CHAPTER 8

Selamat datang..

Warning : typo(s), dan biasa aja

Ya sudahlah

DON'T LIKE? DON'T READ AJA LAHXD

SOMEONE'S POV

'kring'

Suara benda mirip lonceng yang menggantung di pintu masuk restaurant berbunyi saat kami masuk ke dalamnya. Kami bertiga masuk kedalam sebuah resto yang cukup luas, tempatnya cukup indah karena pekarangannya juga luas, terdapat pepohonan dan berbagai jenis bunga yang tersusun rapi ah.. ada bunga matahari disana kemudian bunga kesukaanku juga ada, sepertinya tempat itu adalah tamannya, juga terdapat tempat bermain untuk anak-anak.

Di dalam juga tak kalah bagus, dindingnya diberi warna kombinasi dari coklat dan putih gading, dan pada sebuah dinding terdapat sebuah gambar sunset yang sepertinya di gambar sendiri, indah sekali.. di mulai dari warna dark brown, kemudian ada gambar pegunungan yang kehijauan pada ujung-ujungnya, ada warna kuning yang semakin oranye yang menimpanya seperti sinar matahari yang terang, dilanjutkan dengan gambar matahari kuning cerah yang setengah bagiannya telah tenggelam, kemudian warna langit yang berwarna oranye kemerah-merahan, awan-awan yang terbias warna sang mentari yang akan tenggelam.

Yang paling menarik perhatianku adalah pada bagian pinggir kanan ada suatu gambar yang berwarna hitam dan yang terkena biasan warna sunset yang kuning kemerah-merahan, seperti bayangan namun dapat dengan jelas kalau itu adalah gambar dua orang manusia, laki-laki dan perempuan, terlihat sang lelaki tengah merangkul bahu si perempuan dan perempuan itu menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu, mereka pastilah sepasang kekasih..haahh~ andai saja..

'astaga.. apa yang ku pikirkan.. aku terlalu terkesan pada lukisan dinding ini sampai-sampai aku membayangkan kalau sepasang kekasih dalam lukisan ini adalah aku dan .. ah..itu tak mungkin, karena dia sudah punya orang yang penting buatnya. Dari dulu itu sudah terlihat kan.. aku ga boleh egois..', pikirku.

Aku pun berpaling dari lukisan itu dan menuju tempat duduk yang telah disiapkan untuk kami, restaurant ini sepi sekali.. pegawainya saja juga sedikit, sebenarnya tempat ini buka atau tidak ya..

Aku pun duduk bersama dua orang yang kusayangi, saat aku duduk menunggu pelayan untuk memesan makanan, aku melihat sebuah tempat seperti panggung yang cantik dengan hiasan kain berwarna putih, 'seperti teater aja', pikirku, dan piano hitam yang ada disana membuat tempat itu terlihat sangat familiar buatku..

'setelah makan, aku ingin memainkannya', pikirku dalam hati.

POV END

Neji dan kedua adiknya pun telah menempati meja yang telah disiapkan di restaurant yang telah disepakatnyai dengan kliennya itu. Mereka bertiga pun memesan makanan saat seorang pelayan datang ke tempat mereka.

"ingin pesan apa, ojou-san?", tanya seorang pelayan namun terlihat lebih rapi dari pekerja lainnya, Ayame itulah namanya dapat diketahui dari nametag yang di pakainya, dia adalah kepala pelayan di sana.

"Ayame-san, saya pesan teh saja", jawab Neji.

"aku mau ramen pedasnya karena yang ku dengar disini ramennya enak, minumnya lemon tea aja", ucap Hanabi.

"aku spaghetti meat ball dan lemon tea", ujar Hinata dengan suara lembutnya. Teringat akan sesuatu Hinata pun menanyakannya.

"maaf Ayame-san, ka..kalau boleh tanya.. kena.. kenapa sepertinya tempat ini sepi sekali?", tanya Hinata.

"oh, karena sebenarnya hari ini tempat ini tidak buka, namun karena pemilik tempat ini mengatakan bahwa ada rapat dengan Hyuuga-sama, maka tempat ini terbuka untuk Hyuuga-san sekalian, saya telah di unjuk oleh beliau untuk melayani dalam meeting hari ini", jawab Ayame sopan.

"eum.. ka..kalau b..bo..boleh tau, apakah pi..piano itu boleh di pakai?", tanya Hinata sekali lagi.

"oh, tentu.. apakah anda ingin memainkannya? Sudah lama sekali piano itu tidak di mainkan pengunjung, pemilik restaurant ini sangat menyukai seni, apalagi musik, beliau sama sekali tak keberatan kalau ada pengunjung yang ingin memainkannya, yah.. asal tidak dirusak, beliau tidak akan keberatan", ujar Ayame sambil tersenyum.

"be..benarkah.. ka..kalau begitu aku akan memainkannya setelah makan nanti, terimakasih.. aku senang sekali..", ucap Hinata senang.

"sama-sama, saya permisi..", pamit Ayame. Setelah itu Ayame pun pergi membawa daftar pesanan mereka meninggalkan 3 tamu lama kemudian,pesanan mereka pun diantarkan oleh Ayame, mereka pun menyantap pesanan masing-masing, kecuali Neji tentu saja, dia kan cuma pesan teh..

Hinata pun selesai dengan makanannya, ia pun berdiri dari tempat duduknya, merapikan sedikit rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan.

"kau yakin?", tanya Neji pada Hinata.

"ya, neechan ntar gugup, trus salah nada gimana? hahahahaha", ucap Hanabi sambil tertawa.

"Hana… jangan ketawa terus…", tegur Hinata, Hanabi manyun. "aku cuma ingin main piano, aku seperti pernah memainkan piano itu niisan..", lanjut Hinata.

"baiklah..", balas Neji.

HINATA'S POV

Kulangkahkan kakiku menuju panggung putih itu, tempat dimana piano hitam yang cantik itu bertengger manis disana. Aku yakin sekali kalau aku pernah memakainya, tapi aku lupa..

Aku pun sampai diatas panggung itu, tempatnya tidak terlalu jauh atau pun terlalu dekat dari tempat kami duduk tadi, namun dari situ dapat terlihat dengan jelas panggung ini saat aku duduk tadi.

Aku pun duduk di tempat sang pianis dari piano itu, ku buka penutupnya dengan perlahan-lahan. Terlihatlah tuts-tuts piano itu.. sangat bersih, walau ku lihat sepertinya piano ini adalah piano yang berumur cukup lama namun sepertinya sangat terawat, aku semakin tertarik untuk memainkannya.

'ting'

'kring'

"eh", aku ada yang berbeda, kucoba menekan tutsnya lagi.

'ting', suara piano itu berdenting dengan normal. Sepertinya tadi aku salah dengar, aku ingin memainkan dan menyanyikan lagu-lagu itu, aku takkan gugup, disini kan sedang sepi pasti aku bisa..

Ingat Hinata.. ingatlah..

'ini tentang rasa sedih dan rasa rindu Hinata-chan.. bayangkan saja kalau aku pergi, dan kita ga berteman lagi.. Hinata-chan sedih tidak?... pasti sedih kan aku teman yang paling baik hehehehehehehe'

HINATA'S POV END

"Pain, lagu yang ingin ku mainkan.. adalah Pain..", ucap Hinata sambil menatap sendu tuts-tuts piano yang ada di hadapannya..

Terdengarlah dentingan piano yang sedari tadi di diamkan..

Dentingan nada yang mengandung perasaan sakit dari sang pianis, rasa rindu yang selama ini menyakitinya..

Rindu yang selama ini ia rasakan pada sosok teman yang yang selalu membuat dia bersemangat, rasa rindu pada sahabat yang sangat disayanginya..

'Hinata-chan.. jangan nyerah gitu.. ini lagu yang mudah kok, Hinata-chan pasti bisa!'

'ganbatte Hinata-chan!'

'aku baru tau kalau Hinata-chan bisa bela diri, kukira cuma kami aja.. yak! Aku gak akan kalah! Apalagi dari si Teme itu! Walau pun aku bukan cuma bisa karate sih, Ya kan Hinata-chan hehehehehe..'

Rasa perihnya pada sosok sahabat yang dulu telah meninggalkannya sendirian karena keadaan..

'Hinata-chan, aku akan pindah ke tempat Jiisan.. aku mulai besok gak akan sekolah dan les disini lagi, kita bakalan jarang ketemu atau mungkin ga akan bertemu lama sekali..'

'ta..tapi k..ke..kenapa ba..baru bilang s..sek..seka.. hiks.. hiks.. kenapa ba..baru bilang sekarang hiks..hiks..'

'ma..maaf, seharusnya aku bilang tapi aku lupa karena sibuk… mengepak barang. Maaf.. ga seharusnya aku lupa.. Gomen ne..'

'k..ka..kalau be..begitu, a..ay..ayo k..ki..kita main pi..piano d..dulu.. y..ya..'

'baiklah.. untuk menebus kesalahanku, ayo.. tapi harus cepat ya, karena aku udah janji pulang cepat sama jiisan tadi. Ga apa-apa kan Hinata-chan?'

'y..ya..ga apa-apa, tidak akan.. apa-apa..'

Rasa sedihnya.. karena ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu sang sahabat.. Rasa sedih yang sangat menusuk hatinya saat dia berpikir kalau sosok itu kini.. mungkin telah melupakannya..

Dentingan itu.. nada-nada itu.. mengingatkan Hinata pada memori indah sekaligus menyakitkan buatnya, karena sosok yang dulu menghiasi hidupnya telah lama tak terlihat..

"apakah aku masih bisa bertemu denganmu", gumam Hinata sendu.

Tes..

Tes..

Airmata pun mengalir dari amethyst indahnya yang kini terkatup menahan rasa yang menumpuk dalam hatinya..

Dentingan piano indah sekaligus menyayat hati itu pun berakhir dengan air mata yang masih setia mengalir di pipi sang pianis cantik yang kini masih menutup mata indahnya.

Song : Pain( May Cry)

Artist : Rungran

"gomen ne..Hinata-chan", gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan Hinata dari balik dinding berlukiskan sunset, tepat bersebelahan dengan kursi yang seharusnya Hinata duduki, hanya terhalang dinding pembatas cantik yang paling di kagumi Hinata disana..

Tbc..

AUTHOR SESION

Sebenarnya aku mau tanya nih reader..

Pada tau ga lagu Pain yang ku maksud? Kalau tau, apa yang kalian rasakan dari lagu instrumental itu?

Kalau aku sendiri setiap kali mendengarkan alunan musik dari Rungran itu selalu merasa kalau lagu itu menyiratkan kesedihan dan rasa kesepian, rasa rindu menyakitkan yang belum bisa terobati, rasa sakit karena tertinggal sendiri, rasa sakit karena mengingat masa lalu, rasa sakit karena tak terlihat di hati yang terkasih.. Itulah yang kurasakan, kalau kalian bagaimana?..

Hotaru Keiko : makasih.. semoga chap ini kau suka n_n

akbar123 : semoga chap ini kau suka..

hanazono yuri : semoga chap ini memuaskanmu..

Oke.. thanks for read..

See yah..