Small Changes
Disclaimers : This Story is fiction. All the Characters, names and places belong to their respective owners.
Warning : OOC, Typo, kata-kata tidak baku dan lain-lain.
XxXxXxXxXxX
Sebagai seorang Ninja, Temari memiliki banyak mimpi. Ia ingin menjadi Ninja yang bahkan lebih kuat dari ayah-nya. Ia ingin menjadi seorang Kakak yang baik untuk adik-adiknya. Dan, walaupun sedikit aneh namun wajar baginya, ia ingin menjadi seorang Istri dan Ibu di hari tuanya nanti. Dan, oh, masih banyak lagi mimpi yang belum ia capai.
Dan sebagai seorang Ninja juga, Temari tahu semua itu akan sulit (Bukan tidak mungkin) untuk dilakukan. Karena sebagai seorang Ninja, dirinya selalu diwajibkan untuk melakukan segala sesuatu demi menjaga Desa yang ia bela.
Mungkin itulah penyebab kenapa ia sama sekali tidak terkejut akan berita yang dibawa oleh Baki.
"Jadi … aku dijodohkan, huh?" Walaupun sudah tahu suatu saat hal seperti ini bisa terjadi, Temari masih tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dari suaranya.
Baki hanya mengangguk, wajahnya datar seperti biasa. Namun Temari tahu Sensei-nya itu juga merasa kasihan terhadapnya, jika kerutan di dahinya merupakan suatu indikasi.
"AKu tahu ini sangat mendadak," Sekarang ia benar-benar terlihat marah. "Tapi mereka ingin agar kau segera siap untuk pergi hari setelah besok. Akan ada beberapa pengawal yang akan ikut, termasuk saudaramu dan aku." Kemudian, ia segera berbalik untuk pergi.
Sementara itu, Temari yang tidak tahu apa yang harus dikatakan hanya mengangguk. Wajahnya sedikit berkerut karena sedih.
"Dan Temari …," Baki berkata tepat di ambang pintu, tangan meremas kuat gagangnya. "Aku tahu ini mungkin tidak berarti untukmu … Tapi…. maaf atas semua ini." Kemudian ia segera pergi.
Bahkan tanpa ia sadari, Temari membiarkan sebuah senyum mengembang di wajah cantiknya. Walaupun banyak yang mengatakan Baki itu Ninja dingin yang tidak punya hati, yang mungkin benar, tapi Temari tahu lelaki itu selalu memiliki sisi lembut untuk dirinya serta adik-adiknya. Bahkan Gaara, yang saat itu masih memiliki sedikit gangguan.
Dan berbicara tentang Gaara….
Temari mengalihkan pandangan pada Gaara, yang tengah duduk di sofa. Semenjak mereka pulang dari Konoha, atau lebih tepatnya setelah mereka diusir dari sana. Gaara telah banyak berubah. Oh, tentu saja ia tidak berubah dari pembunuh menjadi orang baik dalam satu malam. Tidak.
Temari tahu, semua rasa ingin membunuh hasil pengaruh Ichibi itu masih ada di dalam pikiran Gaara. Temari tahu semua itu masih menghantui pikiran adik kecilnya. Namun, walaupun begitu, tidak seperti dulu, Gaara kali ini menolak dan melawan pengaruh dari Ekor Satu itu.
Temari tahu semua itu pasti sangat menyakitkan, apa lagi mengingat betapa seringnya ia mendapati Adik kecilnya itu meraung kesakitan sambil memegang kepala. Walupun begitu, Gaara masih terus melawan. Terus menolak untuk menyerah pada Ichibi. Dan itu semua membuat Temari bangga,
…. Itu juga membuatnya marah saat melihat penduduk masih memperlakukan Gaara seperti monster.
Jika hanya berupa glare dan ejekan dari belakang, Temari masih bisa mengerti. Yang membuat ia marah adalah saat mereka menghina Gaara, disaat adiknya itu membantu mereka.
Temari mengerti, ketakutan dan kebencian selama bertahun-tahun tidak akan hilang dalam beberapa hari. Tapi tidak bisakah melihat Gaara yang sekarang? Semua orang di Suna tahu Gaara tidak akan bertahan hidup jika tidak membunuh dalam satu hari. Dan mengingat sekarang sudah lebih dari dua minggu Gaara tidak membunuh, apakah mereka tidak mengerti?
"Temari, kau tidak apa-apa?"
Suara Kankurou mengeluarkannya dari pikiran. Melihat Kankurou, Temari menyadari adiknya itu sekarang jauh lebih diam dari biasanya. Tubuhnya juga tampak melemas tidak memilki tenaga.
"Aku tidak apa-apa Kankurou." Ia tersenyum, "Lagi pula, aku tahu hal seperti ini suatu saat pasti akan terjadi." Ia menambahkan.
"Kau tahu, aku bisa 'berbicara' dengan mereka, dan membuat semua ini dibatalkan." Kankurou berkata, matanya penuh akan determinasi.
Tanpa berpikir dua kali, Temari langsung mengerti apa maksud dari Kankurou. Hal ini membuatnya hangat di dalam sekaligus menambahkan senyum di wajahnya. Walaupun sangat banyak ejekan yang telah Kankurou lontarkan padanya, Temari tetap tahu adiknya itu merupakan Ninja yang protektif terhadap orang yang ia sayangi. Termasuk dirinya.
"Tidak perlu, aku yakin semua akan baik-baik saja." Di dalam, ia sama sekali tidak.
Temari sudah banyak membaca tentang sejarah tentang perjodohan-perjodohan untuk mempersatukan desa sebelumnya. Dari sekian banyak perjodohan itu, yang barakhir dengan baik hanya dapat dihitung dengan satu tangan. Dan itupun bersisa. Untuk perjodohan yang lain…. Katakan sajalah perempuan-nya berakhir dengan sangat tidak beruntung.
"Kau akan baik-baik saja."
Temari dengan cepat mengarahkan kepalanya pada Gaara. Ia mendapati Gaara tengah menatapnya, mata yang biasa kosong itu kali ini penuh akan keyakinan. Bahkan nada yang Gaara gunakan tadi sama sekali tidak memiliki keraguan di dalamnya.
"Kau akan baik-baik saja," Gaara mengulangi, mata masih menatapnya. "Jika ada seseorang yang bisa membuat hidupmu jauh lebih baik di dunia ini, itu adalah dia."
Saat itulah Temari diingatkan siapa yang akan menjadi Suami-nya.
Uzumaki Naruto.
Di dalam hidupnya, Temari masih banyak memiliki misteri yang belum berjawab. Salah satunya adalah Uzumaki Naruto. Saat mereka pertama bertemu, pendapatnya tentang Uzumaki adalah bodoh, bodoh, bodoh, dan lemah. Bahkan dengan satu kali lihat semua itu sudah jelas. Itulah kenapa ia jauh lebih tertarik pada si Uchiha.
Namun, seiring berjalannya waktu, Temari dipaksa mengubah pendapat itu. Bahkan dengan semua omong kosongnya, Uzumaki terbukti bukan seorang Ninja yang bisa dianggap remeh. Semua itu dibuktikan dengan bagaimana ia terus meraih kemenangan di pertarungan yang ia lakukan, walaupun dengan cara yang bodoh dan ekstream. Pendapatnya tentang Uzumaki berubah menjadi bodoh, bodoh dan kuat.
Tidak lama kemudian, Uzumaki menghadapi Gaara. Saat itu juga Temari tahu Uzumaki pasti akan mati.
Tapi saat itu pula, Uzumaki berubah. Tentu saja, ia bukan berubah menjadi pemakai kostum tidak jelas seperti yang ada di TV, sesuatu yang ada di dalam diri Uzumaki yang berubah.
Makanan menjadi yang memakan, Prey menjadi Predator, yang diburu menjadi yang memburu.
Ya, mungkin itulah tema yang tepat untuk menggambarkan perubahan dari Uzumaki. Bahkan berdiri dekat dengannya membuat insting Temari menggila, memaksanya untuk selalu siaga.
Namun dengan semua keanehan yang ada pada Uzumaki Naruto, Temari tidak bisa mengingkari bahwa Uzumaki memang membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan orang yang ada di dekatnya. Satu buktinya adalah Hyuuga yang ia lawan saat Ujian kemarin.
Bahkan dengan hanya saling berbagi pukulan, Uzumaki dapat merubah jalan pikir menyedihkan milik Hyuuga. Dan jika mengingat Gaara yang sekarang…..
…..Siapa sebenarnya kau, Uzumaki Naruto?
X-x-X-x-X
"Jadi singkatnya…." Jiraiya memulai, "Kalian menyetujui sebuah permintaan perjodohan dari Desa lain, Desa yang baru saja menyerang kita dan penyebab kematian Hokage sebelumnya. Tanpa meminta persetujuanku, Dan di atas semua itu, orang yang kalian jodohkan itu adalah Anak-ku, …. Apa aku benar?"
Tidak ada yang berani berkata apa dihadapkan dengan kemarahan sang Hokage. Ruang yang biasanya penuh akan perdebatan dan ejekan secara tidak langsung itu sekarang diam seperti kuburan.
"Apa aku benar?!"
Nada keras dan kuat itu membuat semua yang ada di dalam ruangan itu meloncat dari tempat duduk masing-masing. Semua, kecuali satu orang yang duduk tepat berhadapan dengan sang Godaime.
"Anda memang benar, Hokage-sama."Shimura Danzo berkata, sama sekali tidak terpengaruh dengan KI yang di keluarkan sang Sage. "Tapi anda juga perlu melihat ini dari perspektif seorang Kage, bukan hanya seorang ayah. Anda pikir, apa yang terjadi pada Desa ini jika kita menolak putri Kazekage?" ejekan dan emphasis terdengar jelas di suaranya.
Berbagai scenario langsung memasuki pikiran Jiraiya. Salah satunya adalah dimana Suna bisa saja menggabungkan kekuatan dengan Iwagakure, yang mereka tahu masih menyimpan dendam pada Konoha, dan menyerang Konoha saat itu juga. Dan Jiraiya tahu, dengan kondisi mereka yang sekarang, Konoha hanya memiliki kemudkinan kecil untuk menang.
Dengan satu tarikan nafas, ia menarik KI miliknya. Ia memang membenci Danzo, tapi jika itu tentang masalah seperti ini, Jiraiya harus mengakui Elang tua itu memang ahlinya.
"Baiklah, aku bisa menerima alasan kalian untuk ini." Ia berkata, menghasilkan semua yang ada di ruangan itu bernafas lega. "Tapi, di mana Sabaku ini akan tinggal?"
Kali ini Koharu yang menjawab, "Tentu saja dia akan tinggal dengan calon suami-nya, Uzumaki. Ini dilakukan untuk membuat mereka bisa terbiasa dengan satu sama lain." Ujarnya.
"Maaf," Nara Shikaku mengeluarkan suara, "Tapi dari perkataan anak-ku, Uzumaki tinggal di sebuah apartemen, yang lebih kecil dari ruangan ini." Katanya, dengan nada biasa seorang Nara.
Jiraiya harus menahan dirinya untuk tidak menyeringai, dengan apa yang dikatakan Shikaku, ia akan lebih mudah melanjutkan rencananya untuk membuat hidup Naruto menjadi lebih baik.
"Dan karena itu pula, aku meminta kita memberikan sebuah mansion untuk mereka berdua." Ujarnya, santai.
Seperti yang ia duga, protes yang cukup keras langsung dikeluarkan oleh banyak anggota Dewan. Kebanyakan protes tersebut dikeluarkan oleh Dewan yang berasal dari rakyat biasa, dan beberapa dari klan minor.
"Apa?!" Seorang anggota, yang Jiraiya ingat bernama Ochiro Kazuhi, hampir berteriak. "anda tidak serius bukan?" Ujarnya tidak percaya.
Jiraiya menatapnya dengan malas, "Tentu saja aku serius."
"Saya tidak setuju!" Balas sang anggota Dewan, "Aku tidak akan pernah mengijinkan anda memberikan Mon–"
Sebelum ia selesai, Jiraiya sudah ada di depan matanya. Tubuh besar itu sedikit membungkuk di atas meja untuk bisa menatap mata sang anggota Dewan. Tanpa sempat anggota lain bertindak, tangan sang Sage telah keluar menangkap dan mencengkram wajah Ochiro. Dan dengan tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun, ia mengangkat pria subur tersebut, menghiraukan raungan kesakitan darinya.
"Tidak ada," Ia memulai, "Tidak ada yang boleh menyebut anak-ku Monster."
Nada yang digunakan sangatlah rendah, namun cukup untuk didengar. Ditambah dengan Killing intent besar, jauh lebih besar dari sebelumnya, kata-kata itu cukup untuk membuat mereka mengerti maksud Jiraiya. Buktinya tidak ada lagi yang mencoba memperotes Jiraiya.
"Baiklah, tidak ada hal lain untuk dibicarakan bukan?" Sebelum ada yang menjawab, sang Sage langsung melanjutkan."Kalau begitu sesi rapat ini aku nyatakan berakhir."
X-x-X-x-X
Setelah berlari dan beristirahat sekitar 4 hari, rombongan berisikan Genin itu hampir mencapai tujuan mereka. Dan karena itu, mereka memutuskan untuk berjalan. Untuk menghemat tenaga jike mereka harus langsung bertarung nanti.
"Naruto," Shikamaru memanggil Naruto yang berada di paling depan rombongan. Saat Naruto sudah mendekat, ia berkata, "Sebenarnya apa yang terjadi saat kau mengejar Gaara? Aku tidak tahu dengan pasti, satu-satunya yang kutahu adalah adanya kemunculan dua monster raksasa."
Entah kenapa itu membuat Naruto tertawa. "Oh itu. Aku menghajarnya hingga babak-belur tentu saja." Ia berkata dengan senyum lebar.
"Jangan bercanda Naruto!" Protes Sakura, "Kita semua tahu Sasuke-kun lah yang mengalahkan Monster itu…. Dan menyelamatkanku." Setelah itu, wajah sang gadis langsung memerah.
Shikamaru melihat Naruto akan membalas, namun sesuatu menghentikannya. Bukan hanya menghentikannya bicara, namun benar-benar menghentikan tubuhnya. Membuat Kiba, yang berjalan tepat di belakang Naruto, menabrak tubuh si Pirang.
"Hei! Ap–
"Diam!"
Itu malah membuat Kiba semakin kesal.
"Apa maksudnya itu,HAH?! Ka–
Sekali lagi Naruto memotong Kiba, tapi bukan dengan kata. Melainkan dengan Shinai, yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, yang dihadapkan pada wajah Kiba.
"Diam."
Kali ini dengan nada yang lebih kecil namun jauh lebih berbahaya. Membuat orang seperti Kiba langsung diam. Dari sudut matanya, Shikamaru melihat Sakura menutup mulutnya. Tidak salah lagi ingin mencela Naruto.
Kemudian, ia melihat Naruto. Wajahnya tampak serius, seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat. Namun tidak seperti orang lain, matanya tetap terbuka. Semakin menajam malah. Yang membuat Shikamaru terkejut adalah, ia sempat melihat mereka di mata itu. Bukan hanya yang ada di depan Naruto, namun mereka semua.
Setelah beberapa lama, si Blonde mengambil nafas kemudian berbicara. "Pengguna Doujutsu, aktifkan Mata kalian." Perintahnya.
"Hei Naruto, aku tidak tahu ada apa denganmu, tapi kau tidak bisa memerintah Sasuke-kun begitu saja." Sekali lagi, Sakura memprotes Naruto.
Shikamaru menatapnya, ada apa dengan gadis ini?
"Sebenarnya," Shino, angkat bicara. Membuat Shikamaru sedikit terkejut. "Hokage-sama bilang jika Uzumaki Naruto yang akan memimpin kita, yang berarti dia bisa memerintah kita."
Shikamaru menyeringai, pedas sekali.
Tanpa berfikir panjang lagi, pengguna Doujutsu mengaktifkan Doujutsu mereka. Sasuke hanya terlihat bingung, sedangkan Dua Hyuuga di kelompok ini nampak menggunakan ekspresi terkejut.
"Kalian melihatnya bukan?" Kedua Hyuuga segera mengangguk.
Merasakan kebingungan dari yang lain, Shikamaru memutuskan untuk bertanya, "Naruto, Hinata, Neji, sebenarnya ada apa?" Tanya sang Nara.
Namun begitu, tidak ada diantara 3 orang tersebut menjawab. Hingga akhirnya Shikamaru melihat Naruto bergerak maju, kemudian berbalik menghadap mereka.
"Begini keadaannya, tidak jauh di depan kita sedang terjadi pembantaian." Ucap sang Uzumaki, dengan wajah keras yang mengejutkan Shikamaru.
"Pe-pembantaian?" Tanya Ino.
"Benar. Apa yang terjadi di sana bukan pertarungan, tapi pembantaian. Tidak ada yang menghentikan mereka melakukan apapun yang mereka mau." Jelas Naruto.
Tanpa melihat, Shikamaru tahu semua yang ada di team mereka terlihat tidak nyaman akan semua ini. Bahkan setelah melihat dan melakukan pembunuhan dengan tangan mereka sendiri, mereka tidak akan pernah nyaman dengan hal tersebut. Hell, bahkan dia yang dilatih dari kecil masih tidak nyaman dengan semua ini.
Itu membuat sang Nara mempertanyakan wajah Impasif Naruto
"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Captain?" Tanya Kiba, Shikamaru dapat merasakan kemarahan dalam kata tersebut.
"Baiklah, ini yang akan kalian lakukan," Ia menatap mereka semua "Kalian akan pergi ke sana dengan seluruh kecepatan yang kalian punya. Setelahnya, segera habisi, aku tidak perduli apakah itu membunuh atau yang lain, mereka. Dan ingat, jangan lakukan sendirian. Tidak peduli jika mereka hanya bandit biasa, kalian harus tetap berhati-hati." Jelas Naruto, kemudian segera berbalik untuk pergi.
"Bisa tunggu sebentar," Shino angkat bicara.
Dengan tidak sabar, Naruto segera berbalik, "Ada apa?" tanya nya dengan cepat.
Sang Aburame menatapnya dengan datar, "Sedari tadi kau bicara, kau mengatakan 'kalian', bukan 'kita'. Bisa kau jelaskan itu?"
Ahh, itu benar sekali. Selama ia menjelaskan tadi, Shikamaru hanya mendengar Naruto menggunakan 'kalian' dan bukan 'kita'.
Naruto menatap Shino dengan intens untuk beberapa saat, kemudian ia tersenyum.
"Karena aku hanya Kage Bunshin, Boss sudah ada di depan."
x-X-x-X-x
Beberapa kilometer di depan, Naruto berlari dengan seluruh kecepatan yang ia punya. Tangannya dengan cepat mengambil mengambil Shigure Kintoki dari punggung. Instingnya untuk pergi terlebih dahulu dan meninggalkan sebuah Kage Bunshin sebagai pengganti ternyata memang benar.
Kemudian dengan lompatan tertinggi yang ia bisa, Naruto segera berada di udara. Menatap ke bawah, ia segera mendapati pemandangan yang membuat kemarahan nya mencapai puncak. Di manapun ia melihat, terjadi banyak hal mengerikan. Ia melihat bagaimana seorang pria dibakar hidup-hidup, bagaimana wanita diperkosa di jalan, dan bagaimana anak-anak dipaksa untuk melihat semua itu terjadi.
Dengan kemarahan yang luar biasa tinggi, ia mengubah dan 'membakar' Shigure Kintoki. Kemudian, dengan cepat ia mengubah keseimbangan tubuhnya, menyebabkan gravitasi menarik tubuhnya jauh lebih cepat.
Mendarat dengan menghancurkan tanah, Naruto segera bergerak. Pemandangannya dengan seketika memudar akibat kecepatan yang ia gunakan, namun itu tidak membuatnya sulit membedakan mana yang harus ia bunuh. Tidak lama kemudian, darahpun segera bertumpahan.
Tanpa henti, ia mengayunkan Shigure Kintoki pada wajah-wajah terkejut bandit-bandit tersebut. Ia tidak berhenti untuk menolong korban, tidak, ia hanya terus membunuh dan membunuh. Hingga akhirnya satu pemandangan membuatnya berhenti.
Di sana, tidak jauh di depan korban terbarunya, Naruto melihat seorang bandit memasukkan bagian reproduksi miliknya pada tubuh gadis kecil. Pria besar itu tidak berhenti untuk melihat apa yang terjadi di sekitarnya, ia tidak berhenti walaupun melihat mata tidak bernyawa bocah tersebut. Terus dan terus ia bergerak, bagaikan hewan pada masa kawin.
Sesuatu di dalam diri Naruto meledak melihat semua itu. Chakra merah bagaikan darah mulai keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Aura gelap dan membunuh Chakra tersebut cukup untuk menghentikan apapun yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Untuk sesaat, semuanya berhenti bergerak, bahkan anginpun terlalu takut untuk bertiup.
Kemudian, keheningan tersebut dihancurkan oleh sebuah teriakan mengerikan sekaligus menyedihkan, yang sangat jelas bukan berasal dari Manusia.
Dan bagaikan ia tidak pernah terhenti sebelumnya, Naruto segera maju menuju target barunya. Ia hanya dapat melihat wajah ketakutan pria itu untuk sekilas, sebelum api merah Shigure Kintoki membelah lehernya. Mengetahui targetnya telah tidak bernyawa, Naruto tetap tidak berhenti.
Dengan pukulan tangan kiri yang menembus perut sang bandit, Naruto memisahkan tubuh pria tersebut dari sang gadis kecil. Tanpa membiarkan tubuh pria itu jatuh, Naruto kembali bergerang menyongsong. Shigure Kintoki dengan cepat menemui lengan kiri pria tersebut, memisahkan bagian tersebut dari tubuhnya.
Tidak berhenti, ia terus mengayunkan Shigure Kintoki pada tubuh bagian atas pria tersebut. Menghancurkan setiap bagiannya. Bahkan organ bagian dalam pria tersebut ia hancurkan, Tanpa sisa. Ia baru berhenti setelah bagian atas pria tersebut benar-benar hancur.
Kemudian, dengan tangan penuh darah (seperti semua bagian tubuhnya) ia meraih ke bawah. Semuanya dilakukan secara perlahan untuk membiarkan para bandit yang tidak bisa bergerak melihat. Dengan segera tangan itu menemukan tujuannya, bagian reproduksi pria tersebut.
Lalu, berbanding terbalik dengan sebelumnya, ia dengan cepat meremas bagian tersebut. Sebelum menarik, dan memisahkannya dari tubuh yang tersisa itu. Darah segar keluar dengan deras dari sana, namun Naruto membiarkan itu semua.
Dengan perlahan, ia bangkit dan berjalan menuju tubuh tidak bernyawa gadis kecil tersebut. Meletakkan bagian reproduksi hancur tersebut di samping tubuh tidak berbusana itu, Naruto kemudian menatap wajah sang gadis. Mata biru tidak seperti dirinya menatap kembali dengan nyawa yang telah hilang.
Dengan tangan penuh darah, ia menutup mata itu.
Berdiri dengan mata tertutup, Naruto membiarkan semuanya. Ia membiarkan angin kembali bertiup, dan membiarkan para banditt yang tersisa merasakan keberadaan Monster yang akan menghabisi mereka.
Membuka mata, Naruto membiarkan merah darah menatap dunia. Kemudian, diiringin dengan ledakan Chakra merah, ia berteriak mengguncang Surga.
"RRRRRAAAAAAAA!!"
xXxXxXxXxXx
Oke, saya tidak akan membuat anda bosan dengan alasan-alasan tidak berguna tentang kenapa saya tidak update. Satu-satunya yang akan saya katakan adalah, Dunia Asli lebih penting dibanding Dunia Fiksi.
Oh ya, saya juga ingin mengucapkan Maaf untuk anda-anda sekalian yang menunggu saya update (Itupun kalau ada).
Satu lagi, bagi yang bertanya-tanya tentang fic DxD saya.
Pertama, The Legend of Naruto Bael. Fic ini tengah dalam masa penulisan ulang. That's right people, Naruto Bael will come back.
Kedua, Green Knight. Bisa dikatakan saya menyerah untuk menulis fic ini. Karena itu saya memutuskan untuk membiarkannya di-Adopsi. Yang artinya, anda bisa mengambil dan menjadikannya fic anda tersendiri, bebas untuk anda ubah. Tapi tentunya, PM saya dulu dong.
RnR?
Silver M
