Author= Imsoojung
Genry= mistery, friendslip, and other
Cast= Shin donghoo(ukiss), Kang minhyuk (Cn blue), lee sungyeol (infinite), Lee Minho, Leeteuk, Songjoongki, young ah, Shin kyungri, park minji, and other..
Disclamer= semua cast yang author tulis diatas milik tuhan dan keluarga masing masing serta para fans, namun khusus yang bernama SHIN DONGHO HE IS MINEEE!#maksa*PLAKK ditabok Dongholick.
Warming= abal, Eyd yang tidak sempurna, membuat kaki Minus dan mata keseleo, gaje stadium 12, dan beberapa kesalahan dalam fanfic ini.
Rating= T.
Oke author sekali lagi minta maaf sama seperti sebelumnya, karna author masih author baru dan belum ngerti tentang dunia perff-an jadi sorryyyy... dan satu lagi Please review ini penting banget buat author karna menentukan kualitas dan perbaikan bagi author, yang mau usul juga silahkan... dan makasih juga yang udah Review di chapter sebelumnya. Okke gak usah lama lama dan maaf sekali lagi karna ff ini makin GAJE..
=== DON'T READ DON'T LIKE NO COPAS NO PLAGIAT===
"AAAA!" terdengar suara teriakan dari gedung didepan mereka, seorang yeoja terlihat dari arah balkon lantai dua dengan tubuh berlumuran darah. Kemudian yeoja itu ditarik oleh seorang namja, wajahnya tak terlihat topi menutupi kepalanya.
"TOLONG!"
Kini semua mata tertuju arah yang sama. Dongho dan Sungyeol mundur, mereka melihat beberapa dari sebagian besar polisi berlari menuju gedung itu. Dongho menatap sungyeol, yang ditatap tak bergeming dari tempatnya atau bahkan hanya menggerakkan kepalanya.
"Hyung..." lirih Dongho sesaat.
"Ho-ah.. video yang dikirim seseorang untuk mu itu... Ada kaitannya dengan ini kan?" Sungyeol berkata atau lebih mirip bisikan yang sedikit nyaring.
"Molla... Aku tak akan pernah mau tau.." jawab Dongho seadanya.
"Itu artinya kau terlibat bukan?" pertanyaan Sungyeol tak dijawab oleh Dongho.
Mereka berjaga pada tempat masing masing, Dongho mengaktifkan handpone yang tadi dimatikannya. Ada sebuah pesan masuk disana, bukan sebuah pesan penting namun yang membuatnya terkejut adalah pengirimnya pengirim yang mungkin sedang diotopsi oleh pihak kepolisian. Dongho menatap sekitarnya, pesan itu baru saja masuk tepat 2 menit setelah ia mengaktifkan handponenya.
'apa kabar...?'
Dongho menatapnya betul betul layar handponenya tak mungkin yeoja bernama hyeri itu mengiriminya pesan disaat ia sudah benar benar mati. Ia yakin, pelakunya atau lebih tepatnya pembunuhnya sedang memegang handpone hyeri itu mungkin saja. Dongho menatap kearah sekitar, hanya ada beberapa polisi yang menungguinya dan Sungyeol selain itu ia tak orang tak dikenalnya.
"Ini... memang ada kaitannya dengan pembunuhan pelajar pertama.." Dongho menatap sungyeol yang juga menatapnya dengan bingung.
"Maksudmu semua ini berkaitan?" Tanya Sungyeol.
"Eoh, kurasa kau mengerti.." jawab Dongho.
"Aigoo.. kurasa kau sudah lebih hebat dari seorang polisi.." Tanggap Sungyeol.
"Geunde, untuk apa mereka melakukannya?"
"Mereka?" alis Sungyeol bertautan.
"pembunuhnya.." jawab Dongho singkat.
Seorang 2 orang petugas keluar dari gedung didepan mereka, napas mereka tak teratur menandakan mereka telah berlarian. Seorang petugas menghampiri mereka. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu lalu menatap mereka.
"Mianhe, aku terlalu gegabah tadi hingga meninggalkan kalian." Ia tersenyum simpul.
"Kau.. bukankah orang yang menangani pembunuhan di hwando high school yeoja yang mati dilaboratorium?" Dongho mengamati dengan saksama petugas namja didepannya mengangguk.
"Apa yang terjadi digedung itu?" tanya Sungyeol setelah diam beberapa saat.
"Pelakunnya hilang korban ditemukan sudah tewas.. ahh aku Song joongki." Jawab namja itu seadanya.
"Apa menurutmu semua ini berkaitan? Eumm aku mendapat sebuah surel dari choi hyeri korban yang mati tadi pagi.."
"Apa maksudmu?!" kedua namja didepannya menanyakan hal yang sama bersamaan.
.
.
.
.
"Pembunuhnya memegang kartunya, handpone hyeri ada pada kami namun kami tak menemukan kartunya.." seorang petugas kepolisian bernama Lee minho itu menyerahkan sebuah handpone kepada Joongki.
"Kurasa ia hanya membawa kartunya.." komentar Joongki.
"Eumm, aku juga mendapatkan memori ini.. Kurasa seseorang telah mengirimnya padaku." Cerita Dongho sambil menunjukkan sebuah memori pada Joongki.
"Apa isinya..?" tanya Joongki.
"Menurutku tempat-tempat pembunuhan.." Dongho menatap Joongki yang sedang memasukkan memori itu kelaptop kecilnya.
"Maksudmu?" Joongki menatap nya bingung.
"Di akhir video itu ada laboratorium persis sebelum hyeri meninggal, dan gedung itu gedung yang persis ada dihadapan kita dan gambar gedung kaca itu..." Dongho memutuskan kata katanya saat ia sadar akan sesuatu.
Seorang yeoja sedang sendiri, menari sendiri dengan kemeja biru dan celana jeans pendek. Deruan musik beradu dengan napasnya sendiri yang mulai kelelahan, ia menatap sekitar sambil meneguk air minumnya. Ia menaruh kembali air minumnya di atas kursi tempat air minumnya berada semula. Ia cepat mengambil langkah mundur, ia sudah mulai menatap pintu masuk yang ada didepannya saat ini. Ia mulai merasa takut, dengan gegabah ia mengambil jaket yang tadinya tergantung di sandaran kursi disampingnnya.
Ia mulai berlari menuju pintu masuk, namun ia menghentikan langkahnya saat manik matanya menangkap seorang namja gagah sedang berdiri didepannya. Wajahnya tertutup setengah karna masker hitamnya sebuah topi biru menghiasi kepalanya, ia matanya sedikit menyipit melihat orang yang ada didepannya. Yeoja bernick name Young ah itu mulai ketakutan, kakinya melangkah mundur dengan gemetar. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan milik namja didepannya itu menangkap lengan kirinya.
"Ssstthh" Sebuah bisikan pelan terdengar dari namja itu jari telunjuknya menyentuh masker hitamnya itu.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Young ah tangannya mulai bergetar ketakutan.
"Aku hanya ingin bermain sebentar.." Namja itu sedikit menunduk agar bisa menyamakan posisinya dengan Yong ah.
"Ada apa dengan gedung ini?" Tanya Sungyeol dan Joongki mulai penasaran.
"Itu tempat Hyeri dan Young ah sahabatnya biasa bermain.."
"Ini tempat selanjutnya?" tanya joongi pada dirinya sendiri.
"Minhyuk hyung..." Bisikkan Dongho mulai membuat Sungyeol tersadar.
"Jam berapa ini?" tanya Sungyeol setelah ia diam mengingat apa yang dikatakan hyungnya bernama Kang Minhyuk.
"13.30 ada apa?" tanya Joongki heran.
"Minhyuk hyung janji dengan Young ah 13.45 harusnya kularang saja dia tadi!"
"13.30.." bisik Dongho pelan saat ia malihat jam dinding yang ada diruangan kaca itu, hatinya mulai risau.
"Tidakkah kita ketempat itu sekarang..?" tanya Dongho.
Joongki mulai meninggal mereka dan mulai mengumumkan sesuatu pada anak buahnya, anak buahnya hanya menerima perintah kemudian melakukannya. Ia kemudian berlari kecil mendatangi Dongho dan Sungyol kembali. Dengan melarang kedua anak itu untuk ikut. Namun dengan tegas mereka berdua menolak, itu jelas hyung kesayangan mereka mungkin saja mati ditempat itu.
"Aku tidak akan ingin tinggal disini bersama orang orang mu yang idiot itu.." Tegas Sungyeol Dongho hanya mengangguk nganggukkan kepalanya pertanda behwa ia setuju dengan pendapat hyung
"Kalian tau kalian juga dalam bahaya? Kalian punya otak?" omongan Joongki mulai tidak enak didengar.
"Jinjja? Biarlah kami tidak punya otak, kau tau hyung kami mungkin hyung kami mati disana!" Dongho mulai emosi ia berdiri sambil memukul meja didepannya.#Sabar bang kalau disuruh tinggal sama aye aje bang...*PLAAAKKK
"YAAA! Kau masih keras kepala?"
"Dia satu satunya orang yang mau merawatku sejak kecil. Kumohon aku juga ingin melindunginya seperti ia melidungiku.." Sungyeol menjawab dengan pelan.
Joongki menghela napas, tangan kanannya menyentuh pinggang. Dengan pasrah ia akhirnya mengangguk, mungkin terlalu kasian dengan tatapan nanar seorang lee Sungyeol.
.
.
.
.
"Hentikann!" jeritan seorang yeoja bernama Young ah itu terdengar saat namja yang sedang mengikat tangan dan kakinya.
Suara yeoja itu mlai tidak jelas saat namja itu mulai melakban bibirnya. Dengan kasar ia mendongakkan kepala Young ah yang sedari tadi menunduk itu. Ia mengambil sebuah silet kecil dari sakunya dan mulai menggoreskannya pada telapak tangan Young ah yang mulai menjerit itu, bukan karna sakit karna terlalu takut.
"Kalau kau bisa diam sedikit mungkin ini akan lebih mudah dan tidak akan aku melakukan hal yang lebil keji selain menggunakan silet kecil ini.." namja itu mengeluarkan sebuah botol kaca berisi setengah air itu entah apa yang ingin ia lakukan.
"Kau diam atau air raksa ini akan menyentuh tubuhmu.. ahhh atau wajahmu saja?" Namja itu mulai gila mungkin.
Sreettt
Dengan mulus silet itu mulai tergores pada leher Young ah yang sedang menahan sakit itu, namun selang beberapa saat ia mulai meraung membuat namja didepannya itu menatapnya kesal. Dengan bringas ia memukul pipi yeoja itu dengan tangannya, !"hingga akhirnya Young ah lebih memilih dia.
"HENTIKAN!" Minhyuk memukulkan kepala namja itu dengan kursi tempat semula air minum Young ah ditaruh disana.
"KAUU!" Namja itu mulai mengambil sebuah belati pada sakunya.
"oohhhopppaahhha" Jerit Young tidak jelas karna lakban itu masih melekat pada mulutnya.
"Jauhi dia.." perintah Minhyuk tenang.
"Baik.. tapi jangan salahkan aku jika kau yang mati duluan.." Namja itu tertawa seperti orang gila.
"Atau begini saja..." namja itu mencurah sedikit raksa kekaki kanan Young ah hingga yeoja itu menjerit kakinya bergetar kuat.
"HENTIKANN! APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Minhyuk sambil melotot.
BRAAKKK
Sekali lagi Minhyuk memukulkan kursi itu kekepala namja didepannya, hingga namja itu mulai mengamuk dan mengambil belatinya. Minhyuk mundur ia mengambil sebuah tongkat basebol yang ia bawa dari tadi. Ia mundur dengan tenang sama seperti namja didepannya yang maju dengan tenang. Namun perhatian Minhyuk teralih saat ia mendengar sebuah sirine polisi.
"AHK!" suara minhyuk tertahan saat belati mulus itu dengan cepat menembus kulit perutnya.
"Jika tak ada polisi itu mungkin akan lebih indah dari yeoja itu.. tapi kita lewatkan saja..." Namja itu berbisik pelan ditelinga Minhyuk yang setengah meringgis.
Tepat sebelum namja itu pergi ia seklai lagi menikan perut Minhyuk dan tertawa gila, setelah itu melepaskannya dengan kasar. Kemudian benar benar meninggalkan Minhyuk dan Young ah. Minhyuk meringgis memegang perutnya menutup luka yang menganga disana, ia terduduk karna tak kuat lagi berdiri darah terus merembes dari sana. Perhatian teralih pada Young ah yang sudah pingsan dengan kaki yang melepuh persis seperti luka bakar.
"MINHYUK HYUNG!" Terdengar suara yang familiar ditelinganya namun belum sempat ia menoleh ia sudah pingsan terlebih dahulu.
=TBC=
