CELOTEHAN AUTHOR N' PRENS
Silvia: Selamat datang di chapter 3! Hohohoho!
Ukitake: Abis ini aku ya? #merinding disko
Silvia: Enggak. Rukia dulu. Di bundaran HI. Nanti ada adegan IchiRuki kok.
Rukia: #facepalm
Silvia: Yaudah, cekidot!
The Darkness of Jakarta City
Bleach tuh punya Oom Tite. Capek Silvia ngomongnya #disepak
Rate T untuk jaga – jaga
Genre Horor dan Misteri biar gokil #dihajar
Di chapter ini semuanya Rukia POV's
Hari ini, hari kamis jam 3 sore, kami semua para anggota GTI membagikan pernak – pernik natal, karena sebentar lagi natal akan datang. Iya, semuanya, kecuali Silvia yang jauh lebih suka di kamarnya membaca novel tebal atau bermain laptop silver – nya.
Kulihat Ukitake – taichou membagikan coklat dan permen ke para anak jalanan, yang menerimanya dengan gembira dan penuh senyum senang. Lalu kulihat Nii – sama yang berusaha kabur dari para fans – nya, begitu pula Hitsugaya – taichou. Mereka berdua tampak dengan luwesnya menghindari kejaran fans masing – masing. Ah, Ichigo tak luput dari kejaran fans yang menggila. Sisanya, mereka semua membagikan pernak pernik kepada para pengendara dan anak jalanan, kecuali Komamura – taichou. Taichou berbadan tinggi besar itu sama sekali tidak terlihat di pelupuk mataku, padahal tingginya diatas rata – rata, belum rambutnya yang berwarna putih, mencolok sekali.
Oh ya, Hisagi – fukutaichou sedang berlindung di dalam bis, menghindari kejaran fans – nya juga.
Saat jam lima sore, kami semua duduk di tepi kolam bundaran HI. Komamura – taichou masih tidak terlihat, padahal sudah dua jam dia menghilang.
"Komamura – taichou kemana, Nii – sama?" tanyaku ke Nii – sama. Nii – sama hanya mengangkat bahu. "Entah."
Aku duduk disebelah kanan Ichigo, sementara sisi kananku kosong, karena Nii – sama berdiri dan hendak berjalan – jalan sebentar. Lalu, kulihat Komamura – taichou menghampiri kami dengan pakaian acak – acakan, persis seperti gelandangan. Kami semua tertawa.
"Hahahahahaha! Sajin, kau ini gelandangan atau bukan? Hahahahahahahaha!" kulihat kedua alis Komamura – taichou menyatu.
"Aku dikejar para gadis barusan. Aku ini tinggi besar, jadi wajar dong kalo pakaianku acak – acakan!" Komamura – taichou merapihkan pakaiannya.
"Katanya, tempat yang kita duduki ini banyak orang yang tewas tenggelam loh…" Ukitake – taichou melihat kolam.
"Iya. Bahkan mobil pun juga banyak yang nyebur!" celetuk ku, dan kami semua terbahak – bahak.
BYUR!
Tiba – tiba ada suara benda berat yang tercebur. Kulihat kolam, namun air kolam tampak tenang, tidak beriak sama sekali. Aku kembali menatap jalanan yang ramai. Aku asyik bercakap – cakap dengan Ichigo dan Renji, sampai sebuah tangan merangkulku pada jam tujuh malam. Aku tersenyum ke Ichigo, begitu juga dia. Aku merasa rangkulan Ichigo sangat kaku dan dingin, mungkin ini rangkulan pertamanya terhadap wanita.
Tangan itu lama sekali merangkulku, sampai Soutaichou berdiri. "Ayo kita pulang. Sudah jam delapan malam nih." yang lainnya juga ikut berdiri, kecuali diriku yang menunggu Ichigo mengajakku berdiri. Kulihat Ichigo berdiri, dan amsyong kok dia udah diri? Trus INI TANGAN PUNYA SIAPA?!
"GYAAA~!" aku melepaskan tangan masih bertengger di pundakku, lalu memeluk Nii – sama dengan erat, sesekali aku menitikkan air mata. Ichigo dan Renji tampak khawatir dengan keadaanku.
"Rukia, kamu kenapa?" aku tidak menjawab pertanyaan Nii – sama, aku malu sekali jika aku mengatakan bahwa aku mengira Ichigo merangkulku.
"Hei, siapa yang buang bingkisan ke kolam?" Komamura – taichou menunjuk tengah kolam.
"Yachiru, kamu buang bingkisan ya?" Zaraki – taichou bertanya kepada Yachiru – fukutaichou.
"Enggak kok!" Yachiru – fukutaichou menggeleng. Lalu, kami melihat sebuah tangan muncul dan mengambil bingkisan itu ke dalam kolam. Kami semua kaget, dan membeku di tempat.
Amsyong itu apah omaigat….
To Be Continued
Silvia: Gimana? Mantab kan?
Rukia: Omaigat… wat de hel?!
Ukitake: oh tidak… abis ini aku… #pundung
Silvia: Mind to RnR Readers?
