Author: Hani Yuya
Judul: Sakura's And Team Adventure
Rate: T
Pairing: Sasusaku, Naruhina, Shikatema, Saiino, Nejiten, Gaara, Uchiha Itachi, Sasori.
Genre : Fantasi, Adventure, Au,Ah, Romance, Friendship.
Warning: seperti biasa cerita ini jauh dr kata sempurna,Typo bertebaran di mana-mana DLDR
.
.
.
Prank... Prank
Suara dentingan pedang yang saling beradu. Pemuda dengan helaian raven sedang berlatih tanding dengan pemuda berhelai kuning jabrik, gerakan gesit dan trampil pemuda raven itu dalam hal menangkis dan menyerang lawan latih tandingnya membuat gadis bersurai pink ini memandangnya dengan pandangan memuja.
Sakura duduk di depan pohon besar degan kedua tangan dipipi, siku lengannya yang bertumpu pada kedua dengkul kakinya. Hinata yang duduk di sebelah kanannya dengan kedua kaki yang ditekuk kebelakang, Sedangkan Ino dan Sai berdiri menyender di pohon besar belakang Sakura.
Manik emeraldnya tak berkedip sedetikpun, sampai dia tak menyadari semua mata memandangnya aneh, bukan Sasuke dan Naruto yang mereka perhatikan, tapi gadis bersurai pink ini yang menjadi pusat perhatian mereka bertiga sejak tadi. Karena mereka bertiga kenal betul siapa Sasuke kecuali Sakura, satu-satunya orang yang baru mengenal Sasuke di dunia bayangan ini dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Prankk...
Pedang Naruto terlepas dari genggamannya dengan posisi Naruto jatuh tersungkur di tanah dan Sasuke mengarahkan pedangnya tepat di depan dada Naruto.
"Lagi-lagi kau kalah Dobe" Seringai puas Sasuke karena kemampuannya masih diatas Naruto, tak berubah sedikitpun meski mereka di dunia bayangan.
"Tch, kau hanya beruntung Teme, tadi aku sedikit lengah ttebayo" Naruto tak mau mengakui bahwa dirinya sudah kalah dari Sasuke."Selanjutnya aku pasti menang, ayo kita ulang sekali lagi" ucapnya.
Sasuke mendengus panjang"Kita sudah melakukannya 5 kali Dobe, dengan hasil yang sama. Aku yang selalu menang darimu" Sasuke mulai menjauh dari Naruto seraya memasukkan pedang ke sarungnya dan mengambil pedang milik Naruto. Lalu berjalan kearah Sakura yang masih tak bergeming memandang Sasuke. "Lagipula aku masih punya urusan dengan gadis pink ini"
Sreettt
Sasuke melemparkan pedang Naruto kepada Sakura. Dengan refkeks Sakura menangkapnya. Membuat jantungnya seakan mau copot takut pedang Naruto mengenai tubuhnya.
"Kau hampir membuatku jantungan Sasuke kun, seenaknya melempar pedang kearahku " sewot Sakura.
"Hn. Siapa suruh kau melamun,he? Bukankah aku menyuruhmu memperhatikan gerakanku dan Naruto!"
"Siapa bilang aku tak perhatikan? Sejak tadi aku memperhatikanmu kok!"
Siiingggg... Bluusshh...
'Huwaaa... aku keceplosan' batinnya.
Sakura menyadari perkataannya yang memalukan. Wajahnya memerah seperti buah tomat kesukaan Sasuke. Membuat semua temannya terkekeh geli melihat tingkah Sakura yang bisa dengan mudahnya menarik perhatian pemuda raven yang terkenal dingin dan tak mau direpotkan ini.
"Baiklah, kita mulai latihan pedangnya" Sasuke menyeringai "Ikuti aku " perintahnya. Sasuke beranjak pergi. Namun Sakura masih diam ditempatnya. Melihat Sakura belum beranjak dari tempatnya Sasuke berbalik berjalan kearahnya dan...
Sreettt
"Hwaaaa... turunkan aku Sasuke kun"
Sasuke menggendong Sakura seperti memanggul beras di punggungnya. Sakura meronta-ronta namun tak dihiraukan Sasuke, dia tetap berjalan menjauhi teman-temannya yang memandang tak percaya atas tingkah laku Sasuke barusan. Naruto dan Ino yang paling heboh, mulut mereka menganga dengan bola matanya yang hampir copot.
"Hei,, Naruto. Apakah mereka berdua berpacaran?" tanya Ino yang mulai mengendalikan dirinya.
"Haha... entahlah, tapi kurasa mereka berdua saling menyukai" Naruto menggaruk-garuk wajahnya yang tak gatal.
"Kalau Sakura kurasa memang dia tertarik pada Sasuke, tak heran setiap gadis yang melihat ketampanannya akan jatuh hati padanya. Tapi tak kusangka Sasuke pun bisa jatuh hati pada gadis seperti Sakura. fufufu... ini sangat menarik" Ino menyeringai senang, karena dapat melihat tontonan menarik dari sahabat dinginnya itu. Sudah lama dia menantikan terjadinya hal ini.
.
.
.
-000-
.
.
"Kau harus ayunkan pedangmu dengan cepat, kalau tidak kau akan kalah cepat dari musuhmu" ucap Sasuke yang sedang melatih Sakura. Membuat Sakura menelan ludah berkali - kali. Disatu sisi takut akan perlakuan Sasuke yang melatihnya dengan keras, disisi lainnya mereka hanya berduaan. Ditambah lagi pemandangan alam yang sangat indah, menciptakan suasana yang romantis.
Wuussshhh!
"Upps, maaf Sasuke kun... ha -ha" Sakura menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal, karena pedang yang berada digenggamannya terlempar hampir mengenai wajah Sasuke saat dia mengayunkannya ke sisi kanan. Sasuke menggeram tertahan. Dia segera mengambil pedang milik Naruto yang tadi terlempar dari tangan Sakura.
"Tck, sudah kubilang berkali-kali, kau harus memegang erat pedangnya" Sasuke menarik tangan Sakura dan membantunya menggenggam pedang dengan benar. Jari-jari Sasuke menekan jarinya menggenggam erat pedangnya.
Sasuke memposisikan dirinya di belakang Sakura masih dengan tangannya yang menggenggam tangan Sakura. Tubuhnya menempel di punggung sang gadis, wajahnya yang dekat di telinganya membuat Sakura geli dan sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Meski Sasuke sudah menjelaskan panjang lebar padanya. Bahkan suara Sasuke terdengar menggoda di telinganya.
'Kami sama, kalau begini terus jantungku bisa copot' innernya.
.
.
"Kanan... kiri... depan... belakang" ucap Sakura seraya mengayunkan pedangnya. Perlahan Sakura sudah mulai bisa menggunakan pedang dengan baik.
'Hn...tak kusangka dia bisa cepat belajar, gadis yang menarik' batin Sasuke. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Hosh... Hosh... Hosh
Bulir keringat membasahi wajah Sakura, nafasnya tampak terengah-engah. Dia berlatih dengan sangat keras tanpa istirahat. Sakura mulai serius berlatih, meski awalnya dia sempat canggung hanya berdua dengan Sasuke. Tapi jika dia mulai serius, dalam waktu singkat dia bisa melakukan apapun dengan baik.
Sasuke yang melihat wajah lelah Sakura menyuruhnya istirahat sejenak. "Sakura, kita istirahat dulu"
"Ehhh...?" Sakura mengelap keringatnya.
"Latihannya cukup untuk hari ini. Ayo kita kembali ketempat yang lain" perintahnya. Sakura mengangguk dan mengikuti Sasuke dari belakang.
.
.
Setelah istirahat setengah jam mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari kepingan jiwa lainnya.
"Hei,kemana perginya Saku chibi aku tak melihatnya sejak tadi, ttebayo" tanya Naruto seraya mengedarkan pandangannya sekeliling.
"Ahh... entahlah, sepertinya dia masuk ke dalam kalungku" jawab Sakura.
Ino melangkah mendekati Sakura yang berjalan di depannya "Hei forehead".
Sakura menoleh, wajahnya berubah kesal mendengar Ino memanggilnya dengan panggilan 'forehead'. "Namaku Sakura, PIG" balas Sakura.
Perempatan siku tercetak di dahi Ino "Tch, padahal aku ingin memberitaumu semua tentang Sasuke di dunia nyata" Ino melirik reaksi Sakura dari sudut matanya.
Langkah Sakura berhenti sejenak, wajahnya refleks menengok ke arah Ino. Manik emeraldnya memandang manik shappire Ino penuh penasaran."Ceritakan padaku, Pig".
Ino menyeringai puas 'Kena kau, forehead. Fufufu' innernya tertawa licik. "Baiklah jika kau ingin tau tentangnya". Ino mulai bercerita "Sasuke, Naruto, Hinata ,Sai dan aku adalah sahabatnya sejak kecil kami pun selalu bersama. Sasuke dan Naruto pintar dalam berbagai macam jenis olahraga, mereka selalu bersaing siapa yang lebih hebat. Tapi Sasuke selalu menang melawan Naruto. Olahraga anggar, juudo, kendo, semua jenis ilmu beladiri mereka kuasai. Jadi tak heran jika Sasuke dan Naruto jago dalam hal bertarung. Apalagi leluhur mereka dahulu seorang Samurai, mungkin kemampuan mereka yang pandai dalam hal memainkan pedang itu menurun dari leluhurnya"
Mulut Sakura terbuka lebar "Samurai?"
"Ya,, kau pasti aman jika berada disampingnya, forehead" ucap Ino menggoda. Membuat wajah sakura merona merah. "Kau beruntung Sasuke yang menjadi pasanganmu disini, kau tau... dia terkenal sebagai pangeran es di sekolah kami. Tak seorangpun wanita yang bisa mendekatinya. Kecuali dia" ucap Ino mendramanistir, wajahnya dibuat seolah terlihat sedih. Membuat Sakura menjadi penasaran.
"Siapa dia? Apakah dia kekasihnya?" ucap Sakura dengan nada sedih.
Ino terdiam sejenak 'Nah ini saatnya' batinnya. "Ya, bisa dibilang begitu. Mereka sepasang kekasih" Ino menahan tawanya agar rencananya membohongi Sakura tidak ketahuan.
Manik Sakura membulat, jantungnya berdetak kencang ketika mendengar Sasuke sudah mempunyai kekasih. Perasaan sedih menyelubungi hatinya, padahal Sasuke cinta pertamanya, dia harus menelan kekecewaan dan pertama kalinya patah hati. "Kalau boleh tau siapa namanya, pig" tanyanya menahan tangis.
"Namanya Uzumaki Karin, dia sepupu Naruto" ucap Ino.
"Karin kah?" gumamnya pelan. Sakura memandang punggung Sasuke dengan raut wajah sedih. Lalu berjalan di belakang punggung Sasuke. Sedangkan Ino menyeringai penuh arti. Sepertinya usahanya membohongi Sakura berhasil.
'Tak kusangka Sakura gampang dibohongi, meski Karin mengejar Sasuke, tapi Sasuke tak pernah menanggapinya. Nah, apa yang akan kau lakukan Sasuke. Jika kau nenyukai gadis pink ini. Kau pasti merasa kehilangan jika dia menjaga jarak padamu. Ini benar-benar menarik. Fufufu' Ino terkekeh geli melihat wajah sedih Sakura. Hinata yang memperhatikan mereka berdua sejak tadi, merasa ada yang aneh dengan keduanya. Hinata memandang curiga pada Ino .
Hinata menepuk pundak Ino "Apa yang kau katakan padanya, Ino chan" tanyanya penuh selidik.
Ino tersentak kaget "Kau membuatku kaget Hinata. Aku tak bicara apapun padanya". sangkal Ino.
"Kau bohong Ino! Kalau tidak kenapa wajah Sakura chan tiba-tiba terlihat sedih setelah bicara padamu" manik lavender Hinata menatap shappire Ino lekat.
"Sudahlah Hinata chan, aku hanya ingin mengetes si pangeran es itu sedikit. Hehe" jawabnya dengan cengiran diwajah cantiknya.
Hinata hanya menghela nafas panjang, melihat tingkah usil sahabat wanita blondenya ini yang mirip dengan kekasihnya Naruto. Naruto dan Sai menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ttebayo?" tanya Naruto menghampiri Hinata yang berwajah cemas. Hinata hanya menggeleng.
"Tidak ada apa-apa kok Naruto" jawab Ino menggantikan Hinata.
Sakura masih memandang sedih punggung Sasuke, kedua tangannya mengepal di depan dadanya. Seakan belum percaya semua perkataan Ino tentang Sasuke yang sudah mempunyai kekasih. 'Bagaimana ini, hatiku sakit' lirihnya.
Sasuke tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Sakura yang berjalan di belakangnya menubruk punggungnya. Sasuke menoleh memandang raut wajah Sakura yang terlihat sedih. Manik emerald Sakura menatap manik Onix Sasuke lekat, dia ingin menanyakan padanya 'Apakah wanita yang bernama Karin kekasihnya?' Namun suaranya tercekat di ujung tenggorokan, sulit sekali rasanya diungkapkan. Keduanya hanya diam saling memandang. Hingga Suara Sai memecahkan keheningan diantara mereka.
"Sasuke lihat" Sai mengarahkan jari telunjuknya ke depan. "Di bawah tebing ini sepertinya terdapat sebuah Desa" ucapnya.
Sasuke berbalik melihat arah yang ditunjuk Sai, ia mendesah pelan"Ya,seperti yang kau lihat, Desa yang diselimuti awan hitam" ucap Sasuke menatap tajam.
"Hmm... kenapa hanya Desa itu yang diselimuti awan hitam? ttebayo" tanya Naruto heran mendekati kedua temannya.
"Hn,,mana kutau Dobe"
"Apakah kita harus kesana? tak bisakah ke Desa yang lainnya terlebih dahulu?" ucap Ino memandang malas Desa di hadapannya. Desa yang diguyur hujan itu sepertinya tak akan pernah reda. Dia malas jika harus berbasah basahan.
Manik lavender Hinata meneliti sekitarnya"Anoo... lihat hanya Desa itu yang terselimuti awan hitam dan diguyur hujan lebat, lihat beberapa puluh meter didepannya, sepertinya cuacanya cerah" Hinata mengarahkan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud.
"Hn,, kalau begitu hanya Desa itu yang diguyur hujan?" asumsi Sasuke.
"Hei,hei... apakah itu Desa Ame(hujan)?" tebak Naruto.
"Yah, mungkin saja Naruto" ucap Sai dengan senyum diwajahnya. Sai langsung menatap Sakura."Sebaiknya kita tanya pada ahlinya. Bukan begitu jelek" ucap Sai datar.
Sakura hanya mendesah pelan tak mengambil pusing perkataan Sai yang masih memanggilnya 'Jelek'. Karena pikirannya sedang kacau saat ini.
"Maksudmu tanya pada Saku chan?" jawabnya. Dan Sai mengangguk "Sayangnya aku tak tau cara mengeluarkannya dari kalungku, selama ini dia yang seenaknya keluar masuk dari kalungku. Maaf" lanjutnya.
Semuanya nampak menghela nafas panjang. Sasuke memandang Sakura. "Apakah kalungmu tak menunjukkan adanya reaksi keberadaan kepingan jiwa di desa itu?" tanyanya. Sakura menggeleng lemah. Sasuke nampak berfikir, lalu lanjut bicara"Tapi segala kemungkinan selalu ada, Tak perlu buang waktu lagi! Kita harus mengunjungi desa itu" perintahnya. Lalu mulai melangkah menuruni tebing.
"Hei,, sebaiknya kalian berhati-hati ketika melangkah. Tebing ini curam dan jalanannya hanya bisa dilalui seorang saja, kalau terpeleset mungkin kita bisa langsung ma..." belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya.
KYAAAAA
"SAKURA CHAN!" teriak Naruto melihat Sakura yang terpeleset jatuh dari tebing tempat mereka bediri. Naruto tak sempat memegang tangannya.
Sontak semua mata menoleh ke arah Naruto. Manik Onyx Sasuke terbelalak tak percaya melihat Sakura yang terlempar ke bawah tebing dengan ketinggian lebih dari 200 m dari tanah.
"SAKURA" teriak Sasuke berlari mendekat dan ingin ikut melompat menyusul Sakura namun dapat dicegah oleh Sai. Ditarik tubuh Sasuke menjauh dari tepi tebing.
"Bodoh! Kau mau mati Sasuke?" bentak Sai.
Sasuke mendelik tak suka pada Sai "Lepaskan! Aku harus menolongnya" ucap Sasuke panik. Sasuke menepis tangan Sai dan mencoba untuk melompat lagi, tapi...
Buakkk
Naruto memukul wajah Sasuke "Dinginkan kepalamu Sasuke!" bentak Naruto. "Kita pasti akan menolongnya, jangan bertindak ceroboh. Sakura adalah si pemegang kunci, ada Saku chibi yang akan melindunginya" lanjutnya.
Sasuke menggeram tertahan. Ditarik kerah baju Naruto dan menatapnya marah"Aku yang menjadi pasangannya dalam perjalanan hidup dan matinya disini. Hanya aku yang bisa menyalurkan chakra kehidupan padanya. Jika dia tak ada di sampingku, dia pasti akan kesulitan. Karena kami saling membutuhkan, kurasa kau pun paham akan itu. DOBE" bentaknya. Lalu melepas kasar kerah Naruto. "Jadi kalian tak berhak menghalangiku!" ucapnya sinis. Lalu melompat kebawah tebing.
"TEME!" teriak Naruto"SIAL!" Naruto menggeram tertahan. Kakinya ditekuk bersimpuh, Pandangannya menatap bebatuan tempatnya berpijak, tangannya terkepal.
Hinata mendekati Naruto dan mengelus pundak kekasihnya untuk menenangkannya. Sedangkan Ino menutup mulutnya yang terbuka lebar saat melihat Sasuke ikut melompat menyusul Sakura.
'Sa -su- ke... kauuuu! Menyukainyakan?' batinnya. Ino menatap kekasihnya, rasa menyesal menyelimuti hatinya"Sai kun, ini semua salahku karena membohongi Sakura. Aku bilang Sasuke berpacaran dengan Karin di dunia nyata. Mungkin karena itu dia tak memperhatikan jalan lalu terjatuh. Bagaiman jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, Aku takut" cairan bening menetes dari manik shappire nya.
Meski terkejut atas pengakuan kekasihnya, Sai tetap tersenyum. Dia menarik Ino ke dalam pelukannya, dielus rambut blondenya"Semua akan baik-baik saja Cantik, tak perlu khawatir" ucapnya menenangkan.
Naruto berdiri "Tck, menyesalpun tak ada gunanya sekarang. Kita harus segera menolong mereka" ditatapnya Sai dan Ino. "Hinata chan jangan jauh-jauh dariku"
Hinata mengangguk. Naruto menggenggam tangannya erat "Sai, Ino ayo kita menyusul Teme dan Sakura!" perintah Naruto seraya berlari menuruni tebing dan disusul Ino dan Sai dibelakang.
.
.
.
-000-
.
.
Bbrrrr... brrr... brrrr
Hujan masih setia mengguyur Desa Ame(hujan). Seorang pemuda berambut Nanas tak sengaja menemukan seorang gadis berambut pink di samping tebing yang terbaring tak berdaya. Shikamaru mendongak keatas. "Mungkinkah dia jatuh dari atas?" Dihampirinya gadis itu, betapa terkejutnya dia saat melihat kalung yang dipakai gadis pink ini.
Pemuda ini mengulum senyum tipis "Akhirnya kami menemukan si pemegang kunci" gumamnya pelan. Dia segera mengecek denyut nadi sang gadis yang terluka parah dihadapannya. Meski lemah dia masih hidup. Digendong ala bridal style olehnya 'Gadis ini harus cepat ditangani'. Dengan langkah besar Shikamaru membawa pulang Sakura yang tak sadarkan diri.
.
.
.
Sesampainya di depan pintu rumahnya, Temari terkejut saat Shikamaru membawa pulang seorang gadis bersurai pink dengan keadaan tak sadarkan diri. Kalung yang dipakai Temari mengeluarkan cahaya, sebuah kristal berwarna ungu muncul dari kalung yang dipakainya, lalu langsung tertanam pada kalung yang dipakai Sakura. Kini bulatan kecil yang berada di bandul sayap sebelah kiri yang sebelumnya berwarna putih kini berubah warna menjadi ungu.
"Dia... si pemegang kunci?" Shikamaru mengangguk "Cepat baringkan dia di kasur, kita harus cepat mengobatinya" Temari membuka daun pintu lebar dan menutupnya kembali saat Shikamaru masuk.
Temari membuka semua pakaian basah Sakura dan menggantinya dengan pakaian kering miliknya. Sedangkan Shikamaru sedang meracik obat untuk luka luar dan dalam Sakura. Temari sangat berhati-hati membuka pakaiannya karena Sakura mengalami patah tulang pada tangan kiri dan kaki kirinya. Temari segera mengobati tangan dan kaki Sakura yang patah.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Shikamaru yang datang membawa obat racikannya.
"Dia patah tulang... kemana pasangannya? Jika ada dia pasti gadis ini akan cepat pulih" ucap Temari yang sibuk membalut tangan Sakura yang patah dengan gips.
"Entahlah, aku tak melihat siapapun di sana, tck mendokusai"
Saat Temari dan Shikamaru sibuk mengobati Sakura. Sebuah lenguhan terdengar dari Sakura yang mulai sadar...
Perlahan manik emeraldnya terbuka."Auch..." rintihnya kesakitan saat ingin menggerakkan badannya.
"Jangan bergerak dulu nona" perintah Temari.
"Ini dimana?" tanya Sakura yang melirik ruangan dengan sudut matanya.
"Kau berada dirumah kami" Temari kini sibuk membalut kaki kiri Sakura yang patah.
"Nah, sebaiknya kau minum obat yang kuracik dulu nona, karena chakra kehidupan mu sudah hampir berwarna merah" ucap Shikamaru yang membantu Sakura memposisikan dirinya duduk."Kalau boleh tau siapa namamu?" lanjutnya seraya membantu Sakura meminumkan obatnya.
Sakura terdiam, bulir keringat bercucuran diwajahnya. Tangan kanannya memegang kepalanya yang berdenyut sakit, wajahnya langsung pucat pasih ketika Shikamaru menanyai namanya. Manik emeraldnya menatap tajam Shikamaru, dengan nada lemah dan sedikit bergetar "Aku... tidak tau" ucapnya lirih.
Shikamaru terbelalak tak percaya mendengar penuturan Sakura. Sedangkan Temari langsung berhenti bergerak, matanya menatap Sakura tak percaya.
"Jangan-jangan kau hilang ingatan?" ucap temari penuh penekanan. Sakura menundukkan wajahnya dan mengangguk lemah.
"Ya,, sepertinya begitu" gumamnya pelan dengan penuh penyesalan, karena sama sekali tak bisa mengingat apapun tentang dirinya.
.
.
.
.
Brrrr bbrrr bbrrr
Hujan masih mengguyur desa ame (hujan ). Seorang pemuda berhelai Raven, dengan langkah yang sedikit diseret sejak tadi tak berhenti mencari sosok gadis bersurai pink yang beberapa menit lalu terjatuh dari tebing. Darah segarpun mengalir dari dahinya.
Dia menggeram tertahan karena sejak tadi tidak menemukan gadis pinknya. Padahal dia melompat tak lama saat Sakura terjatuh. Dia butuh istirahat untuk menetralisir chakra kehidupannya yang tinggal setengah ini. Sasuke memposisikan dirinya duduk menyender pada pohon rindang yang besar, sehingga air hujan yang turun dengan derasnya terhalang pada daunnya dan menyisakan tetesan hujan.
Sasuke menengadahkan kepalanya ke atas merasakan tetesan air hujan yang jatuh mengenai wajahnya. Dipejamkan matanya guna mengingat sosok gadis pink yang akhir-akhir ini menjadi bagian penting dalam hidupnya, mereka saling membutuhkan di dunia bayangan ini"Kuharap kau baik-baik saja Sakura" gumamnya.
.
.
.
Di lain pihak Naruto,Hinata,Ino dan juga Sai sejak tadi masih terus berlari, sampai berulang kali hampir semua mencemaskan keberadaan Sakura dan Sasuke.
.
.
.
Di sebuah rumah yang nampak sederhana, nampak seorang gadis pink yang terbaring lemah dikasur yang sedang berusaha keras mengingat jati dirinya. Namun hanya satu nama yang terus muncul di pikirannya.
"Sasuke" gumamnya pelan. "Siapa dia?" entah mengapa perasaan rindu dan sakit bercampur aduk dihatinya, ketika menyebut nama 'Sasuke'. Disentuh dadanya yang berdetak kencang saat terlintas sosok pemuda raven di benaknya "Apakah dia orang yang penting bagiku?". Sakura terus menggeleng-gelengkan kepalanya guna mengenyahkan sosok pemuda Raven itu.
"Kuharap aku tak bertemu dengannya" cairan bening tiba-tiba menetes di kelopak matanya, entah mengapa perasaan kecewa mendominasi hatinya. Hanya satu keinginannya saat ini mengenyahkan sosok pemuda Raven yang terus menghantuinya.
.
.
TBC
Terimakasih bagi silent reader yang membaca karyaku, jika berkenan tinggalkan jejak kalian disini. Akhir kata ARIGATOU
