Author: Hani Yuya

Judul: Sakura's And Team Adventure

Rate: T+

Pairing: sasusaku, naruhina, shikatema, saiino, nejiten, gaara,uchiha itachi, sasori.

Genre : Fantasi, Adventure, Au,Ah, Romance, Friendship. Warning: seperti biasa cerita ini jauh dr kata sempurna,Typo bertebaran di mana-mana .don't like don't read.

Chap 8 - Kehilangan

.

.

.

Siiiingggggg

Susana hening kini menyelimuti mereka bertiga. Kini mereka bertiga duduk saling berhadapan. Sakura yang duduk disamping Sasuke diam tak berkutik melihat Sasuke dan kakaknya saling melempar tatapan tanya dibenaknya masing-masing. Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Sasuke kepada Itachi, begitu pula dengan Itachi.

Ia tak menyangka akan bertemu dengan adiknya di dunia bayangan ini. Dunia paralel yang menentukan kehidupan seseorang di dunia nyata. apa yang sebenarnya terjadi? Ingin sekali Itachi melontarkan pertanyaan itu kepada Sasuke adik kesayangannya.

Sakura mendesah pelan, membuat pemuda raven dikuncir satu itu mengalihkan atensinya menatap Sakura. Itachi memandang Sakura sendu, ia teringat akan hal yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup. Suatu peristiwa yang membawa Sakura ikut serta di dalam permainan mempertaruhkan nyawa ini.

Sakura yang merasa diperhatikan menoleh membalas tatapan Itachi dengan ekspresi bingung, "apa ada sesuatu diwajahku?" tanyanya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Ah, tidak...kita belum berkenalan bukan. Aku Uchiha Itachi kakak Sasuke. Salam kenal Sakura-chan."

"Eh? Kau tau namaku?" pekik Sakura kaget.

Bukan hanya Sakura, mata Sasuke memicing tajam menatap kakaknya. Darimana ia mengenal Sakura?apakah mereka saling mengenal sebelumnya? berbagai pertanyaan hinggap di benaknya.

Itachi yang di tatap oleh keduanya dengan tatapan menyelidik hanya terkekeh pelan, "Kau mirip dengan kakakmu Sakura, aku dan Sasori satu angkatan di Osaka universitas."

"Eh, kakak?Sasori? Apakah aku mempunyai seorang kakak?" Sakura menoleh menatap Sasuke, "kau tau mengenai kakakku Sasuke?" tanyanya.

Sasuke menggeleng, "aku juga tak tau jika kau mempunyai seorang kakak Sakura." jawabnya.

Itachi nampak bingung dengan keadaan Sakura yang tak mengenali kakaknya, "apa yang terjadi sehingga kau lupa dengan kakakmu Sakura-chan?" ujarnya penasaran.

"Dia hilang ingatan!" sela Sasuke dengan nada sendu.

Manik Onyx Itachi membulat,"APA!"Itachi nampak terkejut mendengarnya.

Tik... tik... tik

Jarum jam berdetak sangat cepat, langit yang tadinya masih cerah kini digantikan cahaya bulan. Cahaya senja masuk melalui celah jendela.

Sakura beranjak diri dan menghampiri jendela, ia mengerutkan alis heran. Menoleh ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 12 pm.

'Ini aneh sangat aneh! Aku tak salah lihat bukan?' Sakura mengusap matanya berulang kali.

"Di sini waktu berjalan 12 jam lebih cepat, kalau di dunia nyata sehari 24 jam. Namun disini hanya 12 jam." ujar Itachi tiba-tiba, seakan ia tau apa yang dipikirkan Sakura.

"Sudah malam sebaiknya kita bicara lagi besok. Kalian pasti lelah bukan? Akan kusiapkan kamar untuk kalian berdua." tanpa menunggu jawaban Sakura dan Sasuke, Itachi langsung pergi. Membuat keduanya diam tak bergeming sedikitpun.

"Tck, dia mengalihkan pembicaraan!" decak Sasuke kesal. Sasuke sangat mengenal Itachi, ia tau ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan darinya saat ini. Sasuke memijit keningnya pelan.

Kenapa masalah selalu datang menghampirinya? Kesialan terus menerus datang silih berganti. Sejak kecelakaan yang ia alami dan terdampar di dunia bayangan, bertemu dengan seorang gadis yang mengusik pikirannya, teman-temannya dan kini bertemu dengan kakak yang ia nantikan kepulangannya. Kenapa ia harus bertemu mereka semua disini? Dunia yang menentukan hidup-matinya seseorang.

Memikirkan semua itu hampir membuatnya gila. Haa~ Sasuke kembali mendesah. Ia tersadar dari lamunannya, Onyxnya mencari sosok gadis berambut soft pink yang tadi berdiri di depan jendela kini tak lagi disana.

Brakkk

Sasuke sontak beranjak dari duduknya, "Tck, kemana dia?lengah sedikit saja dia menghilang, sungguh membuatku repot," decaknya kesal seraya mencari Sakura.

Tak jauh dari tempat Sasuke duduk tadi, Itachi yang sudah membereskan kamar berdiri di balik tembok. Sejak tadi ia memperhatikan adik bungsunya yang sedang duduk melamun, entah apa yang dipikirkan oleh adiknya.

Ia terkekeh pelan ketika Sasuke panik menyadari Sakura yang sudah hilang sejak tadi. Ya, Itachi pun tau bahwa Sakura pergi keluar rumah beberapa menit yang lalu. Ia membiarkan gadis musim semi itu keluar mungkin untuk menghirup udara segar pikirnya.

Clingg

Cahaya biru bersinar, Ia merogoh kantong celana, sebuah permata dengan cahaya biru bersinar terang. Ia menyenderkan tubuhnya di belakang tembok, menggenggam batu permata itu.

"Ternyata benar mereka berdua yang kita lihat dulu. Mereka berdua adalah korban kecelakaan , kenapa mereka yang harus menanggung kecerobohan kita Sasori!" gumamnya lirih.

Liquid bening jatuh menetes dari sudut matanya, wajahnya tertunduk. Berbagai peristiwa awal kecelakaan yang mengakibatkan dia berada disini terus berputar-putar dibenaknya. Ya, awal kecelakaan yang melibatkan Sakura dan Sasuke di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

*Flasback ON*

"Aku akan mengantar temanku ke tokyo dulu Sasuke, setelah itu aku akan pulang ke rumah."

Klik

Itachi mematikan ponselnya setelah menelpon adik bungsunya Sasuke, jika dia akan pulang terlambat kerumah. Ia nampak tergesa-gesa memasukan seluruh barang bawaannya ke tas ransel miliknya.

Bulan ini memasuki musim dingin, salju turun dengan lebatnya, aura dingin yang menusuk membuat jari-jarinya serasa membeku. Ia mengambil sarung tangan di lemari pakaian dan memakainya.

"Hei, Itachi bukankah kau yang ingin berkunjung ke rumahku?" Seorang pemuda berwajah baby face melengos masuk ke kamarnya. Krek, lalu duduk di atas kasurnya.

"Kau menguping pembicaraanku Sasori?" delik Itachi.

"Kau menghabiskan waktuku untuk menunggumu bodoh! Berapa banyak barang yang kau bawa, sehingga sejak 2 jam yang lalu kau masih berkutat disini?" Sasori beranjak dari duduknya dan melihat isi tas Itachi, ia menaikkan alis heran ketika melihat sebuah bungkus kado berwarna pink yang cukup besar ada di dalamnya. Sontak Itachi menutupnya.

"Apa itu? Kado? Pink?" tanya pemuda baby face itu mendesak Itachi. Semburat merah tipis tercetak di pipi pemuda raven itu.

"Berisik!" elak Itachi seraya pergi ke luar meninggalkan Sasori.

"Oi tunggu Itachi, jangan-jangan itu kado untuk adikku? Kau tertarik padanya? Aku tak akan merestui kalian!" cercanya seraya melipat kedua tangan di dadanya.

"Aku hanya ingin berteman dengannya bodoh, dia seusia dengan adikku bukan?aku ingin mengenalkannya dengan Sasuke." ujar Itachi tanpa menoleh.

"Tch, Sasuke adik bungsumu? Aku tidak suka padanya, ia memiliki Onyx yang lebih dingin dibandingkan dirimu."

Brukk

"Auch, kenapa berhenti mendadak."

Itachi berhenti melangkah tiba-tiba sehingga Sasori menabrak tubuhnya. Itachi berdiri di tengah butiran salju, mendongakkan wajahnya melihat langit yang kini tertutupi awan putih. Butiran salju jatuh menerpa kulit wajahnya yang putih, dingin terasa.

"Dingin... namun jika musim semi tiba salju pun akan mencair bukan?" ujarnya rancu, dan berhasil membuat Sasori menautkan alisnya dan memutar otaknya.

"Apa maksudmu?" tanyanya bingung.

"Hn, kau akan mengerti nanti, jika takdir mempertemukan mereka."Itachi melemparkan tas ransel miliknya ke tubuh Sasori, menyalakan mesin motornya, memakai helm dan naik keatasnya.

"Hei Itachi, kita naik motor kerumahku?"

"Hn, cepat naiklah." perintah Itachi.

Sasori hanya mendesah panjang dan menuruti perintah Itachi. Mereka berdua tak pernah tau takdir benang merah sudah terikat di setiap jari kelingking kedua adiknya.

Pertemuan pertama mereka di tengah dinginnya salju yang berujung maut. Itachi yang mengendarai motor cbr 250cc dengan kecepatan tinggi tak menyadari bahwa seorang gadis berambut soft pink melintas di depannya karena terhalang kabut.

Onyxnya membulat ketika menyadari siapa gadis yang ada di depannya. Refleks Itachi membelokkan stangnya ke kanan saat motornya hanya berjarak beberapa senti dari gadis musim semi itu. Sasori melompat memeluk tubuh adiknya berusaha melindunginya,tubuh keduanya terpelanting menghantam aspal dan trotoar.

Sedangkan Itachi yang bermaksud menghindar malah berhadapan dengan sebuah motor yang melintas di depannya.

Brakkkk,brukkkkk.

Kecelakaan tak terelakan, mereka saling menghantam. Tubuh pemuda naas yang ia tabrak terseret motor beberapa meter di depannya sampai helm yang digunakan pemuda itu terlepas dan menampakkan sosok pemuda raven dengan model rambut mencuat kebelakang.

Itachi yang jatuh tak jauh dari pemuda itu terbelalak tak percaya. Liquid bening menetes dari sudut matanya seiring mengalirnya darah segar dari kepalanya.

"Sa-su-ke!" gumamnya pelan tersendat. Ia berusaha menggapai adik bungsunya, menyeret tubuhnya mendekat dengan sisa tenaganya. Sedikit-demi sedikit tubuh Itachi semakin dekat dengan Sasuke yang sudah tak sadarkan diri.

Keadaannya pun sangat menghawatirkan sama seperti Itachi. Darah segar pun banyak keluar dari kepalanya. Nyut...nyut...kepala Itachi berdenyut, sakit! Tentu saja. Namun ia tak peduli meski rasa sakit kini menyerang seluruh tubuhnya, ia hanya ingin memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.

Srettt... Itachi berhasil menggapai tangan Sasuke, segera ia mengecek denyut nadi di tangannya. Meski lemah namun masih berdetak. Ia bersyukur adiknya masih bernafas, 'bertahanlah Sasuke!' innernya menjerit frustasi. Tak sadarkah kau Itachi? Keadaanmu jauh lebih parah dibandingkan adikmu!

'Kenapa kau ada disini Sasuke?seharusnya kau tunggu aku di Osaka.' gumamnya lirih. Kepalanya semakin berat, seakan mati rasa, seluruh rasa sakit yang ia rasakan menghilang tergantikan rasa kantuk yang sangat berat.

Itachi menutup matanya, mungkin inilah akhir hidupnya. Namun ia berharap Sasuke, Sasori dan Sakura bisa selamat dari kecelakaan maut ini. Dengan begitu ia bisa sedikit merasa lega.

Cliing

Cahaya terang menyilaukan menyerang penglihatannya ketika Onyxnya kembali terbuka, Ia pikir hidupnya sudah berakhir dan tak akan pernah bisa bertemu dengan adiknya lagi. Namun saat membuka mata ia terjaga di dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Hamparan laut biru yang terbentang luas dan teriknya matahari kini tersuguhkan di depan matanya. Berulang kali ia mengusap matanya, ia heran. Baru beberapa detik yang lalu ia tergeletak tak berdaya di tengah hamparan dinginnya tumpukan salju, namun kini pemandangan yang ia lihat berubah 180 derajat.

Tangannya terangkat memegang kepalanya yang tadi terbentur keras, cairan merah pekat yang mengalir deras di kepalanya kini hilang tanpa bekas. Ia menarik helaian raven panjangnya frustasi.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" lirihnya pelan. Namun sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

"Uchiha Itachi mengalami kecelakaan di dunia nyata tepat beberapa detik yang lalu."

Itachi menoleh, Onyxnya membulat ketika melihat sosok pemuda berwajah baby face dan sosok peri kecil sebesar telapak tangan terbang mengambang di udara. Wajahnya serupa dengan pemuda baby face disampingnya, Jari telunjuknya yang mungil terangkat keatas... clinggg...cahaya putih terpendar di udara sebuah gambar tersuguhkan, memutar kembali peristiwa kecelakaan yang belum lama terjadi.

Terlihat sosok dirinya, Sasori, Sasuke dan Sakura disana.

"Mereka berdua kini dalam keadaan kritis di dunia nyata. Kemungkinan besar mereka pun kini berada di dunia bayangan ini." jelas sosok kecil itu.

"Apa maksudmu? Dunia nyata? Dunia bayangan?" tanyanya bingung.

"Biar aku yang jelaskan." ujar pemuda baby face yang sangat di kenalnya.

"Sasori, kenapa kau juga ada disini?"

"Dengar Itachi akan kujelaskan dengan singkat." ujarnya dengan wajah yang serius.

Sasori menjelaskan tentang dunia bayangan secara singkat dan itu sukses membuat Itachi terbelalak tak percaya mendengar penuturan dari sahabatnya itu.

Bruuk... ia jatuh bersimpuh di atas hamparan pasir, kakinya lemas seakan tak bertulang. Wajahnya tertunduk, butiran air mata jatuh menetes membasahi butiran pasir. Tangannya meremas butiran pasir dengan erat.

"Bagaimana caranya kita bertemu dengan Sasuke dan Sakura? Kita harus menyelematkan mereka berdua dari lingkaran maut Sasori!" lirih Itachi.

"Biar aku yang mencari mereka Itachi."

Clinnggggg

Kalung Sasori bercahaya, kalung berbentuk hati yang melingkar di lehernya mirip dengan kalung yang dipakai Sakura. Ya, itu adalah bukti jika Sasori juga salah satu pemegang kunci.

Cahaya biru terang berasal dari kalung yang ia pakai. Srett...ia melepas mutiara yang bercahaya biru itu, mencodongkan tubuhnya seraya meyerahkan kepingan jiwa itu pada Itachi.

"Ambillah... jika kau bertemu mereka berikan kepingan jiwa ini padanya." ujarnya lirih.

Itachi mengambilnya, "bagaimana denganmu?" ujarnya seraya beranjak diri.

"Kau tak perlu khawatir tentang diriku Itachi. Aku justru mengkhawatirkan dirimu! Aku akan kembali jika sudah memastikan keselamatan mereka. Aku janji." ujarnya dengan penuh keyakinan.

Itachi terkekeh pelan, "kau tak perlu sungkan padaku Sasori, ini semua salahku. Sudah seharusnya aku yang menanggung semua ini."

"Tch, ini sungguh tak adil! Kenapa hanya kau yang harus menanggungnya. KENAPA HANYA KAU YANG TAK SELAMAT DALAM KECELAKAAN ITU ITACHI." geram Sasori dengan suara lantang. Lolos sudah air mata yang sejak tadi ia tahan. Ia muak, marah, murka. Kenapa takdir dengan kejamnya mempermainkan hidup mereka.

Onyx Itachi menyipit, meski getir menerima kenyataan ini, ia harus tetap tegar di depan sahabatnya. Puk, Itachi menepuk pundak Sasori pelan,"berjanjilah kau harus membawa serta adikku keluar dari sini, hanya kau satu-satunya harapan bagiku." Onyxnya menatap lekat hazel milik Sasori. Meremas bajunya kencang.

"Ya, a- aku janji." jawab Sasori dengan nada yang sedikit bergetar.

Bbrrrrr... brrrrr

Cuaca yang tadinya cerah kini berubah gelap. Angin berhembus kencang. Tes...tes... rinai hujan turun dari awan yang kini tertutup kabut. Sebuah lubang yang cukup besar menganga di langit.

"Sasori, sudah waktunya." ujar sosok kecil yang kini duduk di pundak Sasori. Syutt... sebuah benang putih tak kasat mata keluar dari punggung Sasori dan menjulur menembus lubang di langit

"Sampai jumpa lagi Itachi."

Syuuutttt...tubuh Sasori terbang dan masuk dalam lingkaran hitam itu. Ketika sosok Sasori hilang,lubang hitam pun menutup kembali. Langit pun kembali cerah, matahari yang yang tadi tertutup awan hitam kini kembali bersinar.

. "Flassback Off" .

.

.

"Aku belum sempat mengenalkan Sakura pada Sasuke. Mungkin inilah yang membuatku tertahan di dunia ini. Keinginanku yang terakhir belum tercapai," Itachi menatap kembali kepingan jiwa yang ia pegang.

"Akhirnya keinginanku terpenuhi, akan kuberikan kepingan jiwa ini pada Sakura besok. Saat lingkaran hitam- black hole terbuka." ucapnya sendu.

.

.

.

.

.

*Sakura POV On*

Byuuuurrr...byurrr

Tap...tap...tap

Aku melangkah menyelusuri tepi laut, desiran ombak terdengar indah bagai alunan musik di telingaku. Sesekali kulihat bintang dan bulan yang bersinar terang di langit malam, kuhirup udara malam yang dingin seakan menusuk tulangku.

Bruk

Kubaringkan tubuhku di atas butiran pasir, bintang yang berhamburan di atas langit terlihat semakin indah. Dalam posisiku ini bintang seakan sangat dekat denganku, kuangkat tanganku untuk meraihnya, namun hanya udara kosong yang dapat kurasakan.

Meski terlihat dekat namun tak mungkin dapat kujangkau dengan tanganku. Sasuke! Entah kenapa dia begitu mengusik pikiranku. Meski tak ingat siapa dia, namun tak dapat dipungkiri aku selalu mencari sosoknya. Seperti bintang di langit, aku tak mungkin bisa menjangkaunya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Disisi lain aku pun tak ingin mengingatnya. Ada perasaan aneh yang membuat dadaku sesak saat memikirkan dirinya. Haa~ aku mendesah panjang. Memikirkannya membuat kepalaku seakan ingin pecah.

Ditambah lagi Itachi- nii bilang aku memiliki seorang kakak 'Sasori', namanya terdengar tak asing di telingaku. Rasa rindu yang sangat kuat seakan menguar dari tubuhku. Meski tak dapat mengingatnya perasaanku mengatakan ia salah satu orang penting dalam hidupku.

Kapan aku bisa mengingat semuanya? Rasanya tubuh dan perasaanku lelah, sangat lelah.

"Hn, sedang apa kau disini Sakura?"

"He! Sasuke?"

Emeraldku membulat ketika mendapati wajah Sasuke tepat di depan wajahku. Onyxnya menatap Emeralku tajam.

"Tck, jika ingin pergi keluar setidaknya beritahu aku." ucapnya dengan nada yang terdengar kesal.

"Maaf." jawabku seraya memalingkan wajah ke samping.

Ia duduk disampingku, tatapannya menerawang jauh ke depan,"kita tak akan tau apa yang akan terjadi selanjutnya di dunia ini, jadi tetaplah disampingku." ujarnya tanpa menoleh.

Deg, jantungku berdetak kencang, semburat merah tipis tergores di pipiku. 'Tetaplah disampingku' katanya? Ucapannya membuat hatiku tak menentu.

Sreet

Aku beranjak diri, sudah cukup! sebisa mungkin aku ingin menghindarinya. Berada di dekatnya membuatku sesak. Aku berdiri membelakanginya.

"Kenapa tak menjawab Sakura?"

Aku diam tak bicara sedikitpun, kuremas baju tepat di depan dadaku. Meyakinkan diriku agar tetap tenang di depannya. Aku menoleh, "jangan terlalu baik padaku Sasuke! sikapmu itu membuatku sesak." ujarku lirih, lalu segera menjauh darinya. Aku ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya. Namun tangan kekarnya menarik lenganku, lalu keduanya dilingkarkan di pinggangku.

Menenggelamkan wajahnya di pundakku, "kenapa?kenapa kau menghindariku Sakura?" gumamnya lirih.

Aku diam seribu bahasa, jantungku berdetak melebihi batas normal. Kami -sama apa yang terjadi pada diriku? Kenapa setiap kali dia menyentuhku seakan ribuan kupu-kupu menari-nari di perutku.

Tidak bisa! Aku harus melepaskan pelukannya. Aku meronta berusaha melepaskan pelukannya. Namun itu semua sia-sia, semakin keras aku berusaha, Sasuke semakin erat memelukku.

Bruuk

Saking kerasnya aku berontak, aku terjatuh. Dia melindungiku dengan tubuhnya, kini aku berada diatasnya. Wajah kami sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi. Onyxnya menatap Emeraldku lekat.

Aku berusaha bangun, tapi dia malah membalikkan tubuhku berada di bawahnya. "lepaskan aku Sasuke!" ujarku lirih.

Cup...Emeraldku membulat ketika bibir dingin Sasuke menyentuh bibirku. Kenapa? Kenapa ia melakukan ini padaku?

Plak, aku menampar pipinya, "ke-napa kau me-lakukan ini padaku Sasuke?" tanyaku dengan nada yang sedikit bergetar.

"Kau yang memaksaku melakukan ini Sakura! karena kau menghindariku!" jawabnya lirih, matanya sedikit sayu.

"Maksudmu?"

Dia beranjak diri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menolak, tapi dia sedikit memaksa menarik tanganku.

"Jangan menolakku lagi Sakura, akhir-akhir ini sikapmu membuatku sedikit terluka."

"Apa arti diriku untukmu Sasuke? meski tak ingin mengingat tentangmu tapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Ada sesuatu yang mendorong diriku untuk memastikan itu semua padamu." aku menatap Onyxnya lekat menuntut penjelasan darinya.

Dia mendesah panjang, "Hn, entahlah. Tapi kuharap jangan pernah menghindar dariku lagi!"

Hatiku berdesir ketika mendengar pernyataannya. Meski jawaban yang ia berikan membuat tanda tanya besar untukku. Tapi satu hal yang dapat kupastikan. Dia peduli padaku. Bibirku tertarik ke atas mataku menyipit aku tersenyum, tak bisa dipungkiri kini aku bahagia.

Dia terus menggenggam tanganku menuntunku berjalan. Kulihat punggung tegapnya dari belakang mengingatkanku akan satu hal. Memoriku akan dirinya seakan menari-nari di benakku. Tatapan dingin saat pertama kali bertemu, tatapan panik ketika melihatku sakit, tatapan terluka saat aku mengatakan tak mengenal dirinya, lalu entah apa arti tatapan matanya padaku barusan.

Cling... sebuah cahaya biru bersinar dari kalungku. Aku berhenti melangkah, membuat Sasuke menautkan alisnya heran. Ingatanku yang telah hilang kini kembali, ya aku dapat mengingatnya dengan jelas. Siapa diriku, siapa Sasuke, kenapa kami berada di sini. Sekarang aku dapat mengingatnya kembali. Ini sulit kupercayai, tapi aku bersyukur bisa kembali mengingat semuanya.

Sasuke menoleh, Onyxnya menatapku lekat, itu semua membuat jantungku berdetak melebihi batas normal. Kini tak ada lagi keraguan dalam hatiku, aku menyukainya meski dia menyukai orang lain. Aku hanya ingin jujur pada perasaanku sendiri Kuberanikan diri untuk membalas menatapnya.

"Sasuke-kun... suka. Aku menyukaimu."

Onyx Sasuke membulat, "Sasuke-kun katamu? Ingatanmu~" ujarnya tak percaya.

"Ya, ingatanku sudah kembali Sasuke-kun." jawabku seraya menggaruk kepalaku yang tak gatal dengan semburat merah tipis di pipiku.

Sreet, dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya "syukurlah." ujarnya lega.

Aku membalas memeluknya. Hangat, pelukannya terasa hangat sampai menjalar ke seluruh tubuh dan perasaanku.

"Hei, kalian melupakanku?" sebuah suara yang terdengar cukup familiar menginterupsi kegiatan kami. Aku melepaskan pelukan Sasuke. Mataku terpendar mencari asal suara. Kulihat sosok peri kecil serupa dengan wajahku melayang di udara.

"SAKU?" teriak kami berdua berbarengan.

"Tck, kemana saja kau. Kau membuat kami kerepotan karena kau menghilang tiba-tiba!" ujar Sasuke dengan nada kesal.

Perempatan siku tercetak jelas di dahi lebar Saku,"KAU PIKIR INI MAUKU! AKU TAK BISA KELUAR KALAU PEMILIKKU HILANG INGATAN, BODOH!" teriaknya nyaring tepat di depan wajah Sasuke, membuat Sasuke menyuguhkan deathglare padanya.

"Kau bilang aku bodoh?" perempatan siku tercetak juga di dahi Sasuke, Onyx kelam Sasuke menatap Saku dengan tatapan mematikan, membuat Saku merinding ketakutan dan mengumpat di balik tubuhku,"Tch, asal kau tau! klan Uchiha tidak ada yang bodoh, mengerti!"

"Te-tenanglah Sasuke-kun," ucapku menenangkannya.

"Tch,menyebalkan." ujarnya, lalu meninggalkan kami berdua, membuatku terperangah tak percaya dengan sikapnya yang kembali menjadi dingin.

Aku menjambak rambutku frustasi, 'apa-apaan ini,bukankah tadi sikapnya sangat lembut? Bahkan dia menciumku tadi, kenapa sekarang sifatnya kembali dingin?' ucapku dalam hati menggeran kesal.

Akhirnya kami kembali tanpa saling bicara. Acara makan malampun berakhir sepi, tak ada satu pun dari kami yang bersuara. Setelah makan malam kami beristirahat di kamar yang sudah disiapkan Itachi. Kamarku dan Sasuke saling bersebelahan.

Aku membaringkan tubuhku diatas futon, "Saku kau mengetahui sesuatu tentang Itachi- nii? aku merasakan sesuatu yang aneh setiap kali di dekatnya,"

Saku diam dan menghela nafasnya, ia terbang mendekati jendela kamar,"kau akan tau besok Sakura,"

Hanya itu yang yang terucap dari bibirnya membuatku penasaran apa arti perkataannya. Semoga bukan hal buruk yang akan terjadi besok, tapi sepertinya doaku tak akan terkabul saat ini. Perasaan gelisah terus menghantuiku dan kurasa itu bukanlah hal baik. Ya, mungkin sesuatu hal yang buruk akan terjadi besok, karena dewi fortuna tidak berpihak padaku saat ini.

.

.

*Sakura POV Off *

.

.

.

.

.

"Sakura cepat bangun!" Saku sang peri kecil terus menepuk pipi Sakura yang terlelap tidur. Namun sang empu belum juga bangun dari tidurnya.

Peri kecil itu terbang mengambil jam weker yang terletak di atas meja, mengatur jamnya agar mengeluarkan bunyi. Lalu menaruhnya tepat di samping kupingnya.

KRIINGGGG

Suara kencang jam weker berbunyi nyaring, membuat Sakura terlonjak kaget dan bangun dari tidurnya.

"A-apa yang terjadi?" ujarnya panik.

Wuuushhhhh... brak-brak

Cuaca di luar sangat buruk, angin berhembus kencang, langit yang seharusnya berwarna biru kini gelap gulita, jendela kamar terbuka tertiup angin dan menimbulkan suara gaduh.

"Cepat keluar Sakura! Black hole terbuka, saatnya kita kembali ke desa ame."

"Black hole? Yang benar saja? Dimana Sasuke-kun?"

"Dia bersama Itachi di luar."

Gadis berambut soft pink itu segera berlari keluar ke tempat Itachi dan Sasuke berada. Cling...kalungnya kembali bersinar, bergerak dan menunjuk ke suatu tempat.

Kalung milik Sakura berhenti mengarah ke arah Itachi, cahaya biru terpendar dari tubuh Itachi. Sebuah permata biru berkilauan muncul dari balik bajunya.

"Kepingan jiwa?!" Ujar Sasuke dan Sakura bersamaan.

Itachi tersenyum, menghampiri Sakura dan mengulurkan kristal kepingan jiwa itu di depannya, "ambillah, sejak awal aku bermaksud menyerahkan ini padamu." ujar Itachi.

Sakura melirik Sasuke dari sudut matanya, Sasuke terlihat sedih wajahnya tertunduk.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Sakura menerka-nerka.

Syuuut, kristal berwarna biru itu terbang dan langsung tertanam di kalung yang dipakai Sakura. Kini bulatan kecil yang berada di bandul sayap sebelah kanan yang sebelumnya berwarna putih kini berubah warna menjadi biru. Kini Sakura sudah berhasil mengumpulkan 3 kepingan jiwa, tinggal 2 lagi yang harus dia dapatkan.

CTAR...GLUDUK... GLUDUK...BRRRR

Angin masih berhembus kencang, ditambah kilatan petir yang berbunyi nyaring itu seperti membelah langit menjadi dua. Sebuah lubang menganga di tengah gelapnya langit saat ini. Rinai hujan pun menetes dari arah lubang itu.

Sakura mendongakkan kepalanya melihat fenomena langka ini, angin yang bertiup semakin kencang mengombabg-ambing helaian soft pinknya.

"Pergilah!"

Sakura mengalihkan pandangannya kepada Itachi, Onyxnya yang lembut menatap emeraldnya lekat.

"Kau akan ikut dengan kami kan Itachi-nii?"

Itachi menggeleng, "tidak, aku tak bisa ikut dengan kalian." jawabnya tegas.

Sreet... Sasuke mencengkram kerah Itachi dengan kedua tangannya,"JANGAN BERCANDA ANIKI!" Onyx Sasuke menatap Itachi marah, "KAU AKAN IKUT DENGAN KAMI, KITA AKAN PERGI BERSAMA!" ucap Sasuke dengan suara lantang.

Itachi tetap menggelengkan kepalanya, memegang tangan Sasuke lalu melepaskan tangannya dari kerah bajunya perlahan, jarinya terangkat dan menjentikkannya di dahi Sasuke, "aku tak bisa Sasuke, orang yang sudah mati tak bisa hidup kembali meski sang pemegang kunci berhasil mengumpulkan 5 kepingan jiwa bukan? sejak awal kau sudah menyadari keberadaanku sebagai mayat hidup, bukankah begitu Sa-su-ke."

"KUSO!"gigi Sasuke bergeletuk menahan air mata yang sebentar lagi tumpah dari kelopak matanya yang kelam. Sedangkan Sakura menutup mulutnya yang menganga karena terkejut mendengar penuturan Itachi.

"Saku... jadi ini maksudmu?" desis Sakura pelan. Saku yang terbang di depan Sakura mengangguk, jarik lentiknya diangkat ke atas dan menampilkan sebuah gambar.

"Uchiha Itachi salah satu korban yang ikut terlibat saat kau mengalami kecelakaan maut dulu. Bukan hanya Itachi... Haruno Sasori dan juga..." Saku menoleh menatap Sasuke, jari telunjuknya terarah padanya, "Uchiha Sasuke, kau pun ikut adil dalam kecelakaan itu." ucapnya.

"Tch," Sasuke mendecih tangannya mengepal erat.

"Ni-niichan!" Emerald Sakura membulat, liquid bening lolos dari emeraldnya yang indah.

"Sasuke,kau dan juga Sasori...kalian selamat namun keadaan kalian krisis di dunia nyata. Tapi tidak untuk Itachi, hanya dia yang kehilangan nyawanya dan mati." lanjut Saku.

Siiingggg... hening... semua diam dan tak ada yang angkat bicara. Itachi mendesah panjang, sreet, ia memeluk Sasuke.

"Dengar, mulai sekarang kau yang harus menjaga Tou-san dan Kaa-san. Kau yang harus menggantikan posisiku menjadi pewaris klan Uchiha dan terakhir... jaga dirimu baik-baik Sasuke, karena aku tak lagi bisa melindungimu jika terjadi hal buruk denganmu. Sikap dinginmu itu selalu menimbulkan masalah, cobalah berteman dengan yang lainnya juga Sasuke. Sikapmu itu membuatku tak tenang dan selalu menghawatirkanmu." ujar Itachi dengan nada sendu.

Sasuke meremas punggung Itachi kencang,"kumohon...jangan tinggalkan aku Aniki, aku tak akan pernah bisa menggantikan posisimu, Hanya kau yang cocok menjadi pewaris klan. Kumohon~"

PUK

Itachi mendorong tubuh Sasuke ke hadapan Sakura. Sasuke kehilangan keseimbangan dan terhuyung kebelakang, namun refleks Sakura menangkapnya dari belakang.

Syuuuuu...

Sasuke terbelalak tak percaya ketika tubuh Itachi kini tembus pandang dan semakin lama semakin memudar.

"TIDAK!ANIKI!" teriak Sasuke histeris, hilang sudah pertahanannya. Cairan bening menetes dari sudut matanya.

Wuuusshhhh...

Tiba-tiba angin berhembus kencang mengelilingi Sakura dan Sasuke. Tubuh mereka melayang di udara.

"Sakura tolong jaga Sasuke untukku." ujar Itachi lembut.

"Tu-tunggu dulu, ITACHI JANGAN BERCANDA, CEPAT ULURKAN TANGANMU!" Sasuke berusaha menggapai tangan Itachi namun hanya udara kosong yang ia dapatkan, tubuhnya lemas, kakinya seakan tak bertulang. Ia jatuh duduk bersimpuh.

Sakura dan Sasuke semakin tinggi melayang di udara, mereka terbang menuju lubang hitam yang menganga di tengah gelapnya langit yang seakan ikut bersedih. Tubuh Itachi semakin lama semakin memudar, seiring dengan menjauhnya Sasuke. Dari kejauhan Itachi melambaikan tangannya dengan senyum diwajahnya.

'Keinginanku sudah terpenuhi,selamat tinggal Sasuke -Sakura, semoga kalian bisa keluar dari dunia ini.' batin Itachi.

"ANIKIIII!" Sasuke menjerit histeris ketika tubuh Itachi menjadi debu dan hilang tertiup angin, ssyuuuut, mereka berhasil masuk ke dalam lubang, otomatis pintu lubangpun tertutup rapat.

"AARRRGGHHH TIDAKK!" Sasuke menjerit pilu. Lelehen air mata deras mengalir dari matanya. Hujan mengguyur tubuh mereka berdua di tempat yang gelap gulita ini, seakan langit pun ikut menangis.

Cling... kalung milik Sakura bersinar, kini tempat yang tadinya gelap menjadi terang. Sakura memandang nanar Sasuke, pertama kalinya ia melihat Sasuke selemah ini. Sreettt...ia memeluk tubuh Sasuke erat. Saku sosok kecil itu kembali masuk ke dalam kalung Sakura.

Tubuh mereka terus melayang Akhirnya mereka berhasil sampai kembali ke desa ame, mereka muncul dari permukaan jurang tempat mereka terjatuh dulu. Gruk..gruk...gruk... Jurang yang menganga pun kini tertutup kembali, menjadi permukaan tanah yang datar.

Sakura masih memeluk Sasuke di tengah derasnya hujan, air mata yang mengalir deras seakan tersapu oleh derasnya hujan.

Wuuushhhh

Lingkaran hitam besar yang menyelimuti desa ame hilang. Udara yang tadinya pengap kini terasa sejuk, bunga yang tadinya layu kini bermekaran. Angin berhembus menyapu permukaan kulit mereka berdua, udara semakin dingin sampai menusuk tulang sumsum. Namun mereka berdua tidak beranjak sama sekali dari sana.

Sakura menenggelamkan wajah Sasuke di dadanya, hatinya berdesir seakan turut hanyut merasakan pedihnya perasaan yang Sasuke rasakan saat ini. Ia pun mempunyai seorang kakak sama seperti Sasuke, ditinggalkan kakak kesayangannya untuk selama-lamanya itu sangat menyakitkan. Sakura merasa beruntung meski Sasori berada di dunia yang sama dengannya setidaknya dia masih punya kesempatan untuk hidup.

.

.

.

.

.

Perbatasan desa Hi.

Angin musim semi menerbangkan bunga Sakura yang kini sedang mekar dan jatuh berguguran. Seorang pemuda dengan helaian rambut merah berwajah baby face duduk di bawah pohon Sakura. Punggungnya bersandar pada pohon di belakangnya, tangannya terulur ke depan menangkap bunga Sakura yang jatuh berguguran.

Manik hazelnya menatap sendu bunga yang kini ada di telapak tangannya,"Sakura." ia menggumamkan sebuah nama serupa dengan bunga musim semi itu. Ya, nama sang adik kesayangannya.

Tap...tap... tap...

Terdengar suara langkah orang mendekat, seorang pemuda berhelai silver di sisir kebelakang berdiri tepat di depan Sasori dengan kedua tangannya di lipat di dada dan seorang pemuda berhelai kuning blonde panjang dikuncir satu berdiri di samping Sasori.

"Oi, Sasori demi dewa jashin sampai kapan kau mau duduk disana, heh!" ujar pemuda silver disisir kebelakang.

"Hei, sebelum pergi belikan aku bubuk mesiu. Aku butuh bubuk itu untuk merakit bom berukuran mini." ujar pemuda blonde itu.

"Oi,oi...kau mau mengahabiskan seluruh persediaan uang kita untuk kepentinganmu itu,heh!"

"Tck, aku membuat senjata untuk melindungi kita dari kejaran mayat hidup itu juga bodoh!"

"Kau bilang apa? Bodoh! Kurang ajar."

"Kemari kau penganut ajaran sesat."

Kedua pemuda itu saling beradu mulut dan berujung perkelahian. Sasori hanya menghela nafas panjang melihat kedua teman seperjalanannya yang kini sedang baku hantam, ini sudah menjadi makanan sehari-hari sejak memutuskan mengajak mereka berdua ikut serta dalam perjalanannya.

Sasori beranjak diri, manik hazelnya terpendar mencari sosok seorang pemuda yang tak hadir diantara mereka.

"Hidan-Deidara dimana Gaara?" tanya Sasori kepada kedua rekan timnya.

Sontak mereka berdua menoleh,"mana kami tau kemana bocah sombong itu pergi!" ujar keduanya secara bersamaan.

Sasori memijit jidatnya pelan, "anak itu selalu membuatku susah," keluhnya. Ia berjalan melewati kedua rekannya.

"Oi, mau kemana kau Sasori?" tanya Hidan menautkan alis.

"Kembali ke desa mencari anak itu, jika ketemu nanti akan kurubah tubuhnya menjadi tubuh boneka." ujarnya kesal tanpa menoleh.

Deidara menyeringai, ia segera berlari ke arah Sasori, "Sasori belikan aku bubuk mesiu, un." ucapnya dengan mata berbinar. Sasori memandang malas Deidara.

"Dasar maniak bom." ujar Hidan yang berjalan di belakang Sasori dan Deidara.

Sebuah roda takdir kini berputar pelan, sang penguasa menulis kisah mereka di atas selembar kertas kosong. Seakan sudah ditetapkan sejak awal tentang takdir kejam yang akan mempermainkan perasaan kedua belah pihak dalam jurang keputusaan, hilangnya rasa kepercayaan, simpati dan cinta.

.

TBC dengan gajenya. T^T Chap ini udah kubuat lama dan baru ku post. Tadinya mau ada yg ku edit tapi ga jd. Chap ini melenceng jauh dari plot awal...mungkin gara2 hiatus kelmaan. Sankyu~ yg udah baca karya gajeku. ^^