detik melakukannya dan tak terdengar sudara apapun dari dalam, ia memberi kode kepada Neji yang tengah merapat dibagian rumah yang berbeda untuk mengintip melalui jendela lain. Neji kemudian melakukannya, namun tak lama kemudian ia menggeleng kearah Juugo.

"Agen S dan T sudah masuk kedalam melalui pintu belakang. Tak ada orang disini," tiba-tiba suara Sasuke terdengar dari headset yang terpasang ditelinga kanan Juugo. Ia menjawab, "Apa kau mendengar suara?"

"Negatif,"

"Melihat letak tangga?"

"Negatif,"

"Aku melihatnya," kali ini suara wanita yang terdengar. "Disebelah mana?"

"Arah jam 10 dari pintu masuk,"

"Apa tak ada jejak manusia..." Juugo bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat suara tembakan terdengar dari dalam. Berikutnya dua suara tembakan susul-menyusul. Sekarang Juugo menegakkan badan, memasang posisi siaga. "Bisa laporkan situasi?"

"Seorang pria muncul dari tangga sambil mengacungkan pistol kearah kami, sudah berhasil dilumpuhkan," ujar Temari. Berikutnya sebuah suara tembakan terdengar lagi. Maka kali ini Juugo berderap kearah belakang bangunan sambil berkata, "Agen N, tetap awasi didepan, aku akan masuk membantu agen S dan T,"

Neji turut menegakkan badan sambil menjawab, "Roger,"

-13-

Sasuke mengacungkan pistol kearah pria yang baru saja mereka lumpuhkan, sementara Temari sedang memborgol kedua lengan pria yang tengah mengaduh kesakitan itu.

"Dimana teman-temanmu?" tanya Sasuke dengan nada datar yang dingin, sambil masih terus mengacungkan pistol kearahnya.

"Kau pikir aku akan buka mulut? Tidak, sampai matipun tak akan," ujar pria itu dengan nada menyebalkan. Pria itu kini tak bisa berkutik lagi. Temari dengan sigap memaksa pria itu berdiri sampai ia mengaduh kesakitan karena kaki yang baru saja terkena tembakan dipaksa menapaki tanah.

"Bagaimana?" tiba-tiba terdengar suara Juugo dari arah pintu belakang. Juugo kemudian berderap kearah mereka, "Kita bawa ia ke mobil. Sasuke, kau coba naik keatas,"

Sasuke hanya mengangguk sekilas sebelum mulai melangkah perlahan mendekati tangga dengan pistol masih tergenggam ditangannya. Namun ia bahkan belum menapakkan kakinya di anak tangga terbawah saat seorang pria lain muncul dari atas tangga sambil mengacungkan pistol seraya berteriak, "Brengsek!"

Sasuke mundur untuk menepi dan bersiap untuk membidik, detik berikutnya ia melepaskan sebuah tembakan yang ternyata berhasil mengenai tangan pria itu. Suasana disana cukup gelap, namun ia bisa melihat tadi saat peluru menembus tangan pria itu, pistol yang digenggam musuh terjatuh, dan ini merupakan kesempatan besar untuknya. Maka Sasuke berderap menaiki tangga untuk mengambil pistol itu, setelah pistol ada dalam genggamannya, ia melirik musuh yang tengah mengumpat sambil meringis kesakitan. Tepat saat itu pula, pria itu melihat dengan jelas wajah Sasuke, "Kau!"

"Ya, aku. Oh, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sasuke ringan sambil mendekati musuh. Kemudian tangannya terulur untuk menggenggam bagian tangan musuh yang tadi ditembus peluru, sontak pria itu berteriak kesakitan, "Ini sakit, bukan? Karenanya jangan melawan dan ikuti ucapanku,"

Pria itu sempat melawan saat Sasuke menyuruhnya berdiri untuk meringkusnya, namun nampaknya luka ditangannya cukup membantu karena tak lama pria berambut kuning itu berdiri dengan langkah tertatih, sementara umpatan tak pernah berhenti ia ucapkan.

"Tolong kirim satu agen untuk meringkus satu orang lagi. Posisi ditangga," usai mengucapkan itu, Sasuke melirik pria berambut kuning yang sudah ia pasangi borgol sekilas, "Cepat jalan!"

"Dimana teman-temanku?" tanya pria itu.

"Ikut aku dan kau akan bertemu dengan mereka,"

"Cih! Sialan!" pria itu memberontak, mencoba melepaskan diri dari tangan Sasuke yang mengapit lehernya. Namun gagal, ia sudah terlalu lemas karena kehabisan banyak darah.

"Jangan banyak bicara dan ikuti!"

"Dengar, Sasuke. Meskipun kau tangkap kami, sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa menghancurkan organisasi ini," desis pria itu sambil terengah. Sasuke hanya meliriknya sekilas, "Oh ya? Mari kita buktikan."

"Silakan saja. Toh sandera kita masih hidup," ujarnya lagi sambil menyeringai. Kali ini Sasuke menghentikan langkah sambil menatapnya dengan mata disipitkan. Apa katanya tadi?

Tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekat kearah mereka, kemudian terdengar suara, "Agen N tiba di posisi"

-14-

Setelah selama enam jam berbincang dengan Ino, Sakura akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sekarang ini ia amat mengantuk. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah pulang kerumah dan tidur. Kini hanya tinggal dua rumah lagi dan ia akan sampai ke rumah.

Sesampainya di rumah, Sakura memutar kenop pintu dan mendapati rumah masih dalam keadaan terkunci. Jadi ibunya belum pulang juga?

Sakura tengah merogoh tasnya untuk mencari kunci saat terdengar suara mobil mengerem di depan pagar rumahnya. Ia berbalik dan mendapati xxx hitam metalik berhenti disana. Ini kan mobil...

"Kau baru tiba, Sakura?"

Baru saja ia berpikir mobil ini sama dengan milik Sasuke saat pria itu menurunkan kaca jendela mobil dan menyapanya. Sakura terdiam sebentar sebelum menjawab, "Y-ya, ada apa?"

Sasuke menolak menjawab sampai akhirnya mereka tiba di ruang tamu rumah Sakura. Keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai Sasuke lebih dulu membuka pembicaraan, "Aku ingin kau ikut Program Perlindungan Saksi,"

Sakura mengangkat alis tinggi-tinggi, "Mengapa harus?"

"Kau tau, itu program apa?"

"Tentu saja. Aku bekerja di kepolisian, ingat?" Lagipula ia tak mau menyusahkan hidupnya dengan membuat identitas palsu dan lain-lain.

"Oh, ya. Dan tadi pertanyaanmu, 'mengapa harus?' karena kau masih diincar, Sakura. Selama mereka berkeliaran di luar sana kemungkinan kau akan dicelakai terbuka sangat lebar. Kami memang sedang berusaha, tapi entah sampai kapan, entah kapan kami bisa menumpas mereka sampai ke akarnya," terang Sasuke. Sakura mengalihkan pandangan kearah lain, tampak sedang merenung.

"Kumohon, ini demi keselamatanmu juga," kali ini Sasuke mencondongkan badannya kedepan, sementara Sakura masih berpikir. Bukankah ia tadi bilang akan melindunginya?

"Bukankah kau bilang akan melindungiku?"

Sasuke diam. Benar, bukan? Tadi dia memang bilang begitu. Nah, sekarang apalagi yang harus dikatakannya? "Ya, aku akan melindungimu, semampuku. Tapi aku tak dapat terus berada disini."

Bola mata Sakura kini beralih menatap kedalam manik hitam Sasuke yang sekelam malam. Mata itu, tak pernah sekalipun memancarkan kehangatan. Hanya ada gelap, dan dingin.

"Aku bisa melindungi diriku sendiri, Sasuke," ucap Sakura dengan lirih. Mengikuti program itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.

"Tidak, Sakura. Kau harus sadar dengan siapa kau berhadapan," Sasuke mengatakannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau, Sasuke. Tidak mau. Kalau begitu biarlah aku lindungi diriku sendiri dan kau fokuslah bersama rekan-rekanmu untuk mengejar mereka," tegas Sakura dengan nada memohon. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu Sasuke bekerja untuk instansi jenis apa dan dimana.

"Baiklah, baiklah. Dengar, pegang janjiku padamu. Aku akan melindungimu semampuku. Asal jangan lakukan hal-hal tak masuk akal yang dapat membahayakanmu, oke?" ujar Sasuke serius. Sakura tengah mencoba menyelami mata kelam itu, namun lagi-lagi nihil, yang ia dapati hanyalah refleksi dirinya disana. Seperti waktu itu.

"Baiklah," ujar Sakura akhirnya. Kali ini yang harus ia lakukan hanyalah mempercayai pria dihadapannya. Karena selain dia, siapa lagi yang dapat ia percaya?

-15-

"Dimana mereka sekarang?"

Juugo bertanya pada Kiba yang baru saja memasuki ruangan. Kiba menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja panjang itu lalu duduk diatasnya, "Lukanya sedang diobati. Mereka dibius total,"

"Baiklah, karena kita sudah berkumpul semua, laporkan apa yang kalian temukan dimarkas itu." Sekarang Juugo berdiri dan berjalan menuju depan ruangan.

"Agen Uchiha tadi menemukan kertas-kertas ini di lantai dua, sedang kupelajari isinya," Iruka berujar sambil melihat satu persatu kertas yang berserakan dimeja. Juugo hanya mengangguk-angguk, "Yang lain?"

"Tidak ditemukan hal lain di markas itu, tak ada basement maupun ruang tersembunyi juga disana. Hanya ada dua orang yang kita bawa tadi," ujar Neji menimpali.

"Baik, dua orang tadi diketahui sebagai Kinkaku dan Deidara. Kita akan lakukan interogasi terhadap mereka saat mereka pulih. Nah sekarang kalian boleh..."

"Tunggu," Neji memotong ucapan Juugo. Perbuatannya itu menyedot atensi seisi ruangan, sehingga menjadikannya pusat perhatian sementara, "Sebenarnya apa yang Sasuke lakukan sekarang?"

"Ia...sedang memastikan sandera baik-baik saja. Kau sudah membaca berkas penyergapan kita ke markas mereka sebelumnya, bukan?" Sebenarnya di berkas itu hanya disebutkan Sakura adalah gadis yang diculik Kabuto untuk dijadikan sandera guna memancing Sasuke pergi ke markas mereka.

"Ya, tapi ada yang janggal. Sebenarnya apa hubungan Sasuke dengan gadis itu? Dan...dari kejadian penyerangan mereka ke apartemen Sasuke, kusimpulkan sebenarnya Sasuke sudah pernah bertemu dengan Kabuto sebelumnya, bukan?"

Juugo menelan ludah sebelum menjawab, "Ya, Kabuto adalah teman gadis itu. Dan gadis itu adalah teman Sasuke,"

"Lalu bagaimana kau menjelaskan pertemuan Sasuke dengan Kabuto sebelumnya?" tanya Neji lagi. Demi tuhan, Juugo sudah bersumpah takkan memberitahu hal yang sebenarnya pada siapapun. Ia menarik napas berat sebelum akhirnya menjawab,

"Sebaiknya kau tanyakan langsung pada orangnya saat ia pulang nanti,"

-16-

Kizashi Haruno melirik arlojinya sebentar. Kemudian menyesap kopinya perlahan. Sekarang masih pukul enam sore dan ia hari ini diizinkan pulang lebih awal dari kantor tempat ia bekerja. Karena biasanya ia pulang pukul 8 malam, maka sekarang ia memutuskan untuk mempir sebentar di kedai kopi favoritnya.

Kizashi merapatkan mantelnya, rupanya bekas-bekas udara musim dingin masih terasa sekali di awal februari. Ia kemudian menatap ponselnya yang sedari tadi tergeletak diatas meja. Layar ponselnya menampilkan sebuah nama dan sederet nomor telepon. Benaknya tengah menimbang-nimbang, apa ia akan menelepon orang itu atau tidak. Namun ia rasa ia benar-benar butuh bicara. Maka setelah batinnya berdiskusi selama beberapa detik, ia memutuskan menyentuh tombol hijau dilayar sentuhnya, ia memutuskan untuk menelepon orang itu.

Ia menyesap kopinnya sekali lagi sebelum menempelkan ponsel itu ketelinganya. Nada sambung mulai terdengar. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Dan dikali kelima, suara seorang pemuda menyapanya dari seberang sana, "Halo?"

Kizashi berdeham sebelum menjawab, "Halo. Selamat malam. Apa benar ini dengan saudara Sasuke Uchiha?"

"Ya, saya sendiri. Ini dengan siapa?"

"Oh, maaf mengganggumu malam-malam. Kurasa kita baru bertemu satu kali, ya. Aku Kizashi, ayah Sakura. Bisa kita bicara sebentar, Sasuke?"

Diam sejenak diseberang sana."O-oh, selamat malam, Pak. Maaf sebelumnya karena tak mengenali suara bapak. Ya, silakan. Ada apa?"

Harus darimana ia memulai pembicaraan? "Ah, ini tentang Sakura... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,"

"Oh,, bagaimana jika kita bertemu langsung? Kurasa kurang nyaman jika kita berbincang melalui telepon." Ujar pemuda itu dari seberang. Benar juga, ia akan lebih leluasa bertanya jika bertemu langsung, bukan?

"Baiklah, kau tidak sedang sibuk?"

"Kebetulan tidak. Baiklah, dimana kita bisa bertemu?"

"Aku sedang di kedai kopi Omotesando, bisakah kau kemari sekarang?"

-17-

Tadi Sasuke nyaris terjerembab dikursinya sendiri saat mengetahui siapa yang meneleponnya malam-malam. Sebenarnya ia tahu benar ayah Sakura akan mengajaknya bicara cepat atau lambat. Namun ia tak menyangka pembicaraan itu akan dilakukan malam-malam lewat telepon. Maka dengan menyingkirkan sejenak rasa lelah yang menderanya, ia akhirnya sampai di kedai ini, dan tengah duduk berhadapan dengan ayah Sakura.

"Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengganggumu malam-malam begini, Sasuke"

Sasuke tersenyum sopan sebelum menjawab, "Tidak apa-apa. Jadi... apa yang ingin bapak bicarakan?"

"Ah begini. Beberapa hari ini kulihat Sakura berbeda dari biasanya. Ia seperti...ketakutan. Namun saat kutanyakan ada apa iya hanya menjawab tidak ada apa apa. Kau tahu sesuatu tentang ini?"

Tentu saja ia tahu, dan tentu saja ia takkan mengatakan hal yang sebenarnya, "Ah, bukan masalah serius sebenarnya. Tidak usah khawatir."

Sasuke bisa melihat ekspresi tak pecaya pada raut wajah Kizashi. Namun ia tak tahu lagi harus mengatakan apa.

"Tapi...ketakutan yang kulihat dari sorot matanya lebih besar dari itu. Aku ayahnya, aku mengenalnya, Sasuke. Dan dari yang kulihat, sorot ketakutan itu hilang jika kau habis mengantarkannya kerumah sepulang kerja. Makanya kupikir... kau mengetahui sesuatu yang membuatnya takut."

Beberapa hari ini memang Sasuke beberapa kali mengantarkan Sakura pulang kerumahnya, jika ia sedang lengang. Ia sendiri selalu melihat sorot ketakutan itu dimata Sakura –meski ia bilang ia baik baik saja-, tapi mengapa ayahnya berpikir ketakutan itu hilang jika Sakura bersamanya? Apa karena gadis itu merasa sedang dilindungi?

"Bapak tidak usah khawatir. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Sama sekali," ujar Sasuke yakin. Lebih tepatnya meyakinkan ayah Sakura. Namun nampaknya Kizashi masih menyisakan sedikit keraguan, tapi ia menyembunyikannya dan hanya hanya mengatakan, "Baiklah kalau begitu,"

Sasuke hanya mengangguk-angguk. Kemudian dengan nada tegas sekali lagi ia mengucapkan sesuatu yang ia pikir dapat meyakinkan bahwa Sakura baik-baik saja. "Aku berjanji akan melindungi Sakura"

Kali ini Kizashi terdiam. Keduanya bertatapan selama beberapa detik. Apa Sasuke barusan salah bicara? Tapi kemudian Kizashi tersenyum dan berkata, "Terima kasih banyak"

Sasuke hanya membalas senyum sopan sambil mengangguk kecil.

Kizashi kemudian berkata lagi, "Dan...aku ingin mempertanyakan soal keputusanmu delapan belas Januari lalu. Apa kau serius?"

Astaga, pertanyaan ini akhirnya datang juga. Sasuke bahkan belum siap mempersiapkan jawaban atas ini. Maka secepat kilat otaknya mencari jawaban sementara yang bisa ia gunakan. Dan ia menemukannya.

"Ya, aku serius. Tapi kurasa Sakura..."

-18-

Pukul setengah sembilan tepat saat Kizashi Haruno membuka pintu depan rumahnya. Malam ini istrinya sedang mengunjungi adiknya yang sedang sakit. Jadi saat menapaki rumah, ia hanya mendapati putri sematawayangnya yang sedang menonton TV.

"Ayah? Ibu belum pulang. Aku sudah buatkan sup jamur untuk makan malam," ujar Sakura sambil melongok dari ruang keluarga. Kizashi melepas sepatu kemudian menghampiri Sakura didalam. Gadis itu nampak sedang duduk bersantai di sofa. "Ayah mau mandi dulu atau makan dulu?"

Kizashi tidak menjawab, ia malah memerhatikan putrinya lekat-lekat. Putri kecilnya yang sudah dewasa. Bagai peri yang sayapnya sudah bertumbuh. Namun ia belum benar-benat siap untuk terbang mengangkasa.

"...Tapi kurasa Sakura belum siap untuk menikah dalam waktu dekat..."

Perkataan Sasuke di kedai tadi kembali terngiang dibenaknya. mungkin Sasuke benar, Sakura sama sekali belum siap. Kini ia mengutuk dirinya sendiri tentang rencana bodohnya menjodohkan Sakura dengan anak rekan kerjanya. Ia hanya ingin Sakura bahagia. Hanya ingin Sakura menerima pilihan terbaik yang ia pilihkan untuknya. Namun soal ini sepertinya salah besar. Anaknya juga memiliki hati. Anaknya juga pasti memiliki pilihannya sendiri.

"Maafkan ayah, ya" perkataan Kizashi yang tiba-tiba membuat Sakura mengerutkan kening. "Maksud ayah?"

"Jika kau belum siap untuk menikah... maka jangan terburu-buru. Maafkan ayah karena sudah memaksamu kemarin-kemarin" sekali lagi ia mengutuk dirinya yang termakan omongan istrinya tentang usia putrinya yang kian bertambah. Juga tentang sepupu-sepupunya yang sudah berkeluarga. Namun kini ia tahu ia tak boleh menyamakan Sakura dengan yang lain. Mungkin Sakura memang berbeda.

Sakura hanya termenung menatap ayahnya. "Tidak apa-apa, ayah"

Kizashi tersenyum, kemudian ia mengulurkan tangan untuk menyentuh puncak kepala Sakura untuk mengusapnya perlahan. Berapa kali lagi ia bisa melakukan ini? Sejak saat ini ia sadar, bahwa putri kecilnya akan segera menjelma menjadi sesosok wanita dewasa yang matang.

#Catatan :

1. Program Perlindungan Saksi adalah program pemerintah yang dibuat untuk melindungi para saksi dan korban kejahatan. Programnya meliputi :

Perlindungan fisik dan psikis: Pengamanan dan pengawalan,penempatan di rumah aman, mendapat identitas baru, bantuan medis dan pemberian kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan, bantuan rehabilitasi psiko-sosial.

Perlindungan hukum: Keringanan hukuman, dan saksi dan korban serta pelapor tidak dapat dituntut secara hukum

Pemenuhan hak prosedural saksi: Pendampingan, mendapat penerjemah, mendapat informasi mengenai perkembangan kasus, penggantian biaya transportasi, mendapat nasihat hukum, bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan dan lain sebagainya.


Author's note :

Mohon maaf atas typo-typo yang berserakan di chapter sebelumnya. Sekarang sudah dikoreksi kok^^

Dan mohon maaf juga atas update yang amat lama ini karena author masih pemula dan masih butuh waktu lama untuk menulis satu chapter. Mohon maaf lagi jika bahasanya sulit dimengerti, he he. Terima kasih untuk kalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca dan memberi masukan kepada fanfic ini.

Happy reading^^