Chapter 1 : Xiakou, Father

Dynasty Warriors KOEI Tecmo
Gan Ning x Ling Tong (bl)
Romance, drama
¼ Dynasty Warriors, ¼ Romance Of Three Kingdoms, ¼ sejarah, ¼ penambahan-pengurangan-pengubahan dari author.

Sumber:
Google
Wikipedia
Koeiwiki
Kongmingarchive


DON'T LIKE, DON'T READ


Ini tidak terasa sebagai sebuah perang.

Aku bisa melihat matahari yang begitu terik dengan awan-awan putih berarak di sela-sela jemari yang kutadahkan ke atas langit. Wangi musim semi tercium dari balik rindang pohon, menarikku untuk ikut merasakan suasana santai yang begitu nyaman. Angin bertiup begitu lembut, bisa kurasakan belaian mesranya di sela-sela rambutku, memainkannya dan menggulungnya secara perlahan. Aku memejamkan mata sesaat ketika sebuah tangan besar menyentuh pundakku, menyadarkanku dari perilaku yang sudah menjadi hobiku sejak kecil.

Senyum timbul dari bibirku kala kulihat sosok yang kini mengelus helaianku bersama dengan sang angin. Seorang pria hebat, paling hebat yang pernah aku temui. Dengan warna rambut dan mata yang serupa, begitu aku banggakan, dengan guratan tegas di wajah dan senyum yang halus. Aku tertawa kecil, kusandarkan tubuhku di pelukannya, menengadahkan wajahku dan kembali tertawa saat melihat bagaimana sinar matahari mengintip dari sela-sela mahoni nya yang ikut tertiup angin.

"Ayah," aku masih belum bisa menahan tawaku, "pasti akan menyenangkan bertarung bersama Ayah."

Ayahku, Ling Cao, ikut tertawa. Guratan kasar itu terlihat menghalus dalam beberapa detik awalnya. "Kau masih muda, anakku. Tidak ada waktu untuk terburu-buru."

Setelah menepuk kepalaku untuk yang ketiga kalinya, ia beranjak menuju tempat di mana kuda coklatnya tengah asyik memakan rerumputan hijau. Aku tersenyum bangga. Serangan pertamaku di musim semi ini, Xiakou, berulang kali kurasa mudah di dalam mimpiku. Maksudku, bagaimana mungkin ini bisa jadi kemenangan yang tidak mutlak jikalau ayahku lah pemimpinnya? Ini adalah kali pertamaku dan aku selalu antusias tiap kali mengikuti rapat strategi. Aku tidak bisa berhenti tersenyum kala Lord Sun Quan meminta ayahku untuk menjadi pemimpin serangan ini. Aku bahkan hapal bagaimana nada dan kalimat ayahku ketika ia berjanji untuk memenuhi tugasnya. Aku merasa beberapa kupu-kupu menyelinap di dadaku dan menari-nari di dalamnya. Yang kupikirkan hanyalah satu, membuat Ayah sebangga aku padanya. Dan yang Ayah lakukan adalah mengembangkan senyumnya, kadang tertawa, mengelus kepalaku dan berucap jika ia percaya.

Aku mendengar suara tabuhan genderang saat Ayah menoleh kepadaku dengan tatapan siaga. Aku mengangguk, melihat kesekeliling, menggenggam nunchaku ku dengan begitu erat. Kembali menghirup wangi daun-daun segar yang baru tumbuh, aku berlari mensejajarkan kaki dengan Ayah.

Ia terlihat begitu hebat. Beberapa musuh mendekatinya namun dengan gagahnya ia menebas kepala mereka langsung dari atas kuda. Aku tersenyum kepadanya, mengangkat tanganku tinggi-tinggi.

"Ayah, kau keren sekali!"

"Ling Tong, kau harus focus," aku bisa melihat senyum kecil yang melintas di bibirnya, "Sehabis ini aku akan terus maju. Kau tetap di sini, ok?"

Aku menggeleng, dan segera mengangguk saat melihat tatapan matanya yang tajam padaku. "Baiklah Ayah."

Ketika kupastikan derap kudanya menjauh, aku kembali mengikuti jejak Ayah setelah mengalahkan musuh ke tiga ku.

Ini tidak terlalu berat, pikirku. Tidak terlalu berat untuk percobaan pertama, malah sedikit lebih ringan dari yang kubayangkan. Aku tahu Ayah memintaku untuk tinggal di sini—tempat yang sudah menjadi aman setelah semua musuh sudah ia kalahkan—karena menghawatirkan keselamatanku. Tapi aku adalah sub-general nya, bawahannya, anaknya. Bukankah sudah sepantasnya untuk ikut bersama-sama?

Aku kehilangan jejak Ayah, namun aku mengingat bagaimana Zhou Yu berulangkali memastikan posisi Huang Zu. Aku terus berlari di sekitar pepohonan rindang, menangkap udara dari sela-sela nafasku, melihat banyak orang mengelilingi seorang pria yang tengah tertawa di atas kudanya.

Tunggu. Inikah Huang Zu? Ia jelas terlihat tidak siap, kesempatan baik untuk menyerangnya saat ini. Tapi aku bukanlah anak yang bodoh untuk masuk ke dalam gerombolan musuh tanpa satupun rekan untuk menjaga belakangku. namun, sungguh, lihat ia dan wajahnya yang begitu rileks. Apa prajurit yang banyak membuatnya berpikir memiliki keamanan 100%?

Aku kembali mensejajarkan langkah dengan ayahku yang tengah berlari memimpin prajurit-prajuritnya. Ia terkejut, dengan wajah yang sedikit marah melirikku dari ekor matanya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku merengut, menggoyang-goyangkan kepalaku. "menemanimu tentu saja. Apalagi?" aku melirik ke arah Ayah, sedikit kaget melihatnya mengibaskan pedang di belakangku; membunuh musuh yang mengejar dalam sekali tebas. "Aku sub nya Ayah. Sudah seharusnya aku berada di sampingmu."

"Membunuh musuh sendirian pun kau belum bisa, Ling Tong."

Kedua alisku menyatu. "Mungkin kau tidak lihat saat AKU mengalahkan tiga musuh tadi."

"Jaga nadamu," Ayah kembali melirikku, "aku bukan bilang kau tidak bisa mengalahkan musuh, tapi kau tidak bisa mengalahkan musuh SENDIRIAN," lalu beliau mulai memakai nada yang sama denganku, "itu dua hal yang berbeda. Kau bukan apa-apa jika aku tidak ada di sampingmu."

Aku merasa panas di dadaku. Sumpah demi apapun, apa ia tadi melecehkanku? Heh, tidak, Pria Tua. Kau lebih baik mundur dan biarkan aku menunjukkan kemampuanku saat ini.

Dengan cepat aku melompat ke arah Huang Zu dan para prajuritnya, terkekeh melihat kuda putih yang gemuk itu meringkik ketakutan, tak ada beda dengan sang pengendara. Huang Zu memperbaiki hiasan rambut berbentuk tudung dengan bulu-bulu angsanya—yang mungkin dimaksudkan sebagai pelindung kepala, tapi entahlah, itu terlalu… fancy?–dan berkeringat begitu banyak saat aku mulai melawan prajurit yang berada di dekatnya.

"Kenapa ada musuh di sini?! Apa mereka tidak takut dengan jumlah kita?!"

Yah, tidak akan ada yang takut dengan pria tua pengecut sepertimu, 'Tuan'.

Huang Zu mulai memacu kudanya kembali ke main camp. Aku tertawa kecil, mendongak bangga kepada ayahku yang terus memandang langit yang gelap, menutupi sinar matahari dengan gulungan awan hitam. Aku berjalan, mengayunkan nunchaku ku, memukul pelan lengan Ayah.

"Ayah, kau lihat? Ayo kita kejar Tuan Pengecut itu."

"Kau harus kembali Ling Tong—"

"Kau masih tidak percaya padaku?!" aku memotong ucapan Ayah, "masa bodoh. Aku akan mengejarnya, dengan atau tidak bersamamu."

Aku berlari, mengacuhkan panggilan Ayah. Hei, yang benar saja? Maksudku, apa-apaan, apa surprise attack ku itu bukan hal yang membanggakan? Apa aku belum cukup hebat? Apa aku—salah, apa dia masih menganggapku sebagai seorang anak kecil yang harus tinggal di rumah dan berdiam diri saat dunia ini penuh dalam perang? Tidak, dalam mimpiku yang paling buruk sekalipun. Aku berlatih dan dilatih untuk menjadi kuat, untuk menjadi salah satu di antara officer-officer kebanggan Wu suatu saat nanti, dan ini adalah saat yang tepat untukku menunjukkan semua yang aku bisa. Apa Ayah—Pria Tua itu mengganggap hanya dia yang bisa dipanggil Lord Sun Quan dengan wajah membanggakan saat mengemban tugas besar? Nah, itu salah besar, aku akan melampauinya. Aku akan menjadi jendral, membawa kemenangan, mengalahkan apa-apa yang Pria Tua itu lakukan selama hidupnya—

Karena aku adalah anaknya.

Saat aku mendengar teriakan Ayah semakin dekat, makin cepat aku berlari, Huang Zu pun makin sempit jaraknya denganku. Aku berusaha mengacuhkan semua hal yang Ayah ucapkan, hanya saja Ayah berlari begitu cepat, memelukku dari belakang dan dalam beberapa detik yang singkat ia mulai mendorongku ke tanah dalam sekali hentak.

Air mulai turun dari atas langit, semua tiba-tiba terasa senyap. Aku menggeliat, berusaha bergerak namun Ayah terus memelukku, menindihku dengan tubuhnya. Aku menggoyangkan bahunya, berusaha memintanya bangun, tidak ada reaksi. Bahkan aku tidak bisa merasakan nafas dan detak jantungnya meski ia memelukku sekuat ini.

"…Ayah?"

Kuraba tubuh Ayah dari kepala hingga punggungnya, hatiku mencelos saat kudapati benda asing yang menancap di punggung ayahku. Dua, tiga benda panjang yang kukenal jelas rasanya di ujung jemariku meski aku tidak dapat melihatnya.

"Ayah, kau tidak apa…?"

Semakin aku berusaha mencabut panah di punggung Ayah, semakin kencang aku memanggilnya, semakin sakit ulu hatiku.

"Ayah, Ayah, Ayah—"

Hujan turun deras, membasahiku, membasahi tubuh Ayah yang mulai kaku. Aku menggeleng kuat-kuat seiring dengan kesadaranku yang mulai menipis. Aku terus memeluk Ayah, mendengar suara hujan, mencium wangi rumput basah yang entah mengapa berbau sedikit amis. Melihat seorang pria menatap kearahku dibalik punggung Ayah yang besar, seorang pria dengan busur di tangannya, dengan suara lonceng yang terus bergemerincing kala ia berjalan melewatiku.

Dan semua tiba-tiba gelap.


Ayah memasak dengan celemek milik Almarhum Ibu, memotong-motong sayuran dan memasukkannya ke dalam panci. Ia akan memarahiku jika aku mencomot ikan bakar hasil tangkapannya tadi sore, jadi aku hanya duduk diam sembari menggoyang-goyangkan kakiku di bawah meja makan. Terkadang aku menguap dan memain-mainkan jeruk mandarin yang ada di depanku, menggulingkannya ke kiri dan ke kanan, mengeluh berapa lama lagi aku harus menunggu sementara aroma asap dari ikan yang matang terus menggoda perutku.

Lalu Ayah akan tertawa dan memintaku menunggu sebentar lagi, membiarkanku mengganjal perut dengan beberapa butir jeruk masam. Aku mulai menyendok beberapa centong nasi ke dalam mangkuk, menumpuk nasi di mangkuk Ayah dan tertawa kecil melihat wajah tolong-berhenti-memasukkan-nasi-lebih-banyak-lagi dari Ayah yang masih terus mengaduk sayuran. Setelah aku menggumam sekian kalinya, Ayah akan mengangkat sayuran rebus itu dan menghidangkannya di atas meja, memuji wangi makanan yang begitu memanjakan indra perasanya.

Ayah akan menuntunku berdoa, berterima kasih atas makanan yang begitu enak, atas kemenangan yang diraih, atas nafas yang masih mengalir, atas segala kebahagiaan yang kami miliki. Terakhir kali kami makan ikan bakar dengan sayur rebus dan nasi yang mengepul hangat, Ayah mengajakku pergi ke makam Ibu dengan bunga-bunga krisan yang segar yang berkembang di taman. Aku mengangguk setuju, dan kami menghabiskan makanan kami. Masakan Ayah tidaklah seenak masakan Ibu, namun aku tahu sekuat apa Ayah berjuang untuk membuat makanan yang dapat membuatku tersenyum senang. Seperti ikan bakar segar buatan Ayah yang membuatku tak dapat berhenti menambah beberapa mangkuk lagi.

Lalu kami akan pergi ke halaman belakang dan sedikit berlatih, dilanjutkan dengan memetik beberapa bunga krisan dan berjalan menuju makam Ibu. Makam tersebut hanyalah sebuah batu kecil dengan ukiran nama Ibu, namun terlihat paling cantik dibandingkan makam lainnya. Ayah dan aku meletakkan bunga krisan yang sudah kami petik, lalu ia merangkulku bangga.

"Istriku. Anak kita sudah tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan, sehat dan baik budi. Di usianya yang ke-15 ini, mari kita bersama berbahagia menyaksikan perkembangannya menjadi seseorang yang akan terus kita banggakan hingga nanti."

Ayah memelukku. Aku membalasnya dengan pelukan hangat, merasakan detak jantung Ayah yang terdengar jelas. Berjanji menjadi seorang anak yang membanggakan, anak yang sanggup membahagiakan, seorang anak yang mencintai orang tuanya…

Lalu tubuh Ayah terasa berat. Aku tidak dapat menopangnya hingga kami terjatuh ke atas tanah yang lembab. Aku memanggil Ayahku, namun ia tidak bergerak. Tubuhnya kaku, tak ada suara jantung yang menenangkanku maupun suara beratnya yang terdengar lembut. Hanya wangi hujan bercampur amis darah yang terus mengalir dari punggung ayahku,

Dan lonceng-lonceng yang terus bernyanyi merdu…


Sedetik setelah aku membuka mataku, yang kudapati hanyalah rasa nyeri yang teramat sangat di dadaku, membuatku berteriak sekuat mungkin. Aku tak dapat menahan air mataku, aku tak dapat menahan perasaanku—sesak, sakit, pedih, ngilu, semua bercampur menjadi satu. Apa itu? Apa itu tadi? Aku masih bisa mengingatnya jelas. Ayahku, ayahKU, dengan tubuhnya yang masih tersisa rasa hangat, memelukku begitu kuat hingga aku tak dapat bernafas. Ah, nafas itu, detak jantung itu. Milikku berdetak dan miliknya berhenti. Sekuat apapun aku berusaha, darah itu terus mengalir. Membisikkan padaku jika apa yang paling berharga bagiku kini sudah tidak ada lagi.

Sudah tidak ada lagi.

Aku kembali berteriak. Apa-apaan ini? Kenyataan macam apa? Ayahku, seorang Ayah yang hebat, tidak mungkin mati hanya karena hal seperti itu. Ia adalah seorang yang waspada dan hebat, mana mungkin, mana mungkin—

"Ling Tong, kau kah yang terus berteriak itu?"

Aku mengenal suara itu.

"Zhou Yu, aku baik-baik saja… Mana Ayah?"

Diamnya bukanlah jawaban untukku. Dapat kurasakan kain yang ia letakkan di pangkuanku, namun aku terlalu takut untuk membuka mata yang sedari tadi kututup dengan jemariku.

"Ling Cao pergi dengan bangga, Ling—"

"JANGAN KATAKAN!" aku kembali berteriak, kulempar baju ayahku ke lantai, "jangan berbohong. Ayah tidak mungkin, ia tidak mungkin mati, ia adalah orang yang hebat, ayahku, ayahku tidak mungkin!"

Zhou Yu memelukku erat, tercium wangi bunga dari rambut panjangnya. Aku mendorongnya, ia benar-benar mengingatkanku akan irama detak jantung yang saling bersahutan, yang tidak kudapatkan saat Ayah memelukku terakhir kali. Tidak, tidak, tidak. Apa salah Ayah? Apa salahku? Mengapa harus Ayah? Mengapa harus aku?

Mengapa aku masih hidup sementara Ayah sudah bersama Ibu?

"Besok kau akan menghadiri upacara pemakaman ayahmu. Yang tabah, Ling Tong, orang yang pernah kehilangan orang tuanya bukan hanya kamu."

Jelas itu bukanlah hiburan terbaik yang Zhou Yu katakan padaku, lebih seperti lelucon jelek. Aku terkekeh pelan dalam tangisku, menggelengkan kepala kuat-kuat, tak kuasa menahan air mata.

"Pemakaman, eh? Siapa tadi yang mati? Ayahku? Kau pasti bercanda."

Aku mendecih melihat gelengan kepala Zhou Yu, sedikit tersentak mendengar suara yang hampir kuhapal, terus terngiang samar di memoriku sejak tadi.

Suara lonceng yang berdenting, semakin lama semakin dekat, lalu berhenti saat seorang pria bertubuh kekar berdiri di belakang Zhou Yu. Aku tidak suka dia. Tato naga itu, rambut coklat itu, mata tajam itu, rahang keras itu—

Bunyi lonceng itu…

Aku bergerak cepat, menghantamkan tinjuku di wajah pria tersebut. Ia tidak asing. Benar-benar tidak asing. Ia yang tadi terus melihatku di balik punggung ayahku dengan busur di tangannya. Tanpa ekspresi, tanpa menolong—hanya melangkah melewatiku.

"Berani sekali kau memperlihatkan wajahmu di depanku!"

Aku berteriak, hendak memukulnya sekali lagi namun Zhou Yu menahan tanganku. Ia tertawa kecil, menyeka pipinya, menatapku dengan pandangan menjengkelkan.

"Berikan terima kasih untukku, anak kecil. kau beruntung tidak bernasib sama dengan ayahmu."

"Apa yang kau maksud?!"

"Ya, orang tua payah itu," telingaku memanas saat mendengar kalimatnya dengan nada yang begitu mengejek, "yang mati karena panahku."

"KAU YANG SUDAH MEMBUNUH AYAHKU!"

Aku mendorong Zhou Yu, kembali melancarkan tinjuku, namun kali ini ia dapat mengelak, memukul tengkukku kuat-kuat. Aku terbatuk, hampir terjerembab saat Zhou Yu menangkapku dan kembali menidurkanku di atas kasur.

"Gan Ning, Ling Tong, berhenti. Jaga bicara kalian."

"Zhou Yu, ia sudah membunuh ayahku! Ling Cao!"

"Ya, Ling Tong," Zhou Yu mengelus rambutku, menyeka air mata yang tak dapat kuhentikan, "dan sekarang ia adalah salah satu dari kita. Berakrablah dengannya."

"Tunggu. Tunggu sebentar. Apa tadi yang kau katakan? Ia," aku menunjuk pria tersebut dengan telunjukku, "Pria brengsek ini, adalah salah satu dari kita? Zhou Yu, Zhou Yu, dia musuh, anjing Huang Zu, pembunuh orang tua!"

"Jaga bicaramu, anak kecil."

Aku menatapnya lekat-lekat, membiarkan api di dadaku membara lebih besar lagi. "Kau sebaiknya lari sebelum aku membunuhmu sekarang juga!"

Zhou Yu kembali menengahi kami. Ia meminta pria tersebut keluar, dapat kudengar decihan di sela-sela cengiran meremehkan itu. Oh astaga, ia yang membunuh Ayah, Beliau pasti bangga jika kupersembahkan kepalanya di pemakaman besok.

"Tahan amarahmu, Ling Tong, kendalikan emosimu. Besok Lu Meng akan menjemputmu, beristirahatlah."

"Zhou Yu, kumohon—"

"Aku dan Gan Ning mohon permisi."

"Jangan, pernah, menyebutkan namanya didepanku," geramku setelah Zhou Yu menutup pintu. Sungguh tidak ada yang lebih buruk dari ini. Benar-benar tidak ada yang lebih buruk, kecuali aku harus membunuh nya pagi-pagi buta dan memotongnya hingga kecil-kecil dan membakar kepalanya di depan makam Ayah dan Ibu. Ia yang membunuh ayahku, pria itu, pria brengsek itu, GAN NING itu—

Aku menggigit bibirku. Gan Ning sudah membunuh Ayah. AYAHKU.

Ayah yang paling aku cintai.

Aku kembali terisak, menggulung diriku di dalam selimut. Wewangian dari lilin yang dihidupkan Zhou Yu membuatku amat mengantuk, terlelap begitu cepatnya dengan perasaan dan hati yang masih belum tertata. Berharap lelucon buruk ini akan berakhir saat aku membuka mataku esok, kembali merasakan ikan bakar dan nasi hangat di ruang makan yang begitu hidup meski hanya ada aku dan Ayah.

Aku berharap di sela mimpiku, semoga aku menyusulnya dalam tidurku kali ini.

-To Be Continued-