Sebuah Akhir Cerita


"Setelah sejauh ini terlibat denganmu, baru kusadari diriku merasa nyaman berada didekatmu. Namun kemudian kau raih tanganku, memaksaku menggenggam benda yang takkan pernah mau kusentuh. Lalu kau pergi, tanpa janji bahwa kau akan kembali"

.

.

Sakura hendak bertanya 'ada apa' untuk kedua kalinya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Sasuke memutar setir dengan amat serius. Pandangan matanya tertancap di spion, entah apa yang dilihatnya. Barulah saat Sakura membalikkan badan, dengan jelas ia dapat melihat sebuah sedan biru tua sedang melaju tepat dibelakang mereka. Tak hanya sedan itu, ada beberapa mobil lain yang mengekor dengan kecepatan menakutkan.

Menyaksikan semua mobil itu, kepanikan Sakura memuncak. "Sasuke! Siapa mereka?"

"Tenang. Jangan panik, oke? Jangan panik. Kita akan segera mengakhiri kejar-mengejar yang konyol ini," ujar Sasuke sambil sekuat tenaga menyembunyikan rasa paniknya sendiri. Sakura bungkam. Tangannya menggenggam erat rok selutut yang ia gunakan, untuk meredam paniknya yang semakin menjadi.

Tarik napas. Lalu buang.

Sakura melirik speedometer dan mendapati jarum bergerak dikisaran angka 120-130.

Tarik napas. Lalu buang.

Sekali lagi mobil berbelok dengan brutal dijalanan sepi yang luas ini. Tak satupun orang yang ia jumpai sepanjang jalan, bahkan mobil pun tidak. Yang ada hanya bunyi decit mobil ini, dan mobil-mobil yang mengejar mereka dibelakang.

Tarik napas. Lalu...

Sakura belum sempat membuang napasnya, karena tiba-tiba dari belokan jalan beberapa meter didepan mereka muncul sebuah mobil lain dengan kecepatan yang tak kalah menakutkan.

-1-

Juugo dan kelima temannya –Tim Khusus- tengah berdiri mengelilingi sebuah meja persegi panjang dengan selembar peta raksasa tergelar diatasnya. Peta itu merupakan peta Tokyo skala besar. Disana itu terdapat beberapa tanda bulat dan silang yang diukir menggunakan spidol merah. Seminggu terakhir ini pengejaran mereka mendapat cukup banyak kemajuan, salah satunya tentang lokasi beberapa markas yang kini sudah mereka ketahui.

"Kita langsung ke pusat markasnya saja. Jika kita menyerang markas-markas kecil seperti waktu itu, kemungkinan besar yang akan kita dapatkan hanyalah bangunan kosong, atau beberapa anggota organisasi yang percuma saja jika kita tangkap. Toh para kepala batu itu tak mau buka mulut soal apapun pada kita," ujar Juugo, yang disini ini diposisikan sebagai kepala tim. Kelima anggota lain hanya diam menekuri peta raksasa itu. Otak mereka sibuk memikirkan strategi dan semacamnya.

"Permasalahannya kita tak tahu yang mana yang mereka jadikan markas pusat. Kita hanya dapat empat tempat. Tim Survey bilang keempat-empatnya sama saja, dari luar tampak seperti pabrik kosong, terdiri dari dua atau tiga lantai, dan tak ada tanda-tanda tengah dihuni." Komentar Neji. Menanggapi komentar seperti itu Juugo tampak berpikir sejenak.

"Karena tidak tahu yang mana yang mereka jadikan 'Markas Pusat', kita serang saja semuanya, serentak." Kali ini Temari yang menyahut. Bagi Juugo gagasan ini tidak buruk. Namun hanya...sedikit beresiko. "Artinya kita libatkan pasukan dalam jumlah banyak?"

Temari mengangguk. Diam lagi sejenak, sebelum Sasuke membuka mulut untuk berkomentar, "Lagipula bagaimana jika Markas Pusat mereka tak ada diantara empat lokasi yang kita peroleh? Bisa jadi masih ada banyak markas lagi selain keempat itu. Dan tak ada yang menjamin semua anggota ada di markas saat kita kesana,"

Juugo mengangguk-angguk. Benar juga. "Baiklah. Kita libatkan pasukan dalam jumlah besar. Dan aku tak mau mengulur waktu lebih lama lagi. Kita akan habisi mereka malam ini." Tepat setelah Juugo mengucapkannya, kelima anggota lain menoleh kearahnya secara serentak, dengan mata dilebarkan. Jelas sekali sebentar lagi mereka akan protes, atau setidaknya menanyakan mengapa harus secepat ini. Namun sebelum itu terjadi, Juugo lebih dulu menambahkan, "Apa kalian mau ada korban jiwa lebih banyak lagi jika kita biarkan mereka bebas walaupun hanya sehari?"

Semuanya diam. Nampak sudah mengerti apa tujuan Juugo mempercepat semua ini. Tidak ada lagi pertanyaan setelah itu. Maka tak lama Juugo mengambil sebuah spidol, kemudian menggunakannya untuk menunjuk beberapa tempat di peta raksasa. "Kuperingatkan kalian untuk hati-hati. Ada empat lokasi. Ada empat kelompok pasukan. Dan ada empat pemimpin. Masing-masing kalian akan memimpin pasukan di satu markas" Juugo membuka tutup spidol dan mulai menandai sesuatu diatas peta, "Temari, kau memimpin markas disini. Neji, kau disini. Aku sendiri akan memimpin yang disini. Iruka dan Sasuke memimpin yang ini. Sementara Kiba sebagai pengatur gerakan, juga sebagai pelapor apa saja yang terjadi dilapangan,"

"Sebentar, mengapa aku ditugaskan di lapangan? Kalian bertiga memimpin sendiri, mengapa Sasuke berdua denganku?" tanya Iruka tak mengerti. Ia mengerling Sasuke sebentar, namun pria itu hanya mengangkat bahu, nampaknya juga tak punya jawaban atas pertanyaannya.

"Tapi kau pernah ditugaskan sebagai agen lapangan, bukan? Nantinya kau akan memimpin pasukan sebentar, sementara Sasuke akan datang menyusul ditengah-tengah operasi, karena aku punya tugas tambahan untuknya." Juugo mengatakannya sambil menatap Sasuke cukup lama. Sasuke balas menatapnya dengan tatapan bertanya. Begitu juga dengan anggota yang lain.

Sasuke mengerutkan kening, lalu bertanya langsung pada Juugo, "Wah, aku jadi penasaran, tugas apa itu?"

-2-

Sasuke menatap arlojinya. Pukul lima sore. Dan artinya masih ada waktu dua jam lagi sebelum ia harus melesat ke rumah Sakura dan melaksanakan tugasnya.

Sekaligus menemaninya menghadiri pesta ulang tahun neneknya.

Ya, ini bagian dari tugasnya. Juugo sendiri yang menyuruhnya. Menyuruhnya untuk 'mengamankan Sakura dan membawanya ke tempat yang aman'. Tujuannya? Antisipasi agar kawanan bedarah dingin itu tak bertindak gegabah dengan menjadikan Sakura sebagai sandera –untuk kedua kalinya- saat penyergapan berlangsung. Bisa saja saat keempat markas itu digeledah, Kabuto menelepon anggota lain yang sedang berada diluar untuk menculik Sakura dan menjadikannya Sandera. Atau lebih buruk lagi, menculiknya dan langsung membunuhnya.

Saat Juugo menyebutkan tugasnya, Sasuke hanya mengangguk-angguk setuju. Antisipasi macam ini memang dibutuhkan. Dan tangannya sendiri yang akan memastikan Sakura selamat.

Sasuke sedikit bersyukur hari ini bertepatan dengan ulangtahun nenek Sakura. Karena jika tidak, Sasuke harus mencari alasan untuk membawa Sakura pergi keluar bersamanya. Dan sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah menjemput Sakura dirumahnya dan pergi ke rumah nenek Sakura, lalu selama sekitar satu jam kedepan berbincang di pesta itu, mengantar Sakura pulang, menyuruhnya untuk tak meninggalkan rumah selangkahpun, kemudian Sasuke pergi ke tempat operasi. Selesai.

Namun bagaimanapun itu hanya skenario. Dan Sasuke berharap skenarionya berjalan lancar.

"Kukira kau sudah pulang,"

Sasuke menoleh saat Juugo menyapanya dari belakang, ia kemudian memperlambat langkah hingga Juugo berhasil mensejajarkan langkah dengannya. Mereka kemudian berjalan bersama dilorong,

"Ini baru akan pulang. Oh ya, menurutmu berapa persen kemungkinan operasi kita akan berhasil?" tanya Sasuke. Juugo terlihat berpikir sejenak, "80? Mungkin, entahlah. Aku hanya berdoa yang terbaik. Kau ingat operasi kita yang pertama dulu? Itu sangat...sulit. Dan jangan sampai terulang lagi,"

Sasuke mengangguk-angguk. Operasi saat Sakura diculik maksudnya. Saat itu ia memang tak terlibat baku tembak secara langsung –karena ia harus membawa Sakura pergi dari sana- namun keesokan harinya ia mendengar kabar banyak tentangnya. Tentang mereka yang gagal menangkap kawanan berdarah dingin itu.

Dan ia harap kegagalan yang lalu takkan terulang lagi.

"Dan well, sayang sekali kau tak ikut dalam operasi ini." ucap Juugo. "Padahal aku mengandalkanmu, Sasuke."

Sasuke mengernyit, "Bukankah kau sendiri yang memberiku tugas? Lagipula aku juga akan menyusul ke lapangan saat 'tugas khusus'ku selesai "

"Jika aku menyuruhmu untuk memimpin pasukan, maksudku, aku tak memberimu 'tugas khusu', apa kau akan membiarkan gadis itu begitu saja?" tanya Juugo. Kerutan di dahi Sasuke berkurang, ia memasang ekspresi datarnya yang biasa.

"Tentu saja tidak."

"Gotcha. Jadi sama saja, bukan? Masalah kita kali ini lebih rumit. Apa kau juga berpikir demikian?" timpal Juugo sambil tersenyum. Sasuke kembali mengerutkan keningnya, "Apa tepatnya yang ingin kau katakan?"

"Kau ingin melindungi gadis itu, kan?" tanyanya langsung.

"Tugasku memang melindungi orang lain, bukan?"

"Bukan, bukan itu yang kumaksud,"

"Lalu?"

"Kau ingin melindungi gadis itu secara privat, bukan?" Juugo mengulang pertanyaannya. Sasuke kembali menjawab, "Apa semua anggota Tim harus tahu?"

Juugo menarik napas, nampak sedang memilih kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sasuke, "Astaga. Maksudku..."

"Apa?" tanya Sasuke tak sabar.

"Diluar pekerjaan ini, kau ingin melindunginya, kan? Kau sebagai Sasuke Uchiha, bukan kau sebagai Agen Uchiha, maksudku." Jelas Juugo, berharap manusia dingin dihadapannya dapat memahami maksudnya. Dan nampaknya memang benar, karena berikutnya Sasuke terdiam.

"Mengapa kau bertanya seperti ini?"

"Karena kulihat kau terlibat hubungan khusus dengannya." Jawab Juugo ringan. Sasuke yang tengah berjalan disampingnya nampak sedang mencerna ucapannya, "Maksudmu?"

"Kau meneleponnya. Kau menjemputnya. Kau mengantarnya pulang. Dan wajahmu baru saja mengatakan kau ingin melindunginya secara privat. Lalu bagian mana yang kurang jelas untuk sampai pada kesimpulan kau memiliki hubungan khusus dengannya?"

Sasuke mendengus, "Kau hanya salah menilainya. Aku hanya..."

"Oh ayolah, jangan mengelak lagi. Berapa tahun kita berteman? Tujuh tahun? Atau lebih, mungkin. Aku mengenalmu dengan baik, Sasuke." Mereka lalu memasuki lift, setelah Juugo menekan sebuah tombol di lift itu, mereka melanjutkan pembicaraan didalam lift.

"Lalu mengapa memangnya?" tanya Sasuke.

"Maaf?"

"Mengapa jika aku terlibat 'hubungan khusus' dengan seseorang?" Sasuke menanyakannya tanpa melihat kearah Juugo. Juugo sendiri menoleh kearah Sasuke dengan dengan pandangan takjub, "Woaw, kawanku yang dingin ini baru saja mengaku tengah menjalin 'hubungan khusus'."

Sasuke mendengus lagi, "Oh, astaga, Juugo, aku bertanya, dan..."

"Dan?" tagih Juugo. Namun kawannya tak menjawab, Sasuke dengan tergesa mengeluarkan ponsel yang tengah bergetar dari saku jaketnya. Saat berhasil menariknya keluar, Sasuke membaca nama yang tercantum di layar sejenak, lalu menempelkannya ke telinga, namun sebelum ponsel itu mendarat di telinganya, Juugo menyambar tangan kanan Sasuke dan mendekatkan ponsel ke matanya, lensa matanya segera berakomodasi dengan cahaya ponsel hingga ia bisa membaca sederet nama yang terpampang disana. Sasuke melawan dengan menyentakkan pergelangan tangannya yang digenggam tangan Juugo, namun terlambat, aksinya baru berhasil saat Juugo sudah selesai membaca nama yang terpampang disana.

"Oh, jadi telepon dari calon istrimu, ya?" goda Juugo sambil tersenyum jahil. Sasuke sendiri memasang wajah kesal sebelum berbicara di telepon.

-3-

Ini sudah menit kedua sejak Sakura berdiri didepan cermin dan memandangi bayangan yang muncul disana; bayangan seorang gadis berambut merah muda sebahu berbalut gaun berwarna senada iris matanya yang menjuntai hingga lututnya. Ia sengaja menyapukan riasan tipis diwajahnya; bedak dan lip balm, agar wajahnya tidak sepucat biasanya. Sakura berani bertaruh ia tak pernah selama ini memandangi dirinya dicermin saat akan bepergian. Biasanya ia tak terlalu peduli dengan penampilannya, namun entah ada apa dengan hari ini. Malam ini ia memang akan berkumpul bersama keluarga besarnya, dan hal ini cukup sering terjadi, namun mendapati Sakura memakai make up tentu saja jarang terjadi.

Sakura menggigit bibirnya, gugup. Sebentar, gugup karena apa? Oh ayolah, ini kan hanya acara berkumpul yang biasa. Apa yang harus ia gugupkan?

Sakura berjengit saat ponselnya berdering, ia segera menyambar ponsel dan melihat nama yang muncul di layar sentuh; nama Sasuke. Ia menelan ludah dan segera mengangkat telepon, "Halo?"

"Menurutmu aku harus menggunakan sweater atau tidak?"

Sakura mengernyit, "Terserah, memangnya apa yang akan kau gunakan dibalik sweater?"

"Kemeja biru muda dan dasi. Dan celana hitam panjang,". Sakura sempat bertanya-tanya mengapa Sasuke meminta pendapatnya soal pakaian, namun akhirnya ia menjawab, "Menurutku tak usah pakai sweater,"

"Baiklah, aku sudah menunggumu dibalik pagar,"

Sakura melebarkan mata, "Apa kau bilang? Kukira kau masih dirumah. Baiklah, tunggu aku sebentar lagi," Sasuke hanya membalas dengan 'ya' dan kemudian telepon diputus, Sakura kelabakan dan segera menyambar tas kecil, memasukkan ponsel kedalamnya dan sekali lagi memandang cermin dengan gugup.

Jadi alasan ia gugup karena kali ini ia akan pergi bersama Sasuke?

Sakura segera menggeleng saat gagasan itu merasuki benaknya, kemudian ia berlari keluar kamar dan berpamitan dengan orangtuanya dibawah, setelah itu pergi keluar dan segera mendapati Coupe Sasuke sudah terparkir dibalik pagar.

Sasuke keluar dari mobil saat melihat Sakura membuka pagar. Lengan kemeja biru muda yang membalut tubuh atletisnya sengaja dilipat hingga siku, kancing teratas kemeja dibiarkan terbuka, sementara dasi biru tua yang ia kenakan menjulur hingga menyapu bagian atas celana hitamnya. Dan paduan semua itu berhasil membuat Sakura menahan napas selama beberapa detik. Sasuke terlihat...tampan?"

"Aku perlu pamit kepada orangtuamu?"

Pertanyaan Sasuke membuat Sakura kembali bernapas. Sakura berusaha melihat kearah lain agar fokusnya kembali, "Tidak usah, ayahku sedang mandi dan ibu sedang berdandan. Aku sudah pamit dan mereka akan menyusul sebentar lagi,"

Sasuke hanya mengangguk. Sakura berharap agar mereka lekas masuk kedalam mobil agar matanya tak perlu melihat Sasuke lebih lama lagi, namun Sasuke malah diam ditempatnya berdiri dan menatap Sakura dari rambut hingga kaki, "Kau terlihat... berbeda"

Sakura bahkan tak sadar jika pipinya memerah akibat komentar singkat Sasuke atas penampilannya. Namun yang jelas Sakura berusaha mati-matian menahan senyum yang siap menghiasi bibir tipisnya, "Apa yang berbeda?"

"Penampilanmu. Kau terlhat lebih segar,"

Jadi hanya terlihat-lebih-segar? Tidak terlihat lebih... Oh, sudahlah. Sakura segera menghentikan pikiran konyol yang sering muncul akhir-akhir ini dan mengajak Sasuke berangkat secepatnya karena jarum panjang sudah bertengger di angka sebelas.

-4-

Markas 1 - Distrik Setagaya, Tokyo

Terdengar suara berdebum keras dilantai. Disusul suara derap langkah segerombol orang yang berlari memasuki bangunan dua lantai yang tengah mereka –DIH- geledah. Temari berlari masuk setelah segerombol orang tadi lebih dulu berada di dalam, kemudian berjalan mengendap-endap menyusuri sebuah ruangan kosong dengan tangan siaga menggenggam senapan.

"Lantai satu bersih!" teriak salahsatu pria yang tergabung dalam pasukan yang dikepalainya. Setelah mendengarnya Temari berlari kencang kearah tangga dan mulai mengendap-endap lagi, sementara sekitar sepuluh orang pasukannya masih melakukan penyisiran di lantai satu.

"Lantai dua bersih!". Temari bahkan belum mencapai tangga teratas saat seseorang meneriakkannya padanya. Maka ia menghentikan langkah, menurunkan senapannya dan mulai berbicara melalui earphone yang terpasang ditelinganya.

Markas 2 – Distrik Kawasaki, Tokyo

Juugo mendobrak sebuah pintu kayu menggunakan kaki kanannya, lalu menodongkan senapan kearah pintu yang terbuka. Tak ada siapa-siapa. Kemudian ia berjalan perlahan memasuki ruangan gelap gulita itu dan tak mendapati apapun disana. Juugo lalu berbalik dan keluar dari sana, hendak memeriksa setiap ruangan yang berada di lantai satu bangunan tiga lantai yang terlihat seperti bekas apartemen ini. kakinya baru saja bersiap untuk mendobrak pintu lain saat terdengar suara rentetan tembakan dari lantai dua. Ia –dan beberapa orang pasukannya- segera berlari menuju tangga yang berada di ujung lorong.

"Sisakan beberapa orang di lantai satu!" perintah Juugo saat melihat hampir semua pasukan yang berada di lantai satu berlari menuju tangga. Akibat perintah Juugo, beberapa orang membatalkan niatnya untuk naik keatas. Ia sendiri kini sudah mencapai tangga dan menaikinya dengan cepat.

"Agen yang diatas, bisa laporkan situasi?" Pertanyaan Juugo kini tengah didengar semua agen melalui earphone.

"Ada tiga orang, dua laki-laki satu perempuan. Dua sedang dilumpuhkan, satu sedang dikejar," Juugo mendengar jawaban samar-samar melalui earphonenya, sementara kakinya tak kunjung berhenti menapaki satu demi satu anak tangga menuju keatas. Baru saat ia tiba diatas, ia bisa melihat baku tembak cukup sengit yang dilakukan pasukannya dengan seorang perempuan berambut ungu. Perempuan itu cukup lincah karena berhasil mengelak dari puluhan peluru yang menerjangnya. Disisi lain beberapa agen tengah berlari mengejar seorang pria ditangga menuju lantai tiga.

"Berhenti, bodoh! Berhentiii!"

Teriakan seorang pria berambut kuning yang tengah mengangkat kedua tangannya keudara membungkam letusan senjata api yang sedari tadi memenuhi ruangan. Baik para agen maupun wanita itu menurunkan senjata dan menatapnya tajam.

"Apa yang kau lakukan, Yahiko!" teriak si wanita berambut ungu pada kawannya yang terlihat sedang menyerahkan diri. Juugo berjalan mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi; si wanita dengan terengah-engah kembali berteriak, "Yahiko! Apa kau... AARGHH!"

Kalimatnya diakhiri jeritan memilukan. Si wanita tumbang dan pistol yang ia genggam jatuh berdebum ke lantai. Awalnya Juugo mengira asal tembakan itu dari pasukannya, namun ternyata tidak, karena saat ia mengalihkan pandangannya pada si pria, pria berambut kuning tadi tengah memegang sebuah stun gun dan baru saja membius kawannya sendiri.

Apa yang tengah terjadi?

"Tenang, ia hanya tidur. Nah, sekarang jauhkan senapan-senapan itu dari wajahku, wahai agen-agen DIH yang manis," ujar pria itu tenang sambil memasukkan stun gun-nya kedalam saku jaket. Juugo mengernyit dan berjalan mendekat, "Apa yang kau mau?"

"Segera bawa aku pergi dari sini dan segera kejar mereka karena Kabuto dan yang lain tengah merencanakan sesuatu yang merugikan kalian,"

-5-

Akhirnya Sakura bisa terlepas dari SI Cerewet Matsuri yang sedari tadi sibuk menanyainya macam-macam. Gadis itu kini tengah teralihkan perhatiannya oleh hal lain. Sakura segera menepi kearah meja kecil dipojok halaman depan rumah neneknya yang besar. Disini cukup sepi, jadi setidaknya ia bisa terbebas dari saudara-saudaranya yang daritadi menanyainya tentang Sasuke.

Sebelum mereka sampai disini, ia dan Sasuke sudah berdiskusi dan mereka memutuskan untuk mengatakan takkan melangsungkan pernikahan dalam waktu cepat. Sakura agak canggung saat membahas soal rencana pernikahan mereka -yang sebenarnya hanya sandiwara- dalam mobil. Namun saat melihat wajah Sasuke yang biasa saja, Sakura akhirnya bersikap biasa saja.

"Lelah dengan serbuan dari Matsuri?"

Sakura menoleh dan mendapati Sasuke sudah berada disampingnya sambil memegang segelas jus jeruk. Sakura tersenyum dan menjawab, "Tak hanya Matsuri, semuanya. Nenekku apalagi,"

Sasuke tertawa. Sakura harus menahan diri untuk tidak benar-benar menoleh dan melihat wajah Sasuke tertawa karena biasanya matanya tak mau melihat kearah lain setelah itu. Dan ia pun berhasil. "Kau tak menyangka ini semua akan berbuntut panjang, kan?"

Melalui ekor matanya Sakura tahu Sasuke sedang menatapnya lekat setelah ia mengajukan pertanyaan, namun ia menahan diri untuk tak menatap balik manik hitam yang pernah membuatnya 'agak terhipnotis' itu. Dan kini Sakura memebelalakkan matanya saat Sasuke ikut menyandarkan tubuhnya ke meja –seperti yang ia lakukan- tepat disampingnya, begitu dekat hingga lengan atas mereka saling menempel. Oh tuhan...

"Sebenarnya tidak. Namun apa kau punya gagasan lain untuk menyelamatkanmu dari usaha perjodohan itu selain cara yang kulakukan?"

Demi tuhan Sakura tak pernah menyalahkan Sasuke atas keputusan yang ia ambil saat itu, karena sandiwara Sasuke sangat efektif untuk memukul mundur Kabuto dalam usaha mengambil hati keluarganya –sekaligus menikahinya-. Jadi saat ini Sakura hendak meyakinkan Sasuke bahwa ia tidak menyalahkannya sedikitpun atas sandiwara berbuntut panjang ini, namun saat Sakura mendongak kearah Sasuke untuk berbicara, emeraldnya bersibobrok dengan manik hitam Sasuke dan kata-kata yang sudah ia rangkai sebelumnya menguap entah kemana.

Sasuke balik menatap Sakura dalam diam, menunggu Sakura mengucapkan sesuatu karena gadis itu sudah membuka mulutnya. Namun setelah dua detik Sakura tak berhasil mengucapkan apapun. Sakura sadar didetik keempat bahwa ia sudah menatap Sasuke tanpa berkata apapun. Dan di detik kelima ia memalingkan wajahnya kearah depan, dengan pipi merona karena malu.

"Mengapa kau sering seperti itu, sih?"

Sasuke bertanya. Dan Sakura menjawabnya sambil bersumpah dalam hati takkan menatap mata wajah itu lagi setelah ini, "Seperti apa?"

"Menatapku, diam, hendak bicara, namun kau hanya memalingkan wajah. Nah, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

Sakura menelan ludah, berharap rona diwajahnya segera menghilang, "Aku tidak menyalahkanmu atas gagasan sandiwara itu. Aku harusnya berterimakasih,"

"Ooh,"

Sakura masih sibuk mengatur napas dan mencoba menghapus wajah Sasuke yang barusan ia tatap dari benaknya.

"Sebenarnya ada apa sih, di wajahku?"

Dan dengan bodohnya Sasuke menunduk dan memiringkan wajahnya tepat didepan wajah Sakura. Rona kembali bertengger di pipinya. Dengan sewot Sakura menjawab, "Apa sih! Tidak ada apa-apa!"

Sasuke kembali ke posisi semula, dan Sakura kembali mengatur napas, saat didengarnya kembali suara bass Sasuke, "Oh, kau belum pernah sedekat ini dengan pria, ya?"

Sakura menelan ludah, "Memangnya kenapa?"

"Kau terlihat gugup. Kau sangat polos ya, Sakura."

-6-

Sasuke tak tahu apa yang gadis itu pikirkan saat ia menyebutkan kata 'polos'. Polos yang ia maksud... yahh gadis itu berkali-kali ketahuan gugup saat berada didekatnya. Sakura kini tengah diam sambil memandangi kerabatnya yang bertebaran didalam dan diluar rumah neneknya.

"Kau pernah berciuman?"

Sasuke sendiri tak tahu mengapa pertanyaan itu muncul dibenaknya. Yang jelas setelah ia menanyakannya Sakura menoleh dengan cepat kearahnya, dengan mata membulat seperti anak kecil yang baru pertama kali mendengar kata 'seks'.

"Be-belum," jawabnya gugup dengan pipi memerah. Berikutnya ia langsung menatap lagi kedepan. Sasuke menahan tawa melihat ekspresi Sakura yang menggemaskan. Tunggu, apa? Menggemaskan?

"Mengapa kau bertanya aneh-aneh?"

Sasuke menoleh dan mendapati Sakura tengah menatapnya dengan rona masih membekas diwajahnya. Sasuke berusaha menjawab sambil menahan tawa, "Tidak tahu. Hanya tiba-tiba pertanyaan itu melintas. Jadi, diusiamu yang ke dua puluh enam kau belum pernah berhubungan dengan laki-laki?"

"Err...saat SMA satu kali, itu hanya hubungan-dua-bulan-ala-anak-remaja, dan setelah itu tak pernah lagi."

Sasuke menganggguk-angguk. Sakura kemudian bertanya, "Darimana kau tahu usiaku?"

Sasuke memutar mata, "Dari mana-mana,"

Sakura mencibir sementara Sasuke tertawa. Sakura kemudian bertanya lagi, "Kalau kau? Berapa usiamu?"

Jadi gadis ini belum tahu usianya? "Satu tahun lebih tua darimu,"

Sakura mengangguk-angguk. "Kita tak pernah membicarakan ini sebelumnya,"

"Yap. Kita tak tak pernah membahas bagaimana hubungan-dua-bulan-ala-anak-remaja yang pernah kau lalui sebelumnya," ulang Sasuke penuh penekanan dengan wajah jenaka. Sakura memukul bahu Sasuke agak keras, "Kau!"

"Oh ayolah, aku jarang menjumpai gadis sepertimu. Kau terlihat seperti anak remaja tujuh belas tahun," komentar Sasuke sambil tertawa kecil. Sakura mencibir, "Hanya karena tidak pernah berciuman?"

"Tidak, tidak, bukan itu."

"Lalu?"

"Aku hanya heran mengapa ayahmu sampai hati menjodohkan gadis polos sepertimu," komentar Sasuke lagi. Sakura hanya menatapnya datar, "Memang seperti apa rasanya berciuman?"

"Woa, woah, aku tidak berkomentar soal ciuman. Tapi yah...seperti itulah," jawab Sasuke asal. Sakura sendiri malah bertanya lebih jauh, "Seperti apa?"

"Seperti memakan buah jeruk,"

Alis Sakura bertaut bingung, "Maksudmu?"

Melihat ekspresi bingung Sakura, untuk kesekian kalinya Sasuke menyemburkan tawa, yang segera disambut oleh cibiran Sakura, "Aku seriuuus"

"Baiklah, baiklah. Astaga, ekspresimu lucu sekali. Jika kau ingin tau rasanya coba saja sendiri," ujar Sasuke setelah berhasil menghentikan tawanya. Rasanya ia seperti sedang membicarakan topik ciuman dengan anak remaja di masa awal pubertasnya, bukan dengan wanita matang berusia dua puluhan.

"Begitu?" tanya Sakura sambil meninggikan alis. Sasuke mengangguk, "Ya, begitu. Dan mohon jangan minta ajarkan aku bagaimana cara melakukannya,"

"Sasuke!" Sakura menepuk tangan Sasuke keras-keras, Sasuke sendiri hanya mengaduh sambil tertawa. Ia baru berhenti tertawa saat melihat Matsuri berdiri beberapa meter didepan dengan pandangan takjub.

"Ada apa, Matsuri?" Sakura bertanya dengan keras, agar Matsuri bisa mendengarnya. Berikutnya gadis itu berjalan mendekat kearah mereka,

"Aku mau pamit untuk pulang namun aku takut mengganggu kalian," ucapnya ragu. Sasuke dan Sakura berpandangan sekilas, kemudian Sakura menjawab, "Tidak mengganggu. Kau mau pulang sekarang?"

"Ya, ini sudah hampir jam sembilan. Kurasa yang lain juga akan pulang sebentar lagi," Matsuri melihat arlojinya, kemudian melirik Sasuke sekilas, "Kalian pulang kapan?"

"Mungkin sebentar lagi?" ujar Sakura sambil melihat kearah Sasuke. Sasuke sendiri sedang menegang karena ia sempat lupa bahwa setelah ini ia harus turun ke lapangan, membantu Iruka. Jika Juugo tahu ia melupakan tugasnya dan malah asyik mengobrol di pesta, bisa habis ia.

"Kita pulang sekarang saja," balas Sasuke. Sakura mengangguk, sementara Matsuri melirik Sasuke lagi sekilas, "Baiklah, aku pulang duluan, ya!"

"Ya, hati-hati, Matsuri," balas Sakura. Sasuke hanya menunduk sambil tersenyum kecil kearah Matsuri, yang segera dibalas Matsuri dengan senyum lebar. Sebelum benar-benar meninggalkan mereka, Matsuri meraih tangan kanan Sakura sambil melirik Sakura dan Sasuke bergantian, "Kutunggu undangannya, ya!"

Setelah mengatakannya, Matsuri segera berlari sambil melambaikan tangan. Sasuke hanya meninggikan alis, sementara Sakura tengah melongo disampingnya. Sasuke menarik ujung bibirnya untuk membentuk sebuah senyum tipis saat kembali menyaksikan wajah konyol Sakura yang menurutnya...menggemaskan?

"Jadi kapan kita akan membuat undangannya?" goda Sasuke sambil tersenyum jahil. Sakura segera mendelik ganas kearahnya, kemudian menarik sikunya untuk berjalan kedalam rumah, "Lebih baik kita lekas berpamitan daripada kau mulai tertular virus Si Cerewet Matsuri"

-7-

"Mereka mencurigaiku berkhianat. Mencurigaiku bekerja untuk organisasi lain dibawah nangan Yakuza. Dan aku tahu cepat atau lambat aku harus menarik diri dari Sumiyoshi-kai jika tak mau dibunuh, dan itu artinya sekarang," ujar Yahiko, pria berambut kuning yang tadi Juugo tangkap. Kini mereka sedang duduk berhadapan disebuah mobil, sedang membicarakan hal amat serius yang sampai membuat mata Juugo membulat tak percaya, "Dan saat aku kebingungan bagaimana caranya melarikan diri dari mereka, kalian datang. Kupikir ide bagus jika aku membiarkan kalian membawaku, karena aku putus kontak dengan PSIA,"

Juugo melipat tangannya didada. Penjelasan orang ini benar-benar membuatnya terkejut, "Dan kau, sebagai agen PSIA yang sedang menyamar didalam Sumiyoshi-kai, hanya berdiam diri saat mereka merencanakan perampokan bank dan toko kimia?"

"Tidak. Aku tidak tahu menahu sama sekali. Kedua perampokan itu tak dilakukan oleh semua anggota. Hanya para petinggi yang berhak memutuskan strategi dan lokasi perampokan, atau pemerasan, dan aku bukan termasuk para petinggi itu. Sangat sulit untuk menjadi orang kepercayaan Momoshinki, tapi Kabuto berhasil menjadi salahsatu orang kepercayaannya." Jelas Yahiko. Juugo tak tahu harus memercayai Yahiko atau tidak saat Yahiko mengatakan ia sebenarnya agen PSIA yang tengah menyamar untuk menggali informasi dari Sumiyoshi-kai, guna menghancurkan organisasi jahat itu dan menggiring semua anggotanya ke penjara. Namun tentunya hal itu tak mudah, karenanya PSIA memutuskan mengurimkan agen untuk menusuk mereka dari dalam.

"Sudah satu tahun aku menjalankan misiku dan hanya ada lima operasi besar yang berhasil kugagalkan. Sementara aku sendiri tak berhasil menjadi orang kepercayaan Momoshinki –kepala organisasi- dan malah dicurigai oleh mereka. Akhirnya aku memutuskan mengakhiri misi ini saat tahu kalian mulai bergerak," terang Yahiko panjang lebar. Sementara Juugo masih memandanginya tak percaya. Menyadari kecurigaan Juugo, Yahiko berbicara lagi, "Aku memang meninggalkan seluruh identitas asliku, termasuk bagde pengenal PSIA, tapi PSIA menanam radar dalam tubuhku, dan kalian bisa antar aku ke kantor pusat PSIA jika kalian tak memercayaiku,"

Juugo menghela napas panjang, "Informasi apa saja yang kau dapat? Aku tahu aku tak berhak menanyakannya padamu, namun bagaimanapun DIH yang membawamu keluar dari sana,"

"Ada banyak, lainnya akan kuberitahu nanti, sekarang ada sesuatu genting diluar sana. Kutanya dulu, kau tahu gadis berambut merah muda bernama Sakura?"

Mata Juugo melebar. Ada apa dengan Sakura? "Sakura Haruno. Aku tahu. Ada apa dengannya?"

"Bagus. Apa dia ada dibawah perlindungan DIH atau ia sedang mengikuti program perlindungan saksi?". Juugo menjawab dengan tergesa, "Tidak. Memangnya kenapa? Tapi kami sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk, sekarang ia dibawah pengawasan salahsatu agen DIH."

"Salahsatu? Hanya satu agen?" ulang Yahiko tak percaya. Juugo mengagguk. Punggung Yahiko menegak, "Bodoh! Malam ini Kabuto dan yang lainnya berniat menghabisi gadis itu! Dan jumlah mereka banyak."

Juugo menegang ditempatnya duduk. Ia memang mengirim Sasuke untuk melindunginya. Namun jika anggota mereka sebanyak itu, Sasuke akan tumbang. Maka dengan cepat ia menekan sebuah tombol di earphonenya dan mulai berbicara, "Kiba! Kau dengar aku?"

"Ya, Juugo. Operasi berakhir, kini semua pasukan sudah ditarik..."

"Tunggu. Suruh semua pasukan berkumpul di posisi T-022-99, tunggu intruksi dariku selanjutnya!" ujar Juugo setengah menjerit. Dari ujung sana Kiba hanya menyetujui ucapan Juugo.

"Dimana? Dimana mereka akan menghabisinya?" tanya Juugo memburu. Yahiko hanya mengangkat bahu, "Tidak tahu. Yang jelas mereka berangkat dengan lima mobil penuh, artinya banyak sekalli anggota yang terlibat..."

Juugo tak mendengar Yahiko lebih lanjut, sekarang ia sibuk menekan tombol lain di earphone-nya lalu berbicara, "Sasuke? Sasuke? Kau bisa dengar aku?"

-8-

Untuk kesekian kalinya, Sasuke melirik kaca spion dan mendapati sebuah sedan biru tua masih melaju tepat dibelakang mobilnya. Sejak tadi firasatnya tak enak dan sejak tadi pula mobilnya diikuti beberapa mobil tak dikenal. ia yakin sekali mereka sedang diikuti, dan masalahnya tak hanya satu mobil, tapi beberapa. Ada yang menjaga jarak dari mobilnya,ada juga yang tidak. Ia ingin menanyakan pada Juugo apa operasi mereka sudah selesai namun ia tak ingin memancing kecemasan gadis yang sedang duduk disampingnya. Jadi ia hanya memutar-mutar jalan untuk mengulur waktu sampai mobil yang mengikutinya kehilangan arah.

"Sebenarnya kita mau kemana?"

Sasuke menoleh dan mendapati Sakura sedang melihat bingung kearah luar jendela mobil. Sudah ia duga gadis ini curiga, "Pulang. Hanya aku ingin berjalan-jalan sedikit,"

"Begitu? Ada apa? Tumben sekali." Komentar Sakura lagi. Sasuke sekali lagi melihat kearah spion dan sedan biru tadi masih mengikutinya, "Tidak ada apa-apa. Apa kau akan dimarahi jika pulang kemalaman?"

"Kau pikir aku anak kecil?"Sakura sewot. Sasuke hanya tersenyum kecil sambil berusaha menutupi rasa cemasnya. Pokoknya gadis ini tak boleh sampai tahu mereka sedang diikuti.

Mobil Sasuke melaju kencang menuruni fly over dan berakhir disebuah perempatan jalan. Mata Sasuke melebar saat mendapati kendaraan yang memadati perempatan itu, "Ada apa ini?"

"Ooh, kampanye Hatake Kakashi dari partai Konoha untuk pemilihan perdana menteri Juni nanti. Aku baru ingat," jawab Sakura. Sasuke mengumpat sambil menginjak rem. Mobilnya tak bisa bergerak sama sekali. Mengapa disaat seperti ini harus ada kampanye sialan ini, sih?

"Woa, kita akan terjebak macet selama beberapa kilometer kedepan. Bagaimana ini?" Sakura menggigit bibirnya khawatir. Sementara Sasuke sedang menimbang-nimbang akan menghubungi Juugo atau tidak.

"Oh! Aku tahu jalan pintas yang sepi!" Sakura berseru disampingnya. Sasuke menoleh sekilas kearah Sakura, "Jalan pintas apa?"

"Sekitar lima ratus meter kedepan ada belokan ke kanan, lalui jalan itu dan kita akan sampai ke jalanan besar dekat rumahku. Aku yakin jalanan itu pasti sepi." Sakura berceloteh dengan semangat, tak tahu jika Sasuke tengah stress. Ia tahu persis jalan pintas itu. Jalanan gelap itu panjang dan sepi. Bagaimana jika orang-orang yang membuntutinya sejak tadi menghadang mereka di jalanan sepi itu?

"Sasuke?"

Sasuke mengerjap dan baru sadar Sakura tengah memandanginya, "O-oh, apa kau yakin kita akan lewat sana?"

"Jika kita tetap dijalan ini, kupastikan jam dua belas malam nanti kita baru sampai rumahku. Ini macet total, Sasuke!" Sakura setengah merengek. Oh, astaga. Bagaimana ini?

"Baiklah." Ujar Sasuke akhirnya. Padahal batinnya masih berdebat. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Juugo dan menjelaskan tentang keadaannya sekarang.

"Sasuke? Sasuke? Kau bisa dengar aku?"

Sebelum Sasuke sempat mengatakan sesuatu, suara Juugo lebih dulu terdengar di earphone yang terpasang ditelinga kirinya. Sasuke melirik Sakura sekilas sebelum menjawab, "Ya, aku dengar. Ada apa?"

Melalui ujung matanya ia bisa melihat tatapan heran Sakura saat melihatnya bicara sendiri. Namun akhirnya gadis itu menyadari earphone yang terpasang ditelinganya.

"Kabuto dan yang lain mengincar Sakura. Dimana gadis itu sekarang?"

Apa yang ia takutkan sekarang terbukti. "Bersamaku. Kami terjebak macet. Kau dimana?"

"Di jalan. Perlambat lajumu dan kami akan menuju ke tempatmu. Jangan berhenti, karena kemungkinan besar mereka sedang mengekormu."

Sasuke menelan ludah. "Dimengerti. Segera menuju kesini. Aku akan mengulur waktu."

"Sasuke? Ada apa?"

Sasuke menoleh dan langsung mendapati wajah cemas Sakura, "Tidak ada apa-apa. Kita akan segera pulang."

Setelah itu Sasuke menginjak gas dan mobil melaju perlahan karena lalu lintas didepan masih padat. Akhirnya ia sudah memutuskan, ia akan melalui jalan pintas itu dan tancap gas sekecang-kencangnya. Artinya ia siap memulai aksi kejar-kejaran yang menegangkan.

"Benarkah? Mengapa kau tadi menyuruh temanmu kesini?"

Sasuke menghela napas sebelum menjawab, "Ya, ada sedikit urusan yang harus dibereskan. Nah, sekarang kita akan segera terbebas dari macet yang menyengsarakan ini."

-9-

Sakura menggigit bibirnya khawatir. Perasaannya semakin tak enak. Berkali-kali ia melirik Sasuke yang sekarang sudah selesai bicara dengan temannya-entah siapa-, namun pria itu seolah tak mau memberitahunya apa yang tengah terjadi.

Mobil mereka melaju perlahan. Pelan sekali. Hingga mereka beberapa meter didepan terdapat sebuah jalan pintas yang tadi Sakura maksud. Tanpa sadar gadis itu menghela napas lega.

"Belokannya sudah didepan mata. Siap-siap saja, aku akan mengebut agar kau tak pulang kemalaman," ujar Sasuke tanpa melihat kearahnya. Sakura tak menjawab, hanya membisu selama perjalanan menuju belokan itu, dan setelah mereka sampai disana, Sasuke dengan tergesa memindah gigi mobil dan berbelok dengan brutal, sampai-sampai ban mobil mengeluarkan suara berdecit yang menyakitkan.

Sakura hendak bertanya 'ada apa' untuk kedua kalinya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Sasuke memutar setir dengan amat serius. Pandangan matanya tertancap di spion, entah apa yang dilihatnya. Barulah saat Sakura membalikkan badan, dengan jelas ia dapat melihat sebuah sedan biru tua sedang melaju tepat dibelakang mereka. Tak hanya sedan itu, ada beberapa mobil lain yang mengekor dengan kecepatan menakutkan.

Menyaksikan semua mobil itu, kepanikan Sakura memuncak. "Sasuke! Siapa mereka?"

"Tenang. Jangan panik, oke? Jangan panik. Kita akan segera mengakhiri kejar-mengejar yang konyol ini," ujar Sasuke sambil sekuat tenaga menyembunyikan rasa paniknya sendiri. Sakura bungkam. Tangannya menggenggam erat rok selutut yang ia gunakan, untuk meredam paniknya yang semakin menjadi.

Tarik napas. Lalu buang.

Sakura melirik speedometer dan mendapati jarum bergerak dikisaran angka 120-130.

Tarik napas. Lalu buang.

Sekali lagi mobil berbelok dengan brutal dijalanan sepi yang luas ini. Tak satupun orang yang ia jumpai sepanjang jalan, bahkan mobil pun tidak. Yang ada hanya bunyi decit mobil ini, dan mobil-mobil yang mengejar mereka dibelakang.

Tarik napas. Lalu...

Sakura belum sempat membuang napasnya, karena tiba-tiba dari belokan jalan beberapa meter didepan mereka muncul sebuah mobil lain dengan kecepatan yang tak kalah menakutkan.

Sasuke menginjak rem mendadak lalu membanting setir ke kanan, menghindari tabrakan dengan mobil yang didepan. Sakura memejamkan mata dan menjerit tertahan saat semua itu berlangsung. Saat ia membuka mata lagi mobil mereka sudah dalam keadaan diam; melintang ditengah jalan juga diapit oleh mobil lain dari depan dan belakang. Mereka terjebak.

Disampingnya Sasuke tengah terengah-engah sambil menatap panik kedepan. Beberapa orang menumpang mobil didepan mereka keluar dan segera memasang wajah tak bersahabat. Sakura mulai gemetaran.

"Keluar kau, brengsek!"

Salahseorang diantara mereka berteriak dengan lantang, dan tak lama mulai mengerumuni mobil yang Sakura tumpangi.

"Kau bisa menggunakan ini?"

Masih dengan gemetaran, Sakura menoleh dan mendapati Sasuke tengah menyodorkan sepucuk pistol kearahnya. Sakura menatap ragu pistol itu, lalu menggeleng.

"Tekan pelatuknya, saat terdengar suara 'klik', taruh telunjukmu di picu, arahkan mulut pistol ke target, lalu tekan picu kuat-kuat." Jelas Sasuke sambil memeragakan cara menggunakan pistol pada Sakura. Sakura hanya mengangguk dengan takut.

"Keluar!"

Mereka berteriak lagi, namun Sasuke mengabaikannya, kedua tangannya masih menyodorkan pistol ke Sakura. "Pegang ini. Tembak mereka jika dibutuhkan. Aku akan keluar,"

Karena Sakura diam saja, Sasuke meraih tangan kanan Sakura yang masih menggenggam rok dan meletakkan pistol disana. Dengan segala ketakutan yang ada, Sakura memohon pada Sasuke agar tak meninggalkannya melalui tatapan mata, namun pria itu hanya menatapnya balik sambil mengangguk, "Semuanya akan baik-baik saja,"

Kemudian Sasuke keluar dari mobil, menghadapi kumpulan orang berwajah menyeramkan yang sudah berkerumun didepan mobil mereka.


Author's Note :

Chapter ini berisi penyelesaian dari konflik di Fanfic ini, tapi karena terlalu panjang jadi author memutuskan buat membagi chapter ini jadi 2 part, he he. And this is not the end. Setelah chapter ini selesai, akan ada chapter epilog sebagai chapter penutup Fanfic ini.

Happy reading dan mohon maaf atas segala typo dari segi bahasa ataupun kalimat.

Dan sekali lagi, author masih pemula, jadi masih membutuhkan banyak saran dan komentar dari teman-teman. Terima kasih atas bentuannya ^^