CHAPTER 6

Warning : typo(s),dan biasa aja

Ya sudahlah

DON'T LIKE? DON'T READ AJA LAHXD

Kembali..

"Niisan, kami sudah sampai di bandara, kami tunggu di restonya aja ya, aku dan neesan udah lapar nih", ucap seorang remaja cantik berambut coklat panjang bermata amethyst, yang kini memakai minidress berlengan panjang berwarna putih dengan celana jens biru pada seseorang melalui ponselnya.

"Baiklah, tunggu disana aja.. niisan 5 menit lagi nyampe", balas orang diseberang ponsel.klik..sambungan telepon pun terputus.

"ayo neesan kita ke restonya!", ajak gadis remaja tersebut pada neesannya yang memakai minidress berlengan panjang yang berwarna orangepeach celana jeans berwarna darkbrown sambil menarik tangan oneesannya itu.

"pelan-pelan Hanabi-chan, lengan neesan sakit nih..", rintih seorang gadis yang bermata sama dengan Hanabi namun berbeda dengan rambut Hanabi, rambut neesannya berwarna hitam keunguan, sebut saja indigo dengan sedikit tersenyum.

"ish.. aku lapar.. memangnya Hinata-nee ga lapar apa?! aku tau kok kalau Hinata-nee udah ga sabar liat Naruto-niichan ahahahahahaha", ucap Hanabi tergelak.

"Ha..hanabi.. ka..kau ini bi..bicara apa sih, itu.. ga mungkin..", ucap Hinata terbata sambil menahan semburat merah di pipinya agar tak terlalu kentara, kalau kalian pikir itu karena penyakit lupus maka kalian salah, karena yang membuat Hinata begitu adalah ucapan Hanabi yang menyangkut Naruto.

"ayolah neechan.. ia juga ga apa kok, aku restuin hehehehe", balas Hanabi nyengir.

"Hanabi!", tegur Hinata karena sudah tidak tahan lagi dengan godaan adiknya, yang membuat dia menjadi pusat perhatian banyak orang di bandara.blush… muka Hinata memerah karena malu dan gugup.

"hei.. disini kalian ternyata.. katanya nunggu di resto.. rupanya di sini, jadi makan ga", tegur seorang pemuda pada mereka.

"Ah.. Neji-nii.. ini gara-gara neesan nih huffttt..", keluh Hanabi. "makan dirumah aja deh kalo gitu", lanjutnya.

"niisan ga bisa, niisan ada meeting, kalian mau ikut? meetingnya di resto kok.. jadi bisa sekalian makan, lagian jii-san dan kou pergi keluar kota pagi tadi makanya niisan aja yang jemput kalian..", ujar Neji.

"oh.. begitu.. boleh kok niisan, Hanabi mau?", ucap Hinata dengan lembut.

"ia deh", balas hanabi.

"ta.. tapi apa ga repotin nih.. k..kan niisan m..mau meeting, klien pe.. penting kah?", ujar Hinata.

"ya sih ini meeting penting, karena untuk pertama kalinya Uzu-sama secara langsung yang turun tangan dalam meeting kali ini, biasanya dia di wakilkan. Tadinya niisan pikir dia akan menolak permintaan niisan mempercepat meetingnya karena niisan bilang ingin menjemput kalian", jelas Jelas Neji.

"Uzu-sama itu baik ya.. mau bertoleransi, padahal biasanya seorang pimpinan perusahaan besar begitu pasti egonya tinggi….. kayak niisan hehehehe", ucap Hanabi bercanda.

"ya, betul.. APA?!.. kamu ini ngerjain niisan ya.. awas kamu", balas Neji pada Hanabi dan mereka pun tertawa.

'Uzu-sama?.. nama yang familiar buatku', pikir Hinata.

Tak perlu berpikir keras, Hinata pun terbayang akan kenangan masa lalunya saat masuk les musik.

Flashback..

"Hinata.. mulai hari ini kamu masuk les musik disini..", ucap ayah Hinata sambil mengelus kepala dan surai indigo Hinata yang kala itu masih pendek.

"ta..tapi Hinata takut tousan.. apa ti..tidak bisa dirumah saja tousan.. k..kan di ru..rumah ad..ada piano", ujar Hinata terbata, takut tousannya marah.

"disini kau bisa punya teman, sudahlah.. tousan sudah mendaftarkanmu..", ucap Hiashi tegas.

"ba..baiklah Tousan.. Hina..Hinata akan menurut", setuju Hinata pelan. Kecewa karena ayahnya tak menyetujui permintaannya.

"nah.. sekarang masuklah kesana", suruh Hiashi, Hiashi pun pergi ke dari sana untuk berbicara dengan guru les Hinata.

Baru beberapa langkah Hinata berjalan tiba-tiba.. BRUUKK!.. Hinata ditabrak seorang anak kecil seusianya..-8 tahun-.. namun lebih tinggi menutup matanya takut-takut. Karena Hinata tak merespon dirinya anak itu pun memegang tangan Hinata.

"kau tidak apa-apa?.. mana yang sakit?.. aku ga sengaja, maafin ya", ujar anak itu.

Mendengar itu Hinata membuka matanya dan melihat seorang anak seumuran dengannya. Seorang bocah lelaki berambut blonde spike, bermata sapphire yang indah sedang menatapnya dengan mata berbinar-binar cemas.

"ak..aku t..ti..tidak apa-ap..apa.. k..kok..", jawab Hinata gugup.

"ahahahahaha.. kau lucu.. kenapa gagap gitu.. sini Naru bantu ya..", ucap anak itu sambil membantu Hinata berdiri. Setelah itu Naru pun menepuk-nepuk dan mengusap pelan kedua lutut Hinata yang sepertinya terbentur, "maafin Naru tadi ga sengaja".

Hinata yang di perlakukan begitu merasa malu sekaligus senang, mukanya memerah.. manis sekali..

"ia..", jawab Hinata seraya mengangguk pelan.

"nah.. perkenalkan.. aku Uzumaki Naruto.. yoroshiku ne onegai... hehehehe", ucap anak pirang itu dengan bangga sambil nyengir.

"ak..aku.. Hinata.. Hyuuga Hinata..", balas Hinata gugup.

"baiklah Hinata-chan.. sekarang kita teman.. ayo ke Kurenai-sensei Hinata-chan.. kita main musik sama-sama..", ucap Naruto dengan riang sambil menggandeng Hinata yang kelihatannya tidak menolak, bahkan mungkin senang dengan perlakuan Naruto yang baik padanya. Hinata senang karena ia punya teman baru yang baik padanya, karena yang menemani Hinata saat tousannya tidak dirumah hanya Neji dan Hanabi..-adiknya yang kala itu masih kecil-.., Kou dan para pelayan, sedangkan tousannya adalah orang yang sibuk, dan kaasan Hinata pun telah meninggal. Hinata pun sepertinya menyukai musik, spesifiknya sih piano seperti kaasannya itulah yang membuat tousannya mendaftarkan Hinata untuk les musik.

"pe..pelan-pelan Na..Nar..ruto-k..kun..", balas Hinata takut terjatuh dengan wajah memerah, karena baru kali ini tangannya di genggam seseorang yang baru ia kenal.

"ga bisa.. ntar kita telat, trus nanti bisa kena marah sensei..", ujar Naruto sambil menarik dan menggenggam tangan Hinata lebih erat agar Hinata lebih cepat lagi.

Mereka pun sampai dan Naruto mengantarkan Hinata kepada Kurenai supaya memperkenalkan diri. Naruto pun duduk di kursinya sendiri, menunggu Hinata selesai dengan senseinya itu. Dalam les itu bukan hanya Naruto muridnya, masih ada 2 anak lagi, Gaara dan Tayuya, walau pun instrument mayor yang mereka gunakan dan mereka sukai berbeda tapi mereka terdapat dalam satu kelompok dalam les mereka, Gaara selalu lebih menyukai gitar apapun jenis gitarnya kalaupun Gaara di suruh memilih pasti dia akan lebih memilih gitar, Tayuya selalu menggunakan serulingnya, sedangkan Naruto sepertinya memang berbakat dalam musik dan seni, dia sudah bisa menggunakan banyak instrument musik walaupun masih kecil, tapi yang kerap kali dimainkannya adalah piano dan biola. Dalam 1 ruangan dan waktu les maksimum hanya ada 4 murid yang diajarkan oleh guru pembimbing.

"baguslah kalau kau sudah punya teman baru disini.. tousan senang kalau kau tak kesepian lagi..", ucap Hiashi yang sebenarnya sedari tadi memperhatikan Hinata .

Flashback off..

'ah.. ga mungkin itu Naruto-kun kan.. tapi kalau uzu-sama itu memang dia… berarti aku akan ketemu dia..', pikir Hinata, wajahnya memerah. Ada perasaan antara rasa tak mungkin dan Hinata jadi sedikit.. ralat! Hinata jadi sangat berharap kalau klien niisannya itu adalah Naruto.

"Hinata.. kenapa masih disana? Ayo cepat..", seru Neji pada Hinata yang posisinya berada jauh darinya.

"i..ia niisan..", balas Hinata sambil berlari kecil mengimbangi kedua saudaranya itu.

'kami kembali.. konoha..', batin Hinata.

Mereka bertiga pun pergi dari bandara menuju tempat yang Neji tawarkan, sambil bercerita tentang pengalaman mereka selama jauh dari rumah dan bersenda gurau.

Sakura pun sampai ke KH, dan langsung pergi keruangan kerjanya, dia sampai kesana kurang lebih jam 8, setelah sampai dan duduk di kursinya, Sakura pun menelepon seseorang.

"tolong panggilkan suster Amaru, katakan padanya untuk keruangan saya sekarang", ujar Sakura yang langsung di jawab 'ya' dari seberang lama kemudian masuklah Amaru ke dalam ruangan Sakura sambil membawa sebuah map.

"ini surat-suratnya dok", ucap Amaru.

"pembayarannya sudah ku lakukan, tinggal menunggu dia sembuh saja.. bagaimana dengan polisi, kudengar mereka datang untuk minta kesaksian, apa kau sudah melakukan yang ku katakan suster?", tanya Sakura.

"sudah dok, saya sudah menyampaikan pesan dokter pada mereka kalau kedua orang itu masih belum bisa mengatakan apapun soal kecelakaan karena mereka masih belum pulih, dan menganjurkan mereka bertanya langsung pada dokter karena dokter juga sebagai saksi langsung disana, dan soal Fuma-san, segala administrasinya sudah saya bereskan sesuai permintaan dari dokter", jawab suster Amaru.

"baiklah.. sudah beres semua ternyata, terimakasih atas bantuannya, oh ya suster, jika ada yang mencari saya baik itu keluarga pasien maupun pihak polisi katakan pada mereka kalau saya ada di sini sampai jam 11 pagi", balas Sakura.

"sama-sama dokter, akan saya lakukan, saya permisi", pamit Amaru.

Amaru pun keluar dari ruangan Sakura dan bergegas pulang karena shiftnya telah berakhir, ia pun mengganti pakaiannya dan bergegas pulang dan dalam perjalanan menuju rumah, ia melihat seorang lelaki yang tengah duduk di taman rumah sakit, merasa di perhatikan lelaki itu menoleh kearah Amaru.

"bukankah kau suster yang kemarin merawat adikku?", tanya orang itu.

"itu benar Uchiha-san", jawab amaru sembari berjalan mendekati lawan bicaranya saat ini. Sangat tidak sopan berbicara dalam jarak yang berjauhan kan..

"apa Sakura. .eum maksudku dokter Haruno sudah datang?", tanya Itachi.

"apa Uchiha-san sudah ada janji? karena hari ini bukan hari praktik dokter Haruno..", ujar Amaru.

"hn.. sudah.. jam 9", jawab Itachi.

"dokter Haruno sudah ada di ruangannya, anda bisa menemuinya disana dengan lebih mudah karena dokter juga sedang memeriksa data-data dari Sasuke-san dan Sesame-san..", jelas Amaru.

"apa pihak polisi sudah datang? karena akan sangat merepotkan jika ini sampai terdengar pers, jika anda mengerti apa maksud saya", ucap Itachi.

"saya mengerti, mereka telah datang kemarin malam, tapi dokter melarang mereka meminta kesaksian malam itu karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan, dokter akan ada diruangannya sampai jam 11 pagi ini", jelas Amaru.

"oh begitu, terimakasih atas informasinya suster…", balas Itachi yang menggantung ucapannya bingung karena ia masih belum tau siapa nama lawan bicaranya ini.

"Amaru.. nama saya Amaru Uchiha-san", ucap Amaru.

"hn.. hontou ni arigatou Amaru-san", ulang Itachi.

"sama-sama, saya permisi", pamit Amaru.

Selesai dengan percakapannya dengan Amaru, Itachi pun pergi dari taman menuju kamar inap adiknya, melihat adiknya sudah siuman atau sampai disana hanya sebersit rasa kecewa dalam hatinya karena adiknya belum siuman juga.

Itachi pun beranjak dari sana menuju wilahyah parkir mobil di KH, untuk mengambil tas ranselnya, setelah itu dia pun kembali lagi ke ruangan Sasuke, dan mandi dikamar mandi disana. Setelah selesai ia pun merapikan ikatan rambutnya.

"ototou.. aku pergi sebentar ya.. sadarlah, kembalilah..- Itachi menghela nafas sejenak sambil menutup matanya-..dan cepatlah sembuh", ucap Itachi pada Sasuke sambil mengusap kepala Sasuke yang di balut perban dengan posisi ibu jari yang mengusap lembut pipi adiknya.

"aku akan menunggumu sadar, tak ada dan tak pernah ada niatku untuk meninggalkanmu dan menyakitimu, apalagi membencimu. Dulu.. sampai sekarang ini.. walau pun kau membenci anikimu ini sekarang..", lanjut Itachi lirih.

Setelah mengatakan itu, Itachi pun keluar dari ruangan Sasuke menuju ruangan kerja dokter penanggung jawab Sasuke.

'tok..tok..tok…', Itachi pun mengetuk pintu ruangan Sakura.

"masuk", sahut Sakura.

Itachi pun masuk kedalam ruangan Sakura, mempersiapkan hatinya dengan hal yang akan di dengar olehnya mengenai ototou satu-satunya itu.

Tbc…

Triya Chan : ya.. di usahain ya…

Ricchi : hahahaha.. mari kita tunggu bersama…

desypramitha2 : hehehehe… begitulah.. tapi sebenarnya masih satu harikan.. jadi sabar aja..