Author: Hani Yuya

Judul: Sakura's And Team Adventure

Rate: T+

Pairing: sasusaku, naruhina, shikatema, saiino, nejiten, gaara,uchiha itachi, sasori.

Genre : Fantasi, Adventure, Au,Ah, Romance, Friendship.

Warning: seperti biasa cerita ini jauh dr kata sempurna,Typo bertebaran di mana-mana .don't like don't read.

Chap 7- Black Hole.

.

.

.

Siiinggggg

Semuanya diam membisu ketika mengetahui Sakura hilang ingatan. Naruto menjambak rambutnya frustasi, namun Hinata mengusap lembut pundaknya,agar sedikit meredam kecemasan yang melanda pemuda kuning itu.

Sedangkan Ino tampak gelisah, ia merutuki sikap usilnya yang sepertinya sudah sedikit keterlaluan. Ia memeluk lengan kekar Sai erat, Sai yang melihat wajah pucat Ino meremas tangan wanita blonde itu lembut. Membuat sang empu mengalihkan pandangannya menatap sendu sang kekasih.

"Tenangkan dirimu, ini bukan salahmu. Ini murni sebuah kecelakaan, kau tak perlu cemas, ada aku bukan? Aku selalu ada untukmu cantik." Sai tersenyum, namun kali ini senyum tulus yang ia perlihatkan di wajah pucatnya. Semua penuturan Sai membuat hatinya sedikit tenang.

Ino mengangguk, "arigatou, Sai-kun." ucapnya pelan.

Shikamaru mendesah panjang. Ia berdiri bersandar mendekati bingkai jendela dengan tangan yang dilipat di dadanya, pandangannya menatap keluar jendela, mengamati rinai hujan yang tidak ada hentinya membasahi desa Ame semenjak pertama kali ia menginjakkan kaki disana.

Langit biru, sinar matahari pagi, burung yang berkicau merdu semuanya tak dapat ia lihat lagi di sini. Ia sedikit menyesal selama hidupnya tak pernah menikmati betapa indahnya langit biru, karena selama ini ia lebih suka tidur untuk menghabiskan waktunya .

Temari sejak tadi sibuk membuatkan cokelat panas untuk semua temannya, ia tau semua temannya pasti merasa kalut saat ini. Karena itu mungkin secangkir cokelat panas bisa membuat mereka sedikit tenang sekaligus menghangatkan tubuh mereka yang basah akibat terkena hujan.

Temari datang membawa 7 cangkir coklat panas dan di letakkan di atas meja satu-persatu.

"Kalian semua minumlah dulu, kita pikirkan jalan keluarnya dengan perlahan." ujarnya dengan suara lantang. Membuat semuanya menoleh dan menatap Temari dalam diam.

Kreeekk

Suara decitan pintu yang terbuka di salah satu kamar terdengar nyaring di telinga mereka, sontak mereka semua mengalihkan pandangannya menatap ke arah sumber suara.

Naruto segera beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Sasuke, ketika melihatnya keluar dari kamar Sakura dengan wajah yang tertunduk.

"Bagaimana Teme, apakah Sakura-chan sudah bisa mengingat semuanya?"tanyanya penasaran.

Sasuke mendesah pelan, "belum Dobe, bahkan dia masih belum bisa mengingat namanya sendiri." jawabnya lirih.

"Aarrghhh! Bagaimana ini ttebayo, sampai kapan ia akan hilang ingatan? Tak bisakah kau menyalurkan chakramu untuk memulihkan luka dan ingatannya Teme?" Desah Naruto. Naruto menautkan alis heran, melihat ekspresi Sasuke yang tampak kecewa dan terluka.

Sasuke tersenyum miris, "kau tau, bahkan ia menghindariku." Onyxnya menatap sendu Naruto. Membuat pemuda blonde itu terbelalak tak percaya.

"EEHHH?" Teriaknya, lalu menjambak rambuknya frustasi "Kuso(sial )!"

'Uso(bohong)!' Ino menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.

'Dia benar-benar menghindari Sasuke?ini salahku, bagaimana ini?' Ia semakin menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa Sakura.

"Hei, mau kemana kau Sasuke?" Tegur Shikamaru ketika Sasuke berada di ambang pintu keluar.

"Hn, aku akan mencari tau sendiri cara agar kita bisa keluar dari desa ini." jawabnya datar.

"Setidaknya biar aku obati terlebih dahulu kaki kirimu yang patah Sasuke, atau keadaanmu akan semakin parah." tawar Temari.

"Hn, tidak perlu. Aku baik-baik saja"

"Tunggu Teme, jangan berbuat bodoh. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin!" cegah Naruto, berdiri di depan Sasuke berusaha menghalangi langkahnya dan mencegahnya pergi.

"MINGGIR DOBE, JANGAN MENGHALANGIKU!" ucapnya dingin penuh penekanan. Dengan langkah yang diseret, Sasuke mulai melangkahkan kakinya melewati Naruto yang diam mematung, lalu menerobos hujan yang semakin lama semakin deras.

Membuat semua orang yang masih di dalam ruangan menatap nanar punggung Sasuke yang semakin lama semakin menjauh, hingga hilang di tengah derasnya hujan.

"Sasuke." lirih Naruto menatap sendu kepergian sahabatnya.

"Haa~ dasar keras kepala, mendokusai na~" desah Shikamaru.

.

.

.

. -0000-

.

.

"Sasuke-kun"

Gadis pink yang kini masih terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur berukuran sedang itu terus mengumamkan nama pemuda raven yang baru ditemuinya tadi.

Wajah tampannya terus mengusik pikirannya, berulang kali ia memutar otak cerdasnya mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu hal yang harus ia ingat.

"Sakura-chan"

Sebuah suara merdu seorang wanita membuatnya terkesiap dan sadar dari lamunannya. Matanya menyipit berusaha mengingat siapa nama gadis cantik dengan iris lavender dan seorang gadis blonde dengan model ponityle dikuncir satu yang berdiri di belakangnya. Mereka berdua berjalan mendekati gadis musim semi itu.

"Bagaimana keadaanmu Sakura-chan?" Hinata menatap Sakura khawatir.

"Aku sudah sedikit lebih baik... err~"

"Hinata, dan gadis disampingku ini Ino." sela Hinata memperkenalkan dirinya.

Sakura menatap Ino dan Hinata secara bergantian. Nyutt... tiba-tiba kepalanya berdenyut dan sakit, sontak Sakura meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya.

"Forehead, apa yang terjadi" ujar Ino panik.

"Biar kupanggilkan Temari dan Shikamaru untuk melihat kondisinya" dengan langkah besar Hinata pergi meninggalkan mereka berdua.

'Sasuke-kun mereka berdua temanmu kan?biarkan mereka berdua ikut dengan kita'

'Ah, terimakasih Sakura chan'

'Siapa dia? Apakah dia kekasihnya?'

'Ya, bisa dibilang begitu, Mereka sepasang kekasih. Namanya Uzumaki Karin, dia sepupu Naruto"

Berbagai macam peristiwa berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba Sakura mencengkeram pergelangan tangan Ino, menoleh kearahnya, bulir keringat membasahi wajah porselin nya.

Hosh... hosh

Nafasnya tampak terengah -engah,"a-pa-kah ki-ta per-nah ber-te-mu se-be-lum- nya?" tanyanya dengan nada tersendat -sendat menahan sakit dikepalanya.

Ino menatap lirih Sakura, "ya, bahkan kita ini teman seperjalanan." jawabnya.

Dahinya mengernyit, perlahan ia melepaskan cengkerannya dan mengatur nafarnya perlahan, "apa maksudmu dengan teman seperjalanan?" lanjutnya penasaran.

"Akan kuceritakan dari awal... "

Ino mulai menceritakan semuanya kepada Sakura tentang keberadaan mereka di dunia bayangan ini, di dunia nyata, tentang dirinya yang terpilih sebagai pemegang kunci, tentang Saku- makhluk kecil berukuran mini yang memandu mereka mencari kepingan jiwa, juga tentang Sasuke, yang kini entah kemana keberadaannya.

Itu semua membuat Sakura membelakkan mata tak percaya,"Uso?" Lirihnya pelan.

"Ini semua salahku...hiks, maafkan aku forehead. Gara-gara aku berbohong kau jadi begini." mata seindah langit biru gadis blonde itu berkaca-kaca, cairan bening yang mengenang di kelopak matanya jatuh menetes mengalir membasahi pipinya.

Sakura makin mengernyit heran, ia semakin tak mengerti apa yamg sebenarnya terjadi.

"Memangnya kau bohong tentang apa?"

"Aku membohongimu tentang hubungan Sasuke dan Ka..."

BRAKK

Perkataan Ino terputus ketika mendengar suara keras dentuman pintu yang dibuka kasar, mereka berdua sontak mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Terlihat Naruto, Hinata,Sai ,Shikamaru dan Temari berada di sana.

"Sakura-chan, apa yang terjadi?ttebayo." Teriak Naruto panik, ia langsung menghambur masuk dan mendekatkan wajahnya lalu menempelkan jidatnya di jidat lebar gadis musim semi itu. Membuat semuanya sweatdrop.

Pletak

Sai menjitak kepala Naruto, membuat sang empu meringis kesakitan,"kau jangan berlebihan Naruto," ujar Sai seraya menarik bajunya menjauh dari Sakura.

"Ck, dia tidak demam Naruto, tapi sakit kepala bodoh!" Cerca Shikamaru mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Naruto. Namun pemuda rubah itu tertawa dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Hehehe, maaf...aku hanya khawatir dengan keadaannya."

"Ha~ mendokusai." dengus Shikamaru.

"Kalian...bisa tenang sedikit tidak!" amuk Temari dengan nada yang tak terbantahkan, serta memberikan deathglare mematikan kepada ketiga pemuda dihadapannya.

Memang gadis keturunan Sabaku ini terlihat menyeramkan jika marah. Bukan hanya Naruto dan Sai yang merasa ketakutan, tapi kekasihnya - Shikamaru pun tak dapat melawan ucapannya jika sudah marah.

'Semua wanita memang menyeramkan jika sudah marah' batin Naruto, Shikamaru dan Sai bersamaan.

"Lebih baik kalian bertiga pergi mencari Sasuke dan membawanya pulang, kita pikirkan jalan keluar bersama-sama disini!" Perintah Temari.

"Sasuke- kemana dia?" sela Sakura.

Siiiiiiinggggg

Semua nampak bungkam, tak ada satupun yang memberikan jawaban. Semua nampak terlihat lesu dan menghela nafas panjang.

"Dia tadi keluar, katanya ingin mencari cara agar kita semua bisa keluar dari desa ini, dasar bodoh, tidak ada yang bisa menembus black hole selain si pemegang kunci... ha~sejak dulu dia memang keras kepala." jawab Shikamaru memcahkan keheningan.

"Sepenting itukah kedudukan si pemegang kunci di dunia bayangan ini?" tanya Sakura memastikan.

"Ya" jawab Temari dan anggukan semuanya.

Sakura yang merasa dirinyalah yang harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini memutuskan untuk pergi mencari Sasuke. Ia mulai beranjak dari tempat tidurnya secara perlahan, meski rasa nyeri disekujur tubuhnya masih terasa menyakitkan.

"Bodoh! Mau kemana kau forehead?" ujar Ino panik.

"Sakura -chan." lirih Hinata.

Mereka sontak membantu Sakura beranjak dari tempat tidurnya. Ia sudah membulatkan tekad nya.

"Aku akan mencari Sasuke." ujarnya penuh keyakinan. Entah mengapa meski ia ingin menghindar dari pemuda raven itu, tapi ia tak bisa membohongi perasaannya yang mengkhawatirkan sosok pemuda raven yang selalu memenuhi benaknya.

"EEHHH!"

Ucapannya membuat seluruh penghuni rumah itu memekik kaget. Ia mulai melangkahkan kakinya perlahan keluar ruangan.

"Tunggu... keadaanmu masih sangat mengkhawatirkan Sakura!" ujar Temari, berusaha menahanya.

"Aku bisa segera sembuh jika pasanganku menyalurkan chakra kehidupannya padaku. Dan orang itu Sasuke bukan? Aku tak ingin jadi benalu, kalian membutuhkanku sebagai pemegang kunci, karena itu jalan satu-satunya untuk kembali kedunia nyata." gadis musim semi itu menjabarkan pengetahuan yang baru saja ia dengar dari Ino dengan sangat detail, membuat semuanya terperangah dan beranggapan jika ingatan Sakura sudah pulih.

"Ingatanmu sudah kem~" Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sakura segera memotongnya.

"Belum," jawabnya, "aku pergi." Sakura berpamitan, lalu pergi meninggalkan semua orang yang masih diam mematung di kamarnya.

"Hei, dia sedikit mirip dengan Sasuke?" ucap Sai.

"Ya, keras kepala." jawab Ino menimpali seraya memijit keningnya pelan.

"Sebaiknya kita susul Sakura-chan, aku takut terjadi apa-apa padanya" gadis dengan manik lavender itu terlihat gelisah.

Semuanya mengangguk dan segera menyusul Sakura untuk mencari Sasuke.

.

.

.

.

Bbrrrrr... bbbbrrr

Di tengah hujan yang berangsur-angsur turun semakin deras, pemuda raven yang berjalan membelah hujan terus melangkahkan kakinya ke arah utara desa.

Sreet... sreet

Suara langkah kakinya yang diseret terdengar pelan tersamar lebatnya bunyi hujan yang turun jatuh menghantam tanah. Sasuke terus berjalan meski kaki kirinya berdenyut sejak tadi.

Ia hanya menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi pada kakinya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, karena kini sebuah jurang tanpa dasar berada tepat di depannya. Ia menggeram frustasi seraya mengacak-acak rambut ravennya yang kini lepek karena hujan.

"Kuso(sial)!" geramnya dengan tangan yang dikepal.

Onyxnya berpendar melihat sekeliling."ck, apakah tidak ada jalan lain selain jurang?" decaknya kesal. Karena sejauh mata memandang hanya jurang tanpa dasar yang ia lihat.

Sasuke tampak putus asa, merasa dirinya sama sekali tak berguna. Ia mengadahkan wajahnya menatap langit yang diselimuti awan hitam. Menutup kedua Onyxnya.

"Apakah aku sendiri tak bisa? Sesekali berguna untuk seseorang yang kini keberadaannya sangat berarti bagiku?" gumamnya pelan.

Suara gemercik hujan mengalun indah di telinganya, namun ia menyadari ada yang aneh disana. Onyxnya perlahan terbuka, Ia mengulurkan tangannya ke depan dengan tangan yang terbuka seakan mengumpulkan rinai hujan di telapak tangannya.

Tatapan matanya tertuju pada jurang di hadapannya, kedua alisnya bertaut. Di dunia bayangan ini pendengarannya sangat tajam, bahkan ia bisa mendengar suara sampai ratusan radius km di depannya.

'Bunyi ini seperti genanagan air, apakah di bawah sana ada air yang menggenang? tapi apakah mungkin dibawah jurang terdapat sungai? Kali? Bahkan ... laut?che, jangan bercanda!' Sasuke tak mempercayai pikiran konyol yang terlintas di benaknya. Lagi-lagi ia menggeram frustasi, kini tertawa sinis.

"Tak mungkin jika di dunia nyata, tapi... jika di dunia bayangan, semua hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin" ujarnya seraya menatap tajam jurang didepannya.

.

.

.

"SASUKE"

Sebuah suara yang ia kenal betul siapa pemiliknya menginterupsi kegiatannya, Segera ia menoleh kearah sumber suara. Onyxnya membulat ketika mendapati Sakura berada beberapa meter di depannya.

"Sakura!" ia berjalan mendekati gadis soft pink itu, "Bodoh! Apa yang kau lakukan disini, he" geramnya kesal.

Ketika ia ingin menarik tubuh gadis musim semi itu ke dalam pelukannya, sayangnya Sakura malah melangkah mundur. Gadis dengan helaian sewarna permen kapas itu menghindarinya.

Jleb...

Matanya membulat... hatinya sakit seperti tertusuk katana miliknya. Onyx dan emerald bertemu, namun Sakura segera mengalihkan perhatiannya kesamping.

Sasuke mendecih, telapak tangannya mengepal, terlihat jelas Sakura menghindari tatapannya. Itu semua membuat ulu hatinya nyeri, entah mengapa ia merasa kehilangan. Ya, kehilangan Sakura yang dulu, gadis yang selalu berisik jika berada disampingnya.

Cling

Kalung milik Sakura bercahaya mengeluarkan cahaya berwarna biru langit. Cahaya kebiruan pun muncul dari dasar jurang, kalung yang ia gunakan mengarah ke dalam jurang. Sasuke berjalan mendekati tepi jurang, diikuti Sakura dibelakangnya.

Ctarrr...

Muncul sebuah lingkaran raksasa berwarna hitam pekat dari dalam jurang menjulang tinggi ke langit. Lingkaran hitam besar itu bagai menyelimuti desa Ame. Itu semua membuat Sakura dan Sasuke terperangah tak percaya.

Sakura mengerjapkan matanya berulang kali, menahan nafasnya di tenggorokan. Ia berdecak kagum, "tak kusangka ternyata desa ini terkurung dalam lingkaran raksasa." ujarnya tak percaya.

"Black hole"

Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka berdua, mereka menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Shikamaru dan yang lainnya yang hanya berjarak 10 langkah di hadapannya.

"Jika kita ingin keluar dari sini, kita harus menghancurkan black hole yang menyelimuti desa ini." lanjut Temari.

"Tapi... bagaimana cara~"

Syuuuuuuttttt..

"Eh...kyaaaaaaa!"

Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, angin berhembus kencang kearahnya, angin itu menarik tubuhnya jatuh ke dalam jurang.

"SAKURA!" sontak Sasuke pun melompat menyusul Sakura yang jatuh ke dalam jurang.

Shikamaru,Temari, Ino,Sai, Naruto dan Hinata terbelalak tak percayaa.

"Ck, Sakura-Teme!" Naruto berlari mendekat, seperti dejavu. Ia melihat kembali kedua temannya jatuh ke dalam jurang.

Gruk...gruk...gruk

Tanah yang mereka injak sebagai pijakan berguncang kencang. Sai, Shikamaru, Naruto memeluk pasangannya masing-masing dengan erat.

"Apa yang sebenarnya terjadi, ttebayo?" geram Naruto frustasi.

Jurang yang menganga lebar tadi, tempat dimana Sakura dan Sasuke terjatuh ke dalamnya kini tertutup rapat, datar tampak seperti permukaan dan diatasnya tertutup oleh tanah. Semua terbelalak tak percaya, dan segera berlari mendekat.

Naruto duduk bersimpuh tepat di atas jurang yang kini menjadi permukaan, kedua tangannya terus menggali tanah merah yang lengket karena terkena hujan terus menerus.

"Sial-Sial-Sial!" ia terus menggeram frustasi, karena untuk kedua kalinya ia tetap tak bisa melakukan apapun untuk kedua temannya.

"TEME-SAKURA-CHAN" teriaknya kencang. Namun terdengar memilukan.

Shikamaru menengadahkan kepala menatap lingkaran hitam yang menyelimuti desa Ame.

'Kuharap mereka berdua bisa menghancurkan black hole saat kembali nanti' tangannya mengepal erat,' aku percaya padamu Sasuke, kalian berdua pasti akan kembali.' gumamnya yakin dalam hati.

.

.

.

Naruto terus menggali, sampai-sampai kuku jarinya patah dan lecet. Meski rasa perih ia rasakan di telapak tangannya, Naruto tak berhenti menggali.

"Tck, bodoh ...sampai kapanpun kau menggali, takkan pernah mengembalikan mereka berdua disini. Sebaiknya kita pulang kerumah, aku percaya Sasuke bisa melindungi Sakura. Mereka berdua akan baik-baik saja." ujar Shikamaru menepuk pundak Naruto.

Hinata ikut bersimpuh di depan Naruto, menggenggam pergelangan tangan kekasih rubahnya itu agar menghentikan kegiatannya yang sia-sia.

"Hentikan!Naruto-kun, benar kata Shikamaru... sebaiknya kita pulang. Sakura-chan akan baik-baik saja jika Sasuke berada disampingnya, begitu juga sebaliknya." ujar Hinata sendu, lalu memeluk kekasihnya.

"Aku tau kau sangat sedih karena tak sempat menolong mereka berdua, tapi bukan hanya kau yang sedih Naruto. Kami juga sedih karena mereka juga temanku." ujar Sai dengan ekspresi wajah yang serius.

Naruto mengangguk, dan beranjak berdiri. Mereka semua mulai berjalan menjauhi black hole. Namun Ino masih diam menatap sendu hamparan tanah yang sebelumnya adalalah jurang tanpa dasar, titik dimana Sakura dan Sasuke terjatuh dan hilang.

Sreett

Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkari pinggang kecilnya, memeluknya dari belakang. Dikecup pucuk kepala kekasihnya itu.

"Ayo cantik, yang lain sudah jauh berjalan di depan."

Ino menoleh, "Aku khawatir pada mereka Sai-kun." lirihnya.

"Aku tau, tapi tak ada yang dapat kita lakukan sekarang, kurasa Shikamaru akan memikirkan jalan keluarnya."

"Ya, kuharap kita bisa segera menolong mereka berdua." Ino mengangguk dan kini mulai berjalan mengikuti temannya di belakang.

'Semoga mereka baik-baik saja' doa mereka semua dalam hati.

.

.

.

Syuutttt... Kyaaaaaa

Teriak Sakura, ia takut, karena sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan. Emeraldnya tertutup, karena posisi badannya yang kini terselungkup melayang menghadap daratan yang tak diketahui berapa jarak ketinggian jurang tanpa dasar tempat ia terjatuh ini. Tubuhnya melayang di udara terus meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi.

"SAKURA!" teriak Sasuke yang hanya berada beberapa centi diatasnya, dengan posisi kepala yang berada dibawah.

Sakura membuka emeraldnya,dan membalikkan posisi tubuhnya menghadap Sasuke. Wajahnya pucat pasih, matanya berkaca-kaca.

"Sasuke... hiks a-ku ta-kut." isaknya terbata-bata.

Sasuke mendecih, ia mengulurkan tangannya untuk menggapai Sakura,"cepat pegang tanganku Sakura!" perintahnya.

Sakura mengangguk dan berusaha menggapai tangan Sasuke. Sreet, dapat. Sasuke segera menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya, lalu memeluknya erat, seakan takut terlepas lagi.

"Kali ini aku tak akan melepaskanmu lagi Sakura." gumamnya pelan namun dapat jelas di dengar oleh gadis musim semi itu.

Sakura mendongak, seketika Onyx dan emerald mereka bertemu, keduanya saling bertatapan. Entah apa arti tatapan Sasuke padanya saat ini. Begitu pun dirinya, Sakura tak mengerti? saat ini dadanya berdebar tak menentu, ini aneh! Seakan ada ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya dan berontak ingin keluar dari perutnya ketika Sasuke memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir merah bak buah cherry miliknya.

Sasuke mengarahkan tangannya ke belakang punggung kepala Sakura, lalu menekannya guna memperdalam ciumannya. Digigit kecil bibir bawah Sakura, membuat Sakura mengerang membuka lebar mulutnya.

Kesempatan itu tak dilewatkan Sasuke,lidahnya menerebos masuk ke dalam mulut sang gadis, mengabsen deretan gigi putihnya dan mengajak lidah tak bertulang milik gadis musim semi itu berdansa.

Anehnya Sakura pun tak berontak sedikitpun. Tanpa ia sadari kedua tangannya melingkar di leher pemuda raven itu.

Cliingggg

Kini pemandangan disekitar mereka tidak lagi gelap, cahaya biru menyilaukan yang berasal dari kalung Sakura menyinari tubuh mereka, terbentuklah sebuah gelembung sabun besar yang menjadi tameng mereka. Menyelimuti tubuh keduanya dan berada di dalamnya.

Sasuke melepaskan ciumannya ketika menyadari keanehan disekelilingnya. Matanya terbelalak tak percaya ketika ia menyadari bahwa mereka berdua melayang diatas lautan biru.

Ia mendongak keatas, sontak ia menyipitkan matanya ketika sinar matahari menyeruak masuk ke dalam iris Onyxnya.

"Langit biru, lautan? Ck, apa yang sebenarnya terjadi?" geramnya.

Sakura pun berdecak kagum melihat pemandangan disekelilingnya, ini berbanding terbalik dengan desa Ame yang tak hentinya diguyur hujan setiap harinya.

Sebuah senyum merekah di wajahnya, ketika melihat indahnya langit biru dengan awan putih yang menghiasinya. Namun senyumnya pudar ketika Emeraldnya tak sengaja bertatapan dengan Onyx Sasuke.

Sreettt

Wajahnya memerah, sontak ia melepaskan pelukannya dari tubuh Sasuke dan menjauhinya. Dadanya kembali berdebar ketika mengingat kejadian barusan, ketika Sasuke mencium bibirnya lembut. Sakura mengacak rambutnya frustasi dan menggigit bibir bawahnya kencang, ia merasakan dadanya bergejolak dan perasaan aneh menyelimuti dirinya.

"Ada apa Sakura?" tanya Sasuke menyadari keanehan Sakura.

Sakura mendongak menatap Sasuke dengan wajah sendu, tanpa bicara 'kami-sama, apa yang terjadi pada diriku, perasaan aneh datang menghantuiku setiap kali menatap matanya' batinnya gelisah.

Lama mereka berpandangan, Sakura memalingkan wajahnya kesamping, sepertinya gadis musim semi itu tak ingin terlalu lama bertatapan dengannya.

Sasuke mendesah panjang,"lihat, tak jauh dari tepi pantai itu terdapat sebuah villa yang cukup besar. Sebaiknya kita kesana, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan kurasa kepingan jiwa lainnya berada di sana, dan kita bisa kembali ke desa Ame jika menemukan kepingan jiwa itu." ujarnya memecahkan keheningan.

Sakura menoleh, dan megalihkan pandangannya searah tatapan Sasuke,"Tapi Sasuke... bagaimana cara kita mendekat ke sana?" tanyanya.

Karena jarak posisi mereka berdiri saat ini dengan villa yang berada di depannya, mungkin sekitar 20km.

Sasuke menyeringai, "Tentu saja... berenang."

"Eh?"

"Kurasa kaki dan tanganmu yang patah tadi sudah sembuh total, karena tadi aku sempat menyalurkan chakra kehidupanku padamu, lihat!" Sasuke menunjuk kalung yang dipakai Sakura yang kini berwarna biru, yang artinya chakra kehidupan miliknya penuh, "jadi tak masalah kan kalau kita berenang, Sakura."

Perkataan Sasuke mengingatkan kembali tentang pembicaraan Ino yang memberitahukannya tentang chakra kehidupan. Blusshhh...wajahnya kembali memerah dan kepulan asap keluar dari kepalanya ketika lagi-lagi adegan penyaluran chakra melalui bibir tadi kembali memenuhi benaknya.

Namun ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi sedih karena mungkin alasan Sasuke menciumnya hanya untuk menyalurkan chakra kehidupan padanya. Hei bukankah kau ingin menghindar dari pemuda raven itu Sakura? Lantas kenapa kau sedih, karena ciumannya itu adalah kewajibannya sebagai pasangan si pemegang kunci. heh!

Sreet

Sasuke kembali memeluk tubuh Sakura erat,"bersiaplah Sakura!"

Sasuke mengeluarkan katananya dan menusuk lingkaran transparan seperti gelembung sabun itu.

Plok...

"Kyaaaaaa..."

Lingkaran transparan berbentuk gelembung sabung itu pecah. Sakura berteriak ketika tubuhnya jatuh menghantam lautan.

Byuuuurrr

Dengan segera Sasuke menarik Sakura ke atas menghirup oksigen.

"Uhuk..." Sepertinya Sakura menelan air cukup banyak, nafasnya terengah, jatungnya berdebar kencang. Ia menghirup udara dengan rakusnya.

"Kau bisa berenang kan,?"

Sakura mengangguk, tanpa buang waktu terlalu lama, mereka berdua berenang menuju tepi pantai. Lalu berjalan menghampiri villa yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari tepi pantai.

Singggg

Tak ada tanda-tanda kehidupan disana.

"Kau tunggu disini, aku akan melihat keadaan di dalam!"perintah Sasuke.

Sakura mengangguk dan tak lama kemudian , Cling... lagi-lagi kalungnya mengeluarkan cahaya berwarna biru. Jantungnya berdetak kencang, kepalanya berdenyut sakit.

"Kenapa dengan tubuhku?" rintih Sakura seraya memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.

"Hei, kau tak apa-apa, Sakura!" ujar Sasuke cemas. Yang berbalik menghampiri Sakura karena mendengar rintihan dari sang gadis.

Kreekk

Tiba-tiba pintu terbuka, sontak mereka mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Seorang pemuda tampan dengan garis tegas di wajahnya berdiri mematung, ketika ia melihat sosok Sasuke dihadapannya.

Sakura mengerjapkan matanya berulang kali. Memperhatikan Sasuke dan pemuda itu secara bergantian, mereka berdua mempunyai banyak kemiripan.

"Mirip" gumamnya pelan.

Onyx Sasuke membulat ketika melihat wajah pemuda dihadapannya, nafasnya seakan tercekak di tenggorokan, ia kenal dengan pemuda tampan yang memiliki Onyx serupa dengannya,tidak...bahkan sangat mengenalnya.

Pemuda berambut panjang dikuncir satu itu tak kalah terkejutnya ketika melihat Sasuke. Ia mendesah panjang, dan menggeram frustasi. Manik Onyx yang serupa dengan Sasuke itu menatap sendu kearahnya.

"Bodoh, kenapa kau juga ada disini Aniki!" ucap Sasuke dingin seraya menatap tajam Onyx kakaknya lekat, seakan ia mencari tau kenapa sang kakak pun berada di dunia bayangan ini.

"Seharusnya aku yang berkata demikian, otouto." ujarnya dengan senyum yang dipaksakan.

'Jadi mereka kakak beradik? Pantas mirip, tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuh kakaknya ini, tapi apa? Aku tak mengerti? Andai aku tak hilang ingatan, mungkin aku akan segera mengetahui apa yang terjadi padanya'

Sakura memandang penuh selidik kepada pemuda raven sebatas punggung itu. Merasa diperhatikan pemuda yang disebut 'Aniki' oleh Sasuke tersenyum kearahnya, lalu berjalan mendekatinya.

"Kau si pemegang kunci?" tanyanya.

Sakura menganggukan kepalanya, terlihat ia menghela nafas lega "syukurlah" ucapnya seraya tersenyum tipis.

Pemuda raven sebatas punggung itu berjalan mendekati Sakura, ia menepuk pucuk kepala gadis itu pelan dan menggumamkan sesuatu dengan nada yang sangat pelan, seperti alunan musik yang mengalun sedih, hanya Sakura yang dapat mendengarnya.

'Kuharap kau selalu menemaninya, karena setelah ini aku tak bisa menemaninya lagi' ucapnya pelan. Lalu tersenyum kearahnya.

Sakura yang tak mengerti maksud dibalik ucapan pemuda raven sebatas punggung itu terus memegangi dadanya yang kini terasa sesak. Entah kenapa cairan bening jatuh menetes melalui sudut matanya.

'Kami-sama, semoga tidak terjadi hal buruk padanya'

.

.

.

TBC

Makasih yang udah baca karya lama bgt ngepost nya, dikarenakan kesibukan di duta. Arigatou minna