Sebuah Akhir Cerita


"Sasuke, katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk menebus semua ini?"

.

.

Sasuke bergeming. Sakura terisak. Tak ada yang bicara selama beberapa detik. Hingga Sakura merasakan tekanan dibagian kepalanya.

"Baiklah, artinya kau memilih mati lebih dulu. Bisikkanlah ucapan selamat tinggal ditelinga gadismu. Aku akan memberi waktu,"

Sakura akhirnya sadar tekanan tadi akibat Kabuto menekankan pistol dikepala Sasuke. Maka Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke kebelakang, namun tak berhasil. Tenaga Sasuke masih terlalu berat untuk ia lawan. "Sasuke kumohon. Menjauh dariku," bisiknya lirih.

"Satu..."

Sakura meremas kemeja Sasuke erat saat Kabuto mulai menghitung mundur. Isaknya sudah tak terkendali. Ia tak bisa berkata-kata lagi.

"Dua..."

Sakura memejamkan mata kuat-kuat. Berharap jika Kabuto melepaskan peluru, maka peluru itu bisa menembus kepalanya juga. Agar ia tak menyaksikan Sasuke tewas karenanya.

Berikutnya tak terdengar kata 'tiga', melainkan terdengar suara letusan yang memekakkan telinga. Sakura pun menjerit sekuat tenaga.

-10-

"Juugo, mobil kami samasekali tak bisa lewat. Beberapa ruas jalan ditutup akibat kampanye. Kau sudah hubungi Sasuke?"

Juugo berdecak kesal. "Sama. Mobil Sasuke juga terjebak macet. Dan ia sepertinya diikuti kawanan Kabuto. Kita harus segera sampai kesana. Astaga, bagaimana dengan pasukan yang lain?"

"Sama saja. Semua unit pasukan berada di Distrik Shinjuku, sebenarnya tak jauh dari posisi Sasuke sekarang, namun lalu lintas macet total"

Juugo menarik napas panjang, ia sendiri sedang berada di mobil yang berbeda dengan anggota tim lain. Tadi setelah menggeledah markas dan membawa Yahiko, ia memisahkan diri dengan pasukannya dan menaiki mobil yang terpisah dengan pasukan, berdua saja dengan Yahiko, serta satu orang agen sebagai supir.

"Juugo? Ada informasi dari Sasuke?"

"Tunggu sebentar." Ujar Juugo sambil menekan sebuah tombol di earphonenya. Tak lama ia berbicara kembali, "Sasuke? Laporkan situasi?"

"Situasi darurat. Aku akan berhadapan dengan mereka. Lekas datang kesini, disini berkumpul banyak anggota mereka. Aku akan mengulur waktu. Dan jangan hubungi aku dulu. I'm fighting right now," suara Sasuke yang dingin menembus gendang telinga Juugo, membuat pria itu melebarkan mata, dan setelah itu Sasuke tak bicara lagi.

"Sasuke?"

Tak ada jawaban. Juugo mendengar suara bantingan pintu mobil dari earphonenya, kemudian suara orang berteriak. Dan Sasuke sama sekali tak bicara padanya. Artinya sekarang ia tengah berhadapan dengan kawanan Kabuto.

Lalu apa yang harus ia lakukan?

Dengan tergesa, Juugo segera menekan tombol di earphonenya, kemudian berbicara dengan tak sabar, "Dimana kalian?"

"Mobil kami tak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan mobil patroli polisi pun malah terparkir di pinggir jalan. Kau sendiri dimana?" tanya orang diseberang sana. Juugo menjawab, "Distrik Kawasaki, menuju Distrik Shinjuku tempat Sasuke berada,"

"Bagaimana dengan helikopter?"

Juugo menoleh menuju asal suara. Barusan Yahiko yang berbicara. Ia bahkan sampai lupa ada orang lain di mobil ini selain ia dan pengemudi. Juugo terdiam sejenak, mencerna perkataan Juugo. Bagaimana ia lupa transportasi darat bukanlah jalan satu-satunya? Maka ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, sambil menatap Yahiko lekat-lekat, "Kau benar"

-11-

Sasuke mendengar suara Juugo yang memanggilnya di earphone. Tapi ia mengabaikannya. Karena sekarang ia tengah berhadapan dengan enam orang pria berwajah sangar yang sudah sedari tadi menunggunya keluar dari mobil. Dan dengan jelas ia bisa melihat Kabuto merupakan salah satu dari mereka.

"Ada perlu apa denganku?" tanya Sasuke santai. Perlahan-lahan langkahnya mendekati mereka, sementara mereka hanya diam sambil memandanginya penuh kebencian.

"Hahahaha, kau masih suka basa basi ternyata. Kemari kau, brengsek." Kabuto yang menjawab. Sasuke mendekat sambil menyunggingkan senyum, "Wah Kabuto, apa kabar? Kau sudah pulih dari luka-lukamu?"

Kabuto tak menjawab, dengan emosi ia berlari kearah Sasuke sambil mengepalkan tinju, tadinya tinju itu ia arahkan kewajah Sasuke. Namun Sasuke tak mengizinkan tinju itu mendarat di wajahnya, karena ia lebih dulu menepisnya dengan santai, seolah tak butuh usaha. "Wah, kau agresif sekali."

"Minggir kau, brengsek! Dengar, urusanku bukan denganmu. Tapi kenapa kau malah ikut campur urusanku?" bisik Kabuto tepat didepan wajah Sasuke. Wajahnya menyiratkan kebencian yang amat sangat. Namun Sasuke tetap tenang, matanya menatap Kabuto datar. "Lalu dengan siapa urusanmu?"

"Urusanku dengan gadis itu. Tapi KAU MENGHANCURKAN SEMUANYA, BRENGSEK!" bisikan Kabuto kini berubah menjadi teriakan ganas sambil menunjuk wajah Sasuke dengan telunjuknya. Ia berjinjit untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sasuke.

"Dengan Sakura? Wah, masalah pernikahan itu memang bukan urusanku. Tapi masalah kekejian yang kalian lakukan terhadap ratusan warga diluar sana yang merupakan urusanku," ujar Sasuke sambil memberi penekanan dibeberapa kata terakhir. Mereka masih berdiri berhadapan dengan jarak yang amat dekat.

"Siapa peduli, brengsek!" teriak Kabuto penuh amarah. Ia mundur perlahan untuk memandangi Sasuke dari atas hingga ke bawah dengan tatapan penuh emosi.

"Dan sekarang yang harus kita selesaikan..."

"Serang!"

Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Kabuto mengeluarkan perintah pada antek-anteknya sambil menunjuk Sasuke heroik. Lima orang yang berdiri dibelakang Kabuto berlari membabi buta kearah Sasuke. Sasuke segera menyiapkan kuda-kuda untuk melawan mereka, dan ia berhasil menghindar dari beberapa pukulan.

Tapi tentu saja tak bisa seterusnya seperti ini, karena ia kalah jumlah. Ada beberapa pukulan yang lolos dan melukai tubuhnya. Namun ini belum fatal, hingga akhirnya terdengar suara tembakan dari arah belakang, lalu sebuah peluru bersarang di lengan atas Sasuke. Sasuke berbalik dan menatap nyalang dua orang yang muncul dari belakang sambil menenteng senapan. Pria yang menembaknya tadi tengah menyeringai lebar kearahnya.

"Oh, lihat Kabuto. Musuh bebuyutanmu kini sedang panik,"

Sasuke tak memedulikan perkataan itu. Ia melirik khawatir kearah mobil, berharap Sakura tak melakukan hal konyol dengan keluar dari mobil disaat seperti ini, Perhatiannya kemudian teralihkan oleh belasan orang yang keluar dari beberapa mobil yang menguntitnya tadi. Kini mereka berbondong-bondong mendekat kearahnya. Terdengar suara tawa puas Kabuto.

"Hahahaha, kau benar, Kakuzu, ia panik. Oh, atau ia tengah mengkhawatirkan gadisnya? Apa lebih baik kita bawa gadisnya kesini?" ujar Kabuto lantang. Sasuke mendelik tajam kearahnya. Kabuto kemudian bicara lagi, "Tahan tembakan kalian. Kita seret gadisnya kesini,"

Kabuto kemudian berjalan menuju Coupe Sasuke. Namun Sasuke segera menerjangnya dari belakang dengan sebuah tinju yang berhasil mendarat di tengkuk Kabuto. Alhasil Kabuto tumbang, namun berikutnya Sasuke harus menghadapi amukan para antek-anteknya.

Satu tembakan lagi mereka lepaskan. Namun kali ini tak mengenai Sasuke. Sasuke berlari menghindar sambil mengambil pistol dari celananya, dan mulai melepaskan beberapa peluru kearah mereka.

Beberapa diantara mereka terkena tembakan. Namun si pemegang senapan masih utuh. Sasuke melepaskan beberapa tembakan lagi sambil melindungi diri dari terjangan fisik beberapa dari mereka yang berdiri didekatnya. Entah sampai kapan ia bisa menghadapi ini. Yang jelas dalam hati ia berharap pasukan Juugo segera datang kesini dan membantunya.

-12-

Tanpa sadar Sakura sudah menahan napas sejak beberapa detik lalu. Berkali kali ia menutup mulutnya dengan telapak tangan saat menyaksikan Sasuke sedang ditembaki dan dipukuli. Dari cara Sasuke bertempur, Sakura tahu pria itu sangat terampil dalam hal ini dan ia pasti sangat menguasai taekwondo. Tidak, tidak hanya taekwondo, tapi bela diri lain. Entah apa namanya dan yang jelas ia juga sangat terampil menembak jitu. Namun bukan waktunya mengaguminya disaat seperti ini. karena musuh yang dihadapinya bukan hanya satu-dua orang. Tapi puluhan.

Satu pukulan mengenai tengkuk Sasuke dan refleks Sakura memekik tertahan. Sedaritadi tangan kanannya memegang pistol. Namun ia tak tahu apakah ia akan menggunakannya atau tidak. Ia tahu benar Kabuto mengincarnya, ia mendengarnya tadi. Tapi Sasuke memilih melindunginya dan mengambil resiko dengan menyerang Kabuto dari belakang. Akibatnya kini ia dikeroyok dengan membabi buta.

Sakura tak tahan lagi. Tenaga Sasuke mulai habis. Ia mulai kewalahan menghadapi musuh yang semakin ganas. Sempat terpikir olehnya untuk keluar dari mobil dan menembaki mereka. Namun jika peluru dalam pistol yang tengah ia genggam ini habis, bisa apa dia? Hanya berdiri disana? Menyerahkan diri? Mematung menyaksikan Sasuke dipukuli tanpa bisa membantu apa-apa? Menyedihkan sekali.

Sebuah pukulan keras berhasil membuat Sasuke tumbang. Sekali lagi Sakura membekap mulutnya dengan telapak tangan. Badannya dicondongkan kedepan, badannya mulai gemetaran, dan airmata mulai berjatuhan.

Saat ini Sakura merasa dirinya ialah gadis paling lemah didunia. Hanya bisa memandangi orang yang selama ini mati-matian melindunginya disiksa didepan matanya. Ironis sekali. Lagipula apa yang bisa ia lakukan?

Dalam hati ia berharap agar rekan Sasuke segera datang. Seperti saat itu. Namun mereka tak kunjung datang. Pandangan Sakura mengabur, terhalang airmata yang kini mengalir semakin deras. Pandangannya lekat pada tubuh Sasuke yang sudah tumbang, namun masih bergerak untuk memberikan perlawanan semampunya.

Sakura baru mengalihkan pandangannya keatas saat ia mendengar suara gemerutuk air membentur atap mobil. Hujan. Diluar hujan. Alam ini seolah sedang memusuhinya. Memilih menurunkan hujan disaat Sasuke tengah kesulitan bahkan untuk bergerak sekalipun. Dan sekarang derasnya hujan akan menambah penderitaannya.

Sakura terbelalak saat tiba-tiba Kabuto berbalik kearah mobil tempat ia berada. Mengacungkan pistol dan kemudian menembak tepat kearah Sakura. Sakura terpejam, namun peluru itu tak sampai padanya. Peluru itu hanya menggores kaca depan sedikit. Ia baru tahu ternyata semua kaca mobil ini antipeluru.

Kabuto menembak lagi, namun mobil ini melindunginya. Sakura masih terisak sambil menggenggam pistol. Samar-samar, ditengah gemericik hujan yang semakin deras, ia bisa mendengar teriakan Kabuto menyuruhnya keluar. Berkali-kali. Dan berkali-kali pula ia melihat Sasuke berusaha bangkit dan menahan tubuh Kabuto agar tak mendekati mobil. Ia tahu persis mobil ini dalam keadaan terkunci. Namun tetap saja, adrenalin mengalir deras dalam darahnya, memacu jantungnya memompa darah lebih cepat. Memicu napasnya hingga terengah-engah.

Ia harus keluar dan menolong Sasuke.

Itu hal terakhir yang muncul dibenak Sakura. Ini semua akibatnya. Dan ia takkan pernah memafkan dirinya sendiri jika sampai Sasuke mati karena melindunginya. Tidak akan. Maka ia akan keluar dan menyerahkan diri pada mereka. Ia yang mereka inginkan, bukan? memang tak ada jaminan mereka akan membiarkan Sasuke hidup jika ia menyerahkan diri, namun setidaknya lebih baik ia yang mati lebih dulu. Sebab ia tak sanggup jika menyaksikan Sasuke mati didepan matanya.

Maka setelah mengumpulkan keberanian, Sakura menggenggam erat pistol ditangan kanannya. Sementara tangan kirinya membuka kunci dan pintu mobil perlahan. Kemudian ia keluar dari mobil, dan dengan segera hujan menyambutnya dengan tetesan dingin menyakitkan.

-13-

Helikopter sedang dipersiapkan.

Juugo mengumpat dan mengutuk dirinya sendiri mengapa tak sedari tadi ia mengirim helikopter? Ah benar sekali kata teori. Kepanikan merusak akal sehat.

"Percuma kau gusar seperti itu. Hanya helikopter yang bisa membantu mereka." Yahiko berkomentar lagi. Juugo mendeliknya sekilas, memang benar. Perkataannya memang benar.

"Agen macam apa yang kau kirim untuk melindungi gadis itu?" Yahiko bertanya lagi. Juugo menghela napas lelah lalu bersandar, "Jangan diragukan lagi. Yang pasti aku takkan mengirimkan agen pemula di misi ini. Masalahnya lawannya banyak. Hanya masalah waktu dan ia akan tumbang jika kita tak datang membantunya,"

"Dan hujan akan membuat semuanya semakin buruk,"

Juugo mengikuti arah pandang Yahiko yang tengah memandang kosong ventilasi kecil dimobil itu. Dan ia baru sadar jika diluar hujan. Dan hujan merupakan pertanda buruk bagi mereka.

"Berdoa saja semoga tak turun badai. Karena jika iya, maka helikoptermu takkan berfungsi," ujar Yahiko lagi, seolah memperingatkan. Juugo hanya memandang kosong keluar ventilasi. Ia benci saat-saat dimana ia tak bisa berbuat apa-apa.

Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti. Juugo beringsut kearah kawat pembatas jok belakang mobil dan kursi pengemudi, kemudian mengintip kearah luar, "Mengapa berhenti?"

"Kita sudah masuk Distrik Shinjuku. Dan didepan sana macet total," jawab si pengemudi. Juugo berdecak kesal, kampenye sialan itu. Ya, semuanya akibat kampanye itu. Namun bagaimanapun disaat seperti ini menyalahkan bukanlah kegiatan yang membantu.

"Apa yang kau dengar dari lokasi?"

Juugo menoleh ke arah Yahiko, "Lokasi? Maksudmu tempat Sasuke?"

"Ya, tadi kau bicara dengannya, bukan? Artinya kau bisa mendengar apa yang terjadi disana?" Yahiko memperjelas pertanyaannya. Juugo menelan ludah, lalu dengan senyum pahit menjawab, "Ya, namun sambungannya kuputus sementara, karena sedari tadi yang kudengar hanya suara pukulan dan tembakan,"

-14-

Sasuke terhuyung ke samping. Ia memang menggunakan rompi antipeluru dibalik kemejanya. Namun tangan dan kakinya tetap memungkinkan terkena tembakan. Dan kini dua butir peluru sudah bersarang dilengan dan pahanya. Ditambah luka-luka pukulan disekujur tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur. Tapi tidak, ia tak boleh tumbang sekarang.

Sebuah pukulan menerjang pipinya dan dengan mudah ia terjatuh. Aspal basah segera menyambut permukaan tubuhnya yang dipenuhi luka. Seolah semua ini belum cukup menyakitkan, air hujan turun dengan brutal menerjang luka-lukanya. Membuat kemeja biru muda yang ia kenakan dibasahi air bercampur darah.

Rasa sakit berdenyut diseluruh tubuhnya. Ia belum bangkit dari posisi jatuhnya yang terlentang. Kini semua tampak berputar dimatanya. Tapi ia masih bisa melihat seringaian Kabuto yang berdiri tepat diatasnya. Berikutnya Kabuto menunduk mendekatinya, dengan sebuah tinju terkepal ditangannya. Sasuke tak bisa bergerak, karenanya ia memejamkan mata dan siap menerima sebuah tinju yang akan segera menyapa luka-lukanya.

Namun tinju itu belum sampai menyentuhnya saat tiba-tiba suara tembakan terdengar ditengah gemericik hujan. Sasuke membuka mata dan mendapati Kabuto tumbang tepat disebelah tubuhnya. Kabuto memegangi tangan kanannya yang tertembak sambil memandang nyalang kebelakang. Sasuke mengikuti arah pandang Kabuto dan matanya melebar saat mendapati Sakura tengah berdiri sambil mengacungkan pistol.

Gadis yang ia lindungi keluar dari mobil. Bodoh...

"Hentikan! Berhenti memukulinya, hentikann!" jerit Sakura diantara isaknya. Sepertinya semua orang disini terhipnotis aksi Sakura barusan, termasuk dirinya. Karena selama beberapa detik kedepan tak ada yang bereaksi. Bahkan Kabuto sekalipun hanya berlutut sambil memegangi lukanya.

Memanfaatkan kesempatan, dengan seluruh sisa tenaganya Sasuke menopang tubuhnya dengan tangan dan berusaha bangkit. Setelah ia dalam posisi duduk, sekuat tenaga ia memukul tangan Kabuto yang barusan tertembak. Kabuto menjerit kesakitan dan jatuh terlentang. Sasuke kini berhasil berdiri walau sempoyongan, namun satu pukulan lagi dari antek-antek Kabuto membuat usahanya sia-sia, karena ia kembali terjatuh disamping Kabuto yang sedang mengerang kesakitan.

Tubuhnya bahkan baru saja menyapa permukaan aspal yang kasar saat sebuah tangan kembali mengepalkan tinju kearahnya, dan ia tak bisa menghindar. Namun untuk kedua kalinya tinju itu tak sampai padanya karena Sakura kembali melepaskan peluru untuk menolongnya.

Dalam keadaan berbaring Sasuke menatap Sakura yang tengah berdiri dengan pistol ditangan. Ia tahu gadis itu ketakutan, dan berdiri dengan kaki gemetaran dibawah hujan yang kian menjadi. Namun Sasuke kini tak bisa melindunginya. Karena bahkan setelah ini ia tak tahu masih bisa berdiri lagi atau tidak.

-15-

Telunjuk Sakura yang gemetaran masih diposisikan di picu. Tidak, tak hanya telunjuknya yang gemetaran, tapi seluruh tubuhnya. Mata Sakura dibuat buram oleh campuran air hujan dan airmatanya sendiri. Isaknya kini bersatu dengan suara gemericik hujan yang semakin menjadi, airmatanya kini bersatu dengan air hujan yang turun semakin deras. Ia sangat kacau.

Seluruh kawanan Kabuto kini menatapnya. Setelah tembakan kedua ia lepaskan, mereka memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara terkejut, marah, dan entahlah. Yang jelas sekarang Sakura harus melawan mereka dengan tangannya sendiri.

Ia melirik sekilas Sasuke yang jatuh terlentang. Tubuhnya bermandikan darah, ia menebak pasti pandangan Sasuke sudah buram. Tubuhnya sudah terluka. Tenaganya sudah habis. Tapi ia bersyukur Sasuke masih hidup.

Lalu apa lagi sekarang? Yang bisa Sakura lakukan hanya memegang pistol ini, menekan picu jika ada orang yang berusaha menyakiti Sasuke atau menyakitinya. Terus seperti itu hingga pelurunya habis. Lalu, setelah peluru habis, apa yang akan ia lakukan? Hanya mematung? Pasrah dan diam saja?

"Aoa yang kau inginkan dariku sekarang, Kabuto?" desis Sakura lirih. Namun dalam lirihnya terkandung emosi yang dalam. Kabuto menyeringai, kemudian bangkit secara perlahan, "Awalnya aku menginginkanmu, Sakura. Namun si brengsek ini menghalangiku."

"Jangan libatkan dia! Aku memang tak menginginkanmu sejak awal! Aku yang menolak. Aku yang berurusan denganmu, bukan dia!"

"Benar, dan sebagai gantinya kau malah mengirim bajingan ini kepadaku. Benar begitu, Sakura?" Kabuto berkata dengan nada direndahkan yang membuat Sakura merasa jijik. Sakura menahan isaknya, "Sekarang lepaskan ia dan lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku. Kau ingin membunuhku, ha? Lakukan!"

Kabuto membalasnya dengan tawa. Cukup lama ia tertawa hingga akhirnya ia berbicara, "Hei, Kakuzu! Kau dengar yang dikatakan gadis itu? Ia. Baru. Saja. Menyerahkan. Diri! hahahahhahahaa ..."

Nada itu penuh penekanan dan terdengar amat menyebalkan ditelinga Sakura. Sakura merapatkan gigi-giginya. Tubuhnya sudah kuyup sedari tadi. Rasa dingin bahkan sudah tak terasa lagi karena kulit tubuhnya seakan sudah mati rasa.

"Lekas akhiri semua ini," desis Sakura lagi. Tangannya masih mengacungkan pistol. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh, namun hanya tawa yang ia dapatkan. Sakura semakin geram, orang-orang ini mempermainkannya.

Derai tawa mereka dihentikan oleh jeritan pilu Kabuto. Sakura segera menyadari apa yang terjadi; Sasuke menendang luka ditangan Kabuto dari belakang. Kabuto segera jatuh terjerembab kebelakang. Dan antek-anteknya dengan segera pula membalas tindakan Sasuke barusan. Dan Sakura segera menekan picu untuk menghentikan gerakan mereka. Dan berhasil, peluru yang ia lesatkan berhasil bersarang ditangan orang itu.

Sasuke berhasil berdiri karena serangan balas dendam tadi gagal. Namun Sakura tak tahu jika dari jauh ada orang yang sedang membidiknya, ia baru sadar saat sesuatu yang panas melesak kekulit tangannya. Rasa terbakar mulai menjalarinya. Ia akhirnya sadar ia baru saja tertembak.

Ia tak pernah tahu jika tertembak rasanya bisa sesakit ini. Maka Sakura menurunkan tangannya perlahan. Tangan kanannya masih memegang pistol, sementara tangan kirinya terkulai kebawah akibat tembakan. Dan rasa sakit itu semakin menjadi.

Pandangan Sakura semakin buram. Perlahan ia merosot kebawah, tubuh gemetarnya bersandar diroda mobil. Lukanya tak ia sentuh sedikitpun. Matanya hanya memandang kosong kedepan. Kearah Sasuke yang sedang sekuat tenaga melawan mereka untuk kesekian kali.

Oh tuhan, inikah akhir hidup mereka?

-16-

Suara klakson kendaraan membombardir gendang telinga Itachi sejak setengah jam lalu. Ia menghela napas berat sambil menatap kosong puluhan kendaraan yang berdesakan di jalan raya. Ia sendiri sedang turun ke jalan raya untuk menjaga ketertiban selama kampanye berlangsung. Namun karena kampanye sudah berakhir, menyisakan kemacetan panjang yang memusingkan, ia dan rekan-rekannya memilih beristirahat didepan sebuah gedung pencakar langit. Mereka –para tentara- memarkir mobil mereka di depan gedung, lalu duduk beristirahat sambil menunggu kemacetan mereda.

"Menurutmu berapa lama lagi ini akan berlangsung?" tanya Itachi pada salahsatu anak buahnya tanpa melepaskan pandangan dari jalan raya.

"Entahlah. Mungkin sebentar lagi."

Itachi menghela napas lagi, bahkan sirine pun tak banyak membantu menembus kemacetan ini. Maka tak ada gunanya mereka kembali ke asrama dalam keadaan seperti ini, lebih baik menunggu disini beberapa menit lagi.

Perhatian Itachi teralihkan oleh sebuah mobil patroli tentara yang melaju kearahnya. Mobil itu berhenti dibelakang mobil patroli lain yang terparkir disana. Seorang pria berseragam turun dari sana, dan dengan tergesa berjalan menuju kearahnya.

"Kapten Itachi Uchiha," ujarnya sambil memberi hormat. Itachi bangkit dari duduknya untuk membalas hormat. Pria itu kemudian menurunkan tangannya dan mulai berbicara, "Tadi kami melewati perempatan jalan dekat Hotel Yamanaka, saat itu samar-samar kami mendengar suara letusan senjata api berkali-kali. Suaranya tak terlalu jelas karena tertutup suara hujan, tapi saya cukup yakin itu suara letusan senjata. Perlukah kami kembali kesana untuk memeriksa keadaan?"

Kening Itachi berkerut, "Dimana tepatnya kau mendengarnya?"

"Ada cabang jalan sekitar seratus meter dari perempatan itu, kurasa suara berasal dari sana. Jalan itu biasa digunakan sebagai jalan pintas, sepi dan bukan pemukiman." Terang pria itu lagi. Itachi berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oh, aku tahu jalan itu. Tak jauh dari sini, kan? Mengapa tadi kalian tak langsung memeriksa kesana?"

"Kami mendengar suara letusan saat sudah melewati cabang jalan itu. Dan karena putaran masih sangat jauh, kami memutuskan mampir dulu kesini. Bagaimana menurutmu?"

"Kembali kesana dan periksa keadaan. Aku akan melihat keadaan dari atas sini, melihat lalulintas padat seperti ini, nampaknya kalian akan membutuhkan waktu yang lama walaupun jaraknya amat dekat. Setelah aku melihat keadaan disana, maka akan kukabari kalian" ujar Itachi sambil menunjuk gedung pencakar langit dibelakang mereka. Pria berpangkat kopral tadi tampak bingung, "Melihat dari atas?"

"Aku akan naik kelantai atas dan melihat keadaan disana melalui scope. Kalian lekaslah berangkat." Perintah Itachi. Kopral tadi segera kembali melesat kedalam mobil, sementara Itachi menghampiri salahsatu mobil patroli yang terparkir disana, lalu mengambil sebuah senapan dan membawanya.

"Kapten, mau kemana?"

Itachi berbalik saat anak buahnya bertanya, "Keatas. Memeriksa keadaan."

"Dan jika ada kejahatan di cabang jalan itu, kau mau menembak pelaku dari sini?" tanyanya sangsi. Itachi hanya tersenyum, "Oh, kau meragukan ketepatan menembakku, ya?"

-17-

Sakura tertembak. Ya, dan gadis itu kini jatuh bersandar dimobilnya. Sasuke merasakan kesadarannya semakin menipis. Namun tidak, ia tidak boleh pingsan sekarang. Maka untuk kesekian kalinya ia berusaha untuk berdiri, rasa sakit segera menyerangnya saat tangannya yang terluka menopang tubuhnya diaspal basah.

"Hei, brengsek. Masalahmu denganku, bukan dengan gadis itu. Jadi jangan jadi pengecut dengan menyerang perempuan. Berbalik kesini dan hadapi aku," ujar Sasuke lantang. Kabuto segera berbalik kebelakang, kearahnya. Kemudian ia mendekati Sasuke yang sudah berhasil berdiri, "Bukan aku yang mulai. Kau lihat sendiri kan wanita nakal itu yang menembakku duluan? Artinya ia mengajakku berperang!"

"Omong kosong. Kau sendiri mengincarnya daritadi. Sekarang berhentilah jadi pengecut dan lepaskan dia." Sasuke berjalan terhuyung kearah Kabuto yang tengah memandang sengit dirinya. ia sendiri ragu masih dapat melawannya atau tidak dalam keadaan seperti ini. Namun tak ada waktu untuk merasa takut.

Kabuto tersenyum miring, "Aku sudah lelah mendengar omong kosongnya. Menurut kalian yang mana yang harus kuhabisi lebih dulu?"

"Si Brengsek ini saja. Lalu kita akan saksikan drama paling memilukan tahun ini saat gadis itu menangis menjerit melihat Si Brengsek ini ditembak. Hahahahahha," salah seorang antek-anteknya menjawab, yang lain segera menimpali ucapannya dengan tawa. Kabuto tertawa puas. Sasuke memandang Sakura dengan mata disipitkan. Sakura balas menatapnya pasrah. Gadis itu sudah pasrah.

"Idemu bagus sekali. Baiklah, aku pinjam pistol mahalmu, Kakuzu. Pistol barumu akan kugunakan untuk memecahkan kepala brengsek paling menyusahkan seumur hidupku. Kinshiki, kau pegangi tangannya." Perintah Kabuto segera disambut baik anak buahnya. Sepasang tangan kekar segera menyergap kedua tangan Sasuke dengan kasar. Sasuke melawan, namun tentunya ia tetap kalah jumlah, ia akhirnya tak bisa berkutik saat tiga pasang tangan lain mengunci tubuhnya.

Kabuto mengokang pistolnya, kemudian berjalan mendekat kearahnya. Sasuke hanya terdiam pasrah. Kesadarannya semakin menipis.

Sebuah letusan senjata memecah keheningan. Sebutir lagi peluru bersarang dibahu kanan Kabuto. Dengan emosi memuncak Kabuto berbalik kearah Sakura yang masih terduduk mengacungkan pistol. Ia berteriak marah, "Diam kau, nakal!"

"Hentikann!" jerit Sakura. Isaknya semakin menjadi. Bersatu dengan suara hujan yang turun semakin deras. Kabuto tak menjawab, ia segera mengacungkan pistol kearah Sakura dan melepaskan tembakan. Berikutnya jeritan Sakura terdengar. Sasuke tak bisa memandang dengan jelas bagian tubuh mana yang tertembak, yang jelas situasi berjalan semakin buruk.

Letusan terdengar lagi, Sakura balas menembak. Kali ini tembakannya meleset. Kabuto segera bersiap menembak lagi. Dan akan begitus seterusnya. Tidak. Sasuke tak bisa membiarkan ini berlangsung terus menerus.

"Sakura! Tahan tembakanmu!" jerit Sasuke sekuat tenaga. Namun Sakura mengabaikannya, ia masih membidik, dengan tatapan penuh amarah.

"Lepaskan dia!"

"Diam kau gadis nakal!"

"Lepaskan!"

"Percuma kau berteriak seperti itu!"

"Jangan bunuh dia! Kumohon! Kabuto!" Sakura berteriak diantara isaknya. Kabuto tak membalas teriakannya, perlahan ia berbalik kearahnya, "Lepaskan dia, Kinshiki. Kita habisi gadis berisik ini lebih dulu"

Tak lama tubuh Sasuke dilepaskan. Tiga orang yang memeganginya tadi beralih mendekati Sakura, sementara anak buahnya yang lain hanya menonton dari pinggir. Layaknya kru yang sedang menyaksikan proses syuting sebuah film. Sialan.

Sasuke harus segera bertindak. Harus. Namun apa yang bisa ia lakukan lagi?

Teriakan Sakura kembali terdengar. Tiga pria tadi berusaha memeganginya. Sakura berontak. Kabuto mengisi ulang pelurunya. Sementara Sasuke berusaha berjalan dengan sempoyongan. Sempurna sudah.

Sasuke mengepalkan tinjunya, lalu saat posisinya sudah dekat dengan Kabuto, ia meninju tengkuk Kabuto keras-keras. Sekeras yang ia bisa dalam keadaan setengah sadar. Alhasil Kabuto jatuh kedepan, kemudian berbalik menatapnya nyalang.

Anak buahnya batal mengunci Sakura, dan malah berjalan kearah Sasuke sambil mengepalkan tinju. Kabuto segera bangkit, mengkokang pistolnya, namun tak mengarahkan mulut pistol kearah Sasuke, melainkan kearah Sakura. Mata Sasuke segera melebar dan dengan sisa tenaganya berlari menubruk Kabuto hingga keduanya terjatuh. Tangan Sasuke berusaha merebut pistol ditangan Kabuto namun gagal, salahsatu anak buahnya menendang tangannya.

"Enyah kau!" Kabuto menyingkirkan tubuh Sasuke dari tubuhnya. Sasuke jatuh berbaring, membentur aspal. Ia melirik Sakura yang kini berada dekat dengannya. Gadis itu masih terisak.

Kabuto bangkit dan kembali membidik kearah Sakura. Sasuke berusaha bangkit, berusaha meraih tangan Kabuto namun gagal. Maka dengan sisa tenaganya ia melompat kearah Sakura dan menindih tubuh Sakura dengan tubuhnya. Saat itulah tembakan meletus. Peluru mengenai punggungnya. Namun rompi antipeluru melindunginya.

Sasuke bisa mendengar isakan Sakura tepat ditelinganya. Tangan gadis itu meremas bagian lengan kemejanya. Sasuke bisa merasakan dengan jelas bahwa Sakura sedang gemetar hebat. Dan inilah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk melindunginya.

-18-

Sakura bisa merasakan napas Sasuke yang berembus dirambutnya. Pria itu menindih tubuhnya di aspal. Sakura hanya terlentang pasrah. Tangan kirinya meremas lengan kemeja Sasuke. Sementara tangan kanannya masih menggenggam pistol.

Terdengar teriakan Kabuto, namun ia tak tahu apa tepatnya yang ia teriakkan. Derasnya hujan mengaburkan semuanya. Pandangannya, pendengarannya, bahkan kesadarannya.

"Sekarang minggir dari gadis itu," bisik Kabuto ditelinga Sasuke, namun Sakura bisa mendengarnya dengan jelas. Sasuke bergerak sedikit hingga pandangan Sakura bisa menangkap bayangan Kabuto yang sedang berjongkok disamping mereka.

"Takkan kubiarkan kau menyentuhnya," desis Sasuke tepat didepan wajah Kabuto. Kabuto menggerakkan tangan kanannya, Sakura tak tahu tepat apa yang dilakukannya karena Sasuke segera mendekapnya erat, menutup seluruh wajah Sakura dengan dada bidangnya. Dan kemudian letusan senjata terdengar.

Sakura berteriak. Namun suaranya teredam tubuh Sasuke. Tidak. Tidak. Ia tak membunuh Sasuke, kan?

Kedua tangan Sakura meraih kerah kemeja Sasuke, berusaha melihat wajahnya. Namun gagal, cengkeraman Sasuke terlampau erat hingga bahkan tangannya tak mampu bergerak lebih jauh. Sakura kembali terisak. Kini tetesan darah jatuh diwajahnya. Apa yang terjadi?

Saat Sasuke menggerakkan tangan dipunggungnya, Sakura mengembuskan napas lega. Sasuke masih hidup, setidaknya untuk sekarang.

"Kuperingatkan sekali lagi, menjauh dari gadis itu. Atau kepalamu yang akan kuledakkan lebih dulu. Cepat!"

Sasuke bergeming. Sakura terisak. Tak ada yang bicara selama beberapa detik. Hingga Sakura merasakan tekanan dibagian kepalanya.

"Baiklah, artinya kau memilih mati lebih dulu. Bisikkanlah ucapan selamat tinggal ditelinga gadismu. Aku akan memberi waktu,"

Sakura akhirnya sadar tekanan tadi akibat Kabuto menekankan pistol dikepala Sasuke. Maka Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke kebelakang, namun tak berhasil. Tenaga Sasuke masih terlalu besat untuk ia lawan. "Sasuke kumohon. Menjauh dariku," bisiknya lirih.

"Satu..."

Sakura meremas kemeja Sasuke erat saat Kabuto mulai menghitung mundur. Isaknya sudah tak terkendali. Ia tak bisa berkata-kata lagi.

"Dua..."

Sakura memejamkan mata kuat-kuat. Berharap jika Kabuto melepaskan peluru, maka peluru itu bisa menembus kepalanya juga. Agar ia tak menyaksikan Sasuke tewas karenanya.

Berikutnya tak terdengar kata 'tiga', melainkan terdengar suara letusan yang memekakkan telinga. Sakura pun menjerit sekuat tenaga.

Ia tetap menjerit, mengira Sasuke sudah tewas. Namun saat tangan dipunggungnya bergerak, Sakura berhenti dan membuka mata. Sasuke merenggangkan cengkeramannya. Ia bergerak. Ia masih hidup.

Sakura menahan napas saat Sasuke melepaskan cengkeramannya dan menoleh kesamping. Sakura mengikuti arah pandangnya, dan ia mendapati Kabuto jatuh tersungkur disamping mereka.

Mata Sakura membulat. Kabuto mati? Kabuto ditembak? Tapi oleh siapa?

Keterkejutannya belum pulih saat Sasuke kembali memeluknya erat. Wajahnya kembali ditindih dada bidang Sasuke dan posisi kembali seperti tadi. Terdengar suara teriakan kawan-kawan Kabuto. Teriakan kemarahan. Berikutnya ia merasakan tubuhnya dipukuli. Tidak. Bukan tubuhnya, tapi tubuh Sasuke.

Semakin kencang. Pukulan ini membabi buta.

Darah Sasuke membasahi wajah Sakura lagi. Kini lebih banyak. Sakura hanya bisa memejamkan mata sambil tak hentinya terisak. Ya tuhan, apa Sasuke akan mati disini karena melindunginya?

Sakura nyaris kehilangan kesadarannya saat tiba-tiba pukulan itu berhenti. Samar-samar ia mendengar suara helikopter. Semakin dekat. Semakin jelas. Lalu ada suara teriakan. Lalu ia sadar sepenuhnya.

Suara helikopter kini mengalahkan suara derasnya hujan. Tak ada lagi pukulan, Maka ia memberanikan diri mendorong tubuh Sasuke kesamping. Tubuh kaku Sasuke bergerak ke samping, dan barulah Sakura bisa melihat apa yang terjadi.

Kawanan Kabuto tengah berlutut sambil mengangkat tangannya diudara. Helikopter itu terbang rendang didekatnya, sebuah tangga tali menjulur kebawah, beberapa orang berbaju hitam turun ke tanah, mengacungkan senapan.

Sakura tak peduli lagi. Ia meraih tubuh Sasuke dan mengguncangnya. Tak ada respon. Ia meneriakkan namanya tepat ditelinganya. Tak pula ada jawaban.

Sakura meraih wajah Sasuke yang berlumur darah, lalu memeluknya erat sambil tak hentinya terisak.

Sasuke, apa yang harus kulakukan untuk menebus semua ini?


#Catatan

Scope, atau Telescope, atau Riflescope, (Alat Bidik dalam Bahasa Indonesia) adalah sebuah alat optik yang berfungsi untuk memandu pandangan mata saat membidik target. Scope membantu pengguna melihat objek yang jauh dengan jelas dan diperbesar. Perbesaran bayangan yang dihasilkan lensa scope dapat diatur pengguna sehingga fungsinya mirip teropong. Hanya saja scope menempel di tubuh senapan (walau bisa dilepas jika diiinginkan)