CHAPTER 9

Remember..

Warning : typo(s), dan biasa aja

Ya sudahlah

DON'T LIKE? DON'T READ AJA LAHXD

"tolong gantikan aku, Sumaru", ucap seseorang pada seorang pemuda yang di panggil Sumaru padanya.

"baiklah", balas Sumaru.

"tapi biarkan perempuan yang sedang di panggung itu menyanyi", tambah orang itu.

"ya.. ya.. aku mengerti.. aku pergi dulu.", balas Sumaru santai yang hanya dibalas orang itu dengan gumaman saja.

Sumaru pun pergi meninggalkan orang itu menuju meja dari Neji dan kedua saudarinya yang masih menikmati posisinya masing-masing, Neji dan Hanabi yang masih memperhatikan Hinata, Hinata yang masih di posisi pianis di panggung.

"apa saya mengganggu kalian? Kita akan memulai rapatnya", tanya Sumaru pada Neji.

"ah.. Sumaru-san, tentu tidak, silahkan duduk. Rapatnya kita mulai sekarang?", tanya Neji kembali pada Sumaru.

'pertanyaan bodoh', batin Neji. Sedangkan Hanabi melihat siapa yang sedang berbicara dengan niisannya itu.

"Uzu-sama meminta saya untuk menggantikannya dalam rapat ini, Uzu-sama ada urusan mendadak yang harus di selesaikan, harap anda mengerti", jelas Sumaru pada Neji.

"tentu, saya mengerti.. mohon waktu sebentar, saya akan memanggil adik saya, dia masih di panggung itu", ujar Neji.

"Aa.. tidak apa-apa Neji-san, saya rasa permainan musik dari adik anda tidak akan mengganggu meeting ini", ucap Sumaru.

"baiklah", balas Neji setuju. "Hanabi..", panggil Neji pada adiknya.

"ha'i.. ha'i.. aku mengerti niisan, aku mau berkeliling tempat ini saja, permisi niisan, Sumaru-san..", ucap Hanabi bosan.

"ya, Hanabi-san", jawab Sumaru, sedangkan Neji hanya mengangguk saja.

Hanabi pun pergi dari tempat duduknya tadi dan berjalan menuju pintu keluar. Ia pun berbelok melewati Neji dan Sumaru, setelah sampai di pintu keluar, Hanabi berbalik, menatap ke arah Hinata yang sepertinya masih ingin memainkan piano di panggung sana.

"neesan.. walaupun aku masih pelajar, tapi aku tau kalau neesan sedang sakit.. maaf, kalau ucapanku tentang dia buat neesan jadi sedih..", gumam Hanabi.

Hanabi pun mengalihkan pandangannya, ia terpaku sesaat, dilihatnya kalau ada 2 orang lain yang ternyata ada di restaurant itu. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah pria yang sedang duduk memunggungi dirinya, pria yang mengenakan jas berwarna dark brown dengan syal gading, berambut blonde yang tertata dengan baik walaupun rambutnya bergaya spike.

'apa mungkin itu.. tapi, bukannya dia dulu pindah dari konoha.. tapi kenapa ada disini? ah.. biar ajalah, kalau itu benar-benar niichan, pasti mereka bakalan ketemu lagi..', batin Hanabi.

Hanabi pun segera keluar dari restaurant itu dan melihat-lihat sekeliling untuk menghilangkan rasa bosannya.

In the restaurant..

"hey Naruto, kau yakin tak ingin menemuinya?", tanya seorang pria pada seseorang yang di panggilnya Naruto itu.

"entahlah Mizura.. aku masih tak yakin, yang benar-benar tau kalau aku sudah kembali kemari hanya orang tertentu saja", jawab Naruto.

"jadi sebenarnya gadis itu masuk daftar orang tertentumu atau tidak? Sebelumnya kau memutuskan akan memimpin rapat dengan Neji sendiri, berarti kau sudah siap menunjukkan pada Neji kalau kau dan Uzu itu adalah orang yang sama, sekarang setelah kau tau kalau adiknya pulang, kau malah sembunyi..", jelas Mizura sambil menghela nafas.

"hn.. kau benar", ucap Naruto ambigu.

"tak masalah kalau sekarang kau belum siap bertemu mereka, tapi jangan sampai kau salah langkah yang malah membuat kalian semakin jauh..", ujar Sumaru sambil menutup matanya.

"hm..", gumam Naruto.

Back to Hinata..

Hinata yang sepertinya masih betah dengan posisinya, dan kali ini Hinata bukan hanya memainkan pianonya saja, dia juga akan menyanyikan lagu yang akan dimainkannya. Mungkin jika kalian pernah mendengarkan lagunya atau menyanyikannya langsung, kalian akan tau bagaimana perasaan Hinata saat ini.

Dentingan piano pun kembali terdengar di restaurant itu, didengar oleh orang-orang yang ada disana. Hinata memainkan intro dari lagu yang di bawakannya saat ini sambil bersenandung penuh penghayatan..

Andai engkau tau..

Suara lembut Hinata terdengar mengalun penuh penghayatan di telinga setiap orang yang berada disana, tak perlu mengeraskan volume suaranya, suara lembut Hinata terdengar dengan baik karena ada mic yang memang tersedia di atas piano itu.

Betapa ku mencinta..

Selalu menjadikanmu isi dalam doaku..

Dentingan pun berlanjut, jari-jari lentik Hinata dengan lihai menari diatas tuts-tuts piano hitam itu.

Ku tau tak mudah

Menjadi yang kau minta

Ku pasrahkan hatiku takdir kan menjawabnya

Hinata menutup matanya perlahan, terlihat anggun sekali, pembawaan lagu dan penghayatannya terlihat damai.. bahkan seseorang di sudut sana tak henti melihat ke arahnya begitu juga pekerja di resto itu.

Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu

Suara Hinata terdengar tegas saat bagian refrein ini, seolah dialah tokoh yang ada dalam cerita di lagu ini.

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku 'kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu

Suara Hinata semakin melembut dan semakin lembut.. dentingan piano bagian awal tadi terdengar lagi, namun yang terdengar kini dengan sedikit improvisasi instrument biola yang datangnya entah dari mana, dan Hinata pun sepertinya tak terganggu dengan itu, suara biolanya juga sama sekali tidak sumbang, sangat menyayat hati malah, Hinata tetap menutup matanya, tetap menghayati pembawaan lagunya.

Andai engkau tau

betapa ku mencinta

Ku pasrahkan hatiku takdir kan menjawabnya

Hinata pun berimprovisasi, suaranya damai sekali.. bersamaan dengan itu suara biola itu terdengar lebih cepat dengan nada variatif namun tetap masuk dalam musik pembawaan Hinata.

Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku 'kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu

Ho.. houoooo~…

Dentingan piano itu berubah menjadi suarara deretan nada-nada piano yang berkesinambungan. Hinata menekan tuts piano itu dari nada tinggi dan menggerakkan tangannya dengan gemulai ke arah kiri dengan tetap menekan tuts-tuts piano itu hingga suara yang berbeda itu menyatu dengan nada yang semakin menurun seperti anak tangga.

Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku 'kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu

Lagu Hinata pun berakhir, dengan ending gesekan biola yang sangat indah, sepertinya Hinata memberi kesempatan pada teman duetnya itu untuk mengakhiri lagu yang di bawakannya tadi, Hinata kan tidak egois..

Terdengar suara tepuk tangan yang cukup meriah di telinga Hinata, Hinata sama sekali tidak menyadari begitu banyak pasang mata yang memperhatikan penampilannya dan juga teman duet barunya itu. Hinata masih menutup matanya, dia masih speechless sampai terdengar di telinganya suara seseorang yang di kenalnya.

"indah sekali, Hinata", ucap orang itu.

Hinata membuka kedua matanya seketika, dia pun lantas melihat ke sumber suara, Hinata tertegun melihatnya, mulutnya seolah tak mampu untuk mengatakan apapun, tubuhnya tak bergerak, seolah lumpuh seketika.

"lama tak bertemu, masih ingat aku Hinata-chan?..", ucap orang itu sambil tersenyum hangat.

Another place..

'cklek'

"selamat pagi, bagaimana kabarmu hari ini?", tanya seseorang pada gadis berambut panjang yang ada di ruangan itu.

"sudah lebih baik dokter", jawab gadis itu.

"nah Sesame, saya akan memeriksa sebentar ya", ujar dokter itu yang kita ketahui bernama Sakura.

Sakura pun memeriksa Sesame dengan teliti dibantu oleh dua suster yang memang dengan pemeriksaan fisik, Sakura pun menyuruh suster-suster itu untuk mencatat data perkembangan dari pasiennya itu.

"sudah selesai dok", ucap salah seorang suster itu.

"baiklah, tunggulah sebentar diluar, saya akan memeriksa pasien kamar sebelah sebentar lagi", ujar Sakura.

"ha'I, kami permisi", balas suster yang satu lagi, mereka pun keluar dari ruangan Sesame.

"ada yang mau kau bicarakan dengan saya Sesame? Sedari tadi kau gelisah sekali", ucap Sakura pada Sesame.

"eum, dokter.. aku kan belum membayar biaya administrasi rumah sakit ini, jadi apa aku boleh pulang saja, aku takut kalau nanti uangku tidak cukup membayar biayanya", ucap Sesame pelan.

"oh.. itu masalahnya", balas Sakura.

Sesame bingung. "biaya perewatanmu sudah dilunaskan semuanya, kau hanya perlu bersikap manis sampai kau sembuh", ucap Sakura tegas.

"ta..tapi siapa yang melunasi, aku kan yatim piatu dokter", ucap Sesame.

"saya yang melakukannya", jawab Sakura.

"ta..tapi dok, saya yang harus membayarnya..", ucap Sesame.

"kau bisa membayarnya pada saya, anggap saja kau berhutang pada saya kalau kau merasa berhutang budi, saya tidak akan memaksamu untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa kau lakukan, jadi tenang saja", jelas Sakura.

"baiklah dokter", balas Sesame.

"dimana kau tinggal selama ini, dengan siapa?", tanya Sakura.

"saya tinggal sendiri dirumah peninggalan Arashi-nii", jawab Sesame sendu.

"lalu motormu itu?", tanya Sakura lagi.

"itu milikku, dirumah ada dua motor yang sama tapi berbeda warna, punya niisan warna biru dan punyaku warnanya oranye, itu hadiah ulangtahun darinya dua tahun lalu.. sebulan setelah itu.. ka..kami pergi ke karnaval dengan bus, hanya kam..kami sa..saja penumpangnya.. Hiks.. turun da..dari b..bus itu kami di ikuti preman y..yang ada di..disana hiks.. niisan lebih memilih kabur membawaku dari pada melawan tapi membi..membiarkanku.. tapi ka..kami k..ka..kalah cepat.. hiks.. hiks.. mereka menarikku yang lebih dekat tapi Niisan menarikku, tapi..tapi ka..karena i..tu niisan ditusuk pisau hiks.. darahnya banyak... banyak sekali, ada seseorang yang melintas membantu kami, dia menyuruh kami pergi dan membiarkan dia yang menghadapi preman-preman itu karena dia bilang niisan sudah ga mungkin lagi bisa ngelawan mereka. Niisan hiks..hiks.. se..setuju tapi niisan didorong salah satu preman-preman itu sampai kami terjatuh di ja..jalan hiks.. niisan.. niisan.. hiks..hiks..", tangis Sesame pecah.

Sakura pun lantas memeluk sesame yang semakin terguncang hatinya. Sakura juga mengusap-usap surai Sesame yang kini menangis sesegukan namun Sakura diam sama sekali, tak berbicara sama sekali.

"ka..kami ja..tuh dokter, terus ada mo..mobil y..yang lewat.. hiks… se..seharusnya aku yang mati dokter.. seharusnya aku.. bukan niisan.. kalau aja dia gak menndorongku waktu itu.. kalau aja aku bisa menariknya pasti niisan masih hi..hidup sekarang.. hiks..hiks… kena..kenapa harus kami dokter.. KENAPA!.. ke..kenapa..", Sesame lemas, dia pingsan dalam pelukan Sakura yang masih diam saja.

Sakura pun meletakkan sesame untuk berbaring, mengusap air mata yang sedari tadi mengalir dari pipi pasiennya itu.

"berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, kau bertanya kenapa? Tentu saja karena kau terlalu berharga baginya bahkan lebih berharga dari nyawanya sendiri, tak sadarkah kau..", ucap Sakura pelan. Sakura pun menyelimuti Sesame dan kemudian pergi dari ruangan itu.

'kau.. kau mengingatkanku pada orang itu.. Sesame..', batin Sakura.

Ricchi : haish.. aku kira apaan.. thx udah baca fict abal-abal ini..

bala-san dewa : ha?.. hiks… tapi makasih udah baca fict tak seberapa ini.. T^T, terjawaab di chap ini kok..

akbar123 : semoga suka chap ini..

hanazono yuri : thanks udah baca… semoga kau suka..

soraharuki04 : hehehe.. terimakasih buat kesetujuannya.. terjawab di chap kan…