Sebuah Keterbukaan


"Sudah kuduga kita tak dapat menyimpan ini hanya untuk kita berdua. Sedikit demi sedikit orang lain akan tahu hubungan kita, bagai mayat yang disimpan lama, suatu saat baunya 'kan muncul juga. Lalu, bagaimana cara kau menyikapi ini semua?"

Sasuke terus memejamkan matanya. Ia lelah. Ia butuh tidur. Ia mau pulang sekarang juga, jika tidak ia akan tidur disini sebentar lagi. Sebuah getaran ponsel menginterupsi khayalan Sasuke tentang tidur dan rumah, ia membuka matanya sedikit dan segera merogoh sakunya. Saat membaca nama Sakura dilayar ponselnya, barulah Sasuke membuka matanya secara penuh.

"Halo?"

"Ah, Sasuke, apa kau sedang sibuk?" tanya gadis itu ragu. Sasuke segera menjawab, "Tidak, ada apa?"

"Apa hari minggu pekan depan kau ada acara?" tanyanya lagi. Pertanyaannya salah. Seharusnya Sakura bertanya apakah hari minggu pekan depan ia akan bekerja, bukan ada acara. Karena ia hampir tak pernah memiliki acara apapun, dan tidak setiap hari libur ia libur bekerja juga.

"Tidak ada, mengapa?" Yah, Sasuke harap minggu depan ia bisa menyisihkan waktunya selama beberapa jam.

"Ah...mmm...nenekku mengundangmu ke acara ulangtahunnya. Apakah kau bisa ikut?"

Apa katanya? Pesta ulangtahun neneknya? Sasuke bersumpah seumur hidup neneknya tak pernah merayakan pesta ulangtahun. "Ya, bisa saja. Jam berapa?"

"Jam tujuh malam, bagaimana?"tanya Sakura ragu. Sasuke masih tidak fokus membayangkan seorang nenek merayakan pesta ulangtahunnya, jadi ia tidak begitu menanggapi perkataan Sakura berikutnya dan hanya membalas sekenanya, "Ya, bisa. Aku akan menjemput ke rumahmu pukul tujuh kurang."

Setelah itu Sakura mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Bahkan setelah telepon ditutup, Sasuke masih bertanya-tanya mengapa nenek Sakura sempat-sempatnya merayakan pesta ulang tahun. Baru ketika ia memasukkan ponselnya ke saku, Sasuke berhasil mencerna soal ajakan itu. Apa nenek Sakura mengenalnya?

-1-

"Brengsek!"

Kabuto membanting sebuah ponsel keatas meja. Jelas sekali ia sedang marah besar. Berikutnya ia berjalan bolak-balik disamping meja besar yang berantakan. Kemudian dengan suara lantang ia bertanya dengan emosi, "Bagaimana itu bisa terjadi?"

Pertanyaan itu hanya menggema diruangan, karena tak seorangpun yang berani menjawabnya. Lima orang lain penghuni ruangan itu hanya membisu sambil menatap kosong. Hanya sibuk dengan deru napas masing-masing.

"Jawab!"

Hening lagi selama dua detik, sebelum akhirnya salah seorang diantara mereka berani angkat bicara, "Ada pihak lain yang ikut menyelidiki selain polisi,"

"Para inteljen brengsek itu?" sembur Kabuto. Seorang pria berambut kuning terang yang sedari tadi berdiri menghadap jendela berbalik kearah Kabuto sambil menjawab, "Kurasa kau sudah tahu jawabannya,"

"Oke..jadi mereka serius mau berurusan dengan kita rupanya. Jadi Kinkaku dan Deidara juga bukan ditahan oleh polisi? Tapi oleh mereka?"

"Bingo."

"Brengsek!" kali ini Kabuto meninju meja dengan keras sampai beberapa barang diatas meja jatuh berserakan.

"Sampai kapan kau akan menghancurkan barang-barang? Dengar, setelah Bos tahu kau sudah pulih, ia memerintahkan kami melapor padamu apa saja yang terjadi selama kau dirumah sakit. Dan kami harap kau memberikan solusi, bukannya malah menghancurkan barang," komentar Konan, satu-satunya perempuan diruangan itu. Kabuto hanya melirik Konan sekilas. Setelah itu kemarahannya sedikit mereda, kemudian ia duduk sambil menatap kelima temannya bergantian, "Baiklah, berapa hasil yang kita peroleh dari perampokan bank kemarin?"

"500 juta yen," jawab Konan.

"Dan kita kehilangan 5 anggota? Menurutmu jika kita beraksi lagi kita akan kehilangan berapa orang lagi?" tanya Kabuto sarkastik. Lagi-lagi hening, dan untuk kedua kalinya si rambut kuning yang pertama menjawab. "Entahlah. Bergantung strategi macam apa yang digunakan."

Kabuto terdiam sejenak, nampak menimbang-nimbang. Si rambut kuning menimpali lagi, "Selama ini kita selalu beraksi dengan beberapa anggota saja. Menurutmu bagaimana jika semua anggota terjun ke lapangan?"

Mata Kabuto melebar, "Semuanya? Kuharap kau tak sedang bergurau, Yahiko."

"Oh tentu saja tidak. Kau lihat? Polisi baru tiba saat kita sudah selesai merampok dan menghapus jejak sampai tamat. Hingga mereka berhasil dikecoh. Namun nampaknya kita tak berhasil mengecoh para inteljen brengsek itu, bukan?" jawab Yahiko. Kabuto mengernyit, "Ya, lalu?"

"Kita turunkan semua anggota pada misi berikutnya, kita habisi mereka,"

"Maksudmu kita lawan para inteljen itu?" kali ini Konan yang bertanya. Yahiko mengangguk. "Bagaimana, Kabuto? Oh, atau kau takut melawan mereka?"

"Tidak! Aku tak takut pada siapapun. Boleh juga rencanamu, Yahiko. Akan kusampaikan pada Bos," ujar Kabuto sambil bangkit dari kursinya. "Baiklah, aku akan mengurusi yang lain dulu,"

Yahiko bertanya, "Yang lain?"

"Yap. Aku punya pekerjaan yang lain." Ujar Kabuto ringan sambil mengeluarkan ponselnya.

"Wah, apa itu?"

Kabuto menyeringai sekilas kearah Yahiko, "Meneror gadis nakal yang membawa kita bertemu para inteljen brengsek itu,"

-2-

Dua belas kali.

Sakura melirik layar ponselnya. Disana muncul sederet nomor tak dikenal yang sudah meneleponnya sebanyak dua belas kali malam ini. Dan ini sudah berlangsung selama seminggu. Ia sudah mencoba mengganti nomor ponselnya, namun usahanya tak berhasil. Telepon aneh itu terus mengganggunya.

Sebenarnya ia bisa saja mematikan ponselnya saat tidur. Namun ia tak mungkin mematikan ponselnya seharian karena ia juga memerlukannya. Tak hanya telepon ke ponsel, telepon rumahnya juga demikian. Berdering setiap jam satu malam dan hanya terjadi pada telepon di kamarnya. Sakura sudah mencabut semua kabel telepon di rumah ini dan alhasil ayahnya marah akibat ulahnya, katanya teman-temannya tak bisa menghubunginya jika terus menerus dicabut. Lalu mau bagaimana lagi?

Dan Sakura pun tahu siapa dalang dibalik semua teror ini.

Pernah suatu ketika ada klakson mobil terus dibunyikan didepan rumahnya saat sedang ia sendirian dirumah. Juga teror-teror tak masuk akal lain yang terus mengganggunya. Tak masuk akal? Namun buktinya teror-teror ini berhasil membuatnya tak bisa tidur selama beberapa hari.

Lagi pula apa yang bisa ia perbuat? Melapor pada polisi? Sementara polisi saja tak bisa menangkap mereka. Atau belum bisa? Entahlah, yang jelas Sakura yakin melapor pada siapapun takkan membantu menyelesaikan masalahnya.

Bagaimana dengan Sasuke?

Berkali-kali gagasan itu muncul dibenak Sakura. Namun gadis itu tak mau menyusahkan Sasuke lagi. Setelah tragedi pagi konyol yang membawa petaka; berujung dengan terkilirnya tangan Sasuke dan...pertemuan dengan ibu Sasuke. Yang disusul dengan pertemuan ibunya dan ibu Sasuke, dan... Oh sudahlah.

Sakura memejamkan matanya rapat-rapat. Mengutuk semua masalah yang berputar-putar dibenaknya selama beberapa bulan ini. Masalah yang semakin hari semakin rumit. Ditambah lagi dengan teror tak masuk akal ini. Ia tak menyangka panggilan telepon dan suara-suara klakson itu bisa memengaruhi psikologisnya separah ini. Hingga membuat lingkaran hitam dibawah matanya semakin tebal, akibat tidurnya yang seringkali tak nyenyak. Atau bahkan tak tidur sama sekali.

Layar ponselnya menyala lagi. Masih dari nomor yang sama, dan jika Sakura mem-block nomor ini, nomor yang lain akan meneleponnya lagi, dan begitu seterusnya, hingga ia memutuskan untuk hanya me-mute ponselnya untuk mengurangi polusi suara.

Lagi pula apalagi yang bisa ia perbuat?

Maka karena terlampau lelah Sakura mengempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya, menghela napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata sambill berdoa semoga ia bisa tidur nyenyak malam ini.

-3-

Sasuke menginjak rem mobilnya seraya mengembuskan napas lega. Akhirnya ia bisa makan juga setelah lembur semalaman. Malam tadi sebuah toko kimia besar dirampok, dan masalahnya tak sampai disitu, si perampok melepaskan tembakan membabi buta kearah salah satu karyawan toko dan salah satu pelurunya mengenai tempat penyimpanan Heptanitrocubane1konsentrasi tinggi yang berakhir dengan sebuah ledakan besar yang memakan korban jiwa. Polisi, tentara,pemadam dan lain lain turun ke TKP, termasuk DIH, namun DIH tak bertugas mengurusi kekacauan dan korban-korban, tapi mengumpulkan bukti untuk mengejar pelakunya. Meskipun sekarang penyelidikan belum sampai kesana.

Sasuke keluar dari dari mobil dan memasuki minimarket yang terletak didepan kepolisian pusat. Sasuke sedang menimbang-nimbang apakah akan membeli sandwich isi daging atau keju saat terjadi keributan kecil dikasir minimarket. Sasuke meninggalkan sandwichnya sejenak demi melihat apa yang terjadi, dan mendapati didepan kasir sudah terbentuk sebuah kerumunan kecil. Sasuke mendekat dan ternyata ada seseorang yang pingsan disana. Namun nampaknya seorang pegawai minimarket sudah menolongnya dan kini sedang membopongnya entah kemana. Mungkin ke klinik? Entahlah. Yang jelas sekarang perut Sasuke sudah berteriak minta diisi. Maka ia berbalik dan melangkah menjemput sandwichnya.

"Yurin, kau mengenal gadis ini?"

"Tidak, tapi aku tahu dia dokter yang bekerja di kepolisian, soalnya ia sering mampir..."

Sasuke menoleh kearah kedua pegawai yang sedang berbincang. Salah seorang diantaranya tengah membopong gadis yang pingsan tadi. Sasuke menajamkan matanya dan melihat helaian merah muda dibalik bahu si pegawai. Ia berjalan mendekat untuk membuktikan dugaannya dan matanya melebar saat mendapati Sakura terkulai pingsan dengan wajah pucat pasi. Dugaannya benar, lagipula memangnya berapa banyak gadis berambut merah muda yang ia kenal?

"Maaf permisi... saya mengenal orang ini. Biar saya saja yang antar dia ke klinik," Sasuke muncul diantara kedua pegawai itu.

"Ooh begitu? Baiklah, mmm..anda membawa mobil?"

"Ya. Bisa bantu saya membawanya ke mobil?"

-4-

Sakura membuka mata dan menatap sekeliling. Yang bisa ia simpulkan dari keadaan diruangan ini adalah; ia tengah berada dirumah sakit. Atau klinik? Apa yang terjadi pada dirinya? Tadi pagi ia merasa pusing saat mengautopsi korban di kantor, ia lalu izin sebentar untuk menghirup udara luar sambil membeli makanan kecil di minimarket, dan saat akan membayar... ia pingsan? Ya, ia akhirnya ingat. Dengan memalukannya ia pingsan di kasir, akibat seminggu terakhir kekurangan tidur ditambah jadwal kerjanya yang padat dan...bahkan semalam ia tak berhasil tidur nyenyak. Oh...nampaknya ia benar-benar ambruk.

Baik, ia sudah mengingat semuanya. Nah, sekarang siapa yang membawanya ke klinik? Apa pegawai minimarket?

"Bagaimana keadaanmu?"

Sakura berjengit saat suara yang dikenalnya tiba-tiba muncul dari balik pintu. Alih-alih pegawai minimarket, yang muncul dimulut pintu malahan pria tinggi pucat yang amat dikenalnya. Sasuke berjalan kearahnya sambil membawa sebuah plastik kecil ditangan.

"Sasuke?"

"Ya. Bagaimana kau bisa pingsan?" tanyanya seraya duduk disamping ranjang tempat Sakura dibaringkan. Sakura sendiri masih bingung mengapa Sasuke bisa ada disini, "Kau yang membawaku kesini?"

"Apa menurutmu aku harus membawamu ke kantor polisi?" tanya Sasuke datar.

"Bukan, maksudku, mengapa kau bisa membawaku kesini?" Sakura masih mengernyit heran. "Aku ada di minimarket itu saat kau pingsan didepan kasir. Kemudian aku membawamu ke klinik terdekat. Nah sekarang, apa kau sudah sarapan?"

Sakura menggeleng. Kebetulan macam apa ini?

"Makan dulu ini. Bisa-bisanya dokter sepertimu tak memerhatikan kesehatannya sendiri." Ujarnya lagi sambil menyodorkan sebuah onigiri kearah Sakura. Sakura menerimanya, "Bagaimana kau bisa ada di minimarket itu?"

Sasuke mengernyit sambil menggigit onigiri miliknya, "Memangnya minimarket itu milikmu?"

"Bukan maksudku...minimarket itu kan jauh dari apartemenmu,"

"Namun dekat dari toko kimia yang semalam meledak," timpal Sasuke. Sakura menelan potongan onigirinya dahulu sebelum menjawab, "Oh? Kau ikut menangani itu? Semalam ramai sekali, bahkan sampai tadi pagi, saat aku datang ke kantor"

"Kau sedang sakit dan memaksakan diri untuk bekerja, ya?"

Ia harus menjawab apa? "A-aku tidak sakit, hanya...kelelahan"

"Dan memiliki masalah, benar?" terka Sasuke sambil menatapnya dalam-dalam. Sebenanya ia risih jika ditatap seperti itu, tapi Sasuke melakukan ini pasti untuk...semacam mendeteksi perilaku mungkin? Entahlah.

"Nampaknya aku tak bisa berbohong padamu," karena fisiknya sangat tidak mendukung kebohongannya. Sasuke berkata lagi, "Yang perlu kau tau ialah kau tak mampu menanggung masalahmu sendirian,"

Sakura mengangkat alis, "Oh ya?"

"Tentu saja iya, karena jika kau mampu maka kau takkan berakhir di klinik pagi ini,". Jawaban Sasuke seolah meruntuhkan pertahanannya untuk tetap memendam masalah hanya untuk dirinya.

"Baik, baik, aku menyerah," ujar Sakura sambil mengangkat kedua tangannya keudara. Sasuke sendiri tersenyum samar. Senyum yang jarang sekali dipamerkannya. Senyum yang menurut Sakura memaksa matanya untuk terus... Oh sudahlah.

"Yap. Silakan mulai ceritakan masalah yang membuatmu kurang tidur dan tertekan akhir-akhir ini,"

Lingkaran hitam sialan yang terukir dibawah mata Sakura ternyata membuat Sasuke bisa menyimpulkan lebih jauh. Mungkin Sasuke benar, ia tak mampu menanggung semuanya sendirian. "Baiklah,"

"Tapi sebelum itu kita keluar dari sini dulu. Kau tak keberatan, kan?"

Sakura menggeleng.

"Kalau begitu...kuantar pulang ke rumahmu?"

Sakura menggeleng lagi, "Tidak. Ibuku akan bertanya macam-macam jika tahu hari ini aku tak bekerja,"

"Bagaimana dengan apartemenku?"

Sakura terdiam sejenak. Ia tak punya pilihan lain, bukan?"

-5-

"Jadi semacam teror psikologis?"

Sakura mengangguk. Sasuke pikir setelah beberapa minggu tak ada tanda-tanda mereka mengincar Sakura, mereka benar-benar takkan menganggu hidup Sakura lagi. Namun nyatanya tidak, dan ia benar-benar tak menyangka mereka akan meneror Sakura dengan teror psikologis. Apa tujuannya?

"Ya begitulah...memang terdengar konyol dan sepele, namun dampaknya akhir-akhir ini tidurku tak nyenyak, sementara pekerjaanku terus menumpuk," ujar Sakura yang tengah duduk diatas sofa ruang tamu apartemen Sasuke.

"Aku tak bisa membantu banyak. Masalah nomor telepon, zaman sekarang bisa dilacak dengan mudah, jadi memang percuma jika kau mengganti nomor ponselmu berulang-ulang," Sasuke memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Coba kulihat ponselmu,"

Sakura mengulurkan ponsenya tanpa berkata apa-apa.

"Aku akan memeriksa nomor-nomor yang menerormu selama ini, kau istirahat saja disini," Sasuke bangkit dari duduknya sambil membawa ponsel Sakura. Ia melirik Sakura yang terkulai di sofa, nampak amat kelelahan.

"Baiklah," ujar Sakura singkat. Sasuke memerhatikan wajah pucat Sakura selama beberapa saat sebelum berlalu ke kamarnya.

-6-

"Agen DIH?"

Seorang pria berseragam tentara mengangguk, "Ya, kami dengar mereka berhasil menemukan dalang dibalik perampokan Bank Amayuuki tempo hari, dan nampaknya pelakunya sama dengan perampok toko ini,"

Itachi hanya diam sambil menengadah menatap toko kimia yang sudah hangus dilalap api. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan tak beraturan. Disekitar sana masih banyak polisi dan pemadam kebakaran berkeliaran, mengevakuasi korban diantara reruntuhan bangunan yang seluruhnya hangus. Kejadian ini memang menggemparkan Tokyo, karenanya pasukan kemanan sebanyak mungkin diturunkan ke TKP, walau hingga kini tak ada yang bisa diselidiki karena semuanya hangus.

"Lalu sekarang kemana mereka?" tanya Itachi pada anak buahnya. Pria berseragam tadi menjawab, "Sudah tak ada disini mungkin. Lagipula sulit membedakan para agen ditengah kerumunan orang begini"

Itachi mengangguk-angguk, jika DIH sudah mengetahuinya, mengapa tak memberitahu polisi saja? Atau setidaknya bekerjasama? Ia sudah gerah melihat seisi televisi memberitakan perampokan besar-besaran yang terjadi beruntun belakangan ini. ia pikir pelakunya tak mungkin hanya satu atau sekelompok orang. Tapi segerombol. Dan hebatnya lagi mereka bisa mengelabui polisi.

Tapi fakta bahwa badan inteljen seperti DIH sudah selangkah didepan polisi membuatnya tertarik. Penjahat licin jenis apa yang tengah mereka hadapi? Dan berbicara mengenai DIH...

Apakah adiknya ikut menangani kasus ini?

-7-

Sasuke baru saja membuat pengalihan panggilan dari ponsel Sakura ke ponselnya yang lain. Jadi setiap nomor aneh menelepon Sakura, gadis itu takkan terganggu karena panggilan masuk akan muncul di ponselnya. Dan ia akan membawa ponsel itu ke kantor untuk di monitor. Karena sebuah nomor juga bisa membawa mereka menuju jalan keluar; menemukan lokasi markas-markas Sumiyoshi-kai.

Ia rasa cukup begini saja cara ia mengurangi ketegangan psikologis Sakura. Ia kemudin bangkit dari kursinya sambil menutup laptop yang sedari tadi terbuka dihadapannya. Ia kemudian berjalan kearah pintu, dan jika terkaannya benar, ia akan mendapati Sakura jatuh tertidur diatas sofa.

Dan ternyata terkaannya benar.

Maka sebelum ia menutup pintu kamarnya, Sasuke berbalik untuk mengambil selimut tebal yang terlipat rapi diatas tempat tidurnya, membawanya keluar dan menyelimuti tubuh Sakura yang terbaring di sofa dengan selimutnya. Ia menatap wajah tidur Sakura sebentar, gadis ini tertidur pulas.

"Sakura?" panggil Sasuke pelan. Tak ada reaksi. Berarti Sakura benar-benar nyenyak. Dan well, ini artinya tidur nyenyaknya yang pertama selama seminggu terakhir. Mengingat wajahnya yang pucat dan sekeliling matanya yang menghitam.

Sasuke duduk disofa lain sambil terus memerhatikan wajah tidur Sakura. Ternyata gadis ini berbohong soal ia tak membutuhkan perlindungan. Buktinya ia bisa tidur senyenyak ini saat ada oranglain yang menjaga.

-8-

Sejak pertama kali membuka mata beberapa detik lalu, Sakura sudah tahu ia jatuh tertidur disofa apartemen Sasuke sejak tadi. Namun kali ini ia tak langsung bangkit seperti sebelumnya, melainkan menggenggam selimut tebal yang membungkusnya hingga ke leher, sambil memejamkan matanya perlahan. Ia amat mengantuk tadi, jadi tak lama setelah Sasuke pergi kekamarnya ia berbaring di sofa dan tak lama tertidur. Tidur yang amat nyenyak.

Tunggu, apa? Nyenyak? Kapan terakhir kali ia tidur senyenyak ini? Minggu lalu? Atau bulan lalu? Entahlah, yang jelas entah mengapa tadi ia tertidur dengan tenang.

Apa karena ada yang menjaganya?

Saat gaagasan itu muncul dibenaknya, Sakura menggeleng kuat-kuat, sejak kapan ia menjadi gadis lemah? Tidak, tidak, gagasan itu tak benar. Ia tak perlu penjaga atau semacamnya. Namun meskipun otaknya bersikeras menolak, nampaknya tidak dengan hatinya.

"Nampaknya tidurmu nyenyak sekali,"

Sakura menoleh kearah Sasuke yang muncul dari arah dapur. Sakura kemudian bangkit untuk duduk, menyibakkan selimutnya hingga hanya menutupi separuh tubuhnya. Tunggu, sejak kapan selimut ini ada disini?

"Kau mau makan sesuatu?" tanya Sasuke setelah duduk di sala satu sofa lain. Sakura memandangnya dengan tatapan bertanya, "Kau yang menyelimutiku?"

"Memangnya kau melihat ada orang lain disini?" tanya Sasuke sambil menaikkan alisnya. Berikutnya Sakura mengutuk pertanyaan bodoh yang tadi ia ajukan. "Terima kasih,"

"Well, aku sudah melacak nomornya. Nomor itu terdaftar di operator sebagai anonim, lokasi penelpon juga berpindah-pindah. Tadi saat kau tidur dia menelpon sekali, namun saat kuangkat langsung dimatikan. Nanti akan kuselidiki lagi di kantor," ujar Sasuke panjang lebar. Sakura sendiri hanya menatap Sasuke kosong.

"Nah, Sakura," kali ini Sasuke berbicara sambil mencondongkan tubuh kearah lawan bicaranya, menandakan pembicaraan ini serius. "Sudah kubilang jika ada apa-apa laporkan padaku. Mengapa kau memendam ini sendirian?"
sakura menelan ludah, "Aku tak mau mengganggumu dengan masalah konyol ini,"

"Maksudmu masalah konyol yang sukses mengganggu tidurmu berhari-hari ini? Dengar, sekecil apapun masalahnya, ceritakan padaku. Keterangan kecil macam nomor ponsel justru mempermudah kami untuk melacak markas besar mereka."

"Baiklah. Maafkan aku," Sakura memang menjawab, namun pandangannya masih kosong. Sebenarnya ia tak terlalu mendengarkan perkataan Sasuke tadi, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hening sejenak. Sakura sendiri masih melamun, dan melalui ekor matanya, ia melihat Sasuke masih duduk disana memerhatikannya. Dan pasti pria itu pun tahu Sakura sedang melamun.

Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh hangat kedua pipinya. Sakura tersentak saat mendapati wajah si pemilik tangan berada tepat didepan wajahnya. Mata Sakura melebar, oh tolong, jangan...

"Kau mendengar ucapanku tadi?" suara dingin itu menembus alam sadar Sakura. Membubarkan lamunan yang sedari tadi digelutinya. Sakura kini sadar sepenuhnya. Sepasang magnet hitam dihadapannya seolah menarik emeraldnya untuk hanya menatap kesana. Maka untuk beberapa detik kedepan, Sakura tak bisa memalingkan pandangannya.

"Sakura, kau mendengarku tadi?" ulang suara itu.

"A-aku mendengar...nya" jawab Sakura terbata. Mengapa pula Sasuke harus bertanya dengan posisi seperti ini? Apa untuk mengembalikan fokus Sakura?

"Jangan. Pendam. Sendirian." Ujar Sasuke dengan penekanan disetiap katanya. Sakura hanya bisa mengangguk dengan mata melebar, emeraldnya masih terkunci sepasang magnet hitam kelam yang juga masih menatapnya.

"Kau mengerti, kan?" tanya Sasuke dengan nada direndahkan.

"Kumohon padamu lindungi orangtuaku. Hanya orangtuaku." Ujar Sakura dengan nada memohon.

"Akan kulakukan yang terbaik, Sakura"

Entah mengapa jawaban itu membuat Sakura membentuk sebuah senyum. Kemudian pandangannya mengabur terhalangi sebulir air yang muncul dari sepasang matanya.

-9-

Sakura menangis. Yap, sesuai dugaan Sasuke, gadis ini tak sekuat penampilannya. Ia hanya berusaha menguatkan diri agar orangtuanya tak terlibat apapun. Dan keputusannya salah besar.

"Dengar, sudah kukatakan bukan tugasku mencegah jatuhnya korban jiwa, dan kau aman selama kau bekerja –karena ia bekerja di kepolisian-, jadi yang perlu kau lakukan hanyalah bercerita padaku saat mereka mengontakmu dalam bentuk apapun. Ingat, Sakura, posisimu amat berbahaya, mereka mungkin saja masih ingin menghabisimu karena dendam." Sasuke berkata dengan hati-hati. Gadis dihadapannya hanya diam dengan airmata sesekali jatuh dari pelupuk matanya.

"Sekarang yang perlu kau tau adalah kau tak sendirian. Memendam bukanlah jalan yang benar, Sakura," ujarnya lagi. Ia melihat kedalam mata Sakura yang dipenuhi kepiluan. Ada ketakutan dan kebimbangan juga tersirat disana. Sasuke sebenarnya kasihan melihatnya. Namun ia tak tahu tepatnya apa yang harus ia lakukan dalam kondisi seperti ini. Sejauh ini ia tak pernah terbelit konflik emosional membingungkan seperti ini. Menurutnya lebih baik konflik fisik saja.

"I-iya, terima kasih," Sakura mengatakannya dengan amat pelan. Nyaris berbisik, mungkin. Nah sekarang apalagi yang perlu Sasuke lakukan?

"Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak bertemu denganmu," ujar Sakura lagi. Sasuke hanya menatapnya tanpa bicara, kemudian entah mengapa tangannya tergerak untuk menarik gadis bermata hijau terang itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seolah ingin menyampaikan, bahwa tak ada yang perlu gadis itu takutkan lagi selama ada dirinya.

-10-

Sakura menyuap anmitsu2 terakhirnya. Anmitsu memang selalu berhasil membuat perasaannya jauh lebih baik.

"Setelah ini kau akan kemana?" tanya Sasuke yang duduk berhadapan dengan Sakura disebuah kafe tak jauh dari apartemen Sasuke. Tadi mereka memutuskan untuk mencari makan karena sama-sama belum makan apapun dari pagi dan memutuskan untuk mencoba yakitori3restoran ini yang terkenal. Sakura sendiri tak lupa memesan anmitsu, makanan favoritnya sebagai dessert.

"Kembali ke kantor,"

"Kembali bekerja dalam keadaan seperti ini?" ujar Sasuke sambil mengernyit. Sakura hanya tersenyum tipis. "Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja."

Sasuke terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Baikalah, akan kuantar kau ke kantor. Kau sudah selesai?"

"Sudah, lain kali cobalah anmitsu-nya juga. Apa kau ketergantungan kafein?" ujar Sakura sambil melirik segelas kopi yang sedang Sasuke genggam. Sasuke mengangkat bahu, "Tidak juga, hanya saja aku menyukainya. Cocok sekali jika aku sedang lembur,"

"Yap. Asalkan tidak berlebihan," komentar Sakura.

"Ya, Dokter. Apa ada lagi makanan yang perlu kubatasi?" tanya Sasuke sambil tersenyum. Sakura tertawa. Kemudian mereka berdua tertawa.

"Tak ada, bukan membatasi. Hanya memberi saran," Sakura membela dirinya. Sasuke masih membiarkan senyum bertengger diwajahnya, "Apa kau tak mau mencicipi kopiku dan berkomentar bahwa terlalu banyak glukosa didalamnya?"

Sakura tertawa lagi. Ia tidak sadar ini tawa lepas petamanya setelah satu minggu, "Astaga...tidak. Lagipula untuk apa aku mengomentari takaran gulamu?"

"Untuk mengingatkan agar tak terkena diabetes, mungkin? Entahlah."

"Ya... lain kali akan kubuatkan kopi untukmu tanpa gula sedikitpun didalamnya, bagaimana?"

Sasuke mengangkat tangannya keudara, "Oh tidak, Dokter. Tidak terima kasih,"

Sakura tertawa lagi, "Baiklah, baik. Aku takkan melakukannya. Tenang saja."

Dan untuk pertama kalinya selama satu minggu, Sakura merasa benar-benar 'hidup'

-11-

Sasuke berjongkok untuk memungut pecahan kaca yang berserakan diantara puing-puing bangunan yang semalam meledak. Pecahannya benar-benar hancur berkeping-keping. Tak ada yang bisa diselidiki dari itu. Semua barang bukti seolah sudah hancur. Apa lagi yang tersisa dari ini?

Nampaknya ledakannya memang disengaja. Buktinya semua korban tewas adalah pegawai toko ini dan seorang perempuan berusia lima puluhan yang kebetulan sedang melintas. Sama sekali tak ada tanda-tanda si pelaku masih disini saat ledakan berlangsung. Jika mereka tak sengaja menembak tangki Heptanitrocubane, maka seharusnya ada diantara mereka yang tewas, bukan? Karena tak sempat lari, misalnya.

Atau sebenarnya tangki itu ditembak oleh sniper dari jarak jauh? Setelah perampokan selesai dan setelah mereka melarikan diri? Entahlah, masih terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun di TKP masih dipenuhi beberapa orang polisi yang berjaga. Tim Khusus diterjunkan lagi untuk memastikan pelaku peledakan ini memang Sumiyoshi-kai.

Sudah hampir satu jam penyisiran dilakukan dan mereka mengambil kesimpulan bahwa memang benar mereka pelakunya, dilihat dari cara pembobolan dan lain-lain.

Sasuke berjalan menuju bagian belakang toko sambil menyenter bagian reruntuhan yang masih terlihat bentuknya. Benar-benar, ledakan memang senjata paling ampuh untuk menghapus bukti.

Getaran ponsel di sakunya mengalihkan perhatiannya sejenak. Ia memindahkan senter ke tangan kirinya sementara tangan kanannya merogoh saku untuk mengambil ponsel.

Ibu Sakura yang menelpon.

Pasti ia menanyakan tentang Sakura, atau mungkin Sakura belum sampai rumah? "Halo?"

"Ah, Sasuke, maaf mengganggumu malam-malam, namun ada sesuatu yang ingin kutanyakan..." suara perempuan diseberang sana terdengar samar-samar karena Sasuke sedang berada di keramaian. Maka Sasuke menepi dulu sebelum menjawab, "Apa ini tentang Sakura?"

Ibu Sakura tertawa ringan, "Ah, benar sekali. Apa hari ini kau bertemu dengannya?"

Sesuai dugaannya. Nah sekarang ia harus mengarang cerita lagi untuk membuat pihak lain tak khawatir.

-12-

Saat itu jam menunjukkan pukul delapan malam saat Mebuki Haruno mendapati Sakura pulang dari tempat kerjanya. Entah hanya perasaannya saja atau Sakura lebih ceria dari biasanya? Maksudnya dari sekitar beberapa hari belakangan ini, dimana Sakura terlihat lebih murung dan...lelah?

"Aku pulang," ujar Sakura sambil tersenyum saat melihat ibunya sedang memerhatikannya melangkah kedalam rumah. Benar, Sakura memang agak lebih ceria dari biasanya.

"Oh, Sakura, ibu tadi menggoreng tempura kesukaanmu. Kau mau makan sekarang?"

Sakura mengangguk, "Tentu, setelah aku mandi dan berganti pakaian." Setelah itu anak semata wayangnya menaiki tangga menuju kamarnya. Mebuki sempat bertanya-tanya ada apa yang terjadi padanya hari ini? Namun tak lama sesuatu terlintas dibenaknya. Ia bisa menanyakannya pada seseorang, bukan?

Sebenarnya Mebuki sempat ragu-ragu saat mengambil ponsel dan mencari-cari nomor seseorang disana. Namun pada akhirnya saat sudah menemukan nomor yang dimaksud, ia menekan tombol 'panggil' juga pada layar sentuhnya, dan tak lama kemudian terdengar suara seorang pria dari seberang sana,

"Halo?"

"Ah, Sasuke, maaf mengganggumu malam-malam, namun ada sesuatu yang ingin kutanyakan..." ujar Mebuki. Lawan bicaranya terdiam sejenak sebelum menjawab, "Apa ini tentang Sakura?"

Mebuki tertawa ringan, "Ah, benar sekali. Apa hari ini kau bertemu dengannya?"

Lagi, Sasuke terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ya, ada apa? Apa dia sudah sampai di rumah?"

"Ya, dia baru saja sampai. Mmm...aku hanya ingin bertanya apa dia menceritakan sesuatu padamu?" Mebuki bertanya ragu-ragu. Mungkin seharusnya ia tak ikut campur urusan anak muda, namun ia benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan Sakura selama sekitar seminggu terakhir.

"Tidak banyak. Ia hanya mengeluhkan pekerjaannya yang sedang padat akhir-akhir ini. Seperti Bibi lihat di televisi, sekarang sedang banyak sekali kasus kejahatan. Dan pastinya itu berhubungan dengan forensik, yah..semacam autopsi dan semacamnya. Ia juga bilang sedang tak enak badan beberapa hari terakhir ini. Namun kurasa sekarang ia sudah baik-baik saja," jelas Sasuke panjang lebar. Mebuki hanya diam. Mungkin apa yang dikatakannya memang benar. Mungkin hanya kekhawatirannya saja yang berlebihan.

"O-oh baiklah kalau begitu. Maaf menganggumu malam-malam."

"Ah tidak, ini belum larut, sama sekali tidak mengganggu," balas Sasuke sopan. Mebuki berkata lagi sebelum sambungan telepom mereka berakhir, "Dan terima kasih karena telah menjaga anakku."

-13-

Sasuke mematikan televisinya dan berlalu menuju kamarnya. Seisi televisi riuh memberitakan meledaknya toko kimia kemarin malam. Hingga saat ini polisi belum berhasil menangkap siapa pelakunya. DIH sendiri juga belum. Namum mereka sudah memastikan bahwa Sumiyoshi-kai dalang semua ini. Hanya mereka belum sampai ke tahap penangkapan.

Hari ini ia lelah sekali. Jadi ia akan memutuskan tidur lebih awal. Ia kemudian mematikan lampu ruang tamunya, lalu dapur, lalu saat hendak memasuki kamarnya, bel interkom apartemennya berbunyi.

"Astagaa...apa lagi malam-malam begini?" Sasuke mengumpat sambil berjalan malas kearah pintu. Membukanya tanpa minat, dan mendapati kakanya tengah berdiri disana, lengkap dengan seragam tentaranya.

"Mengapa kau senang sekali datang larut begini, sih?" komentar Sasuke malas. Alih-alih menjawab, kakaknya malah melewatinya dan berjalan masuk kedalam. "Kau sudah mau tidur?"

"Menurutmu? Kau tak lihat ini sudah jam berapa?"

"Hmm...baru pukul sebelas? Oh ya, aku hanya sebentar saja, ada yang ingin kubicarakan padamu," Itachi menyalakan lampu ruang tamu lalu duduk diatas sofa.

"Harus malam-malam begini, ya?" ujar Sasuke lelah. Tidak bisakah orang-orang ini membiarkannya istirahat lebih cepat?

"Ah, aku juga baru selesai bertugas,"

"Masih tentang toko kimia itu?"

"Yap. Dan aku kesini untuk menanyakan itu." Ujar Itachi. Ia bersedekap sambil bersandar. Sasuke menatap kakaknya lekat-lekat, "Apa yang ingin kau tanyakan?"

"DIH ikut menyelidiki ini, ya?"

Sasuke terdiam sejenak, "Memangnya kenapa?"

"Ada anak buahku yang mengatakan melihat agen DIH berkeliaran di sekitar TKP pagi itu. Dan kabarnya mereka sudah tahu siapa dalang dibalik kasus perampokan berantai ini. Jadi aku datang kesini untuk menanyakan apa itu benar?" Itachi menjelaskan panjang lebar. Sasuke baru tahu pihak luar mengetahui DIH ikut bergerak.

"Yap. Kami ikut terjun ke lapangan. Ehem... secara garis besar kami tahu siapa dalangnya. Organisasi licin yang bergerak cepat. Dan teliti tentunya, karena bisa mengecoh para polisi, namun sebelum perampokan berantai ini terjadi, kami memang sudah berurusan dengan mereka." Sasuke bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kakaknya.

"Oh...begitu rupanya. Baiklah, semoga penyelidikan kalian lancar. Dan...apa kalia tak berencana bekerja sama dengan polisi?"

"Tidak selama polisi tak menanyakannya pada kami langsung. Kami akan bergerak sendiri." Tandas Sasuke. Kakaknya hanya menatapnya datar.

-14-

Sebenarnya Itachi sudah memperkirakan jawaban adiknya sejak awal akan seperti itu. Namun siapa yang tahu jika tidak dipastikan langsung? Artinya kasus ini memang seserius yang ia perkirakan. Hingga badan inteljen seperti DIH pun ikut turun tangan. Ia yakin PSIA ataupun Naicho juga turun tangan. Tinggal tunggu siapa yang bisa menangkap penjahat licin ini duluan.

"Baiklah. Aku pulang dulu. Aku kesini hanya untuk memastikan ini saja." Ujar Itachi sambil bangkit dari duduknya. Sasuke mengikuti langkah kakaknya yang sudah berjalan menuju pintu depan. Namun sebelum meraih kenop pintu untuk pulang, Itachi tiba-tiba membalikkan badan menghadap adiknya.

"Oh ya, Sasuke. Ibu sudah kemari untuk membicarakan rencana liburan kita?"

Adiknya mengernyit, "Ibu sudah kemari dua kali namun nampaknya lupa untuk menanyakannya,"

"Lupa? Lalu apa yang kalian bicarakan disini?" tanya Itachi. Ibu mereka memang jarang mengunjugi apartemen Sasuke, kecuali jika ada pembicaraan penting atau semacamnya.

Sasuke terdiam sejenak. "Bukan apa-apa,"

"Pasti ada apa-apa," tandas Itachi dengan percaya diri. jika sudah begini pasti ada yang sedang disembunyikan adiknya. Dan ia nampaknya tergelitik untuk mengoreknya lebih dalam.

"Astaga, ini sudah malam. Lebih baik kau pulang saja," ujar Sasuke bersungut-sungut. Alih-alih melangkah untuk pulang, Itachi malah semakin penasaran, ia tertawa melihat wajah malas adiknya. "Oh, ayolah. Tak maukah kau berbagi rahasia padaku? Kau sudah menceritakannya pada ibu. Bagaimana denganku?"

"Kau seperti anak kecil saja. Cepat, sudah malam"

Itachi terkekeh, "Bukannya harusnya aku yang mengatakan kau seperti anak kecil? Jadi kau tak mau menceritakannya?"

"Ini sudah jam setengah dua belas dan tak akan ada cerita apapun malam ini, lekas pulang." Sasuke merengut, sementara Itachi masih tersenyum, "Baiklah jika tidak sekarang. Lain kali mungkin kau mau bercerita,"

"Terserahlah,"

Itachi mengangkat sebelah alisnya, "Tapi bolehkah aku mencoba menerkanya?"

"Coba saja,"

"Apa ini tentang gadis yang pernah kau bawa kesini? Gadis bernama Sakura Haruno?"

-15-

Esok harinya pukul empat sore, Itachi baru saja selesai memarkir mobil digarasi rumahnya dan hendak melangkah kedalam rumah saat melihat sepasang sendal asing terparkir didepan pintunya. Ada tamu?

Secara perlahan ia membuka pintu utama rumahnya dan segera mendengar suara beberapa orang dari dalam. Nampaknya memang ada tamu. Ini hari libur, jadi pasti rumahnya tidak sepi karena istrinya ada dirumah. Saat Itachi telah membuka pintu sepenuhnya, seorang anak perempuan berusia empat tahun segera berlari kearahnya sambil merentangkan tangan lebar-lebar, dengan senyum yang tak kalah lebar pula.

"Ayaaaaah!" seru anak itu saat telah sampai kedalam rengkuhan Itachi yang segera mengangkatnya keudara. Itachi mendaratkan sebuah kecupan dipipi kanannya sebelum bertanya, "Apa kita sedang kedatangan tamu, Sayang?"

Gadis kecil itu mengangguk, "Siang tadi nenek datang dan mengobrol dengan ibu," Itachi hanya mengangguk-angguk, lalu menggendong gadis kecil berambut hitam itu kearah ruang tamu, dan segera mendapati ibunya sedang berbincang disana.

"Ini hari libur, kupikir kau ada dirumah. Lalu kemana saja kau hari ini?" tanya ibunya langsung. Itachi mengangkat alisnya sambil melirik istrinya yang tengah duduk berhadapan dengan ibunya. "Kupikir Izumi sudah memberitahu ibu,"

"Ah apa benar kau latihan gabungan? Dengan baju bebas seperti itu?" tanya ibunya ragu. Izumi tertawa, sementara Itachi hanya menggeleng-geleng, "Oh haruskah aku pulang dengan kaos penuh keringat? Tentu saja aku membawa baju ganti, ibu."

Ibunya hanya mengangkat bahu, tampak tak begitu peduli soal baju ganti yang dibicarakan Itachi. Itachi menurunkan gadisnya begitu mereka sampai didepan sofa. "Jadi, apa yang ingin ibu bicarakan?"

"Soal rencana liburan kita, kapan kau akan mengurus visanya?"

Itachi mengernyit, "Bukankah masih lama?"

"Dan mengurus visa membutuhkan waktu yang tak sebentar," sambar istrinya sambil mengerling kearah Itachi. Itachi hanya mengangkat bahu lalu menatap ibunya kembali, "Apa Sasuke sudah dipastikan ikut?"

"Itu dia masalahnya. Aku sudah dua kali ke apartemennya dan selalu melupakan tujuan awalku untuk menanyakan ini. Ah dasar sudah tua." Ujar ibunya sambil menepuk kening.

"Wah, pasti ada pembicaraan menarik yang membuat ibu melupakannya." Pancing Itachi. Jika Sasuke yang keras kepala itu tak mau menceritakannya, biarlah ia bertanya pada ibunya.

Ibunya tediam sejenak, "Ya, begitulah."

"Ibu tak mau membaginya denganku?" pancing Itachi lagi. Ibunya mengangkat bahu. Nampak tak berniat menceritakan apapun. Sebenarnya ada apa?

Itachi melirik istrinya yang tengah balik meliriknya juga. Ia berharap ibunya telah menceritakannya pada Izumi sebelum ia sampai, namun nampaknya tidak, karena istrinya hanya mengangkat bahu. Maka Itachi beralih pada ibunya dan bertanya langsung, "Apa ibu tahu ia sedang dekat dengan seorang gadis?"

Ibunya tersentak kaget, "Jadi kau sudah tahu?"

Tepat dugaannya. Obrolan mereka tentang gadis itu, dan ia sudah terlampau hapal tabiat adiknya, jadi ia menyimpulkan ibunya bertemu gadis itu diapartemen Sasuke dan berbicara banyak dengannya, dan setelahnya bertanya panjang lebar pada Sasuke tentang gadis itu, hingga ia melupakan tujuan awalnya untuk menanyakan soal liburan.

"Tentu saja. Aku pernah bertemu dengannya satu kali, di apartemennya." Jawab Itachi ringan. itachi juga sudah menceritakan ini pada istrinya, jadi Izumi tidak terkejut saat Itachi membicarakannya lagi.

"Oh, ya? Ibu kira hanya ibu yang sudah melihatnya. Lalu bagaimana menurutmu, Itachi?"

Itachi mengernyit,"Maksud ibu?"

"Hubungan mereka."

-16-

Mikoto tahu ia sudah berjanji pada anak bungsunya untuk merahasiakan semua tentang gadis bernama Sakura itu pada siapapun. Namun ia terkejut saat mengetahui anak sulungnya sudah pernah bertemu gadis itu. Artinya ia hanya perlu merahasiakan bagian hubungan Sakura dan organisasi jahat itu.

"Mmm...kurasa Sasuke bohong jika menyebut gadis itu sebagai teman biasa. Namun ia tak mau mengaku saat kutanya ia tertarik padanya atau tidak. Saat kutanya mengapa gadis yang sudah menolongnya itu ada disana, ia hanya bilang gadis itu sedang memiliki masalah dan ia bisa membantunya. Hanya itu yang kuketahui dari Si Keras Kepala itu," ungkap Itachi. Mikoto hanya mengangguk-angguk. Jadi Sasuke sudah bercerita cukup banyak pada kakaknya? Bagus, jadi ia tak perlu menutupinya banyak-banyak.

"Kau belum menceritakan padaku kalau Sasuke tertarik padanya." Ujar Izumi sambil menoleh kearah suaminya. Itachi hanya memandangnya datar, "Itu hanya dugaanku, dan sepertinya memang begitu, namun si bodoh itu tak mau mengakuinya,"

Benar juga. Selama ini Mikoto tak pernah menanyakan perasaan anaknya pada gadis itu. Semalam setelah Sasuke menceritakan semuanya, Mikoto terlalu sibuk mencerna apa yang terjadi pada mereka berdua dan tak terpikir untuk menanyakan bagaimana perasaan anaknya.

Namun selama dua puluh tujuh tahun menjadi ibu Sasuke, anak itu belum pernah menunjukkan tanda-tanda sedang menyukai lawan jenis padanya. Alih-alih jatuh cinta, ia lebih sering melengos dengan tatapan datar saat gadis-gadis seusianya mengucapkan 'Happy Valentine' padanya saat sekolah dulu. Jadi ia tak pernah tahu apa yang dirasakan anak itu karena Sasuke terlalu tertutup, berbeda dengan kakaknya yang masih bersikap agak terbuka.

"Tapi aku penasaran seperti apa gadis yang bisa membuat Sasuke bertekuk lutut seperti itu. Astaga, ini menarik. Aku jadi ingin bertemu dengannya," ujar Izumi lagi. Bertekuk lutut? Selama ini Mikoto tak pernah memikirkan pilihan kata itu. Namun jika dipikir benar juga. Sasuke berkali-kali menjemput gadis itu dari tempat kerjanya dan mengantarnya pulang. Melindunginya, bahkan sampai tertabrak truk seperti itu. Astaga, mengingat poin terakhir, Mikoto tertawa dalam hati. Ternyata Izumi benar tentang Sasuke yang sudah dibuat bertekuk lutut.

"Suatu saat kau akan bertemu dengannya. Dia gadis yang hangat. Setidaknya bisa mengimbangi Sasuke yang sikapnya sedingin es, dia juga..." Itachi terus berbicara kepada istrinya sementara tiba-tiba sebuah ide melintas dibenak Mikoto. Sebenarnya ia ragu dengan ide ini, tapi...

"Tiket liburan gratis itu maksimal untuk tujuh orang, kan?" tanya Mikoto tiba-tiba, membuat anak dan menantunya menoleh kearahnya bersamaan. Izumi yang lebih dulu menjawab, "Ya, namun nakmpaknya kita hanya akan menggunakannya enam. Keluarga kita hanya enam orang, bukan?"

"Ya. Artinya masih ada satu tiket kosong?"

Kali ini Itachi yang menjawab, "Tentu saja. Ibu mau mengajak siapa lagi memangnya?"

Mikoto mengulum senyum saat menjawabnya, "Bagaimana jika kita mengajak Sakura?"

-17-

Hari ini keluarga Sakura tengah berkumpul dirumah neneknya. Neneknya akan segera berulang tahun dan entah mengapa kali ini ia ingin ulangtahunnya dirayakan. Katanya agar bisa berkumpul dengan anak-anaknya yang tinggal di kota lain. Juga dengan cucu-cucunya, dan cicit-cicitnya. Juga karena ini ulang tahunnya yang ke-100. Saat ini tidak banyak orang Jepang yang berhasil menginjak usia 100.

"Jadi kalian datang, ya. Harus. Nenek tak mau jika sampai ada yang tak datang." ujar nenek Sakura sambil menggendong salahsatu cucunya yang masih bayi.

"Oh tentu saja nenekku sayang, kami akan datang. jika perlu aku akan menggedor pintu rumah mereka jika ada cucu yang tak datang." ancam Matsuri, sepupu Sakura yang paling ramah dan cerewet. Semua orang yang ada di ruang keluarga itu tertawa. Termasuk Sakura. Ia selalu menikmati saat-saat berkumpul bersama keluarga.

"Ah Matsuri, apa kau akan mengajak Gaara, saat pesta ulangtahunku?" tanya nenek dengan lancar. Meskipun usianya beranjak senja, tetapi pendengarannya masih tajam.

Sakura bisa melihat Matsuri agak tersipu saat menjawab,"A-ah, aku tidak tahu"

Hanako Tayuya, sepupu Sakura yang paling tua segera menyambar, "Oh ayolah, sudah berapa lama kau berpacaran dengannya? Masa makan bersama saja kau tidak berani mengajaknya?"

"Ah kakak jangan begitu,dong. Baiklah, aku akan mengajaknya nanti, namun jangan salahkan aku jika ia tak bisa datang. Pekerjaannya sedang sibuk-sibuknya sekarang." ujar Matsuri sambil cemberut. Tayuya hanya menaikkan alis. Sementara nenek mendoakan semoga Gaara bisa datang.

"Ah iya. Sakura, nenek dengar dari ibumu, Januari kemarin kau dilamar seorang pria, ya?" Pertanyaan neneknya membuat mata seluruh penghuni ruangan menatap kepadanya. Kecuali keponakan-keponakannya yang masih bayi, tentu saja. Sakura menelan ludah sambil mengutuk ibunya dalam hati. Mengapa harus diceritakan pada nenek, sih?

"Ah, itu..."

Sakura bahkan belum sempat menjawab saat sepupunya yang lain sudah riuh. Matsuri bahkan sudah berpindah tempat duduk demi menginterogasinya secara privat. Tayuya yang tadi sedang mengaduk susu kaleng untuk anaknya menghentikan aktivitasnya dan menatap Sakura dengan mata dilebarkan. Astaga, benar-benar...

"Jahat! Kau bahkan tak pernah menceritakan pria itu padaku!" teriak Matsuri dramatis. Sepupu yang lain mengajukan pertanyaan secara beruntun kepada Sakura, yang dengan segera membuat gadis itu sakit kepala.

"Hahaha, cucu nenek yang satu ini memang penuh kejutan, ya" komentar neneknya disaat Sakura tengah dihujani pertanyaan seputar 'siapa' dan 'kapan'. Matsuri secara brutal malah menarik-narik tangannya dengan keras, berharap pertanyannya didahulukan dijawab. Sakura dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan mereka. Sebagian dengan jujur, sebagian dengan sedikit modifikasi untuk menutupi kejadian yang sebenarnya.

Melihat perubahan suasana ruangan yang secara ajaib menjadi riuh, nenek Sakura berkata dengan santai, "Daripada kalian semua penasaran, bagaimana jika di pesta nanti kau mengenalkan pria itu pada nenek, Sakura?"

Sakura segera meringis usai sang nenek menyampaikan usulnya.

-18-

Sasuke melangkah keluar dari Laboratorium Forensik DIH sambil membuka-buka lembaran berkas ditangannya. Ia terus berjalan sambil membaca sekilas baris-baris tulisan yang tertera disana; semua intormasi yang mereka dapatkan mengenai meledaknya toko kimia.

Sasuke hanya membaca sekilas tentang jenis peluru yang digunakan pelaku, bentuk pecahan kaca, dan detail lainnya. Ternyata ada beberapa saksi mata disana. Dan dari semua data yang telah mereka peroleh, memang Sumiyoshi-kai pelakunya.

Yap. Dan ini berarti penylidikan resmi diambil alih oleh Tim Khusus. Artinya mereka harus bekerja ekstra; mengetahui lokasi semua markas mereka dan memberantas mereka sampai ke akar. Ya, dan itu bukanlah tugas yang mudah.

Sasuke berhenti melangkah dan membuka sebuah pintu, lalu masuk ke dalam ruangan dibalik pintu itu.

"Apa yang didapat forensik?" suara Neji menyambutnya di detik pertama Sasuke muncul disana. Sasuke menaruh berkas tadi diatas meja. "Detail-detail peluru dan lain lain. Yah intinya pelakunya memang sama."

Sasuke lalu mengempaskan tubuhnya keatas sebuah kursi empuk, kemudian besandar disana sambil memejamkan mata.

"Dan sisanya diserahkan pada kita?" tanya Neji lagi. Tanpa repot-repot membuka matanya Sasuke menjawab, "Bingo"

Sasuke terus memejamkan matanya. Ia lelah. Ia butuh tidur. Ia mau pulang sekarang juga, jika tidak ia akan tidur disini sebentar lagi. Sebuah getaran ponsel menginterupsi khayalan Sasuke tentang tidur dan rumah, ia membuka matanya sedikit dan segera merogoh sakunya. Saat membaca nama Sakura dilayar ponselnya, barulah Sasuke membuka matanya secara penuh.

"Halo?"

"Ah, Sasuke, apa kau sedang sibuk?" tanya gadis itu ragu. Sasuke segera menjawab, "Tidak, ada apa?"

"Apa hari minggu pekan depan kau ada acara?" tanyanya lagi. Pertanyaannya salah. Seharusnya Sakura bertanya apakah hari minggu pekan depan ia akan bekerja, bukan ada acara. Karena ia hampir tak pernah memiliki acara apapun, dan tidak setiap hari libur ia libur bekerja juga.

"Tidak ada, mengapa?" Yah, Sasuke harap minggu depan ia bisa menyisihkan waktunya selama beberapa jam.

"Ah...mmm...nenekku mengundangmu ke acara ulangtahunnya. Apakah kau bisa ikut?"

Apa katanya? Pesta ulangtahun neneknya? Sasuke bersumpah seumur hidup neneknya tak pernah merayakan pesta ulangtahun. "Ya, bisa saja. Jam berapa?"

"Jam tujuh malam, bagaimana?"tanya Sakura ragu. Sasuke masih tidak fokus membayangkan seorang nenek merayakan pesta ulangtahunnya, jadi ia tidak begitu menanggapi perkataan Sakura berikutnya dan hanya membalas sekenanya, "Ya, bisa. Aku akan menjemput ke rumahmu pukul tujuh kurang."

Setelah itu Sakura mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Bahkan setelah telepon ditutup, Sasuke masih bertanya-tanya mengapa nenek Sakura sempat-sempatnya merayakan pesta ulang tahun. Baru ketika ia memasukkan ponselnya ke saku, Sasuke berhasil mencerna soal ajakan itu. Apa nenek Sakura mengenalnya?

Sasuke baru sadar ia akan berada dalam sebuah pesta ulang tahun yang dipenuhi kerabat Sakura. Dan tentunya akan ada banyak pertanyaan disana. Pertanyaan dari kerabat-kerabat Sakura. Pertanyaan seputar hubungan mereka. Dan...astaga. Sasuke tak bisa membayangkan lagi bagaimana ia harus menjawab semua pertanyaan itu. Ohh tuhan, mengapa semua ini menjadi begitu rumit? Tak cukupkah jika hanya mereka berdua, dan orangtua mereka yang mengetahui hubungan mereka?

Karena begitu frustasi, Sasuke kembali bersandar sambil menjambaki rambutnya. Tak peduli jika sedari tadi Neji sedang memandanginya dengan ekspresi bingung.


#Catatan

1. Heptanitrocubane(C8H(NO2)7), bahan kimia yang bersifat amat eksplosif (mudah meledak)

2. Anmitsu, makanan pencuci mulut yang terbuat dari irisan agar-agar berwarna putih, terbuat dari rumput laut. Disajikan dalam mangkuk kecil bersama pasta azuki, kacang polong rebus, gyuuhi (semacam mochi, terkadang shiratama) dan irisan buah semisal persik, jeruk, nanas dan ceri.

3. Yakitori, makanan jepang yang dibuat dari berbagai daging, dari daging sapi, babi, atau hati ayam. Daging dipanggang sampai renyah, kemudian dilapisi dengan saus asam manis untuk mencapai tingkat kelezatan yang tinggi.