Sebuah Penutup


"Kau tak tahu saja, rasanya aku ingin memeluk sang langit saat menyaksikan kau membuka matamu kembali"

.

.

Juugo tertawa puas selama beberapa saat, merayakan kemenangannya. "Oke, oke baiklah. Sekarang kau sebagai laki-laki yang normal, apa yang kau rasakan?"

Sasuke diam selama beberapa detik. Berpikir. "Kupikir agen seperti kita tak dapat hidup dengan nornal seperti orang normal, yah...kau tahu alasannya"

"Siapa bilang? Banyak agen dari bagian lain yang sudah menikah. Walapun mungkin dengan kehidupan pernikahan yang agak berbeda dengan orang nornal, bukan berarti agen seperti kita tak berhak mendapat kebahagiaan, bukan?"

Sasuke terdiam. Pandangannya terpaku kearah lain, menerawang. Ucapan Juugo mungkin ada benarnya. Walau selama ini pernikahan tak pernah sedikitpun terselip dibenaknya.

"Apa kau tak pernah menyertakan pernikahan dalam rencana hidupmu?"

Sasuke menggeleng. Kali ini ia jujur.

-1-

Jemari Sakura saling bertaut diatas meja. Sepasang emeraldnya memandang kosong jemari itu tanpa tujuan. Seolah tak ada hal lain yang patut dilihat. Berikutnya ia menggeleng lemah, lalu menunduk, seraya memejamkan mata kuat-kuat.

"Bagaimanapun aku minta maaf," gumamnya pelan. Masih dalam posisi menunduk dan memejamkan mata. Ucapan permintaan maafnya tadi ia ucapkan dengan amat khidmat. Seolah menyesali dalam-dalam suatu kesalahan yang telah ia perbuat.

"Kau tak berhak meminta maaf untuk alasan apapun."

Saat seseorang dihadapan Sakura mengatakannya, Sakura segera mendongak dan membuka mata lebar-lebar, kemudian kembali menggeleng-geleng frustasi, "Tidak, tidak, ini salahku. Seandainya aku tak bertemu dengannya, seandainya aku tak menanyakannya soal lambang tato itu, ini semua tak akan terjadi. Ia tak akan..."

"Semua takkan terjadi dan mereka takkan tertangkap. Mereka akan terus menghirup udara bebas diluar sana, bebas melakukan kejahatan yang tak manusiawi, bebas menyakiti ratusan orang diluar sana. Begitu? Dengar Sakura, ini bukan hanya antara kalian berdua. Tapi ini menyangkut keselamatan orang banyak. Dan itu memang tugas kami, melindungi banyak orang."

Sakura menggeleng lebih kuat, "Tapi saat itu aku ada disampingnya. Dan aku tak bisa melakukan apapun. Aku tidak membantunya. Aku hanya diam. Membiarkan ia berjuang sendirian. Kau bisa rasakan sebesar apa penyesalan yang ada disini?" Sakura meletakkan sebelah tangannya didada. Pria yang duduk didepannya menghela napas panjang, menatapnya simpati. "Aku paham, ini berbeda dengan kasus lainnya. Kasus ini tak hanya melibatkan kontak fisik,"

"Maksudnya?"

"Tapi juga melibatkan perasaan."

Sakura terdiam. Kemudian kembali bertanya dengan dahi berkerut, "Perasaan?"

Pria itu menghela napas sebelum menjawab, "Kau tahu? Sasuke memang ingin melindungimu secara pribadi. Ia ingin melindungimu sebagai Sasuke Uchiha, seorang pria. Bukan melindungimu sebagai Agen Uchiha, seorang agen inteljen. Jadi ia memang ingin melindungimu secara khusus. Bukan atas nama tugas."

"Juugo, memangnya kau tahu apa soal itu?" Sakura menegakkan punggungnya yang tadinya bersandar.

"Aku berteman dengannya sudah lebih dari tujuh tahun. Aku mengenalnya dengan amat baik. Aku hapal gestur tubuhnya dengan baik. Aku hapal maksud dari gerak-geriknya walau dia tak banyak bicara. Kau tau? Dulu aku pernah ditugaskan dibagian analisis nonverbal, jadi sedikit banyak aku tahu bagaimana cara membaca perilaku orang lain, terlebih dengan teman sendiri. Jadi yang kukatakan bukan kesimpulan sembarangan." Juugo melipat tangannya diatas meja. Tubuhnya sedikit dicondongkan kearah Sakura, menandakan sedang berbicara sesuatu yang penting.

"Ia ingin menolongku karena dulu aku pernah menolongnya. Kau tau insiden itu?" ujar Sakura dengan yakin. Juugo mengannguk, "Aku tahu. Tapi entah mengapa menurutku apa yang ia lakukan lebih dari bentuk balas budi."

Sakura mengernyit, "Lalu apa lagi?"

"Jangan kira aku tak tahu ia sering menjemput dan mengantarmu pulang."

Mata Sakura sedikit melebar, "Ia menceritakannya padamu?"

"Tidak. Aku melihat gerak-geriknya. Kau menolak Program Perlindungan Saksi, artinya kau tak mau kami lindungi. Tapi kami tetap menyuruh Sasuke memasang radar di ponselmu untuk menjagamu jika sesuatu terjadi –sebagai tindakan pencegahan-, dan hanya itu yang kami lakukan. Bukan menyuruhnya mendampingimu seperti itu." Terang Juugo. Sakura mencerna ucapan Juugo sejenak, lalu menimpali, "Artinya ia tak diizinkan menjemput dan mengantarku pulang?"

"Bukan, bukan itu. Maksudku, aku ingin mengatakan apa yang ia lakukan padamu adalah murni inisiatifnya, murni keinginannya. Kami sama sekali tak melarangnya, itu hak Sasuke. Dan dari tindakannya itulah aku mengambil kesimpulan,"

"Apa kesimpulannya?" tanya Sakura ingin tahu.

"Ia mungkin memiliki perasaan padamu,"

Sakura membuang muka. Lalu mengembuskan napas kasar. "Omong kosong,"

"Tentu saja tidak. Aku tidak berbicara sembarangan," Juugo menautkan jemarinya, lalu meletakkannya dibawah dagu. Matanya tak lepas dari Sakura, tampak sedang memerhatikan.

"Baiklah, yang barusan itu adalah kesimpulan dari seorang Ahli Analisis Nonverbal Badan Inteljen Negara. Namun apa itu harus kupercayai?" ujar Sakura sarkastik. Juugo masih bergeming memerhatikan Sakura.

"Namanya Defense Intelligence Headquarters, kau selalu menyebutnya Badan Inteljen Negara, kau perlu tahu badan inteljen Jepang tak hanya satu. Baiklah, tidak juga, kau tak perlu memercayainya. Aku hanya menyampaikan kesimpulan ini padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak. Atau sebenarnya kau sudah tahu, tapi kau hanya mengingkarinya?"

-2-

Sakura mendelik, kepalanya bergerak-gerak gelisah. Sebuah senyum pahit sedaritadi terpahat dibibirnya, "Tidak. Aku tak memercayainya."

Senyum itu senyum pengingkaran. Apa yang ia katakan berlawanan dengan apa yang ia rasakan. Dan senyum itu hanya kamuflase untuk menutupi semuanya. Dalam hati gadis itu mengiyakan pernyataan Juugo, tapi ia berusaha mengingkarinya. "Kau hanya membohongi dirimu sendiri,"

"Tahu apa kau tentangku?" ujar Sakura dengan nada tinggi. Wajahnya kini kemerahan. Menahan amarah dan...tangis? Matanya berkedip lebih cepat, napasnya memburu. Kini semua sudah jelas. Tinggal menunggu hingga airmata tumpah dari pelupuk mata gadis itu.

"Dan jika aku boleh mengambil kesimpulan kedua, maka kukatakan bahwa..." Juugo menggantungkan kalimatnya diudara. Sakura menatapnya tajam sambil menahan amarah, wajahnya merah padam. Menggambarkan berbagai macam emosi disana. Juugo sengaja menahan kalimatnya, ia ingin tahu reaksi gadis ini lebih lanjut.

"Apa?"

Sakura menagih kelanjutan kalimatnya. Artinya gadis ini memang sedang mengingkari dirinya sendiri. Juugo menurunkan tangannya dari dagu, lalu melipatnya diatas meja, "Kau juga merasa nyaman dengannya, bukan?"

Sakura menggeleng keras-keras, "Tahu apa kau?"

Nada tinggi ini lagi. Semakin ia marah, semakin mudah Juugo membaca sikapnya. "Kau hanya sedang mengingkari dirimu sendiri, Sakura."

Juugo dengan jelas bisa melihat sebulir airmata yang jatuh dari mata gadis itu, walau gadis itu dengan cepat membuang muka dan menghapusnya dengan kasar. Wajahnya merah padam. Emosinya tumpah, dan ia menumpahkannya melalui airmata. Selama beberapa saat Sakura sibuk menahan tangis dengan berbagai cara. Juugo tahu Sakura tak ingin menangis didepannya, ia juga tahu Sakura tak ingin Juugo tahu apapun tentang dirinya. Namun gadis itu salah besar jika memilih untuk berbohong tepat didepan matanya. Bahasa tubuhnya mudah sekali ditebak.

"Berhenti membuatku semakin merasa bersalah," ujar Sakura tanpa melihat kearahnya. Ia berhasil menghentikan airmatanya namun hidungnya masih memerah.

"Aku tak tahu tepatnya bagaimana hubunganmu dengan Sasuke. Tapi..."

"Tak ada hubungan apapun!" jeritnya tertahan. Jika saja ini bukan kafe dengan pengunjung yang sedikit, Sakura pasti sudah teriak sekencangnya. Juugo tak merubah ekspresinya, masih menatap Sakura dengan tatapan menilai, "Berhenti bicara seolah tak ada apa-apa. Aku tahu, tanpa kau katakan aku tahu. Jangan coba berkilah didepan mataku,"

Sakura bersandar dikursinya, ia menengadah sambil memejamkan mata. "Apapun yang kau katakan, takkan membuat perubahan apapun. Ini semua sudah terjadi."

"Oh ayolah, Sasuke masih hidup." Ujar Juugo. Sakura segera menegak dan membuka matanya dengan cepat, "Ya, ia masih hidup! Tapi bagaimana jika ia tak membuka matanya lagi selamanya? Ia kini memang masih berbaring tak sadarkan diri, tapi bagaimana jika ia tak akan sadar lagi selamanya?"

Pertanyaan itu terdengar retorik ditelinga Juugo. Dan ia mengira Sakura memang tak membutuhkan jawaban. Hanya tuhan yang tahu apa ia akan terbangun dari komanya atau tidak. Setelah hampir dua bulan tak sadarkan diri, tak ada yang menjamin ia akan sadar lagi atau tidak.

"Aku tahu. Aku tak boleh mengunjunginya langsung kerumah sakit, makanya aku menanyakan keadaannya padamu. Sekalian aku ingin membicarakan semuanya." Ujar Juugo, nada bicaranya melunak. Sakura hanya memandang kosong kearah lain, tak memberikan jawaban.

"Aku mewakili DIH ingin mengucapkan terima kasih padamu, jika saat itu kau tak melaporkan keberadaan Kabuto, mungkin sekarang mereka belum tertangkap." Ujar Juugo lagi. Sakura masih membisu.

"Karena tak seorangpun dari timku diperbolehkan menjenguk Sasuke secara langsung –untuk alasan keamanan-, aku menitipkan Sasuke padamu. Kami memang memantaunya dari jauh, namun tidak secara langsung. Asal kau tahu kehidupan kami tidak biasa. Teselubung. Kuharap kau bisa memahaminya,"

Sebulir airmata jatuh dari pelupuk mata Sakura, namun kali ini ia tak berusaha menghapusnya, "Bagaimana jika ia tak membuka matanya lagi?"

Juugo terdiam, tak tahu harus menjawab apa, "Ia akan dianggap sebagai pahlawan negara. Namanya akan terpahat diatas granit yang terpajang di kantor kami. Seperti agen lain yang juga gugur di lapangan,"

Emerald Sakura beralih kearahnya, masih dengan airmata yang meluncur membasahi pipi. Mata itu kini menyorotkan kesedihan. Kesedihan yang mendalam, "Aku takkan pernah melupakannya,"

"Karena kau tak bisa melupakannya," tegas Juugo, seperti menyalurkan apa yang ada dalam benak Sakura sebenarnya. Berikutnya Sakura memandangnya kosong, masih membiarkan airmata mengalir dalam diam. Tak seorangpun dari mereka yang berbicara lagi. Hanya saling tatap, seolah berbagi kesedihan yang sama. Ini berlangsung beberapa detik hingga dering ponsel membuat Sakura mengalihkan pandangan darinya. Gadis itu segera merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel.

Sakura mengangkat telepon. Tak lama, ekspresi wajahnya berubah, antara terkejut dan bingung. Ia mengedipkan matanya dengan cepat, lalu mengatakan bahwa ia akan segera datang, setelah menurunkan ponsel dari telinganya, Sakura segera bangkit dengan terburu. "Aku harus pergi."

"Rumah sakit?" tanya Juugo. Ia sungguh tak berharap sesuatu yang buruk terjadi.

Sakura mengangguk, nampak ingin segera melesat dari sana. "Doakan yang terbaik untuk Sasuke."

"Aku selalu melakukannya."

Dan setelah itu Sakura berlari meninggalkannya. Menyisakan pertanyaan yang masih menggantung diudara. Ingin rasanya Juugo ikut berlari dan pergi kerumah sakit bersama Sakura. Namun ia tak bisa melakukannya.

-3-

Itachi membanting pintu mobilnya dan segera berlari memasuki rumah sakit. Tangan kanannya menggenggam ponsel erat-erat. Langkah kakinya menyapa lantai rumah sakit dengan kasar, cepat, terburu, seperti sedang dikejar anjing. Beberapa saat lalu ada telepon masuk dari perawat rumah sakit yang bertanggungjawab merawat adiknya, namun ia tak sempat mengangkat karena sedang bekerja. Begitu menyadari ada panggilan tak terjawab sebanyak sebelas kali dari perawat, tanpa berusaha menelepon balik, ia segera melaju menuju rumah sakit tempat Sasuke dirawat.

Dan ia sungguh tak berharap sesuatu yang buruk terjadi.

Peluhnya masih mengucur di pelipis saat ia tiba di lift yang akan membawanya ke lantai tiga. Didalam lift ia beristirahat sejenak, napasnya terengah, seperti sehabis lari marathon. Namun ini lebih dari sekadar lari marathon, karena pikirannya tak tenang. Berjuta spekulasi memenuhi benaknya. Spekulasi baik...juga spekulasi buruk.

Pintu lift terbuka. Menampilkan lorong panjang yang sepi. Itachi segera berlari melintasi lorong itu. Langkahnya bergema. Gema langkahnya menarik atensi satu-dua perawat yang sedang berjalan. Mereka mungkin mengira ia adalah seorang ayah yang tak sabar untuk melihat anaknya, karena ruangan yang ada di kanan-kiri lorong ini ialah kamar bersalin. Namun bukan lorong ini tujannya. Melainkan ruang ICU.

Setelah langkahnya mencapai sebuah pintu kaca tebal diujung ruangan, ia berhenti berlari. Ia membuka pintu tebal itu setelah mengangguk sopan pada penjaga pintu yang sudah mengenalnya. Jantungnya berdebar saat melewati lorong yang lebih sepi dari lorong bersalin tadi, dan saat ia berbelok ke kanan, matanya lanngsung tertancap pada pintu sebuah kamar rawat. Kamar nomor I-305.

Tak ada orang disekitar ruangan itu. Apakah ini pertanda baik? Tidak. Ia takkan menyimpulkan apapun sebelum melihatnya sendiri. Maka dengan jantung yang semakin berpacu tangannya terulur untuk memutar kenop pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh kenop, matanya lebih dulu menangkap bayangan janggal dari jendela kecil dipintu kamar I-305.

Matanya melebar dan tangannya kembali turun. Alih-alih membuka pintu, ia malah mendekatkan wajah ke jendela sempit itu sambil mengernyit. Menyaksikan pemandangan adiknya yang sedang duduk diranjang rawat.

Bersama Sakura.

Wajah Sasuke tertutup punggung Sakura. Namun ia bisa melihat rambut hitam adiknya yang bergerak-gerak. Mereka nampak sedang bicara. Bicara serius karena punggung dan tangan gadis itu sampai bergerak-gerak. Dan kemudian saat kepala Sakura tertunduk kedepan, nyaris menyentuh ranjang, wajah Sasuke terlihat dengan jelas. Wajah pucat itu terlihat kurus. Selang infus masih menyelubungi hidungnya, namun ia membuka mata. Ia berbicara.

Demi tuhan, mata hitam itu terbuka! Setelah hampir dua bulan mata itu terus menutup, akhirnya hari ini Itachi bisa melihat adiknya kembali sadar.

Itachi memandangi adiknya selama beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar memercayai penglihatannya. Setelah itu Itachi menyingkir dari pintu dan bersandar di dinding lorong. Ia akan membiarkan mereka bicara. Pasti banyak yang ingin Sasuke tanyakan pada Sakura, terlebih karena Sakura ada ditempat saat kejadian itu terjadi.

Jadi ia mengeluarkan ponsel dan mulai menghubungi ibunya. Memberi kabar yang akan membuat ibunya segera pergi melesat kesini sekarang juga.

-4-

"Harus bagaimana aku mengucapkan terima kasih?"

Sasuke menatap lemah Sakura yang duduk disamping ranjangnya. Matanya masih menyesuaikan dengan sorot lampu ruangan yang terang benderang. Ia masih bingung sebenarnya. Tapi ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya. Sebagian memang sudah ia tanyakan pada Sakura. Namun tetap saja masih banyak yang perlu ia ketahui selama hampir dua bulan tak sadarkan diri.

"Kita impas, bukan?" ujar Sasuke pelan. Energinya belum cukup banyak untuk melakukan sesuatu yang berat.

Sakura menggeleng, "Ini tak ada apa-apanya dibanding apa yang kau lakukan padaku. Aku hanya menolongmu, Sasuke. Dan kau melindungiku hingga nyawamu sendiri nyaris melayang,"

"Hanya 'nyaris', bukan?" ujar Sasuke sambil tersenyum tipis. Sakura masih memasang wajah khawatir, "Lukamu tidak ringan, bodoh."

"Aku tahu. Tubuhku rasanya masih kaku. Jadi apa yang terjadi denganku?"

"Lukamu cukup parah. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau akan pulih dalam satu-dua minggu lagi." Ujar Sakura, gadis itu nampak sedang memikirkan hal lain. Sasuke hanya mengangguk. Tubuhnya amat lemas. Untuk bicara saja rasanya ia membutuhkan usaha yang tak sedikit.

"Kau tak tahu sebesar apa rasa bersalahku pada keluargamu." Sakura bicara lagi. Sasuke mengerutkan kening, "Ini bukan salahmu. Ini tugasku."

"Aku memang tak berguna. Saat itu harusnya aku membantumu, Sasuke. Tapi aku malah diam saja. Maafkan aku," ujar Sakura lirih. Rasa bersalah kelihatan jelas dari sorot matanya. Gadis itu lalu menunduk dalam-dalam. Hingga wajahnya nyaris menyentuh selimut yang membungkus tubuh Sasuke. Mengapa ia malah meminta maaf?

"Ini semua sudah berakhir, Sakura."

Sakura kembali menegakkan kepalanya sambil menatap lurus kearah Sasuke. Diam sejenak. Hingga ia tersenyum pahit sambil berkata, "Seharusnya kita memang tak bertemu, Sasuke."

Lagi, Sasuke mengerutkan keningnya. "Mengapa?"

"Aku selalu merepotkanmu. Membahayakanmu. Aku hanya gadis lemah," ujarnya penuh penyesalan. Apa pula yang harus ia sesalkan?

"Kau salah, Sakura"

-5-

Sakura berusaha sekuat tenaga agar airmatanya tak jatuh. Ia tak mau menangis lagi. Kini doanya sudah terkabul. Sasuke bertahan. Mata sekelam malam itu terbuka lagi. Magnet hitam yang selalu memikat matanya itu kembali menatapnya dengan dingin. Namun entah mengapa kali ini ada sedikit keahangatan terpancar dari sana. Apa karena Sasuke sedang dalam keadaan lemah?

Saat mendapat telepon dari perawat rumah sakit ia menegang. Takut mendengar kabar buruk. Namun suara ditelepon itu terdengar putus-putus. Mungkin karena saat itu ia sedang berada di sebuah kafe yang terletak dilantai 50 sebuah bangunan. Maka saat itu ia tak membuang waktu dengan memaksakan sinyal ponsel bekerja dengan baik diketinggian itu dan segera melesat menuju rumah sakit. Dan terkejut saat mendapati Sasuke sudah terduduk diranjangnya.

"Kau salah, Sakura"

Sakura hanya mengangkat alis, "Itu benar."

"Kau tahu apa yang terjadi jika kita tak bertemu dulu?" tanya Sasuke dengan tenang. Sakura menjawab dengan yakin. "Kau tak mungkin seperti sekarang. Kau pasti baik-baik saja."

"Salah."

Sakura mengangkat alis lagi. Hendak bertanya. Namun sebelum ia membuka mulut rasa hangat menjalari telapak tangannya. Saat ia menunduk Sasuke sudah menggenggam tangannya, kemudian tangan itu menuju dada bidang Sasuke yang terbuka-karena tranducer ECG masih melekat disana. Sasuke meletakkan tangan Sakura tepat diatas jantungnya.

"Jika kita tak bertemu dulu, maka jantung ini takkan pernah berdetak lagi."

Sakura membeku dengan tangan masih mendarat didada polos Sasuke. Ia terdiam beberapa saat, mencerna perkataan Sasuke barusan dan baru menyadari bahwa itu semua benar. Maka ia tak dapat menjawab. Lebih tepatnya tak tahu apa yang harus dikatakan.

"Karena itu jangan bilang lebih baik kita tak bertemu."

Sakura mengerjap. Merasa tak mampu melawan argumen Sasuke. Akhirnya ia hanya tersenyum tipis. Senyum itu rupanya dapat menghapus ekspresi khawatir diwajahnya. "Kalau begitu terima kasih,"

"Terima kasih juga" jawab Sasuke ringan. Dengan senyum tipis terpahat dibibir pucatnya.

Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu. Ia segera mengambi tas tangan yang ia letakkan di meja kecil samping ranjang. Lalu mengaduk-aduk isi tasnya sendiri, nampak mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia membawa keluar sebuah plastik kecil yang biasa digunakan untuk tempat obat kearah Sasuke, tangannya membuka zipper penutup plastik itu dan menumpahkan isinya ketelapak tangannya.

"Sebaiknya kukembalikan ini." Sakura menyodorkan sebuah cincin perak ditelapak tangannya. Sasuke mengernyit sebentar, kemudian saat Sakura membawa cincin itu lebih dekat dengan mata Sasuke, kerutan dikening pria itu hilang. "Mengapa?"

"Ini milikmu, kan?" tanya Sakura polos. Sasuke menatap Sakura intens, "Kau simpan saja itu untukmu."

Sakura menggeleng, "Kau pernah mengatakan ini dari ibumu. Artinya ini berharga, bukan?"

Sasuke menatap emerald Sakura dalam diam. Seolah sedang menyelami mata hijau yang selalu tampak bersinar-sinar itu. Entah apa yang pria itu pikirkan. Dan Sakura memutuskan hanya menatap balik mata hitam itu tanpa mengatakan apapun. Hanya menunggu jawaban.

"Sakura, bagaimana jika keadaannya berbeda?"

"Maksudmu?" Sakura mengernyit. Sasuke bahkan belum mengambil cincin itu dari tangannya.

"Bagaimana jika peristiwa delapan belas januari itu bukan sandiwara?" tanya Sasuke lagi. Masih menatap lekat-lekat emerald Sakura yang memancarkan kebingungan. "Bagian mana tepatnya yang ingin kau tanyakan?"

"Bagaimana jika aku benar-benar melamarmu saat itu?"

Sasuke menanyakannya dengan begitu santai. Dan serius. Tak tahu jika Sakura sudah melebarkan pupil matanya demi mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut Sasuke. Bagaimana jika Sasuke melamarnya betulan? Ia tak pernah memikirkan jawaban atas pertanyaan itu sebelumnya.

"A-aku tidak tahu. Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu." Sakura agak tergagap saat menjawabnya. Sasuke sendiri masih memandangnya lekat. "Jika aku menanyakannya barusan, apa kau akan memikirkan kemungkinan itu?"

Rasa hangat menjalar di pipi Sakura. Pipinya mungkin sudah memerah. Namun ia tak peduli. "Aku..."

"Bagaimana jika aku benar-benar melamarmu saat itu?"

Sasuke mengulang pertanyaannya. Namun Sakura masih tak tahu jawaban apa yang harus ia lontarkan. Sasuke masih menatapnya. Nampak menunggu. Dan saat itu suara pintu terbuka dengan keras membuat mereka berdua berhenti saling menatap. Serentak menoleh kearah pintu yang sudah terbuka lebar.

Mikoto berlari dari arah pintu dengan tak terkendali. Sakura bangkit untuk memberinya jalan. Dan saat ia tiba diranjang tempat Sasuke terduduk, ia segera memeluk anaknya erat-erat. Tangisnya tumpah saat itu juga.

-6-

Sasuke sedang memakai jaket saat seseorang membuka pintu kamar rawatnya. Ia berbalik perlahan, kemudian saat menyadari Itachi yang barusan masuk, ia melanjutkan kegiatannya memakai jaket dengan perlahan, tentu saja karena luka-lukanya belum sembuh total.

"Kau yakin akan pulang?"

Sasuke sudah selesai memakai jaket. Sekarang ia berjalan pelan-pelan kearah ranjang, "Tentu saja. Aku sudah bisa berjalan. Makan. Dan berkegiatan. Meskipun masih agak kaku."

"Baiklah. Kurasa DIH akan memberimu waktu untuk memulihkan diri selama beberapa minggu. Setelah misi melelahkan itu belum ada misi selanjutnya, bukan?" Itachi merebahkan diri diatas sofa agak panjang disana.

"Ya, tentu saja. Mereka sudah mengontakku. Beberapa hari lagi aku harus ke kantor untuk memberi laporan." Jawab Sasuke sambil duduk disisi ranjang. Itachi hanya mengangguk-angguk. Kemudian diam selama beberapa saat. Kini saatnya bagi Sasuke untuk pulang. Sudah dua minggu semenjak kesadarannya dari koma. Dan ia sudah merasa cukup sehat untuk kembali beraktifitas.

"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal."

Ucapan adiknya membuat Itachi mengangkat alis, "Soal apa?"

"Sebenarnya sudah lama aku ingin membahas ini denganmu. Tapi kau jarang berkunjung kesini sendirian. Aku tak mau pembicaraan ini didengar ibu yang selalu cerewet menasihatiku untuk tak berpikir yang berat dulu. Jadi kurasa aku baru bisa mendiskusikannya sekarang."

Itachi menegakkan punggungnya, "Wah, apa itu?"

"Kematian Kabuto. Dia ditembak tepat dipelipisnya sesaat sebelum ia menembakku. Peluru menembus otaknya secara sempurna. Kuperkirakan peluru bersarang di cerebrum, karena ia mati saat itu juga. Pertanyaannya, siapa yang membunuhnya?" tanya Sasuke, lebih terdengar seperti menyatakan kebingungan daripada sedang menanyakannya pada Itachi.

"Beberapa hari lalu Juugo meneleponku untuk menanyakan keadaan. Dan aku tak sempat bertanya banyak padanya. Sialnya aku melupakan pertanyaan penting ini. Nah, dan aku tak mendengar suara helikopter saat Kabuto ditembak. Artinya yang menembaknya bukan DIH." Sasuke memberi jeda sejenak diantara argumennya, sementara Itachi hanya menyimak dalam diam. "Kudengar dari Sakura juga tak lama setelah helikopter datang, para tentara datang kesana karena mendengar suara tembakan. Jadi, apa kau tau sesuatu tentang itu?"

"Tentara yang datang memang dari kesatuanku. Tapi aku tak datang ke TKP saat itu." Tandas Itachi. Sasuke mengerutkan kening, "Dari kesatuanmu tapi kau tak ada. Artinya yang datang para prajurit? Atau kopral?"

"Yap."

"Artinya ada yang menyuruh mereka datang kesana kalau begitu. Itu jalanan sepi. Tak mungkin tentara yang bertugas mengamankan kampanye lewat jalanan seperti itu, bukan? Lalu apakah kapten mereka yang menyuruhnya?" ujar Sasuke. Terdengar seperti sedang menyampaikan analisis. Kemudian Itachi mengangguk, "Analisismu bagus,"

"Jadi, apakah kau yang mendengar suara tembakan dan menyuruh prajuritmu datang kesana, Kapten?"

Itachi tertawa, "Nada bicaramu terdengar lucu saat memanggilku seperti itu"

"Oh, ayolah."

"Ya. Aku yang menyuruhnya" tegas Itachi. "Aku bahkan lupa belum memberitahumu bagian ini"

"Oh, jadi ini bagian penting yang belum kuketahui? Baiklah, jika kau yang menyuruh, apa anak buahmu yang menembak Kabuto, Kapten?" desak Sasuke. Itachi menghela napas, "Bagaimana mereka bisa menembak jika saat itu bahkan mobil patroli pun tak bisa menembus kemacetan tak berujung. Coba pikirkan bagian itu, Special Agent."

Sasuke mendengus, benar juga. Para tentara belum sampai saat ia sekarat. "Baiklah. Apa kau punya ide lain?"

Itachi tersenyum, "Aku ingin mendengar kelanjutan analisismu"

Sasuke menghela napas panjang sebelum kembali berkata, "Artinya ada sniper yang menembak jauh dari lokasi? Oh ayolah, siapa yang menyewa sniper untuk membunuhnya? Tak mungkin DIH yang melakukannya. Aku tahu apa saja yang dilakukan DIH saat itu"

Sasuke bangkit dari ranjang dan berjalan bolak-balik diruangan. Itachi sendiri hanya tersenyum memandangi adiknya.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu orang yang menembak Kabuto?"

Sasuke menghentikan langkah, lalu memandang kakaknya sejenak. Ia juga tak tahu pastinya. Tapi ia harus tahu siapa orangnya. "Entahlah. Memujinya, mungkin? Ia pasti seorang profesional. Tembakannya amat tepat" ada jeda sejenak. "Dan...berterima kasih" tambahnya saat mengingat ia pasti sudah mati jika Kabuto tak ditembak.

"Terima kasih? Kalau begitu ucapkanlah."

Mata Sasuke membulat, menatap kakaknya lekat-lekat, "Jangan bilang kau..."

"Aku tak bilang apa-apa" Itachi mengangkat tangannya. Sasuke berjalan mendekati kakanya, kemudian berdiri tepat dihadapannya, "Kau yang menembak Kabuto?"

"Kau tahu? Menembak dari lantai dua puluh lima terasa amat menakjubkan,"

Sasuke memutar mata, "Oh astaga. Mengapa kau tak bilang dari dulu?"

Itachi bangkit dari duduknya, "Tadi kau belum menanyakan apa yang kulakukan sesudah menyuruh anak buahku datang kesana. Apa kau berpikir aku hanya diam berpangku tangan?"

Sasuke berjalan bolak-balik lagi. Kali ini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti baru menyadari sesuatu atau menyadari sesuatu. "Astaga, astaga. Jangan-jangan kalian sedang beristirahat di Shinjuku Tower, gedung lima puluh lantai tak jauh dari lokasi untuk menghindari kemacetan. Lalu setelah ada anak buahmu yang melapor mendengar suara tembakan atau kau sendiri yang mendengarnya..."

"Yang pertama." Potong Itachi. Sasuke kembali melanjutkan, "Baik, anak buahmu melapor, lalu kau menyuruh mereka kembali untuk mengecek keadaan, sementara kau tak ikut kesana, melainkan memasuki gedung, naik keatas, dan melalui scope kau bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di lokasi,"

"Aku berpikir perjalanan dari Shinjuku Tower ke jalan pintas itu akan memakan waktu cukup lama mengingat saat itu sedang macet parah. Jadi aku memutuskan melihat apa yang terjadi disana melalui scope, dan mendapatimu sedang tengkurap sambil ditodong pistol" lanjut Itachi. Sasuke kini sudah berhenti berlajan mondar-mandir dan hanya menatap kakaknya dengan mata membulat takjub. Ini sungguh diluar dugaannya.

-7-

Itachi menatap balik adiknya yang tengah memandangnya takjub. Ia memang sengaja tak memberitahu adiknya soal ini jika Sasuke tak menanyakan langsung padanya. Sasuke mungkin mengira yang menembak mati Kabuto adalah DIH, tapi ternyata adiknya punya asumsi lain.

"Dan kau menembakkan peluru tepat dipelipis Kabuto,"

Itachi mengangkat bahu, "Aku tak punya pilihan lain. Saat itu amat genting. Aku tak tahu situasi apa yang sedang terjadi disana, namun potongan gambar yang kulihat melalui scope sudah cukup jelas bagiku untuk menyimpulkan bahwa kau sedang terjebak. Dan komplotan mereka banyak. Lagipula aku juga berkewajiban untuk menyeret pelaku perampokan berantai itu ke penjara."

Sasuke masih memandang takjub kakaknya selama beberapa detik kemudian. Setelahnya ia berkedip dan berjalan menuju sofa, lalu duduk diatasnya. "Mengapa kau tak memeberitahuku dari kemarin-kemarin?"

"Kau tak bertanya."

"Apa aku harus bertanya dulu jika ingin mendapatkan informasi?" erang Sasuke. Itachi berjalan mendekatinya, "Tentu saja."

Sasuke menghela napas, "Baiklah. Aku tak mau berdebat lagi denganmu. Terima kasih atas kemampuan menembak jitu-mu."

Itachi tertawa, menertawakan cara berterima kasih Sasuke yang lucu. 'Sama-sama"

Kemudian hening. Sasuke nampak masih memikirkan potongan-potongan adegan 'hancurnya Sumiyoshi-kai' yang berputar dalam benaknya. Itachi membiarkannya berpikir sementara ia berjalan menuju meja kecil disamping ranjang, meraih sebuah apel dan mulai mengupasnya.

"Oh ya, saat aku melihat adegan Kabuto menodongkan pistol kearahmu sebenarnya fokusku teralih ke hal lain," Itachi memecah keheningan yang tercipta disana selama beberapa saat lalu.

"Apa?"

"Kau tak sendiri saat itu. Kau sedang menindih seorang wanita. Sebenarnya ia adalah alasan lain mengapa aku langsung menembak mati Kabuto. Karena jika kau mati, ia juga akan mati." Itachi kemudian memasukkan sepotong apel kedalam mulutnya.

"Menindih? Oh ayolah, kau mengucapkannya dengan cara yang cabul. Aku melindunginya" keluh Sasuke. Itachi tersenyum, kemudian menelan apelnya. "Posisimu saat itu memang seperti itu, bukan? Dan ya, tanpa kau beritahu pun aku tahu kau melindunginya dengan segenap jiwa ragamu"

Adiknya bangkit dari duduk, mengernyit frustasi, "Astaga, dramatis sekali. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia hanya..."

"Aku sudah tahu semuanya" potong Itachi cepat.

"Apanya?"

"Aku sudah tahu soal pertemuan kalian, hubungan Sakura dengan Kabuto, juga 'sandiwara' kalian. Jadi berhenti beringkar dengan mengatakan 'dia hanya temanku'". Ucapan Itachi lagi-lagi membuat Sasuke terbelalak. "Sakura menceritakannya padamu?"

"Tak ada yang bisa ditutupi lagi jika keadaannya sudah seperti ini, bukan? aku yang menanyakannya padanya, dan ia tak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya." Tandas Itachi, menjawab sisa pertanyaan yang masih ada dibenak Sasuke. Adiknya hanya melongo. Itachi tersenyum dalam hati, tak sering ia bisa menyaksikan wajah melongo Sasuke.

"Oh baiklah. Lagipula ini semua sudah berakhir." Ujar Sasuke setelah pulih dari serangan informasi yang mengejutkannya.

"Hanya Sumiyoshi-kai dan riwayat kriminalnya yang sudah berakhir, bukan?"

"Sandiwaraku juga," sahut Sasuke, "Tentu saja" lanjut Sasuke dengan nada ragu. Itachi memasukkan potongan terakhir apel kedalam mulutnya kemudian mengunyahnya sekilas sebelum menelannya tergesa, "Apa gadis itu juga berpikir ini sudah berakhir?"

Pertanyaan Itachi sukses membungkam argumen adiknya soal ini-semua-sudah-berakhir. Ia terdiam, sementara Itachi berkata lagi, "Dia datang ke rumah sakit nyaris setiap hari selama kau koma, asal kau tahu"

Sasuke masih bungkam.

"Dia meminta menangis meminta maaf padaku, juga pada ibu karna merasa menjadi penyebab diserangnya kau oleh kawanan Kabuto. Dia merasa berhutang padamu" lanjut Itachi. Sasuke menimpali, "Awalnya aku yang berhutang padanya"

"Artinya kalian impas? Dan oh, aku belum selesai, selama ibu menungguimu disini ia senang sekali berbincang dengan Sakura. Mereka cocok, menurutku. Bahkan ibu pernah memintanya menemani ibu berbelanja sesuatu. Mereka dekat selama nyaris dua bulan ini."

Sasuke hanya diam, memandang kakaknya serius.

"Dan kau mungkin lihat setelah kau sadar, ia sering bolak-balik kesini mengantarkan makanan, dan menyempatkan waktu untuk menjengukmu"

Sasuke mendesah, "Apa tepatnya yang ingin kau kau katakan?"

"Mengapa tak kau lanjutkan sandiwara itu menjadi kenyataan saja?"

Untuk kesekian kalinya, Sasuke kembali bungkam. Dua pasang mata hitam kelam saling memandang dalam diam. Itachi takkan bicara lagi sebelum adiknya menjawab. Sementara Sasuke tak kunjung menjawab. Entah sedang berpikir, atau sedang apa. Kini Sasuke malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Melamun.

"Lagipula..." saat Itachi hendak mengucapkan sederet kalimat lagi, mata Sasuke kembali menatapnya serius.

"...kau sudah melamar didepan orangtuanya, kan?"

-8-

Juugo berjalan tergesa menuju sebuah ruangan diujung lorong. Tadi ia dengar dari Neji bahwa Sasuke baru saja sampai di kantor untuk laporan formal soal misi yang terakhir mereka kerjakan. Rapat laporan akan dilaksanakan nanti sore, jadi ia masih punya banyak waktu untuk berbincang dengan Sasuke.

Saat tiba didepan pintu, Juugo segera membuka kenopnya dan tatapannya jatuh pada sesosok pria beranbut hitam yang sedang duduk memunggunginya. Saat menyadari ada orang yang memasuki ruangan, pria itu menoleh, lalu tersenyum pada Juugo.

"Kemampuan pulihmu amat mengagumkan," komentar Juugo sambil tersenyum lebar, menarik kursi disamping Sasuke, kemudian menjatuhkan diri disana. Sasuke balas tersenyum lebar, "Yah, seperti itulah. Awal tahun ini sepertinya tubuhku sedang diuji. Bayangkan saja, ini baru bulan Mei dan aku sudah dua kali masuk rumah sakit"

Juugo tertawa, "Syukurlah kau sehat lagi. Aku bahkan tak berani bertaruh kau akan sadar lagi dari koma, melihat keadaanmu saat itu"

"Jangankan kau, aku saja tak tahu aku masih hidup" gurau Sasuke. Juugo mengangkat alisnya sambil menyisakan senyum dibibirnya, kemudian kepalanya didekatkan kearah Sasuke, menggodanya. "Tapi kan kau punya Dokter Pribadi yang selalu menjagamu"

Saat kening Sasuke berkerut dan atmosfernya berubah, Juugo kembali terbahak.

"Dokter apa yang kau maksud, sih" timpal Sasuke asal.

"Dokter Haruno Sakura" goda Juugo lagi. Tawanya belum surut sepenuhnya.

Sasuke merengut. Sementara Juugo yang sudah pulih dari tawanya kembali berkata, "Aku bicara banyak dengannya setelah kejadian itu"

"Bicara apa?"

"Banyak. Ia menceritakan semuanya dari awal, dari saat kalian pulang dari rumah neneknya. Jadi kau tak usah repot-repot menceritakannya lagi padaku."

Sasuke mengangguk-angguk, "Lalu apalagi?"

"Banyak. Oh ya, karena aku memintanya menceritakan semuanya soal pertemuan pertamanya dengan Kabuto, darimana ayahnya mengenal Kabuto...semuanya, termasuk saat pertama kali bertemu denganmu."

Sasuke hanya diam menyimak cerita Juugo tanpa ingin menyela, Juugo kemudian melanjutkan, "Termasuk sandiwara kalian itu. Dan asal kau tahu, orangtuanya hingga saat ini belum tahu jika ia diincar dan semacamnya sebelum ini. Malam itu orangtuanya khawatir karena hingga lewat tengah malam kalian belum juga kembali dari pesta ulang tahun neneknya. Dan kejadian itu berakhir sekitar pukul dua, lalu gadis itu mengatakan pada orangtuanya bahwa kalian di serang segerombolan penjahat diperjalanan pulang,"

"Aku tahu soal itu -ia menceritakannya. Tapi aku belum menanyakan apakah orangtuanya tahu identitasku sebenarnya" tanya Sasuke, tak terdengar seperti pertanyaan namun Juugo tahu Sasuke butuh jawaban.

"Orangtuanya tahu. Jika sudah seperti ini apa kau masih berharap ada yang bisa disembunyikan? Tak ada. Semua terbongkar. Dini hari itu juga, kami mengirimkan beberapa helikopter lagi untuk meringkus habis mereka. Warga berkerumun, polisi-tentara berdatangan. Wartawan membludak saat kami menggiring mereka ke kantor polisi. Seluruh jepang memberitakannya. Seluruh jepang tahu DIH yang berhasil meringkusnya. Aoi bahkan tampil di televisi untuk melakukan konferensi pers"

Sasuke tertawa, mungkin ia membayangkan wajah saat Aoi muncul di layar televisi.

"Kau bahkan masuk berita. Ruang ICU mungkin sudah dimasuki wartawan jika tak ada agen yang berjaga di lantai bawah. Berterima kasihlah pada kami karena kami tak memperbolehkan namamu dicantumkan diberita. Jika tidak, dipastikan kau sudah terkenal sekarang" lanjut Juugo. Sasuke meringis. Juugo tersenyum samar, lalu melanjutkan, "Tapi semuanya sudah berakhir. Kini saatnya kita bersenang-senang"

-9-

Sasuke menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Membayangkan sosok komanya disorot media dan membayangkan wartawan akan menyerbu untuk wawancara saat ia sadar dari koma membuatnya bergidik. Kemungkinan itu benar-benar buruk.

"Tapi semuanya sudah berakhir. Kini saatnya kita bersenang-senang" lanjut Juugo. Ya, Juugo benar, saatnya berlibur.

"Lalu apa rencanamu setelah ini?" tanya Juugo lagi. Kawannya yang satu ini nampaknya belum puas mewawancarainya.

"Bersantai, mungkin" jawab Sasuke asal.

"Oh, kukira kau akan mencetak undangan"

Sasuke sempat bingung undangan apa yang Juugo maksud, namun detik berikutnya ia mengerti, "Oh, ayolah Juugo"

"Memangnya kalian memutuskan sandiwara itu? Tidak, kan? Buktinya gadis itu belum mengembalikan cincinmu."

Sasuke segera menatap jemarinya dan segera menyadari sesuatu, ia selalu memakai cincin pemberian ibunya sebelum memberikannya pada Sakura untuk keperluan 'sandiwara' mereka. Rupanya Juugo memerhatikannya selama ini. "Sialan, kau"

Juugo terbahak, "Selama ini aku penasaran gadis apa yang membuat pria dingin didepanku ini tertarik, setelah aku bertemu dengannya, aku dapat menyimpulkan beberapa hal. Ia cukup mudah dibaca"

"Oh, ya?" tanya Sasuke tak acuh. Juugo masih tersenyum menggoda, "Dia manis. Ah bukan. Dia cantik. Aku tak percaya kau punya selera yang bagus"

"Oh, astaga" desah Sasuke. Ia sempat berpikir Juugo mungkin lebih cocok menjadi adik Itachi dibanding dirinya.

"Apa kau tahu bahwa ia terbawa perasaan olehmu? Oleh semua yang kau lakukan padanya. Dan dari gerak-gerik serta ucapannya selama beberapa kali aku bertemu dengannya, ia sama seperti selusin gadis lain diluar sana. Ia mengagumimu" Juugo mengatakannya seolah dia sudah menguntit Sakura selama satu bulan. Namun walau wajah Sasuke langsung merengut, dalam hati ia menyetujui apa yang dikatakan Juugo mengingat dibeberapa waktu ia pernah mendapati Sakura menatapnya dengan cara yang tak biasa. Rona merah diwajahnya. Ekspresi khawatirnya. Pelukannya. Oh, hentikan. Pelukan itu hanya sebatas pelukan simpati.

"Kupikir kau sudah lama berhenti bekerja dibagian Analisis Nonverbal" timpal Sasuke. Juugo hanya mengangkat alis, "Kemampuanku tak akan hilang semudah itu. Dan jika aku tak salah menyimpulkan, kau baru saja menunjukkan ekspresi bahwa kau setuju dengan kesimpulanku soal Sakura"

Akhirnya Sasuke mengalah pada Juugo dan kemampuan sialannya. "Oh, baiklah. Berhenti membaca sikapku. Aku menyerah"

Juugo tertawa puas selama beberapa saat, merayakan kemenangannya. "Oke, oke baiklah. Sekarang kau sebagai laki-laki yang normal, apa yang kau rasakan?"

Sasuke diam selama beberapa detik. Berpikir. "Kupikir agen seperti kita tak dapat hidup dengan nornal seperti orang normal, yah...kau tahu alasannya"

"Siapa bilang? Banyak agen dari bagian lain yang sudah menikah. Walapun mungkin dengan kehidupan pernikahan yang agak berbeda dengan orang nornal, bukan berarti agen seperti kita tak berhak mendapat kebahagiaan, bukan?"

Sasuke terdiam. Pandangannya terpaku kearah lain, menerawang. Ucapan Juugo mungkin ada benarnya. Walau selama ini pernikahan tak pernah sedikitpun terselip dibenaknya.

"Apa kau tak pernah menyertakan pernikahan dalam rencana hidupmu?"

Sasuke menggeleng. Kali ini ia jujur.

"Sasuke, gadis itu sudah tahu siapa kau sebenarnya. Orangtuanya sudah tahu. Tak ada yang perlu lagi kau ungkap dengan susah payah. Tunggu apa lagi?"

Saat Juugo, temannya yang sudah mengenalnya hampir delapan tahuh menanyakannya, Sasuke segera tersadar bahwa ia adalah seorang pemuda normal berusia dua puluh tujuh tahun. Ia menggarisbawahi kata-kata 'normal' dalam benaknya sendiri. Seolah selama ini ia tak pernah merasa normal karena perkerjaannya. Tapi kali ini ia kembali sadar bahwa ia normal. Sama seperti pemuda dua ouluh tujuh tahun lain yang merasa senang jika dibuatkan makanan, merasa senang jika dirawat, merasa senang jika ada yang memperhatikan, merasa senang jika ada yang mendampingi. Ya, ia ingat setiap detail perasaannya saat Sakura berada diapartemennya, memasakannya makan siang, menggantikannya perban, dan lain lain. Kali ini ia takkan mengingkari perasaannya sendiri, ia memang merasakan kehangatan saat Sakura berada diapartemennya. Saat menemaninya. Saat berbincang dengannya. Secara harafiah memang ia bertugas melindungi Sakura, namun tanpa terasa ia menikmatinya juga.

Sasuke baru tersadar bahwa Juugo sedang menunggu jawabannya. Nampaknya Juugo tahu ia sedang melamun dan memikirkan banyak hal, "Aku harus memikirkannya lagi"

Juugo mengangkat alis, "Keputusan ada ditanganmu. Aku hanya mengingatkanmu, karena nampaknya jika tak diingatkan kau takkan menyadari apa yang sebenarnya perasaanmu rasakan."

Sialnya, lagi-lagii Juugo benar. "Ya...ya. Aku tak bisa menyembunyikan apapun memang. Kau bisa menembus isi kepalaku, Juugo."

"Juga perasaanmu" lanjut Juugo sambil menyeringai. Sasuke berdecak, kemudian tertawa. Mereka berdua tertawa.

Sasuke mengakhiri tawanya saat ponsel disaku jaketnya bergetar, ia segera mengeluarkannya dan melihat siapa gerangan yang menelepon.

Sakura.

Ia tahu mungkin Sakura akan menjenguknya seperti biasa ke rumah sakit karena ia belum memberitahu gadis itu jika ia sudah pulang tadi malam. Maka ia sempat berpikir harus bertemu dengan Sakura sekarang untuk memberitahunya langsung bahwa ia sudah benar-benar sehat. "Juugo, rapatnya dimulai nanti sore, kan?"

"Pukul empat. Masih lama, tenang saja. Jadi cepat angkat telepon itu dan temui Sakura sekarang juga. Pasti ia sedang menunggumu ditempat lain" tandas Juugo.

Sasuke menarik ujung bibirnya keatas. Sekali lagi persetan dengan Juugo dan kemampuan sialannya.