Author: Hani Yuya

Judul: Sakura's And Team Adventure

Rate: T+

Pairing: sasusaku, naruhina, shikatema, saiino, nejiten, gaara,uchiha itachi, sasori.

Genre : Fantasi, Adventure, Au,Ah, Romance, Friendship.

Warning: seperti biasa cerita ini jauh dr kata sempurna,Typo bertebaran di

.

.

.


Brrr... Brrr... Brrr

Desa Ame(hujan) adalah salah satu desa tak berpenghuni. Langit biru dan Sang Surya pun tak pernah menampakkan sinarnya, karena terhalang awan pekat yang memenuhi langit. Hujan yang mengguyur desa tanpa henti, bagai tetesan air mata yang tidak akan pernah mengering.

Udara dingin yang menusuk sampai tulang sumsum selalu menyelimuti desa. Sehingga semua makhluk hidup yang pernah tinggal disini satu persatu mati. Karena di desa ini tak pernah ada kehangatan.

Seorang pemuda berambut nanas sedang tertidur di kursi kayu panjang dekat pintu masuk. Temari yang tak sengaja melihat kekasihnya tertidur tanpa selimut segera mengambil persediaan selimut di kamar, lalu menyelimutinya.

Ketika ia ingin beranjak pergi sebuah tangan kekar mencegahnya, Temari menoleh dan mendapati Shikamaru sudah membuka matanya. Pemuda berambut nanas itu mulai memposisikan dirinya duduk, lalu menyuruh Temari duduk disampingnya.

Siingggg

Keheningan melanda mereka, tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai Temari memutuskan memecahkan keheningan yang melanda dikeduanya. Temari beranjak dari duduknya.

"Kubuatkan coklat panas untukmu." Ucapnya beranjak pergi.

Tak berapa lama kemudian Temari membawa dua cangkir coklat panas, dan kembali duduk disamping Shikamaru.

"Minumlah, untuk menghangatkan tubuhmu," Temari menyodorkan secangkir coklat panas pada kekasih nanasnya.

"Terimakasih."

Dilirik wanita blonde kuncir 4 disampingnya dengan sudut matanya, gadis itu sedang sibuk meniup secangkir coklat panas. Shikamaru mulai bicara.

"Bagaimana keadaan gadis pink itu? Apakah dia sudah mengingat namanya?"

Temari menggeleng, "Kurasa belum." Ucapnya lirih.

Shikamaru mendesah pelan, ditaruh coklat panas miliknya di atas meja, lalu memijit keningnya pelan.

"Jika gadis itu tidak ingat jati dirinya dan keberadaannya di dunia bayangan ini, kita akan tetap terjebak di desa ini dan tak akan pernah bisa keluar."

Temari menatap nanar cangkir yang berisi coklat panas ditangannya, iris jade nya meneteskan liquid bening dan jatuh menetes masuk ke dalam cangkirnya.

"Padahal, aku sudah lama menunggu si pemegang kunci dan ingin segera mencari Gaara di dunia ini. Mengajaknya pulang bersama kita... hiks" Temari mulai terisak.

Shikamaru melingkarkan sebelah tangannya ke pundak sang gadis, lalu menyenderkan kepala sang gadis didadanya.

"Tck, kau gadis yang kuat bukan? Jangan menangis, kita pasti menemukan Gaara dan mengajaknya pulang ke dunia kita."

Ya, Temari adalah gadis yang kuat, namun entah mengapa jika sudah menyangkut sang adik dia menjadi lemah dan sedikit cengeng.

"Bagaimana caranya agar gadis pink itu mengingat semuanya?" Temari melepaskan pelukan Shikamaru dan menaruh cangkir miliknya di atas meja.

"Aku akan mencari pasangannya. Mungkin jika ada dia memudahkan gadis pink itu untuk mengingat jati dirinya," jelas Shikamaru.

"Kuharap begitu, karena hanya sang pemegang kunci yang bisa membawa kita menembus black hole dan keluar dari desa Ame ini." Ucapnya dengan penuh semangat.

Shikamaru tersenyum melihat Temari yang mulai semangat kembali. Tangannya terulur mengelus helaian blondenya, "Meskipun merepotkan, aku pasti akan menemukan pasangan gadis pink itu. Kau tak perlu cemas."

"Ya, aku percaya padamu" Temari tersenyum, membuat Shikamaru merona tipis dan mempersempit jarak diantara mereka. Dia mencium Temari lembut sebelum pergi mencari pasangan gadis pink si pemegang kunci itu.

Zrasshhh... zrassshhh...

Naruto, Hinata, Sai dan Ino masih berlari menuruni tebing, akhirnya mereka sampai masuk ke perbatasan desa Ame. Pakaian yang mereka gunakan pun kini basah kuyup tersiram air hujan.

Suara langkah yang bersahutan terdengar nyaring di telinga mereka. Mereka mulai berteriak memanggil Sasuke dan jga Sakura.

"TEME, DIMANA KAU!"

"FORHEAD, JAWAB KAMI!"

"SASUKE, JELEK, DIMANA KALIAN!"

"SAKURA CHAN, DIMANA KAU!"

Naruto,Hinata, Ino dan Sai saling bersahutan berteriak memanggil nama Sasuke dan Sakura ditengah larinya.

'Dimana kau Teme - Sakura chan, kami mencemaskan kalian.' Geram Naruto dalam hati.

Sasuke menajamkan pendengarannya, sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil namanya. Karena bisingnya suara air hujan Sasuke masih tak bisa memastikan dari mana asal suara itu. Dia mulai beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti insting dan pendengarannya di tengah hujan deras, dengan sebelah kaki yang diseret.

Pemuda raven ini mengalami patah tulang pada kakinya akibat tindakan nekatnya yang terjun dari atas tebing. Naruto mulai melihat siluet sosok pemuda melangkah mendekatinya, matanya membulat, ketika sosok pemuda itu semakin tampak jelas terlihat di manik shappirenya.

"TEME?"

Naruto menambah kecepatan larinya, membuat Hinata sedikit terseret dibelakangnya.

"BAKA! Kau membuat kami cemas Teme" Naruto refleks memeluk sahabat ravennya.

Hinata,Ino dan Sai bernafas lega melihat Sasuke, setidaknya masih bertahan hidup, meski terdapat banyak luka gores disekujur tubuhnya.

Sasuke mencengkram pundak Naruto erat, "Aku masih belum menemukan dia Dobe" Ucapnya lirih. Manik Onyxnya menatap kebawah sendu.

Ino menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, manik shappirenya berkaca - kaca, "Sasuke, begitu khawatirnya kah dirimu padanya?"

Naruto menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan sedih yang melanda dirinya. Karena tak biasanya sahabat ravennya ini begitu lemah dan hampir tenggelam dalam jurang keputus asaan. Naruto balik mencengkram pundak Sasuke, meyakinkan dirinya.

"Dia pasti baik-baik saja, kupastikan kita akan menemukannya segera." Ucapnya yakin.

Membuat Sasuke sedikit menyunggingkan senyuman diwajahnya. "Tch, kau yakin sekali Dobe?" Sasuke mendecih, berpura-pura bersikap acuh pada Naruto, padahal hatinya sedikit terhibur mendengar kalimat yang terlontarkan dari bibir sahabat rubahnya ini.

"Percayalah padaku ttebayo, Hehe" Naruto memamerkan cengiran rubahnya, dan membantu menopang tubuh Sasuke.

"Biar kubantu," ucap Sai mendekati keduanya. Lalu ikut menopang tubuh Sasuke.

Tak sengaja Hinata melihat siluet seorang bermantel jas hujan jalan menghampiri mereka.

"Anoo, Naruto kun. Lihat, ada seseorang yang mendekat" Hinata menunjuk ke arah sosok seorang yang belum jelas genrenya semakin mendekat.

Sai dan Ino sontak maju menjadi tameng Naruto ,Sasuke dan Hinata. Bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Mereka tak tau sosok di hadapannya ini lawan atau kawan.

Tap... tap... tap...

Sosok itu semakin mendekat, kini hanya berjarak satu meter dari tempat mereka berdiri. Namun sosok itu tidak menunjukkan tindakan perlawanan pada mereka. Sosok seorang yang menggunakan mantel hujan itu mulai membuka tudung dikepalanya.

Sontak semua mata terbelalak tak percaya saat melihat jelas siapa sosok itu sebenarnya.

"HEE... SHIKAMARU!" Teriak Naruto, teriakannya yang paling kencang diantara teman-temannya.

"Haaa... mendokusai" ucap Shikamaru pelan melihat keadaan salah satu orang yang dikenalnya terluka cukup parah.

"Shika, benarkah itu kau?" Ino memandang tak percaya pada pemuda nanas yang berdiri dihadapannya.

"Haa, tak kusangka bertemu kalian disini" jawabnya datar, sebenarnya ia tak ingin melihat semua temannya terdampar di dunia bayangan sama sepertinya.

Ino langsung berlari memeluk erat Shikamaru, liquid bening menetes dari manik shappirenya yang indah. Lama-lama terdengar isak tangis yang memilukan keluar dari bibir ranum sang gadis.

Shikamaru membalas memeluk sang gadis, mengelus pelan pundaknya, guna menenangkan dirinya. Sai yang biasanya selalu memamerkan senyum palsunya, kini menatap datar pemandangan didepannya.

Pemuda pucat itu sedikit terluka hatinya melihat sang kekasih memeluk erat pemuda masa lalunya. Ya, Shikamaru adalah pemuda yang pernah memikat hati Ino di masa lalu. Sebelum Ino mengenal Sai.

"Hiks... aku selalu mengunjungimu dirumah sakit, berharap kau membuka matamu. Dasar pemalas, aku tau tidur adalah hobimu, tapi sudah setengah tahun kau tidak pernah membuka matamu, semenjak insiden itu."

"Hei, apakah sudah selama itu aku tertidur di dunia nyata?"

"Baka, kau membuat kami semua khawatir "

"Haa, sejak kejadian itu, saat aku membuka mata, disinilah aku terdampar. Bukan hanya aku Temari pun ada bersamaku. Kami pun selalu berusaha keluar dari sini Ino, tapi kami tak bisa keluar dari desa tanpa si pemegang kunci"

Ino melepaskan pelukannya dari Shikamaru, "Maksudmu?" Tanyanya.

Shikamaru menghapus jejak-jejak air mata dari pipi Ino, "Kalian pun tak akan bisa keluar dari desa ini"

"Jelaskan pada kami Shikamaru!" Ucap Naruto mengintimidasi pemuda nanas itu.

"Desa ini dilapisi black hole di setiap perbatasannya, semua makhluk hidup maupun mayat hidup bisa masuk ke dalam desa ini. Namun jika sudah di dalam mereka tak bisa keluar, dan satu-satunya jalan menerobos black hole dengan bantuan kekuatan sang pemegang kunci" Shikamaru menjelaskan panjang lebar.

"Berarti tanpa kekuatan si pemegang kunci kita tak bisa keluar dari desa?" Tanya Ino.

Shikamaru mengangguk, namun dia teringat gadis pink sang pemegang kunci yang kini ada dirumahnya, "Tapi aku menemukan seorang gadis bersurai pink terluka parah tepat di bawah tebing ini beberapa jam yang lalu, kurasa dia si pemegang kunci"

Manik Onyx Sasuke membulat, dia berjalan menghampiri Shikamaru dengan kaki yang diseret, dicengkramnya baju pemuda nanas itu. "Bawa aku kerumahmu menemui gadis pink itu" Sasuke menatap tajam mata Shikamaru.

Pemuda nanas itu mengernyit, dia heran tak biasanya Sasuke yang terkenal dingin peduli dengan orang, terlebih lagi seorang gadis. Manik cokelatnya tak sengaja melihat kalung yang digunakan Sasuke.

Shikamaru tersenyum, "Aku pun butuh bantuanmu Sasuke, kau pasangan sang pemegang kunci kan?"

"Hn"

"Baiklah jangan buang-buang waktu lagi" jalan di depan.

Naruto dan Sai kembali membantu menopang tubuh Sasuke. Hinata berjalan di samping Naruto. Dan Ino sejak tadi selalu menempel pada Shikamaru.

Kedekatan Ino dan Shikamaru membuat Sai menggeram kesal. Matanya memicing tajam menatap punggung Shikamaru, aura kemarahan mengelilingi tubuh Sai.

Tangannya mengepal sempurna saat ini, ingin rasanya menarik Ino menjauhi Shikamaru. Namun ditahannya, dia tak ingin cari ribut sekarang. Karena ada hal penting lainnya yang harus didahulukan.

Naruto menyadari perubahan emosi pada diri Sai yang sejak tadi menatap tak suka pada Ino yang terus menempel pada Shikamaru 'Semoga saja Sai tak mengamuk sekarang, kau sungguh tak peka Ino' batinnya merutuki sikap Ino sekarang. Lalu mendesah panjang.

Sesampainya di rumah Shikamaru, mereka langsung masuk kedalam. Temari pun tak kalah terkejutnya melihat segerombolan orang yang sangat dikenalnya, dia segera memberikan baju ganti pada teman-temannya. Manik Onyx Sasuke tak berhenti mencari keberadaan gadis pink sejak tiba tadi, Ia nampak gelisah.

Shikamaru menepuk pundak Sasuke. Memberitahukan dimana gadis pink nya berada. Pemuda nanas itu menunjuk salah satu kamar, sontak Sasuke langsung berjalan kesana.

Kreeet

Dibuka gagang pintu kamarnya, matanya membulat saat melihat keadaan sang gadis yang terbaring lemah di atas kasur. Tak beda jauh dengan Sakura saat manik emeraldnya bertubrukan dengan manik Onyx Sasuke, entah mengapa perasaannya kacau tak menentu.

Sasuke melangkah mendekati Sakura yang terbaring lemah di ranjang dengan sebelah kaki dan tangan diperban. Ketika tepat dihadapan Sakura. Dia langsung memeluk erat gadis pink si pemegang kunci itu.

"Kau membuatku khawatir Sakura"

Sasuke makin erat memeluk tubuh Sakura, tapi tak ada perlawanan dari gadis pink itu. Sasuke merasa aneh dengan sikap Sakura yang tak seperti biasanya, seharusnya Sakura membalas pelukannya, bukan?

Ditatap matanya intens, namun Sakura mengelak. Dia mengalihkan pandangannya ke samping.

"Ada apa denganmu Sakura?" Tanya Sasuke heran.

Sakura menggeleng, "Jangan dekati aku, pergilah, kumohon!"

Sasuke terbelalak tak percaya mendengar penuturan Sakura yang secara langsung mengusirnya. Sasuke mengangkat wajah sang gadis menghadap wajahnya, onyxnya menatap tajam manik emeraldnya.

Sakura memandang Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan, liquid bening menetes dari emeraldnya yang indah.

"Pergilah, kumohon... aku tak ingin mengingatmu lagi" Ucapnya lirih.

"Jelaskan, apa maksud perkataanmu itu!" Suara Sasuke meninggi, ia tak terima jika Sakura mengabaikan dirinya,"apa aku melakukan sesuatu kesalahan?"

Sakura diam dan lagi-lagi menggeleng. Sasuke mencengkram pundak Sakura kencang.

Sasuke mengernyit, dia benar-benar tak paham dengan sikap Sakura saat ini "Beritahu aku apa yang Sebenarnya terjadi?"

"Dia hilang ingatan" Sebuah suara menginterupsi tindakannya.

Sasuke sontak menoleh ke arah sumber suara di belakangnya, terlihat Shikamaru berdiri diambang pintu kamar."Mungkin karena hantaman keras di bagian kepalanya,sehingga dia lupa ingatan." lanjutnya.

Sasuke memandang manik emerald Sakura tajam sekali lagi, hanya untuk memastikan "Benarkah kau hilang ingatan, Sakura?"

Sakura mengangguk mantap. Membuat hati Sasuke mencelos.

Braak

Dipukul kencang pinggir ranjang Sakura. "Brengsek!" Gumamnya pelan. Lalu dia menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya. Lebih erat daripada sebelumnya.

Sakura memegangi dadanya yang berdetak tak karuan 'Dia Sasuke kun?' ucapnya dalam hati. Entah mengapa hatinya merasa nyaman dipelukan Sasuke. Untuk sementara dia ingin egois, meski dimulut berkata tidak, namun dihati dia ingin selalu dekat dengan pemuda raven ini. Sakura membalas memeluk Sasuke.

'Kau kecewa Sasuke, karena tak bisa melindunginya kan?' Kuharap kau bisa segera mengembalikan ingatannya' Shikamaru mendesah pelan. Lalu pergi keluar,meninggalkan keduanya,yang masih berpelukan.

.

.


TBC

Makasih buat yang udah baca. maaf ga bisa nyebutin satu_satu DLDR