Sebuah Ketentuan


"Aku memang sudah memercayaimu. Namun bagaimana jika pihak lain tidak? Bagaimana jika orang awam menanyakan keganjilan yang kita ciptakan sebagai akibat dari sandiwara kita?"

Ibunya hanya diam sambil bersedekap. Sasuke tahu ibunya masih menyimpan sesuatu, tapi ia takkan menanyakannya dan memilih menunggu ibunya mengatakannya langsung.

Sasuke bergerak kedapur untuk mengambil minum. Dari ekor matanya ia bisa melihat ibunya masih mengawasinya dengan tatapan tajam. Bahkan sampai ia kembali keruang tamu dan duduk diatas sofa pun, ibunya masih memandangnya tajam. Ada apa sih?

"Nampaknya kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu,"

Akhirnya ibunya bicara juga, "Tidak. Mengapa?"

"Kau yakin?"

"Yakin." Jawab Sasuke tegas. Walau sebenarnya ia berbohong.

"Jika kau tak menyembunyikannya maka kenapa ibu baru tahu bahwa anak bungsu ibu telah melamar seorang gadis dua bulan lalu?"

-1-

Sakura menggenggam setir mobil kuat-kuat. Kemudian menghela napas panjang sebelum mengembuskannya keras-keras. Pagi ini ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

Setelah selama lebih dari satu bulan dirinya dibawah penjagaan ketat ia akhirnya merasa jenuh. Awalnya ia kira ini semua hanya berlangsung satu atau dua minggu, namun ini sudah lebih dari satu bulan dan penyelidikan Sasuke bersama rekannya –Sakura tak tahu harus menyebut mereka apa- belum membuahkan hasil juga. Jadi setelah mengorbankan waktu tidurnya untuk bergelut dengan pikirannya sendiri, Sakura memutuskan untuk mengatakan pada Sasuke bahwa mulai saat ini ia tak perlu dilindungi lagi. Mereka –Sasuke dan rekan rekannya- tak perlu mengawasi kegiatannya dan tak perlu lagi menjemputnya ke kantor apabila ia pulang terlampau larut. Tak peduli jika kawanan Kabuto akan mengancamnya lagi atau apa.

Sakura menginjak rem saat mobilnya sudah mendarat dengam mulus diatas lantai basement sebuah apartemen. Ia kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan basement dengan bagian dalam apartemen. Pagi ini ia memutuskan membawa mobil ayahnya karena hari ini ia shift pagi dan pastinya akan telat jika ia menempuh jarak dari apartemen ini ke kantornya menggunakan bus.

Sekitar lima menit kemudian ia telah sampai didepan pintu apartemen Sasuke. Sekali lagi, ia mengembuskan napas keras-keras sebelum membunyikan bel. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok pucat Sasuke yang kelihatan berantakan. Bisa dipastikan ia baru terbangun dari hibernasinya.

"Sakura? Ada apa pagi-pagi begini?" tanya Sasuke sambil berusaha membuka mata sepenuhnya. Rasa bersalah menyelinap dibatin Sakura karena sudah membangunkannya pagi-pagi begini. Namun mau bagaimana lagi?

"Err... maaf mengganggumu pagi-pagi begini. Aku...hanya akan minta tolong padamu sebentar saja, setelah itu kau bisa lanjutkan tidurmu lagi,"

"Kita bicara didalam saja, tidak enak..."

"Tidak, tidak. Hanya sebentar saja. Ini" Sakura menyodorkan ponsel milliknya kearah Sasuke. Sasuke yang masih belum bangun sepenuhnya hanya menatap ponsel itu heran, "Kenapa ponselnya?"

"Aku minta tolong padamu untuk melepaskan radar yang kau tanam disini," ucapan Sakura rupanya berhasil membuat Sasuke membuka mata sepenuhnya. Dengan dahi berkerut pria itu bertanya, "Ada apa?"

"Aku sudah lelah seperti ini terus. Tak ada gunanya kalian terus melindungiku seperti itu. Bukankah itu hanya akan merepotkan kalian saja? Aku bisa melindungi diriku sendiri. Jadi mulai sekarang tak usah kaitkan aku dengan kasus ini lagi. Aku minta maaf atas semuanya," Sakura menarik napas setelah mengucapkannya. Ia berharap semuanya berjalan dengan lancar. Tapi...

"Apa yang kau katakan? Kau ini kenapa? Bukannya..."

"Kumohon, aku buru-buru sekarang. Jika kau tak mau melepaskannya, akan kutaruh ini disini saja. Maafkan aku sudah merepotkanmu selama ini," dengan gerakan cepat Sakura berjongkok untuk menaruh ponselnya dilantai apartemen Sasuke, menatapnya sebentar, kemudian berbalik dan dengan setengah berlari, pergi meninggalkan Sasuke yang masih terlalu sulit untuk mencerna semuanya.

Setelah menyadari betul apa yang baru saja terjadi, dan juga setelah terbangun sepenuhnya dari tidur, ia segera berderap menyusul Sakura yang sudah berjalan lebih dulu. Menyadari Sasuke mengejarnya, Sakura berlari sekuat tenaga, menuju lift yang kini terbuka lebar tak jauh didepannya.

"Tunggu!" teriak Sakura pada pria paruh baya yang ada didalam lift. Pria itu sontak menahan pintu lift dan tak lama Sakura berhasil masuk kedalam. Dengan segera ia menekan sebuah tombol kemudian perlahan-lahan pintu lift mulai menutup, meninggalkan Sasuke yang masih berlari menuju kearahnya.

-2-

"Sial!"

Sasuke mengumpat saat pintu lift menutup beberapa detik sebelum dirinya sampai ke mulut lift. Ia segera beralih ke lift lain yang masih menutup. Menunggu dengan cemas sampai pintu lift itu terbuka. Sambil menunggu ia mengusap-usap wajahnya berkali-kali agar kantuknya hilang. Ia bahkan baru ingat tadi ia tidak sempat menggunakan alas kaki.

Lagipula apa yang terjadi pada Sakura hingga ia mengatakan hal yang tak masuk akal? Apa ia kira Sasuke akan membiarkannya begitu saja? Apa ia pikir Sasuke akan menyerah begitu saja untuk melindunginya? Tidak mungkin. Seandainya ia tadi melepas radar di ponsel sekalipun, ia bisa dengan mudah mengetahui lokasi Sakura dan apa yang sedang ia kerjakan.

Pintu lift dihadapannya terbuka dan Sasuke dengan terburu masuk kedalam. Tadi ia melihat sekilas kunci mobil didalam saku jaket Sakura, berarti ia membawa mobil. Mobil yang ia bawa pasti Chevrolet silver milik ayahnya. Mobil yang terparkir didepan rumah Sakura saat dulu Sasuke mengantarnya pulang. Sasuke bahkan hapal nomor polisinya.

Pintu lift terbuka dan Sasuke segera berlari keluar menuju pintu yang menghubungkan apartemen dengan basement, matanya dengan liar mencari mobil yang dimaksud diantara ratusan mobil yang terparkir rapi disana sambil berlari-lari kecil. Jika perkiraannya benar, maka seharusnya Sakura belum keluar dari gedung ini. Paling tidak ia baru men-starter mobilnya. Namun dimana mobilnya berada?

Sekitar seratus meter dari tempat Sasuke berdiri, sebuah mobil baru saja hendak bergerak dari posisi parkirnya. Ketika mobil itu sudah benar-benar melaju, Sasuke baru bisa melihat dengan jelas mobil itulah yang sedari tadi ia cari; Chevrolet silver Sakura. Maka ia segera berlari dengan kecepatan penuh mengejar mobil itu. Jarak mereka yang belum terlalu jauh membuat Sasuke optimis akan bisa mengejar dan menghadang mobil itu.

"Sakura!"

Setelah jarak mereka menyempit, Sasuke berteriak, berharap Sakura akan berubah pikiran atau bagaimana. Namun alih-alih berubah pikiran, Sakura malah menambah kecepatan mobilnya, Sasuke sempat menambah kecepatan larinya, namun ia baru akan berhenti berlari karena frustasi saat Sakura tiba-tiba menurunkan kecepatan dengan drastis, saat itu posisi mobil sedang akan berbelok. Memanfaatkan situasi ini, Sasuke berlari kembali sekencang-kencangnya mengejar mobil Sakura yang sekarang berhenti total, namun saat jarak mereka sudah sangat dekat, dari belokan tadi muncul sebuah truk pengangkut furnitur yang melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya. Sasuke bahkan tidak sempat memerintahkan kakinya untuk berhenti melangkah saar truk besar itu mengerem mendadak karena melihatnya berlari sekencang-kencangnya. Yang terakhir Sasuke dengar ialah suara decitan ban truk yang amat memekikkan telinga.

-3-

Sakura menggigiti bibir sambil duduk termenung.

Pada akhirnya ia menyesali keputusan bodohnya untuk pagi-pagi buta mengunjungi Sasuke, untuk mengatakan hal konyol yang tak kalah bodohnya. Seharusnya ia tahu tanpa radar itu pun Sasuke akan dengan mudah menemukan tempatnya berada; karena pria itu tahu alamat rumahnya dan tempat kerjanya. Dan harusnya ia juga berpikir bagaimana jika Kabuto memang benar-benar akan menculiknya lagi, dan dikali kedua ini ia akan langsung...membunuhnya?

Untuk kesekian kalinya di pagi ini, Sakura mengutuki dirinya sendiri.

Jadi tadi dengan amat kaget ia mendapati Sasuke tertabrak –atau terserempet- truk pengangkut furnitur dibelakang mobilnya. Truk itu berbelok dengan kecepatan tinggi dan langsung mengerem mendadak sambil banting stir demi menghidari Sasuke yang tengah berlari mengejar mobilnya. Alhasil meskipun setelah mengerem dengan kekuatan penuh truk itu tetap menabrak Sasuke karena pria itu sepertinya belum sempat menghindar.

Dan jadilah sekarang ia disini, duduk di sebuah ruangan perawatan Rumah Sakit Medical Centre Tokyo sambil memandangi Sasuke yang berbaring tak sadarkan diri. Lukanya tak parah, hanya lecet-lecet disepanjang tangan dan kaki. Namun tangan kanannya terkilir. Dan oh, lebih parah lagi semua ini akibat ulah konyol Sakura pagi-pagi buta. Astaga.

Dan untuk kesekian kalinya lagi di pagi ini, Sakura mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya tanpa minat.

"Dimana?"

Mendengar suara itu Sakura segera mengalihkan pandangan dari tangan kanan Sasuke yang dibalit perban ke wajahnya. Dan benar saja, pria itu sudah sadar. Maka Sakura segera berdiri untuk melihatnya lebih dekat.

"Medical Centre, kau tadi..."

"Aku tahu, tadi aku masih sadar, sedikit. Jadi, bagaimana dengan truk itu?"

Sakura mengernyit, mengapa malah menanyakan truknya? "Truknya mengerem mendadak namun pada akhirnya menabrakmu, truk dan pengemudinya baik-baik saja, kau yang tidak baik baik saja,"

"Aku baik-baik saja,"

"Kau tidak baik-baik saja," ulang Sakura

Sasuke mengernyit, matanya bahkan belum terbuka sepenuhnya, "Aku tidak apa-apa, aku masih bisa berjalan nampaknya. Oh ya, sebentar lagi aku harus ke kantor..."

"Kau tidak baik-baik saja, Sasuke! Kau harus istirahat total hari ini," ujar Sakura dengan nada meninggi. Atau malah membentak? Entahlah, yang jelas Sasuke tak berani menyangkal lagi.

"Baiklah, baiklah, jadi apa yang terjadi padaku, Dokter Sakura?"

Sakura terdiam sebentar, panggilan itu terasa aneh ditelinganya, "Tangan kananmu terkilir, tangan dan kakimu luka-luka ringan. Hanya perlu istirahat," ujar Sakura melunak.

Sasuke hanya mengangguk-angguk, "Kalau begitu aku harus pulang untuk memberitahu kantor aku tak akan masuk hari ini. Dan... tunggu, kau tak bekerja?"

"Izin"

"Izin? Mengapa?"

"Untuk menungguimu," jawab Sakura pendek. Sasuke mengangkat alisnya, "Aku tak apa-apa, setelah ini aku bisa pulang dan beristirahat dirumah,"

"Kau pikir aku adalah gadis tak bertanggungjawab yang akan menelantarkanmu di apartemen dengan tangan kanan terkilir? Kau pikir kau bisa beraktifitas dengan mudah dengan tangan kirimu?" tannya Sakura sarkastik. Ia sekarang sangat kesal, kesal karena kebodohannya.

Lagi-lagi Sasuke bungkam. Hanya perasaannya saja atau memang Sakura menjadi agak galak?

"Aku mengerti mengenai keharusan melapor pada kantormu itu, dan kau tak mungkin menelepon disini, karena aku tahu kau tak membawa ponsel. Jadi aku akan mengantarmu ke apartemen sekarang" ujar Sakura lagi. Sasuke sepertinya masih belum menemukan sesuatu untuk diucapkan. Maka setelah beberapa detik terdiam ia hanya berucap, "Baiklah,"

Hening sejenak sebelum Sakura kembali membuka mulut, "Maafkan aku,"

"Untuk?"

"Semuanya. Semua ini salahku" Sakura bahkan tak menatap Sasuke saat mengatakannya. Jadi ia tak tahu bagaimana ekspresinya. Hanya bisa mendengar saat Sasuke membalas, "Kita bisa bicarakan ini nanti. Kita pulang sekarang,"

Sakura hanya mengangguk, kemudian berdiri, "Tunggu disini, aku akan meminjamkan sandal untukmu,"

-4-

Mobil Sakura berhenti. Sasuke membuka seatbelt sambil menengok sekilas pada Sakura yang duduk dibalik kemudi. Pria itu kemudian membuka pintu mobil dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih dibebat. Kemudian ia keluar mobil dan menjejaki lantai basement yang kasar hanya dengan beralaskan selapis sandal kamar tipis milik rumah sakit.

Mereka berjalan beriringan tanpa bicara. Memasuki apartemen, menaiki lift, hingga sampai didepan pintu apartemen Sasuke.

"Aku baru ingat tadi ternyata aku belum mengunci pintu," ujar Sasuke ringan sambil membuka pintu. Seolah-olah membiarkan apartemennya tak terkunci dalam waktu cukup lama adalah hal biasa.

"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyanya lagi saat mereka sampai di ruang tamu. Sakura melirik jam sekilas sebelum menjawab, "Satu jam setengah kira-kira,"

Sasuke hanya mengangguk-angguk. Dirinya kemudian disibukkan oleh ponselnya untuk beberapa saat. Selama itu pula suasana hening menyelimuti mereka.

"Seharusnya ini tak perlu terjadi,"

Sakura lebih dulu membuka pembicaraan. Sasuke mendongak untuk menatap lawan bicaranya, mengalihkan pandangan dari ponselnya sesaat, "Kecelakaan ini?"

"Ya. Astaga, betapa konyolnya aku," ujar Sakura dengan wajah masam. Sementara Sasuke hanya memandangnya dengan ekspresi datar, seperti biasanya.

"Sekali lagi aku minta maaf. Tak usah kau ingat perkataan aku pagi tadi."

Dan lagi, Sasuke hanya diam.

"Mungkin aku hanya lelah, kemudian datang ke apartemenmu pagi-pagi buta dalam keadaan kacau, hingga bicaraku meracau, tak usah..."

"Mengapa kau memintaku berhenti mengawasimu?" tanya Sasuke dengan dingin, memotong penjelasan Sakura yang belum berakhir.

"Aku lelah. Aku merasa hanya menjadi beban bagimu. Menghalangi langkahmu. Aku...aku...aku bukan gadis lemah yang perlu dilindungi. Aku bisa melindungi diriku sendiri"

Kali ini Sasuke bangkit dari duduknya, seraya menaruh ponsel diatas meja, "Melindungi dirimu sendiri? Seperti saat penculikan itu?"

Sakura terdiam.

"Itu yang kau sebut 'Aku bisa melindungi diriku sendiri'?" ujar Sasuke dengan nada menyindir. "Namun sejauh yang kulihat saat itu kau berakhir di markas Kabuto dengan tangan terikat dan mulut terlakban. Lantas sebelah mana yang kau sebut melindungi dirimu sendiri?"

Sakura hanya mampu membisu.

"Kau mau itu terjadi lagi? Kau..."

"Cukup Sasuke, cukup!" Sakura menutup telnganya, berjalan mundur dengan teratur, "Cukup. Aku salah. Ya,,, aku mungkin hanya sedang kacau"

Dan kemudian hening.

Sakura menjatuhkan dirinya diatas sofa. Kedua tangannya menjambak pelan helaian rambutnya. Perlahan-lahan sebulir airmata jatuh dari pelupuk matanya.

-5-

Sakura bahkan tidak tahu sejak kapan matanya basah. Ia sama sekali tak berencana menangis. Namun entah kenapa tiba-tiba airmatanya melesak keluar meskipun tak satupun isakan keluar dari mulutnya. Akhirnya ia memutuskan memejamkan mata sejenak. Berharap bisa mencegah airmata susulan yang mungkin saja sedang bersiap untuk jatuh.

"Dulu aku disumpah untuk melindungi nyawa manusia. Mencegah korban nyawa berjatuhan. Menciptakan kemanan. Dan aku tak mau lagi ada korban dalam kasus ini,"

Sakura tersentak kaget saat mendengar suara Sasuke yang terdengar begitu dekat. Dan lebih kaget lagi saat membuka mata dan mendapati pria itu kini sedang berlutut dihadapannya. Matanya menatap mata hitam Sasuke yang selalu memancarkan aura dingin.

"Jadi sekeras apapun kau berusaha menghindar dariku, selama mereka masih berkeliaran dialam bebas, aku tak akan menyerah mecegah korban berjatuhan," ujar Sasuke lagi. "Termasuk dirimu"

Airmata Sakura surut. Matanya tak berkedip selama beberapa detik. Manik hitam didepannya bagai sepasang magnet yang menarik orang untuk terus menatapnya. Termasuk sepasang emerald yang kini tengah membuka pupil mata pemiliknya lebar-lebar demi menatap sang magnet.

"Jadi melindungimu adalah salahsatu tugasku, Sakura"

Sakura masih membisu selama beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa lawan bicaranya tengah menunggu responnya, "Baiklah,"

Hanya itu? Ya, hanya itu yang mampu ia katakan. Atau mungkin saja manik hitam itu pula yang membuatnya kehabisan kata-kata?

Sakura mengerjap beberapa kali sementara Sasuke bangkit dari posisi berlututnya, kemudian melangkah kearah kamar "Aku akan mandi dulu,"

Sakura baru akan mengatakan 'baiklah' untuk keduakalinya saat ia teringat sesuatu. "Ah tunggu Sasuke. Kau sudah sarapan pagi?"

-6-

Sasuke mendengar Sakura menyalakan kompor. Berikutnya terdengar suara pintu kulkas terbuka lalu tak lama menutup lagi. Tadi ia hanya mengiyakan saja saat Sakura bilang akan memasakkan sarapan pagi untuknya. Lagipula pagi ini ia belum makan apapun.

Sasuke berencana mandi sambil menunggu Sakura selesai masak. Jadi kini ia memasuki kamar lalu melepas kaos panjang yang ia pakai tidur semalam. Namun sebuah suara bel apartemennya kemudian membuatnya mendengus sambil memakai kembali kaus yang tadi ia lepaskan.

"Ada tamu?"

Terdengar suara Sakura dari arah dapur. Namun Sasuke mengabaikannya dan meneruskan berderap menuju pintu sambil berdoa dalam hati bahwa tamu yang datang hanya petugas kebersihan apartemen atau semacamnya.

Namun doanya ternyata tidak terkabul.

Karena yang berdiri didepan pintu adalah seorang wanita paruh baya berambut raven panjang, bukan pria berseragam petugas kebersihan. Alis Sasuke meninggi saat melihat siapa yang datang, jelas sekali ia terkejut, "Ibu?"

"Pagi, Sasuke" sapa ibunya hangat. Sasuke sendiri nampaknya mengabaikan sapaan hangat itu dan masih berkutat dengan keterkejutannya, "Ada apa,Bu?"

"Ah kau ini, biarkan ibu masuk dulu, dong" sahut ibunya ringan sambil memasuki apartemen, melewati Sasuke yang masih berdiri diambang pintu. Sasuke hanya bisa mengekor ibunya yang langsung melangkah menuju ruang tamu.

"Kurasa kakakmu sudah bicara padamu, ya? Tentang..." perkataan ibunya menggantung diudara saat suara spatula yang beradu dengan permukaan teflon terdengar dari arah dapur. "Kau sedang kedatangan tamu?"

Sasuke menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan ibunya. Mengapa keluarganya selalu berkunjung disaat seperti ini? "Iya, temanku,"

"Temanmu?" ulang ibunya ragu. Wanita itu baru akan melangkah kedapur saat wajah Sakura tiba-tiba muncul dari dapur sambil bertanya dengan nada ringan, "Sasuke? Siapa?"

Sakura dan ibunya berpandangan selama beberapa saat. Sasuke sendiri menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Ini ibuku"

Sakura beralih menatap Sasuke sekilas sebelum kembali menatap ibu Sasuke sambil membungkukkan badan, "Ah, selamat pagi,"

Ibu Sasuke juga melakukan hal yang sama; menatap anaknya sekilas sebelum membalas salam Sakura sambil tersenyum, "Selamat pagi"

-7-

Mikoto Uchiha menatap anak perempuan bermata hijau itu lekat-lekat. Ada apa hari ini? Semenjak anak bungsunya memutuskan pindah keapartemen, sesekali ia berkunjung kesini, dan selama itu pula ia belum pernah menjumpai teman Sasuke berkunjung kemari, hanya beberapa kali ia menjumpai beberapa orang berbaju hitam yang berkunjung, yang ia simpulkan sebagai rekan kerja Sasuke. Pekerjaan Sasuke memang membuat kehidupannya menjadi sangat terutup kepada dunia luar. Karenanya apa yang ia lihat hari ini benar-benar sesuatu yang menarik.

"Ia sedang menjengukku. Hari ini aku...agak tak enak badan," ujar Sasuke, tampak berusaha menjelaskan apa yang tengah terjadi. Menjenguk dan memasakkan sarapan, begitu? gumam Mikoto dalam hati sambil tersenyum. Sasuke pasti sedang menutupi sesuatu.

"Oh,,, kau kenapa, Sasuke? Ap... astaga!" ucapannya terpotong saat ia melihat perban yang melilit tangan kanan Sasuke dari siku hingga kebawah. Baru menyadari lebih tepatnya, karena sejak bertemu dipintu ia nampaknya terlalu terburu untuk masuk. "Tanganmu kenapa?"

"Ah itu..." Sakura baru akan mencoba menjelaskan saat Sasuke tiba-tiba memotong ucapannya, "Jadi aku terserempet truk dan saat itu Sakura kebetulan lewat dan menolongku"

Mikoto tahu benar ada sesuatu yang disembunyikan darinya, jadi daripada ia mendengarkan omong kosong Sasuke, ia melangkah mendekati Sakura sambil tersenyum, "Bagaimana jika kubantu kau memasak, Sakura?

-8-

Tadi Sasuke mandi dengan kecepatan penuh. Tidak tenang meninggalkan Sakura dan ibunya memasak berdua didapur. Alasan utamanya adalah ibunya pasti akan menanyai Sakura bermacam-macam hal dan ia sudah tahu benar bagaimana karakter ibunya.

Kini mereka sudah duduk berkeliling dimeja makan sambl menyantap tempura goreng dan semangkuk nasi hangat. Hening sejenak sampai ibunya memulai pembicaraan, "Aku baru tahu ternyata rasanya lebih nikmat jika menambahkan serbuk merica kedalam bumbu tempura,"

Sakura tertawa kecil, "Ah...aku mengetahuinya dari ibuku. Ibuku suka sekali memasak tempura"

"Tapi rasanya memang menjadi lebih enak. Kurasa nanti aku akan mencoba membuat ini dirumah," ujar ibunya lagi. Pembicaraan berlanjut seputar tempura dan makanan lain yang Sasuke tak mengerti. Sementara ia sendiri sedang berjuang setengah mati untuk bisa menyumpit nasi dengan tangan kiri.

"Mau kuambilkan sendok?"

Pertanyaan Sakura membuat sejumput nasi yang berhasil Sasuke sumpit kembali berbaur dengan kawanannya dalam mangkok. Sasuke mendengus. Ia benar-benar menyerah dengan tantangan menyumpit-dengan-tangan-kiri ini.

"Akan kuambil sendiri," ujar Sasuke. Namun bahkan ia belum sempat bangkit dari duduknya saat Sakura lebih dulu bangkit dan berjalan menuju dapur. Detik berikutnya ia berpandangan dengan ibunya yang tengah tersenyum jahil kearahnya. Pasti ibunya tengah berpikir yang tidak-tidak.

Tak lama sebuah sendok sudah disodorkan kearahnya. Setelah menggumamkan terima kasih akhirnya ia bisa mengakhiri penderitaannya menyumpit-dengan-tangan-kiri ini.

Berikutnya acara makan pagi dilanjutkan dengan bahasan seputar makanan yang sama sekali tak Sasuke mengerti.

-9-

Sakura sedang menaruh piring kotor di wastafel saat tiba-tiba merasakan sebuah tangan mengelus pelan punggungnya. Ia kaget karena sempat mengira Sasuke yang melakukannya, namun saat berbalik ia menjumpai ibu Sasuke sedang meletakkan tangan dipunggungnya sambil menaruh gelas diwastafel.

"Sejak kapan?"

Pertanyaan ibu Sasuke membuat Sakura mengerutkan kening, "Maksud Bibi?"

"Kau dan Sasuke"

Kerutan di kening Sakura bertambah, namun detik berikutnya ia segera mengerti. Selama ini yang ia pikirkan hanya ia, keluarganya, dan Sasuke, termasuk saat 'sandiwara' mereka dulu. Namun kali ini ia baru menyadari ada pihak lain yang terlibat disini. Bagaimana jika ibu Sasuke tahu jika anaknya tengah terlibat suatu sandiwara keluarga yang membingungkan? Oh tidak, tak perlu ada pihak lain yang tahu. "Oh astaga. Aku teman Sasuke. Hari ini aku bermaksud menjenguknya karena tangan kanannya terkilr dan tak bisa digerakkan". Akhirnya Sakura memutuskan untuk mengikuti skenario yang dibuat Sasuke tadi.

"Oh begitu rupanya...tapi aku senang ada anak perempuan yang main kesini," ujar ibu Sasuke sambil tersenyum. Sakura tak mengerti darimana asalnya ekspresi dingin Sasuke yang selalu dipamerkannya pada umum. Ibu dan kakaknya ramah sekali, meskipun garis wajah tegas terlihat dengan jelas diwajah kakaknya, namun tetap menampakkan keramahan. Atau mungkin Sasuke mewariskannya dari ayahnya?

Sakura hanya tersenyum. Saat tangan kanan wanita paruh baya yang masih berdiri disampingnya itu hendak meraih sebuah gelas diatas tumpukan piring kotor, Sakura mencegahnya, "Biar aku saja, Bibi"

Mata hitam wanita itu beralih pada Sakura, "Rasanya tidak sopan membiarkan tamu untuk mencuci piring. Biar aku saja, Sakura"

Sakura menggeleng sopan, "Tidak apa-apa. Aku saja,"

Alis wanita itu bertaut sebentar, "Ah benarkan? Baiklah. Maaf merepotkanmu," setelah itu ia menjauh dari wastafel beberapa langkah. Sakura sempat mengira ia akan menginggalkan dapur, namun tak lama wanita itu mendekatinya lagi.

"Kau rekan kerja Sasuke atau bukan?"

Sakura menoleh saat mendengar bisikan itu. Sakura sempat bertanya-tanya mengapa harus berbisik-bisik, namun ia melihat kearah ruang tamu dan segera melihat jawabannya; Sasuke sedang berjalan bolak-balik diruang tamu sambil sesekali melihat kearah mereka, tampak sedang mengawasi ibunya.

"Bukan." Ia tak tahu bagaimana menjelaskan pertemuannya dengan Sasuke dan apa Sasuke memperbolehkannya memberitahu yang sebenarnya atau tidak. Ia berharap ibu Sasuke tidak bertanya lebih jauh.

"Oh begitu..." ia mengangguk-angguk sambil bersandar di meja dapur. "Kau tahu? Aku terkejut saat mendapati ada anak perempuan main ke apartemennya. Karena dari dulu... ia tak pernah membawa teman perempuannya ke rumah atau ke apartemennya. Memang ada beberapa dalam kelompok belajarnya dulu, saat sekolah. Namun maksudku, dalam hal yang lain,"

Sakura menelan ludah. Pembicaraan ini menjurus kearah yang tidak ia inginkan. "Oh begitu..."

"Ya, dan...apa ia mengajakmu dalam sebuah hubungan serius?"

-10-

Mikoto mendengar suara pintu tertutup. Kemudian anak bungsunya muncul dari lorong depan menuju ruang tamu, tempat dimana ia sedang duduk bersedekap diatas sofa.

"Ibu baru tahu kau sudah punya pacar," perkataan Mikoto memancing kerutan dikening Sasuke.

"Siapa yang berteori seperti itu?"

"Bukannya menurutmu teori itu tak penting, tapi fakta yang lebih penting?" ujar ibunya lagi, sebuah senyum tipis terukir dibibirnya. "Ia gadis yang manis, Sasuke. Dan...hangat"

"Astaga ibu..."

"Bisa mengimbangimu yang selalu bersikap dingin," Ibunya berkata dengan ekspresi biasa saja, tak tahu jika sedaritadi Sasuke terus mengerutkan kening bingung. "Sudah berapa lama, Sasuke?"

"Astaga... ibu sudah menanyainya bukan? Dia teman..."

'Ah itu pasti ulahmu yang tak memperbolehkannya menceritakan yang sebenarnya pada ibu. Memangnya kenapa sih kau tak memberitahu ibu saja?" perkataan ibunya membuat Sasuke memijat keningnya dengan tangan kiri. Setelah kakaknya, kini giliran ibunya yang menyusahkan.

"Dia. Temanku. Oke? Sekarang ibu tak usah berteori macam-macam. Nah sekarang, ada apa tadi ibu datang kemari?" Sasuke berharap ibunya mengingat tujuan awalnya kesini dan bisa mengalihkan topik pembicaraan. Namun nampaknya ibunya sudah tak memperdulikan tujuan utamanya lagi.

"Sejak kapan kau mengenalnya?"

Oke. Kini Sasuke akan mengenyahkan ide tentang mengalihkan perhatian tadi. "Memangnya kenapa, sih?"

"Kau bukan anak kecil lagi, Sasuke. Jangan berkelit macam-macam. Ibu tahu..."

"Dia yang menolongku saat itu." Potong Sasuke cepat. Setelah mendengarnya mata Mikoto melebar. "Ia yang menemukanku sekarat dan memberikan pertolongan pertama dilokasi. Dia yang memanggil ambulans dan membawaku ke rumah sakit,"

Punggung Mikoto menegak, "Mengapa kau tak bilang daritadi?"

"Ibu baru menanyakannya sekarang, bukan?"

"Maksudku... astaga. Selama ini aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Tapi dia tak pernah muncul di rumah sakit saat itu," ujarnya. "Bagaimana... astaga, tidakkah kau mau menjelaskan semuanya pada ibu?"

Sasuke menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Apa lagi yang mau ibu tanyakan?"

"Kau sudah berterimakasih padanya?"

"Tentu saja. Saat itu aku mengatakan pada perawat ingin bertemu dengan orang yang menolongku, dia datang sebentar disiang hari saat ibu sedang pulang untuk berganti pakaian. Ia menemuiku di kamar perawatan." Lanjut Sasuke setelah memutuskan menceritakannya pada ibunya. Bukankah tak ada pilhan lain?

"Jadi...sejak saat itu kalian berhubungan?"

"Oh astaga. Jangan membuatnya terdengar begitu dramatis. Dia hanya...sedang memiliki masalah dan aku mencoba membantunya,"

Mikoto mengangguk-angguk, "Well, apapun itu, ibu ingin bertemu dengannya lagi untuk mengucapkan terima kasih."

Sasuke mengembuskan napas lega. Akhirnya sesi tanya-jawab-bersama-ibu berakhir juga. Setidaknya ibunya tak mengajukan pertanyaan seperti masalah apa? Atau bantuan macam apa? "Baiklah. Lain kali saja,"

"Nah, sekarang bisa kau jelaskan mengapa tanganmu bisa sampai seperti itu?"

oh, nampaknya ini belum berakhir.

-11-

"Apa kabar tanganmu?"

Sasuke mendongak dan mendepati Hyuuga Neji memasuki ruangan. Mereka bertukar senyum sekilas. "Baik. Sudah bisa digerakkan,"

"Jadi bagaimana bisa seorang Agen Uchiha tertabrak truk? Kau sedang melindur atau apa?" tanya Neji lagi, Sasuke tertawa.

"Well, itu hanya kecelakaan biasa. Tak perlu dirisaukan. Nah sudah sampai mana penyelidikannya?"

"Kemarin kami hanya menyelidiki apa yang ada di markas mereka. Sidik jari, berkas-berkas dan lain lain. Dan anggota mereka yang kita tahan kemarin tak mau buka mulut sedikitpun."

"Yahhh... seperti itulah..anggotanya lebih memilih mati daripada buka mulut. Juugo sudah menentukan langkah selanjutnya?" Sasuke meraih salah satu map yang terbuka dimeja. Membuka-buka isinya sekilas, kemudian menaruhnya lagi dimeja.

"Belum. Menurutku...kasus ini berjalan lambat sekali. Data yang kita kumpulkan tak membawa banyak kemajuan. Dan hebatnya tak satupun dari anggota mereka yang tertangkap polisi, padahal korban kejahatannya tak terhitung. Mereka pandai sekali menghapus jejak." Komentar Neji, Sasuke hanya mengangguk-angguk.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi tepat namun anggota tim lain tak kunjung datang. Kemana saja mereka?

Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok besar Juugo yang mengenakan kemeja biru dengan lengan tergulung hingga siku. Alih-alih mengucapkan selamat pagi, ia langsung menyerbu masuk ruangan dengan tergesa, "Kalian sudah melihat televis?"

"Ada apa di televisi? Gosip selebriti?" tanya Neji cuek. Juugo mengembuskan napas berat sambil bertolak pinggang, "Bank Amayuuki dirampok semalam, salah seorang penyidik DIH yang datang kesana mengatakan Sumiyoshi-kai terlibat dalam perampokan ini..."

"Karena mereka merampok tanpa jejak?" tanya Sasuke, memotong ucapan Juugo. Juugo kemudian memandangnya sambil mengangguk, "Tepat sekali"

Berikutnya Sasuke mengempaskan punggungnya kesandaran kursi sambil mengembuskan napas keras-keras.

-12-

Sakura tengah duduk sambil memandangi beberapa bungkus obat yang berceceran diatas meja. Juga ada segulung perban dan plester. Kemarin ia benar-benar lupa Medical Centre memberikan Sasuke beberapa jenis obat untuk penghilang rasa sakit dan membantu penyembuhan luka dari dalam, juga perban untuk membalut tangan kanannya yang terkilir. Dan hingga saat ini Sasuke belum meminum satupun obat ini karena kemarin ia lupa memberikannya pada pria itu.

Jadi kemarin setelah perbincangannya dengan ibu Sasuke didapur, Sasuke menanyakan padanya apa saja yang ibunya tanyakan. Tak lama setelah itu ia pamit pulang karena tak ingin mengganggu momen ibu-dan-anak yang nampaknya akan membicarakan hal serius. Dan ia pulang dengan obat-obatan masih tersimpan dalam tasnya.

Sedari tadi ia mencoba menghubungi Sasuke namun teleponnya tak kunjung diangkat. Namun ia harus segera mengatarkan obat-obatan ini dan juga perbannya. Apa jangan-jangan Sasuke tak punya perban di rumah dan tak menggantinya sejak kemarin?

Maka untuk ketujuh kalinya Sakura mencoba menghubungi pria itu lagi,dan ternyata kali ini usahanya tidak sia-sia,

"Halo? Sakura?" Suara dingin itu menyapanya dari seberang sana.

"Ah Sasuke, maaf mengganggumu, aku lupa jika dokter yang menanganimu di Medical Centre memeberimu resep obat-obatan. Dan obatnya masih ada padaku, kemarin aku lupa memberitahumu." Jelas Sakura panjang lebar. "Oh begitu...besok kumbil saat istirahat,"

"Tidak-tidak, kuantarkan saja kesana. Kau jam berapa ada di apartemen?" Sakura merasa bersalah karena obat itu terlambat diminum akibat ulahnya, maka ia harus bertanggungjawab, bukan?

"Mm...pukul 8? Ya, pukul 8 malam nanti aku sudah sampai dirumah. Atau aku saja yang akan mengambilnya kerumahmu?"

Dan orangtuaku akan bertanya macam-macam lagi, begitu? Tidak,tidak. Lebih baik ia yang pergi, "Tidak usah. Aku yang akan kesana."

Hening sejenak sebelum Sasuke menjawab, "Baiklah,"

-13-

"Semua agen diperintahkan untuk kembali ke mobil. Sekali lagi, semua agen diperintahkan untuk kembali ke mobil. Konfirmasi?"

Setelah mendengar suara Juugo melalui earphone yang terpasang ditelinganya, Sasuke segera melesat menuju mobil berlabel kantor pos Jepang yang terparkir diseberang jalan. Setelah masuk kedalam mobil ia mengonfirmasi, "Agen S sudah di posisi,"

Ia mengatur napas sejenak. Tim mereka akhirnya terjun ke TKP; Bank Amayuuki yang baru saja kerampokan. Dan ternyata memang benar, Sumiyoshi-kai adalah dalang dari perampokan ini. Mereka memang terlambat menyelidiki namun setelah mengikuti jejak dan menyelidiki TKP, mereka mendapat petunjuk dan menemukan rumah kosong yang dijadikan sarang para perampok sebelum melakukan perampokan malam tadi. Alhasil setelah melakukan baku tembak yang sengit, mereka berhasil menahan seorang anggota Sumiyoshi-kai lagi. Berarti ada satu lagi kemajuan.

Beberapa detik kemudian, Temari dan Neji menaiki mobil bersamaan, berikutnya Neji menutup mobil sambil melapor, "Team Completed. Siap berangkat."

Mobil mulai melaju, ketiga agen yang duduk di bangku belakang bersandar sambil terengah-engah, lelah setelah menjalankan misi mereka hari ini.

"Dimana Juugo?" tanya Iruka yang memegang kemudi. Temari melihat kearah Iruka melalui kaca mobil, "Di mobil G, bersama tahanan,"

iruka hanya mengangguk-angguk. Disamping Sasuke, Neji tampak sedang melepas sarung tangan hitamnya untuk melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Melihat arloji Neji, Sasuke seolah mengingat sesuatu, "Jam berapa sekarang?"

"Pukul 8 lewat lima,"

Sasuke mengempaskan punggung ke sandaran jok. Ia baru ingat ia memiliki janji jam 8 tepat. Dan sekarang ia tak mungkin tiba diapertemen dalam waktu sepuluh menit dan juga tak memegang ponsel untuk mengabari. Apa kini Sakura tengah berdiri manis didepan pintu apartemennya?

-14-

Sejak siang Mikoto terus mengutuki dirinya yang melupakan tujuan utamanya mengunjungi apartemen Sasuke kemarin. Kemarin ia terlalu bersemangat menginterogasi Sasuke tentang gadis berambut merah jambu bernama Sakura itu. Tentu saja Mikoto bersemangat menggoda anaknya karna kasus ini jarang sekali terjadi, atau mungkin tidak pernah. Kini ia tahu anak bungsunya bisa menjadi normal juga.

Kini ia sedang mengemudi dibawah langit Tokyo yang mendung. Berniat mengunjungi Sasuke lagi untuk menanyakan keikutsertaan anak bungsunya dalam perjalanan liburan mereka ke Venezia tahun depan. Memang masih lama. Tetapi kantor suaminya membutuhkan kepastian segera mengenai siapa saja peserta yang akan ikut.

Rintik hujan mulai jatuh membasahi kaca depan mobilnya. Makin lama makin deras sehingga Mikoto mempercepat laju mobilnya agar saat hujan deras nanti ia sudah sampai di apartemen. Dan usahanya tidak sia-sia, karena tepat setelah dirinya memarkirkan mobil di basement apartemen anaknya, diluar sana gerimis sudah berubah menjadi hujan angin. Ia merapatkan jaketnya dan segera bergegas menaiki lift. Berharap secepat mungkin mendapatkan kehangatan.

Lift terbuka dan ia telah sampai di lorong tempat kamar Sasuke berada. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis berambut merah muda tengah berdiri disebuah kamar, ia memicingkan matanya dan segera mengenali gadis yang ternyata sedang berdiri didepan pintu kamar anaknya,

"Sakura?" tanyanya setelah jarak mereka terpaut dekat. Gadis itu segera menoleh kearah Mikoto, matanya sempat terbeliak terkejut, namun ia segera tersenyum, "Ah Bibi,"

"Mengapa diluar? Apa Sasuke belum pulang?" tanya Mikoto sambil melihat kearah pintu yang tertutup rapat. Sakura mengangguk, "Nampaknya begitu, sebelumnya aku sudah meneleponnya untuk menanyakan jam berapa ia ada disini dan ia mengatakan jam delapan, namun hingga kini ia tak kunjung datang. Ponselnya juga tak aktif,"

Mikoto menaangguk-angguk, tahu benar Sasuke tak pernah memegang ponsel pribadi saat betugas, namun gadis ini nampaknya belum tahu, "Dia pasti masih bertugas... ah padahal aku ingin bicara dengannya." Mikoto kemudian melirik arlojinya sekilas, "Dan apa kau sudah menunggu disini selama lima belas menit?"

Sakura mengangguk. Mikoto segera mengerutkan kening, "Astaga, pria macam apa yang membiarkan perempuan menunggu selama itu? Ah aku tidak tega membiarkanmu menunggu disini, kau lebih baik pulang saja, Sakura, ini sudah malam"

"Ah tidak apa-apa,,, iya, aku memang berencana untuk pulang. Bagamana dengan Bibi?" tanya Sakura sopan.

Tepat setelah itu terdengar suara halilintar yang menggelegar memekakkan telinga. Mikoto menutup telinganya dengan telapak tangan, begitu juga dengan Sakura.

"Lebih baik jika kita pulang sekarang, Sakura," ujar Mikoto setelah gemuruh dilangit mereda. Sakura mengangguk, kemudian keduanya melangkah menuju lift.

"Kau pulang dengan siapa?"

Sakura menekan tombol lift kemudian menjawab, "Sendiri,"

"Kau membawa kendaraan?"

"Tidak. Aku naik bus,"

Alis Mikoto meninggi setelah mendengar perkataan Sakura, "Anak perempuan malam-malam begini pulang sendirian dengan bus sementara diluar sana ada badai? Oh tidak, Sakura. Aku akan mengantarkanmu kerumah,"

"Bibi, tidak usah. Aku membawa jas hujan dan aku akan baik-baik saja. Aku sering pulang menggunakan bus," tolak Sakura dengan halus. Namun Mikoto menggeleng-geleng, "Tidak, hujannya disertai badai. Bahkan aku yakin beberapa bus memlilih berhenti sejenak menunggu badai ini selesai. Aku akan mengantarmu, ayolah, aku tidak sedang buru-buru,"

"Tidak usah, Bibi... aku akan merasa merepotkan Bibi,"

"Sama sekali tidak merepotkan,"

"Ah tidak usah,"

Mikoto menatap Sakura sebentar, "Kalau begitu bagaimana jika kau izinkan aku mengantarmu ke rumah sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa Sasuke?"

-15-

Badai bahkan belum berhenti saat Alphard ibu Sasuke berhenti didepan pagar rumah Sakura. Sakura melihat keluar jendela dan mendapati badai malah bertambah besar, jalanan yang mereka lalui tadi pun sangat licin dan menakutkan, ditambah kegelapan malam dan gemuruh petir yang seakan memperburuk suasana.

"Bibi sebaiknya berteduh dulu didepan rumah, badainya besar sekali. Jalanan akan semakin licin setelah ini, setidaknya sampai hujannya agak mereda," tawar Sakura. Wanita yang duduk dibalik kemudi nampak berpikir sejenak, "Hmm... tidak apa-apa?"

"Tentu saja tidak, dirrumah hanya ada aku dan ibuku, ayahku lembur malam ini, mobil ini sebaiknya dimasukkan kedalam garasi saja," ujar Sakura. Tepat setelah itu pintu pagar rumah terbuka menampilkan ibu Sakura yang tengah melambai-lambaikan tangan kearah mereka, memberi sinyal untuk masuk.

Tak lama kemudian mereka sudah duduk diruang tamu rumah Sakura sambil menyeruput coklat hangat. Setelah perkenalan singkat ala ibu-ibu, entah mengapa mereka bisa akrab dengan cepat. Lebih tepatnya setelah Sakura mengenalkan ibu Sasuke pada ibunya, ibunya dengan ramah membawa mereka masuk kerumah dan segera menyuguhkan coklat hangat. Kini mereka sedang bertukar obrolan tentang bagaimana ibu Sasuke mengajak Sakura pulang bersama karena badai, hingga ibunya melaporkan bahwa Sasuke sering mengantarkan Sakura pulang ke rumah sepulang kerja. Dan oh...sungguh ibu-ibu ini...

Sementara Sakura hanya menimpali obrolan mereka sesekali. Ia menggigir bibir, merasa bosan. Berkali-kali ia melirik ponsel yang tergeletak dimeja, berniat menelpon Sasuke bahwa obatnya masih ada padanya dan mungkin besok ia akan mengantarkannya lagi ke apartemen Sasuke. Namun niat itu diurungkannya. Ibu Sasuke sendiri nampaknya sudah tak peduli lagi kapan anaknya pulang karena terlalu asyik berbincang dengan ibunya.

"Ah, aku permisi dulu sebentar," Sakura berdiri lalu membungkuk sedikit saat berjalan melewati kedua ibu.

"Sakura, tolong ambilkan kue keju dalam toples didapur, ya." Ujar ibunya sebelum Sakura meninggalkan ruang tamu. Sakura hanya mengangguk sekilas kemudian berlalu.

Sesampainya didapur ia mengambil toples yang dimaksud dengan gerakan lambat. Mengulur waktu agar bisa menghidari obrolan ibu-ibu yang membosankan itu lebih lama. Dengan langkah gontai ia kembali menuju ruang tamu, namun sesaat sebelum ia benar-benar sampai di ruang tamu, Sakura mendengar suara obrolan mereka menjadi rendah, atau sengaja direndahkan? Entahlah, yang jelas Sakura menjadi penasaran tentang apa yang mereka obrolkan karena ia malah menguping dibalik tembok ruang tamu hingga bisa mendengar suara mereka yang direndahkan.

"...yang aku tahu Sakura menolongnya saat Sasuke terkena tembakan mematikan dibagian dada. Jika pertolongan terlambat sedikit saja, maka Sasuke takkan selamat," suara ibu Sasuke.

"Begitu? Astaga, Sakura tak memberitahuku apa-apa tentang itu..." suara ibunya.

"...ya, aku juga. Karena sebelumnya Sasuke tidak pernah membawa perempuan ke rumah"

"Ya, berkali-kali kulihat Sasuke mengantarkan Sakura sepulang kerja..."

"Oh ya? Aku tidak permah tahu..."

"Begitu? Jadi Sasuke jarang bercerita kepada keluarganya?"

"Ya begitulah. Ia sangat sibuk bekeja..."

"Kalau begitu apa kalian tahu bahwa Januari kemarin Sasuke datang kesini dan melamar Sakura?"

Sakura nyaris menjatuhkan toples yang ia genggam seandainya ia tak menggenggamnya kuat-kuat. Astaga, bagaimana...

-16-

Lift berdenting dan tak lama pintunya terbuka. Menampilkan lorong panjang terang benderang yang sepi. Sasuke melangkah keluar dari lift sambil melirik arlojinya sekilas. Pukul 09.15. Sudah malam, Sasuke tengah menimbang-nimbang apakah Sakura sudah tidur atau belum karena ia akan meneleponnya untuk mengajukan maaf akibat janjinya yang tak ia tepati. Namun akhirnya ia mencoba meneleponnya. Siapa tahu gadis itu masih terjaga.

Tangan kiri Sasuke menempelkan ponselnya ke telinga, sementara tangan kanannya membuka kunci apartemen. Teleponnya belum diangkat bahkan saat ia sudah sampai diruang tamu apartemennya, namun tak apa, ia akan menunggu sebentar lagi,

"Sasuke?"

Sebuah suara perempuan menyapanya, namun Sasuke tahu benar ini bukan suara Sakura. Lalu siapa? "Ya? Ini siapa?"

"Oh? Kau tak hapal suara ibumu sendiri, ya?"

Sasuke membelalakkan mata saat mendengarnya. Apa... "Ibu? Apa yang sedang ibu lakukan? Ibu dimana?"

"Ibu sedang dirumah Sakura. Simpan pertanyaanmu dulu untuk nanti, kau sudah pulang?" tanya Ibunya santai.

"Sudah. Dimana Sakura? Mengapa ibu..."

"Baiklah, tunggu ibu disana. Sebentar lagi ibu akan ke apartemenmu." Dan telepon ditutup. Menyisakan sejuta pertanyaan dibenak Sasuke.

Karena lelah, Sasuke menghempaskan diri diatas sofa, kemudian menarik napas dalam-dalam. Mengapa masalah ini malah semakin rumit dengan terlibatnya para orangtua?

-17-

Melamar? Anaknya melamar gadis dan ia tidak dibeitahu? Apa-apaan ini? Apa yang dipikirkan anak bungsunya, sih? Namun jika ia menjawab 'tidak tahu' maka ibu Sakura akan menganggap Sasuke sedang mempermainkan anaknya. Maka kali ini ia memutuskan pura-pura tahu dan pulang nanti ia akan menginterogasi Sasuke habis-habisan, "Oh, masalah itu tentu saja aku tahu. Namun aku belum bicara serius tentang rencana pastinya. Tapi untuk melangkah ke jenjang ini...apa Sakura sudah siap?"

"Entahlah, aku sendiri belum menanyainya. Mungkin nanti..."

Ucapan ibu Sakura terinterupsi suara ponsel yang tergeletak diatas meja. Keduanya melirik ponsel itu bersamaan. "Ponsel Sakura?"

Ibu Sakura mengangguk. Jeda sejenak sebelum Mikoto dengan iseng melihat seksama kearah layar ponsel dan mendapati nama anaknya muncul di display layar. Sasuke yang menelepon?

Ia melirik kearah dalam rumah sebentar, setelah beberapa detik Sakura tak muncul juga, ia kemudian meraih ponsel itu dan mengangkat telepon.

"Sasuke?"

-18-

Sasuke menutup pintu apartemennya, kemudian mengekor ibunya yang lebih dulu melangkah kedalam. Ia mendapati ibunya tengah melepas mantel tebal yang tadi ia gunakan.

"Badainya besar sekali." Komentarnya. Namun Sasuke mengacuhkannya karena terlalu penasaran, "Tadi ibu kerumah Sakura?"

Ibunya menatapnya, "Iya, ibu juga berbincang dengan ibunya. Dan saat kau menelepon, Sakura sedang mandi jadi ibu yang mengangkat teleponmu,"

Berbicara dengan ibu Sakura? Jangan-jangan... "Apa yang ibu lakukan disana?"

"Apa yang ibu lakukan disana katamu? Bu baru saja mengantarkan pulang anak perempuan yang telah berdiri selama lima belas menit didepan pintu apartemenmu," ujar ibunya tajam. Sasuke terbelalak, sudah ia duga Sakura akan menunggunya dalam waktu yang lama.

"O-oh...begitu. Mau bagaimana lagi? Aku tak tahu jika tugasku tadi akan selama itu, dan kupikir ibu sudah tahu jika aku tak diizinkan memegang ponsel pribadi saat tugas," Sasuke mencoba membela dirinya dari dari ibunya yang nampaknya sedang kesal.

"Iya, ibu tahu,"

"Ibu bicara dengan ibu Sakura?"

'Ya,"

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Apa kau harus tahu?" semprot ibunya. Sasuke hanya menelan ludah. Tentu saja aku harus tahu, karena bisa bahaya jika mereka bercakap macam-macam, batin Sasuke. Tapi tentu saja ia tak benar-benar mengatakannya.

"Aku hanya bertanya. Ibu tak usah marah seperti itu,"

Ibunya hanya diam sambil bersedekap. Sasuke tahu ibunya masih menyimpan sesuatu, tapi ia takkan menanyakannya dan memilih menunggu ibunya mengatakannya langsung.

Sasuke bergerak kedapur untuk mengambil minum. Dari ekor matanya ia bisa melihat ibunya masih mengawasinya dengan tatapan tajam. Bahkan sampai ia kembali keruang tamu dan duduk diatas sofa pun, ibunya masih memandangnya tajam. Ada apa sih?

"Nampaknya kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu,"

Akhirnya ibunya bicara juga, "Tidak. Mengapa?"

"Kau yakin?"

"Yakin." Jawab Sasuke tegas. Walau sebenarnya ia berbohong.

"Jika kau tak menyembunyikannya maka kenapa ibu baru tahu bahwa anak bungsu ibu telah melamar seorang gadis dua bulan lalu?"

Sasuke tersedak air mineral yang tengah ia tenggak. Terbatuk-batuk sebentar sebelum terbelalak menatap ibunya. Hal yang paling ia takutkan terjadi. Dan...ia samasekali belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini. Ia sudah menghadapi ayah Sakura dan mengatakan akan menunda pernikahan karena putrinya sendiri belum siap. Tapi bagaimana ia menghadapi orangtuanya sendiri?

"Jangan-jangan kau..." lanjut ibunya. Sasuke sendiri belum menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan "...sudah berbuat macam-macam pada gadis itu, ya?"

"Astaga ibu! Tidak, aku tidak seperti itu. Aku hanya..." dan sekarang ia malah dituduh macam-macam oleh ibunya sendiri? "Hanya belum mengatakannya pada ibu,"

"Tidak. Alasanmu tak masuk akal, Sasuke. Normalnya kau bicarakan dulu dengan ibu dan ayah dulu. Ini pernikahan! Kau jangan main-main dengan hal ini," tegas ibunya. Sasuke meneguk ludah. Ya, ia memang telah menjadikan motif pernikahan sebagai sebuah jalan mengakhiri permasalahan. Dan ia baru tahu kini ia terlibat permasalahan baru yang rumit. Bukankah niatnya semula baik? Jika ia tak datang hari itu maka Sakura kini telah menjadi istri seorang penjahat berdarah dingin. Bisa bayangkan?

"Baik. Maafkan aku karena tak memberitahu yang sebenarnya." Ujar Sasuke akhirnya. Meski ia tahu benar ibunya takkan puas hanya karena sebuah permintaan maaf.

"Ceritakan dari awal, Sasuke."

Oh tuhan, apa lagi kali ini? "Apa lagi yang harus kuceritakan?"

"Semuanya! Sejak pertemuan pertamamu denagn Sakura. Semuanya. Semua yang tak ibu ketahui," ujar ibunya tajam. Jika sudah begini maka Sasuke tak punya pilihan lain, bukan?

Siapa saja yang tahu hal ini? Juugo? Lalu? Tak ada lagi, bukan? Baiklah, ibunya akan menjadi orang kedua yang tahu sandiwara ini. Dan ia akan membujuk ibunya untuk merahasiakan ini dari ayahnya.

"Baiklah, baiklah. Akan kuceritakan. Asalkan ibu berjanji takkan mengatakan tentang ini sedikitpun pada ayah?"

"Mengapa tidak?"

"Oh ibu, ayolah. Ayah sangat..."

"Baik, baik, ibu mengerti."

"Berjanji tidak?" Sasuke ingin memastikan lagi.

"Ibu berjanji,"

Dan setelah itu Sasuke menceritakan tentang apa yang terjadi pada delapan belas Januari. Saat ia datang kerumah Sakura untuk pertama kalinya.