GOLDEN DAYS "CHAPTER 2: FATHER, PIRATE"
A/N:
Hi semua! setelah update sebanyak dua kali, baru sekarang saya menggunakan catatan pengarang. Sejujurnya saya sangat menikmati membuat cerita ini, saya menyukai Gan Ning dan Ling Tong, mereka terlihat cocok terutama pertengkaran yang menurut saya seperti poin plus dalam hubungan mereka. Saya mengambil beberapa event dari sejarah maupun Dynasty Warriors nya (seperti yang terdapat dalam disclaimer), juga kadang mengambil dari anime Kputetsu Sangkokushi.
Saya harap semua dapat menikmati cerita ini. Mohon dukungan, review berupa kritik dan saran akan sangat membantu.
Tidak suka hal-hal berbau drama dan hubungan romantis antarpria? silahkan klik tombol exit ^^
ENJOY!
Dynasty Warriors c KOEI Tecmo
Gan Ning x Ling Tong (bl)
Romance, drama
¼ Dynasty Warriors, ¼ Romance Of Three Kingdoms, ¼ sejarah, ¼ penambahan-pengurangan-pengubahan dari author.
Sumber:
Google
Wikipedia
Koeiwiki
Kongmingarchive
DON'T LIKE, DON'T READ
Aku tertawa kecil, mengelus pelan pipiku yang masih berbekas merah, membalas lirikan Zhou Yu sembari kami berjalan menuju kamarku. Aku menatapnya, tersenyum simpul—menyeringai, lebih tepatnya—dan mengangkat kepala, menaikkan sebelah alisku.
"Heh, anak kecil itu hebat juga dapat memukulku. Aku harusnya mengingatkan jika tidak akan ada kali kedua," aku melihat Zhou Yu tersenyum kecil, menyelipkan rambutnya di belakang telinga, "tidak seperti itu menyakitkan atau apa, sih."
Zhou Yu menunduk, helai onyx itu keluar dari batas telinganya, menutupi wajah Zhou Yu yang masih tersenyum di sela tatapannya yang sendu. "Baik-baiklah dengannya Gan Ning, ia masih kecil," menjawab tatapan oh-aku-tahu-dia-itu-bocah ku dengan kedipan mata sejenak, "dia masih butuh seseorang untuk mengarahkannya."
Aku mengerdikkan bahuku, memberi gestur jika itu bukan sepenuhnya salahku, dan aku tahu Zhou Yu juga memikirkan hal yang sama. "Aku tidak tahu. Tapi aku ingat, saat aku seumurannya aku sudah bisa hidup dengan kegiatan bajak lautku."
Helaan nafasnya membuatku terkekeh, berhenti di sebuah pintu kayu yang terlihat tua. "Ini kamarmu, Gan Ning. Silahkan beristirahat."
Aku membalas senyumnya yang manis itu dengan salam hormat. Sungguh, jika ia adalah wanita aku sudah pasti memaksanya masuk ke dalam kamarku. "Terima kasih, Zhou Yu. Kau juga, berhati-hati di jalanmu."
Dengan anggukan singkat aku dapat mencium wangi bunga dari rambutnya menjauh seiring langkahnya yang mulai tak terdengar. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mencari warna selain wangi bunga yang sedari tadi terus mendominasi, mengunci kamarku dan berjalan-jalan di luar. Aku melihat sekeliling, tiang-tiang merah menyangga langit-langit, bintang-bintang yang bersinar temaram dan gerimis yang mulai turun lagi. Terus menelusuri jalan yang kulalui bersama Zhou Yu tadi hingga aku tiba di depan sebuah kamar di mana anak kecil itu berada.
Aku menutup mataku, mengingat kejadian saat hujan hampir sama gerimisnya dengan sekarang ini. Kala itu, aku membunuh seorang ayah, dan kala itu pula semua usahaku tidaklah dianggap apapun oleh Huang Zu hanya karena aku seorang bajak laut. Tch, ia lupa apa yang sudah kulakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Jika saja aku tidak datang dan membunuh Ling Cao saat itu, ia pasti sudah mati,
Dan anak ini tidak perlu kehilangan orang tuanya.
Ling Tong, jika aku benar mengingat namanya. Pemberani sekaligus ceroboh yang mengejar Huang Zu dengan semangat berapi-api yang langsung kupadamkan seiring air tumpah dari balik awan. Aku menatapnya menerawang ke langit-langit di sela-sela pelukan ayahnya yang tak lagi bernyawa, meraba-raba punggung besar itu, melirik ke arahku dengan mata ketakutan. Saat aku membalas tatapannya, niatku untuk membunuhnya hilang entah ke mana, membuatku menyimpan busurku dan berjalan melewatinya. Aku bisa dengar potongan nafasnya yang tak beraturan dengan suara gemetar sebelum akhirnya ia pingsan. Ia terlihat sangat terpukul, aku memang sering melihat ekspresi seperti ini, namun miliknya adalah yang paling membekas dalam ingatanku. Getaran jemari kecilnya, isaknya, matanya…
Aku membuka pintu pelan-pelan, melihatnya tidur dengan wajah yang berantakan, memeluk erat-erat baju yang dibawakan Zhou Yu tadi. Ia terlihat begitu lelah, begitu sakit, begitu hancur, aku pasti sudah merebut apa yang benar-benar ia cintai. Mungkin aku juga sudah merebut kebahagiaan dan mimpinya untuk beberapa tahun kedepan, mengarahkannya menjadi pendendam…
Aku mengelus rambutnya. Aku tahu aku tidak salah. Aku tahu aku tidak peduli apapun yang ia rasakan padaku atau apapun dampak yang ditimbulkan karenaku sudah membunuh keluarganya. Aku tidak peduli jika sampai mati nanti ia terus berusaha memenggal kepalaku, berteriak dendam padaku atau bahkan tak akan pernah melihatku lagi, apapun itu aku tidak peduli. Yang terlintas di pikiranku saat ini hanyalah raut muka layu yang entah mengapa terlihat begitu manis, yang akan berubah 180 derajat saat ia membuka matanya, entah esok atau lebih parahnya; sekarang ini.
Aku menertawai diriku sendiri. lihatlah, baru saja aku berpikir untuk mengundang Zhou Yu ke dalam kamarku, kini aku sudah menyusup ke dalam kamar orang lain sembari berpikir akan hal semacam betapa manisnya ia. Jika ada yang mengetahuinya aku pasti sudah dicap sebagai seorang yang suka bermain-main.
Itu tidak sepenuhnya salah. Aku memang sangat suka bermain-main, berpetualang, berlayar di atas kapalku dan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Di mana laut adalah rumahku dan satu-satunya yang kuanggap rumahku. Tapi kini, demi mencoba menjalani hidup yang berbeda, kukira aku sedikit membuat langkahku bertambah susah mengetahui pilihanku untuk ikut mengabdi pada Wu.
Ia menggeram pelan, terisak dalam tidurnya. Aku sedikit melebarkan baju yang ia peluk itu untuk menutupi bahunya, berjalan keluar dan duduk di batu besar dekat kolam, memandang bintang yang makin terang saat gerimis telah berhenti. Tersenyum membayangkan masa depan yang akan kudapatkan jika aku terus berusaha. Memberi ikan pakan yang seperempat penuh dan mulai menggumam kecil di sela-sela senyumku.
"Aku harap semua bisa jadi sangat menyenangkan."
Saat aku bangun, yang terus kuucapkan di dalam hatiku adalah rasa syukur untuk membuka mata di saat yang tepat. Mata abu itu berkilat marah dengan ayunan nunchaku yang terlihat sembarangan, ia mendecih melihatku dapat menghindar di saat-saat terakhir. Aku melihat sekelilingku, menghela nafas, entah apa yang ia lakukan, bagaimana bisa ia masuk sementara aku mengunci rapat jendela dan pintu ku, melirik ventilasi dan mengernyitkan dahi mengetahui bulan masih bersinar.
"Bukannya anak kecil harusnya tidur jam segini? Mengendap masuk ke kamar orang dewasa bukanlah tindakan terpuji, tahu?"
Ia mendecih mendengar guyonanku. "Dua jam lagi matahari terbit dan aku hanya punya sedikit waktu, jadi diamlah dan biarkan aku mencabut nyawamu."
Aku menaikkan ujung bibirku, menertawakannya remeh. "Kau terlalu percaya diri hanya karena sempat memukulku, nak. Kau harus tahu itu akan jadi yang terakhir kalinya."
"Diam, ini semua untuk ayahku!"
Aku menunduk saat ia berlari dan mengayunkan nunchaku nya, menghindari kaki yang ia putarkan di lantai, mundur beberapa langkah mengetahui tinjunya hampir mendarat di wajahku. Aku terkekeh, membakar lebih amarahnya, kembali menangkis tendangannya dengan tangan kananku. "Lamban, bocah."
Ia menggeram kuat dan mulai mengayunkan nunchakunya, lebih cepat dari sebelumnya hingga membuatku sedikit kewalahan untuk menghindar. Kugenggam kuat tangannya dan ia mulai meringis sebelum memukul perutku dengan tangan yang satunya.
Aku terbatuk, mengernyitkan keningku. "Kau memintaku untuk serius, eh?"
Ia mengerdikkan kepalanya pelan, menatapku masih dengan kristal yang berkilat-kilat tajam, kembali menyerangku dengan teriakan keras. Saat ia mulai mendekat, kutarik wajahnya mendekat padaku dan kuhentakkan kuat-kuat keningku dengan miliknya.
Ia jatuh tepat di depanku, kutangkap dan kubaringkan ia. Wajahnya masih terlihat lelah, keningnya merah—aku merasa aku terlalu kuat membenturkannya tadi. Ia menangis. Sesegukan, pelan, membiarkan nunchaku nya terguling di lantai. Kuhela nafasku dan kubawa ia ke kasurku. Merepotkan sekali, anak kecil memang sangat merepotkan—terutama anak dengan rambut coklat kental ini. Sungguh,bukankah perang memang seperti itu, membunuh dan dibunuh? Hanya karena ia lah orang yang mengalaminya bukan berarti ia pantas untuk terus menangis, kan? Sekarang aku bingung apakah aku harus menenangkannya atau membiarkannya terus merengek dan membasahi kasurku dengan air mata dan ingusnya. Apa perlu aku menyeretnya kembali ke dalam kamarnya?
Kulemparkan selimutku padanya, tidak mengecek apakah yang anak kecil itu lakukan dengan kain biruku yang baru kucuci; aku pergi keluar dan menggaruk kepalaku. Ini merepotkan sekali, apakah aku harus memanggil Zhou Yu dan memberitahukan kejadian ini sebelum ia mengira akulah yang membawa anak itu ke kasurku dan melakukan hal yang macam-macam hingga ia menangis tanpa henti? Heh, aku memang seorang bajak laut, namun aku bukanlah seseorang yang senang menyiksa anak kecil.
Meski memang beberapa tahun lagi aku yakin ia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik.
…Ah ya, sepertinya aku baru saja lupa jika ia adalah seorang anak laki-laki.
Kebetulan sekali mataku menangkap sosok Zhou Yu tengah menyesap teh nya di serambi tengah, menikmati wangi hangat dari teh yang masih terisi penuh. Aku mendehem, tersenyum, menyisir rambutku kebelakang dengan jariku dan mulai menunjuk letak di mana kamarku berada dengan ibu jari.
"Kau tahu? Eh, siapa tadi namanya—"
"…Ling Tong?"
Aku menepukkan tanganku, mungkin Zhou Yu adalah seorang pembaca pikiran yang handal. "Ya, Ling Tong, ia masuk ke kamarku dan sekarang tidur di atas kasurku."
Zhou Yu memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya, menuangkan teh ke dalam cangkir kosong dan mempersilahkan padaku untuk meminumnya. "Apa ia melakukan sesuatu padamu?"
"Nah, ia hampir, lebih tepatnya," aku meneguk minumanku, "tapi The Great Gan Ning mampu mengatasi undakan kecil semacam itu. Omong-omong ini teh yang enak."
Senyuman kembali hadir di bibir tipis yang merah. "Xiao Qiao memang pandai meramu teh. Dan maaf sudah mengacaukan malammu, kau pasti lelah sekali, Gan Ning. Bagaimana jika kau biarkan ia tidur di kamarmu dan kau melepas lelahmu di kamarnya?"
Aku tertawa kecil. "Pilihan kedua; atau aku akan menemanimu di sini, minum teh hangat yang nikmat dan sedikit mengobrol."
Zhou Yu membalas tawaku dengan anggukan lembut, memejamkan mata sejenak dan kembali membukanya setelah ia mengibaskan rambut hitam itu ke belakang. "Sebuah hal yang bagus memilikimu dalam pasukan kami. Kau adalah seorang bajak laut yang tangguh dan pemberani, aku dan Lu Meng benar-benar merekomendasikanmu pada Lord Sun Quan. Tentang masalah ini, semua pasti surut seiring waktu menyembuhkan luka anak itu. Aku harap kau bersabar, Gan Ning, dan cepat merasa kerasan di sini."
Kurileks-kan posisi dudukku, mendengar bunyi loncengku yang berdenting lembut. "Itu baik, Zhou Yu, sungguh. Aku mungkin harus berterima kasih atas rekomendasimu dan Lu Meng, tapi kau juga harus tahu aku di sini hanya untuk mencoba pengalaman baru, membalas ketidakadilan Huang Zu dan mungkin akhirnya aku akan pergi berlayar bersama kapalku lagi."
"Apakah itu menyenangkan, Gan Ning? Berlayar, maksudku?"
"kau bercanda, itu sangat menyenangkan!" Kutepuk pelan punggung pria sepantaranku itu, "Kau tahu, kapan-kapan kau harus mencobanya, daripada hanya duduk merenung dan minum teh sendirian. Menghirup wangi laut, melihat pulau tak berpenghuni, mengatur layar, memutar nahkoda, benar-benar menyenangkan."
Zhou Yu mengangguk. "Kau bisa mengajakku kapan-kapan, Gan Ning," aku tersenyum mendengar reaksi positifnya, "ini sedikit aneh namun kau mengingatkanku pada seseorang."
Aku mengangkat alisku sebelah, baru kali ini aku mendengar seseorang mengatakan hal itu padaku. "Siapa itu, Zhou Yu?"
Aku sedikit menyesal bertanya, melihat wajah tampannya kini berwarna sedih dengan mata yang menatap gelas yang masih berisi seteguk air. Hampir kutarik pertanyaanku saat ia mulai membuka suaranya yang kini terdengar sedikit parau. "Kau tahu kakak laki-laki dari Lord Sun Quan? Julukannya sebagai Little Conqueror, mungkin?"
Aku mengangguk, aku pernah mendengarnya meski tidak yakin apa aku tahu namanya. Zhou Yu tersenyum sedih padaku, menghabiskan teh yang ada di gelasnya dan kembali memenuhi gelas itu dengan cairan serupa dari teko yang mulai dingin. menatap dalam-dalam bulan yang memantul dari riak air kecoklatan itu, Zhou Yu memejamkan matanya. "Sun Ce, kau mengingatkanku padanya. Senyumnya yang hangat, sifatnya yang bersemangat, ceria, berani, sedikit ceroboh, penyayang dan berkharisma. Biasanya ia yang menemaniku di sini, minum arak kesukaannya, membicarakan banyak hal menikmati bulan yang meredup dan menyambut matahari terbit…"
"Ah, dia terdengar seperti pacarmu."
"Dia sworn brother ku," Zhou Yu membalas guyonanku dengan senyum tipis, "dan ia benar-benar matahari yang bersinar."
"Dan dari ceritamu, aku tidak yakin kalau kau mengingatnya karenaku atau karena situasi ini, Zhou Yu. Bagaimanapun aku tidak semanis yang kau jabarkan tadi."
Zhou Yu tertawa, meneguk teh dinginnya. "Mungkin ya, mungkin tidak. Terima kasih, Gan Ning."
Kusibak rambut panjangnya itu pelan, mengelus punggungnya dan melihat matahari yang terbit. Sinarnya terasa begitu hangat, seolah menghapus hujan yang turun kemarin, mengecup lembut dedaunan hijau yang basah. "Sama-sama, Zhou Yu."
Meskipun aku adalah seorang bajak laut, aku tetap hadir di pemakaman orang yang sudah kubunuh. Upacaranya, lebih tepatnya. Semua diam, hanya terdengar kicauan burung kecil dan musik yang mengalun lembut, memanggil hujan, meniadakan hangat sinar mentari yang tadi pagi kurasakan. Aku menarik nafas, melihat sekelilingku, semua orang berwajah muram. Beberapa di antara mereka menegakkan kepalanya, beberapa menunduk, beberapa menutup wajah, beberapa berguncang bahunya, namun hanya satu orang yang terus menatap kosong peti putih tak berisi sebagai simbolis sang ayah yang sudah tiada.
Ling Tong, dengan rambut mahoni nya yang terurai halus, meletakkan rangkaian bunga dengan jemari yang bergetar. Aku bisa melihat lingkar hitam di matanya yang sayu, dengan bibir bergemeratak dan nafas yang mulai tersengal. Ia terlihat menahan emosinya, begitu rapi, namun tidak kuat kala menggumamkan pidato yang sudah Lu Meng tuliskan untuknya. Penuh drama, pembacaan jasa, pengungkapan rasa kasih, pujian yang berlebih...
Aku berbalik meninggalkan tempat yang penuh dengan kesedihan ini, berjalan menuju jembatan terdekat, melihat pantulan diriku di atas sungai yang beriak. Aku tertawa kecil, menyisir rambut coklat ku ke belakang, merapikan ikat kepalaku yang sedikit miring. Kuhela nafasku, merasa tidak cocok jika terus berada dalam lingkungan yang menekan seperti itu padahal aku sama sekali tidak merasakan kesedihan. Manusia memang begitu, bukan? Mereka hidup lalu mati, hanya caranya yang berbeda. Kebetulan pria yang sedang diupacarakan di sana menemui ajalnya di tanganku. Kenapa Ling Tong terus menyalahkanku atas hal itu? Mengapa ia tidak menyalahkan takdir atau panah atau hujan atau apapun, bukankah sudah kewajibanku untuk membunuh musuh?
Aku mendecih. Sampai kapanpun mana mungkin aku meminta maaf padanya.
Aku mendengar suara langkah di belakangku, dengan sedikit isakan, berjalan mendekat. Kulihat helai brunette yang tadi terurai kini sudah digenggam tinggi-tinggi dengan hiasan rambutnya, jatuh dengan cantik. Ia menatapku tajam, menghapus air matanya, menggerak-gerakkan bibirnya sebelum ia mulai bersuara.
"Pria yang kau bunuh sedang diupacarakan dan kau tidak datang? Sebegitu tak hormatnya kah kau pada ayahku?" ia meremas bajunya, menggigit bibir. "Katakan, apa salahnya padamu?"
Aku mendelik, kembali melihat riak sungai. "Bukan hal yang harus kujawab, bocah."
"Kau memang bajak laut sialan! Brengsek! Kembalikan ayahku, kembalikan semuanya! Aku pasti akan membalas dendam, aku pasti membunuhmu, kepalamu akan jadi milikku dan kugantung di depan makamnya! Kau dengar, kau sial—"
"Hei, jaga mulutmu," alisku menyatu melihat mata Ling Tong yang membelalak penuh emosi, "ya, ya, selesai dengan kalimat kepala dan balas dendam ini. Yang kau lakukan cuma menggonggong tanpa mengigit."
Aku berikan cengiran terbaikku saat melihat tangan kecil itu menggenggam satu sama lain.
"Sama saja seperti ayahmu."
Ia maju, mengepalkan tangannya hendak memukulku, namun ia terlalu lemah hingga aku menepisnya dengan mudah. Ling Tong terhuyung, menepi ke pinggir jembatan, memukul-mukul kayu hitam itu kuat-kuat.
"Sial, sial… Aku akan jadi lebih kuat lagi, aku bersumpah… Ayah…"
Bahunya bergetar, suaranya makin pelan, kulihat air mengalir dari sudut matanya.
"Ayah… Ayah, Ayah…"
Suara itu terdengar terlalu lemah, kupejamkan mataku, dan tak lama kemudian, langit ikut menangis. Hujan yang sempat reda kembali turun dengan irama yang begitu merdu dan pilu, menyentuh rambutnya yang kuyu, bercampur dengan air mata yang terus mengalir. Kala aku melihatnya menangis seperti ini, sesuatu mengetuk di sudut hatiku. Aku ingin mendekat dan mengelus rambutnya, menenangkannya, namun jika itu benar-benar kulakukan aku hanya akan memperburuk keadaan. Ia membenciku dan aku tahu itu. Jadi kubiarkan tangisnya mengeras dengan hujan yang menderas, riak air yang bergelombang, dan loncengku yang tak berhenti bernyanyi saat aku melangkah menjauhinya.
Aku masih tidak mengerti sesakit apa perasaan anak kecil itu. Yang kutahu, saat ini aku ingin menghentikan air matanya.
-TO BE CONTINUED-
